Bab ini membahas mengenai pemanfaatan livelihood asset yang dimiliki oleh rumahtangga petani hortikultura. Livelihood asset terdiri dari modal alam, modal manusia, modal fisik, modal sosial dan modal finansial di dua desa yaitu Desa Perteguhen dan Desa Jeraya. Desa Perteguhen merupakan desa yang tidak mengalami gagal panen namun berada pada wilayah yang dekat dengan Gunung Sinabung dan Desa Jeraya dengan kondisi mengalami gagal panen akibat letusan Gunung Sinabung.
Pemanfaatan livelihood asset ini juga dilihat dari lapisan rumahtangga petani yang terdiri dari lapisan atas, lapisan menengah dan lapisan bawah. Penentuan lapisan di dalam masyarakat ini dilihat dari luas kepemilikan lahan rumahtangga. Berikut pemaparan mengenai pemanfaatan livelihood asset rumahtangga petani hortikultura.
Pemanfaatan Livelihood Asset Rumahtangga Petani di Wilayah Tidak Gagal Panen (Desa Perteguhen)
Rumahtangga di Desa Perteguhen yang merupakan wilayah yang tidak gagal panen dibagi menjadi tiga lapisan yaitu lapisan atas, lapisan menengah dan lapisan bawah. Desa Perteguhen memang tidak sempat mengalami gagal panen, namun pertanian mereka juga terganggu karena abu vulkanik dan kemarau panjang yang terjadi di desa ini. Pemanfaatan modal nafkah ini tentunya memiliki pengaruh terhadap kemampuan rumahtangga untuk bertahan ketika terjadi letusan Gunung Sinabung yang belum berujung sampai sekarang. Pemanfaatan modal nafkah oleh masing masing rumahtangga dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 3 Pemanfaatan modal nafkah oleh lapisan rumahtangga petani di wilayah tidak gagal panen, Desa Perteguhen tahun 2014 - 2015
Modal alam
Modal alam yang dilihat dari kepemilikan lahan merupakan dasar untuk menentukan lapisan. Rumahtangga yang memiliki lahan ≤ 0.5 ha disebut dengan lapisan bawah, rumahtangga yang memiliki lahan 0.6-1.5 ha merupakan lapisan menengah dan rumahtangga yang memiliki lahan >1.5 ha merupakan lapisan atas. Oleh karena itu lapisan bawah memiliki modal alam yang rendah, lapisan menengah memiliki modal alam yang sedang dan lapisan atas memiliki modal alam yang tinggi. Modal alam yang dimiliki lapisan atas tergolong tinggi. Rumahtangga lapisan atas biasanya memiliki pekerjaan di sektor non-farm seperti PNS atau berdagang dan pertanian hanya sebagai pendukung perekonomian sehingga pada saat terjadi bencana alam yang membuat lahan pertanian rusak, rumahtangga masih memiliki sumber pendapatan lain di luar sektor pertanian. Rumahtangga lapisan atas juga menggunakan tenaga kerja setiap hari secara kontinyu.
Modal alam yang dimiliki lapisan menengah tergolong sedang. Rumahtangga pada lapisan menengah bekerja sebagai petani dan hanya beberapa yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai buruh tani dan memanfatkan pendapatan dari bidang non-farm. Rumahtangga lapisan menengah biasanya menggunakan tenaga kerja tetapi tidak kontinyu, hanya pada saat perlu dan keuangan memadai saja. Modal alam rumahtangga lapisan bawah bernilai rendah. Biasanya mereka memiliki pekerjaan sebagai buruh tani, petani di lahannya sendiri dan bekerja pada sektor non-farm.
