Kondisi Sekarang
Tindakan Efektif Lainnya untuk Konservasi Berbasis Area (OECM) diadopsi pada Konferensi Penandatangan (CoP) ke-14 Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) pada tahun 2018 (Keputusan No. 8/14), dan didefinisikan sebagai berikut:
“Area selain dari Kawasan Lindung yang secara geografis ditetapkan, diatur dan dikelola melalui suatu cara, dan dalam jangka panjang mencapai hasil yang positif dan berkelanjutan untuk konservasi in-situ keanekaragaman hayati dengan fungsi dan layanan ekosistem terkait dan jika memungkinkan, budaya,
spiritual, sosial ekonomi, dan nilai-nilai lainnya di wilayah setempat.”
CBD/COP/DEC/14/8 – November 2018
Keputusan yang disepakati antara lain adalah untuk:
• mendorong para pihak (negara anggota CBD) untuk "..mengidentifikasi OECM dan beragam opsi yang mereka miliki dalam yurisdiksi mereka", dan untuk menyerahkan "data tentang OECM ke Pusat Pemantauan Konservasi Dunia Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP-WCMC) untuk disertakan dalam Database Dunia tentang Kawasan Lindung ”(Pasal 5);
• mendesak para pihak untuk memfasilitasi pengarusutamaan kawasan lindung dan OECM ke dalam sektor-sektor utama… (termasuk) perikanan”(Pasal 12).
Disertakannya OECM dalam Peta Jalan Pengembangan Kawasan Konservasi Indonesia mengacu pada sejumlah kesepakatan internasional berskala luas di atas, sebagaimana tertuang dalam Global Biodiversity Framework Post 2020.
Hal ini menyatakan bahwa komitmen untuk menjaga keanekaragaman hayati tidak hanya dicapai dengan pembentukan kawasan lindung, tetapi juga dengan mempertimbangkan wilayah yang dikelola secara efektif dan yang berdampak positif terhadap keanekaragaman hayati di luar kawasan lindung yang formal.
Berdasarkan definisinya, OECM merupakan pendekatan yang sangat relevan untuk mendorong konservasi sumber daya kelautan dan perikanan di Indonesia; terutama dengan mempertimbangkan skala geografis, keanekaragaman dan luasnya habitat perairan, serta konteks rentang sosial
ekonomi di seluruh nusantara, sehingga Indonesia dapat memenuhi target nasionalnya sendiri maupun target yang diuraikan dalam Global Biodiversity Framework Post 2020 (yaitu melestarikan 30 persen wilayah laut dunia melalui pembentukan Kawasan Konservasi dan OECM).
Baik Kawasan Konservasi maupun OECM yang dibentuk secara tradisional diharapkan akan menghasilkan konservasi keanekaragaman hayati in-situ jangka panjang dan efektif. Meskipun demikian, apabila kawasan lindung dapat memiliki suatu konservasi alam sebagai tujuan pengelolaan utama, OECM belum tentu memiliki konservasi alam tersebut sebagai tujuan.
Sebaliknya, konservasinya dapat meliputi tujuan:
1) primer - meliputi, misalnya, kawasan yang dikelola secara lokal/adat dan kawasan lindung/konsesi yang dikelola secara pribadi atau perjanjian konservasi laut (MCA).
2) sekunder - mis. kawasan yang dikelola untuk pemanfaatan berkelanjutan yang memberikan manfaat sekunder dari konservasi keanekaragaman hayati dan dukungan jasa ekosistem.
3) tambahan - mis. kawasan yang dikelola untuk tujuan budaya/lainnya yang menghasilkan efek samping konservasi keanekaragaman hayati.
Terlepas OECM memiliki tujuan konservasi keanekaragaman hayati primer, sekunder atau tambahan, semuanya harus:
• digambarkan dengan tepat secara geografis,
• diatur,
• dikelola,
• memiliki hasil yang positif bagi keanekaragaman hayati in situ, dan
• ditetapkan untuk jangka panjang.
Melalui OECM, pemangku kepentingan dan mitra yang lebih luas dapat dilibatkan untuk mendukung upaya konservasi global.
OECM di Indonesia
Di Indonesia, ada banyak jenis wilayah laut dan pesisir yang 'dikelola' di luar Kawasan Konservasi resmi. Namun, belum ada definisi yang jelas mengenai mana yang dapat, atau seharusnya, berpotensi disebut sebagai OECM.
Dalam beberapa bulan terakhir, lokakarya-lokakarya nasional diadakan untuk membahas OECM (September 2019 dan Januari 2020) dan telah berhasil mengidentifikasi beberapa wilayah potensial untuk dipertimbangkan (termasuk wilayah tenurial laut, situs militer/pertahanan, dan wilayah rezim perikanan tertentu). Namun, hingga saat ini tidak ada mekanisme untuk menyertakan atau mengakui OECM (setelah diidentifikasi dengan jelas) supaya
117 diperhitungkan sebagai target Pemerintah Indonesia, serta target yang terkait dengan komitmen internasional.
