BAB IV PENELITIAN, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Pembahasan
2. Pendidikan Seksualitas Oleh Orang Tua Pada Individu Autistik
2.1. Pemahaman dan Cara Orang Tua Memberikan Pendidikan
Ketiga orang tua yang menjadi subjek penelitian ini, memahami bahwa anak mereka memiliki perkembangan fisik yang normal sama seperti remaja lainnya, untuk itu anak-anak mereka juga membutuhkan suatu pendidikan khusus tentang seksualitas. Mereka juga menyadari bahwa anak mereka mengalami gangguan dan perkembangan emosi, kognitif dan sosial yang kurang memadai sehingga membutuhkan metode khusus dalam memberikan pendidikan tersebut.
Secara umum, ketiga subjek memberikan pendidikan seksualitas yang berkaitan dengan bagaimana mengembangkan perilaku yang pantas dalam lingkungan sosial, mengetahui mana perilaku yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan serta berusaha menghindarkan mereka dari pelecehan seksual. Subjek kedua lebih jelas mengatakan bahwa ia tidak ingin membuat anaknya menjadi tontonan bagi orang lain karena perilakunya yang tidak sesuai norma sosial. Hal ini sesuai dengan Adams ( dalam Puspita, 2003:5 ) yang menjelaskan bahwa pendidikan seksualitas bagi Individu autistik memiliki tujuan untuk membantu mereka memahami batasan antara public vs private sehingga mereka mampu mengembangkan perilaku yang pantas di lingkungan. Selain itu pendidikan seksualitas juga bertujuan membantu mereka untuk memahami dasar-dasar keterampilan sosial yang ada di lingkungan masyarakat serta Membantu mereka menghindari dan mengatasi pelecehan seksual.
Individu autistik merupakan individu yang memiliki kebutuhan khusus sehingga ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan saat memberikan pendidikan seksualitas ( Puspita, 2005:2 ). Pemberian pendidikan pada individu autis juga terkait dengan ciri khas mereka dalam memproses informasi dan mempersepsi dunia. Setiap individu autistik memiliki manifestasi gangguan-gangguan yang berbeda-beda. Hal ini menjadikan setiap
individu autis sangat unik sehingga dalam memberikan pendidikan dibutuhkan cara yang berbeda untuk setiap individu tergantung pada kemampuan mencerna informasi dan respon mereka terhadap proses pengajaran ( Puspita, 2005:3 ).
Yoga ( 2005:4 ) menambahkan bahwa karakteristik yang mungkin akan muncul pada anak penyandang autisme ketika mereka memasuki masa pubertas sangat tergantung pada ciri-ciri tertentu yang ada pada masing-masing individu tersebut. Hal ini juga membuat individu autis sangat unik sehingga pemberian pendidikan seksualitas pada individu autis menjadi tidak bisa disamaratakan dan tidak bisa memberikan penanganan yang seragam bagi sekelompok anak.
Hal ini terlihat dari metode dan strategi yang dilakukan oleh masing-masing subjek dalam memberikan pendidikan seksualitas bagi anak mereka. Metode yang mereka gunakan sangat terkait dengan karakteristik gangguan yang ada pada masing-masing anak, perkembangan mereka dan perilaku seksualitas yang mereka lakukan. Untuk itu sulit menyamaratakan cara-cara dan strategi dalam menangani pendidikan seksualitas bagi individu autistik remaja.
Subjek pertama tidak membutuhkan strategi khusus untuk memberitahu anaknya perilaku mana yang boleh dan tidak boleh dia lakukan, karena subjek dapat berkomunikasi dengan Nc lebih
mudah dibanding individu autistik lainnya. Subjek cukup mengatakan secara langsung pada Nc ketika kejadian itu berlangsung untuk tidak melakukan hal tersebut maka Nc akan memahaminya dan menuruti perintah subjek. Hal ini mungkin terjadi karena Nc memiliki kemampuan berkomunikasi yang lebih baik dibanding dua individu autistik yang lain. Ia mampu memahami perkataan orang lain, mengerti instruksi dengan mudah dan mampu berbicara dengan lebih baik.
