• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA

4.2 Pemaknaan Idealisme Wartawan Online Serang

4.2.1 Pemaknaan Idealisme dalam Deskripsi Informan 1

Idealisme sendiri menurut informan 1 ialah ketika dirinya tidak berpihak pada yang memperoleh keuntungan. Pemaknaan diri sebagai wartawan dalam dirinya yang menilai jurnalis bukanlah sebuah pekerjaan biasa, wartawan adalah jembatan antara penguasa dan rakyat. Jadi fikirnya, diantara keduanya tidak boleh ada yang kepentingan yang harus didahulukan.

“ Misalkan dalam hal Pilkada sekarang, ketika saya menjadi wartawan dan berpihak pada salah satu paslon, otomatis orang-orang melihat kalau saya bukan wartawan yang baik, sehingga nantinya banyak narasumber yang tidak ingin di wawancara,”

Melihat kondisi sosial wartawan lokal yang tidak bisa sepenuhnya mengandalkan gaji atau upah pokok dari perusahaannya, informan 1 merasa

menjadi wartawan juga harus realistis. Dalam hal ini, idealisme menurut tiap orang tentu berbeda beda, karena setiap orang punya pandangan dan pemaknaan masing-masing. Dalam perjalanannya menjadi seorang wartawan, informan 1 memaknai idealisme sebagai hal yang erat kaitannya dengan realistis, dan menilai sudah ada penurunan makna akan idealisme itu sendiri.

“ Kalau menurut saya sudah terjadi degradasi makna, ideasllisme sekarang tuh kan mikirnya wartawan harus lurus lurus aja, baik-baik aja, tapi menurut saya idealisme itu bukan hanya harus lurus, menulis berita berimbang saja tapi juga harus mementingkan kepentingan perut lah istilahnya, harus berdasarkan realitas tapi masih di jalur yang benar tapi kebenaran pun subjektif,”

Saat diwawancarai di salah satu cafe di Serang, 20 Maret 2018, informan 1 yang sudah bekerja menjadi wartawan selama dua tahun menilai realistis di sini ialah setiap orang bahkan wartawan sekalipun punya kebutuhan atau hajat hidup yang harus dipenuhi. “Kalau sekarang orang tuh mikirnya idealis hanya memikirkan yang lurus saja tapi tidak memikirkan makanan atau perut/ materi. Kita butuh makan, kita butuh uang dengan jadi orang pertama yang memberikan informasi,”.

Tidak hanya faktor ekonomi, fenomena sosial politik di Serang terkait dengan idealisme wartawan punya andil yang besar. Ditambah dengan keberpihakan media ataupun afiliasi media pada salah-satu pasangan calon di Pilkada Serang 2018. “ Media saya sendiri kebetulan yang berafilisasi dengan

partai (Hanura). Kebetulan Hanura mendukung nomor 3 di Pilkada Kota Serang 2018,”

Ditempatnya bekerja, liputanbanten.co.id menurut informan 1, walaupun medianya berafiliasi dengan salah satu pasangan calon ia selalu berusaha untuk menjaga idealisme walaupun terkadang dipandang tidak baik oleh wartawan yang lain. Menurutnya, yang berafiliasi itu medianya, bukan individu wartawan yang bekerja.

“ Tapi kalau perihal peliputan dan pembuatan berita tidak ada perbedaan dalam pembuatan berita. Hanya saya karena sudah diketahui bahwa media saya condong dengan nomor 3 jadi kesannya menjadi jelek. Jadi wartawna juga keituan jelek, padahal saya sendiri buat beritanya berimbang. Tidak ada berusaha menggirng masyarakat untuk memilih kemana,”

Sebagaimana pandangan informan 1, 70 persen media di Banten berpihak pada politik, sisanya bisa dibilang abu-abu karena dilema. Biasanya kalau media yang berafiliasi wartawan diarahkan untuk menulis ke condong pada partai yang didukungnya, tapi kalau di media liputanbanten.co.id, informan mengaku berusaha untuk menulis sesuka hati dalam artian karya / tulisan itu bersifat bebas. Apapun yang dipikirkan itu yang ditulis, apapun yang narasumber katakan itu yang ditulis.

