• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemantauan Implementasi Amdal/UKL-UPL

Dalam dokumen BAB III AKUNTABILITAS KINERJA (Halaman 34-40)

Jumlah Perusahaan/Kegiatan nilai scoring > 70%

x 100%

Jumlah Perusahaan/Kegiatan yang dilakukan Pembinaan Wasdal LB3 dan Limbah Cair

4) Pemantauan Implementasi Amdal/UKL-UPL

Untuk analisis dan perhitungan capaian kinerja yang mengacu kepada hasil pelaksanaan kegiatan pemantauan implementasi Amdal/UKL-UPL dan pemantauan pelaksanaan RKL-RPL dilakukan dengan memberikan penilaian terhadap implementasi dan pelaksanaan RKL-RPL yang telah dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan berdasarkan 4 (empat) kriteria yang terhadap masing-masingnya diberikan pembobotan yang berbeda sesuai dengan urgensi dan keterkaitan setiap kriteria terhadap penentuan capaian kinerja persentase usaha dan/atau kegiatan yang telah

mengimplementasikan perizinan lingkungan sesuai peraturan.

Keempat kriteria dimaksud meliputi:

- Keberadaan (ada/tidaknya) dokumen lingkungan di lokasi usaha dan/atau kegiatan (bobot 20%).

- Keberadaan (ada/tidaknya) unit kerja yang membidangi (bertanggung jawab) pengelolaan lingkungan usaha dan/atau kegiatan (bobot 15%).

- Realisasi pelaksanaan item-item pengelolaan dan pemantauan lingkungan (RKL-RPL) yang tercantum dalam dokumen lingkungan yang dimiliki (bobot 50%).

- Penyampaian laporan pelaksanaan Izin Lingkungan sesuai ketentuan yang berlaku (bobot 15%).

Penentuan persentase jumlah usaha dan/atau kegiatan yang telah mengimplementasikan perizinan lingkungan sesuai dengan peraturan yang mengacu pada hasil penilaian terhadap pemenuhan/ketaatan terhadap keempat kriteria di atas. Penetapan standar minimal pemenuhan/ketaatan adalah 70%, artinya, jika kumulatif persentase penilaian keempat kriteria untuk suatu usaha dan/atau kegiatan nilainya ≥ 70%, maka terhadap usaha dan/atau kegiatan tersebut disimpulkan telah mengimplementasikan perizinan lingkungan sesuai peraturan, begitu juga sebaliknya apabila nilai ketaatan < 70%, maka terhadap pemilik kegiatan dan/atau usaha tersebut disimpulkan tidak mengimplementasikan perizinan lingkungan sesuai peraturan.

Persentase Ketaatan usaha dan/atau Pembinaan

Implementasi AMDAL

=

Jumlah Perusahaan/Kegiatan nilai scoring > 70%

x 100%

Jumlah Perusahaan/Kegiatan yang dilakukan Pembinaan Wasdal LB3 dan Limbah Cair

2.2. Analisis Capaian Kinerja

a. Perbandingan antara Target dengan Realisasi Tahun 2015

 Pencapaian target secara total kegiatan

Pada tahun 2015 ditetapkan target bahwa 50% dari seluruh obyek di Sumatera Barat telah memimplementasikan perizinan lingkungan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Data tersebut setelah dilakukan konversi dari data uji petik hasil yang dilakukan Pembinaan, Pengawasan dan Penilaian Kenerja Lingkungan yang dilakukan melalui keempat kegiatan diatas.

 Pencapaian target untuk masing kegiatan berdasarkan analisis uji petik per sektor

Tabel dibawah ini memperlihatkan jumlah obyek, tingkat ketaatan berdasarkan sektor yang dilakukan pembinaan, pengawasan dan penilaian kinerjanya dalam mengimplementasikan perizinan sesuai dengan perundang-undangan berlaku.

Tabel 11. Jenis kegiatan dan/atau usaha yang telah dilakukan Pembinaan dan Pengawasan Implementasi Perizinan Lingkungan Tahun 2015

No Kegiatan

Energi Manufacture Jasa Lain-lain Jmlh Taat Jmlh Taat Jmlh Taat Jmlh Taat Jmlh Taat Jmlh Taat

Berdasarkan uji petik, makai target yang ditetapkan untuk Tahun 2015 sebesar 50% maka realisasinya 51,25 %.

Capaian kinerja terhadap pemilik kegiatan dan/atau usaha yang taat/

mengimplementasikan perizinan lingkungan berdasarkan uji petik tersebut adalah:

 Pencapaian target analogi seluruh kegiatan wajib AMDAL/UKL-UPL di Sumatera Barat Untuk Masing-Masing Sektor.

Total jumlah kegiatan dan/atau usaha yang ada di Provinsi Sumatera Barat diperoleh dari data SLHD Sumatera Barat Tahun 2015 berjumlah 513 yang terbagi menjadi beberapa sektor. Mengingat keterbatasan data, maka hasil perhitungan persentase tingkat ketaatan/ mengimplementasikan perizinan lingkungan masing-masing sektor kegiatan dan/atau usaha pada Tabel 11 diatas digunakan sebagai basis data/acuan/analogi untuk menghitung (estimasi) persentase ketaatan secara keseluruhan terhadap pemilik kegiatan dan/atau usaha yang ada di Provinsi Sumatera Barat menggunakan metode ekstrapolasi sebagaimana tertuang pada tabel 12 dibawah ini.

