Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 9 informan mengenai pemahaman pasien BPJS Kesehatan tentang sistem rujukan berjenjang di era JKN, diperoleh informan sebagai berikut:
“..oh belum pernah aku denger dek serius, tapi yang aku tau cuma rujukan biasa gitu aja dek. Gatau aku yang berjenjang-jenjang gitu. Soalnya dateng ya dateng aja abis itu daftar minta surat rujukan..” (Informan I)
“Mana paham pula ibu nak, dateng-dateng aja ke puskes ini karna pun disini dibuat di kartu BPJS ibu alamat minta surat rujukannya, Jadi kesini lah minta surat rujukannya.” (Informan II)
“Jadi yang nenek tau ya rujukan gitu aja, manalah paham yang kayak gitu, dateng ke puskes daftar terus minta surat rujukan pas masuk ke ruang depan ini lah, nunggu..” (Informan III)
Berdasarkan sitasi di atas diperoleh gambaran pemahaman informan I,II,III sebagai pasien BPJS Kesehatan Mandiri yang diwawancarai, menyatakan bahwa mereka belum memahami sistem rujukan berjenjang di era JKN dan beranggapan bahwa puskesmas hanyalah sebagai tempat untuk meminta surat rujukan ke rumah sakit untuk pasien yang hendak memanfaatkan pelayanan rujukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Informan tidak memahami penyakit-penyakit yang dapat ditangani di puskesmas. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ratnasari (2017), tak jarang pada Puskesmas X terdapat pasien yang bersikeras untuk meminta dirujuk padahal kondisi kesehatannya tidak membutuhkan rujukan sehingga tak jarang dokter dan petugas rujukan berdebat dengan pasien yang meminta rujukan atas permintaan sendiri.
Menurut Peraturan BPJS Kesehatan (2014) bahwa di era JKN, puskesmas diharapkan dapat menangani 155 diagnosa penyakit sesuai dengan Kompetensi Dokter Umum yang dapat ditangani atau diobati di FKTP, sehingga para peserta JKN tidak harus lagi berobat langsung ke rumah sakit, karena di FKTP pun sudah dapat ditangani. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Sutrisno, dkk (2018) dokter berupaya untuk menjalankan peran sebagai gate keeper namun terbentur pada hambatan eksternal antara lain masyarakat masih beranggapan sejak dahulu bahwa Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama atau puskesmas belum dipercaya
sebagai sarana kesehatan yang handal dalam mengobati. World Health Organization (WHO) menjelaskan karakteristik rujukan medis adalah adanya kerja sama antara fasilitas pelayanan kesehatan, kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) rujukan, kelengkapan sumberdaya pendukung termasuk transportasi dan komunikasi, kelengkapan formulir rujukan, komunikasi antar fasilitas kesehatan perujuk dan penerima rujukan serta pelaksanaan rujukan balik.
“Saya kurang paham mengenai hal itu, ya ibu kalo misalnya mau minta rujukan ke rumah sakit ini kan, seperti inilah nak ibu mau rujukan ke rumah sakit mau berobat gula. Sakit gula tinggi aja sebetulnya ibu ini, tapi ya karena diberi orang ini obatnya itu-itu aja tapi gitu-gitu aja ga turun-turun gula ibu ini nak. Jadi lebih percaya sama rumah sakit, karena pasti bakal diberikan obat yang lebih paten makanya mau minta dirujuk aja..” (Informan IV)
Berbeda dengan informan IV sebagai pasien BPJS Kesehatan PBI (Penerima Bantuan Iuran), obat yang diberikan oleh puskesmas tidak bervariasi sehingga penyakit yang diderita tidak kunjung sembuh dan informan menyatakan bahwa lebih mempercayai obat-obatan dari rumah sakit sehingga informan memilih untuk memanfaatkan pelayanan rujukan serta datang ke puskesmas hanya untuk meminta surat rujukan saja. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Goniwala (2017), pasien menuntut jika menginginkan rujukan karena mereka kurang percaya dengan pelayanan kesehatan di faskes tingkat pertama, sehingga walaupun dijelaskan berulang-ulang bahwa penyakitnya dapat diobati di puskesmas namun bersikeras untuk tetap meminta rujukan dengan mengancam untuk keluar dari puskesmas.
