BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN
B. Kajian Teori
2. Peluang dan Konsekuensi Pemerintah RI Dalam
sangat tebal dan banyak halamannya.28
Jimly menilai UU terdampak jumlahnya sangat banyak (79 UU). Begitu pula substansinya mengubah beragam pasal termasuk mengurangi/membatasi hak masyarakat terutama kalangan buruh.
Target yang ditetapkan pemerintah untuk menyelesaikan RUU Cipta Kerja sangat cepat dan singkat hanya beberapa bulan.
Mengacu kondisi hal tersebut, maka tidak mungkin ada partisipasi publik yang luas dan substantif, sehingga Perdebatan di parlemen juga menjadi kurang substantif dan partisipasi publik kurang tersebar luas.
2. Peluang dan Konsekuensi Pemerintah RI Dalam Menggunakan Omnibus Law
Pembentukan Undang-Undang dengan menggunakan Omnibus Law merupakan hal yang baru dalam sistem pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Pelaksanaan omnibus law saat membentuk aturan perundang-undangan memunculkan pro dan kontra di
28 https://www.hukumonline.com/berita/a/jimly--ada-untung-rugi-terapkan-metode-omnibus-law-lt5f194bbc2c481/?page=2 diakses pada 04 januari 2023.
masyarakat. Tak hanya substansi serta bentuk, namun secara teori. Seperti, penerapan Omnibus Law dalam pembuatan UU Cipta Kerja memicu perdebatan sosial. Oleh karenanya kehadiran dari Omnibus Law harus dikaji secara akademik agar penerapannya tidak memberikan efek terhadap orang yang menjalankan regulasi dan atau orang yang memiliki wewenangnya.
a. Peluang Pemerintah Indonesia Menggunakan Omnibus Law
Hal tersebut mereka mengaca terhadap terhadap Undang Undang a quo diduga melanggar hak-hak buruh, rawan kepentingan korporasi merusak lingkungan serta berbagai hal yang dipersoalkan di banyak masyarakat. Namun jika mengakaji lebih dalam kehadiran dari omnibus law juga memiliki dampak positif.
Louis Massicotte dalam pendapatnya mengatakan bahwa kehadiran UU Omnibus Law memberikan manfaat yang besar dalam pembentukan Undang-undang di Inonesia yakni:29
1) Memberikan penghematan waktu dalam mempersingkat proses legislasi perubahan terhadap undang-undang yang akan dirubah melainkan hanya menggunakan 1 rancangan yang dapat berisikan materi dalam berbagai undangan-undang sehingga dalam penyusunannya bisa terhindarkan dari pelbagai lamya perdebatan antat anggota dewan legislatif terhadap masing undang-undang.
29 Bayu Dwi A, “Omnibs Law Sebagai Teknik Pembentukan Undang-Undang: Peluang Adopsi dan Tantangannya Dalam Sistem Perundang-Undangan Indonesia”. Jurnal Rechtsvinding, Vol 9 No. 1 April. 2020. 26.
2) Dengan adanya omnibus law hubungan partai antara mayoritas dan minoritas memiliki kesempatan yang sama dalam memberikan sebuah rancangan undang-undangan mengingat materi/subtansi omnibus law sangat banyak.
M. Dodek menyebutkan keuntungan yang dapat digunakan dalam omnibus law adalah pembentukannya dapat dilakukan secara efesien, hal tersebut karena biasanya amandemen hanya dapat dilakukan 1 undang-undang saja. Begutu pula menurut pendapat dari Glen S. Krutz kehadiran omnibus law memberikan manfaat produktifitas dalam pembentukan UU misalnya saja dalam pemebentukan undang-undang yang seringkali mengalami banyak kepentingan seringkali mengalami kemacetan namun dengan kahadiran dari omnibus law memungkinkan banyaknya sebuha solusi yang dapat diambul untuk dapat mengakomodir banyaknya kepentingan hingga UU bisa disetuuai oleh seluruh pihak.30
Manfaat yang lain juga bisa terlihat dalam aspek penerapanya yang menyebabkan banyak lembaga yang bertanggung jawab menjalankannya. Hal tersebut berbentuk peraturan penerbitan bersama menjalankan omnibus law.