Memberitahu secara langsung ketika kejadian berlansung dengan metode verbal digunakan oleh subjek untuk melarang anaknya menyentuh buah dada ataupun pantat wanita yang ia sukai. Subjek menyuruh anaknya untuk bersalaman saja dengan menggunakan bahasa verbal. Hal ini terkait dengan perilaku seksualitas Nc dimana bila ia tertarik pada seorang wanita maka ia akan memegang payudara ataupun pantat dari wanita tersebut. Menurut Puspita ( 2005:5 ) individu autistik yang mampu mengembangkan kemampuan komunikasinya dapat belajar dari mendengarkan orang lain, dimana ia mendapatkan informasi melalui pendengarannya.
Subjek pertama menyadari memang tidak mudah untuk memberitahu atau melarang anaknya karena dibutuhkan kesabaran untuk mengulangi perintah tersebut secara terus menerus. Hal ini juga terjadi pada dua subjek lainnya. Mereka menjelaskan bahwa
anak-anak mereka membutuhkan strategi atau metode pengulangan dan konsistensi dalam memberikan informasi atau instruksi agar mereka dapat memahami hal tersebut dengan baik. Adams ( dalam Puspita, 2003:9 ) menjelaskan bahwa proses pengajaran tentang konsep abstrak pada individu autistik yang paling efektif adalah dengan menggunakan teknik modelling (memberikan contoh) dan pengulangan atau terus menerus.
Melihat bagaimana suasana hati anak dalam memberikan informasi ataupun perintah, juga dilakukan oleh subjek pertama dan kedua. Hal ini mereka lakukan agar anak-anak mereka dapat memahami dengan baik apa yang mereka katakan. Selain itu memberikan informasi atau perintah dengan melihat suasana hati anak mereka dapat mempengaruhi respon mereka terhadap informasi dan perintah tersebut. Menurut Puspita ( 2005:3 ) penting mengetahui kebiasaan anak, kondisi perasaannya dan respon anak terhadap perkataan orang tua untuk dapat memberikan pendidikan pada indiivdu autistik sehingga mereka dapat mencerna informasi dengan baik.
Subjek pertama mengetahui bahwa anaknya sering melakukan masturbasi dan ia tidak melarang anak melakukan hal tersebut. Subjek menyuruh anaknya untuk melakukan hal tersebut didalam kamarnya dan menutup badannya dengan selimut. Metode tarik ulur juga dilakukan oleh subjek. Ia tidak melarang tapi juga
tidak membiarkan anaknya melakukan hal tersebut secara terus-menerus. Subjek berusaha mengalihkan perhatian anaknya pada kegiatan lain untuk mengurangi kegiatan masturbasinya. Ketika subjek tidak dapat mengawasi anaknya, ia menggunakan
significant other yaitu supirnya untuk membantunya melarang Nc
melakukan masturbasi ditempat umum.
Nc senang tidak menggunakan pakaian atau telanjang dan subjek langsung mengatakan kepada anaknya untuk memakai pakaian guna mengatasi hal tersebut. Kebiasaan untuk tidak memakai pakaian ini hanya terjadi ketika Nc berada di rumah. Subjek juga menceritakan bahwa anaknya sering tidak memakai celana dalam pada waktu-waktu tertentu. Subjek membiarkan hal ini selama Nc berada dirumah namun bila Nc keluar rumah maka ia akan memaksa anaknya untuk memakai celana dalam.
Subjek kedua membutuhkan cara yang lebih kreatif untuk memberitahu anaknya tentang apa yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan. Hal ini terkait dengan gangguan komunikasi dan perkembangan kongisi yang dialami oleh Os. Subjek mengetahui bahwa anaknya tidak menyukai mendengar orang banyak bicara karena Os mengalami sound sensitivity, untuk itu bila ingin memberitahu secara verbal subjek menggunakan metode bicara sedikit, jelas dan pelan.
