• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENELITIAN, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Subjek 2

1. Penerimaan Keluarga

Subjek merasakan adanya kejanggalan pada perkembangan anaknya, ketika ia berumur lima belas bulan. Ketika itu anaknya belum mampu berbicara dan ada perilaku yang dirasa aneh yaitu membenturkan kepala ke dinding. Setelah itu subjek memeriksakan anaknya ke dokter dan diminta untuk melakukan speak therapy, karena diduga mengalami keterlambatan bicara. Tapi karena keterbatasan dana dan saat itu subjek sedang menjalankan studi di Sidney sehingga tidak melakukan apa yang disarankan oleh dokter.

“Waktu itu saya masih di Sudney. Saya lihat kok anak saya belum bicara, umurnya sudah lima belas bulan. Trus dia waktu itu suka membenturkan kepalanya ke dinding. Wah saya merasa ada yang gak beres. Akhirnya saya periksakan, dan dokter meminta untuk speak therapy. Tapi karna waktu itu ada keterbatasan dana saya tidak lakukan.” (W. S2. 06.03.07. 1).

Dalam perkembangannya sampai umur tiga tahun, subjek melihat anaknya masih belum mampu berbicara dan menunjukkan perilaku yang sangat aktif, sulit diatur dan keras kepala. Subjek mencoba berbagai pengobatan dan terapi selama hampir tiga tahun, tapi anaknya tetap tidak menunjukkan perkembangan. Ketika anaknya bermur tujuh tahun, subjek memeriksakan anaknya ke P3TKA (Pusat Pengkajian dan Pengamatan Tumbuh Kembang Anak) dan hasilnya menyatakan

bahwa anaknya menderita autisme. Setelah itu subjek berusaha memasukkan Os ke sekolah regular, tapi sekolah menyatakan tidak sanggup. Subjek juga mencoba memasukkan Os ke SLB tapi Os menolak untuk sekolah. Ketika Os berumur sembilan tahun subjek memasukkan Os ke sekolah Autis Fajar Nugraha.

“sampai umur tiga tahun dia itu, belum bisa bicara juga, turs perilakunya semakin hiper kan, keras kepalanya itu. Saya bawa Os ke Romo Loogman di Purworejo, trus dikasih ramuan. Ramuan itu mesti diseduh di tempat dari bahan tanah liat.” (W. S2. 06.03.07. 6).

“pada saat Os tujuh tahun kok gak ada perubahan, trus saya periksakan dia ke P3TKA itu, baru dari sana saya tahu ternyata anak saya mengalami autisme itu.” (W. S2. 06.03.07. 7).

“Saya memasukan Os ke SD, tapi pihak sekolah tidak sanggup mengajar katanya, trus saya masukin dia ke SLB tapi disana Os mogok gak mau sekolah. Pas dia umur 9 tahun saya dikasih tahu teman saya untuk masukin Os ke sekolah autis di Fajar Nugraha itu.” (W. S2. 06.03.07. 7).

Ketika mengetahui bahwa anaknya mengalami autisme, subjek mengaku merasa sedih dan malu. Sejujurnya subjek berharap anaknya dapat tumbuh sebagai anak yang normal tapi subjek tetap menerima keadaan anaknya karena bagaimanapun Os adalah anaknya. Dulu subjek merasa malu terhadap kondisi Os yang perilakunya sulit diatur sehingga sering membuat orang lain memandang Os dengan pandangan yang aneh. Dengan berjalannya waktu subjek mengaku bangga terhadap anaknya tersebut. Subjek tidak lagi melihat kelemahan yang ada pada diri anaknya, tapi melihat hal positif yang pada dirinya dan

mengoptimalkan hal itu sehingga membuat anaknya mampu berprestasi.

“Ya kalau perasaan mau jujur ya anda tau sendiri, kita maunya ya normal ya…walaupun dulu kita gak tau ada apa sama dia, tapi kan tau pasti ada sesuatu…ya maunya sih normal ya. Ya karena itu anaknya sendiri ya sudah.” (W. S2. 06.03.07. 2).

“Kalau ditanya sepuluh tahun lalu ya masih lebih banyak menyedihkan dan memalukan itu tadi. Ya sedih dan malu itulah.” (W. S2. 06.03.07. 3).

