Selain untuk melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati laut dan jasa ekosistem, Kawasan Konservasi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam rangka mengoptimalkan potensi ekonominya untuk kepentingan mata pencaharian, terutama bagi masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar situs. Pemanfaatan Kawasan Konservasi yang berkelanjutan meliputi empat kategori utama:
(1) penangkapan ikan berkelanjutan;
(2) budidaya ikan berkelanjutan;
(3) wisata bahari yang berkelanjutan; dan (4) penelitian dan pendidikan.
Kondisi Sekarang
(1) Penangkapan Ikan Berkelanjutan
Kawasan Konservasi memiliki nilai penting bagi pengelolaan perikanan berkelanjutan. Kawasan Konservasi yang dirancang dan dikelola secara efektif mencakup zona larang tangkap (NTZ/No Take Zones), yaitu tempat terlarang bagi penangkapan ikan atau pemanfaatan ekstraktif. Di area ini, ikan dapat tumbuh hingga dewasa dan agregasi pemijahan dilindungi. Hal ini pada gilirannya akan membangun biomassa ikan hingga menyebar ke daerah penangkapan ikan tetangga dan mengembalikan populasi ikan di laut (restocking) untuk meningkatkan hasil perikanan.
Dalam Kawasan Konservasi multizonasi di Indonesia, NTZ sering kali terletak berdekatan dengan zona pemanfaatan terbatas untuk perikanan tradisional yang memungkinkan nelayan lokal untuk mendapatkan keuntungan dari efek limpahan ini dan menuai hasil panen spesies yang penting secara komersial yang tersedia secara konsisten. Dirancang dengan baik, zona pemanfaatan terbatas ini akan memiliki peraturan terkait mengenai ukuran kapal atau jenis alat tangkap yang diizinkan, atau dapat memiliki aturan akses terbatas (memprioritaskan akses bagi nelayan lokal yang berasal dari dalam Kawasan Konservasi atau masyarakat sekitar) untuk mengoptimalkan aliran manfaat di daerah setempat.
Gambar 10: Efek limpahan dari zona larang tangkap di Kawasan Konservasi mendukung restocking daerah penangkapan ikan di sekitarnya
© KemenKP & USAID SEA, 2018.
Namun hingga saat ini, kesadaran dan implementasi manfaat perikanan secara efektif di Kawasan Konservasi masih belum optimal. Berikut ini sejumlah tantangan utama yang dapat diidentifikasi.
• Kurangnya pengakuan di antara lembaga pemerintah dan koordinasi Kawasan Konservasi terhadap perikanan berkelanjutan.
Kawasan Konservasi dan perikanan tangkap diatur dalam kerangka kerja, lembaga dan sistem hukum yang berbeda, dan terdapat kekurangan sinergi antar direktorat utama terkait, khususnya antara Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL) dan Direktorat Sumber Daya Perikanan (SDI). Hal inilah yang mengakibatkan tujuan dan sasaran antara Kawasan Konservasi dan sektor perikanan terkadang bertentangan.
Tantangan persepsi yang juga berkaitan dengan sektor ini dan sektor pemerintah lainnya, serta dengan mitra industri, adalah bahwa Kawasan Konservasi ditujukan terutama untuk konservasi keanekaragaman hayati dan kurangnya pengakuan peran penting Kawasan Konservasi dalam meningkatkan stok ikan untuk perikanan berkelanjutan. Kawasan Konservasi belum secara rutin diakui, dipetakan atau secara eksplisit disertakan dalam rencana pengelolaan perikanan di sebelas wilayah pengelolaan perikanan (WPP) di Indonesia, dan terkadang dianggap sebagai ancaman terhadap mata pencaharian perikanan alih-alih sebagai manfaat bagi nelayan.
Di beberapa daerah, Kawasan Konservasi juga kurang diakui dalam Rencana
65 Kawasan Konservasi diakui dalam kerangka kerja tersebut, hingga kini tidak tersedia sistem yang secara efektif mengintegrasikan Rencana Pengelolaan Kawasan Konservasi (RPZ) dengan rencana tata ruang ini (RZWP3K), juga tidak terdapat proses sistematis yang secara efektif mengakui Kawasan Konservasi dalam Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional (RZKSN).