Modal Manusia
Modal manusia dilihat dari alokasi tenaga kerja, tingkat pendidikan, jumlah keterampilan dan penggunaan tenaga kerja. Modal manusia pada rumahtangga lapisan atas bernilai tinggi. Rata-rata rumahtangga lapisan atas memiliki tingkat pendidikan yang tinggi yaitu tamat pendidikan setara diploma dan sarjana. Selain itu penggunaan tenaga kerja yang relatif kontinyu karena pada umumnya rumahtangga melakukan pola nafkah ganda, sehingga keterampilan mereka tidak hanya sebatas pertanian. Biasanya sektor pertanian hanya dijadikan sebagai pekerjaan sampingan dan sektor non-farm sebagai pekerjaan utama.
Modal manusia pada lapisan menengah bernilai sedang. Rumahtangga lapisan menengah memiliki komponen pendidikan yang bernilai tinggi. Pada komponen alokasi tenaga kerja, biasanya rumahtangga lapisan menengah memanfaatkan dua anggota rumahtangga untuk mencari nafkah. Dua anggota rumahtangga ini terdiri dari suami dan istri. Kemudian, pada komponen keterampilan rata-rata hanya memiliki satu keterampilan diluar bidang pertanian. Namun, sektor pertanian tetap menjadi pekerjaan utama. Selain itu, rumahtangga lapisan menengah menggunakan tenaga kerja hanya pada saat-saat tertentu seperti proses penanaman dan panen yang tidak bersifat kontinyu.
Modal manusia pada lapisan bawah juga bersifat sedang. Rumahtangga lapisan bawah memiliki komponen pendidikan yang bernilai tinggi. Rumahtangga lapisan bawah rata-rata mengalokasikan dua orang anggota rumahtangga untuk bekerja, kemudian rata-rata tidak memiliki keterampilan selain di bidang pertanian sehingga kebanyakan memiliki pekerjaan utama sebagai petani atau
buruh tani. Selain itu rumahtangga lapisan bawah tidak menggunakan tenaga kerja secara kontinyu, namun hanya pada saat- saat tertentu seperti waktu panen dan waktu tanam, dan sebagian sama sekali tidak pernah menggunakan tenaga kerja lain.
Modal Fisik
Modal fisik dilihat dari kepemilikan rumahtangga terhadap asset pertanian dan asset rumahtangga termasuk didalamnya alat komunikasi, alat transportasi, emas dll. Modal fisik pada lapisan atas tergolong tinggi. Hal ini dikarenakan asset pertanian dan asset rumahtangga sudah termasuk memadai. Selain itu faktor perekonomian yang sudah baik membuat rumahtangga lapisan atas memiliki asset yang cukup mewah. Rumahtangga lapisan atas biasanya memiliki ternak sebagai tabungan apabila suatu saat diperlukan.
Modal fisik pada rumahtangga lapisan menengah bernilai sedang. Kepemilikan asset rumahtangga bersifat seperlunya karena beberapa harus dijual akibat terjadinya Letusan Gunung Sinabung yang mengganggu pekerjaan mereka. Namun, asset pertanian termasuk memadai karena asset tersebut merupakan alat yang diperlukan dalam melakukan pekerjaan utama yang kebanyakan bekerja sebagai petani. Modal fisik pada rumahtangga lapisan bawah bernilai sedang. Kepemilikan asset rumahtangga dan asset pertanian seadanya dan seperlunya. Hal ini dikarenakan faktor finansial yang kurang memadai. Kebanyakan rumah mereka juga beralaskan semen dan dinding kayu dan beberapa masih berupa rumah panggung.
Modal Sosial
Pemanfaatan modal sosial dilihat dari banyaknya organisasi/assosiasi yang diikuti rumahtangga, tingkat keberfungsian organisasi dan tingkat kepercayaan. Modal sosial yang dimiliki oleh rumahtangga baik lapisan atas, lapisan menengah, dan lapisan bawah bernilai sedang. Rata-rata rumahtangga merupakan anggota dari 2 organisasi atau lebih, namun keberfungsian organisasi tergolong sedang. Organisasi seperti CU (Credit Union), PKK sudah lama mengalami kemacetan dalam pemberian dana tunai atau pinjaman kepada rumahtangga. Hanya organisasi keagamaan yang aktif diikuti oleh setiap rumahtangga. Pada kategori kepercayaan masih tergolong tinggi. Rumahtangga satu dengan yang lainnya masih merupakan kerabat baik kerabat dekat maupun jauh yang dilihat dari kepemilikan marga .
