• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5. Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriktif-kualitatif yang lebih mementingkan ketetapan dan kecukupan data. Data tersebut disajikan dalam bentuk life story, yaitu deskriktif tentang peristiwa dan pengalaman penting dari kehidupan atau beberapa bagian pokok dari kehidupan seorang dengan kata-katanya sendiri (Suyanto dan Sutinah, 2008: 174-175). Jumlah data life story berjumlah 4 orang informan.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan mengkaji data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber data yang terkumpul, mempelajari data, menelaah, menyusun dalam suatu satuan, yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya dan memeriksa keabsahan data serta mendefenisikannya dengan analisis sesuai dengan kemampuan daya peneliti untuk membuat kesimpulan penelitian (Moeleong, 2002).

Data – data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalis secara kualitatif, dimana hasil wawancara akan ditampilkan sebagai hasil penelitian. Kemudian pengolahan data dilakukan dengan manual dan dianalisis.

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 4.1. Karakteristik Pekerja

Deli serdang khususnya Desa Amal Bakti, banyak anak anak yang berprofesi sebagai pekerja. Hampir rata-rata anak disana menjadi pekerja, khususnya pekerja batu bata. Mereka memilih bekerja sebagai pekerja batu bata karena daerah ini merupakan daerah penghasil batu bata. Sebagian besar anak pekerja batu bata bekerja di pabrik pembuatan batu bata yang mempunyai anggota sebanyak 5-10 orang.

Bila dihubungkan dengan beban tugas, para pekerja anak hampir sama dengan beban kerja pekerja dewasa. Secara umum dapat dinyatakan bahwa pekerja anak mempunyai beban tugas yang lebih berat dibanding pekerja dewasa dalam pabrik batu bata tersebut. Kondisi ini diperkuat oleh kesamaan kerja yang dilakukan orang dewasa maupun anak-anak, tidak ada pembeda. Padahal kekuatan fisik dan tenaga pekerja anak dan dewasa sangat berbeda, tetapi memiliki kesamaan beban kerja.

Mengapa pabrik batu bata tidak memilih pekerja dewasa yang secara fisik lebih kuat? Dari hasil pengamatan peneliti menyimpulkan bahwa karena pekerja yang ditawarkan kepada pabrik batu bata tersebut hanya anak-anak. Bahkan juga pabrik tersebut dengan sengaja lebih memilih anak-anak, karena sifatnya yang lebih penurut, tidak banyak menuntut, dan bayarannya lebih murah, sehingga akan sangat menguntungkan pabrik batu bata tersebut. Sebagai dukungan data, jumlah pekerja anak berdasarkan kelompok umur dapat dijabarkan sebagai berikut;

Tabel 1. Jumlah Pekerja Anak dan Dewasa

Jumlah Pekerja

Kelompok Umur

Anak Dewasa Total

30 20 10 30

Sebagian besar pekerja di pabrik batu bata ternyata masih anak-anak yakni berjumlah 20 anak. Disatu sisi kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap pekerja anak lebih banyak.

Berdasarkan Tabel 2 dapat terlihat bahwa umur pekerja ternyata tidak mempunyai pengaruh dalam memilih umur pekerja. Tidak ada kecenderungan pabrik yang pekerjanya orang dewasa. Adapun jumlah pekerja berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada tabel berikut di bawah ini:

Tabel 2 Jumlah Pekerja Berdasarkan Kelompok Usia

Usia Pekerja

Kelompok Umur

Anak Dewasa Total

5 – 10 10 – 15 15 – 20 20 – 30 30 – 40 5 7 8 - - - 7 3 5 7 8 7 3

Hampir semua pekerja bekerja di pabrik batu bata hanya berpendidikan SD maupun SLTP keatas. Berdasarkan data, pekerja anak rata-rata berusia 15-20 tahun yakni sebanyak 8 orang. Selain itu, usia 5-10 tahun sebanyak 5 orang dan 7 orang anak yang berusia 10-15 tahun. Selebihnya usia 20-30 tahun pada usia dewasa sebanyak 7 orang dan usia 30-40 tahun sebanyak 3 orang.

Umumnya, tidak ada perbedaan jika semakin tinggi pendidikan pekerja, maka semakin tinggi pula pendapatannya. Semua mendapat penghasilan yang sama tergantung jumlah jam kerja.

