HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
5.2 Faktor Pemungkin
5.2.2 Pelayanan Tenaga Kesehatan
Penderita membutuhkan pelayanan kesehatan rumah sakit, maka yang terpikir pertama kali adalah dokternya, baru kemudian mengharapkan perawatan yang baik akan terpikirkan olehnya adalah perawat.Proses penyampaian informasi dari ahli kepada pasien memengaruhi kualitas pelayanan maupun hasil pengobatan. Para pasien akan dapat menjelaskan riwayat penyakit secara lebih akurat bila sebelumnya mereka mempunyai pemahaman tentang penyakit. Informasi yang tidak utuh atau membingungkan merupakan sumber utama ketidakpuasan pasien atas pelayanan medis yang diterima, dan mendorong mereka untuk mencari pilihan-pilihan lain (Sciortino, 1999).
Dari hasil wawancara seluruh informan mengeluhkan mengenai pelayanan dokter yaitu jam visite dokter yang pendek dikarenakan terlambat ke ruangan
sehingga jika ada keluhan yang ingin disampaikan menjadi terhambat karena dokter akan memiliki waktu yang sedikit untuk mendengarkan keluhan pasiennya, karena harus memeriksa pasien di ruangan lain. Berdasarkan penjelasan dokter mengenai penyakit yang diderita, dari 6 informan 3 informan diantaranya dari kelas II satu orang dan kelas III dua orang merasa kurang puas bahkan tidak paham atas penjelasan dokter mengenai penyakit yang dideritanya. Dokter terlalu cepat dalam berbicara dan terkesan buru-buru, informasi penyakit yang disampaikan tidak cukup. Berdasarkan perhatian dokter terhadap pasien 3 informan yang berasal dari kelas I/VIP dan kelas III dua orang merasa dokter kurang perhatian, hal ini diakibatkan visite yang sudah terlambat sehingga waktu berjumpa dengan pasien hanya sedikit, keluhan dan hal-hal yang ingin ditanyakan tidak sempat diberitahukan kepada dokter. Sehingga tidak terjalin komunikasi antara dokter dengan pasien atau keluarga pasien tentang diagnosis dan pengobatan yang akan dijalani informan.
Biasanya dokter memang tidak menjelaskan secara detail dan panjang, hanya memberitahu penyakitnya saja dan kalaupun ada komplikasi dengan penyakit lain biasanya dokter tidak memberitahu secara pasti karena harus menunggu pemeriksaan yang lain. Akibatnya pasien hanya bisa menerima perawatan tanpa tahu bagaimana keadaan sebenarnya setelah beberapa hari dirawat. Dalam penilaian pasien mengenai sikap atau perilaku dokter dalam pemeriksaan sudah dirasa cukup baik oleh pasien. Tetapi tidak sedikit pasien yang memberikan keluhan saran ataupun kritik khususnya terhadap pelayanan dokter dalam hal penyampaian informasi mengenai hasil pemeriksaan utama, informasi tentang penyakit saat memeriksa, kegunaan dan hasil
pemeriksaan penunjang, juga dalam hal pemeriksaan kepada pasien dikarenakan waktu yang disediakan oleh dokter sangat singkat sehingga menimbulkan persepsi terhadap pasien bahwa dokter dirasa kurang detail dalam pemeriksaan kepada pasien.
Mengenai pelayanan perawat hasil wawancara dari 6 informan 4 diantaranya dari kelas II satu orang dan kelas III tiga orang mengeluhkan perawat kurang dalam melakukan tugasnya sehari-hari, mengenai kesigapan perawat dari 6 informan 3 diantaranya dari kelas II satu orang dan kelas III dua orang mengatakan perawat kurang sigap dalam melakukan tugasnya dalam membantu pasien dan untuk perhatian perawat terhadap pasien dari 6 informan 3 diantaranya dari kelas II satu orang dan kelas III dua orang masih mengeluhkan bahwa perawat kurang perhatian terhadap pasiennya.
