• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III MAKNA DAN AKIBAT KEHILANGAN

3.1 Makna Keperawanan

3.1.1 Pemaknaan Keperawanan Berdasarkan

   

3.1.1 Pemaknaan Keperawanan berdasarkan tokoh Biyan

Bagi sebagian remaja lain yang menganggap keperawanan merupakan sesuatu yang harus diserahkan untuk pertama kalinya bagi seseorang dicintai seumur hidup. Oleh karenanya keperawan juga berkaitan dengan harga diri. Dimana harga seorang perempuan ditentukan dari bagaimana mereka mampu menjaga keperawanan itu sendiri. Hal ini diketahui berdasarkan kutipan sebagai berikut:

(31) Stella, Ketty, gue sayang kalian! Tapi, gue nggak tahu

harus senang apa sedih ngerayaiin kebebasan lo lo pada. Soalnya, buat gue kehilangan virginitas sebelum waktunya, apalagi bukan buat persembahan cinta, adalah kehilangan harga diri (Virgin,2005:41)

Melalui kutipan tersebut diketahui bahwa bagaimana tokoh Biyan mewakili bagian remaja yang menganggap bahwa keperawanan merupakan bagian dari persembahan cinta serta sebagai bagian dari harga diri. Oleh karenanya Biyan sangat tidak bisa memahami jalan pikiran yang dilakukan oleh Stella dan Ketty. Bagaimana Ketty menjual keperawanan dan bagaimana Stela dengan mudahnya melakukan seks dimanapun.

Biyan menganggap bahwa kehilangan keperawanan harus dilakukan dalam pernikahan. Hal ini diungkapkan dalam kutipan di bawah ini:

     

(32) “Om sebetulnya saya nggak mau ngelepas

keperawanan saya. Tapi saya nggak punya pilihan lain. Saya terpaksa bersedia nemuin Om karena ingin ngeringanin bebab temen-temen yang terlibat perkara berat akibat kekonyolan kami. Memang saya berasal dari keluarga berantakan. Papa suka main perempuan, sementara mama cuma bisa nangis. Tapi saya nggak mau ngelepas keperawanan begitu saja tanpa ada ikatan perkawinan…” (Virgin,2005:190-191)

Berdasarkan pernyataan diatas diketahui bahwa Biyan merasa sangat berat untuk melakukan hubungan seksual. Hal ini mengingat bahwa Biyan akan melakukan hubungan seksual di luar pernikahan. Sesuatu yang menurutnya berlawanan dengan pemaknaan mengenai keperawanan.

Biyan juga tidak mau melepas keperawanan sebagai sesuatu yang dapat diperjualbelikan. Hal ini diketahui melalui kutipan seperti di bawah ini:

(33) Dalam keadaan tertekan, mereka menjual semua yang mereka punya: mobil, perhiasan, barang-barang berharga, bahkan tubuh dan kehormatan mereka, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk mengganti mobil sialan yang hilang itu. Sejujurnya gue pengen membantu mereka. sebab betapa pun penderitaan yang mereka alami saat ini sedikit banyak berkaitan juga dengan gue. Kalaupun nggak, sebagai seorang sahabat, gue nggak tega melihat merek begitu menderita karena melakukan sebuah langkah bodoh yang tak perlu…

Tapi gue nggak bisa berbuat apa-apa. Gue nggak mau melepas virginitas gue karena masalah ini. Gue nggak bisa menjual harga diri gue untuk kekonyolan ini. Gue harus tetap menjaga kesucian gue dan mencari cara lain untuk membantu mereka…Tapi dengan cara apa? (Virgin,2005:164)

     

Berdasarkan pernyataan diatas menunjukkan bahwa kondisi Biyan dalam keterpaksaan ternyata tidak membuat dirinya begitu saja mau melepas keperawanan sebagai sesuatu yang dapat dijual. Biyan juga tidak begitu saja mau meniru perbuatan teman-temannya yang telah menjual keperawanan. Biyan merasa bahwa prinsip dirinya mengenai pemaknaan keperawanan berbeda dengan kondisi dalam lingkungan pergaulan teman-temannya.