b. Implikasi Pemerintah Indonesia Memakai Omnibus Law
Kehadiran omnibus law tak selamanya dapat dianggap sebagai solusi dalam pola penyederhanaan undang-undang melainkan
30 Bayu Dwi Anggono,. 29.
memberikan kelemahan dalam proses pembuatan undang-undang ataupun dalam penerapannya. Beberapa para tokoh menyertakan tentang pandangan terkait kelemahan ketika pembuatan UU Omnibus law
Aaron Wherry mengemukakan bahwa di buatnya Undang-Undang Omnibus Law memberikan praktik pembuatan regulasi pragmatis serta kurang demokratis sebab dalam perubahannya hanya mengganti norma berbagai Undang-Undang dengan inisiatif politik yang beda.31
Siclair dan Smith mengungkapkan kelemahan dari UU omnibus law: “this teachnique changes the delliberative process. Omnibus bills are often fast-tracked thorugh committes with fewer hearings and less markup consideration than would be expecetes from several important standard bill”. Proses penyusunan terhadap regulasi undang-undang juga memiliki bahaya terhadap implementasinya hal ini disebabkan adanya sebuah percampuran antara berbeda dan hanya diringkas dalam satu undang-undang omnibus law hal yang ini kemudian yang akan membawa kerancuan bagi anggota legilatif karen tak jarang dalam beberapa subyek tersebut tidak terjadi sebuah kesesuaian
31 Bayu Dwi Anggono, “Omnibus Law Sebagai Teknik Pembentukan Undang-Undang:
Peluang Adopsi dan Tantangannya Dalam Sistem Perundang-Undangan Indonesia”. Jurnal Rechtsvinding, Vol 9 No. 1 (April. 2020), 27.
Novianto Murti Hatono menilai bahwa omnibus law di Indonesia memiliki tantangan dan konsekuensi dalam penerapannya di Indonesia.32
1) Teknik Perundang-Undangan
Proses pembentukan aturan perundangan diatur di UU PPP secara rigit melalui format dan tekhnik rancangannya. Isi asas dari peraturan pembentukan UU tersebut yakni peraturan yang akan diubah akan dicabut peraturan lebih tinggi. Hal ini akan terlihat aneh jika melihat konteks UU omnibus law yang digunakan untuk meringkas seluruh UU tidak hanya mencakup 1 judul undang-undang dan ini belum pernah terjadi jika pengahapusan ketentuan puluhan UU melalui satu UU saja.
2) Penerapan Asas
Lex specialis derogat legi generali adalah asas hukum dengan sifat khusus mengesampingkan aturan hukum umum. Bagir Manan mengatakan bahwa asas ini memiliki prinsip diantaranya adalah:
a) Ketentuan di aturan hukum yang bersifat umum berlaku kecuali diatur khusus di aturan hukum bersifat khusus.
b) Lex specialis wajibi sederajat dengan ketentuan lex generalis (UU dengan UU).
32 Novianto Murti Hatono dalam Jimly Ashiddiqie , Omnibus law dan Penerapannya di Indonesia, (Konsitusi Press, Jakarta. 2020), 21.
c) Ketentuan yang bersifat lex specialis wajib ada di lingkungan sama dengan lex generalis.
3) Kekhawatiran Resentralisasi
Undang-Undang mengenai peraturan pembentukan perundang-undangan tidak mengenal adanya UU Omnibus law menjadi undang-undang yang harusnya kedudukan ataupun materi muatannya mengacu kepada ketetapan Undang-Undang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, hingga cara penyusunanannya RUU omnibus law mengacu ke Undang-Undang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.33 Agar UU Omnibus memiliki sebuah legitimasi maka yang harus dilakukan adalah merevisi kembali Undang-Undang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Jika kemudian RUU Omnibus law tetap diputuskan maka kemungkinan yang ada adalah paradigma pembangunan hukum yang tak selaras dengan konsitusi serta dapat menabrak teori tentang UU, sebab bagaimanapun omnibus law tetap menjadi undang-undang yang berada dibawah Undang-Undang Dasar.
