Sebagian besar, kalau tidak dapat dikatakan seluruh produk samping tanaman dan hasil ikutan pengolahan kelapa sawit mengandung serat kasar yang cukup tinggi. Keadaan yang demikian mengindikasikan bahwa apabila produk samping industri kelapa sawit dimanfaatkan/diberikan kepada ternak ruminansia dalam bentuk tunggal, akan menyebabkan ternak mengalami kekurangan asupan nutrien. Oleh karena itu, pemanfaatannya hanya diperuntukkan sebagai bahan pakan dasar ransum ternak (Jalaludin et al., 1991b; Noel, 2003). Abu Hassan dan Ishida (1991) melaporkan bahwa pelepah kelapa sawit dapat dipergunakan sebagai bahan pakan pengganti hijauan, baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk silase. Studi awal yang dilakukan oleh Abu Hassan dan Ishida (1992) pada sapi Kedah Kalantan menunjukkan bahwa pelepah dapat dipergunakan hingga mencapai 30 – 45% dan dapat menggantikan 100% pakan hijauan. Mathius et al. (2004b) menyarankan pelepah dapat diberikan dalam keadaan segar sejumlah 30% (dalam bentuk cacahan) hingga 60% (dalam bentuk hancuran/shreder) dari konsumsi bahan kering ransum. Hasil penelitian Wan Zahari et al. (2003) yang menggunakan tingkat cacahan pelepah segar yang berbeda pada sapi potong hasil persilangan Brahman-Australia, menunjukkan bahwa pemberian cacahan pelepah segar sejumlah 40% dan pakan tambahan yang tersusun dari sebagian besar bungkil inti sawit memberikan hasil yang terbaik ditinjau dari tingkat efisiensi penggunaan ransum. Demikian pula pemberian pakan tersebut menghasilkan persentase dan bobot karkas yang terbaik, meskipun pemberian sejumlah 20% cacahan pelepah segar dan 80% pakan tambahan dari campuran yang tersusun dari bungkil inti sawit memberikan pertambahan bobot hidup harian yang tertinggi (0,85 vs 0,67 kg). Disamping tidak ekonomis, pemberian 20% cacahan segar dan 80% pakan tambahan
menyebabkan kandungan lemak karkas dapat mencapai 16,7%, suatu kondisi dimana pasar kurang dapat menerima. Selanjutnya dikatakan bahwa pemberian pelepah sebagai bahan ransum dalam jangka waktu yang panjang menghasilkan kualitas karkas yang lebih baik. Hasil penelitian terdahulu (Mathius et al., 2004a; Mathius 2011) menunjukkan bahwa baik cacahan bagian dalam (daging) pelepah ataupun rajangan pelepah-daun kelapa sawit segar dapat dipergunakan sebagai pengganti pakan hijauan.
Pencacahan yang dilanjutkan dengan pengeringan dan penggilingan, dapat diberikan dalam bentuk pellet (Wan Zahari et al., 2003). Pemberian tepung pelepah dalam bentuk pellet (pakan tunggal) kurang disarankan dengan alasan (i) ukuran yang terlalu kecil menyebabkan waktu ruminansi atau memamah berkurang, sehingga kondisi rumen (pH) akan berubah dan mempengaruhi proses fermentasi substrat/pakan dalam rumen, (ii) waktu tinggal partikel menjadi singkat sehingga proses pencernaan terganggu dan ternak tidak cukup waktu untuk dapat memanfaatkan nutrisi yang ada, (iii) dan membutuhkan biaya yang lebih banyak untuk proses pembuatan pelet. Untuk mengoptimalkan penggunaan pelepah kelapa sawit, maka bentuk rajangan lebih disarankan, baik dalam bentuk segar maupun kering. Preparasi pelepah sebagai pakan pengganti hijauan dapat pula dilakukan dalam bentuk silase. Sebelum melewati proses ensilase, cacahan pelepah segar (2 – 3 cm) sebaiknya ditambahkan urea sejumlah 1 – 2% untuk mencegah tumbuhnya jamur dan mencegah timbulnya proses pemanasan yang lebih awal dalam kurun waktu 28 jam (Wan Zahari et al., 2003). Hasil uji coba penggunaan silase cacahan pelepah tidak menimbulkan efek negatif terhadap penampilan ternak yang mengkonsumsi. Pemberian 30% silase perlakuan pelepah-urea dengan tambahan pakan tambahan berbasis bungkil inti sawit mampu memberikan pertambahan bobot hidup harian sebesar 0,620 kg (Abu Hassan dan Ishida, 1991).