“Saya ingin rujukan ya minta aja karna nenek pun cuma sakit sakit-sakit dilutut entah asam urat katanya, tapi ada keluarga di
Rumah Sakit Mitra Medika yang di Amplas itu, makanya mau di situ aja berobatnya karna tapi katanya kemaren pas datang ke rumah sakit itu disuruhnya nenek pergi ke puskesmas dulu ya nek gitu kata orang rumah sakit, minta surat rujukan dari sana. Terus kemaren pas ke puskes katanya harus diperiksa dulu, ga bisa langsung main dirujuk aja. Katanya masih bisa diobatin di sini.
Serba salah jadinya, cemana mau dibuat. Jadi yang nenek tau ya rujukan gitu aja, manalah paham yang kayak gitu, dateng ke puskes daftar terus minta surat rujukan pas masuk ke ruang depan ini lah, nunggu dan katanya ga bisa dirujuk karena harus rawat jalan dulu dikasih obat.” (Informan V)
Pasien BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) belum memahami sistem rujukan berjenjang dan meminta surat rujukan ke puskesmas atas permintaan sendiri. Namun tenaga kesehatan yang bertugas tidak memberikan surat rujukan dengan alasan penyakit pasien dapat ditangani di puskesmas sehingga menimbulkan rasa kekecewaan akan peraturan yang diberlakukan terhadap pasien rujukan BPJS kesehatan. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ali, dkk (2015), pelaksanaan rujukan yang terjadi di lapangan berbeda bahwa beberapa rujukan terjadi atas permintaan pasien, pasien pun menentukan dalam pemberian rujukan. Fungsi puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama adalah penapis rujukan (gate keeper) yaitu mengoptimalkan pelayanan kesehatan di tingkat pertama dengan menangani 155 diagnosis penyakit seperti yang telah ditetapkan di Peraturan BPJS Kesehatan (2014) sehingga masyarakat dapat mematuhi dan mempercayai bahwa puskesmas juga dapat menangani kasus penyakit non-spesialistik.
“Ga tau juga aku kak, karna pun kalo ke sini minta rujukan selalu dikawani sama mama. Terus ga pernah cari tau juga sih kak, nah jadi mama lah yang ngomong kalo berobat, paling aku ditanyain apa sakitnya gitu gitu aja sih kak. Kalo di tanya aku jawab, tapi ga ngerti juga gimana itu rujukan seharusnya bisa dirujuk itu.”
(Informan VI)
Berbeda dari informan yang lain, informan VI menyatakan bahwa belum memahami bagaimana mekanisme sistem rujukan berjenjang dikarenakan kurangnya rasa ingin tahu dan kurangnya kesadaran untuk mencari tahu yang berkaitan dengan isu-isu terbaru terhadap sistem rujukan di era JKN serta saat informan hendak berobat selalu didampingi oleh orangtua. Hal tersebut menimbulkan rasa kurang peduli terhadap perubahan-perubahan yang terjadi terkait sistem rujukan dalam era JKN di Indonesia.
“Kan kita udah bayar iuran kita sendiri, maunya dapet pelayanan yang bagus juga pasti kan.” (Informan VII)
“Masa sama pelayanan yang dibayarkan sama pemerintah sama yang kami yang bayar sendiri dek. Kalo bapak sih berharapnya ga usah pake acara dipersulit aja sebenernya.” (Informan VIII)
“Ya semoga aja bisa tingkatin cara kerja aja sih harapannya.
Bukan gratis kok, toh kami bayar juga perbulan.” (Informan IX)
Informan VII, VIII dan IX sebagai pasien BPJS mandiri belum memahami sistem rujukan berjenjang dan informan berharap dapat memilih rumah sakit sesuai dengan keinginannya. Informan mengharapkan pelayanan yang diberikan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pihak BPJS di mana puskesmas yang menjadi salah satu fasilitas kesehatan tingkat pertama memiliki fungsi sebagai penapis rujukan (gate keeper) harus mengoptimalkan pelayanan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat (Permenkes No. 75 Tahun 2014).
