• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V : Analisis Data

5.2 Pembahasan

5.2.2 Pelayanan Teknis

Pelayanan teknis yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi bimbingan dan pendampingan yang diberikan oleh pihak lembaga (UPT Pelayanan Sosial Tuna Rungu Wicara dan Lanjut Usia Pematang Siantar) terhadap warga binaan sosial lanjut usia. Pendampingan merupakan satu strategi yang sangat menentukan keberhasilan pelayanan sosial. Sesuai dengan psrinsip pekerjaan sosial, yakni membantu orang agar mampu membantu dirinya sendiri, partisipasi publik yang kuat merupakan hal yang sangat penting dalam pencapaian pelayanan yang maksimal.

Di UPT Pelayanan Sosial Tuna Rungu Wicara dan lanjut Usia Pematang Siantar dilaksanakan bimbingan keagamaan bagi warga binaan sosial. Bimbingan keagamaan ini dilakukan sekali didalam seminggu. Untuk agama Islam pada hari Jumat, sementara untuk agama Kristen pada hari Selasa. Hal ini dilakukan dalam upaya meningkatkan ketaqwaan terhadap Sang Pencipta. Karena apapun ceritanya, kita tidak bisa apa-apa tanpa pertolongan-Nya. Dimasa tua, bahkan bisa dikatakan diakhir-akhir masa kehidupan diharapkan warga binaan sosial lanjut usia semakin mendekatkan diri kepadaNya lewat ibadah mereka.

Dalam seminggu itu mereka dibekali oleh seseorang yang telah ditunjuk oleh pihak panti untuk membawakan bimbingan keagamaan bagi warga lanjut usia di panti. Menurut penuturan responden, pelaksanaan kegiatan bimbingan keagamaan yang sudah dijadwalkan tidak berjalan sesuai dengan rencana. Artinya, terkadang petugas tidak ada yang datang. Mereka dikumpulkan jika petugas sudah datang dan bimbingan akan dimulai. Responden yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka selalu mengikuti bimbingan keagamaan, asal petugasnya datang. Mereka

hanya bisa menunggu kedatangan petugasnya, dan memaklumi mereka kalau tidak datang. Anggapan di benak mereka mungkin petugas sedang ada halangan penting. “Mana terus bisa setiap waktu datang, ada lah halangannya. Namanya guru pulak, jadi ada halangannya nggak datang dia. Tapi seringnya datang lah.”

Demikian penuturan bapak Ritonga ketika diwawancarai.

Salah satu responden mengatakan bahwa di dalam bimbingan keagamaan, ia turut mengambil bagian dalam mengisi acara yaitu membawa doa. Ia merasa bahagia jika bisa memberikan diri berpartisipasi mengisi acara bimbingan tersebut. Bagi warga binaan sosial hal tersebut merupakan hal penting untuk diri mereka. Jadi mereka berharap untuk pelaksanaan bimbingan keagamaan bisa berjalan dengan lancar setiap minggunya dan selalu ada yang memimpin dan mengarahkan mereka.

Pekerja sosial diharapkan dapat melakukan fungsi brokernya sebagai penghubung klien dengan pemberi pelayanan dan sebagai orang yang mengerti apa yang sedang dibutuhkan oleh kliennya, yang dalam hal ini adalah warga binaan sosial lanjut usia. Dengan harapannya, bimbingan keagamaan yang diberikan kepada warga binaan sosial dapat berjalan dengan baik sesuai yang telah diprogramkan oleh pihak Lembaga (UPT Pelayanan Sosial Tuna Rungu Wicara dan Lanjut Usia Pemtang Siantar).

Pendampingan secara pribadi terhadap warga binaan sosial lanjut usia dilakukan pekerja sosial dengan mengunjungi mereka ke panti tempat tinggal mereka. Hal ini sangat penting juga bagi para lanjut usia. Di hari tuanya, lanjut usia itu semakin identik dengan kemanja-manjaannya dan kembali seperti sifat

anak-anak yang cengeng dan ingin sekali menjadi pusat perhatian orang-orang disekelilingnya.