“Sedihnya ya itu karena berharapnya kan anaknya lahir normal ya…kalau malunya itu karena dia itu perilakunya itu loh, dia itu kan susah diatur, aktif banget lagi, kadang kalau lagi bertamu itu dia suka ngerepotin yang punya rumah. Kadang gak enak sama orang itu apalagi kalau orang itu gak bisa mengerti kondisi Os.” (W. S2. 06.03.07. 4).

“Sekarang sudah masuk tahap ini, membanggakan. Yang penting sekarang itu bagaimana anak itu bisa diberdayakan, bisa berprestasi. Kalau kita hanya melihat kelamahannya saja ya tidak maju-maju.” (W. S2. 06.03.07. 5).

Hal ini juga terjadi pada saudara-saudara Os, subjek menjelaskan bahwa mereka dulu merasa malu karena memiliki kakak yang autis. Tapi subjek berusaha membuat mereka mau menerima saudaranya itu, dengan memberikan pengertian dan membiasakan untuk selalu bersama-sama dan mengajak mereka untuk membantu mengajari Os berbagai hal. Hal ini ternyata mampu membuat anak-anak subjek menerima keadaan Os. Saat ini mereka sudah menunjukkan penerimaan terhadap Os dan mengaku bangga terhadap kakak mereka itu.

“Sekarang mereka bangga, dulu di SMP 1…ini Os kalau ikut jemput…malu mereka..”aahh malu…”. Tapi kami beri pengertian

“inilkan kakak kamu, teman-teman kamu gak tau tentang kakak kamu, kamu yang beri pengertian, jelaskan kakakku ini autis, autis itu gini-gini…”. Akhirnya ya dia bisa.” (W. S2. 06.03.07. 8).

“Ya sejauh ini karena ada proses ya, selama ini kami kan biasa makan sama-sama, akhirnya mereka mengerti. Justru saya menggunakan adik-adiknya, saya punya tiga anak cowok dan satu perempuan, itu mereka saya gunakan untuk mengajar Os.” (W. S2. 06.03.07. 9).

2. Karakteristik Utama A. Gangguan Komunikasi

Menurut subjek anaknya mengalami gangguan berkomunikasi. Os memang mampu berbicara tapi kata-kata yang diucapkannya kurang jelas dan temponya cepat sehingga sulit untuk dipahami. Selain itu dia juga, subjek juga menjelaskan bahwa anaknya memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap suara, sehingga ketika mendengar orang yang banyak bicara, suara yang keras dan nada yang tinggi, maka Os akan menutup telinganya. Karena hal itulah untuk berkomunikasi dengan anaknya, subjek tidak menggunakan banyak kata dan pelan-pelan dalam mengucapkannya.

“Os itu sebenarnya bisa bicara sedikit-sedikit tapi iramanya cepat dan kurang jelas.” (W. S2. 06.03.07. 13).

“Jadi anak autis itu kan memang sebetulnya kan dia bisa berkomunikasi, tapi dia juga tidak senang kalau talkactive, makanya kemarin kalau ada gurunya yang terlalu cerewet dan nada yang katakan sakit, tidak suka dia, dia akan langsung tutup telinganya.” (W. S2. 06.03.07. 14).

Subjek menjelaskan bahwa bila ingin berkomunikasi secara lisan dengan anaknya, harus mengurangi perkataan. Akan lebih efektif bila berbicara dengan pelan-pelan dan tidak banyak atau sedikit. Hal ini dilakukan subjek karena Os tidak menyukai mendengar orang banyak bicara atau saling berbicara seperti layaknya orang biasa.

“Komunikasi itukan pengen omong-omong, tapi dia itu sulit, dilain pihak tidak suka dia banyak bicara, omong-omong itu dia tidak suka.” (W. S2. 06.03.07. 12).

“Jadi mengurangi perkataan, karena don’t talk to much, don’t fast. Jadi kalau memang mau ngomong, jangan terlalu banyak dan jangan cepat. Sedikit dan pelan-pelan” (W. S2. 06.03.07. 19).

Os memiliki kemampuan untuk menulis dengan baik, sehingga subjek menggunakan cara ini juga untuk berkomunikasi dengan anaknya. Subjek meminta anaknya menuliskan apa yang dia inginkan baik di kertas maupun di komputer, karena Os juga mampu mengetik di komputer. Cara ini dirasa subjek sangat efektif untuk berkomunikasi dengan anaknya terutama ketika anaknya sedang dalam kondisi marah. Subjek akan meminta Os untuk menuliskan alasan kenapa dia marah karena kalau ditanya secara lisan Os akan semakin marah.