Hal-hal diatas membuat pasien beranggapan hanya menumpang tidur saja di rumah sakit maka akhirnya memutuskan untuk pulang dan melanjutkan pengobatan di rumah saja, banyaknya para mahasiswa/i Akper yang dinas disana sehingga hampir sebagian besar tugas keperawatan ditangani oleh mahasiswa perawat. Jika pekerjaan di ruangan tidak dapat dilakukan oleh mahasiswa yang dinas barulah perawat yang diruangan yang mengambil alih, misalnya karena pasien sudah gawat. Pemberian obat maupun suntikan untuk semua pasien di kerjakan oleh mahasiswa yang dinas. Mengenai pelayanan administrasi dari 6 informan hanya satu orang yang mengatakan tidak mendapat penjelasan dari petugas mengenai hak dan kewajiban pasien serta peraturan rawat inap. Informan ini mengetahui mengenai informasi mengenai rawat inap dari pasien lain dan bertanya kembali pada perawat yang ada di ruangan.
Penjelasan diatas sejalan dengan penelitian Menap (2007) yang menyatakan kecewa dengan sikap dan perlakuan petugas sebesar 15% dapat membuat pasien untuk PAPS.
5.2.3 Keterjangkauan Biaya
Hasil wawancara dari 6 informan 4 informan yang berasal dari kelas II dan kelas III dua orang mengeluhkan biaya pengobatan dan biaya keluarga yang menunggu pasien di rumah sakit. Keempat informan ini merupakan pasien dengan biaya sendiri, mereka memutuskan PAPS karena banyaknya biaya yang harus dikeluarkan keluarga khususnya obat-obatan yang mahal, untuk membeli obat yang diresepkan oleh dokter Rp. 200.000 bahkan lebih dan begitu juga jika dokter menyuruh untuk periksa laboratorium. Selain itu biaya keluarga yang menjaga dirumah sakit juga menjadi beban untuk keluarga.
Pelayanan rawat inap di rumah sakit, jika dilihat dari biaya yang sudah ditetapkan tidak begitu mahal/ masih wajar berdasarkan Perda kota Padangsisimpuan tentang Retribusi Jasa Umum No.04 Tahun 2010 tetapi karena adanya biaya untuk obat-obat yang memang semua sudah mahal, semakin lama dirawat biaya yang dibutuhkan untuk rawat inap di rumah sakit semakin besar, sehingga tidak terjangkaunya biaya pengobatan bagi informan disebabkan ketidakmampuan dari ekonomi keluarga. Besarnya biaya dan ketidakmampuan pasien dan keluarga dalam mengantisipasi biaya perawatan dan obat-obatan dapat mengakibatkan keputusan PAPS dilihat dari pekerjaan informan seorang wiraswasta yang tidak mempunyai
penghasilan yang tetap dan ibu rumah tangga yang mengharapkan uang yang diberikan oleh suami, ditambah lagi status bayar informan merupakan bayar sendiri. Dari segi umur informan sudah tidak muda dan produktif. Sehingga dengan biaya-biaya yang begitu mahal membuat mereka tidak bisa memenuhi tuntutan untuk tetap menjalani perawatan di rawat inap, sehingga mereka memutuskan untuk pulang sebelum menjalani seluruh pengobatan yang harus dijalani.
Menurut Kalangie (1994) faktor biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan pelayanan, dalam hal ini faktor ekonomi sangat mempengaruhi pasien dalam pemanfaatan pelayanan di rumah sakit, khususnya untuk rawat inap sehingga masyarakat akan cenderung meninggalkan pelayanan kesehatan rumah sakit (PAPS) karena kekurangan biaya. Sejalan dengan penelitian Menap (2006) menyatakan alasan pasien PAPS (9,2%) karena alasan biaya.
Informan lainnya yang memiliki asuransi atau status BPJS yang tidak ada masalah dengan biaya pengobatan tetapi tetap memilih untuk PAPS karena merasa sudah sembuh dan tidak ada keluarga yang menjaga pasien di rumah sakit. Sejalan dengan dengan penelitian Littik (2008) bahwa meskipun telah memiliki asuransi, masyarakat lebih memilih untuk mengabaikan keluhan kesehatan yang ada.
