TINJAUAN PUSTAKA A.Perilaku Petani
B. Pemanfaatan Lahan
Menurut UU Nomor 41 Tahun 2009 pasal 1, yang dimaksud dengan lahan adalah bagian daratan dari permukaan bumi sebagai suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah beserta segenap faktor yang mempengaruhi penggunaannya seperti iklim, relief, aspek geologi, dan hidrologi yang terbentuk secara alami maupun akibat pengaruh manusia (Setiawan, 2012 : 71).Lahan adalah milik bersama dan dikuasai oleh kelompok-kelompok sosial, biasanya suku, kepala suku atau pendeta menentukan lahan yang boleh dimanfaatkan oleh setiap keluarga. Lahan dibuka dengan jalan menebang pohon-pohon yang ada dan membakar areal tersebut. Lahan ini ditanami selama beberapa tahun, kemudian dibiarkan sambil sebidang lahan lainnya dibuka. Masa regenerasi akan mempertahankan kesuburan lahan, kalau hal itu berlangsung cukup lama, dengan kata lain jika jumlah penduduk sedikit. Dalam hal ini, masukan yang terbatas, pemanfaatan yang luas itu mampu menunjang swasembada dalam arti yang sempit (Planck, 1990 : 17).
9 Lahan yang merupakan sumberdaya alam strategis bagi pembangunan. Hampir semua sektor pembangunan fisik memerlukan lahan, seperti sektor pertanian, kehutanan, perumahan indsutri pertambangan dan transportasi.(Catur, dkk.2007:1). Berdasarkan kondisi agroekosistemnya, lahan pertanian dapat dikelompokkan ke dalam lahan pertanian basah dan lahan pertanian kering (tadah hujan). Lahan pertanian basah terbagi ke dalam lahan basah beririgasi (lahan beririgasi) dan lahan basah non irigasi. Sedangkan lahan kering terbagi kedalam lahan kering dataran sedang dan lahan kering dataran tinggi.
Lahan beririgasi adalah lahan yang merupakan tanah turunan dari bangunan maupun jaringan irigasi yang keberadaannya menunjang kelestarian irigasi. Lahan beririgasi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu : (1) lahan beirigasi teknis (lahan yang sumber airnya dari irigasi yang secara khusus di bangun dengan teknik modern); (2) lahan beririgasi setengah teknis (semi modern); (3) lahan beririgasi pedesaan (sistem lokal-tradisional) (Setiawan, 2012 71-72).
Menurut Hanafie(2010 : 54-56) berdasarkan penguasaannya atas sebidang lahan, petani dibedakan menjadi petani pemilik, penggarap, petani penyewa, petani penyakap dan buruh tani yang tidak mempunyai kewenangan sedikitpun atas sebidang tanah. Berdasarkan luas lahan yang dimiliki, ada petani kaya pemilik lahan luas, petani menengah pemilik lahan sedang, dan petani gurem pemilik lahan sempit. Penggunaan lahan/ tanah dalam bidang pertanian meliputi usaha tani tanaman padi dan/atau palawaija, usahatani tanaman hortikultura, usaha tani tanaman perkebunan, usaha tani tanaman kehutanan, usahatani ternak/unggas, budidaya ikan/biota lain di air tawar. Secara mikro, pengaruh tanah dalam pertanian dilihat dari penguasaan lahan, luas lahan garapan, dan nilai lahan. Macam – macam menurut kepemilikan oleh petani dibedakan menjadi :
1. Lahan yang dibeli, baik kontan maupun angsuran.
2. Lahan warisan, yaitu lahan yang diterima oleh ahli waris berdasarkan pembagian dari harta orang tua yang telah meninggal dunia.
3. Lahan yang diperoleh secara hibah, yaitu lahan yang diterima/didapat secara cuma-cuma dari badan/harta orang yang masih hidup.