“Saya bilang “coba tulis” dia tulis. Kalau dia mau apa saya suruh dia untuk tulis, dia ketik itu apa. Walaupun bahasa Indonesianya masih kacau, subjek, predikat dan sebagainya itu. tapi secara kata-kata bisa dia, kata-perkata itu utuh.” (W. S2. 06.03.07. 15).

“Kalau Os computer ya bisa, menulis juga bagus tulisannya. Ini salah satu cara untuk menutupi kekurangannya. Bukan berarti dia tidak bisa berkreativitas berbahasa, buktinya pake computer bisa.” (W. S2. 06.03.07.17).

“Kalau dia marah biasanya kami tulis, hari ini marah kenapa…nanti dia tulis kenapanya. Karena kalau ditanya langsung dia marah.” (W. S2. 06.03.07.18).

Hal unik lain yang terjadi pada Os adalah kebenciannya terhadap kata “tidak” dan “jangan”. Subjek mengatakan bahwa tidak bisa mengatakan kedua kata itu secara langsung kepada Os untuk melarang anaknya itu, karena anaknya akan marah bila dilarang dengan menggunakan kata itu. Cara yang diambil subjek untuk mengatasi hal ini adalah dengan mengatakan “tidak…” atau “jangan…” kepada saudara perempuan Os. Dengan menggunakan perantara orang lain dan lawan jenis ini Os akan mengerti dan tidak melakukan apa yang dilarang.

“Os itu paling tidak suka dengan kata “jangan” dan “tidak”, paling tidak suka. Jangan sekali-sekali bilang “jangan” atau “tidak” dan untuk anak autis umumnya jangan mengatakan kata-kata kasar.” (W. S2. 06.03.07.11).

“Untuk menggunakan kata “jangan” jangan langsung ke Os tapi lewat orang lain. Jadi dengan metode secara tidak langsung untuk mengkritik dia, itu adalah cara yang efektif. Dan metode lain itu pake lawan jenis, nah lawan jenisnya dia itu ya adik perempuannya itu.” (W. S2. 06.03.07. 16).

B. Gangguan Interaksi Sosial

Subjek mengatakan bahwa anaknya menjadi mudah berinteraksi dengan orang lain bila ia merasa tertarik dengan benda yang dibawa oleh orang tersebut. Minat anaknya terhadap orang lain tergantung pada benda yang dibawanya. Salah satu benda yang membuat Os tertarik adalah kamera, sehingga ia mau berinteraksi dengan orang yang membawa kamera. Hal ini juga mempermudah orang lain bila ingin berkomunikasi dengan Os. Walaupun sulit berinteraksi dengan orang lain, tapi Os tetap menoleh dan berkontak mata dengan orang yang memanggilnya.

“Kemarin itu ada guru magang dari Bandung ingin wawancara dengan Os, kan setengah mati itu kan. Nah kalau sudah begitu perlu kreativitas dari si pewawancara, apa yang dia lihat. Ternyata dia bawa kamera nah karena mau dikamera, ditanya mau jawab.” (W. S2. 06.03.07. 27).

“Waktu kami sekeluarga pergi ke Kebun Raya Bogor, disana dia salaman sama orang-orang dan kebetulan mereka yang disalamin itu bawa kamera.” (W. S2. 06.03.07. 28).

“Kalau kontak mata ya dia ada, dipanggil gitu dia mau menoleh ke orang yang dipanggil. Gak ada masalah kalau itu.” (W. S2. 06.03.07.31).

Sejauh ini menurut subjek, anaknya tidak menolak bila ada kontak fisik dengan orang lain. Os senang bila dicium oleh adiknya dan itu akan merubah emosi marahnya, dan bila ibunya mencium Os, maka ia akan membalas mencium ibunya.

“Os kalau dicium sama adiknya, udah luluh dia itu…kalau udah gitu dia yang tadinya mau marah gak jadi marah.” (W. S2. 06.03.07. 29).

“Kadang dia sama ibunya itu gak cocok, tapi kadang dia juga menunjukkan rasa sayangnya ke ibunya, kadang ibunya cium dia, dia balas cium juga.” (W. S2. 06.03.07.30).

