• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TOKOH PENOKOHAN DALAM NOVEL VIRGIN

2.2 Tokoh dan Penokohan

 

Berdasarkan pembacaan pra penelitian yang dilakukan oleh peneliti diketahui bahwa pengarang menggunakan metode kewajaran dan kesepertihidupan. Hal ini dapat dilihat bahwa kisah dalam novel Virgin

merupakan bagian dari realitas masyarakat dalam memaknai virginitas diantara kalangan remaja. Melalui metode kewajaran dan kesepertihidupan tersebut maka pengarang mengharapkan para pembaca dapat lebih mudah mengetahui bahwa fenomena perubahan makna virginitas memang ada dan nyata dalam kehidupan masyarakat.

2.2 Tokoh Dan Penokohan 2.2.1 Biyan

Dalam novel Virgin tokoh Biyan berperan sebagai A. Biyan adalah remaja pelajar. Kutipan (1) menunjukkan bahwa Biyan merupakan anak pelajar. Hal ini ditunjukkan dengan seragam sekolah yang dipakainya.

(1) Pada saat itu Ketty masuk kafe. Celingukan sebentar di pintu lalu langsung melangkah menuju Stella dan Biyan yang tengah ketawa-ketiwi. Seperti ke dua sobatnya, Kety pun masih mengenakan seragam sekolah.

Biyan berasal dari keluarga tidak harmonis sehingga tidak ada pendampingan keluarga yang didapatkan Biyan. Keluarganya tidak harmonis karena Ayahnya menuntut perceraian dengan si ibu namun si ibu menolak. Akhirnya si Ayah kemudian mencoba memancing konflik dengan membawa perempuan muda ke rumah. Hal ini menambah kehancuran hati Ibu Biyan. Berdasarkan kutipan 2

   

diketahui bahwa Biyan seringkali melihat ayahnya yang membawa perempuan ke rumahnya. Di sisi lain Biyan sangat mendambakan sosok ayahnya sebagai panutan. Dalam kutipan tersebut juga diketahui bahwa tingkah laku ayahnya tersebut karena berupaya memanasi Ibunya. Dengan demikian keinginan ayahnya untuk bercerai segera terlaksana.

(2) Ini sudah ketiga kalinya Biyan memergoki papanya bercinta dengan perempuan lain. Dan sepertinya, lelaki yang Biyan dambakan sebagai panutan itu sengaja melakukan untuk memanasi Mama Biyan.(Virgin, 2005; 29)

Keluarga Biyan sendiri diceritakan berasal dari golongan atas. Hal ini dapat dilihat dari rumah mewah yang dimiliki oleh keluarganya. Dalam rumah yang mewah dan megah tersebut ternyata Biyan tidak mendapatkan kedamaian. Berdasarkan kutipan (3) diketahui bahwa kondisi rumah keluarga yang mencerminkan berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke atas (mampu) namun kemewahan rumah tersebut tidak sesuai dengan kedamaian keluarga yang ada didalamnya. Biyan seringkali merasa kesepian ketika berada di rumah tersebut

(3) Taksi berhenti di dapan halaman rumah Biyan. Rumah itu mewah dan megah namun terasa dingin dan sunyi. Seperti sebuah istana pengasingan (Virgin, 2005: 28)

Rasa kesepian yang dialami Biyan ketika di rumah keluarganya tersebut membuat Biyan sering merasa tidak betah berada di rumah. Biyan lebih memilih untuk pergi ke luar rumah mencari kesenangan

   

bersama ke dua temannya Stela dan Kety. Melalui perjalanan kehidupan yang dilewati oleh kedua sahabanya, Biyan tidak hanya melewati kesenangan namun juga melewati berbagai kesedihan yang muncul. Bersama Stella dan Kety, Biyan mendapatkan arti persahabatan. Berdasarkan kutipan 4 diketahui bahwa Biyan melewati kesedihan dan kesenangan masa remaja bersama kedua sahabatnya tersebut.

(4) Stella tertawa sengau lalu menangis terisak Biyan dan Ketty lalu memluknya erat-erat. Keduanya ikut menangis merasakan kepedihan sahabat mereka. Cukup lamanya ketiganya tenggelam dalam kesedihan. (Virgin, 2005:132)

Salah satu bagian dalam novel yang menceritakan kedekatan ketiga sahabat tersebut ditunjukkan dengan kesetiaan yang ditunjukkan di antara ketiga sahabat tersebut.

