• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Pemanfaatan Tumbuhan dan air di Situ Jatijajar

Capung memanfaatkan lingkungan sekitar dan tumbuhan sebagai tempat bertengger (Tabel 4). Selain bertengger terlihat juga capung melakukan aktivitas terbang dalam waktu singkat. Aktivitas antara bertengger dan terbang (transition flight) merupakan salah satu cara capung mengatur termoregulasi tubuh, saat kondisi kelembapan udara cukup tinggi, capung melakukan sedikit pergerakan umtuk tetap menghangatkan tubuhnya (Corbet dalam De Marco et al., 2005).

Tabel 4. Tempat bertengger capung Brachythemis contaminata di Situ Jatijajar Depok

No. Tempat bertengger Titik

1 2 3

Keterangan  = adanya tempat bertengger capung Brachythemis contaminata di titik tersebut

22

Terdapat 14 titik yang teramati digunakan oleh capung untuk bertengger selama pengamatan di Situ Jajar Depok. Cyperus rotundus dan Batang Manihot sp. merupakan tumbuhan yang teramati digunakan oleh capung untuk bertengger di ke tiga titik penelitian. Selain itu tumbuhan yang juga teramati menjadi tempat bertengger adalah Leersia hexandra yaitu di titik 2 dan 3 serta Ipomoea aquatica di titik 2. Ipomoea aquatica (kangkung air) merupakan salah satu tanaman yang sering digunakan oleh capung sebagai tempat bertengger dan meletakkan telurnya.

Hal ini dilakukan oleh capung agar telur tetap aman dan tidak terbawa arus sampai menetas menjadi nimfa (Syarifah et al., 2018).

Hasil ini sesuai dengan pernyataan Susanti (1998) yang menyatakan capung B. contaminata menyukai bertengger di vegetasi yang tumbuh di permukaan air. Hal ini didukung oleh penelitian Zamhuri (2017) yang menunjukkan bahwa capung B. contaminata sering dijumpai bertengger pada tumbuhan kangkung air (Ipomoea aquatica). Titik 3 lebih banyak yang dijadikan tempat untuk capung B. contaminata bertengger. Hal ini disebabkan karena masih banyak vegetasi di area titik 3, minimnya aktivitas manusia dan adanya empang.

Berdasarkan hasil penelitian ini, tidak ditemukan adanya nimfa capung.

Capung juga dapat dijadikan sebagai indikator kualitas perairan karena capung termasuk serangga air yang sangat sensitif terhadap perubahan kandungan zat, sehingga perubahan jumlah nimfa capung dapat dijadikan sebagai indikator baik atau buruknya perairan tersebut (Rini, 2011). Nimfa capung memakan jentik-jentik nyamuk yang dapat menularkan penyakit berbahaya seperti malaria &

demam berdarah. Sehingga kehadiran capung dalam suatu ekosistem dapat menjadi indikator keseimbangan ekosistem tersebut. Menurunnya populasi capung salah satunya disebabkan oleh rusaknya tempat hidup (habitat) mereka karena aktivitas manusia seperti pengambilan tanah, penggundulan hutan, polusi yang berasal dari pertanian dan industri, buangan kotoran pada aliran sungai dan sebagainya. Parameter perairan Situ Jatijajar Depok yang tidak mendukung dan tidak ditemukannya nimfa capung menjelaskan bahwa perairan Situ Jatijajar Depok tergolong buruk (Husnia, 2019).

23

4.4 Hubungan B. contaminata dengan Faktor Mikroklimat

Pada penelitian ini, faktor yang berpengaruh terhadap keberadaan capung adalah kondisi fisik lingkungan, seperti suhu, kelembapan, intensitas cahaya dan kecepatan angin. Beberapa faktor tersebut akan menjadi pembatas pesebaran beberapa jenis capung endemik yang memiliki faktor fisik yang spesifik. Kondisi fisik habitat yang optimal akan mempengaruhi keberadaan jenis capung (Crumrinne et al., 2008).

Tabel 5. Hasil Uji Koefisien Korelasi Pearson antara capung B.contaminata dengan variabel faktor mikroklimat.