Sejak Os berumur sebelas tahun dia sudah menolak kehadiran orang lain dalam kamarnya, sehingga mulai saat itu ia mempunyai kamarnya sendiri dan lebih banyak menghabiskan waktu didalam kamarnya.

“Memang sejak umur sekitar sebelas tahun dia itu udah menolak ada orang lain di kamarnya. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya ya dikamarnya itu.” (W. S2. 06.03.07. 32).

C. Gangguan Perilaku

Sejak kecil hingga saat ini, subjek mengaku bahwa anaknya masih menunjukkan gangguan perilaku. Os masih suka loncat-loncat, berjalan berputar-putar mengelilingi ruangan sambil berteriak-teriak. Subjek juga menjelaskan bahwa anaknya sulit beradaptasi dengan perubahan, karena ia bersikap kaku dan mempertahankan rutinitas. Os akan langsung menolak perubahan yang mendadak, karena ia hafal semua kegiatan yang dilakukannya dan menjadikan itu sebagai rutinitas. Ketika rutinitas itu dirubah maka ia akan menolak perubahan dan memilih tidak melakukan kegiatan itu.

“Yang masih jadi kesulitan saya sampai saat ini, itu perilakunya dia yang masih suka loncat-loncat, teriak-teriak.” (W. S2. 06.03.07. 20).

“Dari usianya masih kecil sampai sudah besar gini ya

masih terus ada. Iya dia suka mondar-mandir…iya sambil

teriak-teriak.” (W. S2. 06.03.07. 21).

“Untuk Os itu dia…autis itu kan robot ya…rutinitas itu yang jadi pedoman dia.” (W. S2. 06.03.07. 22).

“Os itu kalau gurunya sakit dan gak masuk, tapi tidak ditulis dulu di papan pengumuman, besoknya kalau ada guru yang lain masuk, dia tidak mau, disuruh keluar guru itu. jadi itu sudah rutinitasnya dia.”

“Jadi didalam pikirannya dia, sudah rutin, besok begini, setelah itu apa begitu terus jadi terpenggal-penggal.” (W. S2. 06.03.07. 24).

“Dulu dia sudah senang akan berenang, trus ternyata tidak jadi, ya kecewa dia. Setelah itu ganti tempat juga. Perubahan suasana itulah dari kolam yang luas ke yang lebih sempit yang membuat dia trauma. Nah anak autis itu kalau sudah trauma angel.” (W. S2. 06.03.07. 25).

Subjek mengatakan bahwa saat ini anaknya tidak menunjukkan kecenderungan perilaku menyakiti diri sendiri. ketika anaknya berumur dua tahun, sempat menunjukkan kecenderungan perilaku ini, yaitu membenturkan kepalanya ke dinding. Namun perilaku menyakiti diri sendiri ini tidak berlangsung lama, sekitar dua minggu.

“Kalau self injury dia ada gak?

Enggak…enggak ada. Ada mungkin cuma sebentar, dulu waktu dia umur dua tahun tapi itu cuma sebentar, dua mingguan ya. Dia suka membenturkan kepalanya ke dinding.” (W. S2. 06.03.07. 26).

3. Perkembangan Anak A. Perkembangan Fisik

Menurut subjek anaknya telah mengalami mimpi basah, tapi tidak tahu dengan pasti kapan hal ini terjadi untuk pertama kalinya. Subjek mengetahui hal ini dari pakaian dalam anaknya yang ada di kamar mandi. Subjek juga menjelaskan bahwa anaknya telah mengalami pertumbuhan seksual sekunder yaitu berupa tumbuhnya rambut disekitar kelamin dan wajah yang biasa disebut kumis dan janggut. Berdasarkan hal tersebut subjek yakin bahwa anaknya memiliki perkembangan fisik yang sama dengan anak normal lainnya yang sedang memasuki masa pubertas.

“Kalau mimpi basah itu pak?

Oh…itu sudah terjadi…kapan itu pak?... oh kalau itu sering terjadi, ya itu karena makanan itu tadi, ya saya tidak ngamatin kapannya itu, tapi dari pakaian yang ada di kamar mandi, itu kan bisa diidentifikasi.” (W. S2. 06.03.07. 34).

“Pertumbuhan fisiknya bisa dikatakan normal dan memang normal, ya sejak masa pubertas itu sudah tumbuh rambut di kelaminnya itu, badannya juga tambah tinggi. Itu juga termasuk kemaluannya ya…” (W. S2. 06.03.07.35).