Sementara sebagian besar Kawasan Konservasi di Indonesia diatur di bawah KemenKP, beberapa taman nasional di bawah KLHK memiliki wilayah laut yang luas dan berkontribusi pada cakupan Kawasan Konservasi negara secara keseluruhan. Kerangka peraturan, kriteria desain, sistem manajemen dan mekanisme evaluasi yang efektif pada situs KemenKP dan KLHK bagaimanapun sangatlah bervariasi, dan sinkronisasi untuk mendorong elemen perikanan berkelanjutan di seluruh lokasi masih kurang dilakukan.
Pada akhirnya dibutuhkan sinergi dan koordinasi di semua sektor untuk mengakui dan mendukung pembentukan dan pengelolaan Kawasan Konservasi yang efektif dengan tepat.
• Kurangnya kerangka kebijakan yang jelas untuk memasukkan tujuan perikanan berkelanjutan ke dalam zonasi dan perencanaan Kawasan Konservasi.
Di dalam Kawasan Konservasi, zona pemanfaatan terbatas yang ditetapkan sering kali tidak memiliki peraturan dan pertimbangan desain yang jelas terkait perikanan. Sebagai contoh, kurangnya Strategi Panen atau Aturan Pengendalian Panen di dalam Kawasan Konservasi; data perikanan sering kali kurang; penilaian stok, penilaian dan perencanaan EAFM bukan merupakan komponen desain atau penetapan Kawasan Konservasi standar.
Akibatnya, zona Pemanfaatan terbatas yang ada di Kawasan Konservasi tidak dikelola secara optimal dan tidak memiliki aspek kunci pengelolaan perikanan, contohnya penggunaan alat tangkap yang terbatas, kuota penangkapan ikan dan sejenisnya.
Tantangan-tantangan ini muncul akibat kurangnya pedoman perancangan dan pengelolaan zona Pemanfaatan terbatas (perikanan berkelanjutan) secara efektif di Kawasan Konservasi, dan kurangnya pengakuan atas aspek penting desain dan implementasinya dalam 'blok bangunan' yang ada untuk pembentukan Kawasan Konservasi (lihat BK 1 tentang Perencanaan Terpadu).
Perlu dicatat bahwa pedoman untuk Kawasan Konservasi Nasional (KKN) dan Kawasan Konservasi Daerah (KKD) dapat berbeda; dan pedoman untuk tingkat daerah perlu memiliki fleksibilitas yang memungkinkan daerah tersebut menyesuaikan peraturan perikanan berdasarkan kondisi dan budaya setempat. Selain itu, pedoman tersebut perlu memuat kejelasan
terkait peluang program sertifikasi perikanan, seperti inisiatif Perdagangan Berkeadilan dan Proyek Peningkatan Perikanan yang dapat memperoleh sertifikasi Marine Stewardship Council (MSC).
Pada akhirnya, anggaran Kawasan Konservasi dan pertimbangan SDM sering kali minim alokasi untuk pengelolaan khusus perikanan di dalam Kawasan Konservasi.
• Kurangnya kesadaran masyarakat dan pemangku kepentingan mengenai manfaat Kawasan Konservasi terhadap perikanan dan kurangnya kemauan untuk mematuhi peraturan perikanan.
Kesadaran akan manfaat Kawasan Konservasi terhadap konservasi keanekaragaman hayati telah meningkat pesat di berbagai kelompok pemangku kepentingan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kesadaran akan manfaat Kawasan Konservasi terhadap perikanan, dan pentingnya mematuhi peraturan dan larangan terkait perikanan di Kawasan Konservasi masih kurang dipahami dengan baik. Hal ini terutama terjadi di situs Kawasan Konservasi ketika para nelayan yang sejak lama telah terhubung dengan daerah penangkapan ikan, telah menangkap ikan tanpa larangan selama bertahun-tahun/beberapa generasi, tiba-tiba menghadapi pembatasan terhadap aktivitas mereka atau persyaratan untuk mematuhi pembatasan zonasi dan sejenisnya.