Autism Society of America menjelaskan bahwa ada juga individu autis yang mampu mengembangkan dengan baik kemampuan berbahasanya. Beberapa individu autis dapat mengembangkan berbagai tipe dalam kemampuan komunikasi seperti dengan menggunakan simbol atau gambar ( www.Autism-Society.org ). Hal ini terjadi pada diri Os, ia mampu memahami informasi ataupun instruksi dengan lebih mudah dan cepat dengan menggunakan metode visualisasi. Metode inilah yang digunakan subjek untuk memberikan pendidikan seksualitas bagi anaknya seperti tentang bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh dengan menggunakan sketsa orang dan tanda silang juga tandan centang. Selain itu ia juga mengajarkan tentang siapa saja yang boleh dipeluk dan dicium dengan menggunakan gambar
family circle. Family Circle berupa gambar lingkaran-lingkaran
dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Lingkaran yang paling kecil adalah orang tua, yaitu orang-orang yang boleh memeluk dan dipeluk, mencium dan dicium. Lingkaran kedua adalah adik-adiknya, yaitu orang-orang yang tidak boleh dicium dan dipeluk dengan sembarangan. Begitu seterusnya sampai lingkaran paling besar adalah orang-orang luar yang hanya boleh bersalaman.
Puspita ( 2005:2 ) menjelaskan bahwa anak autis lebih mudah untuk memahami hal konkrit sehingga sebanyak mungkin
menggunakan alat bantu visual untuk memperkenalkan seksualitas pada anak. Mereka lebih mudah mencerna informasi yang dapat mereka dengan daripada yang hanya dapat mereka dengar. Anak dengan gaya belajar visual atau visual learner senang melihat buku atau gambar bahkan menonton televisi, sehingga akan lebih mudah memberikan pendidikan seksualitas bila menggunakan metode visualisasi.
Subjek kedua mengatakan bahwa ia selalu memantau perkembangan anaknya terutama yang berkaitan dengan seksualitas. Subjek menyediakan kamar sendiri bagi anaknya ketika ia melihat Os mulai menunjukkan perilaku seks yang menonjol seperti masturbasi. Untuk perilaku ini subjek tidak melarang anaknya melakukan masturbasi, tapi tidak membiarkan anaknya melakukan itu didepan umum dan menjadi tontonan orang lain. Hal ini terjadi karena subjek memahami bahwa anaknya adalah seseorang yang mengalami gangguan sehingga membutuhkan pendidikan yang membuat ia tetap dapat menyalurkan kebutuhan seksualnya tanpa menjadikannya tontonan bagi orang lain. Menanamkan konsep sejak kecil, seperti hanya boleh buang air dan mengeluarkan kemaluan dikamar mempermudah proses mengajarkan Os untuk melakukan masturbasi didalam kamar, karena ia sudah mengerti bahwa mengeluarkan kemaluan hanya boleh ditempat tertutup.
Pembiasaan ini mungkin dilakukan karena terkait dengan karakteristik Os yang bersikap kaku dan mempertahankan rutinitas sehingga ia mampu melakukan hal tersebut.
Schwier dan Hingsburger ( dalam Puspita, 2003:5-6 ) mengatakan bahwa untuk mengajarkan masalah seksualitas dibutuhkan penanaman konsep sejak dini sesuai dengan usia mental anak. Sejak umur tiga sampai sembilan tahun anak seharusnya sudah diajarkan tentang tempat publik dan pribadi, mana tempat yang menjadi milik masyarakat dan tempat yang khusus untuk anak tersebut.
Metode visualisasi juga digunakan oleh subjek kedua untuk mengajarkan anaknya untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan serta memberikan gambar kelamin wanita ketika anaknya meminta untuk melihat kelamin wanita. Subjek berusaha memenuhi permintaan anaknya tersebut dengan memberikan gambar kelamin wanita yang ada dibuku pelajaran biologi. Selain itu contoh kongkrit yaitu dirinya sendiri dan anggota keluarga lain digunakan subjek untuk menunjukkan mana yang laki-laki dan yang perempuan.