Dengan pendampingan pribadi, warga binaan sosial merasa lebih bebas berbicara dengan pekerja sosial/petugas serta menyampaikan segala masalahnya jika ia sedang memiliki keluhan atau persoalan lainnya. Dalam hal ini, seorang pekerja sosial harus bisa berkomitmen harus bisa menjaga kerahasiaan setiap cerita warga binaan sosia lanjut usia (kliennya), Secara pribadi menyampaikan tawaran pemecahan masalah atas apa yang sedang dialami oleh lanjut usia tersebut. Mungkin kalau dihadapan banyak orang WBS merasa sungkan untuk berbagi cerita atau bahkan untuk menanyakan sesuatu hal. Maka dari itulah pentingnya pendampingan secara pribadi.

Empat orang responden mengatakan bahwa jika mereka mempunyai masalah masing-masing secara pribadi membukakannya bercerita kepada petugas dan memperoleh dukungan berupa tawaran solusi yang diberikan oleh petugas kepada mereka. Mereka menjaga hubungan yang baik dengan petugas/pegawai panti, menghormati keberadaan pegawai/petugas yang merawat mereka sehingga ketika dihadapkan dengan suatu masalah, mereka tidak sungkan lagi untuk bertanya bahkan menceritakan masalahnya. Sementara dua orang responden mengatakan menutup diri dengan konsultasi pribadi dengan petugas/pegawai panti. Alasannya, mereka tidak mau merepotkan pegawai dan lagi alasannya takut juga salah bicara dihadapan pegawai. Bahkan, responden ini menganggap dirinya bodoh dan tak layak angkat bicara didepan pegawai/petugas panti. Kalau kehadiran petugas/pegawai panti, akan selalu datang dan menyapa para warga binaan sosial. Demikian menurut penuturan dari keenam responden.

Konsultasi pribadi dengan warga binaan sosial lanjut usia merupakan bentuk pelayanan sosial yang sangat bermanfaat bagi mereka dengan mengingat bahwa tujuan pelayanan sosial itu adalah untuk membantu individu, kelompok untuk mencari solusi masalah yang sedang mereka hadapi untuk dapat berfungsi dengan baik kembali. Harus juga diingat bahwa pendampingan pribadi ini jangan sampai memunculkan masalah baru. Mampu memotivasi warga binaan sosial dan dapat mendorong serta menjaga rasa percaya dirinya agar tetap semakin semangat dalam menjalani hari tuanya.

Terlepas dari konsultasi pribadi dengan petugas/pegawai panti, di UPT Pelayanan Sosial Tuna Rungu Wicara dan Lanjut Usia Pematang Siantar setiap hari kamis dilaksanakan Dinamika kelompok. Program ini dibuat dengan tujuan untuk mengumpulkan warga binaan sosial lanjut usia dan saling berbagi cerita diantara mereka. Namun tetap saja ada petugas yang mengkoordinir berjalannya perkumpulan ini. Petugas dalam kesempatan tersebut, melihat kondisi luar warga binaan sosial lanjut usia bilamana ada yang terlihat lesu, murung, senang dan sebagainya. Bila ada cerita/humor yang bisa dibagikan, petugas membagikan ceritanya pada saat dinamika kelompok. Hal ini dilakukan untuk menghibur para lanjut usia.

Sama seperti pelaksanaan kegiatan bimbingan keagamaan, terkadang dinamika kelompok yang seharusnya dilaksanakan setiap hari kamis tidak terlaksana berhubung petugas tidak dapat hadir. Terkadang mereka tidak tau apa alasan mengapa petugasnya tidak hadir. Harapan mereka memang pelaksanaan dinamika kelompok dapat berjalan setiap minggunya dan mereka dapat diarahkan kalau ada informasi yang baru mengenai panti.

Dokumen terkait