10 4. Lahan yang dimiliki berdasarkan land reform, permohonan biasa, pembagian
lahan transmigrasi, pembagian lahan dari pembukaan hutan, hukum adat, atau penyerahan dari program Perkebunan Inti Rakyat (PIR)
5. Lahan sewa, yaitu lahan yang didapat dengan perjanjian sewa, yang besarnya sewa sudah ditentukan terlebih dahulu tanpa melihat besar/kecilnya hasil produksi. Pembayaran sewa didapat berupa uang atau barang. Dalam sewa-menyewa, pemilik lahan tidak ikut menangguna ongkos-ongkos produksi dan resiko dari penggarapan lahannya.
6. Lahan bagi hasil (sakap), yaitu lahan sewa, tetapi dengan perjanjian besarnya sewa berdasarkan hasil panen/produksi dan dibayarkan setelah panen. Besarnya bagian yang akan diserahkan pada pemilik lahan sudah ditentukan terlebih dahulu, seperti setengah atau sepertiga hasil produksi.
7. Lahan gadai, yaitu lahan yang berasal dari pihak lain sebagai jaminan pinjaman uang pihak yang menggadaikan lahannya. Lahan tersebut dikuasai oleh orang yang memberi pinjaman uang sampai pemilik lahan membayar kembali hutangnya.
8. Lahan bengkok/pelungguh, yaitu lahan milik desa/kelurahan yang dikuasakan kepada pamong desa atau bekas pamong desa sebagai gaji atau pensiun. 9. Lahan bebas sewa, serobotan, dan lahan garapan. Lahan bebas sewa adalah
lahan yang didapatkan dengan tanpa membeli atau membayar sewa dan bukan merupakan hak milik, tetapi hanya diizinkan memakai dengan bebas sewa.
10. Lahan yang dikuasai adalah lahan milik sendiri ditambah lahan yang berasal dari pihak lain dan dikurangi lahan yang berada di pihak lain. Lahan tersebut berupa lahan sawah dan/ atau bukan lahan sawah.
11. Lahan pertanian adalah lahan yang dikuasai dan pernah di usahakan untuk pertanian selama setahun yang lalu. Lahan tersebut mencakup lahan sawah, huma, ladang, tegal/kebun, kolam/tebat/empang, tambak, lahan perkebunan, hutan, dan lahan untuk penggembalaan/ padang rumput.
11 12. Lahan sawah adalah lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh
pematang (galengan), saluran untuk menahan/menyalurkan air yang biasanya ditanami padi sawah, tanpa memandang darimana diperolehnya atau status lahan tersebut. Dalam hal ini, termasuk lahan yang hanya terdaftar di Pajak Bumi Bangunan (PBB), lahan bengkok, lahan serobotan, dan rawa yang ditanami padi. Lahan sawah dibedakan menjadi:
13. Lahan bukan sawah adalah semua lahan selain lahan sawah yang biasanya ditanami dengan tanaman musiman atau tanaman tahunan, lahan untuk kolam atau untuk kegiatan usaha pertanian lainnya. Lahan bukan sawah meliputi huma, ladang, tegal, kebun, kolam/tebat/empang, dan lahan perkebunan. 14. Huma adalah lahan kering yang biasanya ditanami tanaman musiman dan
penggunaannya hanya semusim atau dua musim, kemudian ditinggalkan bila sudah tidak subur lagi. Kemungkinan lahan ini beberapa tahun kemudian akan dikerjakan kembali bila kesuburannya kembali.
15. Ladang/tegal/kebun adalah lahan yang ditanami tanaman musiman atau tanaman tahunan,serta terpisah dengan halaman sekitar rumah dan penggunaannya tidak berpindah-pindah. Lahan yang dibiarkan kosong kurang dari 1 tahun (menunggu masa penanaman yang akan datang) dianggap sebagai kebun/ tegal apabila hendak ditanami tanaman musiman/tahunan atau dianggap sebagai lahan perkebunan apabila akan ditanami tanaman perkebunan.