Subjek kedua memahami peran besar orang tua sebagai pihak yang bertanggungjawab dalam memantau perilaku anak untuk mengurangi perilaku yang dianggap kurang sesuai dengan norma. Orang tua harus selalu melihat perkembangan anak
sehingga mengetahui kapan pendidikan seksualitas dapat diberikan dan menuntut cara yang kreatif sesuai dengan kemampuan anak. Sejak kecil anak dibesarkan dalam keluarga dan sebagian besar waktunya ada dalam keluarga. Oleh sebab itu pendidikan seks pada anak sebaiknya diberikan oleh orang tua, karena orang tualah yang paling mengerti kebutuhan anak ( Laily & Matulessy, 2004:196 ). Orang tua adalah pihak yang bertanggung jawab atas proses pengajaran seksualitas pada anak. Rumah adalah tempat yang paling pribadi untuk anak dimana anak diharapkan mampu mengekspresikan kebutuhan seksualitasnya ( Puspita, 2003:8 ).
Sebagai seorang perempuan Dd cenderung lebih pasif dan subjek ketiga melihat anaknya tidak pernah melakukan perilaku seksualitas. Subjek berusaha menjaga Dd dari hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas, karena menurut subjek selama anaknya tidak pernah melihat ataupun merasakannya maka ia tidak akan memiliki kebutuhan akan seksualitas.
Subjek menyadari kesulitan anaknya dalam memproses informasi yang kompleks. Hal ini mungkin terjadi karena Dd memiliki kecenderungan processing problem dalam memproses informasi. Puspita ( 2005:2 ) menjelaskan bahwa individu autistik yang memiliki kecenderungan ini mengalami kesulitan dalam memahami informasi verbal yang panjang atau rangkaian instruksi. Untuk itu ia tidak mengajarkan anaknya tentang bagian tubuh mana
yang boleh dan tidak diboleh dipegang oleh orang lain. Sebagai gantinya subjek menggunakan metode pengkondisian lingkungan. Subjek mengatur orang-orang disekitar Dd untuk menjaga Dd dan memperlakukannya dengan baik serta sopan.
Terkait dengan perkembangan fisik, dimana Dd mengalami pertumbuhan buah dada dan menstruasi, subjek memahami bahwa anaknya juga harus menggunakan BH dan pembalut seperti perempuan normal lainnya. Disisi lain subjek juga menyadari bahwa anaknya mengalami gangguan sehingga ia berusaha membantu Dd untuk menjalani hal tersebut. Subjek mengajarkan Dd untuk menggunakan BH ketika payudara Dd semakin besar. Proses ini dilakukan secara bertahap, dimulai dari menggunakan kaus dalam, kemudian miniset dan akhirnya BH. Untuk mengajarkan hal ini subjek bekerjasama dengan guru Dd sebagai
significant other. Begitu juga dengan mengajarkan Dd memakai
pembalut ketika menstruasi. Proses ini dilakukan secara bertahap sejak tiga bulan sebelum Dd mendapat menarche dimulai dengan pembalut yang tipis hingga yang tebal. Proses pengajaran menggunakan pembalut terjadi karena proses belajar yang tidak disengaja. Seperti yang dikatakan oleh Adams ( dalam Puspita, 2003:9 ) bahwa proses pengajaran untuk konsep-konsep keterampilan sosial, kesehatan, pendidikan seksualitas dan
hubungan antar individu yang rumit, harus melalui strategi salah satunya dengan saat-saat belajar yang tidak disengaja.
Dari ketiga subjek diketahui bahwa anak mereka tidak pernah mengalami pelecehan seksual. Hal ini terjadi karena ketiga subjek berusaha melindungi anak mereka dengan mengawasi mereka, selalu memantau mereka dan tidak membiarkan mereka pergi sendiri ataupun melepas mereka dengan orang lain yang tidak dikenal dengan baik. Subjek kedua menjelaskan bahwa pelcehan seksual tidak terjadi karena semua sudah teratur dan Os sendiri sudah memahami konsep tentang boleh dan tidak boleh sehingga ia bisa menghindari hal tersebut.
2.2. Masalah yang Dihadapi Orang Tua Dalam Memberikan