Modal Finansial
Modal finansial rumahtangga lapisan atas pada wilayah yang tidak gagal panen bernilai tinggi. Rumahtangga lapisan atas rata-rata memiliki tabungan baik berupa uang yang disimpan di rumah dan di bank, ternak, dan barang berharga lainnya seperti perhiasan atau asset rumahtangga sebagai investasi jangka panjang. Selain itu rumahtangga lapisan atas tidak memiliki pinjaman karena keuangan sudah mencukupi.
Modal finansial rumahtangga lapisan menengah termasuk bernilai sedang. Hal ini dikarenakan rumahtangga memiliki tabungan baik berupa uang, perhiasan dan ternak namun memiliki pinjaman juga ke kerabat ataupun ke organisasi
keuangan lainnya. Adanya pinjaman dikarenakan rumahtangga membutuhkan modal yang besar untuk memperbaiki tanaman pertanian mereka karena adanya letusan Gunung Sinabung dan kemarau yang berkepanjangan yang menyebabkan tanaman mereka rendah produktivitasnya sehingga memerlukan input yang lebih besar lagi. Beberapa dari mereka juga tidak memiliki tabungan dan tidak memiliki pinjaman sehingga pendapatan yang diperoleh hari ini akan habis hari ini juga.
Modal finansial rumahtangga lapisan bawah juga bernilai sedang. Rumahtangga biasanya memiliki tabungan yang berbentuk perhiasan atau di simpan di CU namun memiliki pinjaman juga. Adanya letusan Gunung Sinabung yang sempat menghambat pekerjaan mereka sehingga mereka membutuhkan uang untuk tetap dapat bertahan hidup. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan akses pinjaman. Sama seperti lapisan menengah, beberapa diantara mereka tidak memiliki tabungan dan juga tidak memiliki pinjaman.
Pemanfaatan Livelihood Asset Rumahtangga Petani Di Wilayah Gagal Panen (Desa Jeraya)
Rumahtangga Desa Jeraya merupakan rumahtangga yang menjadi salah satu korban letusan Gunung Sinabung. Bencana ini menyebabkan lahan pertanian rusak sampai terjadi gagal panen. Keadaan tersebut akan mempengaruhi pemanfaatan modal nafkah. Pemanfaatan modal nafkah ini akan berbeda setiap lapisan rumahtangga petani. Desa Jeraya dibagi menjadi tiga lapisan yaitu lapisan atas, lapisan menengah, lapisan bawah. Pembagian lapisan ini berdasarkan luas lahan yang dimiliki oleh setiap rumahtangga. Pemanfaatan modal nafkah setiap lapisan dapat di lihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 4 Pemanfaatan modal nafkah oleh lapisan rumahtangga petani di wilayah gagal panen, Desa Jeraya tahun 2014 - 2015
Modal Alam
Sama seperti Desa Perteguhen, dasar modal alam di Desa Jeraya juga dilihat dari luas kepemilikan lahan untuk menentukan lapisan. Rumahtangga yang memiliki lahan ≤ 0.5 ha disebut dengan lapisan bawah, rumahtangga yang memiliki lahan 0.6-1.5 ha merupakan lapisan menengah dan rumahtangga yang memiliki lahan >1.5 ha merupakan lapisan atas. Oleh karena itu lapisan bawah memiliki modal alam yang rendah, lapisan menengah memiliki modal alam yang sedang dan lapisan atas memiliki modal alam yang tinggi.