Hal ini juga dipicu oleh Peraturan Presiden No. 19 Tahun 2016 tentang kenaikan iuran jaminan kesehatan bagi peserta pekerja bukan penerima upah dan
peserta bukan pekerja khusus kelas I dan kelas II. Saat diberlakukannya peraturan ini maka peserta semakin menuntut kualitas pelayanan semakin bagus sesuai yang diharapkan pasien, sehingga banyak peserta yang datang ke PPK I hanya untuk meminta rujukan, atau pasien datang langsung ke rumah sakit tanpa melalui prosedur yang benar. Rujukan pelayanan kesehatan dimulai dari pelayanan kesehatan primer dan diteruskan ke jenjang pelayanan sekunder dan tersier yang hanya dapat diberikan jika ada rujukan dari pelayanan primer atau sekunder.
Selain ketersediaan tenaga kesehatan, aspek kebijakan obat-obatan, pemahaman dokter terhadap puskesmas sebagai gate keeper, pemahaman pasien terhadap sistem rujukan di puskesmas juga salah satu faktor yang memengaruhi rasio rujukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Oleh karena itu tenaga kesehatan di puskesmas diharapkan dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien.
Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih tinggi ke tingkatan pelayanan yang lebih rendah dapat dilakukan apabila permasalahan kesehatan pasien dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan kesehatan yang lebih rendah sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya, kompetensi dan kewenangan pelayanan tingkat pertama atau kedua lebih baik dalam menangani pasien tersebut, pasien membutuhkan pelayanan lanjutan yang dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan kesehatan yang lebih rendah dan untuk alasan kemudahan, efisiensi dan pelayanan jangka panjang dan/atau perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan sarana, prasarana, peralatan dan/atau ketenagaan. Pemahaman bukan hanya sekadar mengingat fakta, akan tetapi berkenaan dengan menjelaskan makna atau suatu
konsep. Menurut Sanjaya (2008), indikator pemahaman adalah mampu menerjemahkan, mampu menginterpretasikan dan mampu mengeksplorasi suatu hal. Menurut hasil penelitian ini, semua informan tidak mampu menerjemahkan maupun menginterpretasikan atau mendeskripsikan tentang sistem rujukan berjenjang.
Cara untuk mengoptimalisasikan sistem rujukan berjenjang, maka perlu dibentuk forum komunikasi antar Fasilitas Kesehatan baik faskes yang setingkat maupun antar tingkatan faskes, hal ini bertujuan agar fasilitas kesehatan tersebut dapat melakukan koordinasi rujukan antar fasilitas kesehatan menggunakan sarana komunikasi yang tersedia. Rujukan yang efektif memerlukan komunikasi antar fasilitas, tujuannya agar pihak fasilitas terujuk mengetahui keadaan pasien dan dapat menyiapkan secara dini penanganan yang diperlukan pasien segera setelah pasien sampai di rumah sakit (Rukmini & Ristrini, 2015). Beberapa rumah sakit tertentu pihak puskesmas mendaftarkan secara online terlebih dahulu agar pasien mendapatkan nomor antrian tanpa perlu datang untuk mengambil nomor antrian.
Sebelum era JKN tidak semua kasus yang akan dirujuk dikonfirmasikan terlebih dahulu ke RSUD, namun pada era JKN dengan semakin ketatnya peraturan ketentuan indikasi rujukan maka komunikasi sebelum merujuk pasien terus diintensifkan untuk menjaga kesinambungan pelayanan sesuai dengan yang diharapkan dalam JKN (Primasari, 2015).
Alasan tidak memahami. Beberapa alasan pasien tidak memahami sistem rujukan berjenjang adalah sebagai berikut:
Ketersediaan media informasi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 12 informan mengenai alasan informan tidak memahami sistem rujukan berjenjang, diperoleh informasi sebagai berikut:
“Kalo setau saya ga ada sih dek di tempal kertas-kertas caranya gitu kan maksudnya kan dek.” (Informan I)
“Ga pernah liat sih nak pengumumannya itu, tak nampak ibu pun dimana. Poster mau nya dibuatkan orang ini supaya bisa dibaca pasien nak.” (Informan II)
“Kesini aku sama mama kak, ga ada baca-baca poster di dinding atau leaflet dikasihkan pegawai puskes ini. Kalo pun ada mana lah kak, ga ada juga sih ya.” (Informan IV)
“Biasanya dek di kasih tau begitu aja dek di meja daftar ini, iya langsung gitu. Jadi ga harus baca atau nyari-nyari kertas petunjuknya segala. Tapi memang selama berobat di sini belum pernah baca dan nengok kakak dek.” (Informan VI)
Menurut informan I, II, IV dan VI bahwa alasan informan tidak memahami sistem rujukan berjenjang adalah dikarenakan tidak tersedianya informasi yang dipasang oleh pihak puskesmas. Hal ini yang menyebabkan kurangnya pengetahuan informan tentang mekanisme sistem rujukan berjenjang.