Upaya sosialisasi dan pendidikan terkait dengan peningkatan kesadaran di bidang ini terhambat oleh kurangnya studi kasus berbasis Indonesia yang jelas, yang secara tepat memberikan contoh manfaat, ditambah pula dengan tantangan untuk menciptakan dan menyebarkan media komunikasi (seringkali di wilayah yang luas dan banyak komunitas) yang disesuaikan dengan tepat, dapat diakses dan dipahami oleh nelayan.
• Tantangan 'skala' dan kurangnya patroli, pengawasan dan penegakan zona Pemanfaatan terbatas secara memadai.
Banyak Kawasan Konservasi di Indonesia berskala sangat besar. Tantangan skala dan kurangnya patroli, pengawasan dan penegakan hukum secara memadai ini dapat ditemukan di mana pun, di semua Kawasan Konservasi (tidak hanya di Indonesia). Namun, di banyak lokasi, wilayah 'zonasi' terbesar merupakan zona pemanfaatan terbatas (subzona perikanan berkelanjutan), dan tidak seperti patroli di zona larang tangkap/NTZ (dengan ada atau tidaknya nelayan menunjukkan kepatuhan), patroli zona pemanfaatan terbatas lebih kompleks, membutuhkan penilaian individu nelayan, kepatuhan terhadap peraturan khusus (entah terkait dengan jenis alat tangkap, metode penangkapan ikan tradisional, ukuran kapal maupun
67 Tantangan ini semakin diperparah dengan kurangnya penanda batas di sebagian besar Kawasan Konservasi (sehingga sulit bagi nelayan untuk mengetahui kapan harus menyeberang ke zona yang berbeda), serta persepsi akses terbuka atas laut, sementara nelayan kerap berlayar jauh untuk menangkap ikan, mengakibatkan masuknya nelayan luar (andon) secara rutin ke perairan Kawasan Konservasi di beberapa wilayah.
Terakhir, sebagian besar upaya terkait perikanan di dalam Kawasan Konservasi hingga saat ini difokuskan pada nelayan skala kecil (kapal
<10GT); namun di beberapa Kawasan Konservasi yang lebih besar di Indonesia (misalnya TWP Anambas dan TNL Sawu) pengakuan perlu diberikan kepada kapal penangkap ikan skala besar dan diperlukan eksplorasi sistem yang memungkinkan kapal-kapal ini beralih menggunakan alat tangkap yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
• Kurangnya infrastruktur perikanan dan kerangka pendukung.
Meskipun tidak khusus terjadi di Kawasan Konservasi, kurangnya infrastruktur perikanan dan kerangka pendukung di seluruh Indonesia merupakan kendala yang terus berlanjut dalam mengoptimalkan mata pencaharian perikanan. Infrastruktur yang dimaksud meliputi pelabuhan dan fasilitas penyimpanan es (untuk mengurangi tingkat pembusukan) dan kerangka kerja pendukung, antara lain subsidi bahan bakar untuk nelayan yang memungkinkan nelayan dapat menempuh jarak yang lebih jauh (misalnya solar packed dealer untuk nelayan (SPDN), penanganan ikan pascapenangkapan, peningkatan kapasitas pengendalian mutu dan akses pasar.
(2) Budi Daya Ikan Berkelanjutan
Zona pemanfaatan terbatas diizinkan menjadi subzona perikanan berkelanjutan dan perikanan budi daya (yang tertuang dalam dokumen Rencana Zonasi dan Rencana Pengelolaan). Meskipun demikian, setiap kegiatan budi daya ikan/akuakultur yang dilakukan di zona tersebut tidak boleh berdampak negatif terhadap ekosistem laut dan pesisir.
