BAB II TINJAUAN LITERATUR
E. Pemanfaatan Koleksi Digital Talking Book
1. Definisi dan Jenis Koleksi Perpustakaan
Koleksi perpustakaan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan kriteria dan jenis sebuah perpustakaan. Artinya bahwa koleksi sebuah perpustakaan selalu dikaitkan dengan tugas dan fungsi yang harus dilaksanakan dalam rangka mencapai misi dan mewujudkan visi yang bersangkutan.21 Seperti perpustakaan khusus yang jenis koleksinya bersifat khusus hanya terbatas pada satu atau beberapa disiplin ilmu saja.
Indikator keberhasilan sebuah perpustakaan bisa diukur dari koleksi yang tersedia di dalamnya. Namun tidak hanya dilihat dari jumlah eksemplarnya saja, tetapi lebih kepada kualitas isi, banyaknya judul dan kemutakhirannya.
Di dalam buku perpustakaan dan kepustakawanan Indonesia, koleksi perpustakaan dapat terdiri dari bahan bacaan dalam bentuk karya cetak dan karya rekam.
21
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, koleksi adalah kumpulan (gambar, benda bersejarah, lukisan, dsb) yang berhubungan dengan studi penelitian. Koleksi bisa juga dikatakan sebagai bahan pustaka.
Pada umumnya jenis koleksi perpustakaan dikelompokan dalam berbagai jenis yaitu:22
a. Koleksi Umum, yaitu koleksi perpustakaan yang diperuntukan bagi pemustaka yang dapat dpinjam untuk dibawa pulang.
b. Koleksi Referensi, adalah koleksi perpustakaan yang mencakup ensiklopedi, kamus, literatur kelabu yang dengan berbagai pertimbangan dalam hal kelangkaan atau cakupan yang sangat spesifik dilayankan dalam bentuk akses tertutup.
c. Koleksi Inti, yaitu koleksi utama perpustakaan yang digunakan untuk mendukung misi organisasi induk perpustakaan. Misalnya koleksi terbitan pemerintah.
d. Koleksi Terbitan Berkala, adalah terbitan berseri, baik bersifat ilmiah atau populer yang diterbitkan oleh organisasi profesi maupun badan swasta atau pemerintah baik dalam maupun luar negeri. Seperti jurnal ilmiah, majalah, tabloid, dan lain lain.
2. Pemanfaatan Koleksi
Agar dapat mengetahui pemanfaatan koleksi perpustakaan, harus terlebih dahulu mengerti definisi dari pemanfaatan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pemanfaatan berasal dari kata manfaat yang artinya
22
Rakhmat Natajumena, Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Khusus ( Jakarta: Perpustakaan Nasional, 2006).
guna atau faedah. Pemanfaatan merupakan proses, cara atau perbuatan memanfaatkan.
Berdasarkan penjabaran definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemanfaatan koleksi yaitu menggunakan, meminjam, membaca, mengkaji koleksi yang telah disediakan oleh perpustakaan agar bermanfaat bagi pemustaka. Daftar pemanfaatan koleksi berpengaruh untuk rencana pengadaan bahan pustaka periode berikutnya.
28
PERPUSTAKAAN YAYASAN MITRA NETRA
A. Sejarah Perpustakaan Yayasan Mitra Netra
Perpustakaan Yayasan Mitra Netra (YMN) yang bergerak dibidang pendidikan dan pengembangan tunanetra didirikan pada tanggal 14 Maret 1991. Pendiriannya dilandasi oleh keyakinan bahwa:
1. Tunanetra hanya menjalani kehidupan yang mandiri, cerdas, bermakna dan bahagia serta berfungsi di masyarakat apabila disediakan:
a. Rehabilitasi yang dapat mengurangi dampak kecacatannya. b. Pendidikan dan latihan yang mengembangkan potensinya. c. Peluang kerja yang seluas-luasnya.
d. Sarana dan atau layanan khusus
2. Tidak semua tunanetra dan keluarganya mampu menyediakan dan membiayai kebutuhan di atas oleh karenanya perlu lebaga pendamping.
3. Keterlibatan tunanetra dalam pengambilan keputusan, proses pelaksanaan dan evaluasi program menyangkut kepentingan tunanetra lebih menjamin program tersebut sesuai dengan aspirasi tunanetra, karena meraka mengetahui kebutuhannya sendiri.