Media informasi adalah sarana mengkomunikasikan suatu produk atau jasa agar dapat dikenal dan dipahami oleh masyarakat luas, yang bertujuan untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat yaitu melalui media cetak, media elektronik dan media papan. Informasi dapat diperoleh melalui media. Adapun media sendiri secara umum terdiri dari 3 jenis, yaitu media cetak, media digital dan media elektronik, yang tujuannya dibuat untuk menyebarkan informasi atau pesan komunikasi. Pada dasarnya media cetak adalah media untuk menyampaikan informasi untuk kepentingan umum atau orang
banyak, dan bentuk penyampaiannya adalah tertulis (Cangara, 2010). Oleh karena itu, poster atau leaflet merupakan salah satu solusi agar membangun pengetahuan sehingga pasien memahami dengan baik bagaimana mekanisme sistem rujukan berjenjang di era JKN ini.
“Kita memang belum ada membuat poster tentang sistem rujukan berjenjang, karena itulah akan dibuat segera untuk mengedukasi pasien tentang sistem rujukan berjenjang. Kita hanya ada leaflet dulu pernah dibuat, namun memang tidak memberi informasi tentang hal itu.” (Informan XII)
Menurut informan XII sebagai petugas pengelola JKN di Puskesmas Kampung Baru bahwa pihak puskesmas memang belum menyediakan media cetak dalam bentuk poster untuk memberikan informasi dan edukasi dalam bentuk tulisan ke pasien. Sangat disayangkan leaflet yang dibuat tidak memberi informasi mengenai sistem rujukan berjenjang di era JKN.
Sosialisasi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 12 informan mengenai alasan utama informan tidak memahami sistem rujukan berjenjang, diperoleh informasi sebagai berikut:
“Yang nenek tau, tak pernah ada dibuat mereka ini sosialisasi, tapi kalo ngomong-ngomong ngasih tau caranya ya paling pas lagi daftar aja.” (Informan III)
“...jadi ga pernah ikut sosialisasian kek gitu dan memang selama di sini dek ga pernah ada dengar acara itu. Kakak orang sini soalnya dek. Ga ngerti makanya apa itu sistem rujukan berjenjang itu baru dengar kali.” (Informan V)
“Ga dek, ga yakin ibu ga pernah dek. Ibu kan jualan disamping gang itu, jadi ga mungkin ga tau ibu kalo ada sosialisasi. Jadi sampe sekarang ga ngerti gimana sistem rujukan BPJS ini makanya.” (Informan VII)
Menurut informan III, V dan VIII dalam hal ini bahwa alasan informan tidak memahami sistem rujukan berjenjang adalah kurangnya informasi yang diberikan oleh pihak puskesmas dalam bentuk sosialisai atau penyuluhan tentang sistem rujukan berjenjang di era JKN. Informasi terkat sistem rujukan berjenjang disampaikan ke pasien dengan cara individu ke individu. Namun karena waktu yang terbatas dan kondisi lingkungan yang tidak kondusif yang menyebabkan miss-communication terjadi antar petugas kesehatan dan pasien. Hal ini yang menyebabkan informan tidak dapat memanfaatkan pelayanan rujukan BPJS dengan baik dan benar sesuai dengan ketetapan yang berlaku dari pihak BPJS.
“Di tahun 2017 dan 2018 kita sudah sih pernah melaksanakan sosialisasi tentang JKN tapi memang universal secara umum, tapi ada juga kan penjelasan tentang sistem rujukan di era JKN. Kita mengundang kader-kader, karang taruna, masyarakat. Akan tetapi dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat yang mau menghadiri sosialisasi tersebut, maka belakangan ini sudah jarang dilaksanakan kembali.” (Informan X)
“Dulu pernah dek, tahun berapa kakak lupa. Pokoknya kalo pas kita buat sosialisasi tentang BPJS pasti diselipkan informasi soal itu. Ya tapi kan dek tau sendiri kalo ngundang orang dari BPJS ini pasti keluar biaya, jadi mending kami personal ke personal aja mikirnya.” (Informan XI)
Menurut informan X dan XI sebagai petugas Puskesmas Kampung Baru bahwa pada tahun 2017 dan tahun 2018 sudah pernah dilaksanakan sosialisasi mengenai JKN secara gambaran umum, tidak khusus untuk sistem rujukan berjenjang. Akan tetapi karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk menghadirinya pihak BPJS tidak mendampingi puskesmas dalam melaksanakan sosialisasi yang menjadi penyebab sosialisasi tersebut sudah tidak pernah
dilaksanakan kembali. Biaya untuk mengundang narasumber dari pihak BPJS juga menjadi salah satu faktor sosialisasi tidak dilaksanakan kembali.
“Kalo untuk pasien sendiri, misalnya pasien tidak tau mengenai informasi syarat-syarat rujukan BPJS, kenapa gabisa kesini kenapa gabisa ke rumah sakit ini, maka disitulah saya untuk memberitahukan kepada mereka apabila dokter-dokter sudah menjelaskan tapi pasien kurang mengerti. Tapi gabisa setiap hari ya, sebelum melakukan apa pekerjaan di meja informasi sebelum dimulai lah semua apa kegiatan di puskesmas. Jadi memang ga pernah sosialisasi khusus seperti itu.” (Informan XII)
Berbeda dengan informan XII sebagai petugas pengelola JKN di Puskesmas Kampung Baru menyatakan bahwa tidak pernah dilaksanakannya sosialisasi khusus untuk hal tersebut, dikarenakan masih banyak pasien yang belum menerima prosedur pelaksananaan sistem rujukan berjenjang di era JKN ini dan terutama pasien yang sudah berumur di atas 50 tahun dimana mereka susah untuk memahami walaupun sudah dijelaskan berulang kali tentang bagaimana mekanisme sistem rujukan berjenjang tersebut.
Puskesmas mempunyai fungsi sebagai gate keeper atau penapis rujukan.
Gate Keeper adalah konsep puskesmas harus mengoptimalkan pelayanan kesehatan di tingkat pertama sesuai dengan standar kompetensinya (Permenkes No. 75 Tahun 2014). Sejalan dengan pemahaman pasien yang kurang tentang sistem rujukan berjenjang, adapun tanggung jawab serta peran dari pihak puskesmas wajib melaksanakan sosialisasi atau penyuluhan untuk menyampaikan informasi terhadap pasien khususnya mengenai sistem rujukan berjenjang, sistem rayonisasi dan prosedur pelayanan rujukan di era JKN ini.
Prosedur yang berubah-ubah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 12 informan mengenai alasan utama informan tidak memahami sistem rujukan berjenjang, diperoleh informasi sebagai berikut:
“Sebenernya gini, sering kali aturannya berubah-ubah. Kemaren bisa dirujuk kesini, atau penyakit ini bisa langsung dirujuk dan sekarang gabisa lagi. Besok dateng lagi tiba-tiba bisa, kadang itu juga yang buat saya ga paham gimana sebenernya alur sistem rujukan sekarang ini(Informan IX)
Menurut informan IX sebagai pasien BPJS yang belum pernah memanfaatkan pelayanan rujukan, alasan tidak memahami sistem rujukan berjenjang adalah karena peraturan yang diberikan selalu berubah-ubah dan sifatnya sementara, sehingga informan menerima informasi-informasi yang berbeda dari orang lain.