Memasukkan kawasan budi daya ke dalam Kawasan Konservasi dapat bersifat kontroversial. Sistem akuakultur yang dipilih atau diposisikan secara tidak tepat dapat menyebabkan “.. efek yang beragam pada lingkungan alam, seperti kerusakan habitat dan gangguan fungsi ekosistem.” Sistem budi daya yang sesuai untuk area tertentu bervariasi tergantung pada habitat laut, oseanografi, keberadaan spesies yang dilindungi dan berbagai faktor lainnya. Suatu kegiatan budi daya, misalnya budi daya rumput laut, mungkin berdampak sangat kecil
di satu kawasan, sedangkan di kawasan lain dapat menyebabkan perubahan ekosistem dan trofik yang merusak keutuhan Kawasan Konservasi.
Oleh karena itu, kehati-hatian diperlukan saat mempertimbangkan masuknya kawasan budi daya ke dalam Kawasan Konservasi. Diperlukan penelitian biofisik, oseanografi dan sosial ekonomi yang sesuai sebelum menyetujui penanaman. Sayangnya, terkait penelitian khusus untuk mengevaluasi dan menilai potensi dampak kegiatan budi daya, kapasitasnya masih terbatas di Indonesia dan diperlukan investasi lebih lanjut untuk membangun kader personel terampil yang sesuai agar dapat menilai kondisi tersebut dengan tepat.
Salah satu kegiatan budi daya yang lebih umum terjadi di Kawasan Konservasi secara lintas negara adalah budi daya rumput laut, meskipun budi daya spesies ikan (dalam bentuk keramba) bernilai tinggi (seperti kerapu) menjadi semakin umum. Hingga saat ini, sebagian besar masih berskala kecil. Namun, karena permintaan akan hasil laut terus meningkat pada masa mendatang, tekanan untuk membangun sistem akuakultur kemungkinan besar juga akan meningkat, dan pada saat ini diperlukan kerja lanjutan untuk menetapkan pedoman dan sistem yang sesuai yang akan memastikan setiap kegiatan budi daya di Kawasan Konservasi memenuhi kriteria keberlanjutan.
Tersedia sumber daya untuk dimanfaatkan, tetapi belum diterapkan dengan tepat, termasuk pedoman Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk Akuakultur (EAA) dan Proyek Peningkatan Akuakultur (AIP) yang memungkinkan kawasan budi daya disertifikasi oleh Aquaculture Stewardship Council (ASC). Selain itu, budi daya biota endemik sering kali terabaikan sehingga memengaruhi ketersediaan plasma nutfah asli dan berisiko masuknya spesies eksotik ke dalam ekosistem Kawasan Konservasi.
(3) Wisata Bahari Berkelanjutan
Pariwisata merupakan industri yang berkembang di Indonesia. Keindahan serta kekayaan lingkungan laut dan pesisir merupakan faktor penting bagi banyak wisatawan yang memilih berkunjung ke Indonesia. Pariwisata merupakan komponen penting dalam perekonomian negara (PDB). Pariwisata menjadi sumber pendapatan devisa yang berarti dan menyediakan lapangan kerja dan peluang mata pencaharian alternatif bagi masyarakat pesisir.
Dalam konteks Kawasan Konservasi, wisata bahari juga memberikan insentif yang jelas dan langsung bagi pemangku kepentingan untuk melestarikan dan melindungi lingkungan laut dan pesisir di wilayah yang menjadi daya tarik pengunjung. Dengan demikian, wisata bahari berkelanjutan yang dikelola dengan baik dapat beroperasi bahu-membahu bersama pengelolaan Kawasan Konservasi, terutama ketika manfaat finansial dapat disalurkan kepada
69 masyarakat yang tinggal di sekitar Kawasan Konservasi dan pariwisata memberikan peluang mata pencaharian alternatif atau tambahan. Sesuai peraturan zonasi KemenKP untuk Kawasan Konservasi, kegiatan pariwisata dapat berlangsung dalam zona pemanfaatan terbatas.
Namun disadari bahwa pariwisata tidak hanya membawa peluang sebagaimana dijelaskan di atas, tetapi juga potensi dampaknya. Pariwisata yang dikelola secara tidak berkelanjutan dapat berefek merugikan lingkungan laut dan pesisir dan dapat mengancam sumber daya yang menarik untuk dikunjungi. Sumber pencemaran laut berbasis darat dan konversi habitat pesisir merupakan ancaman utama yang sering dikaitkan dengan pengembangan pariwisata.
