• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Remitan Oleh Keluarga di Daerah Asal

DAMPAK MOBILITAS TENAGA KERJA TERHADAP DAERAH ASAL

5.2 Dampak Terhadap Pendapatan Keluarga di daerah Asal .1 Hubungan Migran Dengan Keluarganya di Daerah Asal .1 Hubungan Migran Dengan Keluarganya di Daerah Asal

5.2.3 Pemanfaatan Remitan Oleh Keluarga di Daerah Asal

Remitan yang dikirim oleh migran, baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui pengiriman, pasti akan digunakan oleh keluarga yang ditinggalkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Anggota keluarga yang ditinggal di daerah asal juga akan menentukan pemanfaatan remitan yang dikirim. Jika keluarga yang ditinggal adalah suami atau istri, maka pemanfaatan remitan akan lebih berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan primer seperti makanan, pakaian, dan kesehatan. Secara umum, para migran pergi dari daerah asal menuju daerah tujuan, khususnya untuk mencari pekerjaan,disebabkan tidak tersedianya

68 lapangan kerja yang memadai bagi mereka. Diperkirakan bahwa upah yang mereka peroleh di daerah tujuan lebih besar daripada di daerah asal.

Jika dikaitkan dengandata mengenai tingkat pendidikan migran yang sebagian besar (63 persen) tamat SLTA ke atas, maka diperkirakan bahwa daerah asal tidak mampu menyediakan lapangan kerja yang sesuai dengan aspirasi mereka. Dengan demikian, pendapatan yang lebih baik menjadi tujuan utama mereka melakukan migrasi dalam mencari pekerjaan. Dengan penghasilan yang lebih tinggi di daerah tujuan akan dapat memberikan dukungan yang lebih baik untuk kebutuhan keluarga mereka di daerah asal. Jadi,pemanfaatan remitan di daerah asal juga akan terpengaruh oleh nilai remitan yang dikirimkan. Berikut disampaikan pemanfataan remitan atau kiriman uang oleh keluarga di daerah asal.

Tabel 5.19.

Pemanfaatan Remitan yang Paling Menonjol Oleh Keluarga Di Daerah Asal No Pemanfaatan Remitan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1 Untuk menyokong kebutuhan

pokok keluarga

240 80,0

2 Biaya pendidikan anak 7 2,3

3 Biaya merawat orang tua 20 6,7

2 Perbaikan rumah 6 2,0

3 Biaya upacara adat/agama 7 2,3

4 Tabungan 11 3,7

5 Investasi 6 2,0

6 Lainnya 3 1,0

7 Total 300 100,00

Sumber: Hasil Penelitian, 2014

Jika diperhatikan Tabel 5.19, ternyata sebagian besar responden, yaitu sekitar 80 persen, menyatakan bahwa remitan yang diterima digunakan untuk menyokong atau membantu kebutuhan pokok keluarga. Kebutuhan pokok yang dimaksudkan adalah untuk makan atau biaya dapur. Dengan demikian, dapat dikatakan pemanfaatan remitan yang diberikan oleh migran adalah untuk memenuhi kebutuhan yang paling mendasar, dimana pengiririman uang atau remitan yang diberikan berjumlah di bawah Rp. 20 juta rupiah selama 6 bulan yang lalu. Jadi, rata-rata per bulan remitan yang diberikan oleh migran di bawah Rp.

69 3.333.000,-. Secara logis, jumlah yang relatif kecil ini memang hanya cukup untuk membiayai kebutuhan pokok keluarga. Urutan kedua terbanyak pemanfaatan remitan adalah untuk menutupi biayaperawatan orang tua, yang mencapai lebih dari 6 persen, disusul oleh kegunaan remitan untuk ditabung (hanya sekitar 3,7 persen responden). Pemanfaatan remitan untuk kebutuhan lain seperti upacara adat/agama, investasi, perbaikan rumah, pendidikan anak, relatifkecil persentasenya.