Modal alam pada rumahtangga lapisan atas di wilayah gagal panen tergolong tinggi. Lahan yang dimiliki tidak hanya berada di dalam desa, tetapi di luar desa sehingga pada saat terjadi gagal panen masih ada lahan lain yang dikerjakan sebagai sumber pendapatan. Semua lahan juga merupakan kepemilikan sendiri yang rata-rata luasnya adalah lebih dari 2.5 ha. Sektor non-farm lebih di
geluti oleh rumahtangga lapisan atas dan sektor on- farm hanya sebagai pekerjaan sampingan yang biasanya dikerjakan oleh tenaga kerja lain dan bersifat kontinyu.
Modal alam rumahtangga lapisan menengah bersifat sedang. Rata-rata status kepemilikan lahan merupakan kepemilikan sendiri. Rumahtangga lapisan menengah biasanya hanya mengandalkan pendapatan dari sektor pertanian dan berprofesi sebagai petani di lahan sendiri. Adanya kerugian besar akibat gagal panen tidak menyebabkan rumahtangga beralih pekerjaan namun tetap mengusahakan lahan untuk dapat berproduksi kembali.
Modal alam pada lapisan bawah bersifat rendah. Hal ini dikarenakan luas lahan yang sempit dan beberapa tidak memiliki lahan sama sekali. Status kepemilikan lahan pun sangat beragam. Kebanyakan dari mereka memiliki lahan yang sempit dan menyewa lahan sebagai tambahan sumber pendapatan. Pekerjaan yang digeluti biasanya sebagai petani dan bekerja sampingan sebagai buruh tani karena pendapatan dari lahan sendiri tidak cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Selain itu banyak dari mereka yang tidak memiliki modal yang cukup, sehingga memanfaatkan pekerjaan sebagai buruh tani untuk mengumpulkan modal bertani di lahan sendiri.
Modal Manusia
Modal manusia dilihat dari alokasi tenaga kerja, tingkat pendidikan, jumlah keterampilan dan penggunaan tenaga kerja. Modal manusia pada rumahtangga lapisan atas bernilai tinggi. Rumahtangga lapisan atas mengalokasikan tiga anggota rumahtangga untuk mencari nafkah sehingga masuk dalam kategori yang tinggi. Tingkat pendidikan juga tergolong tinggi yaitu tamat SMA/Perguruan tinggi sehingga mereka memiliki keterampilan selain pertanian yang menjadi sumber pendapatan utama seperti berdagang atau berprofesi menjadi PNS. Oleh karena itu, rumahtangga lapisan atas biasanya menggunakan tenaga kerja lain secara kontinyu untuk mengerjakan lahan pertanian mereka baik pada saat masa tanam, pemeliharaan dan panen.
Modal manusia pada lapisan menengah bernilai sedang. Alokasi tenaga kerja yang digunakan sebagian bernilai tinggi dan sebagian bernilai sedang. Selain itu tingkat pendidikan tergolong sedang karena rata-rata hanya menamatkan pendidikan setara SMP. Komponen keterampilan juga termasuk rendah. Rata-rata tidak memiliki keterampilan diluar pertanian sehingga hanya mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber pendapatan utama. Kemudian kebanyakan menggunakan tenaga kerja hanya pada saat tertentu saja seperti waktu panen dan waktu tanam.
Modal manusia pada lapisan bawah tergolong rendah. Jumlah alokasi tenaga kerja yang dimanfaatkan rata-rata hanya dua anggota rumahtangga. Selain itu rata-rata tingkat pendidikan tergolong rendah yaitu tidak/tamat SD sehingga mempengaruhi tidak adanya keterampilan selain pada sektor pertanian. Komponen pemakaian tenaga kerja bernilai sedang yaitu memakai tenaga kerja lain pada saat tertentu, namun lebih banyak memanfaatkan tenaga keluarga/kerabat untuk mengerjakan lahan pertanian.