16. Lahan tidur adalah lahan yang biasanya digunakan untuk usaha pertanian, tetapi tidak dimanfaatkan lebih dari 2 tahun Pengembangan usaha pertanian di wilayah pesisir merupakan salah sau bagian dari kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Namun demikian, pembukaan lahan pertanian di wilayah pesisir harus dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek-aspek perlindungan lingkungan sehingga tidak akan menimbulkan masalah-masalah lingkungan seperti menurunnya produktivitas perikanan, pencemaran perairan, perubahan siklus aliran air, dan meningkatnya laju sedimentasi.
12 Lahan mempunyai peranan sangat penting bagi kehidupan manusia. Kualitas pemanfaatan lahan pada suatu tempat sangat tergantung kepada kombinasi antara pola pemanfaatan dengan keterbatasan geobiofisik dari wilayah. Hal ini memberikan gambaran bahwa keinginan manusia untuk memperbaiki kehidupan ekonomi tidak berarti manusia boleh mengorbankan kelestarian lingkungan. Proses perubahan dalam pemanfaatan lahan ini selain menghasilkan manfaat yang dapat dinikmati oleh masyarakat juga tidak lepas dari resiko terjadinya kerusakan lahan akibat erosi, longsor lahan, pencemaran lingkungan, banjir dan lainnya. Erosi akan menyebabkan terjadinya pendangkalan waduk, penurunan kapasitas saluran irigasi. Erosi yang tinggi, banjir pada musim penghujan tidak hanya menimbulkan dampak negatif pada aspek geobiofisik sumber daya alam dan lingkungan tetapi juga berdampak pada aspek sosial ekonomi masyarakat. Erosi, longsor lahan dan banjir dapat menurunkan kualitas dan kuantitas sumberdaya alam produksi pertanian, perikanan dan penggunaan sumberdaya alam yang berkaitan dengan air akan menurun (Juhadi, 2007 : 21).
Penggunaan lahan (land use) didefinisikan sebagai setiap bentuk intervensi (campur tangan) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual. Penggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan besar yaitu penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan bukan pertanian. Penggunaan lahan pertanian dibedakan berdasarkan atas penyediaan air dan komoditi yang diusahakan dan dimanfaatkan atau atas jenis tumbuhan atau tanaman yang terdapat diatas lahan tersebut. Berdasarkan hal ini dikenal macam penggunaan lahan seperti tegalan (pertanian lahan kering atau pertanian pada lahan yang tidak beririgasi), sawah, kebun kopi, kebun karet, padang rumput, hutan produksi, hutan lindung, padang alang-alang, dan sebagainya. Sedangkan penggunaan lahan bukan pertanian dapat dibedakan kedalam lahan kota atau desa (pemukiman), industri, rekreasi, pertambangan (Arsyad, 2006 : 261).
13 Pengelolaan sumberdaya lahan diperlukan guna memberi dukungan teknologi pada lahan marjinal dan terdegradasi serta alokasi lahan untuk meningkatkan pendapatan petani secara berkelanjutan. Rehabilitasi lahan sangat diperlukan karena luas lahan terdegradasi nasional masih sangat kritis (lebih dari dua juta hektar), sementara kemampuan rehabilitasinya selama empat tahun kurang dari 500.000 hektar (Irianto, 2006:25).
Transformasi lahan menuju penggunaannya untuk menghasilkan barang dan jasa adalah cara yang paling substansial bagi manusia dalam mengubah ekosistem bumi, dan dikategorikan sebagai penggerak utama hilangnya keanekaragaman hayati. Diperkirakan jumlah lahan yang diubah oleh manusia antara 39%-50%. Degradasi lahan, penurunan fungsi dan produktivitas ekosistem jangka panjang, diperkirakan terjadi pada 24% lahan di dunia. Laporan FAO menyatakan bahwa manajemen lahan sebagai penggerak utama degradasi dan 1.5 miliar orang bergantung pada lahan yang terdegradasi. Deforestasi, desertifikasi, erosi tanah, kehilangan kadar mineral, dan salinisasi adalah contoh bentuk degradasi tanah (Anonim, 2014 : 1).