“Os sudah muncul ya pak perkembangan seksual sekundernya, seperti pertumbuhan rambut di kelamin…

Iya..jenggot itu…kumis udah dia udah muncul. Dia sudah bisa cukur jenggot sendiri, kan di sekolahnya ada bina diri.” (W. S2. 06.03.07. 33).

B. Perkembangan Emosi

Subjek menjelaskan bahwa perubahan emosi terjadi ketika anaknya memasuki usia remaja. Os menjadi sering marah karena hal-hal yang sepele dan ekspresi emosi tersebut cenderung merusak. Padahal sampai umur sebelas tahun, Os cenderung menghindari perselisihan dan menarik diri bila ia diledek oleh anak-anak lain. Subjek menceritakan bahwa Os pernah merusak dan membakar barang-barang rumah yang tidak disukainya dan berlanjut dengan subjek memukul anaknya itu. Akhirnya Os melarikan diri dengan naik bus yang lewat dan subjek memastikan bahwa anaknya itu tidak membayar bus karena tidak membawa uang.

“Ketika masuk usia remaja itu, dia jadi temperamen, emosinya tinggi, bisa jadi marah karna hal yang sepele. Padahal sampai umur 11tahun itu dia kalau diledek sama anak-anak kecil gitu biasanya dia menghindar bentrokan atau menarik diri. Pernah waktu itu dia merusak, bantingin dan bakarin barang-barang di rumah yang gak dia sukai. Sampai akhirnya saya mukul dia itu, dia marah lari naik bus sendiri, gak bayar kan gak bawa uang.” (W. S2. 06.03.07. 80).

Subjek memahami bahwa anak autis tidak memiliki kemampuan untuk empati dan simpati, tidak seperti anak-anak normal lainnya. Subjek menjelaskan bahwa anaknya kesulitan memahami simbol-simbol perasaan orang lain. Hal ini terjadi ketika anaknya menyuruh orang-orang yang ada di bus untuk berdiri karena bus telah penuh

dan dia ingin duduk. Os tidak menyadari bahwa orang tersebut marah dan ia hanya duduk dengan tenang. Namun setelah dijelaskan bahwa Os harus berdiri bila bus telah penuh, dia pun tidak lagi menyuruh orang untuk berdiri.

“Kalau anak normal kan punya simpati dan empati ya, kalau anak autis mana punya. Mereka gak bisa ngerti perasaan-perasaan orang lain.” (W. S2. 06.03.07. 81).

“Pernah dulu waktu dia naik bus, kalau busnya penuh, ya dia nyuruh orang berdiri supaya dia bisa duduk. Orang itu marah ya mana dia ngerti. Tapi setelah dikasih tau kalau busnya penuh Os harus berdiri, sekarang dia berdiri.” (W. S2. 06.03.07. 82).

Hal lain juga terjadi pada Os anak subjek, bila ia merasa bersalah. Subjek mengatakan bahwa anaknya akan meminta maaf padanya bila diberitahu bahwa tindakan yang dilakukannya telah menyusahkan banyak orang dan diminta untuk tidak mengulanginya. Hal ini seperti menimbulkan perasaan bersalah pada dirinya dan akan membuatnya mengatakan maaf pada subjek.

“Tapi kalau misalnya dia merasa membuat orang lain gak senang, trus kalau dia merasa bersalah, dikasih tau kalau tindakannya dia itu membuat semua orang susah, jangan diulangi, dia pasti bilang minta maaf “iya, Os minta maaf..” gitu. Dan ini sering terjadi ya…” (W. S2. 06.03.07. 83).

C. Perkembangan Kognitif

Terkait dengan gangguan komunikasi yang terjadi pada Os yaitu sensitivitasnya terhadap suara dan orang yang

mengatakan banyak kata, hal ini mempengaruhinya dalam menerima intruksi, perintah ataupun informasi. Karena hal tersebut, setiap kali memberikan instruksi atau informasi kepada Osi, subjek memberikannya dengan kalimat yang singkat, jelas dan pelan. Selain itu subjek juga melihat bagaimana suasana hati anaknya tersebut, karena hal ini mempengaruhi respon Os terhadap instruksi maupun informasi.

