1 Bidang Unggulan: Sosial, Ekonomi, dan Bahasa Kode/Nama Bidang Ilmu:561/Ekonomi Pembangunan
LAPORAN AKHIR PENELITIAN
HIBAH GRUP RISET UNIVERSITAS UDAYANA
DAMPAK MOBILITAS TENAGA KERJA TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI KELUARGA DI DAERAH ASAL, STUDI KASUS DI DESA SENGANAN
DAN BENGKEL, KABUPATEN TABANAN
NAMA GRUP RISET : KEPENDUDUKAN
TIM PENELITI
1. Prof. Dr. I Ketut Sudibia, SE.,SU (0031124819) 2. Dr. A.A. I. N. Marhaeni, SE., MS (0031126264) 3. Dr. I G A Manuati Dewi, SE., MA (0027046203) 4. Surya Dewi Rustariyuni, SE., MSi (0016068205)
GRUP RISET
UNIVERSITAS UDAYANA
November 2014
Dibiayai dari Dana PNBP Universitas Udayana dengan Surat Penugasan Penelitian Nomor: 238-29/UN14.2/PNL.01.03.00/2014, tanggal 14 Mei 2014
2 I. Identitas Penelitian
1. Judul Usulan : DAMPAK MOBILITAS TENAGA KERJA TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI KELUARGA DI DAERAH ASAL, STUDI KASUS DI DESA SENGANAN DAN BENGKEL KABUPATEN TABANAN
2. Ketua Peneliti :
a. Nama Lengkap : Prof. Dr. I Ketut Sudibia, SE., SU b. Jenis Kelamin : Laki-Laki
c. NIP/NIDN : 194812311973021001/0031124819 d. Pangkat/Gol : Pembina Utama /IVe
e.Jabatan Struktural : Pembina Utama f. Jabatan Fungsional : Guru Besar g. Fakultas : Ekonomi
h. Pusat Penelitian : Puslit Kependudukan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia i. Alamat : Jl. PB. Sudirman Denpasar
j. Telepon/fak/E-mail : 229508/229508/[email protected] k. Alamat rumah : Jl. Tunggul Ametung II/17
l. Telepon/HP : 421554/ HP: 08123639870 3. Anggota peneliti
Tim Peneliti
No Nama Bidang keahlian Fakultas/
PS
Alokasi waktu (jam/minggu) 1. Dr. AA I N Marhaeni, SE., MS Ekonomi
Kependudukan
Ekonomi 20
2. Dr. I G A Manuati Dewi, SE, MA Ekonomi Kependudukan
Ekonomi 20
3 Surya Dewi Rustariyuni, SE., MSi Ekonomi Pembangunan
Ekonomi 20
4. Objek penelitian : Tenaga Kerja, Kondisi sosial ekonomi Rumah tangga pekerja 5. Masa pelaksanaan penelitian: 1 Tahun
6. Anggaran yang diusulkan
- Tahun 2014 : Rp. 50.000.000,-
7. Lokasi penelitian: Kabupaten Tabanan
8. Hasil yang ditargetkan : dapat diketahui bentuk-bentuk mobilitas tenaga kerja yang dilakukan oleh para pelaku mobilitas yang berasal dari desa-desa di Kabupaten Tabanan; upaya atau cara yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan tenaga kerja di daerah pertanian oleh keluarga di daerah asal; menganalisis dampak mobilitas tenaga kerja terhadap pendapatan keluarga di daerah asal; serta dampak mobilitas tenaga kerja terhadap partisipasi dalam kegiatan sosial (adat) di daerah asal.
3
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
IDENTITAS PENELITIAN ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
RINGKASAN ... viii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah Penelitian ... 8
1.3. Tujuan Penelitian ... 9
1.4. Manfaat Penelitian ... 9
1.5. Urgensi Penelitian ... 10
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 12
2.1. Pengertian Mobilitas Penduduk ... 12
2.2. Determinan Mobilitas Penduduk ... 14
2.3. Hubungan Migran dengan Keluarganya di Daerah Asal ... 16
2.4. Hasil Penelitian Sebelumnya ... 18
BAB III. METODE PENELITIAN ... 21
3.1. Rancangan Penelitian ... 21
3.2. Lokasi Penelitian ... 21
3.3. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel ... 22
3.4 Populasi, Sampel, Metode Penentuan Sampel, Responden, dan Informan ... 24
3.5. Instrumen Penelitian ... 25
3.6. Metode Pengumpulan Data ... 26
3.7. Teknik Analisis Data ... 26
BAB IV. KARAKTERISTIK RESPONDEN DAN PELAKU MOBILITAS ... 28
4.1. Karakteristik Responden ... 28
4.1.1. Umur dan Jenis Kelamin Responden ... 28
4.1.2. Pendidikan Respopnden ... 29
4.1.3. Lapangan Pekerjaan Responden ... 31
4.2. Karakteristik Pelaku Mobilitas Penduduk ... 32
4.2.1. Tipe Mobilitas Penduduk ... 32
4.2.2. Umur Pelaku Mobilitas Penduduk ... 34
4.2.3. Tingkat Pendidikan Pelaku Mobilitas Penduduk ... 35
4.2.4. Lama Melakukan Mobilitas ... 36
4.2.5. Tempat Kerja Pelaku Mobilitas ... 37
4
BAB V. DAMPAK MOBILITAS TENAGA KERJA TERHADAP DAERAH ASAL ... 41
5.1. Dampak Terhadap Ketersediaan TEnaga Kerja Pertanian ... 41
5.1.1. Mata PEncaharian Keluarga Migran di Daerah Asal ... 41
5.1.2. Kondisi Ketenagakerjaan Sebelum dan Sesudah Adanya Mobilitas Tenaga Kerja ... 44
5.2. Dampak Terhadap Pendapatan Keluarga di Daerah Asal ... 48
5.2.1. Hubungan Migran dengan Keluarganya di Daerah Asal ... 48
5.2.2. Remitan yang Dibawa dan Dikirim Migran untuk Keluarganya di Daerah Asa . 52 5.2.3. Pemanfaatan Remitan oleh Keluarga di Daerah Asal ... 60
5.3. Dampak Terhadap Partisipasi Dalam Kegiatan Sosial ... 66
5.31. Intensitas Kepulangan Migran ke Daerah Asalnya ... 66
5.3.2. Partisipasi Migran dalam Kegiatan Sosial di Daerah Asal ... 68
5.3.3. Besarnya Remitan untuk Kegiatan Sosial di Daerah Asal ... 71
5.3.4. Kelanagsungan Kegiatan Sosial, Adat, dan Agama di Daerah Asal ... 72
BAB VI. SIMPULAN DAN SARAN... 74
6.1. Simpulan ... 74
6.2. Saran ... 76
DAFTAR PUSTAKA ... 77
5
DAFTAR TABEL
NO
TABEL JUDUL TABEL HLM
1.1 Kontribusi Sektor A, M, dan S Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja dan Pendapatan di Provinsi Bali Selama Periode 1971-2009 (Dalam Persen)
3
1.2 Perubahan Luas Lahan Persawahan di Provinsi Bali Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Selama Periode 2000-2013
5
4.1 Distribusi Umur Responden Penelitian Dampak Mobilitas Tenaga KerjaTerhadap Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga di Daerah Asal, Studi Kasusdi Desa Senganan dan Bengkel Kabupaten Tabanan, 2014
29
4.2 Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan Pada Penelitian Dampak Mobilitas Tenaga Kerja Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga di Daerah Asal, Studi Kasus di Desa Senganan dan Bengkel Kabupaten Tabanan, 2014
30
4.3 Distribusi Responden Menurut Lapangan Pekerjaan Pada Penelitian Dampak Mobilitas Tenaga Kerja Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga di Daerah Asal, Studi Kasus di Desa Senganan dan Bengkel Kabupaten Tabanan, 2014
31
4.4 Distribusi Pelaku Mobilitas Menurut Tipe Mobilitas, Pada Penelitian Dampak Mobilitas Tenaga Kerja Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga di Daerah Asal, Studi Kasus di Desa Senganan dan Bengkel Kabupaten Tabanan, 2014
34
4.5 Distribusi Persentase Pelaku Mobilitas Menurut Umur dan Tipe Mobilitas Pada Penelitian Dampak Mobilitas Tenaga Kerja Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga di Daerah Asal, Studi Kasus di Desa Senganan dan Bengkel Kabupaten Tabanan, 2014
35
4.6 Distribusi Pelaku Mobilitas Menurut Tingkat Pendidikan dan Tipe Mobilitas Pada Penelitian Dampak Mobilitas Tenaga Kerja Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga di Daerah Asal, Studi Kasus di Desa Senganan dan Bengkel Kabupaten Tabanan, 2014
36
4.7 Distribusi Pelaku Mobilitas Menurut Tempat Tinggal dan Tipe Mobilitas Pada Penelitian Dampak Mobilitas Tenaga Kerja Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga di Daerah Asal, Studi Kasus di Desa Senganan dan Bengkel Kabupaten Tabanan, 2014
38
4.8 Distribusi Pelaku Mobilitas Menurut Anggota Keluarga yang Ditinggalkan di Daerah Asal dan Tipe Mobilitas Pada Penelitian Dampak Mobilitas Tenaga Kerja Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga di Daerah Asal, Studi Kasus di Desa Senganan dan Bengkel Kabupaten Tabanan, 2014
39
5.1 Mata Pencaharian Keluarga Migran di Daerah Asal 41
5.2 Tipe Mobilitas Dalam Kaitannya dengan Mata Pencaharian Keluarga Pelaku Mobilitas
42
5.3 Luas Lahan Garapan Responden Petani 43
5.4 Total Pendapatan Keluarga Petani Selama Enam Bulan 44
6 5.6 Pernyataan Tentang adanya Pengurangan Jumlah Tenaga Kerja Di Sektor
Pertanian Akibat Adanya Anggota Keluarga yang Melakukan Mobilitas Penduduk
45
5.7 Pernyataan Tentang adanya Penurunan Produksi Di Sektor Pertanian Akibat Adanya Anggota Keluarga yang Melakukan Mobilitas Penduduk
46
5.8 Total Produksi Pertanian Sebelum dan Sesudah Adanya Anggota Keluarga yang Melakukan Mobilitas
47
5.9 Pendapatan Keluarga Migran yang Bersumber dari Sektor Nonpertanian 47 5.10 Variasi Anggota Keluarga yang Ditinggalkan Pelaku Mobilitas di Daerah Asal 49
5.11 Frekuensi Kepulangan Migran ke Daerah Asal 51
5.12 Frekuensi Pemberian Remitan (Uang) Saat Pulang ke Daerah Asal 53 5.13 Tabulasi Silang Antara Jenis Mobilitas dengan Pemberian Uang Saat Pulang ke
Daerah Asal
54
5.14 Jumlah Uang yang Diberikan Kepada Keluarga Mereka di Daerah Asal 55 5.15 Distribusi Migran yang Juga Mengirim Uang Ke Daerah Asal 56 5.16 Jumlah Uang yang Dikirim Kepada Keluarga mereka di Daerah Asal Selama 6 Bulan
terakhir
57
5.17 Jumlah Uang yang Diberikan dan Dikirim Kepada Keluarga di Daerah Asal 63 5.18 Total Penghasilan Keluarga Migran Selama 6 Bulan Terakhir 59 5.19 Pemanfaatan Remitan yang Paling Menonjol Oleh Keluarga Di Daerah Asal 61
5.20 Pengiriman Remitan oleh Migran Untuk Desa Adat 62
5.21 Tabulasi Silang Antara Jenis Mobilitas yang Dilakukan Migran dengan Aktivitas Mengirim Remitan Untuk Desa Adat
63
5.22 Jumlah Remitan yang Dikirim ke Desa Adat Selama 6 Bulan Terakhir 64
5.23 Tujuan Utama Pengiriman Uang Ke Desa Adat 65
5.24 Intensitas Kepulangan Migran ke Daerah Asal Menurut Tipe Mobilitas (orang/persen) 67 5.25 Frekuensi Kepulangan, Partisipasi dalam Kegiatan Sosial, serta
Pemberian/pengiriman Uang/Barang pada Kegiatan Sosial di Daerah Asal, Menurut Tipe Mobilitas (persentase tertinggi).