Limbah, sampah dan bahan kimia, semuanya merupakan produk sampingan pariwisata yang dapat berdampak langsung pada sumber daya laut.
Oleh karena itu, pariwisata di Kawasan Konservasi perlu berkelanjutan, baik dalam aspek lingkungan maupun ekologis, demi menghindari kerusakan sumber daya yang dilindungi; dan perlu fokus pada pemberian manfaat kepada masyarakat dan pemangku kepentingan di wilayah setempat untuk mendorong pelestarian dan pengelolaan kawasan secara efektif.
Saat ini, beberapa tantangan utama untuk mencapai wisata bahari yang optimal, berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat miskin di Kawasan Konservasi di Indonesia adalah sebagai berikut:
• Tantangan aksesibilitas wisatawan ke lokasi terpencil.
Banyak Kawasan Konservasi di Indonesia terletak di lokasi terpencil dengan keterbatasan jumlah transportasi udara maupun kapal biasa, sehingga biaya perjalanan menjadi sulit dan/atau terlalu mahal untuk dijangkau oleh calon wisatawan.
• Tantangan pemanfaatan peluang pariwisata oleh komunitas dan pengusaha lokal.
Penyelenggaraan pariwisata di banyak wilayah di Indonesia didominasi oleh investor asing, termasuk dalam hal kepemilikan sarana dan prasarana (sarpras). Bagi pengusaha lokal, memanfaatkan peluang pariwisata sering kali menjadi tantangan tersendiri, karena kurangnya akses modal, kapasitas, keterampilan dan pengalaman dalam membangun usaha pariwisata bahari yang berkelanjutan. Hal ini terutama terjadi pada wirausahawan yang ingin membangun pariwisata kelas atas - yang sering kali merupakan pilihan yang disukai di kawasan lindung karena memberikan pendapatan per kapita yang jauh lebih tinggi dan dampak yang lebih rendah - karena perusahaan tersebut memerlukan sumber daya dan keahlian yang cukup untuk
memberikan produk pariwisata berkualitas tinggi, serta pemasaran dan manajemen internasional yang sesuai.
• Kurangnya aliran manfaat yang jelas ke komunitas lokal.
Agar keberadaan pariwisata dapat menjadi insentif bagi masyarakat untuk melestarikan dan melindungi suatu kawasan, maka harus ada pengaliran manfaat yang jelas dari kegiatan wisata kepada masyarakat setempat. Jika ini tidak dilaksanakan dengan tepat, pariwisata malah bisa menjadi 'disinsentif (hambatan)' kepatuhan lokal terhadap peraturan Kawasan Konservasi. Hal semacam ini terjadi khususnya ketika kepentingan nelayan setempat bertentangan dengan kepentingan perusahaan pariwisata; dan penting untuk mengajak para nelayan (sebagai pemangku kepentingan utama kelautan di wilayah mana pun) berkonsultasi terkait dengan pengembangan pariwisata di suatu daerah, dan memberi mereka peluang untuk terlibat bersama perusahaan pariwisata sejauh memungkinkan (baik melalui penjualan langsung produk laut atau melalui peluang mata pencaharian alternatif atau tambahan).
• Kurangnya kejelasan mengenai daya dukung situs.
Untuk menghindari dampak negatif pariwisata di Kawasan Konservasi, penting bahwa jumlah pengunjung di suatu daerah (dan jumlah kegiatan wisata terkait, misalnya scuba diving), berada dalam 'daya dukung' situs.
Namun, hanya sedikit Kawasan Konservasi yang telah melaksanakan penilaian daya dukung, serta masih terbatasnya keterampilan untuk melakukan penilaian tersebut di banyak Kawasan Konservasi di Indonesia.
• Kurangnya koordinasi antar instansi yang bertanggung jawab atas pariwisata.