Modal Fisik
Modal fisik dilihat dari kepemilikan rumahtangga terhadap asset pertanian dan asset rumahtangga termasuk didalamnya alat komunikasi, kendaraan, emas dll. Modal fisik pada lapisan atas tergolong tinggi. Rumahtangga memiliki asset pertanian yang sudah memadai dan asset rumahtangga yang tergolong mewah dan memadai. Kepemilikan kedua asset yang tergolong tinggi dipengaruhi oleh pendapatan rumahtangga lapisan atas sangat mampu sehingga beberapa asset dijadikan sebagai investasi jangka panjang.
Modal fisik pada lapisan menengah tergolong sedang. Rumahtangga biasanya memiliki asset pertanian yang cukup memadai karena merupakan alat untuk menunjang pekerjaan utama mereka sebagai petani. Asset rumahtangga tergolong cukup dan sederhana yang masuk dalam kategori sedang. Hal ini berkaitan dengan kemampuan ekonomi yang tergolong sedang juga. Modal fisik pada lapisan bawah tergolong sedang. Kepemilikan asset pertanian dan asset rumahtangga yang didalamnya termasuk alat komunikasi, perhiasan, alat rumahtangga kendaraan yang cukup dan seperlunya karena pendapatan yang kurang mendukung.
Modal Sosial
Pemanfaatan modal sosial dilihat dari banyaknya organisasi/assosiasi yang diikuti rumahtangga, tingkat keberfungsian organisasi, dan tingkat kepercayaan. Rumahtangga lapisan atas memilki modal sosial yang bernilai tinggi. Jumlah organisasi yang diikuti terdiri dari organisasi dalam dan luar desa. Tingkat keberfungsian organisasi juga bernilai tinggi karena memberikan kontribusi pada saat rumahtangga lapisan atas memiliki kerugian yang cukup besar pada saat terjadi letusan Gunung Sinabung.
Modal sosial yang dimiliki rumahtangga lapisan menengah dan bawah bernilai sedang. Sebagian rumahtangga merupakan anggota tiga atau lebih organisasi dan sebagiannya merupakan anggota 2 organisasi. Tingkat keberfungsian juga tergolong tinggi. Rata-rata rumahtangga mendapat bantuan dari organisasi keagamaan dalam bentuk uang dan sembako pada saat terjadi bencana letusan Gunung Sinabung sehingga meringankan sedikit beban masyarakat. Selain itu CU dan PKK sebagai wadah peminjaman modal masyarakat untuk memperbaiki kerusakan pertanian yang mereka alami. Namun peminjaman ini juga memiliki batas tertentu sesuai dengan jumlah tabungan dan dan ketetapan dari organisasi itu sendiri. Tingkat kepercayaan masing-masing lapisan juga cukup tinggi karena adanya adanya kepercayaan bahwa semua anggota masyarakat merupakan kerabat dan seluruh masyarakat Desa Jeraya merupakan suku asli, belum ada pendatang sama sekali.
Modal Finansial
Modal finansial rumahtangga lapisan atas bernilai sedang. Meskipun pendapatan tergolong tinggi, namun rumahtangga masih memiliki pinjaman. Hal ini dikarenakan gagal panen pada areal tanam yang cukup luas menyebabkan rumahtangga lapisan atas memiliki kerugian yang paling besar, sehingga
mengharuskan mereka untuk meminjam sebagai modal untuk memperbaiki areal pertanian mereka. Modal finansial rumahtangga lapisan menengah bernilai sedang. Mereka biasanya memiliki tabungan yang disimpan di Bank atau dirumah maupun dalam bentuk perhiasan, namun memiliki pinjaman juga akibat gagal panen yang menyebabkan usaha pertanian mereka dimulai dari awal. Sebagian dari mereka tidak memiliki pinjaman juga tidak memiliki tabungan sehingga pendapatan yang diterima hari ini juga habis hari ini. Modal finansial rumahtangga lapisan bawah juga bernilai sedang. Mereka biasanya memiliki tabungan yang disimpan dalam CU dan berbentuk emas tapi memiliki pinjaman untuk modal usaha pertanian. Selain itu beberapa rumahtangga tidak memiliki pinjaman dan tidak juga memiliki tabungan.