Jumlah pekerja anak yang bekerja di pabrik batu bata yang berpendidikan tinggi ternyata tidak berbeda secara nyata dengan jumlah pekerja dewasa. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor pendidikan tidak mempunyai pengaruh terhadap pilihan untuk mempekerjakan pekerja anak. Atau dengan kata lain, pekerja anak dan pekerja dewasa mempunyai peluang yang sama bekerja di pabrik batu bata dalam tingkat pendidikan manapun. Dari data diperoleh bahwa ternyata anak dengan pendidikan tidak tamat SD lebih banyak jumlahnya yakni 8 orang. Kemudian jumlah anak yang tidak sekolah sebanyak 5 orang dan 7 orang tamat SD. Sedangkan pada kelompok usia dewasa semua tamat SD yakni sebanyak 2 orang dan 8 orang yang berpendidikan tamat SLTP. Adapun jumlah pekerja berdasarkan kelompok umur dan pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut di bawah ini:

Tabel 3 Jumlah Pekerja Berdasarkan Kelompok Umur dan Pendidikan

Umur Pekerja

Kelompok Umur

Anak Dewasa Total

Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT 5 8 7 - - 2 8 5 8 9 8

Pabrik batu bata yang menjadi lokasi penelitian ternyata sebagian besar mempekerjakan pekerja anak pada kelompok usia 15–20 tahun. Jumlah kelompok usia tersebut lebih dari setengah jumlah keseluruhan. Ada suatu indikasi bahwa pabrik lebih menyukai mempekerjakan pekerja pada kelompok usia tersebut. Hal ini dapat dimengerti, mengingat pada usia tersebut, seseorang telah dapat

dipercaya dan mampu untuk melakukan pekerjaan dengan baik, serta diasumsikan belum berkeluarga atau menikah sehingga belum mempunyai beban secara fisik atau mental dan enerjik, sehingga majikan pabrik menyukai pekerja pada usia tersebut.

Di sisi lain kondisi ini juga mengindikasikan bahwa penawaran pekerja yang terbanyak berkisar pada umur 15-20 tahun tersebut. Dalam usia demikian, umumnya seseorang akan mulai mencari pekerjaan, baik untuk menghidupi dirinya sendiri maupun membantu keluarga. Akan tetapi, karena keterbatasan sumberdaya yang dimiliki, seperti: pendidikan, modal, serta rendahnya lapangan pekerjaan lain yang tersedia, maka pekerjaan yang ada baginya hanya menjadi buruh pabrik batu bata.

Selain itu, kondisi menunjukkan bahwa saat mereka berada pada usia dibawah 15 tahun, peluang untuk menjadi buruh pekerja batu bata cukup tinggi. Sangat banyak faktor yang menentukan mereka sudah bekerja. Sekalipun demikian, ada satu hal yang diperoleh dari informasi di lapangan, bahwa pekerja anak usia 15-20 tahun yang ada sekarang, hanya sebagian dari kelompok tersebut yang tidak pernah menjadi buruh. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah pekerja pada kelompok ini relatif banyak. Biasanya, pekerja akan berhenti bekerja ketika melakukan pernikahan atau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Akan tetapi, jika setelah menikah atau mendapat pekerjaan lain kehidupannya tidak membaik, maka mereka akan kembali menjadi pekerja buruh batu bata. Gambaran diatas sesungguhnya lebih cenderung menunjukkan jumlah pekerja dewasa yang tidak dapat memilih untuk berhenti sebagai pekerja buruh batu bata.

Dari pemaparan dan analisis yang telah dilakukan terlihat bahwa anak-anak umumnya mempunyai potensi besar menjadi seorang pekerja buruh batu bata, terutama pada kelompok umur 15-20 tahun. Kepatuhan pekerja anak lebih tinggi, lebih rajin, atau bersedia dibayar lebih rendah merupakan faktor-faktor yang menyebabkan lebih senangnya majikan pabrik batu bata mempunyai pekerja anak. Akan tetapi juga tidak dapat dilupakan bahwa dari sisi penawaran, besar kemungkinan kelompok yang bersedia menjadi pekerja karena didominasi oleh anak-anak.