Keterangan: TB: Tidak Berhubungan, B: Berhubungan

Uji statistik dengan korelasi Pearson (Tabel 5 dan Lampiran 1) dilakukan untuk mengetahui hubungan antara keberadaan B. contaminata dengan faktor mikroklimat. Faktor mikroklimat yang dijadikan variabel yaitu suhu udara, suhu air, pH, kecepatan angin, kelembapan udara, kecerahan udara dan DO. Data faktor mikroklimat yang digunakan dalam uji koefisien korelasi Pearson dapat dilihat di Lampiran 4.

Berdasarkan uji yang telah dilakukan, diperoleh nilai koefisien korelasi untuk tiap variabel seperti pada Tabel 5. Nilai signifikansi pada variabel suhu udara, kecepatan angin, kelembapan udara dan kecerahan air memiliki hubungan antara keberadaan capung B. contaminata dengan variabel tersebut. Hasil uji korelasi untuk variabel suhu air, pH dan DO menunjukkan tidak ada hubungan keberadaan capung B. contaminata dengan variabel suhu udara, pH dan DO.

Keempat variabel yang berhubungan dengan keberadaan capung B.

contaminata memiliki jenis hubungan yang berbeda seperti ditunjukkan pada

24

Tabel 5. Suhu udara dan kecepatan angin memiliki hubungan yang kuat dan berbanding lurus dengan keberadaan capung. Hal ini menunjukkan semakin tinggi suhu udara dan kecepatan angin maka semakin banyak jumlah capung dan sebaliknya semakin rendah suhu udara dan kecepatan angin maka semakin sedikit jumlah capung. Sedangkan variabel kelembapan udara dan kecerahan air memiliki hubungan yang berbanding terbalik yang berarti semakin tinggi kelembapan udara dan kecerahan air maka semakin sedikit jumlah capung dan sebaliknya semakin rendah kelembapan udara dan kecerahan air maka akan semakin banyak jumlah capung B. contaminata sampai batasan tertentu. Christina & Siwi (1991) dan Borror et al., (2004) menyatakan bahwa capung dapat mengalami dehidrasi atau kekurangan air apabila berada pada lingkungan dengan cuaca terik dan kelembapan udara relatif yang cenderung rendah.

Capung membutuhkan kondisi yang optimal untuk bisa hidup di suatu habitat atau lingkungan. Faktor mikroklimat yang optimal akan mempengaruhi keberadaan jenis capung (Crumrine et al., 2008). Selain itu Mc Cauley (2006) menyatakan keberadaan jenis capung dibedakan oleh jarak, jenis habitat dan faktor fisik yang membatasinya. Capung B. contaminata meskipun termasuk spesies kosmopolit (Sigit et al., 2013) namun tetap bergantung pada faktor mikroklimat dengan kisaran optimum untuk bisa bertahan di lingkungan. Borror et al. (1992) menyatakan bahwa anggota Famili Libellidae termasuk B.

contaminata banyak ditemukan di perairan berbatu dan berlumpur yang airnya kurang cerah.

Variabel hasil uji korelasi yang memiliki hubungan dengan keberadaan capung B. contaminata juga diinterpretasi dengan tabel interpretasi Sugiyono (2007). Nilai korelasi keempat variabel yaitu suhu udara (0,999), kecepatan angin (1,000), kelembapan udara (-1,000) dan kecerahan air (-0,999) termasuk dalam kategori sangat kuat. Suhu dan kelembapan udara merupakan faktor abiotik yang sangat penting bagi siklus hidup capung. Selain itu kecepatan angin berpengaruh bagi pergerakan capung saat terbang (Safrudin & Maulana, 2020).

26 BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan:

1). B. contaminata memanfaatkan 14 titik di sekitar Situ Jatijajar sebagai tempat bertengger. Nimfa capung tidak ditemukan di perairan Situ Jatijajar.

2). Faktor mikroklimat yang mempengaruhi keberadaan B. conaminata yaitu suhu udara, kecepatan angin, kelembapan udara dan kecerahan air.

5.2 Saran

Penelitian B. contaminata ini merupakan penelitian capung pertama di Situ Jatijajar. Sebagai indikator air bersih ada baiknya kelestarian Situ Jatijajar dijaga untuk menjaga keberadaan capung serta kebersihan air di Situ Jatijajar.

27

DAFTAR PUSTAKA

Aswari, P. (2003). Serangga Taman Nasional Gunung Halimun Jawa bagian Barat. Bogor: Puslitbang Biologi LIPI.

Barus. (2001). Pengantar Limnologi. Jakarta: Swadaya Cipta.

