• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMASARAN PRODUKSI ATAU HASIL USAHA PETERNAKAN 1.Pemanfaatan hasil per produksi dalam setahun

………

………

9. Pengembalaan Ternak

a. Tempat dilepaskan : ……….. b. Jarak dari kandang : ……….. 10.Jarak mantri kesehatan/dokter hewan ke lokasi peternakan:

………... 11.Adakah sumber informasi mengenai tata cara beternak kambing?

Ya/Tidak

Jika ya, dari mana: ………. 12.Bentuk bantuan yang pernah didapat dari pemerintah atau instalasi

lain?

VI.PEMASARAN PRODUKSI ATAU HASIL USAHA PETERNAKAN 1. Pemanfaatan hasil per produksi dalam setahun

a Dijual/dipasarkan : ……….

c. Dikonsumsi sendiri: ………

d. Dibibitkan/dibesarkan: ………

e. Lain-lain : ……….

2. Pemasaran ternak kambing/produk a. Kapan kambing dijual

64 2. Tergantung kebutuhan

3. Asal saja

b. Kepada siapa kambing dijual/siapa pembelinya 1. Konsumen rumah tangga

2. Restoran/rumah makan/warung 3. Pedagang/pasar

4. Koperasi 5. Perusahaan

6. Lain-lain: ………

Alasan memilih konsumen tersebut:

……… ……… ……… ……… ……… Apakah harganya rugi atau untung

……… c. Bagaimana cara menentukan harga : ………... d. Bagaimana cara pembayarannya

1. Secara kontan 2. Dicicil

3. Dibayar dimuka 4. Dibayar dikemudian 5. Tidak tentu

3. Dalam memasarkan produksi apakah mengikuti informasi pasar? a. Selalu mengikuti perkembangan pasar

b. Kalau perlu saja mengikuti informasi pasar c. Tidak pernah mengikuti informasi pasar

Alasannya :

……… ………

65 ………..…..

……… ………. 4. Jumlah kambing yang dijual: ………...

Responden

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ternak kambing merupakan hasil domestikasi kambing liar untuk diternakkan yang tersebar dan beradaptasi di berbagai daerah, serta menghasilkan nilai fungsional berbeda–beda yaitu sebagai kambing pedaging, kambing penghasil susu, diambil bulunya maupun kambing penghasil susu sekaligus daging (Dinas Kesehatan Hewan, 2010). Investasi yang sedikit, dewasa tubuh dan kelamin yang cepat, jumlah anak per kelahiran sering lebih dari satu, kidding interval yang pendek serta masa kebuntingan yang relatif cepat menyebabkan perputaran modal menjadi relatif lebih cepat jika dibandingkan dengan ternak lain. Ternak kambing memiliki beberapa keunggulan lain yaitu tidak membutuhkan lahan yang luas, tenaga kerja yang diperlukan sedikit dan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan dan pakan yang buruk. Hal tersebut yang membuat banyak petani di pedesaan memelihara kambing, terutama di Pulau Jawa. Kurangnya pemahaman terhadap manfaat ternak kambing menyebabkan petani kurang menerapkan sistem pemeliharaan kambing yang benar, sehingga beternak kambing hanya dijadikan sebagai usaha sambilan, dan sebagai tabungan yang dijual untuk memenuhi kebutuhan mendesak.

Menurut data Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan (2011), peningkatan terbesar populasi kambing terjadi di Provinsi Jawa Tengah yang merupakan salah satu daerah sentra ternak kambing nasional. Hal ini terlihat bahwa Provinsi Jawa Tengah merupakan populasi kambing terbesar di Indonesia, yaitu mencapai 3.691.096 ekor pada tahun 2010, Jawa Timur sejumlah 2.822.912 ekor, dam dikuti oleh Jawa Barat berada pada urutan ketiga terbesar dengan populasi kambing sejumlah 1.801.320 ekor. Populasi ternak kecil secara nasional pada tahun 2010 mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan populasi pada tahun 2009 yaitu: kambing 16,62 juta ekor (peningkatan 5,08%), domba 10,72 juta ekor (peningkatan 5,16%), dan babi 7,47 juta ekor (peningkatan 7,19%). Menurut BPS (2011), menunjukkan bahwa peningkatan populasi ternak kambing setiap tahun adalah sebesar 2,91%, menyatakan bahwa ternak kambing merupakan salah satu komoditas unggulan di provinsi Jawa Barat dan berpotensi untuk dikembangkan.