4. Kemitraan antara tunanetra dan sahabatnya yang berpenglihatan serta kemitraan Yayasan Mitra Netra dengan organisasi lainnya dapat
membangun sinergi, sehingga dapat meringankan tantangan yang dihadapi.
5. Pendekatan secara inklusif dapat mengurangi atau mencegah perlakuan diskriminatif.
Pada awal berdirinya Perpustakaan Yayasan Mitra Netra ini hanya memiliki koleksi buku bicara yang berupa kepingan kaset. Penyelenggaraannya dilatarbelakangi oleh beberapa alasan yaitu:
1. Minimnya bahan bacaannya yang tersedia bagi tunanetra khususnya siswa dan mahasiswa yang menempuh pendidikan terpadu. Hal ini sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar mereka.
2. Mahalnya biaya serta lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan buku buku braille.
Fungsi dari buku bicara ini adalah sebagai bahan pustaka dalam bentuk audio dimana para tunanetra belajar dengan cara mendengarkan buku bicara (kaset) dari hasil transfer buku awas yang sudah direkam oleh reader (pembaca) ke dalam bentuk audio di dalam studio. Buku-buku yang direkam khususnya buku teks saja mulai dari buku pelajaran tingkat SD, SLTP, SLTA, PT dan buku-buku umum.
Kemudian pada tahun 1995, dengan sarana yang dimiliki, Perpustakaan Yayasan Mitra Nitra mulai memiliki koleksi buku braille. Adapun alasan yang melatar belakanginya adalah:
1. Tidak terpenuhinya kebutuhan akan buku buku braille bagi tunanetra, baik di toko buku maupun di perpustakaan-perpustakaan umum.
2. Untuk beberapa bidang tertentu yaitu matematika, fisika, kimia, dan bahasa asing dirasakan lebih sulit jika menggunakan buku bicara. Fungsi dari buku braille ini sama halnya dengan fungsi buku bicara yakni sebagai sarana belajar untuk tunanetra, khususnya untuk buku buku yang bersifat eksakta. Namun tidak menutup kemungkinan untuk buku buku teks lain juga bisa ditransfer ke dalam bentuk braille.
Salah satu kegiatan yang dijalankan oleh Yayasan Mitra Netra adalah layanan perpustakaan yang menyediakan buku-buku braille dan buku-buku bicara secara gratis kepada anggotanya di Jabotabek yang saat ini berjumlah 723 orang. Di samping itu juga dilakukan pengiriman buku bicara (CD) secara rutin setiap bulan ke 33 perpustakaan SLB-A/lembaga ketunanetraan di Indonesia. Untuk distribusi buku Braille, Yayasan Mitra Netra menggagas dan memfasilitasi kerjasama antar-produsen buku Braille di Indonesia melalui perpustakaan Braille online KEBI (Komunitas Elektronik Braille Indonesia).
Perpustakaan ini dimulai hanya dengan koleksi sebanyak 10 judul buku bicara. Namun, saat ini koleksinya telah berkembang menjadi 1.627 judul digital talking book (CD). Pada tahun 1995 Perpustakaan Yayasan Mitra Netra memulai unit produksi buku braille, dan saat ini telah memiliki koleksi sebanyak 1.305 judul.
Berikut jenis buku yang di produksi perpustakaan Yayasan Mitra Netra:
1. Produksi Buku Braille
Saat ini ada empat orang braille transcriber yang bertugas menyalin buku-buku cetak, umumnya buku teks pelajaran sekolah, ke
dalam format 150 judul buku braille. Setiap tahunnya dihasilkan sekitar 68.000 halaman master braille, yang kemudian dicetak rata-rata ke dalam empat copy menjadi sekitar 250.000 halaman braille, yang kemudian dijilid menjadi sekitar 3.400 volume buku braille.
Di samping itu juga terdapat 710 orang relawan yang tergabung dalam gerakan Seribu Buku untuk Tunanetra (www.mitranetra.or.id/ebook) yang membantu Perpustakaan dengan mengetikkan buku-buku cetak ke dalam dokumen Microsoft Word untuk selanjutnya diproses oleh braille transcriber. Hasil ketikan relawan juga diolah menjadi e-book yang dapat diakses dengan mudah oleh tunanetra. Gerakan ini diluncurkan oleh Yayasan Mitra Netra sejak awal tahun 2006 guna mengatasi minimnya ketersediaan buku-buku umum/populer dalam format braille. Hingga kini gerakan tersebut telah menerima file ketikan buku dari para relawan sebanyak 1.284 judul.