Borror, D. J., Triplehorn, C.A & Johnson, N. F. (1992). Pengenalan pelajaran serangga. Diterjemahkan oleh Suryobroto, M. Yogyakarta: UGM Press.

Borror, D. J., Triplehorn, C.A & Johnson, N. F. (1996). Pengenalan pelajaran serangga edisi keenam. Partosoedjono S, penerjemah; Brotowidjoyo MD, editor. Yogyakarta: UGM Press. Terjemahan dari: An Introduction to The Study of Insects.

Borror, D. J., Triplehorn, C.A & Johnson, N. F. (2004). Introduction to study of insect. USA: Thomson Brooks/Cole.

Campbel, N, A., Jane, B, R., & Lawrence, G, M. (2004). Biology edisi kelima jilid 3. Terjemahan oleh Wamen Manulu. Jakarta: Erlangga.

Christina, L. S. & Siwi, S.S. (1991). Kunci determinasi serangga. Yogyakarta: PT Kanisius.

Corbet, P. S. (1980). Biology of Odonata. Annu. Rev. Entomol. 25: 189-217.

Corbet, P. S. (1999). Dragonflies: Behavior & ecology of Odonata. Harley Books, Great Horkesley, Colchester.

Crumrine, P.W., Switzer, P.V., & Crowley, P.H. (2008). Structure and dynamics of Odonate communities: accesing habitat, responding to risk, and enabling reproduction. Aguilar, A.C. (eds). Dragonflies and damselflies: Model organisms for ecological and evolutionary research. New York: Oxford University Press Inc.

De Marco Jr., P, & D. C. Resende. (2005). Thermoregulatory Constraits on Behaviour: Patterns in a Neotropical Dragonfly Assemblage. Neotropical Entomology. 34(2): 155-162.

Dharmawan, A. (2005). Ekologi hewan. Malang: UM Press.

Fitriana, N. (2016). Diversitas capung (Odonata) di Situ Pamulang Kota Tangeran Selatan, Banten. Jurnal Pro-Life, Vol 3(3), 228-240.

Gullan, P.J., & Craston, P.S. (2000). The insects; an outlite of entomology.

Blackwell Publishing Ltd. Oxford.

Hidayah, S. N. I. (2008). Keanekeragaman dan aktivitas capung (Odonata) di Kebun Raya Bogor. Skripsi. Sarjana Program Studi Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan. Bogor: IPB.

28

Husnia, F. (2019). Biodiversitas capung subordo Zygopter sebagai bioindikator kualitas air di aliran sungai kawasan Muria desa Colo kabupaten Kudus Jawa Tengah. Skripsi. Sarjana Sains dan Ilmu Biologi. Semarang: UIN Walisongo.

Iskandar. (2015). Metodelogi penelitian pendidikan dan sosial. Jakarta: Referensi.

Jumar. (2000). Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta: Rineka Cipta.

Klym, M. (2003). Introduction to dragonfly and damselfly watching. Texas: Texas Parks and Wildlife.

Krebs, C.J. (2014). Ecological methodology, 3rd ed. New York: Harper & Row Publishing.

Leger, D. W. (1992). Biological foundation of behaviour an integrative approach.

New York: Harpen Collins Publisher.

McCauley, S.J. (2006). The effects of dispersal and recruitment limitation on community structure of Odonates in artificial ponds. Ecography 29, 585–

595.

Nanao, J., & Nanao, K. (1996). Seri misteri alam 3; Kumbang koksi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Odum, E.P. (1993). Dasar – dasar ekologi. Terjemahan oleh Tjahjono Samingun.

Yogyakarta: UGM Press

Odum, E.P. (1994). Dasar – dasar ekologi. Edisi ketiga. Penerjemah Tjahjono Samingun dan B. Srigandono. Yogyakarta: UGM Press.

Pamungkas, D.W & Ridwan, M. (2015). Keragaman jenis capung dan capung jarum (Odonata) di beberapa sumber air di Magetan, Jawa Timur. Jurnal Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 1: 1295-1301.

Patty, N. (2006). Keanekaragaman jenis capung (Odonata) di Situ Gintung Ciputat, Tangerang. Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Paulson, D. (2011). Dragonflies and damselflies of the east. New Jersey:

Princeton University Press.

Rahadi, W.S., Feriwibisono, B., Nugrahani, M., Dahlia, B. P. I & Makitan, T.