Dalam menganalisis perkembangan wilayah sering berhadapan dengan faktor-faktor yang secara langsung atau tida terkait dengan penggunaan lahan. Dalam aspek lingkungan, lahan bukan saja memberikan wadah fisik kedudukan sistem produksi, tetapi juga memberikan inputke, menerima output dari dan dapat memperbaiki kerusakan sistem produksi. Akibatnya, setiap jenis penggunaan lahan dapat mencirikan kualitas penggunaan lahannya, dan ketika lahan memberi tanda-tanda kerusakan maka jenis penggunaan lainnya siap menggantikannya. Sebaliknya bila lahan memberikan keuntungan (social benefit), maka penggunaannyapun dipertahankan. Dalam aspek sosial dan ekonomi, kepentingan terhadap lahan lebih komplek dan membuat keputusan penggunaan lahan atau perubahannya harus di pelajari secara hati-hati. Penggunaan lahan di pedesaan memuat kepentingan yang mungkin lebih sederhana, dengan tuntutan umum memfokuskan kepada produksi pertanian (Nugroho, 2012 : 139).
14 C. Danau Limboto
Danau Limboto adalah salah satu aset sumberdaya alam yang dimiliki oleh Provinsi Gorontalo saat ini.danau Limboto telah berperan sebagai sumber pendapatan bagi nelayan, pencegah banjir, sumber air pengairan dan objek wisata. Areal danau ini berada pada dua wilayah yaitu + 30% wilayah Kota Gorontalo dan + 70% di wilayah Kabupaten Gorontalo dan menjangkau 7 kecamatan.
1. Kondisi Danau Limboto
Danau Limboto kini berada pada kondisi yang sangat memprihatinkan karena mengalami proses penyusutan dan pendangkalan akibat sedimentasi yang mengancam keberadaaannya dimasa yang akan datang. Semakin berkurangnya luasan perairan danau menyebabkan semakin menurunnya fungsi danau sebagai kawasan penampung air sehingga berpotensi terjadinya banjir dan kekeringan di sekitar wilayah kawasan danau bahkan di luar kawasan Danau Limboto (Suwanto, dkk., 2011 : 47).
Kawasan Danau Limboto berada di dataran rendah kawasan ekosistem lahan basah dengan karasteristik memiliki ketinggian 0-100 m dpl kemiringan 8% dan kedalaman efektif lapisan tanah > 50cm, berada pada wilayah DAS LBB (Dareah Aliran Sungai Limboto – Bone – Bolango). Dataran rendah di sekitar Danau Limboto, saat ini merupakan wilayah pemukiman yang padat penduduk, areal persawahan, kolam dan kebun yang berada pada wilayah administrasi Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo, dimana di daerah secara potensial merupakan daerah penampungan curah hujan yang jatuh pada pegunungan sebelah utara, selatan, barat daya, dan timur Kabupaten dan Kota Gorontalo.Secara ekologis, ekosistem Danau Limboto tidak bisa dipisahkan dari wilayah Daerah Aliran Sungai Limboto – Bone – Bolango (DAS LBB), sistem aliran permukaan Sub DAS Limboto semuanya masuk dulu ke Danau Limboto kemudian keluar lagi untuk bergabung dengan sistem aliran permukaan Sub DAS Bolango dan sistem aliran permukaan Sub DAS Bone menuju ke muara (Teluk Tomini). Sub DAS Limboto yang meliputi Sungai Biyonga, sungai Alo, Sungai Pohu (keduanya bergabung menjadi sungai Alopohu sebelum masuk ke Danau Limboto), Sungai
15 Rintenga, Sungai Marisa, Sungai Meluopo semua aliran permukaannya menuju ke Danau Limboto (Kementrian Lingkungan Hidup RI – Balitbangpedalda Provinsi Gorontalo, 2006: 45).