Selain remitan yang dikirim ataupun yang diberikan secara langsung kepada keluarga migran yang ada di daerah asal, dalam penelitian ini juga digali informasi apakah migran juga mengirimkan remitan baik berupa uang maupun barang dalam memenuhi kewajibannya sebagai anggota desa adat. Sebagai anggota desa adat, para migran memiliki kewajiban seperti pada kegiatan-kegiatan upacara adat/agama, pembangunan tempat upacara, dan kegiatan lain, yang mewajibkan anggotanya untuk berpartisipasi secara aktif. Sebagai orang yang beragama Hindu, kewajiban untuk desa adat ini tidak dapat dihindari. Hanya saja tentu jumlahnya bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Hasil penelitian menunjukkan kondisi seperti Tabel 5.20.

Tabel 5.20.

Pengiriman Remitan oleh Migran Untuk Kebutuhan Desa Adat

No Pengiriman remitan untuk desa adat Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 Ya 251 83,7

2 Tidak 49 16,3

3 Total 300 100,00

Sumber: Data Primer, 2014

Data padaTabel 5.21 menunjukkan bahwa sebagian besar migran juga mengirimkan remitan baik berupa uang maupun barang kepada desa adat dimana mereka tinggal sebagai bagian dari partisipasi sebagai warga atau anggota desa adat. Data juga menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil pelaku mobilitas yang tidak mengirimkan uang atau barang untuk kebutuhan tersebut. Kondisi ini mencerminkan bahwa penghasilan yang diperoleh di daerah tujuan juga dimanfaatkan untuk memenuhi kewajiban desa adat. Berdasarkan tipe mobilitas,

70 terlihat bahwa terdapat perbedaan mengenai status mereka mengirim remitan ke desa adat dengan jenis mobilitas yang dilakukan. Informasi tersebut disampaikan dalam Tabel 5.21.

Tabel 5.21.

Tabulasi Silang Antara TipeMobilitas dengan Aktivitas Pengiriman Remitan Untuk Keperluan Desa Adat No Memberikan

remitan (uang/barang)

Tipe Mobilitas Total

Ulang-alik Mondok Migrasi Jumlah (orang) % Jumlah (orang) % Jumlah (orang) % Jumlah (orang) % 1 Ya 149 92,5 76 73,1 26 74,3 251 83,7 2 Tidak 12 7,5 28 26,9 9 25,7 49 16,3 4 Total 161 100,0 104 100,0 35 100 399 100,0

Sumber: Data Primer, 2014

Jika kewajiban para migran kepada desa adat dihubungkan dengan tipe mobilitas yang dilakukan, maka di semua tipe mobilitas banyak juga di antara migrant yang mengirimkan remitan untuk kegiatan atau memenuhi kewajiban mereka sebagai anggota desa adat. Jika dilihat menurut tipe mobilitasnya, maka terlihat bahwa mereka yang melakukan mobilitas ulang-aliklah yang paling tinggi persentasenya mengirimkan/memberi remitan untuk keperluan ini (mencapai lebih dari 92 persen dari seluruh responden). Secara logis kondisi ini dapat dipahami karena pelaku mobilitas ulang-alik masih berdomisili di desa adatnya, sehingga harus memenuhi kewajiban-kewajiban sebagai warga desa adatsecara penuh. Persentase pengiriman remitan untuk kegiatan desa adat pada mereka yang melakukan mobilitas mondok dan migrasi menunjukkan angka yang hampir sama, yakni berturut-turut sebesar 73,1 persen dan 74,3 persen.

Jumlah uang yang dikirimkan untuk kegiatan atau kewajibannya di desa adat sangat bervariasi satu dengan yang lainnya. Dalam penelitian ini juga ditanyakan tentang jumlah uang yang dikirimkan untuk kegiatan tersebut selama 6 bulan terakhir. Data tentang jumlah remitan yang dikirim untuk kegiatan desa adat dapat dilihatpadaTabel 5.22.

71 Tabel 5.22.

Jumlah Remitan yang Dikirim Untuk Keperluan Desa Adat Selama 6 Bulan Terakhir

No Remitan yang Dikirim (Rp) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 30.000 22 8,8 2 50.000 4 1,6 3 60.000 17 6,8 2 75.000 19 7,6 3 100.000 74 29,5 4 120.000 87 34,7 5 150.000 5 2,0 6 200.000 3 1,2 7 600.000 16 6,4 8 700.000 1 0,3 9 1.000.000 3 1,1 10 Total 251 100,00