Analisis Modal Nafkah Di Dua Komunitas
Dalam usaha melakukan strategi nafkah, suatu rumahtangga akan memanfaatkan modal nafkah yang dimilikinya. Modal nafkah ini juga akan mempengaruhi rumahtangga dalam menghadapi kondisi krisis seperti bencana letusan Gunung Sinabung. Pemanfaataan modal nafkah di wilayah yang tidak gagal panen dan wilayah yang gagal panen akan berbeda. Perbedaan pemanfaatan ini akan memepengaruhi tingkat resiliensi komunitas pada saat terjadi krisis.
Modal Alam Luas Lahan
Mayoritas masyarakat di Desa Perteguhen dan Desa Jeraya memiliki mata pencaharian sebagai petani sehingga luas lahan merupakan salah satu hal penting yang mendukung keberlangsungan kehidupan masyarakat di kedua desa. Lahan ini merupakan salah satu asset rumahtangga yang sewaktu-waktu dapat dijual apabila terjadi krisis. Kepemilikan lahan ini juga menjadi kategori lapisan sosial yang ada di masyarakat. Luas lahan ≤0.5 ha dikategorikan lahan sempit, luas lahan 0.6-1.5 ha dikategorikan lahan sedang dan luas lahan >1.5 ha dikategorikan lahan luas. Adapun penentuan kategori ini disesuaikan dengan keadaan di lapang dan berdasarkan informasi yang diperoleh dari pemerintah desa setempat.
Tabel 7 Jumlah dan persentase responden menurut luas lahan di Desa Perteguhen dan Desa Jeraya tahun 2014-2015
No Luas Lahan
Desa Perteguhen Desa Jeraya
Jumlah Rumahtangga Persentase (%) Jumlah Rumahtangga Persentase (%) 1 Sempit 16 53 21 70 2 Sedang 10 33 8 26 3 Luas 4 14 1 4 Total 30 100 30 100
Sumber: Data Primer
Berdasarkan data yang diperoleh, terlihat perbedaan yang signifikan antara kedua desa. Responden di Desa Perteguhen memiliki lahan dengan kategori luas lebih banyak dibandingkan Desa Jeraya. Hal ini dikarenakan keseluruhan luas
Desa Jeraya yang memang lebih sempit daripada luas Desa Perteguhen dan kebanyakan masyarakat Desa Jeraya sudah menjual lahannya ke masyarakat Desa Perteguhen karena beberapa alasan seperti alasan keuangan, sehingga saat ini beberapa masyarakat Desa Jeraya lebih memilih untuk menyewa lahan untuk lahan pertanian mereka. Lahan yang dimiliki masyarakat umumnya berbentuk ladang/tegal yang ditanami tanaman hortikultura dan kebun yang ditanami tanaman kopi.