Luas Danau Limboto sampai tahun 2007 sebesar 2.537,152 Ha, dengan kedalaman sekitar 2 – 2,5 meter sedangkan luas daerah tangkapan air Danau Limboto sekitar 900km2. Pada tahun 1932 rata-rata kedalaman Danau Limboto 30 meter dengan luas 7000 Ha, dan tahun 1961 rata-rata kedalaman danau berkurang menjadi 10 meter dan luas menjadi 4.250 Ha. Sedangkan tahun 1990 – 2008 kedalaman Danau Limboto rata-rata tinggal 2,5 meter dengan luas 3000 Ha. Dalam kurun waktu 52 tahun luas Danau Limboto berkurang sekitar 4.304 Ha atau sekitar 62,60% dari total luas danau. Sehingga dari data tersebut di atas rata-rata luas danau berkurang sekitar 65,89 Ha pertahun, sehingga pada Tahun 2025 danau ini diperkirakan akan berubah menjadi daratan (Suwanto,dkk., 2011 : 48).
Dengan melihat kondisi Danau Limboto yang sekarang sangat sulit untuk melakukan upaya rehabilitasi karena banyak kerusakan yang ditimbulkan bukan hanya di sekitar Danau tapi bagian hulu sampai hilir Daerah Aliran Sungai Limboto sudah mengalami kerusakan yang luar biasa. Terkait penyusutan luas Danau Limboto yang makin kritis, hal ini menandakan tingkat pendangkalan yang dialami Danau Limboto akan meninggalkan hamparan tanah atau lahan yang cukup luas, pemanfaatan lahan pada tepi Danau merupakan salah satu penyebab hilangnya vegetasi asli dan rusaknya ekosistem lahan basah, sehingga menyebabkan Danau tidak mampu menahan laju sedimentasi yang dibawa aliran sungai. Menurut data dari Badan Penelitian, Pengembangan dan Pengendalian Dampak Lingkungan (Balitbangpedalda, 2003 : 3), sebagian besar areal wilayah bantaran Danau Limboto saat ini telah digunakan sebagai tempat pemukiman permanen, selain itu pengaplingan tanah yang masih berupa rawa di tepian Danau oleh masyarakat terkadang mempunyai masalah tersendiri yang berkembang di masyarakat karena merasa mempunyai hak kependudukan yang seharusnya menjadi tanah negara. Dimana sejumlah bangunan ibadah atau rumah penduduk yang dibangun di areal bekas genangan air yang sebelumnya masih termasuk
16 kawasan tepian Danau Limboto itu, sebagian besar banguna sudah mendapat pengakuan dan penguatan baik berupa legalitas dan bentuk sertifikat hak milik. Pada musim kemarau para petani mengusahakan sekitar 1200 Ha lahan di tepi Danau untuk kegiatan perkebunan, pertanian dan pemukiman (Junus, 2003 :1). 2. Keadaan Sosial dan Ekonomi
Salah satu faktor sosial ekonomi adalah faktor penduduk. secara administratif, Danau Limboto dikelilingi oleh 7 kecamatan. Yaitu kecamatan Limboto, Limboto Barat, Telaga, Tilango, Telaga biru dan Batudaa yang merupakan wilayah Kabupaten serta kecamatan Kota Barat yang merupakan wilayah Kota Gorontalo. Jumlah penduduk terbanyak pada tahun 2008 terdapat pada Kecamatan Limboto dengan jumlah penduduk sebanyak 68.314 jiwa.Jumlah penduduk yang tinggal di desa-desa sekitar Danau adalah 50.930 jiwa (sekitar 11%), namun bila dilihat tingkat kepadatan cenderung lebih tinggi, yaitu 542 jiwa/km2. Pemanfaatan Danau Limboto pada masa penjajahan Belanda terlihat dengan adanya bangunan pelabuhan dan pasar ikan. Bangunan pelabuhan dan pasar ikan didirikan tahun 1932 dan digunakan sebagai tempat pelelangan ikan dari Danau Limboto.