Secara keseluruhan tokoh Biyan mewakili tokoh yang memaknai keperawanan sebagai penghragaan diri. Keperawanan hanya dapat dilepas melalui ikatan pernikahan. Biyan berusaha mempertahankan pemaknaan ini dalam kondisi lingkungan teman-teman yang justru sebaliknya. Hal ini terkadang menimbulkan pertentangan bagi dirinya dengan lingkungan pertemanan di sekitarnya.

3.1.2 Pemaknaan Keperawanan berdasarkan tokoh Stella

Pemaknaan mengenai virginitas di kalangan remaja yang menganut seks bebas tentu saja berbeda halnya dengan kalangan yang menjunjung tinggi nilai keperawanan. Bagi kalangan penganut seks bebas seperti yang dituturkan pengarang dalam novel Virgin dapat dilihat dari antara lain dari pendapat tokoh Stella. Stella merupakan tokoh yang mewakili pemaknaan keperawanan sebagai alat untuk “gaul”. Dengan demikian

     

Stella tidak keberatan untuk melepaskan keperawanan tanpa pernikahan. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan sebagai berikut:

(34) Biyan, gue udah nanya sama Stella, ”Stell, lo masih inget nggak sama cowo yang merawanin lo? Terus bagaimana perasaan lo kalau inget itu?” Stella bilang, “ya inget-inget gitulah…Orang khan nggak bisa melupakan semua yang pernah mereka lakuin. Tapi gue biasa-biasa aja, tuh!” Jadi gue piker, rugi amat gue lepas keperawanan gue dengan gratisan kayak gitu. Stella sih kaya. Duitnya banyak, kalau gue khan…” (Virgin,2005:16)

Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa sebagian remaja yang menganut seks bebas memaknai keperawanan merupakan sesuatu yang biasa. Sama halnya dengan memaknai anggota tubuh lainnya, merupakan bagian dari tubuh yang dapat hilang sewaktu-waktu. Bagi mereka, kehilangan keperawan juga menjadi bagian dari kegiatan yang dapat dilakukan sehari-hari sehingga tidak perlu untuk dimaknai secara berlebihan. Bagi sebagian lain bagi remaja penganut seks bebas, keperawanan merupakan komoditas yang dapat diperjualbelikan. Bagi mereka, keperawanan dapat menjadi jalan keluar untuk mendapatkan penghasilan lebih.

Seperti halnya uraian di atas maka diketahui bahwa kehilangan keperawanan bagi sebagian kalangan remaja penganut seks bebas merupakan bagian dari kegiatan permainan. Mereka dapat dipertaruhkan

     

melalui permainan. Hanya bagian dari kegiatan bersenang-senang. Hal ini diketahui berdasarkan kutipan di bawah ini:

(35) Mulailah Stella memutar botol. Ia berkonsentrasi agar putaran botol berhenti dengan kepala botol menghadap ke arah lawannya. Saat botol berputar, semua yang ada disekitar mereka tampak tegang. Terlebih-lebih Biyan, ia tampak begitu gelisah, takut kalua-kalua kepala botol itu justru menunjuk ke arah Stella sehingga karibnya itu harus em-el alias making love di depan orang ramai dengan tiga cowok sekaligus…

Putaran botol memelan dan berhenti. Kepalanya menunjuk ke arah Stella. Luna tersenyum penuh kemenangan. Stella tercekat.

Biyan dan Kety terdiam. Tiga cowok relawan langsung menunaikan tugasnya.

Seperti jagal menggiring sapi ke tempat pemotongan hewan, mereka menggiring Stella menuju sebuah mobil.

Tak sulit untuk menduga apa yang akan terjadi setelah itu… (Virgin, 2005:129)

Berdasarkan kutipan ditas diketahui bahwa tokoh Stella memaknai bahwa kehilangan keperawanan bagi kalangan remaja juga merupakan bagian dari upaya untuk menunjukkan solidaritas. Pada dasarnya kegiatan yang dilakukan bersama-sama menunjukkan solidaritas dan menimbulkan konformitas dalam suatu kelompok remaja. Oleh karenanya Stella tidak keberatan untuk menjalani konsekuensi permainan sebagai upaya untuk menyelamatkan teman (Biyan) dari permainan yang memaksa dirinya melakukan hubungan seksual.