Serat perasan (palm press fiber) merupakan hasil ekstrasi minyak sawit dan hasil ikutan pengolahan buah kelapa sawit, yang pada umumnya masih dipergunakan sebagai bahan bakar pabrik (boiler) pengolahan buah sawit. Namun demikian bila dilihat dari potensi dan kandungan nutrien yang dimiliki maka tidak tertutup kemungkinan untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pengganti pakan hijauan. Abu Hassan et al. (1995) melaporkan bahwa kemampuan ternak untuk mengkonsumsi serat perasan cukup rendah sebagai akibat rendahnya nilai kecernaan serat kasar bahan tersebut, yakni hanya mencapai 24 – 30%. Upaya untuk meningkatkan nilai nutrien dan biologis serat perasan, berbagai upaya seperti perlakuan kimia (alkali) dan fisik (tekanan tinggi) tidak banyak memberikan manfaat yang berarti. Keadaan yang demikian menyebabkan upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan serat perasan belum dapat disarankan.
Solid/lumpur sawit mengandung protein kasar berkisar 12 – 14%. Upaya untuk meningkatkan kandungan nutrien dan biologis melalui proses fermentasi memberi peluang tersendiri bagi ternak ruminansia untuk dapat memanfaatkannya secara optimal. Belum diketahui dengan pasti jumlah lumpur sawit yang cukup aman untuk dapat dimanfaatkan sebagai pakan ruminansia, meskipun beberapa laporan menunjukkan bahwa solid dapat dipergunakan secara tunggal untuk sapi potong peranakan Ongole (PO). Pemberian yang dilakukan dengan kombinasi bungkil inti sawit dapat memberikan respon yang positif terhadap ternak sapi yang mengkonsumsinya (Jalaludin et al., 1991b).
Berbagai penelitian telah dilakukan dalam upaya memanfaatkan lumpur sawit sebagai pakan. Penggunaan lumpur sawit untuk menggantikan dedak dalam ransum sapi perah jantan maupun sapi perah laktasi, telah dilaporkan Sutardi (1991). Selanjutnya dikatakan bahwa penggantian semua (100%) dedak dalam konsentrat dengan lumpur sawit memberikan pertumbuhan
dan produksi susu yang sama dengan kontrol. Bahkan ada kecenderungan bahwa kadar protein susu yang diberi ransum lumpur sawit lebih tinggi dari kontrol. Penggunaan lumpur sawit sebagai pakan domba juga sudah dilaporkan oleh Handayani et al. (1987). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa domba yang diberi pakan yang terdiri dari rumput lapang secara ad libitum, dan diberi tambahan lumpur sawit sebanyak 0,9% dari bobot hidupnya menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik.
Bungkil inti sawit, merupakan produk samping yang berkualitas karena mengandung protein kasar cukup tinggi. Bungkil inti sawit merupakan sumber energi dan protein yang cukup baik untuk ternak ruminansia, dengan kandungan protein sekitar 16% dan lemak 6% dan serat kasar sekitar 20%. Pemanfaatannya secara bersama-sama dengan produk samping lainnya perlu dilakukan untuk dapat mengoptimalkan penggunaan bungkil inti sawit. Pemberian bungkil inti sawit secara tunggal (6 – 7 kg/ekor/hari) mampu memberikan pertambahan bobot hidup harian sapi dengan kisaran 0,7 – 1,3 kg (Sue dan Awaludin, 2005). Penelitian pemanfaatan BIS dalam ransum sapi perah, sapi potong dan domba sudah banyak dilaporkan. Babjee et al. (1986) memberikan BIS sebagai bahan pakan tunggal (BIS + mineral dan vitamin) dalam penggemukan sapi dan menghasilkan pertumbuhan yang cukup baik (749 g/ekor/hari). Akan tetapi, dilaporkan bahwa pemberian BIS sebagai bahan pakan tunggal dapat menimbulkan resiko kembung. Ginting et al. (1987) melaporkan bahwa domba yang diberi suplementasi BIS hingga 1,35% dari bobot badan memberi pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya diberi rumput.
Balai Penelitian Ternak telah melakukan pengujian penggunaan bungkil inti sawit sebagai bahan penyusun konsentrat sapi perah, selama masa pertumbuhan, bunting dan masa produksi di laboratorium (kandang percobaan) maupun di peternak. Pengamatan di kandang percobaan telah dilakukan dengan penggunaan 50% BIS untuk menggantikan bungkil
kedelai dan DDGS (hasil sisa pembuatan ethanol) dalam konsentrat calon induk umur 8 sampai 19 bulan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa bobot ideal (320 kg) dicapai lebih awal (umur 16 bulan) dibandingkan dengan sapi yang diberi pakan tanpa BIS (umur 19 bulan) yang disertai dengan efisiensi penggunaan pakan yang lebih baik (Widiawati et al., 2012). Sedangkan pengamatan pada sapi perah yang sedang berproduksi penggunaan BIS 30% didalam konsentrat lebih baik daripada pemberian BIS 10%, karena menghasilkan produksi susu yang lebih tinggi (2157 l/ekor vs. 1807 l/ekor, selama 8 bulan) dan keuntungan yang lebih tinggi akibat harga pakan yang lebih murah (Priyanto dan Widiawati, 2010). Pengujian berikutnya yang menggunakan 50% bungkil inti sawit didalam konsentrat dara bunting juga menunjukkan produksi susu lebih tinggi 21,3% dan kadar lemak susu lebih tinggi 25% (4,13 vs. 3,30%) dibandingkan dengan yang tidak menggunakan BIS. Pengujian di tingkat peternak menunjukkan bahwa pemberian 50% bungkil inti sawit didalam konsentrat sapi FH laktasi tidak mengganggu produksi susu (meskipun lebih tinggi 4,7%) dan efisiensi penggunaan pakan, meskipun terdapat kecenderungan peningkatan kadar lemak susu (Widiawati et al., 2010).