“Instruksi…bagi dia adalah singkat jelas. Jadi begini untuk beberapa anak autis itu ada masalah dengan pendengaran. Jadi artinya semakin banyak kita ngomong, semakin banyak informasi yang masuk dia bingung, sehingga bahasanya adalah singkat, jelas, sederhana itu saja.” (W. S2. 06.03.07. 36).

“Pokoknya kalau sama dia itu yang penting perintahnya singkat, jelas dan pelan…ya itu don’t talk to much and don’t fast.” (W. S2. 06.03.07. 41).

“Kalau memberi instruksi itu pada timing yang tepat, itu pasti masuk dan itu tidak cukup hanya dengan verbal, dengan visual kalau ada kesulitan.” (W. S2. 06.03.07. 37).

Subjek menjelaskan bahwa selain perintah yang diberikan secara singkat, jelas dan pelan, anaknya juga mampu menangkap informasi lebih cepat dan baik bila menggunakan visualisasi misalnya gambar. Cara penyampaian informasi dengan visualisasi memungkinkan Os untuk menerima informasi tersebut dengan lebih mudah dan mengingatnya secara terus-menerus karena ia juga memiliki daya ingat yang kuat.

“Kalau udah main visual enak, dengan visual itu jelas dia, dia bisa memahami apa yang diinstruksikan.” (W. S2. 06.03.07. 38).

“Os itu kalau diberi tahu dengan cara yang sesuai dengan kemampuannya menerima informasi itu dia mudah sebenernya. Dia itu kan daya ingatnya juga kuat, jadi sekali diberi tahu ya dia ingat itu.” (W. S2. 06.03.07. 39).

D. Perkembangan Sosial

Ketika anaknya memasuki masa pubertas, subjek melihat bahwa anaknya mengalami perubahan dalam berinteraksi dengan orang lain. Sejak usia sebelas tahun, Os memang sudah menolak kehadiran orang lain dalam kamarnya. Subjek menjelaskan bahwa Os pernah melakukan suatu tindakan yang menunjukkan penolakan terhadap teman di sekolahnya, karena anaknya tidak menyukai apa yang dilakukan temannya itu.

“Sekarang ini ada murid baru yang toilet training belum jalan, masih suka ngompol dimana-mana, nah Os tidak suka, makanya ketidaksukaannya terbawa sampai sekarang. Misalnya dia melempar mobil anak itu, gitu.” (W. S2. 06.03.07. 42).

“Os itu sejak umur sebelas tahun sudah gak mau ada orang lain di kamarnya, itu sejak adik bungsunya, perempuan lahir.” (W. S2. 06.03.07. 44).

Perubahan ini juga terjadi dalam interaksi antara Os dengan ibunya. Subjek mengatakan bahwa sejak masuk usia pubertas, anaknya menunjukkan sikap seperti membenci ibunya. Os selalu melarang ibunya melakukan apapun, tapi

tak jarang Os menunjukkan sikap sayang terhadap ibunya seperti menciumi ibunya.

“Kalau gak salah sejak tiga tahun ini, waktu dia masuk pubertas itu, dia jadi kayak benci sama ibunya. Ibunya gak boleh nyanyi, gak boleh nelpon atau nerima telpon, gak boleh terima tamu…gitu. Tapi kadang sering juga diciumin gitu.” (W. S2. 06.03.07. 43).

Subjek melihat anaknya mulai menunjukkan minat yang besar terhadap lawan jenisnya. Os mulai tertarik pada perempuan yang menurut subjek termasuk cantik. Subjek sering melihat anaknya menggambar wanita yang dia sukai, menyebutkan atau menulis nama wanita itu dan menunjukkannya pada subjek. Os juga sering menuliskan apa yang dia inginkan terkait dengan wanita yang dia sukai.

“Os memang menunjukkan minat terhadap orang lain, biasanya terhadap perempuan yang membuat dia merasa tertarik. Dia itu tau mana perempuan yang cantik, yang dia suka.” (W. S2. 06.03.07. 45).

“Biasanya dia kalau tertarik sama perempuan gitu, dia biasanya gambar, nyebut namanya kalau enggak dia tulis dia mau apa trus dikasih lihat ke saya.” (W. S2. 06.03.07. 46).

4. Perilaku Seks Anak

Sejak usia empat belas tahun, subjek melihat bahwa anaknya mulai menyukai wanita-wanita cantik. Hal ini terlihat dari sikap Os yang terus-menerus memperhatikan wanita tersebut. subjek mengatakan bahwa anaknya tidak menunjukkan