Keberadaan Undang-Undang Cipta Kerja diharapkan mampu menyerap tenaga kerja Indonesia seluas-luasnya dalam konteks adanya dalam teknis penyusunannya menggunakan model
33 Achmad Jaka dkk, “Urgensi Reformasi Undang-Undang Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Sebagai Dampak Penerapan Konsep Omnibus Law di Indonesia”. Jurnal Ilmiah Living, Vol 14 No. (2 Juli 2022), 122.
Omnibus Law mencakup sepuluh bidang kebijakan sebagai berikut:
1) Peningkatan ekosistem investasi dan kegiatan berusaha 2) Ketenagakerjaan
3) Kemudahan, pelindungan, serta pemberdayaan UMKM 4) Kemudahan berusaha
5) Dukungan riset dan inovasi 6) Pengadaan tanah
7) Kawasan Ekonomi
8) Investasi Pemerintah Pusat dan Percepatan Proyek Strategi Nasional
9) Pelaksanaan Administrasi pemerintah 10) Pengenaan sanksi.
Akan tetapi, dalam pembahasan dan pembentukannya Undang-Undang Cipta Kerja ini banyak dikritik oleh masyarakat luas karena tidak sesuai dengan prosedur dan cacat formil. Berikut beberapa kesalahan prosedur dan cacat formil pembentukan Undang-Undang Cipta Kerja:34
Pertama, Undang-Undang Cipta Kerja dibuat tanpa kajian akademis atau naskah akademik, Undang-Undang dibuat terlebih dahulu, kemudian baru disusul pembuatan kajian akademis, padahal menurut undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
34 https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5f854ded1a0b5/menguak-cacat-formil-uucipta-kerja?page=all, dikases pada 15 Januari 2023, pukul 19:04.
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menyatakan bahwa naskah akademik harus terlebih dahulu dibuat.35
Kedua, model Omnibus Law sebagai pilihan tidak tepat, Konsepsi Omnibus Law ini tidak diatur di dalam UU No. 12 Tahun 2011. Padahal, pada bulan Oktober 2019 dilakukan perubahan atas UU 12 Tahun 2011 dan tak ada pembicaraan untuk memasukkan konsep Omnibus ke dalam tata cara pembentukan peraturan Perundang-undangan. Mengingat tidak adanya cetak biru pembentukan aturan model Omnibus akibatnya, teknis pembahasannya menjadi kacau dan hanya mengikuti keinginan dan kepentingan pembentukan oleh pengusul dan kemudian pembentuk UU.
Ketiga, Pelanggaran pada proses legislasi terjadi setidaknya pada tiga hal lainnya. Yakni pembahasan yang dilakukan secara terburu-buru, tidak transparan dan tanpa partisipasi. Pasal 18 UU No. 12 Tahun 2011 mewajibkan penyusunan UU memperhatikan aspirasi dan kebutuhan hukum masyarakat.
Keempat, tanpa partisipasi publik, dalam tahap perencanaan dan penyusunan ini diperlukan pelibatan dan partisipasi publik yang luas dan beragam dari berbagai latar terutama subjek hukum (adresat) yang hendak dikenai dari UU ini, yakni pekerja atau buruh dan para pemangku kepentingan (stakeholders).
35 https://nasional.kompas.com/read/2020/10/10/12443881/ylbhi-nilai-uu-cipta-kerja-cacatformil?page=all, dikases pada 05 Januari 2022, pukul 19:07.
Kelima, DPR memotong tahapan dalam proses pembahasan. Pembahasan RUU Cipta Kerja dilaksanakan oleh Badan Legislasi yang berisi 80 anggota DPR dari 9 fraksi di DPR.