2 Tipe kambing yang banyak diternakkan di Indonesia adalah kambing pedaging dan kambing perah. Kambing perah jenis Etawah berpotensi untuk dikembangkan, penyebarannya cukup luas sampai ke beberapa negara yaitu India, Indonesia, Pakistan, Amerika Selatan, dan lain-lain (Devendra dan Burn, 1994). Kambing Etawah menyebar dibeberapa negara dan banyak digunakan untuk memperbaiki kualitas kambing lokal, dengan cara mengawinkan kambing Etawah dengan kambing lokal seperti yang ada di Kaligesing. Kambing Etawah memiliki perfoma produksi dan reproduksi yang baik. Berbeda dengan sapi, yang memiliki empat puting dan satu ambing, kambing hanya memiliki dua puting dan dua ambing saja. Hasil perkawinan antara kambing Etawah dan kambing lokal menghasilkan kambing yang disebut Peranakan Etawah (PE), dengan karakteristik yang hampir sama dengan kambing Etawah, mengakibatkan sebagian besar masyarakat memelihara kambing hasil persilangan tersebut. Kambing PE dapat beradaptasi dengan baik terhadap kondisi alam Indonesia, mudah dipelihara dan merupakan ternak jenis unggul penghasil daging serta susu. Produksi daging Kambing PE lebih tinggi dibanding kambing lokal (Dinas Peternakan dan Perikanan Wonosobo, 2011).

Lahan kritis di Kabupaten Sumedang merupakan lahan bekas galian pasir yaitu lahan yang kurang produktif dengan kondisi cuaca yang panas sehingga kurang cocok untuk pemeliharaan ternak terutama ternak perah. Cuaca dan iklim yang kurang nyaman dapat menurunkan produksi dan reproduksi tenak perah. Daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan menyebabkan ternak ruminansia tersebut mampu hidup di lingkungan yang paling ekstrim, contohnya kekurangan pakan dan manajemen pemeliharaan yang kurang memadai.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik reproduksi dan menganalisis perkembangan populasi kambing PE di lahan pasca galian pasir. Menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan populasi kambing PE di lahan pasca galian pasir di Kecamatan Cimalaka dan Kecamatan Paseh, Sumedang.

3 TINJAUAN PUSTAKA

Asal Usul Ternak Kambing

Kambing merupakan hasil domestikasi dari hewan liar. Penjinakan kambing diperkirakan terjadi di daerah pegunungan Asia Barat selama abad ke-7 sampai ke-9 sebelum masehi. Awalnya kambing yang dijinakkan untuk diperoleh dagingnya. Kambing dimanfaatkan sebagai sumber daging pada awalnya. Kambing sebagai hewan perah juga dianggap hewan yang tertua, jika dipandang dari kemudahannya diperah. Berbagai metode telah digunakan oleh para peneliti terdahulu untuk menggolongkan kambing sebagai hewan peliharaan, dengan mendasarkannya pada berbagai sifat seperti fungsi, daerah asal geografis, serta sikap kepala dan tubuh ketika berjalan (Devendra dan Burns, 1994).

Kambing adalah hewan yang sangat penting dalam pertanian subsistem karena kemampuannya yang unik untuk mengadaptasikan dan mempertahankan dirinya dalam lingkungan yang keras. Asal-usul kambing masih ditentukan dengan jelas meskipun bukti-bukti yang tersedia menunjukkan bahwa bezoar Asia Barat daya adalah nenek moyang kambing yang utama. Ada empat cara pengklasifikasian kambing yaitu berdasarkan asal-usulnya, kegunaannya, besar tubuhnya, dan bentuk serta panjang telinganya (Williamson dan Payne, 1993).