Kondisi yang Diharapkan
Berdasarkan lokakarya nasional, lokakarya pengembangan Kawasan Konservasi dan berbagai diskusi serta pertemuan yang pernah diselenggarakan sejauh ini, telah disepakati bahwa OECM, atas kontribusinya terhadap konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan perikanan berkelanjutan, akan bermanfaat bagi Indonesia, tidak hanya terkait kontribusinya terhadap target pemerintah, tetapi juga dalam hal penggalian kerangka tata kelola alternatif untuk meningkatkan pengelolaan laut dan pesisir.
Dari sejumlah kategori lokasi OECM potensial yang diidentifikasi, masing-masing memiliki masalah dan tantangan khusus yang perlu dieksplorasi dan ditangani lebih lanjut untuk lebih menyempurnakan definisi OECM bagi Indonesia dan mengembangkan mekanisme yang sesuai untuk penyertaannya ke dalam target Pemerintah Indonesia secara transparan dan akuntabel (lihat Tabel 7).
Selain tantangan-tantangan khusus terkait kategori sebagaimana diuraikan pada Tabel 7, tercatat pula bahwa terdapat sedikit atau bahkan tidak ada peraturan mengenai pengelolaan keanekaragaman hayati pesisir dan laut di luar Kawasan Konservasi yang diakui secara formal. Selain itu, regulasi yang ada menetapkan Pemerintah (pusat dan daerah) sebagai pelaksana pengelolaan formal melalui UU No. 31 Tahun 2004 Jo UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan dan UU No. 27 Tahun 2007 Jo UU No. 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Meskipun demikian, masyarakat pesisir (lokal, tradisional, adat) memiliki hak untuk mengelola sumber daya laut. UU No. 1 Tahun 2014 menguraikan hak untuk menyelenggarakan kegiatan pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil berdasarkan hukum adat yang berlaku, dan tidak bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan (Pasal 60); dan UU No. 27 Tahun 2007 mengakui, menghormati dan melindungi hak-hak penduduk asli, masyarakat adat dan kearifan lokal wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang telah dimanfaatkan secara turun-temurun (Pasal 61).
Tabel 7: Kategori dan Tantangan Khusus Area OECM Potensial di Indonesia KATEGORI OECM
POTENSIAL KAWASAN POTENSIAL MASALAH
KAWASAN PERIKANAN
• Kawasan tertutup dalam WPP 714
• Area pendukung stok ikan buatan (Apartemen ikan)
• Kawasan pengelolaan perairan dalam
• Kawasan Ekosistem Esensial (bakau)
• Zona pengelolaan tuna (misalnya Banda)
• Zona larang tangkap di Laut Dalam di laut lepas
• Area distrik yang memberlakukan larangan hiu dan pari
• 15 wilayah pesisir Masyarakat Hukum Adat (MHA)
• LMMA
• Kawasan di bawah kewenangan Panglima Laut, awig-awig, sasi, Papadak/hoholok-kelautan, pengelola Mane'e (khusus wilayah)
• Wilayah pengelolaan spesies yang diatur oleh desa
• Daerah perlindungan laut (DPL) (Kawasan Konservasi desa)
• Area tabu/sakral
• TURF dan kawasan RBFM lainnya yang didirikan (di luar Kawasan Konservasi)
• Situs yang dikesampingkan melalui Perjanjian Konservasi
• Situs Perjanjian Konservasi Laut (MCA) (mis. Misool)
• Platform/area konsesi Minyak dan Gas
• Area tambang (mis. Perang Dunia II)
119 Tabel 7: Kategori dan Tantangan Khusus Area OECM Potensial di Indonesia
KATEGORI OECM
POTENSIAL KAWASAN POTENSIAL MASALAH
mengevaluasi tata kelola mereka.
Oleh karena itu, mengembangkan definisi dan kriteria OECM dengan jelas dalam konteks Indonesia, mengidentifikasi situs-situs yang memenuhi kriteria tersebut di seluruh Indonesia, menilai kelayakannya untuk diakui sebagai OECM dan menyertakannya dalam kerangka kerja nasional merupakan hal-hal penting yang perlu dilakukan selanjutnya.
TUJUAN PENGELOLAAN STRATEGIS & PEMANGKU KEPENTINGAN UTAMA DALAM PELAKSANAAN BK 6
Untuk beralih dari kondisi sekarang ke kondisi yang diharapkan, berikut ini adalah tujuan-tujuan strategis yang telah diidentifikasi, beserta pemangku kepentingan utama yang akan dilibatkan dalam pelaksanaan.