Sampai saat ini, masih ada kekhawatiran peternak memberikan BIS dalam ransum sapi perah, karena dengan umur pemeliharaan yang panjang, cangkang yang terdapat didalam BIS dikhawatirkan dapat merusak saluran pencernaan dan kesehatan ternak tersebut. Pengamatan yang dilakukan pada sapi perah setelah mengkonsumsi konsentrat dengan kadar BIS 50% selama 18 bulan, tidak menunjukkan adanya kerusakan pada saluran pencernaan (rumen, reticulum, omasum, abomasum, usus hingga rectum) dan organ tubuh lainnya (hati, paru-paru dan jantung). Demikian juga tidak ditemukan penimbunan atau akumulasi cangkang sawit pada kantong rumen (Widiawati et al., 2010). Namun, BIS yang digunakan sudah disaring terlebih dahulu.
Penelitian di Australia (Davison et al., 1994) menunjukkan bahwa penggantian sekitar separuh konsentrat (campuran 90% barley dan 10% bungkil kapas) sapi perah tidak mengganggu produksi susu, bahkan meningkatkan kadar lemak susu, seperti terlihat pada Tabel 18.
Tabel 18. Performan sapi perah dengan pemberian bungkil inti sawit sebagai penganti konsentrat
Parameter 5 kg konsentrat (K) 4 kg K + 1 kg BIS 3 kg K + 2 kg BIS 2 kg K + 3 kg BIS Prod. Susu kg/ekor/hari 20,4 20,9 20,6 20,1 Lemak susu, % 3,28 3,64 3,96 3,99 Protein susu, % 3,16 3,21 3,28 3,18 Konsumsi konsentrat (kg/ekor/hari) 5,0 5,0 5,0 4,8
Sumber: Davison et al. (1994)
Dari uraian di atas, terlihat bahwa hampir seluruh produk samping tanaman dan olahan kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan, khususnya untuk ternak ruminansia. Nampaknya pemanfaatan produk samping tanaman dan hasil ikutan pengolahan buah kelapa sawit kurang baik untuk dapat dipergunakan secara tunggal. Kelemahan salah satu produk samping dapat dilengkapi dengan menyertakan kelebihan produk samping lainnya. Dengan perkataan lain, pemberian pakan yang berbasis produk samping industri kelapa sawit dapat diandalkan sebagai sumber utama pakan sapi potong. Uji biologis pakan yang tersusun dari imbangan campuran produk samping kelapa sawit pada ternak sapi, telah dilakukan Mathius et al. (2004b). Diperoleh bahwa ransum dengan imbangan satu bagian cacahan daging pelepah, satu bagian lumpur sawit dan satu bagian bungkil inti sawit, memberikan hasil yang terbaik, meskipun belum optimal
sebagaimana yang diharapkan (pertambahan bobot hidup harian sebesar 0,338 kg). Pemberian pelepah sebagai pakan dasar dan dengan penambahan produk fermentasi (lumpur sawit dan bungkil inti sawit) pada sapi Bali memberikan hasil yang lebih memuaskan dengan pertambahan bobot hidup harian seberat 0,6 kg (Mathius et al., 2005). Nilai tersebut memberi peluang bagi para praktisi untuk dapat menyusun ransum ruminansia, yang seluruh komponen bahan berasal dari produk samping industri kelapa sawit (kecuali vitamin dan mineral). Uji kaji formulasi pakan komplit untuk ternak sapi potong pada berbagai status fisiologis sedang dan akan terus dilakukan dan diharapkan kedepan seluruh pakan ternak ruminansia dapat diformulasikan dari produk samping industri kelapa sawit. Dari data yang diperoleh dan hasil kajian yang telah dilakukan perlu dipikirkan teknologi penyediaan pakan komplit siap saji untuk ternak ruminansia, khususnya dalam skala komersial. Secara umum penggunaan produk samping industri sawit untuk ternak ruminansia diuraikan dalam Tabel 19. Tabel 19. Persentasi penggunaan produk samping industri sawit untuk
ternak ruminansia Bahan Hidup pokok Bunting tua/ Laktasi Tumbuh/ muda Penggemukan Pelepah - daun 60 – 80 30 – 65 30 – 40 20 – 40 Solid 0 – 30 0 – 20 0 – 30 0 – 35 BIS 10 – 17 20 – 30 20 – 30 50 – 80 Mineral 1 2 0 – 2 1 Garam 1 1 1 1 Molases 0 – 2 0 – 2 0 – 2 0 – 2 PBHH (pertambahan bobot hidup harian) 0,1 – 0,7 kg; FCR (efisiensi penggunaan pakan) 7,9 – 13,3