Kambing Etawah, masuk ke Indonesia pertama oleh orang Belanda pada tahun 1920-an, orang Belanda tersebut membawa banyak kambing Etawah pertama kali ke Pulau Jawa, tepatnya di Jogyakarta. Kambing ini lebih terkenal sebagai kambing perah atau penghasil susu, dimana saat itu kambing ini disebut dengan kambing Benggala atau kambing Jamnapari sesuai dengan asalnya di India. Selanjutnya kambing Etawah ini dikembangbiakkan di daerah perbukitan Menoreh sebelah barat Jogyakarta dan di Kaligesing, Purworejo. Seiring dengan perjalanan waktu terjadilah perkawinan silang antara kambing Etawah dengan kambing lokal (seperti kambing Jawarandu atau kambing Kacang,) dan ternyata keturunan yang dihasilkan lebih bagus daripada kambing lokal (Dinas Kesehatan Hewan, 2010).

4 Gambar 1. Kambing PE

Kambing Etawah atau kambing Jamnapari berasal dari distrik Etawah daerah antara Sungai Yamuma dan Chambal Provinsi Utara Pradesh, India. Kambing Etawah yang didatangkan ke Indonesia bertujuan untuk memperbaiki kambing-kambing lokal yang memiliki tubuh kecil, karena kambing-kambing Etawah adalah bangsa kambing tipe besar sehingga diharapkan melalui persilangan antara kambing Etawah dan kambing Kacang akan muncul bangsa kambing baru yang lebih besar dari kambing Kacang dan mampu menghasilkan susu dengan baik (Heriyadi, 2004). Kambing Jamnapari atau Etawah sangat baik sebagai hewan perah dan sebagai penghasil daging. Ciri-ciri dari kambing Etawah adalah telinganya menggantung dengan panjang kurang lebih 30 cm, mempunyai berbagai warna (putih, merah coklat, dan hitam), ambingnya berkembang baik, bentuk muka cembung, dan biasanya bertanduk pendek yang berbentuk pedang lengkung (Devendra dan Burns, 1994).

Potensi Ternak Kambing Faktor Lingkungan

Adaptasi fisiologi didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku ternak. Kemampuan seekor ternak untuk mengatasi pengaruh lingkungan yang baru berasal dari kapasitasnya untuk menanggapi peubah lingkungan sambil tetap mempertahankan keseimbangan tubuh. Perubahan lingkungan yang secara serius cukup menantang bagi satu individu mungkin kurang menghasilkan respon yang dapat diukur pada individu yang lain. Adaptasi kambing lokal meliputi: anatomis,

5 respon morfologis dan fisiologis, perubahan tingkah laku makan, metabolisme, dan penampilan (Mastika, 1993).

Semua ternak domestik mempertahankan suhu tubuhnya pada kisaran yang paling cocok untuk terjadinya aktivitas biologis yang optimum. Kisaran yang paling normal pada jenis mamalia adalah 370C-390C, sedangkan pada burung adalah 400 C-440C. Produksi panas yang bervariasi tergantung pada cara ternak mengeluarkan panasnya. Penguapan merupakan cara ternak domestik mengeluarkan panasnya. Pengaruh iklim tidak langsung terhadap ternak terutama pada kuantitas dan kualitas makanan yang tersedia bagi ternak. Pengaruh tersebut tidak langsung dari iklim karena ada faktor lain yaitu penyakit dan parasit (Williamson dan Payne, 1993).

Kambing PE dapat beradaptasi dengan baik terhadap kondisi alam Indonesia, mudah dipelihara dan merupakan ternak jenis unggul penghasil daging serta susu. Produksi daging kambing PE lebih tinggi dibanding kambing Lokal (Dinas Peternakan dan Perikanan Wonosobo, 2011). Daerah tropis memiliki iklim yang tidak seragam dan sering terdapat perbedaan iklim yang tajam yang disebabkan oleh berbagai faktor geografi, seperti ketinggian daerah dan tekanan udara sehingga beberapa daerah tropis dapat mempunyai iklim subtropis, disamping kisaran utama iklimnya panas-kering sampai panas-lembab. Oleh karena itu, tatalaksana pemeliharaan dan bangsa kambing yang dikembangkan di daerah beriklim subtropis dapat diterima dengan baik dibeberapa tempat (Devendra dan Burns, 1994).