69
5.26 Frekuensi Kepulangan, Partisipasi dalam Kegiatan Sosial, serta Pemberian/pengiriman Uang/Barang pada Kegiatan Sosial di Daerah Asal, (persentase tertinggi)
7 RINGKASAN
Secara umum diketahui bahwa pembangunan dilakukan pada semua bidang kegiatan, baik daerah perkotaan maupun di daerah perdesaan. Selain itu, di Provinsi Bali juga ditetapkan tiga sektor strategis, yaitu pertanian, industri kecil/kerajinan, dan pariwisata. Meskipun sektor pariwisata adalah sektor termuda ditinjau dari sejarah perkembangan sektor-sektor ekonomi yang ada di Bali, namun kenyataannya sektor-sektor tersebut telah mampu berperan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi Bali. Artinya bahwa perkembangan sektor pariwisata telah mampu memberikan imbas ke hulu maupun ke hilir (forward linkage and backward linkage). Sebagai akibat dari perkembangan di atas, terjadilah pergeseran tenaga kerja dari pertanian ke luar sektor pertanian. Pada tahun 1971, sektor pertanian menyerap sebanyak 67,5 persen dari seluruh tenaga kerja di Provinsi Bali dan pada tahun 2009 merosot menjadi 34,3 persen. Sisanya diserap oleh sektor-sektor ekonomi di luar pertanian, yang digolongkan ke dalam sektor M dan sektor S.
Salah satu wilayah yang paling terkena dampak pergeseran tenaga kerja dari pertanian ke luar pertanian adalah Kabupaten Tabanan, yaitu daerah yang selama ini dikenal sebagai lumbung berasnya Provinsi Bali. Semakin tingginya mobilitas tenaga kerja dari Kabupaten Tabanan menuju daerah dengan latar belakang non pertanian ternyata ditentukan oleh beberapa faktor yaitu (1) bergesernya orientasi generasi muda, yang memandang bahwa sektor pertanian kurang menjanjikan; (2) harapan orang tua agar anaknya mencari pekerjaan di luar pertanian. Mobilitas tenaga kerja dari daerah pertanian menuju luar pertanian dilakukan dalam berbagai bentuk, baik mobilitas penduduk secara permanen maupun nonpermanen. Kepergian para migran yang notabene adalah penduduk yang tergolong produktif akan menimbulkan kesulitan bagi keluarga di daerah asal, baik dalam hal ketersediaan tenaga kerja produktif, pendapatan keluarga, maupun dalam menjaga kelangsungan kegiatan-kegiatan sosial yang dikoordinasikan melalui desa adat/pakraman.
Berkaitan dengan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui bentuk-bentuk mobilitas tenaga kerja yang dilakukan oleh pelaku mobilitas dari desa-desa di Kabupaten Tabanan; (2) mengetahui upaya atau cara yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan tenaga kerja di daerah pertanian oleh keluarga di daerah asal; (3) menganalisis dampak mobilitas tenaga kerja terhadap pendapatan keluarga di daerah asal; dan (4) menganalisis dampak mobilitas tenaga kerja terhadap partisipasi dalam kegiatan sosial (adat) di daerah asal.
Untuk menjawab tujuan penelitian di atas maka dilakukan studi lapangan di dua desa di Kabupaten Tabanan, yaitu (1) di Desa Senganan, Kecamatan Penebel terletak di pegunungan dan dekat sumber air utama; dan (2) di Desa Bengkel, Kecamatan Kediri terletak dekat pesisir dan jauh dari sumber air utama. Jumlah sampel yang diambil di setiap desa adalah 150 keluarga, sehingga secara keseluruhan adalah 300 keluarga. Keluarga yang diambil sebagai sampel adalah keluarga yang salah satu anggota keluarganya melakukan mobilitas tenaga kerja, baik dalam bentuk mobilitas permanen atau mobilitas nonpermanen. Pengambilan sampel dilakukan secara kombinasi yaitu purposive sampling dan accidental sampling. Selain dikumpulkan data dari sampel responden, juga digali informasi dari informan kunci di masing-masing desa penelitian. Jumlah informan kunci di setiap desa penelitian adalah 10 orang, sehingga seluruh informan kunci adalah 20 orang, yang dipilih secara purposive. Selanjutnya data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara terstruktur, dan wawancara mendalam, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif dengan tabel distribusi frekuensi tunggal dan tabel silang.
8 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pada hakekatnya tujuan daripada setiap upaya pembangunan adalah untuk memperbaiki tarap kehidupan masyarakat atau seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itulah pembangunan dilakukan di semua bidang kehidupan, di seluruh wilayah, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Meskipun pembangunan dilakukan di semua bidang atau sektor, namun dalam prakteknya pemerintah menetapkan pula beberapa sektor strategis, yaitu sektor yang memiliki kemampuan mendorong atau mengimbas perkembangan sektor-sektor lainnya. Di Provinsi Bali ditetapkan tiga sektor strategis, yaitu pertanian, industri kecil/kerajinan, dan pariwisata.
Selanjutnya disebutkan bahwa, meskipun sektor pariwisata merupakan sektor termuda ditinjau dari sejarah perkembangan sektor-sektor ekonomi yang ada di Bali, namun dalam kenyataannya sektor tersebut telah mampu berperan sebagai motor penggerak perekonomian Bali (Nehen, 1994). Sebagai contoh, sektor-sektor ekonomi yang terimbas oleh perkembangan sektor pariwisata antara lain sektor konstruksi, industri kecil/kerajinan, jasa-jasa, pertanian, dan sebagainya. Pada awal perkembangan sektor pariwisata, kegiatan yang paling menonjol adalah di sektor kontruksi, seperti perluasan pembangunan bandara Ngurah Rai, pembangunan dan perluasan prasarana jalan hingga menjangkau daerah-daerah tujuan wisata yang jauh dari pusat perkotaan, maupun pembangunan sarana prasarana akomodasi seperti hotel berbintang dan non bintang. Sektor pariwisata juga memberikan imbas terhadap perkembangan industri kecil/ kerajinan seni pahat/ukir, seni lukis, kerajinan tenun, dan sebagainya. Demikian pula imbas sektor pariwisata terhadap perkembangan sektor jasa-jasa seperti jasa perdagangan, keuangan, perbankan, serta jasa-jasa lainnya. Bahkan sektor pertanian pun memperoleh imbas dari perkembangan sektor pariwisata. Meningkatnya kehadiran wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara telah
9 mendorong meningkatnya permintaan akan hasil-hasil pertanian, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, daging, ikan, dan sebagainya.