Dalam pernyataan lain juga diketahui bahwa Stella menganggap bahwa kehilangan keperawanan juga merupakan bentuk solidaritas. Hal

     

ini antara lain dapat ditunjukkan dari kehilangan keperawanan diketahui berdasarkan kutipan di bawah ini:

(36) Biyan merasa seperti tersiram pasir. Berkali-kali ia

kerjap-kerjapkan matanya. Terlebih ketika Kety kembali menyemprot ke arahnya, “Lo ngapain kek! Jual kek laptop lo, perawan lo… Jangan diem doing! Itu baru solider namanya!” (Virgin,2005:170)

Berdasarkan pernyataan ditas diketahui bahwa Stella berusaha memaksa Biyan untuk menjual keperawanannya sebagai salah satu bentuk solidaritas. Stella menganggap bahwa keperawanan merupakan hal biasa sehingga dengan mudahnya juga dapat diperjualbelikan.

Secara keseluruhan Tokoh Stella memaknai keperawanan sebagai alat “gaul”. Dimana keperawanan dapat dijadikan sebagai alat untuk melakukan sosialisasi dengan temen-temannya. Stella menganggap bahwa melepas keperawanan dapat dilakukan kapan saja asalkan dirinya merasa cocok dengan pasangannya. Stella juga menganggap bahwa keperawanan merupakan alat untuk menunjukkan solidaritas. Oleh karenanya Stella juga menuntut temannya (Biyan) untuk melepas keperawanan sebagai bentuk solidaritas pada kondisi yang dihadapinya

3.1.3 Pemaknaan Keperawanan berdasarkan tokoh Ketty

Tokoh Ketty merupakan tokoh yang juga memaknai keperawanan bukan sebagai sesuatu yang dihargai melalui hubungan seksual ketika

     

malam pernikahan pertama kali. Kettyy menganggap bahwa keperawanan terkadang menjadi cara untuk mendatangkan penghasilan lebih. Pemaknaan semacam ini muncul karena pemahaman bahwa keperawanan merupakan kepemilikan pribadi sehingga wajar kalau mereka selaku pemilik memperjualbelikan. Konsep pemaknaan keperawanan seperti ini menghilangkan bahwa keperawanan juga berkaitan dengan harga diri.

Hal ini juga diungkapkan dalam kutipan di bawah ini: (37) “Orang udah tua?”

“Udah deh hari gini lo nanyain gituan. Yang penting duitnya. Duitnya, bo!”

“Oke. Gue ke sana. Thanks, ya.”

“Buruan! Biar gue cepet dapet kom kom nya.” (Virgin’2005:83)

Berdasarkan pernyataan di atas menunjukkan bahwa Ketty melakukan transaski untuk menjual keperawanan tanpa merasa keberatan. Keperawanan dianggap sebagai jalan keluar dari himpitan ekonomi sehingga dapat memenuhi gaya hidupnya. Oleh karenanya Ketty merasa tidak keberatan untuk melepas keperawannya sebagai komoditas.

Sama halnya dengan pendapat mengenai pemaknaan keperawanan di atas, melalui kutipan di bawah ini menunjukkan bahwa keperawanan merupakan bagian dari kegiatan sehari-hari. Oleh karenanya harus dilakukan melalui kegiatan sehari-hari yang menyenangkan pula. Demikian pula saat harus melepas keperawanan juga dilakukan melalui

     

kegiatan yang menyenangkan baik mendatangkan kepuasan maupun mendapatkan penghasilan lebih. Berikut merupakan kutipan yang menunjukkan penuturan pengarang sebagai berikut:

(38) Lo gila ya? Baru sehari buka took lo langsung obral habis!”

Enak aja obral, promosi tau!!

Tapi lo ngrasain enaknya juga khan? Bukan duit mulu

Three in one dong! Makan enak, goyang enak, duit banyak!”