Berdasarkan kutipan (5) dituturkan kesetiaan antara Biyan dan Stella. Hal tersebut ditunjukkan Biyan melalui upayanya untuk mendampingi Stella ketika berlatih acting. Biyan membantu Stella untuk meraih cita-citanya untuk mendapakan peran.

(5) Sudah malam. Namun Stella masih asyik dengan latihan aktingnya. Biyan menemaninya dengan setia meskipun sesungguhnya ia sudah sangat jemu. Berkali-kali ia sengaja menguap besar-besar untuk menunjukkan pada Stela bahwa dirinya sudah sangat lelah. Namun Stella tak tanggap. Ia begitu keranjingan berlatih hasrat untuk merebut kesempatan menjadi pemain utama dalam sinetron Gaul begitu menggebu (AB, 2005; hlm 84).

Dalam bagian novel lainnya juga ditunjukkan upaya yang menunjukkan kesetiaan antara tiga bersahabat ini. Kesetiaan lain yang

   

ditunjukkan oleh ketiga sahabat ini adalah kesempatan ketika dorongan semangat Ketty dan Biyan terhadap Stella ketika akan mengikuti casting yang kedua. Biyan dan Ketty dengan sangat setia menemani dan mendandani Stella.

(6) Setelah beres, Biyan dan Ketty melayani Stella melakukan manicure-pedicure. Lalu saat Ketty mengeramasi Stella, Biyan membersihkan bulu kak Stella yang rada kasar. Terakhir baik biyan maupun Ketty melakukan sweeping di daerah ketika. Kety melakukan sweeping di daerah ketiak. Biyan kebagian di sebelah kanan, Kety di sebelah kiri. Hari itu ketiga karib itu tampaik begitu kompak (AB; 2005; 121)

Selain penampilan yang cantik, Biyan juga memiliki kemampuan untuk menulis. Biyan seringkali menulis pengalaman hidupnya melalui tulisannya. Di kemudian hari tulisan-tulisannya kemudian dirangkai menjadi novel yang menyelamatkan hidupnya.

(7) Pak Amin mengangguk sambil mengacungkan jempol lalu pergi. Biyan memandangi kepergian lelaki tua hingga punggungnya menghilang di balik pintu. Kemudian ia memutar tubuhnya kea rah laptop. Seketika wajahnya tampak pias tersepuh cahaya yang memendar dari layar laptop. Cukup lama ia terpekur sebelumya akhirnya mengetik (AB, 2005; hal 39)

Laptop tersebut yang menjadi curahan hati Biyan ketika dirinya mengalami kegalauan. Di mana pun Biyan pergi maka laptop tersebutlah yang menemani. Semua yang dilewati dalam hidupnya dituangkan dalam tulisan di laptopnya.

(8) Malam dingin dan sepi membungkus perpustakaan sekolah tempat Biyan menginap. Seperti malam-malam sebelumnya, Biyan duduk di depan laptop untuk mencurahkan perasaan dan pengalammnya seharian tadi. Di layar laptop, huruf demi huruf muncul beriringan dari langit diantarkan langit malam yang menerobos celah jendela (AB, 2005; 111)

   

Ketertarikan Biyan akan menulis dikarenakan kegemarannya sastra. Satu-satunya ketertarikan Biyan mengikuti pelajaran di sekolah hanya-lah pada Sastra. Oleh karenanya Biyan hampir tidak pernah melewatkan kelas Sastra. Dalam kondisi apapun Biyan selalu berusaha mengikuti kelas Sastra.

(9) Sorry Stel! Gua rada nggak enak badan. Lagian ham pertama hari ini kan pelajaran Sastra. Pelajaran favorit gue. Gue ngga mau ngantuk di kelas. Lo ngerti khan? (AB, 2005; 51)

Biyan juga diceritakan sangat mengagumi tokoh bernama Manix. Manix merupakan aktor muda yang sedang naik daun. Bagi Biyan, Manix merupakan idola yang menemani dirinya ketika sedang mengalami kekalutan.

(10) Yaitu poster Manix, actor muda pujaan Biyan yang kini lagi ngetop. Biasanya sehabis memperhatikan wajah ganteng di poster itu, rasa kalut yang merendam hati Biyan akan langsung surut. (AB, 2005; hlm 31)

Dalam novel ini dituturkan bahwa secara fisik Biyan dikategorikan cantik. Selain itu Biyan juga memiliki kharisma sendiri Hal ini memudahkan dirinya untuk menarik perhatian orang.