Perkembangan sektor-sektor ekonomi lainnya yang diakibatkan oleh perkembangan sektor pariwisata telah memberikan kesempatan kerja yang demikian besar, utamanya sektor-sektor ekonomi di luar pertanian. Sebagai akibat dari keadaan ini maka tenaga kerja yang semula banyak terserap di sektor pertanian, berangsur-angsur menunjukkan adanya penurunan. Dilihat dari sudut perkembangan ekonomi sesungguhnya alur yang baik adalah berkembang dari sektor A menuju sektor M, dan selanjutnya bergeser menuju sektor S. Sesuai dengan pendapat Manning (1990), sektor A adalah pertanian dalam arti luas, sedangkan sektor M terdiri atas pertambangan, industri, bangunan, listrik, gas, dan air, serta pengangkutan dan perhubungan. Sementara itu, sektor S meliputi perdagangan dan jasa-jasa.
Gambaran tentang seberapa jauh terjadinya perubahan kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja dan pendapatan dapat diikuti pada Tabel 1.1. Dalam pembahasan perubahan tersebut digunakan rentang waktu yang relatif panjang yaitu selama periode 1971-2009. Tahun 1971 merupakan periode awal pembangunan pada era Orde Baru yang lebih dikenal dengan sebutan Pelita I, sementara itu tahun 2009 merupakan era Otonomi Daerah yang telah berlangsung selama satu dasawarsa (1999-2009).
Sebagai negara agraris yang berpenduduk besar, pada Pelita I (1969-1974) Pemerintah Indonesia memberikan prioritas pertama pada pembangunan sektor pertanian. Selain itu pertimbangan dasar yang digunakan adalah karena sebagian besar penduduk Indonesia (termasuk juga Provinsi Bali) bertempat tinggal di daerah pedesaan, dengan mata pencaharian pokok adalah sektor pertanian. Kondisi ini terlihat jelas pada Tabel 1.1 yaitu sebanyak 67,5 persen penduduk yang bekerja di Provinsi Bali menggeluti pekerjaan pertanian. Sementara itu, sektor M hanya menyerap tenaga kerja sekitar 10 persen, dan sisanya diserap oleh sektor S. Besarnya persentase tenaga kerja yang bekerja di sektor
10 pertanian adalah salah satu ciri negara yang sedang berkembang dan di sektor ini sering dijumpai adanya pengangguran tersembunyi (setengah pengangguran), yaitu terjadi tambahan tenaga kerja tetapi tidak menambah jumlah barang yang dihasilkan. Hal ini disebabkan oleh adanya hukum tambahan hasil yang semakin berkurang (the law of diminishing return) di sektor pertanian.
Selanjutnya jika diperhatikan keadaan tahun 2009 terungkap bahwa telah terjadi pergeseran penyerapan tenaga kerja. Proporsi tenaga kerja di sektor A mengalami penurunan dari 67,5 persen pada tahun 1971 menjadi 34,2 persen pada tahun 2009. Sementara itu penyerapan tenaga kerja di sektor M mengalami kenaikan dari 10,3 persen tahun 1971 menjadi 21,9 persen pada tahun 2009, dan demikian pula persentase tenaga kerja di sektor S meningkat dari 22,2 persen menjadi 43,8 persen pada periode yang sama. Hal ini memberikan indikasi bahwa sektor S lebih cepat berkembang daripada sektor M. Perkembangan sektor S yang cepat ini disebabkan oleh adanya sektor memimpin (leading sector) di sektor S yaitu sektor pariwisata. Sektor pariwisata telah mampu memberikan imbas ke depan (forward linkage) dan imbas ke belakang (backward linkage) pada sektor-sektor ekonomi lainnya.
Tabel 1.1
Kontribusi Sektor A, M, dan S Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja dan Pendapatan di Provinsi Bali Selama Periode 1971-2009 (Dalam Persen)
Sektor-sektor Ekonomi 1971 2009
1. Penyerapan Tenaga Kerja
Sektor A 67,5 34,3 Sektor M 10,3 21,9 Sektor S 22,2 43,8 Jumlah: 100,0 100,0 2. Pendapatan Sektor A 59,3 18,2 Sektor M 8,9 16,2 Sektor S 31,8 65,6 Jumlah: 100,0 100,0 Sumber: Bendesa (2012).
11 Selain memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja, sektor-sektor ekonomi juga memberikan kontribusi terhadap pendapatan. Di sini juga ditemukan bahwa pada tahun 1971 sektor A memberikan kontribusi yang paling dominan (hampir 60 persen) terhadap pendapatan, dan yang terkecil (kurang dari 10 persen) adalah sektor M. Selanjutnya jika diperhatikan keadaan pada tahun 2009, terungkap bahwa kontribusi sektor A telah merosot dengan tajam dari 59,3 persen menjadi 18,2 persen selama periode 1971-2009. Sementara itu kontribusi sektor M hanya berubah dari 8,9 persen menjadi 16,2 persen selama periode 1971-2009, dan perubahan yang paling mencolok adalah kontribusi sektor S yaitu dari 31,8 persen menjadi 65,6 persen pada periode yang sama. Dari uraian yang terakhir ini, secara tidak langsung juga terungkap bahwa peranan sektor pariwisata memberikan pengaruh yang besar dalam peningkatan pendapatan penduduk Bali.
Salah satu wilayah yang paling terkena dampak pergeseran tenaga kerja dari pertanian ke luar pertanian adalah Kabupaten Tabanan, yaitu daerah yang selama ini dikenal sebagai lumbung berasnya Provinsi Bali. Memang, julukan sebagai lumbung beras ini cocok diberikan untuk Kabupaten Tabanan karena kabupaten ini memiliki areal sawah paling luas di Provinsi Bali (Tabel 1.2). Pada tahun 2000 luas areal persawahan di Kabupaten Tabanan mencapai 23.358 hektar, dan tahun 2013 berkurang menjadi 22.184 hektar (Bappeda Bali, 2001; BPS Provinsi Bali, 2014). Penurunan luas lahan persawahan juga terjadi pada hampir semua kabupaten/kota di Provinsi Bali, dan secara keseluruhan lahan persawahan di Provinsi Bali telah berkurang sebesar 4.377 hektar dalam kurun waktu 13 tahun terakhir (2000-2013). Dengan perkataan lain, bahwa secara rata-rata telah terjadi penurunan luas lahan persawahan sekitar 337 hektar per tahun untuk Provinsi Bali, dan sekitar 90 hektar per tahun untuk Kabupaten Tabanan. Secara proporsional luas lahan persawahan yang ada di Kabupaten Tabanan adalah sekitar 27 persen dari seluruh lahan persawahan yang ada di Provinsi Bali, baik pada tahun 2000 maupun tahun 2013.
12 Tabel 1.2
Perubahan Luas Lahan Persawahan di Provinsi Bali Dirinci Menurut Kabupaten/KotaSelama Periode 2000-2013
Kabupaten/ Kota
Luas Lahan Persawahan (hektar) Perubahan Luas Lahan (hektar) 20001) 20132) Jembrana 7.637 6.811 -826 Tabanan 23.358 22.184 -1.174 Badung 10.705 10.144 -561 Gianyar 15.169 14.706 -463 Klungkung 4.013 3.843 -170 Bangli 2.888 2.910 +22 Karangasem 7.066 7.157 +91 Buleleng 11.559 10.904 -655 Denpasar 3.147 2.506 -641 Jumlah 85.542 81.165 -4.377
Sumber: Bappeda Bali, 2000; BPS Provinsi Bali, 2014. Keterangan: 1)Data Bali Membangun;
2)
Bali Dalam Angka.
Meskipun penyusutan luas lahan persawahan di Kabupaten Tabanan paling besar, namun tampaknya ketergantungan penduduk pada sektor pertanian masih tetap tinggi. Hal ini didukung oleh hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada tahun 2012, yang menunjukkan bahwa sektor pertanian menyerap sekitar 40 persen dari seluruh penduduk yang bekerja pada periode yang sama (BPS Kabupaten Tabanan, 2013). Akan tetapi jika diperhatikan sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB (Pendapatan Domestik Regional Bruto) di Kabupaten Tabanan pada tahun 2012 adalah sekitar 34 persen, sedangkan sisanya 66 persen merupakan sumbangan dari 8 sektor ekonomi lainnya seperti penggalian, industri, listrik dan air minum, bangunan, perdagangan (termasuk hotel dan restoran), pengangkutan dan komunikasi, perbankan dan lembaga keuangan, dan jasa-jasa. Kecilnya sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Tabanandibandingkan dengan pemyerapan tenaga kerjanya memberikan indikasi bahwa sektor pertanian memiliki tingkat produktivitas yang rendah. Tampaknya hal inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya pergeseran tenaga kerja dari pertanian ke luar sektor pertanian.
13 Indikasi bahwa terjadi pergeseran tenaga kerja dari pertanian ke luar sektor pertanian adalah terjadinya mobilitas tenaga kerja dari Kabupaten Tabanan menuju daerah atau kabupaten/kota lainnya yang dicirikan oleh menonjolnya aktivitas-aktivitas ekonomi di luar pertanian, baik sektor M maupun sektor S. Daerah-daerah dimaksud adalah Kota Denpasar, Kabupaten Badung dan Gianyar. Semakin tingginya mobilitas tenaga kerja dari Kabupaten Tabanan menuju daerah dengan latar belakang non pertanian ternyata didukung oleh temuan Sudibia (2012), Temuan-temuan tersebut antara lain adalah (1) bergesernya orientasi generasi muda, yang memandang bahwa sektor pertanian kurang menjanjikan; (2) harapan orang tua agar anaknya mencari pekerjaan di luar pertanian. Kedua hal di atas mendorong para generasi muda berupaya untuk mencari pekerjaan di luar sektor pertanian, seperti bekerja di sektor M dan S. Misalnya, jasa keuangan perbankan, jasa pemerintahan, jasa perdagangan, jasa pariwisata seperti hotel, restoran, pemandu wisata, bekerja di sektor industri/kerajinan, atau di sektor konstruksi.