Tabel 12. Jumlah Sektor kegiatan dan/atau usaha yang ada di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2015 5. Pelayanan Kesehatan

(rumah sakit)

Perhitungan secara keseluruhan untuk mengetahui realisasi persentase usaha dan/atau kegiatan yang mengimplementasikan perizinan lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada di Provinsi Sumatera Barat menggunakan formula:

Persentase usaha dan/atau kegiatan yang telah mengimplementasikan perizinan lingkungan sesuai peraturan perundang-undangan

=

Jumlah usaha dan/atau kegiatan yang mengimplementasikan perizinan lingkungan sesuai

peraturan x 100 %

Jumlah usaha dan/atau yang wajib perizinan lingkungan

= 232

x 100 % 513

Angka ini masih dibawah dari target yang telah ditetapkan yaitu sebesar 50%.

Capaian kinerja terhadap pemilik kegiatan dan/atau usaha wajib AMDAL dan UKL UPL di Provinsi Sumatera Barat yang taat/mengimplementasikan perizinan lingkungan sesuai dengan peraturan perundang- dengan membandingkan antara realisasi dan target menggunakan formula:

Hasil pengukuran

capaian kinerja = Realisasi

x 100 % Target yang ditetapkan

= 49.12

x 100 % 50

= 98,24%

Namun apabila dilihat per sektor sesuai dengan tabel tersebut diatas, bahwa dari hasil penilaian terhadap beberapa objek baik melalui PROPER/PROPELIKE, Pembinaan Hukum dan Perizinan serta Pengawasan Pengendalian Pencemaran diperoleh kesimpulan:

- Sektor manufaktur dan agroindustri memiliki peringkat ketaatan/mengimplementasikan perizinan lingkungan dengan kategori baik.

- Tingkat ketaatan yang dikategorikan jelek berasal dari sektor pelayanan kesehatan (rumah sakit) dan sektor jasa (hotel, rumah makan, pelabuhan, bandara, jalan). Adapun analisis tingkat ketaatan terhadap 4 (empat) sektor tersebut adalah sebagai berikut :

1) Sektor manufaktur

Tingkat ketaatannya dipengaruhi oleh proses kegiatan secara teknis limbah yang dihasilkan relatif kecil dan dampaknya tidak signifikan terhadap lingkungan. Sementara itu limbah menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat ketaatan dalam mengimplementasikan perizinan lingkungan. Selain itu untuk industri manufaktur ada suatu kewajiban yang dipenuhi untuk memperoleh ISO, sementara itu salah satu persyaratan untuk memenuhi ISO adalah kinerja lingkungan.

2) Sektor Agroindustri

Kegiatan agroindustri dalam pengelolaan lingkungan menghasilkan limbah yang signifikan tetapi tingkat ketaatan

dalam pengelolaanya relatif baik hal ini sejalan dengan adanya tuntutan dari sektor agroindustri dalam pemenuhan pencapaian ISPO dan RSPO yang salah satu kinerja lingkungan merupakan persyaratan utama dalam pemenuhan target tersebut. Selain itu sektor agroindustri juga memiliki organisasi seperti GAPKI pada industri sawit dan GAPKINDO pada industri karet yang mengayomi dan membantu dalam pemenuhan kewajiban terhadap pengelolaan lingkungan.

3) Sektor Pelayanan Kesehatan (rumah sakit)

Kegiatan pelayanan kesehatan sebagai salah satu yang menghasilkan Limbah B3 dan limbah cair yang dampaknya besar terhadap lingkungan. Dalam pengelolaan Limbah B3 tingkat ketaatan rumah sakit sangat rendah hal ini terbukti dengan belum terpenuhinya kewajiban dalam perizinan Limbah B3 dalam pengoperasionalan insinerator maupun Tempat Penyimpanan Limbah B3 tersebut. Sedangkan dalam pengendalian limbah cair rumah sakit belum maksimal dalam pemenuhan kewajiban teknis dan belum mempedomani ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup.

4) Jasa (hotel, rumah makan, pelabuhan, bandara, jalan)

Dalam pengelolaan lingkungan kegiatan bidang jasa ini tidak mempedomani dokumen lingkungan hidup dan perizinan yang telah dimiliki. Salah satu sektor jasa yaitu perhotelan telah memiliki organisasi PHRI, namun kurang berperan dalam melakukan pembinaan dan bantuan dalam pengelolaan lingkungan. Secara umum sektor jasa belum maksimal dalam pemenuhan kewajiban teknis dan belum mempedomani ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup karena lebih memprioritaskan jasa yang ditawarkan belum sampai pada kinerja pengelolaan lingkungan sebagai upaya untuk meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan.

Rincian ketaatan/mengimplementasikan perizinan lingkungan oleh pemilik kegiatan dan/atau usaha berdasarkan masing-masing kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Dalam dokumen BAB III AKUNTABILITAS KINERJA (Halaman 34-40)