BAB IV. Analisis Proyeksi
B. Pemanfaatan Hutan pada Wilayah Tertentu
D. Pembinaan dan pemantauan (Controlling) pada areal KPH yang telah ada ijin pemanfaatan maupun penggunaan kawasan hutan
E. Penyelenggaraan rehabilitasi pada areal di luar ijin
F. Pembinaan dan pemantauan (Controlling) pelaksanaan rehabilitaasi dan reklamasi pada areal yang sudah ada ijin pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan
G. Penyelenggaraan perlindungan hutan dan konservasi alam
H. Penyelenggaraan koordinasi dan sinkronisasi antar pemegang ijin
I. Koordinasi dan sinergi dengan Instansi dan Pemangku terkait
J. Penyediaan dan peningkatan kapasitas SDM K. Penyediaan pendanaan.
L. Pengembangan database M. Rasionalisasi wilayah kelola.
N. Review Rencana Pengelolaan (minimal 5 tahun sekali)
72
BAB V
RENCANA KEGIATAN
Dalam rangka mencapai tujuan seperti yang dikemukakan pada visi dan misi sepuluh tahun ke depan, perlu dibuat rencana, tata waktu serta target dari kegiatan yang dilakukan. Rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh KPHL XXVI dalam kurun waktu 10 tahun dijabarkan dalam sebagai berikut:
A. Inventarisasi Berkala Wilayah Kelola dan Penataan Hutan
Inventarisasi hutan merupakan rangkaian kegiatan pengumpulan data untuk mengetahui keadaan dan potensi sumber daya hutan serta lingkungannya secara lengkap pada seluruh wilayah KPHL Unit XXVI Sumatera Utara. Hasil inventarisasi digunakan sebagai dasar dalam penataan petak/blok dan penyusunan rencana pengelolaan hutan, sehingga perencanaan yang disusun dapat mengakomodir berbagai kepentingan para pihak. Program ini merupakan pelaksanaan dari misi ke-2 dari KPHL XXVI yaitu mengenai tata kelola wilayah. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, beberapa kegiatan yang akan dilakukan oleh KPHL Unit XXVI yaitu:
1. Inventarisasi biogeofisik secara berkala yang meliputi inventarisasi hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu, satwa liar, jasa lingkungan dan potensi air. Hasil inventarisasi ini penting untuk membuat perencanaan pemanfaatan yang optimal. 2. Inventarisasi kondisi ekonomi, sosial dan budaya masyarakat sekitar hutan.
Inventarisasi ini dilakukan untuk mengetahui tingkat perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, tingkat pendidikan sampai budaya yang dikembangkan masyarakat sekitar hutan, termasuk didalamnya cara mereka memanfaatkan hasil hutan. Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap terhadap desa-desa yang berada di 11 kecamatan yang masuk kawasan wilayah kelola KPHL XXVI.
3. Sosialisasi tata batas kawasan. Kegiatan Sosialisasi ini dilakukan dalam rangka memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai arti pentingnya tata batas, kegunaan, fungs beserta kemungkinan sanksi yang diakibatkan karena melanggar tata batas. Hal tersebut perlu dilakukan karena hasil survey yang dilakukan oleh Tim, menunjukkan sebagian besar masyarakat tidak mengetahui adanya tata batas hutan
4. Pemeliharaan dan penanaman jalur batas. Kegiatan penanaman di jalur batas berfungsi untuk memberikan tanda kepada masyarakat mengenai batas kawasan
73
KPH dengan pemukiman dan lahan masyarakat. Masyarakat diharapkan ikut berperan dalam kegiatan pemeliharaan tanaman yang telah ditanam di jalur batas tersebut.
5. Rekonstruksi batas kawasan. Rekonstruksi batas kawasan adalah pengukuran dan pemasangan tanda batas serta pembuatan garis atau proyeksi batas ulang sesuai dengan posisi pada peta tata batasnya. Tujuan kegiatan ini adalah mengembalikan posisi atau letak tanda batas (pal batas) kawasan hutan yang telah dikukuhkan sehingga batas-batas kawasan hutan sesuai dengan keadaan batas pada saat dikukuhkan.
6. Penataan blok dan petak. Wilayah KPHL terbagi menjadi 7 (tujuh) blok yaitu HL Blok Inti, HL Blok Pemanfaatan, HP Blok Pemanfaatan HHK-HA, HP Blok Pemanfaatan HHK-HT, HP Blok Pemanfaatan Jasling HHBK, HP blok Pemberdayaan dan HP Blok Perlindungan. Blok-blok ini akan ditata dengan melakukan groundcheck di lapangan yang disesuaikan dengan peta blok yang telah dibuat oleh BPKH Wilayah I Medan. Penataan terhadap blok dan petak ini dilakukan secara bertahap dan dimulai dari tahun ke-2.