(11) Manix terpesona melihat pancaran kharisma Biyan yang luar biasa itu. Biyan sendiri merasa heran melihat dirinya sanggup menyedot perhatian sekian puluh orang untuk menghentikan keributan dan berpaling ke arahnya (Virgin, 2005:144)

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa melalui novel

   

memiliki penokohan yaitu; secara fisik Biyan yang cantik serta memiliki kharisma tersendiri sehingga mudah menarik perhatian orang. Biyan juga berasal dari latar belakang keluarga menengah ke atas namun kedua orang tuanya sudah tidak harmonis. Dengan demikian Biyan kehilangan sosok orang tua yang dapat mendampingi. Biyan lebih sering bersama ke dua sahabatnya Ketty dan Stella.

2.2.2 Stella

Stella merupakan tokoh antagonis. Dalam novel Virgin tersebut dituturkan bahwa Stella sosok remaja yang sangat caper (cari perhatian). Dalam kondisi apapun Stella berkeinginan untuk mencari perhatian dari siapapun dan kapanpun.

(12) Saking asyiknya membaca, Biyan tak menghiraukan tingkah sohibnya, Stella yang sibuk collep di sebelahnya. Dengan gayanya yang khas, Stella berusaha menarik perhatian semua orang yang ada di kafe tersebut tanpa kecuali (Virgin, 2005: 4)

Dalam setiap kesempatan apapun Stella selalu berupaya mendapatkan perhatian dari lingkungan, sampai-sampai Stella tidak perduli dengan cara apa yang dilakukan asalkan dirinya dapat selalu menarik perhatian.

(13) Tapi itulah Stella. Centil-centilnya bikin orang gak tahan. Sejak bayi terjangkit penyakit samper akut. Maunya selalu diperhatiin siapa saja. Nggak peduli apakah itu dari gerombolah Adam, Hawa maupun Adwa. Juga persetan apakah itu balita, remaja atau manula, pkoknya semua perhatian harus tertuju padanya (Virgin, 2005: 4)

   

Sifat Stella yang selalu ingin mendapatkan perhatian penuh seringkali menimbulkan konflik. Konflik tersebut muncul apabila Stella dibandingkan atau merasa perhatian yang tertuju padanya direbut oleh orang lain.

(14) Tapi Stella tak suka dibandingkan. Matanya mengejap lambat bersamaan dengan air mukanya yang tiba-tiba keruh (Virgin, 2005:53)

Latar belakang Stella berasal dari keluarga ekonomi ke atas namun ke dua orangtuanya yang sangat sibuk seringkali tidak berada di rumah. Ayahnya merupakan pengusaha sedangkan Ibunya seringkali mengikuti berbagai kegiatan sosial. Tidak jarang kedua orangtuanya melakukan perjalanan ke luar negeri untuk waktu yang lama.

(15) Kedua orang tua Stella sedang tak di rumah. Papanya sudah dua pekan di Eropa untuk urusan bisnis, sedangkan mamanya sudah dua hari lalu nginep di Bali. Katanya sih, “Ada acara reuni orang-orang yang tinggal di Paris seangkatan Mama. Acaranya di Nusa Dua. Sorenya mama langsung meluncur ke Ubud ngeliat lukisan Mangu Putra. Ada lukisannya yang mama incer. Terus besoknya ada grandopening Warung Itali di Seminyak. Yang punya temn mama, jadi sekalian datenng aja ke sana…kalau kamu perlu apa-apa, telepon aja yang sayang…” (Virgin 2005:47-48)

Kedua orang tuanya yang hampir tidak pernah ada di rumah membuat Stella kehilangan pendampingan keluarga. Hampir setiap saat Stella berada di rumah dengan ditemani oleh pembantu rumah tangga.

(16) Keluar kamar, Stela tak menemukan seorang pun di ruang tengah, ruang samping, teras atau garasi. Para pembantu rumah tangga dan tukang kebin sedang sibuk di belakang dengan

   

tugasnya masing-masing. Hanya pak Mo yang bersiaga dekat pintu gerbang (Virgin, 2005: 47)

Stella berkeinginan untuk menjadi seorang aktris. Oleh karena itu Stella sering mengikuti casting. Di antaranya adalah casting menjadi pemain sinetron remaja gaul. Kenyataanya kemampuan acting Stella sangat minim.