Faktor Pakan

Setiap hari kambing membutuhkan pakan hijauan sebanyak 10% berat badannya. Berhubung kambing mempunyai sifat memilih pakan yang disajikan, maka hijauan perlu diberikan dua kali lipat dari kebutuhan yang disediakan pada pagi dan sore. Selain hijauan, idealnya kambing diberi konsentrat (dedak padi, dedak jagung, dan ketela), khususnya bagi kambing yang sedang tumbuh, bunting, menyusui dan ternak jantan yang sedang aktif memacek. Jumlah konsentrat yang diberikan 1% berat badan, disajikan pagi hari. Selain itu juga, kambing perlu diberi garam dapur untuk meningkatkan palatabilitas terhadap pakan yang diberikan. Sebaiknya garam disediakan dalam wadah tersendiri yang dipasang di dalam kandang sehingga kambing bisa menjilat garam sesuai kebutuhan (Dinas Peternakan dan Perikanan Wonosobo, 2011).

6 Novita et al. (2006), melaporkan bahwa jerami padi yang difermentasi dengan urea dan probiotik baik yang dipotong maupun digiling dan dikombinasikan dengan konsentrat mempengaruhi reproduksi, pertumbuhan induk kambing selama bunting dan laktasi, pertumbuhan anak kambing, produksi susu dan kualitas susu, sehingga dapat menggantikan rumput gajah sebagai sumber serat dalam ransum. Namun penggunaannya dalam jangka panjang perlu dipertimbangkan karena pemberian dalam bentuk potongan atau cacah dapat menurunkan kondisi tubuh induk. Kambing memiliki kebiasaan makan yang berbeda dengan ruminansia lainnya dan bila tidak dikontrol dapat mengakibatkan kerusakan. Kambing mampu merumput pada bagian rumput yang sangat pendek dan meragut dedauanan yang biasanya tidak dimakan oleh ternak lainnya (Devendra dan Burns, 1994).

Pemberian pakan yang sangat tinggi (200% maintenance) pada periode sebelum implantasi dapat mempengaruhi daya hidup embrio. Pakan yang terlalu tinggi selama akhir kebuntingan dapat mengakibatkan distokia, akibatnya induk dan anak menjadi lemah dan mati oleh lamanya proses kelahiran. Kekurangan pakan juga berakibatkan menurunkan bobot lahir lahir anak yang lahir, sehingga ternak menjadi lemah (Feradis, 2010).

Kambing memiliki kebiasaan makan yang unik yaitu kambing akan menolak makanan yang telah dikotori hewan lain. Kambing menyukai pakan beragam dan tidak bisa tumbuh dengan baik bila terus diberi pakan yang sama dalam jangka waktu lama. Kambing memiliki indera pengecap yang baik, sehingga dapat membedakan rasa pahit, manis, asin, dan asam. Kambing mempunyai toleransi yang lebih tinggi terhadap rasa pahit dibandingkan sapi (Devendra dan Burns, 1994). Berdasarkan hasil penelitian Mathius, et al. (2002), Kambing PE muda yang mendapat pakan perlakuan dengan kandungan protein kasar dan energi sebanyak 14,4% BK dan 2,63 Mkal EM/kg BK memberikan respon terbaik dengan pertambahan bobot hidup harian 123 gram. Kebutuhan hidup pokok kambing PE muda dibutuhkan energi metabolis dan protein kasar adalah 0,106 Mkal EM/kg BH0,75 dan 4,40 g/kg BH 0,75. Sementara untuk setiap gram pertambahan bobot hidup dibutuhkan protein kasar sejumlah 0,315 gram dan energi metabolis sejumlah 7,59 kkal. Munier (2006) melaporkan bahwa pemberian pakan tambahan gamal (Gliricidia sepium) pada

7 kambing meskipun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap PBHH tetapi masih dapat meningkatkan PBHH kambing betina.