7. Identifikasi pola keterkaitan hubungan masyarakat dengan hutan. Identifikasi ini dilakukan dengan melakukan survey terhadap masyarakat di seluruh wilayah kelola untuk mengetahu, harapan apa yang mereka inginkan dari keberadaan hutan, tindakan yang dilakukan untuk menjaga hutan, ataukah adanya tradisi tertentu dalam pemanfaatan hasil hutan.
8. Identifikasi kearifan lokal yang berkaitan dengan pengelolaan hutan.
B. Pemanfaatan hutan pada wilayah tertentu
Program pemanfaatan hutan pada wilayah tertentu merupakan pelaksanaan dari misi ke 2 (dua) yaitu Mewujudkan skema kelestarian produksi, dan mengembangkan secara aktif kegiatan produktif yang berkelanjutan pada wilayah di KPHL XXVI, mengembangkan usaha pemanfaatan hutan yang optimal namun tetap memegang prinsip-prinsip kelestarian. Seperti telah diketahui, wilayah kelola KPHL Unit XXVI dibagi kedalam 7 (tujuh) blok pengelolaan yaitu (1). Blok inti (2) Blok pemanfaatan (3) Blok pemanfaatan HHK-HA (4) Blok pemanfaatan hasil hutan kayu-hutan tanaman (HHK-HT), blok Pemanfaanfaatan Jasling dan HHBK, (6).Hutan produksi blok pemberdayaan (7).Blok Perlindungan (Tabel 5.1).
74 Tabel 5.1. Pembagian Blok di KPHL Unit XXVI Sumatera Utara Berdasarkan Fungsi
No Fungsi
Hutan Blok Luas (Ha)
Luas (%)
1 HL Blok Inti 2.080.03 1.19
Blok Pemanfaatan 108.694.94 62.67
2 HPT Blok Pemanfaatan HHK-HA 6.040.53 3.48
Blok Pemanfaatan HHK-HT 2.642.87 1.52
Blok Pemanfaatan Jasling&HHBK 4.983.94 2.87
Blok Pemberdayaan 29.713.44 17.13
Blok Perlindungan 1.577.64 0.9
3 HP Blok Pemberdayaan 7.807.83 4.50
Blok Pemanfaat Jasling dan HHBK 115.24 0.06
Blok Pemanfaatan HHK-HT 9.785.39 5.64
Luas Total 173.441.87 100
Sumber: BPKH Wilayah I Medan (2015)
Untuk pencapaian tujuan pemanfaatan hutan di wilayah tertentu dan tujuan terwujudnya kerjasama investasi rencana kegiatan yang akan dilaksanakan adalah :
a. Membangun hutan pinus dan kemenyan di KPHL Unit XXVI
Pembangunan hutan pinus dan kemenyan ini dapat dilakukan dengan mekanisme yaitu kemitraan dengan investor di wilayah tertentu KPH yang lahannya telah sesuai. Hutan pinus dan kemenyan yang ditargetkan masing-masing luasannya ± 8.000 Ha. Pembangunan hutan hutan pinus dan kemenyan akan dilaksanakan secara bertahap mulai tahun ke-3 dengan luasan 4.000 Ha kemudian tahun ke-4 dan tahun ke-5 dengan luasan 2.000 Ha. Kegiatan dalam pembangunan hutan pinus dan kemenyan antara lain:
1) Mengidentifikasi daerah yang sesuai untuk pembangunan hutan pinus dan kemenyan berdasarkan perencanaan tata ruang dalam hubungannya dengan keterlibatan masyarakat
2) Pembangunan hutan pinus dan kemenyan akan dilaksanakan secara bertahap. 3) Memfasilitasi pembangunan hutan pinus dan kemenyan di area yang telah
ditentukan dengan keterlibatan masyarakat didalamnya
4) Membantu masyarakat untuk menentukan wilayah yang sesuai untuk pengembangan sistem agroforestri atau usaha terkait yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat
5) Memberikan pelatihan dasar dan dukungan teknis yang diperlukan untuk memfasilitasi praktek pengelolaan terbaik dalam sistem agroforestri
75
b. Pembangunan Hutan Tanaman Karet
Pembangunan Hutan Tanaman Karet dilakukan mengingat banyaknya masyarakat dan investor di daerah Padang Lawas yang mengusahakan karet. Kegiatan ini sekaligus, menghindarkan dari aktifitas ilegall pembangunan hutan karet di areal KPHL Unit XXVI. Mekanisme pembangunan dilaksanakan sebagaimana hutan pinus dan kemenyan, dilaksanakan secara kemitraan dengan investor di wilayah tertentu KPH yang lahannya telah sesuai. Direncanakan hutan karet yang dibangun seluas 4.000 Hektar dan dilakukan secara bertahap. Kegiatan dalam pembangunan hutan karet antara lain:
1) Mengidentifikasi daerah yang sesuai untuk pembangunan hutan karet berdasarkan perencanaan tata ruang dalam hubungannya dengan keterlibatan masyarakat
2) Pembangunan hutan karet secara bertahap.