Mobilitas tenaga kerja dari daerah pertanian menuju luar pertanian dilakukan dalam berbagai bentuk, baik mobilitas penduduk secara permanen maupun nonpermanen. Mobilitas penduduk permanen adalah gerak penduduk yang melintasi batas wilayah tertentu dalam jangka waktu tertentu dengan maksud menetap di daerah tujuan. Batas wilayah yang digunakan umumnya adalah wilayah admninistrasi, dan hal ini bervariasi mulai dari batas desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, atau negara. Selanjutnya, berkaitan dengan batas waktu; yang digunakan untuk mobilitas permanen adalah minimal enam bulan sudah meninggalkan daerah asalnya. Atau dapat juga kurang dari enam bulan, namun yang bersangkutan sudah berniat menetap di daerah tujuan. Mobilitas penduduk permanen sering pula disebut migrasi, sementara pelaku mobilitasnya disebut migran. Di pihak lain mobilitas penduduk nonpermanen adalah gerak penduduk yang melintasi batas wilayah tertentu dan dalam jangka waktu tertentu, namun tidak ada niatan menetap di daerah tujuan. Batas
14 wilayahnya sama dengan pelaku mobilitas permanen, namun jangka waktunya relatif lebih singkat. Berkaitan dengan batas waktu ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) mobilitas ulang alik (commuting), memiliki batas waktu satu hari; pagi harinya mereka pergi meninggalkan daerah asalnya menuju daerah tujuan untuk bekerja, dan mereka kembali lagi ke daerah asalnya pada hari yang sama; (2) nginep/mondok, yaitu meninggalkan daerah asalnya dalam jangka waktu lebih dari satu hari hingga kurang dari enam bulan, dan dimaksudkan untuk bekerja di daerah tujuan.
Jika diperhatikan ketiga bentuk mobilitas yang dikemukakan di atas (migrasi, ulang alik, nginep/mondok) pada umumnya dimaksudkan untuk bekerja atau memperoleh pekerjaan di tempat tujuan. Dengan demikian, sektor pertanian yang selama ini menjadi mata pencaharian pokok keluarganya di daerah asal akan ditinggalkan oleh mereka yang termasuk kelompok umur produktif.Sesuai dengan hasil pengamatan peneliti, pekerjaan di pertanian dikerjakan oleh petani lanjut usia (lansia) dan para wanita yang masih tinggal di daerah pedesaan, atau tenaga kerja upahan pada berbagai kegiatan di sektor pertanian. Kecuali pelaku mobilitas penduduk permanen, sesungguhnya mereka yang melakukan mobilitas ulang alik maupun nginep/mondok masih dapat ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan di sektor pertanian, terutama setelah pulang kerja atau pada saat libur.
Pelaku mobilitas baik permanen maupun nonpermanen, biasanya meninggalkan keluarganya di daerah asal, seperti anak, istri, saudara, atau orang tua. Di Indonesia umumnya atau di Bali pada khususnya, ikatan kekerabatan demikian kentalnya, sehingga walaupun migran sudah meninggalkan kampung halamannya namun mereka tetap menjaga keeratan hubungan dengan daerah asalnya. Hubungan ini tidak hanya diwujudkan dalam bentuk kepulangan migran ke daerah asalnya untuk melepaskan rasa kangen, namun juga disertai dengan pengiriman atau pemberian uang atau barang untuk sanak keluarganya di daerah asal. Uang atau barang yang dibawa atau dikirim untuk sanak keluarganya di daerah asal disebut
15 dengan istilah remitan (remittances). Arus remitan dari daerah tujuan ke daerah asal tidak hanya pada hari-hari besar seperti Lebaran, Natal, Galungan, Kuningan, Nyepi, Odalan di Pura, namun dapat juga secara rutin setiap bulan. Misalnya untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga yang ditinggalkan di daerah asal, membiayai sekolah anak, biaya merawat orang tua lansia, dan sebagainya.
Pada masyarakat Bali, penduduk yang sudah menikah (berkeluarga) otomatis akan menjadi anggota desa adat (desa pakraman), yaitu ikut serta warga lainnya untuk menjaga keberlanjutan desa pakramandi daerah asalnya. Meskipun seorang warga desa sudah bermigrasi (kecuali transmigrasi), dan bertempat tinggal jauh dari daerah asalnya, namun yang bersangkutan tetap menjadi anggota desa pakraman di daerah asalnya. Oleh karena itu yang bersangkutan juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan warga yang tetap tinggal di daerah asalnya. Kewajiban tersebut dapat berupa pepeson (iuran) setiap bulan atau setiap odalan (perayaan di pura), yang diatur dalam awig-awig/perarem (peraturan) desa pakraman.
1.2 Rumusan Masalah Penelitian
Bertolak dari uraian pada latar belakang dapat dirumuskan beberapa masalah penelitian sebagai berikut:
1) Bagaimanakah bentuk-bentuk mobilitas tenaga kerja yang dilakukan oleh para pelaku mobilitas yang berasal dari desa-desa di Kabupaten Tabanan?
2) Bagaimanakah dampak mobilitas tenaga kerja terhadap ketersediaan tenaga kerja di daerah pertanian di daerah asal?
3) Bagaimanakah dampak mobilitas tenaga kerja terhadap pendapatan keluarga di daerah asal?
4) Bagaimanakah dampak mobilitas tenaga kerja terhadap partisipasi dalam kegiatan sosial (adat) di daerah asal?
16 1.3 Tujuan Penelitian
Sejalan dengan permasalahan penelitian di atas, dapat dikemukakan tujuan penelitian ini adalah untuk:
1) Mengetahui bentuk-bentuk mobilitas tenaga kerja yang dilakukan oleh para pelaku mobilitas yang berasal dari desa-desa di Kabupaten Tabanan.
2) Mengetahui dampak mobilitas tenaga kerja terhadap ketersediaan tenaga kerja di daerah pertanian di daerah asal.
3) Menganalisis dampak mobilitas tenaga kerja terhadap pendapatan keluarga di daerah asal.
4) Menganalisis dampak mobilitas tenaga kerja terhadap partisipasi dalam kegiatan sosial (adat) di daerah asal.
1.4 Manfaat Penelitian
Berikut ini akan dipaparkan manfaat penelitian ini dari dua aspek, yaitu secara akademis dan secara praktis. Secara berturut-turut masing-masing aspek yang diungkapkan di atas akan diuraikan sebagai berikut:
1) Secara akademis
Bahwa hasil penelitian ini tidak hanya dimaksudkan untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan terkait dengan berbagai tipe mobilitas penduduk, namun juga untuk memperoleh pengetahuan tentang dampak mobilitas penduduk terhadap tenaga kerja di sektor pertanian, pendapatan keluarga di daerah asal, maupun terhadap partisipasi migran terhadap kegiatan-kegiatan sosial di desa pakraman di daerah asal.
2) Secara praktis
Bahwa hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi para pengambil kebijakan (policy maker), khususnya berkaitan dengan pemecahan masalah
17 kesempatan kerja di sektor pertanian, pemecahan masalah kemiskinan (peningkatan pendapatan keluarga di daerah asal), dan menjaga eksistensi keberlanjutan desa pakraman.
1.5 Urgensi Penelitian
Model dua sektor yang dikemukakan oleh Lewis (1954), yang selanjutnya dikembangkan oleh Fei dan Ranis (1961) menggambarkan adanya ketimpangan ekonomi antara dua sektor; yaitu antara sektor tradisional yang sifatnya subsisten, dan sektor modern bersifat komersial dengan tujuan memperoleh keuntungan. Di sektor tradisional terdapat penawaran tenaga kerja tak terbatas (unlimited supply of labor) pada tahap setelah produktivitas marjinal sama dengan nol. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian tenaga kerja di sektor tradisional seperti yang terjadi di pertanian dapat ditarik ke sektor modern tanpa harus kehilangan output sedikitpun di sektor pertanian. Pengalihan tenaga kerja dan pertumbuhan kesempatan tersebut dimungkinkan oleh adanya perluasan output di sektor modern. Laju kecepatan perluasan output tersebut ditentukan oleh tingkat investasi di bidang industri dan akumulasi modal di sektor modern. Peningkatan investasi tersebut sangat ditentukan oleh adanya kelebihan keuntungan di sektor modern, dengan asumsi bahwa para pemilik modal yang berkecimpung di sektor modern tersebut bersedia menanamkan kembali seluruh keuntungannya. Rangkaian proses pertumbuhan berkesinambungan sektor modern dan perluasan kesempatan kerja tersebut diasumsikan akan terus berlangsung sampai semua surplus tenaga kerja di sektor pertanian diserap habis oleh sektor industri. Transformasi ekonomi secara struktural akan terjadi dengan keseimbangan aktivitas ekonomi yang bergeser dari pertanian menuju industri.