5.8 Pendapatan Keluarga
Hasil wawancara dengan 6 informan 4 informan mengatakan bahwa pendapatan keluarga mempengaruhi mereka untuk memutuskan PAPS yaitu dari kelas II dan kelas III dua orang. Salah satu faktornya adalah status umum atau biaya
sendiri di rumah sakit, biaya obat-obatan yang mahal, biaya periksa dan diluar biaya rumah sakit biaya keluarga yang menjaga pasien selama dirawat, sebagian besar anak yang menanggung biaya di rumah sakit karena dilihat dari segi umur para pasien sudah ada yang lansia, informan lain hanya IRT sehingga suami yang menanggung seluruh biaya pengobatan selama di rumah sakit. Salah satu informan dalam pengurusan BPJS karena harus menunggu kartu berlaku seminggu sementara biaya untuk di rumah sakit sudah tidak ada lagi. Informan mengatakan akan melanjutkan pengobatan jika kartu BPJS sudah dapat dipergunakan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Syahriyansyah (2009) yang menyatakan pendapatan berhubungan dengan keputusan pasien untuk PAPS, pasien yang berpendapatan menengah ke atas memilih PAPS terutama bila dalam waktu 8 sampai 9 hari tidak memperoleh kepastian kondisi serta prognosis penyakitnya.
Informan yang berasal dari kelas III ini mengatakan tidak mau ikut BPJS karena akan berhutang seumur hidup dan membayar iuran tiap bulan sedangkan kartunya hanya bisa dipakai saat kita sakit. Informan juga merasa rugi untuk membayar perbulan karena masih banyak kebutuhan yang lebih penting yang harus dipenuhi di dalam keluarga. Penelitian Sabaruddin (2002) menyatakan bahwa besarnya keluarga berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Suatu keluarga karena besarnya tanggungan secara relatif tidak dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan karena penghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang. Beban tanggungan keluarga sangat berhubungan dengan rata-rata jumlah pendapatan perbulan.
Informan ini memilih tetap biaya sendiri walaupun memutuskan PAPS dan mengetahui bahwa penyakitnya belum sembuh. Hal ini kurangnya pengetahuan informan mengenai konsep BPJS padahal jika informan sakit biaya yang dikeluarkan sebenarnya lebih besar. Terbukti dengan informan PAPS sebelum perawatannya sembuh total dan sudah tidak ada biaya.
5.2.5 Akses Geografi
Dari hasil wawancara 6 informan 3 diantaranya yang berasal dari kelas I/VIP membutuhkan waktu 3-4 jam di perjalanan, kelas II dan kelas III 2-3 jam perjalanan sehingga mengeluhkan bahwa lokasi rumah sakit jauh dari rumah yang berada diluar kota walaupun tidak masalah terhadap transportasi hanya saja harus memerlukan tambahan biaya, hal diatas sebenarnya lebih kepada keluarga yang menjaga pasien selama dirawat di rumah sakit, selain biaya sangat merepotkan untuk bolak-balik dari rumah ke rumah sakit, tenaga dan waktu selama perjalanan sehingga informan karena sudah merasa sehat memutuskan PAPS karena kasihan keluarga harus seperti itu. Faktor lainnya adalahjika keluarga yang menjaga pasien akan memakan waktu berhari-hari untuk tinggal di rumah sakit hal ini akan mengakibatkan tidak terpenuhinya kebutuhan sehari-hari karena tidak bekerja. Sejalan dengan penelitian Purwanto (2008)faktor place (16%) dengan kategori jarak RS dengan dengan rumah klien membutuhkan biaya transportasi yang banyak mempengaruhi pasien PAPS.
Salah satu pertimbangan pasien dalam menentukan sikap untuk mendapatkan pelayanan kesehatan adalah jarak yang ditempuh dari tempat tinggal pasien sampai ke
tempat sumber perawatan.Menurut Azhari (2002) bahwa faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah akses geografis, artinya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan tempat yang memfasilitasi atau menghambat pemanfaatannya.