Di dalam Kawasan Konservasi, pengelolaan dan promosi pariwisata dapat melibatkan banyak instansi, baik di tingkat lokasi/kabupaten, maupun di tingkat provinsi. Koordinasi di dalam dan antarlembaga ini sangat penting, terutama antara pengawas provinsi dan pelaksana lokal. Kurangnya koordinasi akan menghalangi investor dan menimbulkan tantangan bagi pengusaha pariwisata yang harus memenuhi banyak dan beragam persyaratan dari lembaga yang berbeda-beda.
• Kurangnya proses sistematis untuk memastikan retensi lokal atas dana yang dihasilkan.
Kegiatan pariwisata dapat menghasilkan pendapatan yang cukup besar, tidak hanya untuk bisnis pariwisata lokal dan masyarakat, tetapi juga berpotensi mendukung pengelolaan Kawasan Konservasi secara langsung.
71 kawasan lindung di seluruh dunia untuk menyediakan sumber daya keuangan untuk pengelolaan situs. Namun, di Indonesia, pembebanan biaya dan retensi pendapatan yang dihasilkan terbilang rumit. TUF sulit diterapkan pada unit pengelolaan Kawasan Konservasi yang dipimpin negara kecuali jika terdapat komponen BLUD (untuk informasi lebih lanjut tentang komponen BLUD, lihat bagian BK 5 Pembiayaan Non Anggaran Negara (f)).
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dikumpulkan di wilayah ini juga tidak disimpan di tingkat lokal, melainkan diserahkan ke pemerintah pusat. Oleh karena itu, penting untuk menyediakan mekanisme yang memungkinkan hasil pendapatan di tingkat lokal tetap tersedia di tingkat wilayah tersebut.
Selain itu, tantangan lain dalam wisata bahari berkelanjutan antara lain:
degradasi lingkungan dan ekosistem karena faktor alam dan manusia;
karakteristik sosial budaya masyarakat yang berbeda dengan pengunjung/wisatawan; serta kurangnya pendampingan. Wisata berkelanjutan tidak hanya melalui optimalisasi pemanfaatan jasa kelautan tetapi juga strategi menentukan destinasi wisata sebagai destinasi wisata masal atau wisata terbatas sesuai daya dukung suatu kawasan wisata agar tercapai tujuan berkelanjutan yang diharapkan yaitu kelanjutan usaha wisata dan kelanjutan ekosistem dan lingkungan sebagai asset wisata.
(4) Penelitian dan Pendidikan
Kawasan Konservasi menyediakan sumber daya penting untuk kegiatan penelitian dan pendidikan. Kawasan ini menyediakan situs pembelajaran untuk berbagai pemangku kepentingan, mulai dari anak sekolah dan kelompok masyarakat, hingga mahasiswa dan peneliti internasional. Peraturan zonasi Kawasan Konservasi memungkinkan zona tertentu untuk kegiatan penelitian dan pendidikan dapat dilakukan serta menyediakan situs penting untuk penelitian komparatif tentang dampak antropogenik di lingkungan perairan dan pesisir.
Meskipun demikian, terdapat beberapa tantangan di seluruh Kawasan Konservasi di Indonesia yang menghambat pemanfaatan lokasi penelitian dan pendidikan secara efektif, meliputi yang berikut ini.
• Kurangnya infrastruktur penelitian dan pendidikan.
Hampir tidak ada Kawasan Konservasi di Indonesia yang memiliki fasilitas memadai untuk kegiatan penelitian (seperti laboratorium lapangan, akomodasi peneliti dan area penelitian). Selain itu, infrastruktur di Kawasan
Konservasi kurang mendukung penelitian (seperti akses internet dan ketersediaan transportasi (baik transportasi air maupun darat) serta peralatan penelitian lapangan seperti tangki scuba dan sejenisnya, terutama di daerah Kawasan Konservasi yang lebih terpencil).
• Proses yang rumit dan panjang untuk mendapatkan izin penelitian.