Sumber: Hasil Penelitian, 2014

Data pada Tabel 5.23 menunjukkan bahwa sebagian besar (hampir 35 persen) responden migran mengirimkan uangnya sebanyak Rp. 120.000,- selama 6 bulan yang lalu dan sekitar 30 persen dari mereka mengirimkan uang senilai Rp. 100.000,- yang menempati urutan kedua. Jumlah uang paling banyak yang dikirimkan adalah sebanyak Rp. 1.000.000,-, namun hanya dilakukan oleh sekitar 1 persen dari migran yang mengirimkan uangnya untuk kebutuhan desa adat. Jika dilihat jumlah yang dikirimkan tersebut selama 6 bulan terakhir, sepertinya uang yang dikirimkan tersebut secara relatif tidak terlalu besar nilainya. Hal ini merupakan suatu indikasi bahwakewajiban material yang harus dibayar oleh keluarga migran, juga tidak terlalu besar.

Kewajiban yang harus dipenuhi oleh anggota desa adat di Provinsi Bali, memang berbeda antara satu desa adat dengan desa adat yang. Besar kecilnya kewajiban yang harus dibayarkan sangat tergantung dari kemampuan warga desa yang bersangkutan. Ada kecenderungan bahwa semakin tinggi penghasilan anggota desa adat, sumbangan atau kewajiban yang harus dibayar kepada desa adat juga semakin tinggi. Kemampuan anggota desa adat secara ekonomi, juga akan menentukan kualitas bangunan tempat ibadah yang dimiliki oleh desa adat yang bersangkutan. Dengan demikian, jumlah remitan yang

72 dibayarkan atau dikirim oleh migran kepada desa adat sangat ditentukan oleh kemampuan ekonomi warga desa adat yang bersangkutan.

Uang yang dikirim oleh para migran untuk desa adat, pasti memiliki tujuan tertentu. Dalam penelitian ini juga diajukan pertanyaan tentang tujuan mereka mengirimkan uang untuk keperluan desa adat. Informasi yang diperoleh mengenai hal ini disajikan pada Tabel 5.23.

Tabel 5.23.

Tujuan Utama Pengiriman Uang Untuk Desa Adat

No Tujuan Utama Pengiriman Uang Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 Iuran rutin 116 46,2

2 Membayar ayahan desa adat 118 47,0

3 Pembangunan fasilitas desa adat 10 4,0

4 Lainnya 7 2,8

5 Total 251 100,0

Sumber : Data Primer, 2014

Data padaTabel 5.24 menunjukkan bahwa ada 2 tujuan utama yang menonjol dari pengiriman uang atau remitan untuk desa adat yaitu“membayar ayahan desa adat” dan “iuran rutin”. Kedua tujuan pengiriman uang inidilaporkan olehlebih dari 93 persen migran yang ada. Kewajiban untuk membayar ayahan desa adatharus dipenuhiKarena migran tidak selalu berpartisipasi aktif dalam kegiatan di desa adatnya masing-masing. Untuk itu, desa adat menetapkan warga desa yang berada pada kelompok ini untuk membayar ayahan desa adat guna memberikan rasa keadilan bagi warga desa lain yang secara aktif melaksanakan kewajiban desa adatnya.

Dalam realitasnya, banyaknya warga desa adat yang melakukan mobilitas untuk mencari pekerjaan di luar desanya juga dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas kegiatan desa adat. Untuk mengetahui hal tersebut, dilakukan wawancara mendalam dengan responden di desa adat. Dari hasil wawancara diperoleh gambaran bahwa banyaknya migran yang bekerja di luar desa adat, tidak mengganggu kegiatan desa adat mereka. Para migran yang bekerja di luar desa adat tetap masih ingat akan kewajiban mereka, dalam artian merekatetap

73 taat akan aturan desa adat masing-masing dan sedapat mungkin tetap mengikuti kegiatan adat di desanya. Kegiatan adat dan agama tetap dapat berjalan dengan baik karena dilakukan secara bergotong royong, dan nilai budaya yang luhur dan sarat kebersamaan itulah yang mereka terapkan, sehingga kegiatan adat dan agama selalu dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu dan ketentuan yang berlaku. Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa sebagian besar mobilitas yang dilakukan di wilayah penelitian adalah termasuk tipe mobilitas ulang-alik. Ini juga dapat menjadi suatu indikasi bahwa pemilihan tipe mobilitas tersebut dilakukan sebagai bagian dari kompromi untuk dapat selalu terlibat pada kegiatan adat dan agama.