Potensi Pakan

Leguminosa Indigofera sp. cukup potensial dimanfaatkan sebagai pakan kambing karena menujukkan pertumbuhan yang baik dengan produksi yang tinggi (51 ton segar/ha/panen) serta nilai nutrisi yang tinggi (protein kasar 24,17% dan energi bruto 4,038 Kkal/kg). Palatabilitas Indigofera sp. tidak berbeda nyata dengan

Leucaena leucocephala (konsumsi bahan kering masing-masing sebesar 187,38±29,69 dan 193,85±21,83 g/ekor/hari) (Sirait, et al., 2012). Program pengembangan pakan alternatif berbasis limbah pertanian dan industri agro yang telah dilaksanakan menunjukkan potensi beberapa tanaman hortikultura sebagai sumber bahan baku pakan. Pakan alternatif yang digunakan adalah limbah hasil pengolahan buah markisa dan buah nnenas, keduanya digunakan sebagai penyusun konsentrat (sumber energi atau protein) maupun sebagai pakan dasar. Potensi ini menyebabkan ketergantungan yang minimal akan hijauan pakan yang pada dasarnya sangat terbatas pada agroekosistem hortikultura, sehingga produksi kambing sepenuhnya didukung oleh limbah hortikultura.(Simon et al., 2003). Rumput S. secundatum atau B. Humidicola yang memiliki toleransi yang baik terhadap naungan, secara kualitatif juga memiliki potensi yang baik sebagai hijauan pakan untukternak kambing. Walaupun kandungan protein termasuk sedang, namun berada diatas ambang batas yang dapat menyebabkan rendahnya konsumsi pada ternak, hal ini terlihat pada taraf konsumsi ternak pada kisaran standar. Koefisien cerna beberapa unsur nutrisi yang penting bagi ternak berada pada kisaran sedang sampai tinggi, sehingga sebagai hijauan pakan dapat menyediakan nutrisi bagi kebutuhan hidup pokok maupun produksi. Kedua jenis rumput dapat direkomendasikan sebagai alternatif tanaman pakan ternak pada sistem integrasi tanaman-ternak, khususnya tanaman perkebunan dengan ternak kambing. (Simon et al., 2006).

Ada beberapa tanaman hortikultura dan perkebunan yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk kambing yaitu anakan tanaman pisang dapat digunakan sebagai pakan dasar sebanyak 20% total ransum pada kambing dewasa. pemberian kulit nenas dalam bentuk tepung ad libitum pada kambing menghasilkan

8 pertambahan bobot badan yang baik (60,0 g/h) dengan tingkat konsumsi yang tinggi. Lumpur minyak sawit (decanter) dapat digunakan sebagai suplemen tunggal pada taraf 1,0% bobot badan dan menghasilkan pertambahan bobot badan 50-60 g/h. Daun kelapa sawit dapat digunakan sebagai pakan dasar pengganti rumput, walaupun palatabilitasnya. rendah, sehingga membutuhkan waktu adaptasi panjang (>1 bulan) sebelum kambing mampu mengkonsumsi dalam jumlah cukup. Untuk meningkatkan konsumsi daun kelapa sawit pemberiannya dapat digunakan sebagai sumber serat dalam pakan komplit. Penggunaan daun kakao sebagai suplemen tunggal (20%) dengan pakan dasar gamal (80%) menghasilkan pertuymbuhan yang sangat baik pada kambing (78 g/h). Penggunaan tepung limbah kopi disarankan tidak melebihi 20% total ransum. Penggunaan 40% dalam ransum menurunkan konsumsi sebesar 22% dan menekan pertumbuhan, sedang penggunaan 60% dalam ransum bahkan menggangu kesehatan kambing, walaupun kecernaan bahan organik ampas kopi cukup tinggi. Pucuk tebu (Saccharum officinarum) dapat digunakan sebagai suplemen tunggal, dan konsumsi dapat ditingkatkan bila pucuk tebu dicacah menjadi potongan ukuran kecil 1-3 cm dibandingkan dengan potongan lebih panjang, misalnya 20 cm. Ampas teh dapat digunakan baik sebagai pakan dasr pengganti rumput (20%) maupun sebagai suplemen, terutama sebagai sumber protein pada kambing (Simon dan Ginting, 2005).