(17) Kamu ada bakat. Tapi kamu masih harus banyak latihan. Maaf, kayaknya kamus kurang cocok untuk menarik peran ini, “kata Sutradara setelah menarik nafas panjang.(Virgin, 2005: 74)

Dalam novel Virgin tersebut dituturkan bahwa tokoh Stella merupakan anak dari keluarga berada namun kedua orangtuanya hampir tidak pernah berada di rumah. Dengan demikian Stella kehilangan pendampingan ayah dan ibunya. Hal ini merupakan penggambaran yang sama dilakukan oleh pengarang dalam novel

Virgin dengan tokoh Biyan.

Karakter utama Stella yang dimunculkan oleh pengarang dalam novel Virgin adalah selalu berusaha mendapatkan perhatian serta tidak mau dibandingkan dengan orang lain. Stella selalu berusaha mencari perhatian dari siapapun dan dimanapun bahkan seringkali melakukan tindakan-tindakan aneh untuk mendapatkan perhatian. Hal ini yang kemudian mendatangkan berbagai konflik. Diantaranya dipicu sifat Stella yang tidak mau di saingi atau dibandingkan dengan orang lain

Dalam penuturan pengarang mengenai cita-cita digambarkan bahwa Stella memiliki keinginan untuk menjadi aktris. Upaya

   

pertamanya untuk casting gagal namun Stella tetap berlatih akting. Stella berhasil mendapatkan pengakuan si Sutradara meskipun pada akhirnya Stella tetap tidak mendapatkan peran dalam sinetron tersebut.

2.2.3 Ketty

Ketty berasal dari keluarga tunggal atau hanya memiliki ibu. Ibunya mengalami kehamilan di luar pernikahan sehingga Ketty tidak memiliki sosok ayah. Ibu Ketty sendiri tidak menginginkan kehamilan tersebut.

(18) Lo jangan sembarang ngomong, kambing. Asal lo tahu, gue jadi kayak gini karena nyokap gue nggak mau gue lahir….gue nggak mau anak gue nasibnya sama kayak gue. Anak ini pemeberian Tuhan, gue harus bertanggung jawab

Stella tersenyum sinis, “Lo kenapa sih sejak bunting jadi aneh gitu? Pake bawa-bawa Tuhan segala….

“Gue mau jaga anak gue! Gue nggak amu anak gue lahir cacat. Gue mau urus dia baik-baik! Terserah lo mau ngomong apa, pokoknya mulai hari ini gue berhenti” (Virgin, 2005:180)

Selama kehidupannya Ketty hanya ditemani oleh sosok ibunya yang galak dan tak perduli. Tidak ada sosok ayah yang melengkapi kehidupannya. Seringkali ibunya memaki namun bagi Ketty hal tersebut sudah biasa di hadapi. Ketty hanya menanggapi dengan sikap sangat cuek.

(19) He monyet kecil! Kuping kamu budek, ya? Beresin dulu! Kalau nggak, aku buang, nih!” teriak Ibu Kety. Teriakan itu lantang hingga menggedor dinding-dinding rumah tetangga di

   

kompleks pemukiman yang ruwet dan rada kumuh itu (Virgin, 2005: 44)

Ketty juga berasal dari keluarga ekonomi menengah. Hal ini berbeda dengan kedua temennya. Seringkali perbedaan latar belakang ekonomi keluarga membuat Ketty merasa kehilangan kepercayaan dirinya.

(20) Jadi lo tega ama gue? Please Biy, gue penting banget ketemu lo sekarang.

“Nggak Gitu Ket, gue gak boleh patahin semangat dia. Sorry…..”

“Oke deh. Gue ngerti! Gue khan anak orang miskin!” tiba-tiba Kety berubah ketus dan langsung memutuskan sambungan telpon.

“Brengsek!” umpatnya manyun. (Virgin, 2005: 88)

Dalam novel Virgin, Ketty dituturkan sangat lemot (lemah otak). Hal ini sering menjadi bahan tertawaan baik oleh kedua sahabatnya serta orang-orang di lingkungannya. Stella dan Biyan sangat memahami sifat Ketty yang menanggap semua persoalan berat meskipun pada kenyataannya tidak seluruhnya benar.

(21) Stella dan Biyan seketika terdiam. Keduanya langsung manatap wajah Ketty dengan wajah meledek. Soalnya mereka tahu sebatas mana persoalan yang maan Kety anggap sebagai sesuatu yang serius. Paling-paling soal ge-er yang belum digarap, soal perut mules menjelang mens atau soal dia yang nggak punya baju ike buat dugem. Kalaupun ada yang lebih seius dari itu, paling pol soal wajahnya yang semakin hari semakin mirip ibunya. Satu hal yang amay dikhawatirkan. Ia benci mirip ibunya yang genit dan telah melahirkannya tanpa Bapak (Virgin, 2005: 12).