Mengacu Pasal 155 ayat (1) Peraturan DPR No. 1 Tahun 2020 tentang Tata Tertib, seluruh materi dalam Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU Cipta Kerja harus dibahas terlebih dahulu dalam Rapat Kerja Badan Legislasi.
Dari segi pembentukannya, UU Cipta Kerja terdapat kecacatan secara formil. Kecacatan tersebut adalah, pembentukan UU Cipta Kerja mengabaikan salah satu asas pembentukan undang-undang yang baik yaitu, asas keterbukaan. Selain itu, mekanisme pembentukan UU Cipta Kerja dengan teknik Omnibus Law tidak diatur di dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode Penelitian adalah suatu cara yang digunakan dalam mengumpulkan data penelitian dan dibandingkan dengan standart ukuran yang telah dilakukan36. Hal ini sangat menentukan kualitas hasil penelitian, berdasarkan hal ini, seorang peneliti harus menentukan dan memilih metode yang tepat agar tujuan penelitian tercapai secara maksimal, adapun dalam penelitian ini digunakan beberapa teknik atau metode penelitian yang meliputi:
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini berjenis kuantitatif menggunakan penelitian yang berbasis pustaka (library research), yakni mengkaji dan menelaah tentang berbagai sumber yang tertulis baik berupa tulisan yang berbentuk jurnal, artikel, buku, skripsi dan jenis tulisan yang relevan dengan judul skirpsi yang penulis teliti sebagai bahan kajian.37 Proses ini sekaligus juga karna membantu penulis dalam menemukan data terbaru.
2. Pendekatan Penelitian
Seperti yang tertera dalam penjelasan diatas metode ini menggunakan penelitian pustaka yang difokuskan pada buku-buku, jurnal-jurnal, maupun hal-hal yang berkaitan lainnya.38 Dalam penelitian ini mendeskripsikan pemikiran seorang tokoh yaitu Jimly Asshiddiqie
36 Suharsimi Arikunto, “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek”
(Jakarta:Rineka Cipta, 2002), 126.
37 Soerjono Soekanto, “Pengantar Penelitian Hukum” (Jakarta:UI Press, 1986), 12.
38 Mardalis, “Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal” (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), 26.
mengenai metode pembentukan Omnibus Law secara komprehensif yang kemudian di analisis secara logis sehingga mendapat suatu kesimpulan terhadap pandangan Jimly Asshiddiqie tentang Omnibus Law dan Konsekuensi terhadap Perkembangan Sistem Ketatanegaraan Indonesia.
B. Sumber Data
Beberapa data yang diperoleh dalam kajian kepustakaan berupa tekstual atau konsep. Adapun aspek-aspek peneliti dalam melakukan analisis yaitu konsep, definisi, pandangan, pemikiran, argumentasi, dan hasil dari literatur yang relevan.
Salah satu data yang digunakan dalam metode penelitian ini adalah data sekunder sebagai data yang memiliki laporan tertulis, dalam hal ini bisa berbentuk dokumen resmi, buku, laporan penelitian dan lai-lain. Proses penelitian melalui data sekunder diperoleh dari mengutip literatur yang pernah melakukan penelitian sebelumnya khususnya beberapa tulisan yang berkaitan dengan omnibus law. Sumber data sekunder ini dapat diartikan sumber data tertulis. Walaupun sumber data ini diluar kata dan tindakan sumber kedua, jelas sumber data sekunder ini tidak dapat diabaikan.39
Pada umumnya data pustaka merupakan sumber sekuder atau bahan dari tangan kedua yang memiliki ciri-ciri yang dapat diperhatikan: Pertama penulis langsung berhadapan dengan tulisan dari beberapa literatur yang berbentuk teks serta penulis tidak berhadapan dengan informan yang ada di lapangan. Kedua tulisan yang teliti ini merupakan data yang siap saji dan siap
39 Moleong, 159.
pakai. Ketigai datai pustakan adalah data sekunder peneliti memperoleh data berasal dari tangan kedua karena tangan pertama ada dalam data lapangan, terakhir data pustaka tidak memiliki batasa waktu tertentu.