Berdasarkan jenis kelamin, ternyata hampir semua pekerja adalah laki-laki. Kondisi ini dapat dimaklumi, karena dalam kultur Indonesia, pekerjaan berat dan kotor dianggap sebagai pekerjaan “laki-laki”, sehingga dari sisi penawaran pekerja yang disediakan adalah laki-laki. Di sisi permintaan, ternyata tidak tertutup kemungkinan pabrik pun juga memilih pekerja anak perempuan. Pekerja anak yang berjenis kelamin laki-laki ternyata lebih besar dibanding perempuan.

Bagi laki-laki dewasa, tentunya pekerjaan sebagai buruh pabrik batu bata merupakan pilihan terakhirnya, karena berbagai alasan, seperti laki-laki dewasa akan malu menjadi buruh batu bata atau lapangan pekerjaan lebih luas baginya sekalipun hanya menjadi pekerja kasar seperti buruh, dagang dan lain-lain. Sedangkan bagi anak, lebih terbatas pilihannya dibandingkan orang dewasa. Oleh karena itulah, persentase pekerja anak laki-laki lebih tinggi.

Adapun jumlah pekerja berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 4 berikut di bawah ini:

Tabel 4 Jumlah Pekerja Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Kelompok Umur

Anak Dewasa Total

Perempuan Laki –laki 5 15 - 10 5 25

Mengingat pekerja perempuan berjumlah relatif sangat sedikit, maka dalam analisis selanjutnya tidak mempertimbangkan perbedaan jenis kelamin. Sehingga analisis akan dilakukan terhadap pekerja anak secara keseluruhan.

Secara umum, pekerja anak yang menjadi responden dalam penelitian ini mempunyai status belum menikah. Akan tetapi, bila ditinjau berdasarkan kelompok umur, terdapat perbedaan pola. Pekerja yang berusia lebih muda cenderung mempunyai jumlah tertinggi pada kategori belum kawin, sedang kelompok yang lebih tua cenderung mempunyai jumlah besar pada kategori kawin dan cerai.

Sedangkan karakteristik responden berdasarkan lamanya menjalani

pekerjaan diketahui bahwa ada sebanyak 2 orang responden yang lamanya menjalani pekerjaannya dibawah 6 bulan. Begitu juga dengan lamanya bekerja antara 6 bulan sampai 1 tahun ada sebanyak 2 orang diikuti dengan lamanya bekerja antara 1 tahun sampai 1,5 tahun dengan responden sebanyak 3 orang, begitu juga dengan lamanya bekerja antara 1,5 tahun sampai 2 tahun ada sebanyak 3 orang. Terakhir adalah responden tersebut bekerja lebih dari 2 tahun yaitu sebanyak 10 orang. Sungguh sangat disayangkan begitu lama mereka sudah terjerumus dan masuk ke dalam dunia pekerja dalam menjalani aktivitasnya

mencari uang untuk pemenuhan kebutuhan yang sangat urgen bagi dirinya masing-masing dan keluarganya.

4.2. Karakteristik Keluarga Pekerja Anak

Hampir semua pekerja anak tinggal dengan orangtua dan kerabatnya. Sisanya tinggal dengan orang yang bukan anggota keluarganya. Pekerja anak yang tinggal dengan orangtuanya, ternyata sebagian besar yang menjadi kepala rumah tangga adalah bapak. Bila dalam masyarakat Indonesia masih tertanam bahwa tonggak penghasilan rumah tangga adalah bapak, maka disini terlihat bahwa kehadiran seorang bapak dalam keluarga ternyata tidak mampu mencegah kepindahan anaknya dari rumah untuk bekerja sebagai buruh.

Bukan hanya anak-anak, pekerja dewasa juga banyak yang tinggal dengan kepala rumah tangga laki-laki yang tidak mampu mencegahnya untuk menjadi buruh batu bata. Penyebab kondisi ini tentunya sangat erat kaitannya dengan permasalahan ekonomi rumah tangganya.