3) Memfasilitasi pembangunan hutan karet di area yang telah ditentukan dengan keterlibatan masyarakat didalamnya
4) Membantu masyarakat untuk menentukan wilayah yang sesuai untuk pengembangan sistem agroforestri atau usaha terkait yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat
5) Memberikan pelatihan dasar dan dukungan teknis yang diperlukan untuk memfasilitasi praktek pengelolaan terbaik dalam sistem agroforestri
c. Kemitraan Hutan Tanaman
Kemitraan hutan tanaman merupakan salah satu kegiatan restorasi ekosistem. Konsep kemitraan hutan tanaman adalah pemberdayaan masyarakat dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tersebut namun tetap menjaga kelestarian hutan. Pada kegiatan Kemitraan Hutan Tanaman digunakan sistem agroforestri dalam memanfaatkan kawasan. masyarakat dengan melakukan penananam pohon dan tanaman palawija sekaligus. Untuk pohon yang ditanam tergantung pada kondisi lahan dan juga dominasi tanaman yang sudah ada tumbuh baik di lahan tersebut. Kemitraan Hutan Tanaman ini dapat dilakukan dengan beberapa mekanisme yaitu, kemitraan dengan masyarakat, kemitraan dengan perusahaan (pemegang izin), atau kemitraan dengan investor di wilayah tertentu KPH yang lahannya telah sesuai. Kemitraan Hutan Tanaman ini ditargetkan luasannya ± 20.000 Ha. Salah satu arahan pada Kemitraan Hutan Tanaman adalah memanfaatkan hasil hutan kayu nantinya.
76
Pemanfaatan hasil hutan kayu di wilayah tertentu merupakan kewenangan KPH. Namun, saat ini belum bisa terlaksana karena regulasi teknis pemanfaatan belum ada dan KPH sendiri harus berbentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Sehingga perlu disusun strategi dan regulasi yang mengarahkan pada pemanfaatan hasil hutan kayu secara optimal oleh KPH.
Kegiatan terkait dengan Kemitraan Hutan Tanaman antara lain:
1. Assessment lokasi dan luasan serta identifikasi kondisi sosial, budaya dan ekonomi masyarakat desa
2. Pembentukan kelompok tani hutan sebagai mitra
3. Pendampingan masyarakat terhadap pengelolaan hutan dengan penerapan sistem agroforestri
4. Menyusun strategi dan regulasi pengusahaan kegiatan pemanfaatan kayu hutan alam
5. Kerjasama investasi pengembangan tanaman berkayu.
6. Peningkatan pelayanan dan pengelolaan kegiatan pemanfaatan kayu hutan alam 7. Pengembangan jaringan pengusahaan
8. Membangun mekanisme kontribusi pemanfaatan kayu di hutan alam
9. Membangun sarana dan prasarana pengembangan kegiatan pemanfaatan kayu hutan alam
d. Pembuatan pilot project untuk Jasa lingkungan
Pembangunan pilot project untuk jasa lingkungan di KPHL Unit XXVI lebih diarahkan pada pemanfaatan air dan ekowisata. Adapun kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut diantaranya:
1. Pengembangan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) 2. Pengembangan pariwisata alam
3. Pemanfaatan sumber-sumber mata air 4. Usaha air minum kemasan
5. Fasilitasi masyarakat dalam pemanfaatan potensi air
e. Pengembangan dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu di kawasan hutan baik dalam bentuk kemitraan atau bentuk lainnya
1) Mengeksplorasi aktifitas pemanfaatan HHBK di dalam KPHL misalnya rotan, kemenyan, tanaman obat, kayu manis, pasak bumi, getah pinus
77
3) Pemanfaatan tanaman hias dan tanaman obat (jika ada) 4) Fasilitasi masyarakat dalam pemanfaatan HHBK
5) Mengembangkan dan memfasilitasi kegiatan pemanfaatan HHBK dengan bekerjasama dengan masyarakat lokal, misalnya 1 produk usaha baru yang dikembangkan dalam 3 tahun dan 3 produk usaha baru dalam 5 tahun
Berdasarkan uraian diatas maka potensi blok yang terdapat di KPHL Unit XXVI dan rangkaian kegiatan yang akan dilakukan sangat beragam. Untuk Setidaknya ada 4 (empat) arahan pemanfaatan di wilayah tertentu, antara lain:
1. Perlindungan dan Rehabilitasi Lahan
Kegiatan perlindungan akan dilakukan pada HP blok perlindungan seluas 1.577.64 Hektar dan blok lain yang memiliki kekritisan lahan yang dikategorikan kritis hingga sangat kritis. Di KPHL ini dijumpai areal kritis sebesar 28% atau sekitar 48.568.44 Ha. Sedangkan kondisi sangat kritis meliputi areal seluas 35.667.32 Ha atau 20.5% Pada Hutan lindung (HL) blok inti akan lebih ditekankan khusus untuk perlindungan dan tidak dilakukan pemanfaatan apapun. 2. Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan HHBK
Pemanfaatan terhadap jasa lingkungan dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dilakukan pada hutan produksi (HP) Blok Pemanfaatan Jasling dan HHBK dan HL blok pemanfaatan. Melalui inventarisasi potensi jasa lingkungan dan HHBK yang dilakukan maka akan diperoleh potensi jasling dan HHBK sehingga bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin. Contoh potensi yang ada di KPHL Unit XXVI antara lain microhydro, getah pinus, rotan, pasak bumi, kulit manis, sumber air dan pemandangan kawasan.
3. Pemanfaatan HHK dan Pembangunan Hutan Pinus, Kemenyan dan Karet
Pemanfaatan hasil hutan kayu dilakukan pada HP blok pemanfaatan HHK-HA dan HHK-HT. Selain dapat dilakukan pemanfaatan terhadap hasil hutan kayu juga dapat dilakukan kegiatan Kemitraan Hutan Tanaman sebagai upaya pemberdayaan masyarakat. Pembangunan hutan karet yang dijadikan kegiatan utama KPH akan dilakukan juga di HP blok pemanfaatan HHK-HA dan HHK-HT.
4. Restorasi Ekosistem (Kemitraan Hutan Tanaman) dan Rehabilitasi Lahan
Restorasi ekosistem dilakukan pada HP blok pemberdayaan dan HP blok perlindungan. Restorasi ekosistem yang dilakukan KPH adalah berupa Kemitraan Hutan Tanaman. Konsep restorasi ekosistem adalah melestarikan hutan dan tetap
78
memberikan manfaat langsung kepada masyarakat berupa peningkatan pendapatan melalui penanaman tanaman semusim dibawah tegakan tanaman tahunan. Selain itu, untuk beberapa lokasi akan dilakukan rehabilitasi hutan dan lahan. Terutama pada kawasan hutan yang memang sebaiknya dijadikan fungsi lindung. Secara umum, arahan pemanfaatan pada wilayah tertentu KPHL Unit XXVI sesuai dengan fungsi dan blok dapat dilihat pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2. Arahan pemanfaatan pada wilayah tertentu pada KPHL Unit XXVI
No Blok Arahan Luas (Ha)
1 HL Blok Inti Perlindungan dan Rehabilitasi Lahan 2.080.03 2
HL Blok Pemanfaatan Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan
HHBK 108.694.94
3
HP Blok Pemanfaatan HHK-HA Pemanfaatan HHK dan Kemitraan Hutan
Tanaman 6.040.53
4
HP Blok Pemanfaatan HHK-HT PemanfaatanHHK, Pembangunan Hutan
Pinus, Kemenyan dan Karet 12.428,26 5
HP Blok Pemanfaatan Jasling&HHBK Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan
HHBK 5099.84
6
HP Blok Pemberdayaan
Restorasi Ekosistem (Kemitraan Hutan Tanaman), Pemanfaatan Hutan Tanaman Melalui HKM/HD,HTR
37.521,27 7
HP Blok Perlindungan Restorasi Ekosistem (Kemitraan Hutan
Tanaman) dan Rehabilitasi Lahan 1.577.64
Luas Total 173.441.87
Sumber: BPKH Wilayah I Medan (2015)