5.3 Faktor Penguat
5.3.1 Perilaku Tenaga Kesehatan
Dari hasil wawancara dari6 informan, 2 informan dari kelas II satu orang dan kelas III satu orang mengatakan dokter cuek dan tertutup dalam melakukan pemeriksaan terhadap informan seperti hanya menjalankan kewajiban saja, jika ditanya mengenai penyakit dokter menjawab hanya sekedar saja dan singkat, penjelasan yang diberikan dokter tidak dipahami oleh informan ataupun keluarga yang mendampingi dan terkesan buru-buru pada saat pemeriksaan. Kurang ramah kepada pasien yang diperiksanya jadi terkesan sombong sehingga informan atau keluarga takut untuk bertanya lebih banyak.Sebenarnya dokter dengan senyum, salam, sapa serta sopan santunnya bisa membangkitkan inisiatif pasien untuk sehat.
Berdasarkan perilaku perawat dari 6 informan 3 informan dari kelas II satu orang dan kelas III dua orang mengatakan perawat biasa saja dan cerewet kepada pasien dalam memberikan pelayanan. Pada saat melakukan tindakan kadang-kadang perawat diam saja, informan berharap perawat menjelaskan tindakannya dengan ramah dan sedikit membujuk, pada malam hari para perawat tidak ada di pos perawat jika di panggil ke kamar perawat pasti terlihat kesal dan tidak ikhlas. Perawat
menyuruh para mahasiswa yang dinas untuk melakukan pekerjaan mereka. Pada pagi hari menurut informan banyak perawat yang cerewet dibandingkan dengan yang dinas sore dan malam.
Hubungan komunikasi yang baik, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan pasien sebagai pelanggan dan bertindak demi kepentingan pasien. Perawat diharapkan bisa memahami kesulitan-kesulitan pribadi masing-masing pasien dan membantu mereka keluar dari kesulitannya.Sebagai perawat sebenarnya terletak pada keramahan dan kesabaran karena setiap pasien dianggap sebagai pembeli dan pembeli adalah raja, sehingga pasien layak dihormati dan dihargai. Kepuasan bagi pasien adalah jika perawat banyak senyum, ramah, terampil dan cepat dalam penanganan sehingga pasien nyaman, tenang dan meringankan beban pasien sehingga perasaan pasien jauh lebih baik dari sebelumnya.
Dari penelitian Bart Smet (1991) yang dikutip oleh Anjaryani (2009) menyatakakan bahwa sentuhan psikologis yang bisa disampaikan perawat, dan tim medis lainnya kepada pasien akan mengurangi stress yang dialaminya pada masa sakit, dan ternyata kelelahan psikis berkontribusi terhadap penyakit yang diderita pasien semakin parah. Motivasi dari tim medis bisa menurunkan kecemasan dengan memberikan dukungan-dukungan emosional berupa kesabaran, perhatian, motivasi supaya pasien akan sembuh lebih cepat.Disamping keterampilan dan kemampuan petugas kesehatan di rumah sakit keramahan para petugas dalam proses pemeriksaan salah satu bentuk pelayanan yang dapat juga merupakan proses pengobatan.
Pelayanan petugas dapat berupa pelayanan profesional dan keramahan sehingga meningkatkan citra dari rumah sakit tersebut (Lane, 1988).
Hasil wawancara dengan perawat mengenai tingginya PAPS di rumah sakit, perawat mengatakan dikarenakan faktor-faktor dari informan itu sendiri yaitu masalah ekonomi keluarga, jarak rumah yang jauh dari rumah sakit, ingin berobat jalan, pindah rumah sakit, tidak nyaman dengan ruang perawatan dan sudah merasa sembuh walaupun dokter belum memperbolehkan pulang, mengenai pelayanan dokter/perawat sudah melaksanakan tugasnya sesuai peraturan dan standar yang sudah ditetapkan di lingkungan rumah sakit. Dokter/perawat memang tidak pernah menjelaskan mengenai pentingnya pengobatan atau perawatan secara detail dan panjang kepada informan sehingga jika pasien PAPS perawat tidak pernah berusaha agar pasien tetap mau menjalani pengobatan atau perawatan di rumah sakit karena PAPS merupakan hak pasien atau keluarga pasien.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN