BAB III PERKEMBANGAN EKONOMI JEPANG PASCA
3.2 Pemakaian Energi Dunia yang Pincang oleh Jepang
3.2 Pemakaian Energi Dunia Yang Pincang Oleh Jepang
Dalam hal pemakaian energi dunia misalnya, sudah lama keadaannya
sangat pincang. Negara-negara industri maju (dimana Jepang termasuk di
dalamnya) yang hanya berpenduduk 18 persen dari total penduduk dunia, namun
memakai energi sampai 63 persen dari total energi yang dihasilkan dunia.
energi dunia. Mari kita lihat bagaimana negara-negara sedang berkembang atau
dunia ketiga (dimana Indonesia termasuk di dalamnya) mempunyai jumlah
penduduk 50 persen dari total penduduk dunia namun hanya menggunakan 9
persen dari energi dunia. Padahal, 80 persen dari cadangan minyak sebagai energi
utama berada di negara-negara miskin atau berkembang, sementara 80 persen
pemakainya adalah negara industri. Demikian juga dengan energi-energi lain di
luar minyak rata-rata produksinya berada di Selatan (sebutan lain untuk negara
miskin dan negara berkembang) namun konsumsi terpusat di Utara (sebutan lain
untuk negara industri maju).
Begitu besar kekhawatiran pihak Jepang terhadap
kemungkinan-kemungkinan terjadinya perubahan politik secara drastis di Selatan, sudah
dibuktikan di mana ketika pecah dua kali perang di Irak akibat penyerbuan AS ke
negeri itu, Jepang ternyata ikut terkena imbasnya dengan direpotkan oleh
terganggunya pasukan minyak dari Timur Tengah. Oleh karena itu pula, Jepang
telah mengajak negara-negara anggota ASEAN yang menjadi produsen dan
pengekspor minyak ke negaranya untuk membangun pangkalan persediaan
(stockpile) minyak guna mengantisipasi keadaan darurat di masa-masa
mendatang.
Jelas, ajakan Jepang melalui Direktur Perencanaan Perminyakan
Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI) Jepang Toshikazu
Masuyama ini lebih mengalah kebutuhan impornya agar tidak terganggu, apapun
menjadi produsen minyak menyadari ekspor utama produksinya ke Jepang, maka
ajakan itu pun mendapat sambutan baik, antara lain oleh Indonesia, Malaysia,
Thailand dan Pilipina.
Menteri METI, Takeo Hiranuma memang menegaskan dalam suatu
pertemuan forum energi yang berlangsung di Osaka pada September 2002, bahwa
kebutuhan minyak Asia akan meningkat drastis dalam waktu-waktu mendatang
dan atas dasar pertimbangan itulah Jepang mengajak negara-negara di Asia,
terutama produsen dan eksportir minyak untuk mengantisipasi kestabilan minyak
di Asia.
Selama ini, meskipun beberapa negara di Asia juga penghasil minyak,
tetapi seperti halnya di Indonesia, tetap masih membutuhkan pasokan minyak
untuk mengantisipasi kestabilan minyak di Asia.
Selama ini, meskipun beberapa negara di Asia juga penghasil minyak,
tetapi seperti halnya di Indonesia, tetap masih membutuhkan pasokan minyak
mentah dari Timur Tengah. Dan ini yang dijadikan alasan Jepang untuk mengajak
negara-negara di Asia membangun stockpile.
Diperkirakan ketergantungan Asia terhadap pasokan minyak mentah dari
Timur Tengah di masa mendatang akan meningkat menjadi 80 persen. Selama ini
Asia merupakan pengimpor minyak mentah terbesar di dunia dari Timur Tengah.
Persediaan minyak mentah yang dihasilkan dari Asia sendiri semakin berkurang.
Masuyama menilai hal ini dapat mengancam keamanan dan kestabilan energi di
Asia. Dalam hal ini presiden Asia Pasific Energy Research Centre di Tokyo,
Tatsuo Masuda memberikan contoh, bahwa sejak awal tahun 1990-an,
negara-negara di Asia menjadi pembeli minyak mentah dari Timur Tengah harus
membayar 1 hingga 1,5 US dollar lebih mahal untuk setiap barrelnya daripada
yang harus dibayar oleh AS atau Eropa.
Kalau mempelajari kondisi ini, sebenarnya Utaralah yang banyak
bergantung pada Selatan. Namun kenyataannya Selatan tetap miskin karena
memang dibuat agar tetap miskin lewat proyek-proyek “bantuan ekonomi” atau
“kerjasama ekonomi” tadi. Khususnya Jepang, sesungguhnya amat memerlukan
negara-negara tetangga sessama Asia, seperti Thailand, Filipina, Malaysia dan
Indonesia daripada negara-negara ini memerlukan Jepang.
Sebab di negara-negara tersebut tersedia berbagai potensi alam yang
dibutuhkan Jepang. Mulai minyak, batubara, hasil bumi (pertanian), hasil hutan
(terutama kayu) hingga hasil lautan (terutama ikan) mereka miliki. Tetapi, sekali
lagi kenyataan mengatakan negara-negara tersebutlah yang bergantung pada
Jepang, karena mereka membutuhkan pasar dan uang dan keduanya dimiliki oleh
negara industri maju ini.
Jepang bahkan dengan bangga memperlihatkan keunggulan dalam
memeras negara miskin dan sedang berkembang dengan mengatakan :”Dengan
Indonesia dan Malaysia, kami mengimpor sumber-sumber alam seperti minyak
bahan baku tersebut untuk ekspor balik dikerjakan oleh Jepang. Kami hanya
mengimpor mineral-mineral rendah yang nilai tambahnya atau hasil pertanian.
Nilai tambah lebih tinggi pada hasil produk berbahan baku mineral dan hasil
pertanian pembuatannya di Jepang.
Maka yang terjadi selama ini adalah pembagian kerja vertikal yang
berulang dengan nilai keuntungan tetap pada pihak Jepang. Pemilik sumber daya
alam dan bahan mentah adalah negara miskin atau sedang berkembang tetapi
Jepang yang mengolahnya. Rakyat negara miskin dan sedang berkembang yang
mengerjakan pertanian tetapi Jepang yang memiliki industrinya. Ibarat ikan,
pemiliknya hanya ke bagian duri, dagingnya di santap oleh Jepang. Keuntungan
masuk kantong Jepang, Negara miskin dan sedang berkembang kebagian sampah
yang harus dibersihkannya.
Jepang malah memandang rendah negara-negara sedang berkembang yang
selama ini dijadikan sapi perahnya itu. Sebaliknya terhadap sesama negara Asia
yang sebenarnya tidak memiliki sumber alam melimpah, namun sudah tergolong
maju menyusul Jepang bahkan dikenal sebagai “Macan Asia” seperti Singapura,
Taiwan, Korea Selatan dan Hongkong. Jepang sangat menghargai meskipun
dalam beberapa hal merupakan pesaingnya. Belakangan, RRC dan Vietnam juga
sudah mulai diperhitungkan oleh Jepang, terutama pasca keruntuhan komunis di