Faktor Ekonomi

Beternak kambing PE lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan memelihara kambing lokal atau domba. Beberapa nilai ekonomis dari berternak kambing PE antara lain: (a) Penghasil susu ,di Indonesia susu kambing dikonsumsi sebagai obat alternatif, bukan sebagai pelengkap gizi. Umumnya, orang mengkonsumsi susu ini untuk membantu penyembuhan penyakit asma, tuberkolosis

(TBC), eksim, membantu penyehatan kulit, mencegah penuaan dini dan mencegah

osteoporosis. (b) Kambing ketika masa laktasi mampu menghasilkan 0,8 l - 2,5 l susu perhari, dengan harga jual antara Rp15.00 - 20.000/l. (c) Penghasil pupuk dan kulit, kotoran kambing PE dapat digunakan sebagai pupuk organik sedangkan kulitnya karena mempunyai ukuran yang lebih besar daripada kulit kambing lokal, maka kulit kambing PE banyak dicari orang untuk digunakan sebagai bahan kerajinan kulit. (d) Sebagai sumber pendapatan beternak kambing PE, dapat

9 digunakan sebagai sumber pendapatan alternatif di pedesaan yang sangat menjanjikan bila ditekuni secara serius, biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan kandang dan biaya perawatan relatif sama bila dibandingkan dengan biaya memelihara kambing lokal (Dinas Kesehatan Hewan, 2010).

Manfaat utama berternak kambing dan domba adalah bisa dimiliki oleh petani miskin dan petani penggarap dimana pemilihan ternak tersebut sering dijadikan sebagai sumber mata pencaharian utama. Ternak ruminansia kecil merupakan satu-satunya sumber pendapatan bagi mereka yang tidak mempunyai lahan pertanian bagi petani tersebut (Mastika, 1993). Menurut Sutama (2008), diilihat dari prospek ekonomi, permintaan akan susu di Indonesia semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Dengan demikian, produksi susu kambing dapat menjadi bagian dari usaha peningkatan produksi susu dalam negeri. Ukuran tubuh yang kecil, berarti untuk mengembangkan usaha peternakan kambing diperlukan investasi awal yang relatif lebih rendah dan kerugian karena kematian atau kehilangan juga lebih kecil. Hal ini sangat sesuai dan menarik bagi petani miskin di pedesaan.

Permintaan Terhadap Kambing dan Susu

Menurut Siregar (1996), bahan baku pakan yang dapat diberikan untuk kambing terdiri atas dua jenis yaitu pakan hijauan dan pakan konsentrat. Pakan hijauan merupakan pakan kasar yang dapat berupa rumput lapang, rumput jenis unggul dan jenis kacang-kacangan. Pakan konsentrat merupakan pakan penguat yang terdiri dari bahan yang kaya karbohidrat dan protein seperti jagung, bekatul, dedak gandum dan bungkil. Konsentrat untuk kambing laktasi disarankan 0,5-1 kg/hari. Menurut Atabany (2002), tipe dan jumlah pakan harus disesuaikan dengan fungsi dan tujuan pemeliharaan. Kambing jantan yang tidak aktif dan induk kering dibedakan pakannya dengan induk laktasi dan kambing jantan aktif. Pemberian konsentrat diperlukan, akan tetapi jangan terlalu banyak karena akan menyebabkan kegemukan. Seekor kambing dengan berat badan 40 kg dan berproduksi 2 liter per hari diberikan 5 kg hijauan dan 0,5 – 1,0 kg konsentrat. Kadang – kadang kambing sedang laktasi diberikan hijauan secara ad libitum dan konsentrat yang mengandung protein kasar 16% sebanyak 0,5 kg per ekor per hari. Persentase pakan hijauan dan

10 konsentrat agar diperoleh ransum yang murah dan koefisien cerna yang tinggi digunakan perbandingan pakan hijauan 60% dan konsentrat 40%. Atabany (2001) mengungkapkan bahwa persentase pakan untuk kambing laktasi di Peternakan Barokah adalah 60,9% konsentrat dan 39,1% rumput. anak kambing yang baru lahir perlu diberikan kolostrum. Anak kambing minum susu sampai 35 hari sebanyak 1,2 liter/hari. Umur 35 – 70 hari, anak kambing yang menyusu pada induknya minum 1,6 liter/hari dan yang dibesarkan dengan susu pengganti minum sebanyak 2 liter/hari. Anak kambing mulai mencicipi makanan padat ketika berumur sekitar 2–3 minggu.