Danau Limboto sangat dibanggakan oleh masyarakat Gorontalo disamping sebagai sumber mata pencharian juga merupakan salah satu objek wisata yang memiliki panorama indah, terlebih apabila dilihat dari puncak bukit yang berada di sekelilingnya.Unsur ekosistem lain di luar faktor biotik dan abiotik adalah culture (budaya) yaitu sebaran penduduk, mata pencharian dan pola hidup masyarakat, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dan juga akan mempengaruhi tatanan ekosistem dalam posisi rentan pada suatu Daerah Aliran Sungai. Struktur dan kedinamisan ekosistem merupakan akibat proses perubahan (Suwanto, dkk., 2011 : 53)
3. Permasalahan Ekosistem Danau
Menurut Suwanto (2011: 53-55) berdasarkan dari Kementrian Lingkungan Hidup adapun permasalahan yang ada di kawasan Danau Limboto, maka disusun
17 analisis masalah sesuai dengan Iceberg Theoryuntuk menentukan struktur permasalahan secara spesifik dan masalah-masalah pokok yang harus ditangani baik jangka pendek maupun jangka panjang. Peta permasalahan digolongkan berdasarkan bagian kawasan Danau Limboto :
1. Kerusakan Daerah Tangkapan Air (DTA) yaitu a) penataan Ruang dimana Penataan pemukiman penduduk yang tidak teratur, belum adanya batas dan aturan jalur hijau sepanjang DAS, program pemerintah tentang pengelolaan DAS masih bersifat parsial, tumpang tindih, konflik kepentingan, kurang membangun sistim koordinasi lintas sektor dan setengah hati serta bencana banjir akibat dari pendangkalan Danau dan meningkatnya kerusakan hutan Daerah Tangkapan Air Danau, b) Perubahan Fungsi Lahan seperti Perladangan berpindah, terjadinya konflik masyarakat dalam memperebutkan kawasan danau, timbulnya lahan-lahan tidak produktif, menurunnya fungsi dalam mengatur sistem hidrologi DAS Limboto, daur air yang tidak seimbang, dan perubahan iklim. c) Illegal logging, kebakaran hutan dan lahan dimana terjadinya penurunan luas hutan di DAS Limboto sebesar 14.893 Ha (16,37% luas total) dengan luas lahan kritis sebesar 26.097 Ha, tingkat erosi yang tinggi hingga mencapai 9.902.588,12 ton/tahun atau rata-rata tingkat erosi pertahunnya mencapai 108,81 ton/tahun. Hal ini disebabkan meluasnya areal lahan kritis di catchment area danau, penurunan yang signifikan pada luas dan kedalaman Danau Limboto yang pada tahun 1932 memiliki luas 7000 Ha dan keadalaman 30 meter. Saat ini luasnya 2.537,2 Ha dengan kedalaman 2-2,5 meter (rata-rata penurunan luasan Danau sebesar 62,6% dalam waktu 52 tahun), pembakaran hutan, penebangan liar, perambahan hutan termasuk pencurian kayu, struktur dan fisik tanah yang mudah erosi, perilaku aparatur yang memback up proses perambahan hutan, rendahnya koordinasi tingkat aparatur berwenang dalam melaksanakan pengawasan maupun penegakan hukum bagi yang merusak hutan/kawasan, serta sistem pengolahan lahan dan kawasan tidak menerapkan kaidah konservasi dan masih bersifat tradisional.
18 2. Kerusakan Sempadan seperti okupasi lahan sekitar danau oleh masyarakat,
berkurangnya kualitas air akibat dari pembuangan limbah domestik.
3. Pencemaran Perairan yaitu a) Pencemaran air dan eutrofikasi dimana tingkat cemaran organik tinggi, mempercepat penutupan permukaan suatu perairan. b) Sedimentasi dimana proses penyusutan dan pendangkalan, pengurangan luasan Danau.c) Pertumbuhan eceng gondok yaitu dimana terjadinya penurunan keragaman genetik ikan dan biota air. d) Pemanfaatan air Danau yakni perubahan kontur danau akibat pendangkalan, kondisi air yang semakin keruh. e) Resiko terjadinya banjir.