BK 6 -1 Mengembangkan definisi dan kriteria OECM dengan jelas dalam konteks Indonesia.
Definisi ini harus sejalan dengan definisi IUCN mengenai OECM (secara global), tetapi secara khusus disesuaikan dengan konteks Indonesia (dengan contoh).
Definisi ini juga harus secara jelas menguraikan perbedaan antara OECM dan kawasan lindung yang diakui secara resmi. Upaya untuk mengembangkan definisi tersebut akan mencakup yang berikut ini:
6 -1a Melakukan konsultasi multi pemangku kepentingan di tingkat nasional untuk mengembangkan definisi yang disepakati.
Ketua: Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL).
Pendukung: LSM dan Mitra Konservasi.
6 -1b Mempersiapkan materi yang dibutuhkan untuk landasan hukum dan pengakuan OECM berdasarkan definisi yang disepakati.
Ketua: KHHL. Pendukung: Bagian Hukum,
Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL), LSM dan Mitra Konservasi.
BK 6 -2 Membangun payung hukum bagi pengakuan OECM di Indonesia.
Tujuan ini memerlukan tinjauan kebijakan, dan mengidentifikasi mekanisme hukum yang paling sesuai yang diperlukan untuk mengakui kontribusi OECM terhadap target Pemerintah Indonesia, serta target yang terkait komitmen internasional.
6 -2a Meninjau dan mengidentifikasi mekanisme hukum yang diperlukan untuk mengakui OECM.
Ketua: Bagian Hukum, Ditjen PRL. Pendukung: KKHL, KemenKP, Biro Hukum KemenKP.
6 -2b Menginternalisasi OECM ke dalam Revisi UU Perikanan (UU Perikanan).
Ketua: Bagian Hukum, Ditjen PRL. Pendukung: KKHL, Biro Hukum KemenKP.
121 6 -2c Internalisasi OECM ke dalam revisi Peraturan Pemerintah tentang Konservasi Sumber Daya Ikan (PP No. 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan).
Ketua: Bagian Hukum, Ditjen PRL. Pendukung: KKHL, Biro Hukum KemenKP.
6 -2d Mengembangkan Peraturan Menteri tentang Operasi Pendukung OECM.
Ketua: Bagian Hukum, Ditjen PRL. Pendukung: KKHL, Biro Hukum KemenKP.
BK 6 -3 Mengidentifikasi dan mendaftarkan lokasi potensial untuk
mendapatkan pengakuan sebagai OECM berdasarkan definisi dan kriteria yang dikembangkan (dalam tujuan 6-1).
6 -3a Mengidentifikasi lokasi OECM potensial.
Ketua: KKHL. Pendukung: Direktorat Pemanfaatan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (P4K), Direktorat Jasa Kelautan, Direktorat Sumber Daya Ikan – Perikanan Tangkap (SDI-PT), Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen. PRL, Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Kementerian Pariwisata (Kemenpar), LSM dan Mitra Konservasi.
6 -3b Memilih lokasi OECM yang perlu diakui berdasarkan kriteria OECM Indonesia melalui proses penyaringan.
Ketua: KKHL. Pendukung: LSM dan Mitra Konservasi.
6 -3c Menggambarkan secara tepat lokasi OECM yang teridentifikasi (data spasial).
Ketua: KKHL. Pendukung: Pusat Hidrografi Oseanografi Angkatan Laut (Pushidros AL), LSM dan Mitra Konservasi.
BK 6 -4 Mengembangkan sistem operasi standar (SOP) untuk identifikasi, pengumpulan data dan penilaian efektivitas OECM.
6 -4a Mengembangkan SOP untuk kriteria seleksi OECM.
Ketua: KKHL. Pendukung: UPT Ditjen. Mitra Konservasi, unit pengelola terkait.
6 -4b Mengembangkan SOP pengumpulan data jangka panjang yang sistematis dari OECM.
Ketua: KKHL. Pendukung: UPT Ditjen. PRL, Mitra Konservasi, unit pengelola terkait.
6 -4c Mengembangkan SOP untuk menilai tingkat 'efektivitas' dan 'dampak' OECM dalam mendukung target Pemerintah Indonesia..
Ketua: KKHL. Pendukung: UPT Ditjen. PRL, Mitra Konservasi, unit pengelola terkait.
BK 6 -5 Mensosialisasikan dan memberikan pelatihan tentang tiga SOP untuk memantau dan mengukur dampak OECM terhadap keanekaragaman hayati.
6 -5a Mensosialisasikan tiga SOP OECM - (a) kriteria OECM, (b) pengumpulan data OECM, dan (c) pemantauan efektivitas dan dampak OECM.
Ketua: KKHL. Pendukung: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi (DKP) terkait, Mitra Konservasi, unit pengelola terkait.
6 -5b Memberikan pelatihan pelaksanaan SOP kepada instansi, kantor dan rekanan terkait.