Berdasarkan hasil yang ditemukan di lapang, terdapat keberagaman status penguasaan lahan. Status penguasaan lahan ini terdiri dari kepemilikan sendiri, sewa, pinjam pakai, bagi hasil, gadai dan tidak memiliki lahan. Rumahtangga yang memiliki lahan sendiri memungkinkan lebih cepat kembali kedalam keadaan normal dibandingkan pola penguasaan lainnya karena bisa dijual, sedangkan pola penguasaan lainnya pada saat terjadi krisis. Rincian beberapa kategori tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 8 Jumlah dan persentase responden menurut pola penguasaan lahan di Desa Perteguhen dan Desa Jeraya tahun 2014- 2015
No Kategori
Desa Perteguhen Desa Jeraya Jumlah Persentase (%) Jumlah Persentase (%) 1 Milik Sendiri 17 57 14 47 2 Sewa 1 3 4 13 3 Pinjam Pakai 0 0 1 3 4 Bagi hasil 2 7 0 0 5 Milik sendiri+sewa 5 16 8 27
6 Milik sendiri+bagi hasil 2 7 0 0
7 Milik sendiri+pinjam pakai 2 7 2 7 8 Milik sendiri+sewa+gadai 1 3 1 3 9 Tidak memiliki 0 0 0 0 Total 30 100 30 100
Sumber: Data Primer
Berdasarkan Tabel 8 tersebut terlihat bahwa status penguasaan lahan baik di Desa Perteguhen dan Desa Jeraya masih didominasi dengan kepemilikan sendiri. Selain itu kepemilikan sendiri sekaligus sewa juga banyak dilakukan oleh rumahtangga di kedua desa. Kemudian disusul dengan status sewa yang lebih besar di Desa Jeraya dibandingkan dengan Desa Perteguhen. Hal ini sesuai dengan yang sudah dipaparkan sebelumnya bahwa kebanyakan lahan masyarakat Desa Jeraya sudah dijual kepada masyarakat Desa Perteguhen. Selain itu sewa lahan yang masih tergolong murah membuat rumahtangga lebih memilih untuk menyewa lahan untuk memperluas wilayah cocok tanam mereka. Berikut pemaparan Ibu NUT (37 tahun):
“Masyarakat di desa ini banyak yang menyewa lahan juga karena lahan disini sudah terbatas dan dimiliki oleh masyarakat Desa Perteguhen. Menyewa lahan termasuk menguntungkan juga karena harga sewa tidak
begitu mahal. Contohnya lahan 1 hektar disewakan Rp4 000 000/tahun. Setahun aja kita sudah panen 4 kali kalo tanaman hortikultura yang keuntungannya sudah menutupi harga sewa ladangnya”
Modal Manusia Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan adalah jenjang formal terakhir yang dijalani responden. Kategori tingkat pendidikan responden di Desa Perteguhen dan Desa Jeraya dibagi menjadi tiga kategori yaitu tidak/lulus SD (rendah), lulus SMP (sedang), dan lulus SMA (tinggi). Responden yang memiliki pendidikan tinggi cenderung memiliki pekerjaan yang lebih baik sehingga membantu mereka dalam menghadapi kondisi krisis. Berikut data yang ditemukan di lapang dari kedua desa.
Sumber: Data Primer
Gambar 5 Jumlah responden menurut tingkat pendidikan di Desa Perteguhen dan Desa Jeraya tahun 2014- 2015
Berdasarkan Gambar 5 tersebut, tingkat pendidikan antara Desa Perteguhen dan Desa Jeraya terlihat berbeda. Mayoritas responden Desa Perteguhen memiliki tingkat pendidikan yang tinggi yaitu lulus SMA yang mencapai 67 persen, sedangkan mayoritas responden Desa Jeraya memiliki tingkat pendidikan rendah sebanyak 37 persen. Berdasarkan keadaan di lapang, kebanyakan responden dengan tingkat pendidikan tinggi memiliki profesi sebagai PNS, aparat desa atau memiliki usaha sampingan di luar sektor pertanian. Salah satu penyebab perbedaan tingkat pendidikan di kedua desa adalah sarana pendidikan yang tidak memadai. Desa Jeraya tidak memiliki sekolah dan harus
0 5 10 15 20 25 Tingkat Pendidikan Rendah Tingkat Pendidikan Sedang Tingkat Pendidikan Tinggi
menempuh perjalanan ke Desa Perteguhen atau ke desa lain di Kecamatan. Berikut pemaparan Bapak BEG (42 tahun):
“Kalo masa saya dulu pendidikan kan tidak terlalu penting ditambah sekolah juga jauh dari desa, yang penting kita bisa ke ladang sudah bisa melanjutkan hidup tidak seperti sekarang yang berpendidikan masa depannya lebih cerah”
Jumlah Alokasi Tenaga Kerja