(2013). Naga terbang wendit. keanekaragaman capung perairan wendit, Malang. Indonesia Dragonfly Society. Malang.

Rini, D.S. (2011). Ayo mencintai sungai. Surabaya: Ecoton.

Ross. (1982). Entomology, Fourth Edition. Canada: John Willey & Sons.

29

Safrudin, A. & Maulana F. 2020. Kepadatan populasi capung sambar hijau (Orthetrum sabina) pada persawahan di Desa Karang Buah kecamatan Belawang Kabupaten Barito Kuala. Jurnal Pendidikan Hayati 6 (2):37-45.

Samways, M. J. (2008). Dragonflies and damselflies of south Africa. Bulgaria:

Pensoft Publisher.

Saputri, D. (2013). Jenis - jenis capung (Odonata) di persawahan masyarakat rimbo tarok kelurahan gunung sarik kecamatan kuranji Padang.

Universitas Andalas Padang.

Setiyono, J., Diniarsih, S., Oscilata, E. N. R., & Budi, N. S. (2017). Dragonflies of Yogyakarta, jenis capung Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia Dragonfly Society. Yogyakarta.

Sigit W., B. Feriwibisono, M.P. Nugrahani, B. Putrid & T. Makitan. (2013). Naga terbang wendit. Malang: Indonesia Dragonfly Society.

Subagyo, T.S. (2016). Keanekaragaman capung (Odonata) di kawasan Rawa Jombor, Klaten, Jawa Tengah. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta.

Sugiyono. (2007). Metode penelitian pendidikan pendekatan kualitatif, kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Susanti, S. (1998). Seri panduan lapangan: Mengenal capung. Bogor: Puslitbang Biologi, LIPI.

Syarifah, E.B., Fitriana N & Wijayanti F. (2018). Keanekaragaman capung (Odonata) di Taman Mini Indonesia Indah dan Taman Margasatwa Ragunan, DKI Jakarta, Indonesia. Bioprospek, 13(1): 50-58.

Theischinger, G. (2009). Identification guide to The Australian Odonata. Sydney:

Department of Environment, Climate Change and Water NSW.

Wardhana, P.K. (2017). Keanekaragaman capung di Jogja Adventure Zone sebagai bahan penyusun lembar kegiatan siswa bagi siswa kelas X SMA.

Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.

Watson, J. A. L., & A. F. O’Farrel. (1991). Odonata (dragonflies and damselfy).

Division of Entomologi CSIRO Australia. Melbourne: Melbourne University Press.

Watson, J. A. L., & A. F O’Farrell. (1996). The insects of Australia, a text book for students and research workers volume I second edition. Melbourne:

CSIRO Australia. Melbourne University Press.

William, D. D., & Feltmate B.W. (1992). Aquatic insects. UK: Cab Internation Wallingford.

Zamhuri, I. (2017). Studi habitat dan perilaku capung Brachythemis contaminata (Fabricius, 1793) di Situ Tujuh Muara, Pamulang. Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

30

Lampiran 1. Hasil uji Koefisien Korelasi Pearson Correlations

**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (1-tailed).

30 Lampiran 2. Rata-rata faktor mikroklimat di Situ Jatijajar Depok

Waktu Suhu Udara (ºC) Suhu Air (ºC) pH air Kecepatan angin (m/s)

Kelembapan udara (%)

Kecerahan Air

(m) DO air (mg/L)

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3

Pagi 27,8 29,2 29,4 29,9 29,9 29,6 7,03 7,26 6,92 4,5 5,6 6,5 69,1 64 62,7 62,6 62,3 62,3 17,1 16,2 17,1 Sore 34,5 35,2 35,9 32,8 33 32,9 7,37 7,73 7,21 5,3 7,2 7,8 49,6 50,4 49,6 59,8 57,4 56,5 18,2 17,6 18,2

Lampiran 3. Tempat bertengger capung B.contaminata di Situ Jatijajar Depok

No Tempat Bertengger Gambar No Tempat Bertengger Gambar

1 Cyperus rotundus 2 Manihot sp.

3 Konblok jalan 4 Pagar

31

5 Ipomoea aquatica 6 Leersia hexandra

7 Mimosa pigra 8 Batang

9 Imperata cylindrica 10 Serasah

11 Ruellia tuberosa 12 Borreria laevis

13 sp1 14 Rumput

Dokumen terkait