   

Hal ini juga ditunjukkan antara lain dengan kemampuan Ketty dalam menguasai berbagai pelajaran termasuk diantaranya adalah kemampuan bahasa Inggris.

(22) Sementara Stella ditato, Ketty duduk menyandar kursi di sebelahnya sambil membaca-baca majalah tato. Bukan membaca, tepatnya tapi cuma melihat-lihat gambar. Majalah-majalah itu kan berbahasa Inggris, padahal penguasaan Kety untuk bahasa itu Cuma cocok untuk masuk kelas “English For Kids”. (Virgin, 2005: 63)

Selain itu, Ketty juga digambarkan sebagai cewek slebor. Hal ini ditunjukkan dengan suasana kamarnya yang selalu berantakan. Barang-barang yang tidak tersimpan rapih dan pakaiannya yang tidak di cuci. Susasna kamar yang berantakan tersebut ternyata tidak pernah membuat Ketty merasa terganggu.

(23) Barang-barang yang berserakan di mana-mana tak menjadi gangguan sedikit pun. Selain karena Ketty memang cewek slebor, hatinya yang riang membuat celana kotor, kutang kecut, baju kucel, plastic bekas pembungkus, lipstick yang patah tiga, poster Madonna yang belum sempat dipasang dan masuk banyak barang lagi tampak seperti hiaan panggung yang gemerlap. Dan ketty menari-nari di tengahnya (Virgin, 2005: 113)

Meskipun Ketty berasal dari latar belakang keluarga yang kurang mampu dan kurang lengkap, namun Ketty berpegang teguh menjaga keperawanannya meskipun sahabat-sahabatnya memaksa. Ia tidak ingin mengecewakan ibunya yang bertahan hidup untuknya. Berdasarkan penuturan pengarang dalam novel Virgin tersebut maka diketahui bahwa Ketty merupakan tokoh yang digambarkan berasal dari latar belakang sosial ekonomi keluarga lebih rendah dibandingkan

   

dengan tokoh Stella dan Biyan. Terkadang hal ini menjadi salah satu sumber ketidakpercayaan dirinya. Latar belakang sosial ekonomi keluarganya tersebut juga menjadi salah satu perbedaan dengan penokohan lainnya.

Hubungan Ketty dan ibunya tidak harmonis. Hal ini dapat dilihat dari ketika Ibu Ketty mengandung, kehamilan tersebut adalah kehamilan yang tidak diinginkan. Selain itu, ibu Ketty selalu memaki dan hampir tidak pernah memberikan perhatian. Oleh karenanya Ketty seringkali hanya bersikap cuek.

Karakter Ketty lain yang dimunculkan dalam novel ini “lemot” atau lambat berpikir. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan Kety dalam menangkap pembicaraan dengan kedua sahabatnya, selain itu Ketty juga memiliki kelemahan dalam berbahasa Inggris. Dalam novel tersebut juga dituturkan bahwa Ketty memiliki karakter “slebor”. Hal ini dapat dilihat dari kondisi kamarnya yang penuh barang berserakan dan baju kotor.

Berdasarkan analisa data diatas diketahui bahwa terdapat unsur kewajaran dan kesepertihidupan. Kewajaran adalah upaya pengarang yang menuturkan tokoh yang seperti manusia dalam kehidupan mempunyai pikiran dan perasaan. Hal ini ditunjukkan oleh tokoh baik Biyan, Ketty dan Stella yang mempunyai pemikiran mengenai pemaknaan keperawanan. Para tokoh juga digambarkan memiliki perasaan baik dalam kebahagiaan maupun kesedihan. Kesepertihidupan adalah mencerminkan dan mempunyai

   

kemiripan dengan kehidupan manusia sesungguhnya. Hal ini ditunjukkan oleh baik Biyan, Ketty dan Stella yang menggambarkan dunia remaja memiliki kehidupan sosial seperti adanya remaja perkotaan lain misalkan bergaul dengan sesama remaja, kesukaan shopping serta pergi ke klub malam. Mereka juga memiliki keluarga dengan latar belakang yang berbeda dan menempuh sekolah menengah atas.

Dokumen terkait