Dari hasil data penelitian didapat bahwa jenis pekerjaan orang tua responden lebih dominan pada kuli bangunan, buruh pabrik dan tukang becak yang memiliki jumlah responden yaitu 6 responden. Selanjutnya petani dengan jumlah responden sebanyak 4 responden. Terakhir dengan jumlah 1 responden pada jenis pekerjaan sebagai supir angkot. Ada juga orang tua yang tidak bekerja dan meninggal dunia yang memiliki masing-masing 1 responden

Sebagian besar pekerja anak ternyata mempunyai kepala rumah tangga yang bekerja sebagai kuli bangunan, penarik becak, petani bahkan juga buruh pabrik. Dalam dunia ketenagakerjaan di Indonesia, kuli, buruh dan petani

digolongkan berpenghasilan rendah. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa kemiskinan merupakan pendorong seorang anak untuk bekerja sebagai pekerja di pabrik batu bata. Jauh lebih tingginya jumlah pekerja anak dibanding pekerja dewasa menunjukkan bahwa seorang anak yang mempunyai kepala rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian mempunyai resiko lebih tinggi untuk menjadi pekerja dibanding seorang anak yang mempunyai kepala rumah tangga yang bekerja di sektor lain.

Kenyataan ini juga dapat dijadikan indikator bahwa pekerja anak lebih banyak yang berasal dari daerah pedesaan karena petani umumnya berada di daerah pedesaan. Kondisi ini dapat dikatakan sebagai akibat dari ketimpangan/ ketidakmerataan pembangunan antara daerah perkotaan dan pedesaan, sehingga lapangan pekerjaan yang tersedia – yang lebih baik dibanding menjadi buruh – sangat terbatas. Oleh karena itu, anak-anak pun terpaksa meninggalkan sekolahnya untuk mencari pekerjaan sebagai buruh batu bata untuk membantu ekonomi keluarga.

Sebagaimana layaknya struktur ketenagakerjaan di Indonesia, persentase buruh yang mempunyai kepala rumah tangga yang bekerja di sektor perdagangan juga besar. Akan tetapi, dapat diduga bahwa kepala rumah tangga tersebut merupakan pedagang kecil, sehingga tidak mempunyai keberdayaan untuk mencegah anaknya menjadi pekerja. Bapak yang bekerja sebagai buruh industri juga mempunyai persentase cukup besar untuk mempunyai anak yang menjadi pekerja. Hal ini dapat dimaklumi, karena buruh industri juga mempunyai

permasalahan kecilnya penghasilan, terutama buruh industri pada perusahaan berskala kecil atau usaha rumah tangga.

4.3. Kondisi Kerja: Hari dan Jam Kerja

Salah satu permasalahan yang dihadapi pekerja anak dalam bekerja adalah tidak adanya hari libur bagi mereka. Pekerja anak umumnya tidak mengenal libur mingguan, hari libur nasional dan lokal, yang merupakan hari libur bagi para pekerja umumnya. Data ini juga menemukan bahwa semua pekerja anak bekerja selama 7 hari dalam seminggu.

Para pekerja anak ini biasanya memulai pekerjaan mereka itu sepulang sekolah dan sesudah makan siang sekitar jam 13.00-19.00 Wib. Ada juga memulai sekitar jam 9.00-12.00 Wib selanjutnya disambung sehabis pulang sekolah jam 17.00-19.00 Wib

Tidak hanya pekerja anak, tetapi juga pekerja dewasa. Sebab, upah gaji berdasarkan jumlah batu bata yang dihasilkan, bukan berdasarkan jumlah waktu maupun hari bekerja.

Selain hari kerja, pekerja anak juga mempunyai permasalahan panjangnya jam kerja per hari. Bila pekerja formal mempunyai jam kerja 7 jam per hari, ternyata sebagian besar pekerja anak bekerja sama seperti orang dewasa 7 jam per hari. Bahkan pekerja anak yang mempunyai jam kerja 10 jam atau lebih per hari mempunyai jumlah yang cukup besar pula. Lamanya jam kerja lebih dari 9 jam per hari merupakan salah satu indikator eksploitasi. Hal ini terjadi jika hari libur sekolah. Kecenderungan majikan mempekerjakan pekerja anak dengan jam kerja

panjang sudah merupakan kebiasaan umum. Tidak adanya perangkat perundangan yang mengatur jam kerja pekerja anak serta rendahnya kesadaran majikan, membuat majikan dapat menggunakan tenaga pekerja anak sesuka hati.

Sebenarnya para pekerja anak ini mempunyai kebebasan untuk menentukan jam kerjanya karena tidak ada peraturan yang berkenaan dengan pekerjaan mereka dan karena itu pula kemudian mereka dikategorikan bekerja sebagai sektor informal. Jam kerja atau lamanya bekerja sangat ditentukan oleh pekerja anak tersebut. Para pekerja anak biasanya bekerja untuk mengejar target batu bata yang akan dihasilkan.