Ketua: KKHL. Pendukung: Kantor DKP terkait, Mitra Konservasi, unit pengelola terkait.
BK 6 -6 Memanfaatkan SOP untuk menilai tingkat 'efektivitas' dan 'dampak' OECM bagi konservasi keanekaragaman hayati dan perikanan pesisir dan laut, sebagai kontribusi terhadap target Pemerintah Indonesia.
6 -6a Mengumpulkan data (sesuai SOP) tentang dampak kawasan OECM terhadap keanekaragaman hayati.
Ketua: UPT Ditjen. PRL. Pendukung: KHHL, DKP Provinsi terkait, Mitra Konservasi, unit pengelola terkait.
6 -6b Menilai tingkat efektivitas situs OECM.
Ketua: KKHL. Pendukung: Kantor DKP terkait, Mitra Konservasi, unit pengelola terkait.
BK 6 -7 Mendorong kemitraan antara OECM dan Kawasan Konservasi proksimal untuk memajukan konservasi dan pengelolaan jaringan ekologi yang berkelanjutan.
Hal ini termasuk melakukan studi biofisik untuk menentukan konektivitas
123 potensialnya dalam mendukung jaringan ekologi dan keutuhan suatu wilayah;
serta mempelajari kontribusi OECM terhadap perlindungan habitat kritis (terumbu, bakau dan lamun) dan terhadap perlindungan spesies langka, terancam punah dan dilindungi (ETP).
Ketua: KKHL. Pendukung: Kantor DKP terkait, Mitra Konservasi, unit pengelola terkait.
BK 6 -8 Melaporkan OECM Indonesia yang berkontribusi terhadap target Pemerintah Indonesia dalam perjanjian dan komitmen yang relevan.
Hal ini termasuk melaporkan OECM ke PBB (Sekretariat CBD) melalui National Focal Point (NFP) CBD Indonesia, serta menyerahkan informasi dan data tentang OECM ke UNEP-WCMC dan IUCN.
Ketua: NFP CBD. Pendukung: KKHL, LSM dan Mitra Konservasi.
Alur waktu berikut menunjukkan peta jalan untuk mengimplementasikan tujuan di atas. 6.1. Mengembangkan definisi dan kriteria OECM dengan
jelas dalam konteks Indonesia.
6.1a. Melakukan konsultasi multi pemangku
kepentingan di tingkat nasional untuk mengembangkan
definisi yang disepakati.
6.1b. Mempersiapkan materi yang dibutuhkan untuk landasan hukum dan pengakuan OECM berdasarkan
definisi yang disepakati.
6.2. Membangun payung hukum bagi pengakuan OECM
di Indonesia.
6.2a. Meninjau dan mengidentifikasi mekanisme hukum
yang diperlukan untuk mengakui OECM.
6.2b. Menginternalisasi OECM ke dalam Revisi UU
Perikanan (UU Perikanan).
6.2c. Internalisasi OECM ke dalam revisi Peraturan Pemerintah tentang Konservasi Sumber Daya Ikan (PP
No. 60 Tahun 2007).
6.2d. Mengembangkan Peraturan Menteri tentang
Operasi Pendukung OECM.
6.3 Mengidentifikasi dan mendaftarkan lokasi potensial untuk mendapakan pengakuan sebagai OECM
berdasarkan definisi dan kriteria yang dikembangkan (dalam tujuan 6-1).
6.4. Mengembangkan sistem operasi standar (SOP) untuk identifikasi OECM, pengumpulan data dan
penilaian efektivitas.
Peta Jalan 2020 2021 2022 2023
2024 - 2027
2027 - 2030 6.5. Mensosialisasikan dan memberikan pelatihan
tentang tiga SOP untuk memantau dan mengukur
dampak OECM terhadap keanekaragaman hayati.
6.5a. Mensosialisasikan tiga SOP OECM - (a) kriteria OECM, (b) pengumpulan data OECM, dan (c)
pemantauan efektivitas dan dampak OECM.
6.5b. Memberikan pelatihan pelaksanaan SOP kepada
instansi, kantor dan rekanan terkait.
6.6. Memanfaatkan SOP untuk menilai tingkat 'efektivitas' dan 'dampak' OECM bagi konservasi
keanekaragaman hayati dan perikanan pesisir dan laut, sebagai kontribusi terhadap target Pemerintah
Indonesia.
6.7. Mendorong kemitraan antara OECM dan Kawasan Konservasi proksimal untuk memajukan konservasi dan pengelolaan jaringan ekologi yang berkelanjutan.
6.8. Melaporkan OECM Indonesia yang berkontribusi terhadap target Pemerintah Indonesia dalam perjanjian
dan komitmen yang relevan.
Gambar 18: Alur waktu pelaksanaan tujuan pengelolaan strategis BK 6.
125