Sesuai dengan peraturan No. 41 tahun 2006, semua peneliti asing yang ingin melakukan kegiatan penelitian di Indonesia harus mendapatkan izin resmi dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). Peneliti internasional dan domestik juga diharuskan memiliki izin untuk memasuki Kawasan Konservasi (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi/Simaksi) jika hendak melakukan penelitian di dalam kawasan lindung. Proses untuk memperoleh izin ini dapat memakan waktu lama, karena panel peninjauan proposal hanya melakukan pertemuan sebulan sekali. Namun dalam beberapa tahun terakhir, telah ada perbaikan untuk mulai merampingkan proses ini, terutama dengan diperkenalkannya aplikasi online (frp.ristekdikti.go.id).
• Kurangnya situs Kawasan Konservasi percontohan di Indonesia yang menampilkan potensi penelitian.
Tanpa upaya menampilkan Kawasan Konservasi dalam negeri, contohnya fasilitas penelitian dan pendidikan yang memadai, situs Kawasan Konservasi lain akan sulit untuk memiliki model/standar tertentu yang dapat dijadikan panutan.
• Kurangnya unit pengelolaan Kawasan Konservasi yang memanfaatkan hasil penelitian untuk pengelolaan adaptif.
Idealnya, hasil penelitian yang dilakukan di Kawasan Konservasi harus dibagikan kepada unit pengelolaan Kawasan Konservasi terkait, dan temuan tersebut dimanfaatkan oleh pengelola untuk merespons secara efektif dan mengoptimalkan pengelolaan situs secara adaptif. Namun, kurangnya unit pengelola yang mapan di Kawasan Konservasi di seluruh negeri mengindikasikan bahwa temuan penelitian sering kali hanya berada dalam ranah akademis dan tidak dimanfaatkan dengan tepat untuk pengelolaan.
73 Kondisi yang Diharapkan
Di semua bidang pemanfaatan Kawasan Konservasi - perikanan, budidaya, pariwisata dan penelitian - beberapa prinsip utama berikut ini perlu diperhatikan.
• Setiap kegiatan pemanfaatan harus berada dalam daya dukung Kawasan Konservasi dan dampak apa pun dari pemanfaatan tidak boleh melebihi daya tampung situs. Selain itu, setiap kegiatan pemanfaatan tidak boleh mengganggu atau mengurangi fungsi utama perlindungan Kawasan Konservasi.
• Kegiatan pemanfaatan harus dilaksanakan sedemikian rupa untuk mengoptimalkan potensi ekonomi daerah sekaligus meminimalkan dampak.
• Masyarakat lokal yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan Konservasi harus menjadi penerima utama hasil kegiatan pemanfaatan. Manfaat tersebut seharusnya tidak hanya sebagai hasil dari ketenagakerjaan lokal atau peluang pekerja, tetapi juga harus terkait dengan kepemilikan dan pemberdayaan masyarakat lokal.
• Kawasan Konservasi harus dilengkapi dengan prasarana dan fasilitas yang mendukung kegiatan pemanfaatan yang berkelanjutan. Hal ini dapat mencakup infrastruktur dasar (seperti listrik, komunikasi, air bersih, fasilitas pengolahan air limbah (Instalasi Pengolahan Air Limbah/IPAL dan bahan bakar) hingga fasilitas khusus sektor (seperti infrastruktur perikanan, pusat informasi pariwisata, fasilitas penelitian, dan lain-lain).
• Setiap kegiatan pemanfaatan yang dilakukan di dalam suatu Kawasan Konservasi harus memenuhi kriteria keberlanjutan yang sesuai dan sumber daya manusia yang sesuai harus tersedia untuk mendukung peralihan menuju pemanfaatan yang berkelanjutan. Hal ini termasuk misalnya, memastikan nelayan memahami praktik ramah lingkungan, mematuhi semua batasan atau peraturan terkait perikanan di dalam Kawasan Konservasi dan memastikan bahwa setiap kegiatan pariwisata memenuhi standar layanan berkelanjutan.
• Pemanfaatan di dalam suatu Kawasan Konservasi harus senantiasa sesuai
• Pemanfaatan di dalam suatu Kawasan Konservasi harus senantiasa sesuai