Dalam menjalankan pekerjaannya, sebagian besar pekerja anak mendapat kesempatan istirahat. Akan tetapi, waktu istirahat yang ada relatif singkat, sehingga jam kerja pekerja anak masih tetap panjang. Umumnya, pekerja anak hanya dapat istirahat selama 1 jam.

Para pekerja anak terkadang istirahat sebentar dirumah untuk mandi dan makan sore setelah itu dilanjutkan bekerja hingga tak jarang sampe jam 6 sore. Ada juga anak yang tidak pulang untuk beristirahat dan mandi berhubung orang tua mereka ikut juga bekerja bersama dengan mereka sehingga makan dan minum mereka orang tua mereka yang membeli dilokasi tempat mereka bekerja.

Untuk memanfaatkan waktu istirahatnya selain makan, pekerja anak ternyata cenderung menggunakannya untuk menonton televisi. Namun, pekerja anak dengan lebih cenderungnya memilih istirahat pulang kerumah dibanding menonton televisi dilokasi kerja. Hal ini memberikan indikasi bahwa keletihan yang dirasakannya lebih besar dibanding daya tarik menonton televisi. Indikasi

tersebut tentunya bukan satu-satunya, sebab bisa juga pekerja anak tidak menyukai acara pada jam istirahatnya, sehingga lebih memilih pulang kerumah untuk makan dan tidur.

4.4. Pendapatan dan Distribusi Kebutuhan Pekerja Anak

Pendapatan perhari para pekerja anak sangat tidak menentu tergantung keadaan dan jam kerja. Pendapatan tiap anakpun berbeda-beda meskipun sudah ada yang bekerja dilokasi yang sama. Pendapatan perharinya pekerja anak tersebut rata-rata Rp. 20.000 – Rp. 75.000. Namun tidak setiap harinya pekerja anak mendapatkan jumlah sekian dimana bisa lebih dari pendapatan itu maupun kurang dari pendapatan tersebut.

Uang hasil dari pendapatan pekerja anak itu biasanya diserahkan semua kepada Ibu mereka untuk keperluan rumah tangga, namun terkadang digunakan anak untuk membeli makanan (jajan).

Dengan pendapatan dan pendistribusian yang semuanya diserahkan kepada orang tua mengakibatkan mereka tidak dapat menabung disebabkan mereka hanya dikasih uang pas setiap harinya seperti uang jajan dan ongkos ke sekolah Rp. 2.000-Rp. 4.000, kalupun ada sisa yang sisa Cuma Rp. 1.000,- per hari itu pun bukan untuk ditabung sebab mereka belum tahan bila melihat ada teman yang jajan.

Distribusi pendapatan digunakan untuk kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal dan kesehatan. Kebutuhan pekerja anak dalam pemenuhan kebutuhan makan secara kualitas menunjukkan kecukupan. Hal ini teridentivikasi dari pengakuan informan dimana mereka menyatakan setiap hari makan 2-3 kali

sehari, tapi dari hasil pengamatan sehari-hari yang telah penulis lihat menunjukkan secara kualitas variasi menu dan kecukupan gizi belum di perhatikan oleh orang tua mereka. Mereka keseringan makan nasi bungkus yang perbungkusnya seharga Rp.5.000- Rp.6.000

Kebutuhan pemenuhan pakaian sebagian besar pekerja anak menyatakan mereka dibelikan pakaian hanya satu tahun sekali yakni menjelang hari Raya. Karena kadang-kadang ada juga yang mau menyumbangkan mereka pakaian. Hasil pengamatan sehari-hari dilihat bahwa pakaian keseharian mereka cenderung sudah kumal dan kurang bersih bahkan memakai pakaian seadanya sedangkan bagi pekerja anak yang masih menuntut ilmu dibangku sekolah, kebutuhan pakaian seragam sekolah juga kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya.