Tingkat permintaan daging kambing tidak terlalu fluktuatif sepanjang tahun, namun permintaan akan meningkat dengan cepat pada saat Hari raya Idul Adha. Pada hari raya tersebut, biasanya permintaan daging akan meningkat dan harga akan meningkat pula. Pada Hari raya Idul Adha, dijual kambing hidup yang sehat untuk digunakan pada kegiatan keagamaan. Laju peningkatan populasi yang tidak seimbang dengan laju permintaan kambing tersbut akan menciptakan ketidakseimbangan antara permintaan dan produksi tersebut. Jika diperkirakan seekor kambing dapat menghasilkan daging seberat 10 kg, laju permintaan daging kambing 6% per tahun dan laju peningkatan populasi kambing sebesar 3% per tahun (Dhican, 2006). Kebutuhan daging termasuk daging kambing yang semakin meningkat belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi di dalam negeri sehingga jumlah impor komoditi tersebut cenderung meningkat. Hal ini menjadi peluang bagi produsen di dalam negeri untuk meningkatkan produksinya sehingga kebutuhan di dalam negeri terpenuhi dan kelebihan produksi dapat diekspor (Makka, 2004).

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2006), permintaan susu sapi maupun kambing di Jawa Barat terus meningkat dari 176.650 di tahun 2005 menjadi 208.698 ton pada tahun 2006. Adapun produksi riil susu secara nasional tahun 2006 adalah 0,577 juta ton sehingga masih perlu 2,493 juta ton lagi untuk memenuhi kebutuhan susu nasional. Konsumsi susu dari tahun ke tahun terus meningkat.

Harga Susu dan Kambing

Harga yang sangat menarik karena harga susu kambing jika dibandingkan harga susu sapi yang dapat mencapai 10 kali lipat. Harga susu kambing Etawah segar adalah Rp 12.000/liter di Jakarta, sebaliknya harga susu sapi Rp 2000–3000,-/liter (Dhican, 2006). Menurut Asmoro ( 2012), susu kambing murni dijual seharga Rp

11 39.000 / liter. Sedangkan susu kambing kolostrum atau susu yang baru pertama kali keluar dijual lebih mahal. Yaitu Rp 300.000 / liter.

Harga kambing kontes jauh lebih mahal dibanding dengan harga kambing perah. Kambingkontes menjapai harga Rp 10 juta, sedangkan kambing perah Rp 1,5– 2,5 juta. Kambing perah ini tidak butuh perawatan khusus. Setiap ekor kambing butuh biaya hidup Rp 5.000 / hari, seudah termasuk biaya tenaga perawat (Asmoro, 2012). Berikut adalah hasil penjualan kambing di Sukabumi dan Lampung pada tahun 2001.

Tabel 1. Penjualan Kambing Selama Setahun Terakhir yang Dilakukan Peternak Di Sukabumi dan Lampung

Status Sukabumi Lampung

Fisiologis Ekor total (RP) rataan (Rp) Ekor total (RP) rataan (Rp) Jantan dewasa 23 5.800.000 252.000 9 5.940.000 660.000 Betina dewasa 9 1.880.000 208.900 4 675.000 168.750 Jantan muda 4 800.000 200.000 8 1.075.000 134.475 Betina muda 7 255.000 65.000 10 1.210.000 121.000 Jantan anak - - - 2 150.000 75.000 Betina anak - - - 3 250.000 83.333 Total 43 8.935.000 - 36 10.650.000 - Rata/peternak 1,59 330.925 - 1,89 560.526 -

Sumber: Priyanto et al., 2001

Sosial Budaya Masyarakat

Masyarakat Indonesia mengenal produk kambing berupa daging, kulit, dan susu kambing. Ternak dapat dijual saat dibutuhkan karenanya penjualan terjadi setiap saat dengan harga cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan permintaan akan daging

Dokumen terkait