2. Produksi Buku Bicara (digital talkig book)
Produksi buku bicara dilakukan dengan cara merekamkan pembacaan buku-buku cetak ke dalam bentuk audio oleh seorang narator (pembaca). Dengan tiga buah studio mini yang sangat sederhana dan lima orang pembaca reguler setiap tahunnya diproduksi kurang lebih 300 judul buku bicara yang terdiri dari sekitar 2.280 jam baca.
produksi buku bicara analog (kaset) ke buku bicara digital (CD). Hal ini dilakukan mengingat banyaknya keunggulan buku bicara digital dibandingkan dengan buku bicara analog; antara lain kapasitasnya yang besar di mana satu CD dapat menampung sampai 50 jam baca sehingga lebih praktis penanganannya dan lebih murah biaya produksinya. Di samping itu, dengan format buku bicara digital ini pengguna akan dapat dengan mudah dan cepat menuju bagian-bagian buku yang diinginkan, seperti halaman, bab, dan sebagainya.
B. Visi, Misi, dan Tujuan Didirikan Perpustakaan Yayasan Mitra Netra Visi dan misi perpustakaan Yayasan Mitra Netra ini sama halnya dengan visi dan misi lembaga yang menaunginya, yaitu:
1. Visi
Sebagai bagian dari komponen bangsa, Yayasan Mitra Netra mencita-citakan terwujudnya masyarakat yang inklusif, masyarakat yang dapat mengakomodasikan berbagai perbedaan, bebas hambatan dan berdasarkan atas hak. Dalam masyarakat semacam ini, tunanetra akan dapat hidup mandiri, cerdas bermakna dan bahagia serta berfungsi di masyarakat.
Dalam upaya memberiknnya perannya untuk mewujudkan cita cita tersebut, visi Yayasan Mitra Netra Adalah “berfungsi sebagai
pengembangan dan penyedia layanan, guna terwujudnya kehidupan tunanetra yang mandiri, cerdas, dan bermakna dalam masyarakat yang
inklusif”
2. Misi
Mitra netra adalah lembaga yang terus tumbuh, dan dalam perannya sebagai organisasi lokomotif yang mendorong kemajuan bagi tunanetra di Indonesia, yayasan ini juga melakukan upaya upaya untuk meningkatkan kapasitas lembaga lain, sehingga lembaga lembaga tersebut makin meningkat kemampuannya dalam melayani dan memberdayakan tunanetra.
Dan dalam perannya sebagai sebuah pusat layanan dan pelatihan bagi tunanetra dan organisasi lain, yayasan ini hadir di tengah tengah masyarakat dengan misi untuk:
a. Mengurangi dampak ketunanetraan melalui rehabilitas.
b. Mengembangkan potensi tunanetra melalui pendidikan dan pelatihan.
c. Memperluas peluang kerja tunanetra melalui upaya diversifikasi dan penempatan kerja.
d. Mengembangkan keahlian dan sarana khusus yang dibutuhkan melalui penelitian.
e. Meningkatkan kapasitas lembaga penyedia layanan bagi tunanetra yang lain dengan menyebarluaskan keahlian serta mendistribusikan produk yng dihasilkan.
f. Melakukan advokasi guna mendorong terwujudnya masyarakat inklusi yang mengakomodir berbagai perbedaan.
3. Tujuan Didirikan Perpustakaan Yayasan Mitra Netra
Perpustakaan Yayasan Mitra Netra ini didirikan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan buku buku guna mengembangkan wawasan tunanetra tentang ilmu pengetahuan dan informasi yang terus berkembang dengan pesat sehingga nantinya diharapkan akan terbentuk masyarakat tunanetra Indonesia yang gemar membaca dan belajar.
Dan sebagai lembaga yang berupaya meningkatkan kualitas dan partisipasi tunanetra dibidang pendidikan dan ketenagakerjaan, adanya layanan perpustakaan merupakan salah satu pilar utama layanan mitra netra.
Tujuan layanan Perpustakaan Yayasan Mitra Netra adalah:
a. Menyediakan layanan peminjaman buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh tunanetra, baik dalam bentuk buku braille, maupun digital talking book.
b. Menjadi pusat layanan informasi bagi tunanetra.
c. Menjadi pusat belajar bersama (mini learning center) bagi tunanetra.
d. Membangun masyarakat tunanetra yang gemar membaca dan belajar
e. Memberikan hak pada tunanetra untuk mendapatkan akses ke informasi melalui literasi.
C. Struktur Organisasi Yayasan Mitra Netra