Dalam konteks pembangunan yang terjadi di Provinsi Bali, tampaknya pergeseran tenaga kerja dari pertanian ke luar sektor pertanian memang telah terjadi. Secara umum, terjadi mobilitas tenaga kerja dari daerah yang kurang menjanjikan menuju daerah yang lebih
18 menjanjikan. Mantra (2003) menyebutkan bahwa terjadi mobilitas tenaga kerja dari daerah yang memiliki tingkat kefaedahan wilayah lebih rendah menuju daerah dengan tingkat kefaedahan wilayah yang lebih tinggi. Selama terjadi ketimpangan ekonomi antara wilayah yang satu dengan yang lainnya, maka selama itu pula akan terjadi mobilitas tenaga kerja (Titus, 1995). Begitu pula pendapat Todaro dan Smith (2006), yang menyebutkan bahwa mobilitas tenaga kerja dari daerah perdesaan menuju daerah perkotaan disebabkan oleh adanya dua hal, yaitu (1) perbedaan upah riil di perdesaan dengan upah yang diharapkan di daerah perkotaan; dan (2) probabilitas memperoleh pekerjaan di daerah perkotaan lebih besar daripada di daerah perdesaan.
Sesuai dengan hakekat dari pembangunan, maka perbaikan tarap kehidupan masyarakat tidak hanya dimaksudkan untuk meningkatkan kemajuan di daerah perkotaan, melainkan juga untuk daerah perdesaan. Mobilitas tenaga kerja tidak hanya mampu memberikan dampak positif kepada para pelaku mobilitas, akan tetapi juga berdampak positif terhadap kondisi ekonomi keluarga di daerah asal. Bahkan juga diharapkan dapat menjaga nilai-nilai sosial budaya yang terkenal adiluhung, yang ada dalam masyarakat Bali. Meskipun para pelaku mobilitas sudah berada jauh dari daerah asalnya, namun mereka tetap ingin menjaga tali silaturahmi dengan keluarganya di daerah asal. Jadi intinya adalah bagaimana menjaga sustainabilitas hubungan antara pelaku mobilitas dengan keluarganya di daerah asal maupun partisipasi migran dalam kegiatan-kegiatan sosial di desa pakraman di daerah asalnya.
19 BAB II
KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Mobilitas Penduduk
Apabila dibandingkan dengan studi tentang fertilitas dan mortalitas penduduk, studi mobilitas penduduk dapat digolongkan relatif masih langka. Karena kelangkaan tersebut, cukup beralasan apabila Dudley Kirk (seorang sosiolog asal Amerika) menyebutkan bahwa mobilitas penduduk merupakan anak tiri (stepchild) dari ilmu kependudukan (Skeldon, 1990). Studi tentang mobilitas penduduk baru berkembang kemudian, setelah munculnya tulisan tentang hukum-hukum migrasi (“The Laws of Migration”) buah karya dari E.G. Ravenstein pada tahun 1885. Walaupun sejak munculnya hukum-hukum migrasi yang ditulis oleh Ravenstein banyak ditentang, namun sampai saat ini tulisan tersebut masih menjadi acuan dalam pembahasan-pembahasan mengenai mobilitas penduduk (Tjiptoherijanto, 1998).
Untuk mengupas lebih jauh tentang mobilitas penduduk, pertanyaan awal yang harus dijawab adalah: mengapa seseorang mengambil keputusan melakukan mobilitas penduduk? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dapat didekati dengan teori kebutuhan dan tekanan (need and stress). Setiap individu mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, seperti kebutuhan ekonomi, sosial, dan psikologi. Apabila kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi terjadilah tekanan (stres), dan tingkatan stres ini berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Secara umum tinggi rendahnya stres yang dialami seseorang berbanding terbalik dengan proporsi pemenuhan kebutuhan tersebut (Mantra, 1999).
Akibat dari stres tersebut dapat dipilah menjadi dua, yaitu (a) apabila stres yang dialami seseorang masih dalam batas-batas toleransi, maka orang tersebut akan memutuskan tidak akan pindah, dan yang bersangkutan akan berusaha untuk menyesuaikan kebutuhannya dengan kondisi lingkungan yang ada; dan (2) apabila stres yang dialami seseorang sudah di
20 luar batas toleransinya, maka orang tersebut akan mulai memikirkan untuk mengambil keputusan pindah ke daerah lain tempat kebutuhannya dapat dipenuhi (Gambar 2.1).
Persoalan yang menarik dari Gambar 2.1, yaitu dalam kondisi kebutuhan seseorang tidak terpenuhi namun masih dalam batas toleransi, maka yang bersangkutan memutuskan tidak pindah dan akan berusaha menyesuaikan kebutuhannya dengan keadaan lingkungan yang ada atau melakukan mobilitas nonpermanen. Para pelaku mobilitas nonpermanen umumnya tetap memiliki status kependudukan di daerah asal, sedangkan kegiatannya di luar daerah dilakukannya dengan cara komuter (ulang alik) atau ngajag (bahasa Bali), atau menginap (mondok) di tempat tujuan. Dengan mengambil keputusan melakukan mobilitas nonpermanen, seseorang tidak perlu pindah, hanya tempat mereka bekerja di daerah lain agar dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya di daerah asal.
Gambar 2.1 Hubungan Antara Kebutuhan dan Pola Mobilitas Penduduk Sumber: Mantra (1999).
Kebutuhan (needs) dan aspirasi
Tidak terpenuhi (stress) Terpenuhi Di luar batas toleransi Dalam batas toleransi Pindah Mobilitas nonpermanen Komuter/ Ulang alik Menginap/ mondok Tidakpindah Tidak pindah
21 Bila disimak kembali paparan di atas, dapat diketahui bahwa secara garis besar mobilitas penduduk dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu (a) mobilitas penduduk permanen (migrasi), yaitu mereka yang memutuskan untuk pindah ke daerah tujuan karena kebutuhan hidupnya di daerah asal tidak terpenuhi, bahkan sudah di luar batas toleransi; (b) mobilitas penduduk nonpermanen, yaitu mereka yang memutuskan tidak pindah walaupun kebutuhan hidupnya di daerah asal tidak terpenuhi, namun masih dalam batas-batas toleransi. Mereka akan melakukan mobilitas secara ulang-alik atau mondok di daerah tujuan.
2.2. Determinan Mobilitas Penduduk
Dalam analisis mobilitas penduduk, dikenal adanya dua jenis determinan mobilitas penduduk, yaitu determinan makro dan determinan mikro. Determinan makro berkaitan dengan faktor-faktor seperti wilayah, ekonomi, dan sosial budaya (Lean, 1983). Contoh determinan makro adalah adanya perbedaan kefaedahan wilayah (place utility) antara Kabupaten Karangasem dan Kota Denpasar. Sebagian besar wilayah Kabupaten Karangasem tergolong kering dan tandus, dan sebaliknya Kota Denpasar merupakan pusat berbagai aktivitas baik ekonomi maupun non ekonomi. Kota Denpasar menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan, kebudayaan, kepariwisataan, keuangan perbankan, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan terjadinya arus mobilitas penduduk dari Kabupaten Karangasem menuju Kota Denpasar. Kondisi seperti ini tidak hanya menambah jumlah penduduk di daerah tujuan (Kota Denpasar), akan tetapi juga meningkatkan laju pertumbuhan penduduknya.
Selanjutnya contoh determinan makro dari segi ekonomi dapat ditinjau dari teori mobilitas penduduk Todaro, yang menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya mobilitas penduduk dari daerah pedesaan ke perkotaan adalah (1) adanya perbedaan upah yang diharapkan dengan perbedaan aktual upah riil antara daerah perkotaan dan pedesaan; dan (2) kemungkinan berhasil mendapatkan pekerjaan di sektor modern di
22 perkotaan. Kemungkinan mendapat pekerjaan di perkotaan berbanding lurus dengan tingkat kesempatan kerja di perkotaan, atau berbanding terbalik dengan tingkat pengangguran di perkotaan (Todaro dan Smith, 2006).
Terkait dengan determinan makro dari segi budaya dapat dicontohkan pada merantau pada masyarakat Minangkabau. Menurut Naim (1979), bahwa merantau telah melembaga secara sosial dan budaya dan telah tumbuh sejak dahulu kala, bersamaan dengan dengan munculnya sistem matrilineal. Merantau mengandung beberapa unsur pokok, yaitu (1) meninggalkan kampung halaman; (2) atas kemauan sendiri; (3) dalam jangka waktu lama atau tidak; (4) dengan tujuan mencari kehidupan baru, menuntut ilmu, mencari pengalaman, dan biasanya bermaksud pulang kembali; serta (5) merupakan suatu lembaga sosial yang telah membudaya.
Selain beberapa contoh tentang determinan makro, berikut ini akan dipaparkan pula contoh-contoh yang terkait dengan determinan mikro. Determinan mikro terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang atau individu dalam mengambil keputusan bermigrasi. Dalam hal ini dapat disebutkan pendapat Lee (1970) yang mengemukakan empat faktor yang mempengaruhi seseorang mengambil keputusan bermigrasi yaitu (1) faktor-faktor yang terdapat di daerah asal; (2) faktor-faktor-faktor-faktor yang terdapat di daerah tujuan; (3) penghalang antara; dan (4) faktor individu. Lee berpendapat bahwa di masing-masing daerah, baik di daerah asal maupun di daerah tujuan terdapat keanekaragaman kondisi fisik, ekonomi, maupun sosial yang dapat dikategorikan positif (+), negatif (-), dan faktor-faktor netral (0). Faktor positif adalah faktor yang memberikan nilai menguntungkan kalau bertempat tinggal di daerah tersebut, misalnya tersedianya kesempatan kerja, tersedianya fasilitas pendidikan bagi anak-anak mereka, atau iklim yang baik. Faktor negatif adalah faktor yang memberikan nilai negatif pada daerah yang bersangkutan sehingga seseorang ingin pindah dari tempat tersebut. Faktor netral (0) adalah faktor yang tidak berpengaruh sama sekali pada ada
23 tidaknya niat berpindah dari seseorang. Faktor berikutnya adalah penghalang antara, bukan hanya dalam artian fisik namun tersedia tidaknya biaya untuk berpindah juga memegang peranan penting. Faktor yang terakhir (ke empat) adalah faktor individu, bahwa penilaian positif, negatif, atau netral terhadap faktor-faktor tersebut sangat ditentukan oleh individu yang bersangkutan. Faktor individu dalam model Lee sering dikritik karena penilaian yang dilakukan oleh individu biasanya sangat subyektif.