“ 30 persen lagi bisa dibilang tidak ikut-ikutan dengan hal tersebut. Karena saya gamau terjebak dalam kepentingan itu, tapi di sisilain saya sendiri pun sulit untuk menjauhi hal tersebut. Alhamdulillah, selama di liputan banten

jarang ada tulisan yang diedit secara mainstream, karena saya berusaha menyesuaikan dengan arahan redaksi,”

Ketika bercerita mengenai idealis, informan 1 menilai dirinya sebagai wartawan yang idealis. Menurut pandangannya idealis dalam hal apapun baik itu Pilkada atau liputan lainnya selama berita yang ditulis berimbang dan tidak merugikan pihak tertentu, itu masih bisa dikatakan idealis. Idealisme erat kaitannya dengan kesejahteraan wartawan, dalam hal ini seharusnya ada kaitan yang berbanding lurus antara kesejahteraan dengan idealisme. Jika wartawan merasa kesejahteraanya terpenuhi, wartawan pun akan bekerja sesuai dengan kode etik jurnalistik yang berlaku.

“ Kalau ada orang nanya apakah saya idealis, iya saya idealis. Saya idealis! Idealis yang menurut pandangan saya. Yang mana idealis di dalamnya menuntuk realistis. Sekarang gini, gaji wartawan lokal tuh seberapa sih paling, jadi ya kita bisa menyiasatinya dengan jale atau bahkan iklan. Kalau dilihat dari situ mungkin akan tidak idealis, tapi pandangan saya itu masih dalam ranah idealis. Karena idealis pun punya alasan,”

Setelah beberapa selang bercakap, informan 1 meminta ijin untuk sebentar meninggalkan peneliti. Dua puluh menit berselang, informan 1 kembali dan menceritakan bahwasanya dirinya mendapat panggilan dari salah satu dinas untuk memasang iklan di medianya. Kondisi sosial wartawan lokal diakuinya tidak lepas dari peran iklan sebagai penyokong kehidupan selain upah yang diterima perbulan.

“ Untuk pendapatan sendiri saya dapat dari gaji dan juga iklan. Untuk setiap iklan pembagiannya 70/30 dengan media. Jadi media dapet 70 persen, wartawannya dapet 30 persen kalau iklan tersebut bersumber dari wartawan. Gabisa kita ngandelin gaji sepenuhnya, jujur-juruan aja inimah, gaji wartawan lokal tuh berasa sih, UMR juga udah syukur,”

Jika merujuk pada kode etik wartawan Indonesia pasal 4 yang mana wartawan Indonesia tidak menerima imbalan untuk menyiarkan atau tidak menyiarkan berita yang dapat menguntungkan atau merugikan seseorang atau pihak, informan 1 menjelaskan sebagai seorang wartawan dirinya mengetahui jika dalam profesinya tidak boleh menerima suap atau bahkan iklan sekalipun. Ia menyadari seharusnya hanya mengerjakan tugas kejurnalistikan semata. Namun dirinya berdalih jika ia patuh atau hanya mengerjakan tugas kejurnalistikan, tidak mungkin ada wartawan lokal yang mampu bertahan dengan kondisi itu.

Kembali pada persolaan bagaimana informan 1 memaknai idealisme, idealisme digadang-gadang sebagai kata bermuka dua. Kata idealisme membuatnya dilema harus bersikap dan menjadi jurnalis yang seperti apa. “ Saat diperjuangkan harus ada hal yang dikorbankan, saat tidak diperjuangkan ya jadi serba salah. Misal saya kekeh tidak mau nerima jale atau cari iklan, biaya akomodasi liputan juga belum ketutup gaji, jadi harus gimana?ujung-ujungnya ya jadi ga idealis ya”