Sapi lo! Giliran urusan beginiian, sehari test drive langsung tancap gas kenceng!” (Virgin,2005: 52)

Oleh karenanya para pelaku kehilangan keperawanan di luar perkawinan sudah tidak memiliki rasa malu untuk melakukan hubungan badan. Mereka dengan santai melakukan hubungan badan bahkan dengan orang-orang yang baru mereka pertama kali temui. Bagi mereka yang penting sama-sama memuaskan. Hal ini diketahui berdasarkan kutipan di bawah ini :

(39) Nafsu ketiga pasangan itu menggelegak. Mereka

langsung em-el sambil lari di lorong rest room. Biyan terbelalak. Tentang pasangan abege yang em-el di toilet bukanlah pemandangan pertama yang ia lihat. (Virgin,2005:27)

Kenyataannya, kebebasan remaja dalam memaknai keperawan tidaklah sejelas pendapat mereka ketika bertemu dengan orang dewasa. Sebagian besar remaja masih memendam pendapat mereka mengenai keperawanan. Hal ini disebabkan remaja memandang bahwa sebagian orang dewasa memiliki pandangan kolot. Dimana orang-orang dewasa

     

tersebut memiliki pandangan bahwa keperawanan merupakan harga mutlak bagaimana untuk menilai berharganya seorang perempuan saat akan memasuki pernikahan.

Hal ini menimbulkan perbedaan pendapat dan menyebabkan sebagian remaja memilih untuk memmendam pendapat mereka mengenai pemaknaan keperawanan. Hal tersebut diketahui berdasarkan kutipan di bawah ini:

(40) Ketika Bu Monika menanyakan siapa di antara mereka yang telah memiliki pacar, banyak yang mengangkat tangan. Termasuk para cewek. Tetapi ketika Bu Monika menanyakan siapa di antara mereka yang pernah melakukan hubungan seks, tak satu pun murid yang mengacung. Mereka pun saling toleh satu sama lain sambil tersenyum-senyum atau berdehem-dehem

Luna yang duduk di bangku belakang hanya tersenyaum-senyum seperti tengah membayangkan adegan syur yang sudah berkali-kali ia lakukan. Sedangkan Stella dengan wajah tanpa ekspresi membuat coretan-coretan di buku catatannya. Setelah selesai, ia mengangkat buku tersebut dan mengarahkannya pada Biyan untuk memperlihatkan apa yang baru saja di buatnya.

Biyan menoleh dan segera melengos ketika membaca coretan di buku catatan Biyan yang bertuliskan: I Love Sex”. (Virgin,2005:89-90)

Melalui kutipan-kutipan tersebut di atas dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan pemaknaan antara masyarakat yang berusia lebih dewasa dengan para remaja saat ini. Perbedaan pendapat tersebut menyebabkan hilangnya komunikasi antara masyarakat dewasa dan remaja apabila melakukan dialog mengenai pemaknaan remaja. Kutipan

     

di atas juga menunjukkan bahwa munculnya kesan seolah-olah bahwa kaum remaja cukup memahami perbedaan pemaknaan keperawanan dengan diam dan cukup saling tahu saja. Berdasarkan keseluruhan kutipan di atas diketahui bahwa terdapat pemaknaan keperawanan yang makin meluas. Tidak hanya berkaitan dengan robeknya selaput dara namun juga meluas seiring dengan pendapat dan pandangan masyarakat mengenai pemaknaan keperawanan itu sendiri.

Secara keseluruhan tokoh Ketty mewakili pandangan bahwa keperawanan merupkan bentuk lain dari komoditas. Keperawanan dapat diperjualbelikan sehingga menjadi alat bagi dirinya untuk lepas dari himpitan ekonomi serta mengikuti gaya hidup kelas atas seperti teman-temannya. Selain itu Ketty memaknai kehilangan keperawanan sebagai pemuas kebutuhan badan. Oleh karenanya Ketty merasa tidak keberatan untuk melakukan dengan siapapun asalkan dirinya merasa puas.

Dokumen terkait