2.3 Hubungan Migran dengan Keluarganya di Daerah Asal
Di Negara-negara Sedang Berkembang seperti Indonesia, para migran umumnya tetap ingin menjaga keeratan hubungan dengan keluarga yang ditinggalkannya di daerah asal. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya jalinan kekerabatan yang demikian kental dalam masyarakat Indonesia. Hal ini didukung oleh temuan Hugo dalam penelitiannya di Jawa Barat sebagai berikut:
When population movement does occur in low income societies, strong linkages are usually established and maintained between movers at their destinations and their families and relatives who remain in the village of origin. One of the most important results of these origin-to destination ties is the two-way flow of money and resources. In migration research the term “remittance” is usually applied to money sent by migrant to their respective home areas (Hugo, 1983).
Aliran remitan dari daerah tujuan ke daerah asal tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi seperti sempitnya kesempatan kerja dan rendahnya pendapatan di daerah asal, tetapi faktor sosial juga memegang peranan penting. Faktor sosial seperti hubungan yang sangat erat antara migran dengan keluarganya di daerah asal juga dikemukakan oleh Mantra (1981) dari hasil penelitiannya di dua dukuh di Daerah Istimewa Yogyakarta. Keeratan hubungan antara migran dengan keluarganya di daerah asal diwujudkan dengan kunjungan migran pada saat-saat menjelang Hari Raya Lebaran dan Ruwah atau pada upacara selametan lainnya (sunatan, perkawinan, dan sebagainya). Kehadiran migran ke daerah asalnya juga disertai dengan membawa uang atau barang yang diberikan kepada keluarganya di daerah asal. Uang
24 atau barang, baik yang dibawa atau dikirim untuk keluarganya di daerah asal disebut dengan istilah remitan (remittances).
Terkait dengan eratnya hubungan antara migran dengan daerah asalnya juga disoroti oleh Mitchell (1961, dalam Mantra, 1999), yang dijelaskan melalui pemilihan tipe mobilitas nonpermanen. Lebih jauh disebutkan bahwa pemilihan tipe mobilitas nonpermanen merupakan kompromi antara dua kekuatan yang saling bertentangan yang terdapat di daerah asal, yaitu (1) kekuatan sentrifugal; dan (2) kekuatan sentripetal. Kekuatan sentrifugal adalah kekuatan yang bersifat mendorong seseorang untuk meninggalkan daerah asalnya karena adanya berbagai kesulitan, seperti kurangnya kesempatan kerja, rendahnya upah, terbatasnya jenis dan mutu pendidikan, dan sebagainya. Di pihak lain kekuatan sentripetal adalah kekuatan yang bersifat mengikat penduduk, untuk tidak meninggalkan daerah asalnya yang disebabkan oleh kentalnya ikatan kekerabatan yang sulit mereka tinggalkan begita saja.
Berbeda dengan Mitchell yang mengupas dua kekuatan bertentangan yang terdapat di daerah asal (kekuatan sentrifugal dan kekuatan sentripetal) dan akhirnya diselesaikan secara kompromis melalui mobilitas penduduk nonpermanen, maka pembahasan Curson berikut ini lebih ditekankan pada pengaruh remitan terhadap kehidupan sosial ekonomi di daerah pedesaan. Curson (1981) membagi pengaruh yang disebutkan di atas ke dalam tiga hal, yaitu (1) bahwa aliran remitan menimbulkan ketergantungan ekonomi, karena sangat berbahaya apabila aliran remitan terganggu atau putus; (2) aliran remitan dapat meningkatkan pendapatan per kapita penduduk desa, meningkatkan investasi, serta mobilitas sosial; dan (3) remitan dapat meningkatkan emigrasi, dalam arti dapat menyedot kelebihan pertumbuhan penduduk.Pendapat yang kurang lebih sejalan dengan Curson adalah dari Connell (1980),yang menyebutkan bahwa meskipun aliran remitan ke daerah pedesaan dapat menimbulkan dampak negatif namun tetap diakui bahwa remitan tetap bermanfaat bagi sebagian besar individu dan rumah tangga di daerah asal.
25 Dalam masyarakat Bali, di samping adanya keeratan hubungan dengan keluarganya di daerah asal dan dadia, juga terdapat keterikatan dengan desa pakraman. Landasan filosofis desa pakraman adalah tri hita karana, yaitu tiga penyebab kemakmuran, yaitu (1) adanya keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia (pawongan); (2) adanya keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya (palemahan); dan (3) adanya keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (parhyangan) (Surpha, 1991; Pitana, 1994). Warga desa pakraman dapat saja bertempat tinggal di daerah lain, namun secara yuridis tetap menjadi warga desa pakraman di daerah asalnya, termasuk kewajiban dan tanggung jawab yang harus dipikulnya.
2.4 Hasil Penelitian Sebelumnya
Pada uraian berikut ini akan disoroti beberapa kajian yang terkait dengan mobilitas tenaga kerja. Misalnya hasil penelitian Saefullah (1994) yang berjudul “Mobilitas Penduduk dan Perubahan di Pedesaan, Studi Kasus di Jawa Barat”. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa faktor ekonomi merupakan alasan utama seseorang melakukan mobilitas penduduk. Dari data yang dikumpulkannya, lebih dari 90 persen responden menyatakan bahwa kehidupan ekonominya menjadi lebih baik setelah mereka bekerja ke luar desa. Hal ini sejalan dengan temuan Massey (1988); Stark (1991); dan Sjahrir (1995), bahwa mobilitas penduduk telah mampu memperbaiki distribusi pendapatan rumah tangga di daerah asal.
Setelah menyoroti pendapatan, berikut ini akan dibicarakan tentang pengeluaran migran nonpermanen di tempat tujuan. Mantra (1999) menyebutkan bahwa migran nonpermanen berperilaku seperti semut. Apabila semut menemukan makanan di suatu tempat, makanan tersebut tidak dimakan di tempat itu, melainkan dibawa bersama teman-teman ke sarangnya. Migran nonpermanen akan berusaha membawa sebanyak-banyaknya pendapatan yang diperoleh di daerah tujuan ke daerah asal. Hal ini dibuktikan oleh hasil penelitian Graeme J. Hugo di Jawa Barat, yang menyebutkan bahwa semua migran
26 nonpermanen memberikan remitan berupa uang dan 81,1 persen membawa remitan berupa barang bagi keluarganya di daerah asal (Hugo et al., 1987). Sebagai konsekuensi logis dari keadaan di atas adalah rendahnya pengeluaran migran nonpermanen di daerah tujuan.
Hasil penelitian berikutnya adalah dari Oberai dan Singh (1980) di Punjab (India menemukan bahwa tambahan pendapatan yang berasal dari remitan dapat memperbaiki distribusi pendapatan di pedesaan. Hal ini dicerminkan oleh menurunnya koefisien Gini, dimana sebelum dimasukkan remitan koefisien Gininya 0,515 dan jika remitan dimasukkan dalam penghitungan pendapatan maka koefisien Gininya adalah 0,430.
Kajian lainnya yang erat kaitannya dengan topik penelitian ini adalah “Mobilitas Penduduk dan Dampaknya Terhadap Pembangunan Daerah”, yang ditulis oleh Kasto (2002). Kajian ini disarikan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, yang ditekankan pada dampak mobilitas penduduk nonpermanen terhadap daerah asal. Selanjutnya dikemukakan bahwa migran nonpermanen memiliki keterkaitan yang sangat tinggi dengan daerah asalnya. Tingginya keterkaitan migran dengan daerah asalnya diwujudkan oleh besarnya aliran remitan untuk keluarganya di daerah asal, dan menggunakannya sesedikit di daerah tujuan.
Contoh-contoh berikut ini dapat membantu menjelaskan bagaimana migran nonpermanen berupaya hidup hemat di daerah tujuan agar dapat mengirim remitan sebanyak-banyaknya ke daerah asalnya. Misalnya tukang becak di Yogyakarta yang berasal dari Klaten, pada malam hari tidur di becaknyra untuk menghidari pengeluaran sewa pondokan (Mantra, 1999). Demikian pula tenaga kerja yang berasal dari Jawa Timur yang bekerja sebagai buruh derep (buruh panen) di Kabupaten Tabanan – Bali, tinggal di tenda-tenda di pinggiran sawah untuk mengurangi biaya pondokan. Apabila cuaca memungkinkan mereka akan bekerja siang dan malam hari agar semakin banyak remitan yang dibawa atau dikirim ke daerah asalnya (Sudibia, 2004).