“Suka ngubah-ubah peraturan dari BPJS ini, makanya kadang buat bapak kesal juga. Masa beda-beda tiap datang peraturannya, bingung pasti orang kan.” (Informan VIII)
“Ga ngerti lagi lah dek sama aturan BPJS ini, mesti kali berubah-ubah terus. Apalagi soal tempat rujukan abis dari puskes ini, suka-sukanya dibuat sama mereka. Marah pasti, kesal apalagi. Karena ga ada juga yang mau sakit.” (Informan IX)
Informasi yang diberikan oleh informan VII dan IX menyatakan bahwa alasan utama informan tidak memahami sistem rujukan berjenjang di era JKN ini adalah prosedur-prosedur yang selalu berubah-ubah setiap waktu sehingga banyak pasien yang melampiaskan kekecewaannya kepada petugas kesehatan di puskesmas contohnya petugas di bagian pendaftaran, dokter dan pengelola rujukan dan banyak juga pasien yang menutut haknya karena belum dapat menerima perubahan-perubahan yang telah diputuskan oleh pihak BPJS.
“Terkadang kan BPJS ini peraturannya suka berubah-ubah jadi kadang yang udah kita sampaikan pas masyarakatnya sebulan kemudiannya datang kecewa dia kok berubah katanya gitu, jadi sebenernya maunya kan kita lintas sektoralnya maunya ngundang orang BPJS nya langsung buat jadi narasumbernya maunya. Terus kalo dibuat sosialisasi waktu itu sikit yang datang juga. Mereka berpikir informasi ini ga penting.” (Informan XI)
Menurut informan XI sebagai Kepala Tata Usaha Puskesmas Kampung Baru bahwa pasien terkadang kurang memahami dengan baik sistem rujukan bejenjang dikarenakan peraturan yang sering berubah-ubah yang menyulitkan pihak puskesmas untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Contohnya, pasien yang berobat sebulan lalu datang kembali untuk memanfaatkan pelayanan rujukan, kemudian rumah sakit yang pernah menjadi tempat rujukannya sudah tidak dapat lagi dirujuk ke rumah sakit tersebut akhirnya merasakan kekecawaan dan kekesalan.
Peran petugas puskesmas. Dalam pemahaman pasien tentang sistem rujukan berjenjang terdapat peran atau tanggung jawab dari petugas puskesmas agar para pasien mampu memahami dengan baik bagaimana mekanisme yang benar tentang sistem rujukan. Dibawah ini adalah beberapa peran petugas puskesmas sebagai tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama, yaitu:
Mencari cara penanggulangan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 3 informan sebagai petugas puskesmas mengenai peran atau tanggung jawab terhadap pemahaman pasien tentang sistem rujukan berjenjang, diperoleh informasi sebagai berikut:
“Kalo peran ya saya selaku kepala puskesmas mencari cara untuk bisa menanggulangi permasalahan ini mendiskusikan dengan rekan saya untuk membuat sosialisasi, tapi biasanya personal sih
kita ya, kemudian pada saat pertemuan pada kader itu juga paling diterangkan. Kemudian karena terkadang sistemnya suka berubah jadi kita informasi ke pasiennya langsung saat mau rujukan itu.
Karena susah juga memang pasien ini, dikiranya lah puskesmas ini yang buat peraturan jadi marahnya ke sini.” (Informan X)
Menurut informan X sebagai Kepala Puskesmas Kampung Baru bahwa peran dan tanggung jawab informan terhadap pemahaman pasien tentang sistem rujukan berjenjang adalah mencari cara untuk menanggulangi permasalahan tersebut. Informan menyatakan bahwa solusi yang baik adalah melaksanakan sosialisai, namun belum mampu terealisasikan dengan baik karena beberapa faktor yang memengaruhinya.
Sebagai supervisor. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 3 informan sebagai petugas puskesmas mengenai peran atau tanggung jawab terhadap pemahaman pasien tentang sistem rujukan berjenjang, diperoleh informasi sebagai berikut:
“Jadi kita memang biasanya ada khusus meja informasi sama pasien mengenai tata cara rujukan itu. Jadi istilahnya kakak ya supervisornya aja lah ya kan, mengawasi itu berjalan atau ga yang
“Jadi kita memang biasanya ada khusus meja informasi sama pasien mengenai tata cara rujukan itu. Jadi istilahnya kakak ya supervisornya aja lah ya kan, mengawasi itu berjalan atau ga yang