Sedangkan pemenuhan kebutuhan tempat tinggal bagi pekerja anak adalah kebutuhan akan privasi anak (kamar tidur dan tempat belajar) menunjukkan bahwa semua anak belum memiliki kamar tidur sendiri, mereka terpaksa harus tidur bersama anggota keluarga lainnya bahkan berdasarkan pengamatan dapat dilihat bahwa mereka tidur di kamar/ruang tanpa adanya pintu atau hanya ditutup dengan kain, maupun tidak ditutup yaitu bergabung dengan ruang tamu dikarenakan ukuran rumah yang sangat kecil. Keadaan lokasi kamar seperti itu mengakibatkan orang lain bebas untuk keluar masuk bahkan dapat di melihat dari luar kondisi yang ada di dalam rumah.

Bagi pekerja anak yang masih bersekolah mereka menyatakan tidak memiliki tempat khusus untuk belajar, mereka belajar dilantai rumah mereka

ataupun yang memiliki meja dan kursi mereka akan menggunakannya, untuk fasilitas yang lain mereka belum memilikinya

BAB V

PEMBAHASAN DAN ANALISIS DATA

Melalui hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti di lapangan yaitu melakukan teknik wawancara yang mendalam dan observasi partisipasif dengan informan, peneliti berhasil mengumpulkan data informasi mengenai “kontibusi pekerja anak terhadap sosial ekonomi keluarga di Desa Amal Bakti Kecematan Beringin Kabupaten Deli Serdang”.

Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu :

1. Peneliti dilakukan atau diawali dengan mengumpulkan dokumen dari keluarga pekerja. Pengumpulan data tersebut case record yang meliputi biodata responden, latar belakang keluarga responden dan dokumen lainnya yang berhubungan dengan keluarga pekerja anak. 2. Melakukan diskusi terbuka dengan responden khususnya para

pekerja anak dalam proses penentuan informan dan mengetahui latar belakang keluarga pekerja anak.

3. Melakukan pengamatan dan observasi di lingkungan tempat tinggal responden. Dalam hal ini, peneliti membuat catatan di lapangan untuk mengetahui informasi mengenai dukungan maupun kontribusi pekerja anak untuk ekonomi keluarga

Informan yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 12 orang, dengan komposisi 4 orang informan pangkal, 4 orang informan kunci dan 4 orang informan biasa. Informan pangkal berperan sebagai penghubung antara peneliti dengan informan kunci dan informan biasa sekaligus sebagai sumber informasi

mengenai latar belakang keluarga responden. Pada informan kunci dan informan biasa dilakukan wawancara mendalam untuk memperoleh data mengenai kontribusi pekerja anak bagi ekonomi keluarga.

Informan pangkal dalam penelitian ini adalah orang tua pekerja anak. Informan kunci dalam penelitian ini ada 4 orang responden pekerja. Informan kunci dalam penelitian ini adalah Lili Suryani, Suratman, Galuh Danu Pramana, Ninik Suryani. Selanjutnya yang menjadi informan biasa adalah Pemilik kilang batu bata

5.1. Hasil Temuan

5.1.1. Informan Pangkal

Informan pangkal dalam penelitian ini adalah Bapak Sugeng selaku orang tua dari Lili Suryani, ibu Warni juga selaku orang tua dari Suratman dan Sutoyo selaku orang tua Galuh Danu Pramana.

Kondisi kemiskinan dan pekerjaan dengan pendapatan yang rendah telah memaksa anak mereka untuk bekerja membantu keluarga dan merupakan kewajiban dan tanggung-jawab anak bila tetap ingin hidup.

Keadaan sosial ekonomi keluarga walaupun sudah bekerja keras belum mampu untuk mencukupi kebutuhan anaknya sehari-hari. Keadaan inilah yang memaksa anak-anak mereka untuk memberikan kontribusi kepada keluarga berupa uang hasil dari anak bekerja.

Dapat kita lihat deskripsi kehidupan empat keluarga pekerja anak dengan profesi kerja yang berbeda-beda dalam memberikan kontribusi kepada keluarga.

Keluarga inti mempunyai andil yang sangat besar dalam mempekerjakan anak-anaknya karena tanpa persetujuan dari keluargaa yaitu orang tua ataupun wali pekerja anak tidak dapat menerima pekerjaan di kilang batu bata tersebut. Bapak Sugeng mengatakan :

“Saya memang menyutujui anak saya untuk bekerja, dan anak saya pun tidak keberatan untuk kerja, kami sangat sadar atas kekurangan keluarga kami makanya kami semua bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari”.

Dokumen terkait