27 Dampak mobilitas penduduk terhadap daerah asal secara spesifik juga dibahas oleh Haryono (2011) dalam tulisannya yang berjudul “Dampak Urbanisasi Terhadap Masyarakat di Daerah Asal”. Ia menyimpulkan bahwa urbanisasi telah membuat masyarakat desa menjadi semakin berwawasan luas, bersikap progresif, dan terbuka terhadap perubahan. Dampak urbanisasi pada aspek sosial ekonomi yang paling nampak adalah terjadinya peningkatan kesejahteraan hidup warga masyarakat. Secara fisik perubahan ini dapat dilihat dari semakin banyaknya bangunan rumah baru dengan model baru, terutama dibangun oleh penduduk yang melakukan urbanisasi. Perubahan fisik lainnya dapat dilihat dari pembangunan prasarana dan sarana umum seperti jalan maupun sarana peribadatan. Di pihak lain, di bidang pertanian dampaknya cenderung kurang menguntungkan; karena pemilik sawah sulit mendapatkan tenaga buruh tani dari desa setempat, sehingga terpaksa mendatangkan buruh tani dari daerah lain. Akhirnya mengenai dampak sosial dapat disebutkan bahwa dengan meningkatnya kemampuan mereka dalam mencari nafkah di kota telah menumbuhkan budaya kompetisi atau persaingan, dan di sisi lain timbul budaya “pamer” untuk meningkatkan status sosial.
Lebih jauh terkait dengan dampak remitan terhadap desa pakraman dapat dirujuk tulisan Kawi (2003) yang berjudul “Migrasi Penduduk dan Kelestarian Desa Adat, Suatu Studi Kasus Remitan Migran Desa Adat Beratan di Daerah Provinsi Bali”. Dari penelitian itu ditemukan bahwa rata-rata nilai remitan dari migran untuk daerah asalnya adalah sebagai berikut (1) untuk yadnya (biaya upacara) pada parhyangan sebesar Rp 336.466,67 per tahun; (2) untuk yadnya pada pawongan sebesar Rp 185.161,11 per tahun; dan (3) untuk yadnya pada palemahan Rp43.377,78 per tahun. Dengan demikian total yadnya untuk kegiatan tri hita karana (parhyangan, pawongan, dan palemahan) adalah sebesar Rp 565.005,56 per tahun, sedangkan yadnya lainnya untuk kegiatan di luar tri hita karana adalah sebesar Rp 145.344,44 per tahun. Berdasarkan temuan yang diungkapkan di atas, dapatdiketahui bahwa sebetulnya migran tetap ingin mempertahankan kelestarian desa pakraman yang merupakan bagian dari budaya Bali yang mempunyai nilai sangat tinggi.
28 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survei, yaitu berangkat dari populasi, kemudian diambil sampel yang dianggap mewakili populasi, Populasi penelitian adalah keluarga di daerah asal, yang memiliki paling tidak satu orang anggota keluarga, baik yang melakukan bentuk mobilitas permanen ataupun nonpermanen. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan campuran (mixed method),yang memberikan tekanan pada pendekatan kuantitatif dan ditunjang oleh pendekatan kualitatif. Pada pendekatan kuantitatif dikumpulkan data dengan wawancara terstruktur, sementara untuk pendekatan kualitatif dikumpulkan data melalui observasi dan wawancara mendalam.
3.2 Lokasi Penelitian
Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive, yaitu memilih lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan tertentu. Dalam hal ini daerah yang dipilih adalah Kabupaten Tabanan, yaitu daerah yang terkenal dengan julukan ”lumbung berasnya” Provinsi Bali. Sebagian besar penduduk Kabupaten Tabanan menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, dan yang sangat menonjol adalah pertanian lahan basah atau bercocok tanam padi. Cakupan pekerjaan pada lahan basah relatif bervariasi mulai dari saat pesemaian (menebar benih), membajak/mencangkul/mentraktor, menggaru, menanam, menyiangi, memupuk, menyemprot, menghalau burung, memanen. Oleh karena beras merupakan kebutuhan primer dari penduduk Indonesia, maka sering disebut bahwa beras memiliki peran sangat strategis dalam menjaga stabilitas perekonomian Indonesia. Oleh karena itu dalam upaya menjaga sustainabilitas persediaan pangan beras maka sektor pertanian di Kabupaten Tabanan perlu mendapat perhatian khusus, dan diperhatikan taraf hidup masyarakatnya sehingga tidak ketinggalan dengan daerah-daerah lain yang memiliki latar belakang nonpertanian.
29 Secara spesifik, dua desa yang berlatar belakang lahan basah yang dipilih menjadi lokasi penelitian di Kabupaten Tabanan, yaitu (1) Desa Senganan, terletak di Kecamatan Penebel dan posisinya dekat dengan sumber air utama, daerahnya dataran tinggi; dan (2) Desa Bengkel, terletak di Kecamatan Kediri dan posisinya jauh dari sumber air utama, daerahnya dekat pantai. Kedua desa di atas masing-masing memiliki letak yang berdekatan dengan kawasan wisata, misalnya Desa Senganan letaknya hanya beberapa kilometer dari obyek wisata Desa Jatiluwih, dan Desa Bengkel lokasinya berdekatan dengan Tanah Lot. 3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel
Dalam penelitian ini dikumpulkan banyak variabel, yang meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, lapangan pekerjaan utama, status ketenagakerjaan, tipe mobilitas, jumlah tenaga kerja, luas garapan, pendapatan keluarga, frekuensi pulang ke daerah asal,besarnya remitan, penggunaan remitan, tujuan pengiriman remitan untuk desa adat, partisipasi dalam kegiatan sosial. Selanjutnya, masing-masing variabel di atas diberikan definisi operasional agar memudahkan dalam memproses data yang telah dikumpulkan. Definisi operasional masing-masing variabel penelitian akan dijelaskan secara rinci berikut ini.
1. Umur responden diukur menurut ulang tahun yang terakhir. Misalnya seorang responden, pada saat penelitian umurnya mencapai 35 tahun lebih 3 bulan, maka yang dicatat tetap berumur 35 tahun. Demikian pula apabila seorang responden, pada saat penelitian umurnya mencapai 39 tahun 11 bulan 27 hari, maka yang bersangkutan tetap dicatat 39 tahun, bukan 40 tahun.
2. Jenis kelamin dibedakan menurut laki-laki dan perempuan.
3. Pendidikan didasarkan pada pendidikan terakhir yang ditamatkan. Jika yang bersangkutan berhenti kelas III SMTA, maka yang bersangkutan tetap dicatat berpendidikan SMTP.
30 4. Lapangan pekerjaan utama diukur menurut skala nominal, terdiri dari (a) pertanian, (b) penggalian/pertambangan; (c) listrik gas dan air; (d) industri kecil/kerajinan; (e) bangunan; (f) perdagangan, hotel, restauran; (g) angkutan dan komunikasi; (h) keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan; dan (i) jasa-jasa (pemerintahan dan swasta;
5. Status ketenagakerjaan dibedakan menjadi (a) bekerja; (b) mencari pekerjaan; dan (c) tidak bekerja;
6. Luas garapan, adalah keseluruhan luas lahan yang digarap oleh keluarga, baik dengan cara menyewa, menyakap, atau menggadai;
7. Tipe mobilitas dibedakan menjadi (a) mobilitas ulang alik, apabila yang bersangkutan melakukan kegiatan untuk bekerja dan melintasi batas-batas wilayah administratif, dan kembali lagi ke daerah asalnya pada hari yang sama; (b) mobilitas nginep/mondok, apabila seseorang melakukan kegiatan ekonomi dan melintasi batas wilayah administratif tertentu, serta meninggalkan daerah asalnya lebih dari satu hari tetapi kurang dari enam bulan; (c) migrasi, adalah seseorang yang bekerja di luar daerah asalnya dan telah meninggalkan daerah asalnya minimal enam bulan. Atau dapat terjadi kurang dari enam bulan, namun yang bersangkutan sudah berniat menetap di daerah asalnya;
8. Jumlah tenaga kerja, adalah banyaknya tenaga kerja (dalam keluarga dan luar keluarga) yang dilibatkan untuk mengerjakan pekerjaan di sektor pertanian;
9. Pendapatan keluarga dibedakan antara pendapatan keluarga tidak termasuk remitan (uang yang dibawa atau dikirim oleh migran) dan pendapatan keluarga plus remitan; 10. Frekuensi pulang ke daerah asal dikaitkan dengan kegiatan siklus hidup masyarakat
Bali pada umumnya (termasuk hari-hari besar Agama Hindu), diukur dengan skala likert.
31 11. Partisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan diukur dengan skala likert.
12. Besarnya remitan adalah besarnya uang, kalau berupa barang diukur nilainya dalam rupiah (baik yang dibawa maupun dikirim ke daerah asalnya) selama kurun waktu enam bulan terakhir;
13. Penggunaan remitan untuk keluarga mencakup (a) menyokong kebutuhan pokok keluarga; (b) biaya pendidikan anak; (c) biaya merawat orang tua; (d) untuk perbaikan rumah; (e) biaya upacara adat/agama; (f) tabungan; (7) investasi; dan (8) lainnya; dan 14. Tujuan pengiriman remitan untuk desa adat, meliputi (a) iuran rutin; (b) membayar
ayahan desa adat; (c) pembangunan fasilitas desa adat; dan (d) lainnya 3.4 Populasi, Metode Penentuan Sampel Responden, dan Informan
Populasi penelitian adalah seluruh keluarga petani yang paling tidak salah satu anggota keluarganya melakukan mobilitas penduduk, baik yang sifatnya permanen maupun nonpermanen, dan melakukan mobilitas dengan tujuan bekerja di luar pertanian di desa lain, kecamatan lain, kabupaten lain, atau luar Bali minimal telah berlangsung dalam kurun waktu 1 (satu) bulan. Sampel penelitian adalah bagian dari anggota populasi yang memiliki karakteristik yaitukeluarga petani yang paling tidak salah satu anggota keluarganya melakukan mobilitas penduduk, baik yang sifatnya permanen maupun nonpermanen, dan melakukan mobilitas dengan tujuan bekerja di luar pertanian di desa lain, kecamatan lain, kabupaten lain, atau luar Bali minimal telah berlangsung dalam kurun waktu 1 (satu) bulan.
Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara purposive, yaitu dengan pertimbangan bahwa keluarga yang diambil sebagai sampel adalah keluarga petani yang paling tidaksalah satu anggota keluarganya melakukan mobilitas penduduk, baik yang sifatnya permanen maupun nonpermanen, dan melakukan mobilitas dengan tujuan bekerja di luar pertanian di desa lain, kecamatan lain, kabupaten lain, atau luar Bali minimal dalam
32 kurun waktu 1 (satu) bulan. Selain secara purposive, pengambilan sampel juga dikombinasikan dengan accidental sampling.
Selanjutnya mengenai responden penelitian adalah salah satu anggota keluarga petani yang memiliki kriteria seperti di atas dan yang mampu memberikan informasi yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini. Apabila para migran kebetulan sedang pulang ke desa asalnya, maka yang diwawancara dalam penelitian ini adalah para migran. Jumlah keseluruhan responden yang diambil dalam penelitian adalah 300 orang, dengan perincian 150 orang di Desa Senganan dan 150 ornag di Desa Bengkel.
Selain mengumpulkan data dari responden, dalam penelitian juga dikumpulkan informasi dari para informan kunci, yang jumlahnya sebanyak 20 orang. Secara rinci jumlah informan di masing-masing desa penelitian adalah 10 orang di Desa Senganan dan 10 orang di Desa Bengkel. Informan kunci terdiri atas kepala desa, kepala dusun, pimpinan desa adat/pakraman, kelian subak atau pekaseh.
3.5 Instrumen Penelitian
Dalam penelitian akan digunakan dua jenis instrumen penelitian, yaitu daftar pertanyaan dan pedoman wawancara. Daftar pertanyaan atau kuesioner dibuat secara rinci yang ditujukan kepada responden penelitian untuk menggali informasi terkait dengan karakteristik responden, bentuk-bentuk mobilitas, alasan utama melakukan mobilitas, kegiatan utama yang dilakukan dalam mobilitas, hubungan migran dengan keluarganya di daerah asal, masalah tenaga kerja di sektor pertnian, pendapatan keluarga di daerah asal, besarnya aliran remitan ke daerah asal, penggunaan remitan oleh keluarga di daerah asal, kewajiban-kewajiban yang dipikul migran dalam upaya menjaga hubungan dengan desa adat/pakraman.
Sementara itu pedoman wawancara dimaksudkan untuk menggali informasi kepada para informan kunci, terutama informasi yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh para
33 petani dewasa ini, berkaitan dengan semakin banyaknya tenaga kerja produktif yang melakukan mobilitas ke luar desa, ke luar kecamatan, ke luar kabupaten, bahkan ke luar Bali. Selain huungan dengan keluarganya di daerah asal, juga bagaimana kontinyuitas hubungan dengan desa adat/pakraman di daerah asal. Karena pada umumnya mereka yang sudah menetap di daerah tujuan hanya masuk sebagai warga desa dinas/administratif, sedangkan sebagai warga desa adat/ pakraman tetap berlangsung di daerah asalnya.
3.6 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini digunakan beberapa cara pengumpulan data, yang dimaksudkan agar data yang dikumpulkan betul-betul dapat digunakan untuk memberikan gambaran yang lebih realistis terhadap obyek yang sedang diteliti. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain mencakup metode observasi, wawancara terstruktur, dan wawancara mendalam, dengan rincian sebagai berikut:
1) Metode observasi, adalah cara pengumpulan data primer dengan melakukan pengamatan langsungke obyek yang diteliti. Karena penelitian ini dilakukan di daerah asal dengan latar belakang pertanian,maka observasi dilakukan dengan cara pengamatan terhadap kegiatan keluarga di daerah pertanian dan gambaran tentang kondisi lingkungan fisik tempat tinggal keluarga di daerah asal.
2) Metode wawancara terstruktur, adalah wawancara yang dilakukan melalui tatap muka langsung dengan responden dan menggunakan daftar pertanyaan atau kuesioner yang telah disiapkan sebelumnya.
3) Metode wawancara mendalam (indepth interview), adalah wawancara yang dilakukan dengan para informan kunci dan menggunakan pedoman wawancara.
3.7 Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan akan diedit atau diperiksa, untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan selama pengumpulan data lapangan. Setelah edting data
34 dilakukan, langkah berikutnya adalah melakukan data entry dengan komputer. Jika semua data sudah dimasukkan dan dinyatakan bersih dari kesalahan, proses selanjutnya adalah pengolahan data dengan SPSS PC+. Melalui beberapa fase pengolahan data seperti di atas, selanjutnya ditentukan teknik analisis data yang digunakan mengupas masalah penelitian. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif, sehingga analisis yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif, yaitu menggunakan tabel distribusi tunggal dan tabel silang.
35 BAB IV
KARAKTERISTIK RESPONDEN DAN PELAKU MOBILITAS
4.1 Karakteristik Responden
Seperti telah dipaparkan pada Bab III, sampel dalam penelitian ini diambil secara purposive, dengan pertimbangan bahwa keluarga yang dipilih sebagai sampel adalah keluarga petani yang paling tidak salah satu anggota keluarganya melakukan mobilitas penduduk, baik bersifat permanen maupun nonpermanen. Sementara itu, responden penelitian adalah salah satu anggota keluarga petani yang mampu memberikan informasi yang dibutuhkan untuk menjawab masalah penelitian ini. Selain itu, wawancara juga dilakukan dengan para migran yang bersangkutan jika mereka kebetulan pulang ke desa asalnya pada saat penelitian dilakukan. Lebih jauh, gambaran tentang karakteristik responden dalam penelitian ini dapat diikuti pada uraian berikut.
4.1.1 Umur dan Jenis Kelamin Responden
Jumlah keseluruhan responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 300 orang, dengan rincian 150 orang di Desa Senganan Kecamatan Penebel dan 150 orang di Desa Bengkel Kecamatan Kediri. Jika ditinjau dari jenis kelaminnya, dapat diketahui bahwa jumlah responden laki-laki adalah 153 orang, sedangkan sisanya sebanyak 147 orang adalah responden perempuan. Dengan demikian, rasio jenis kelamin dalam penelitian ini adalah sebesar 1,04, artinya dalam setiap 100 orang responden perempuan terdapat 104 orang responden laki-laki.
Informasi selanjutnya berkaitan dengan umur responden, secara umum dapat dikatakan bahwa kisaran umur responden adalah antara kurang dari 20 tahun hingga 70 tahun ke atas. Umur responden disajikan dalam interval 5 tahunan, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.1. Kalau kelompok umur 40-49 tahun digolongkan sebagai usia puncak (prime age), maka sekitar 20 persen responden penelitian ini berada pada usia puncak. Usia puncak ini
36 menggambarkan keadaan pada umumnya, dimana pada kelompok umur ini tingkat partisipasi angkatan kerja paling tinggi. Pada kelompok-kelompok umur yang lebih tua (50-54 tahun, 55-59 tahun, dan seterusnya) tingkat partisipasi angkatan kerja akan menunjukkan penurunan.
Di pihak lain, dari distribusi umur responden ini juga dapat ditentukan umur mediannya, yaitu umur yang menggambarkan bahwa 50 persen responden berada di bawah umur tersebut. Umur median responden dalam penelitian ini adalah 39,57 tahun. Sementara itu, jika dikaitkan dengan penduduk lanjut usia (umur 65 tahun ke atas) maka dapat diketahui persentase responden yang tergolong lanjut usia mencapai 8,3 persen.
Tabel 4.1
Distribusi Umur Responden Penelitian Dampak Mobilitas Tenaga Kerja Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Keluargadi Daerah Asal, Studi Kasus di Desa Senganan dan BengkelKabupaten Tabanan, 2014
Kelompok Umur (Tahun)
Frekuensi Persentase Persentase Kumulatif <20 19 6.3 6.3 20-24 43 14.3 20.7 25-29 30 10.0 30.7 30-34 24 8.0 38.7 35-39 30 10.0 48.7 40-44 41 13.7 62.3 45-49 20 6.7 69.0 50-54 35 11.7 80.7 55-59 17 5.7 86.3 60-64 16 5.3 91.7 65-69 19 6.3 98.0 70+ 6 2.0 100.0 Total 300 100.0
Sumber: Hasil Penelitian Data Primer. 4.1.2 Pendidikan Responden
Karakteristik responden lainnya yang dikupas pada penelitian ini berkaitan dengan tingkat pendidikan. Pendidikan responden dapat ditinjau dari beberapa sisi, yaitu dari tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan atau dari tahun sukses mengikuti pendidikan. Dalam penelitian ini yang dibahas adalah jenis yang pertama, yaitu berdasarkan tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Secara keseluruhan terungkap bahwa semua responden penelitian