BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Anatomi Uterus
2.2.1 Pembagian Dinding Uterus
Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan yaitu :
a. Perimetrium/Peritoneum (lapisan serosa) melapisi uterus dengan halus dan hampir menutupi seluruh uterus. Peritoneum meliputi dinding uterus bagian luar, menutupi bagian luar uterus, dan merupakan penebalan yang diisi jaringan ikat dan pembuluh darah limfe dan urat saraf. Bagian ini meliputi tuba sampai dinding abdomen.
b. Miometrium/lapisan otot merupakan lapisan tengah dari dinding uterus yang terdiri atas otot yang menyusun bagian terbesar uterus selama masa seksual aktif. Serabut otot sirkuler di bagian dalam dan otot longitudinal di bagian luar sebagai serabut otot yang sesuai pada tuba Fallopii dan bersama serabut otot sirkuler involunter membentuk ligamentum penggantung uterus, memasuki uterus untuk menyatu dengan serabut-serabut longitudinal dan sirkuler di uterus(Verralls, 2013).
c. Endometrium (lapisan mukosa) adalah lapisan dalam pada dinding uterus dan yang paling dekat dengan rongga uterus yang terdiri dari membran mukosa yang mempunyai aktivitas sekretoris dan melapisi rongga uterus.
Terdiri atas epitel permukaan, kelenjar, dan jaringan mesenkim yang mengandung banyak pembuluh darah. Ketebalanan struktur endometrium sangan tergantung pada kondisi hormonal selama fase menstruasi atau pasca menopause:
1. Fase Menstrual : tebal minimal
2. Fase proliferasi : tebal endometrium 4-8 mm
3. Fase sekretorik (luteal) : tebal endometrium 8-16 mm
4. Pasca menopause : endometrium atrofi dan epitelnya menjadi gepeng, kelenjar berangsur-angsur menghilang, dan jaringan antar kelenjar berubah menjadi jaringan fibrosa(Rasjidi dkk, 2010) 2.3 Patologi Anatomi Mioma Uteri
Penyebab pasti mioma uteri masih belum jelas ditemukan. Mioma uteri muncul dari sel otot polos rahim. Terjadi peningkatan insidensi dan peningkatan laju pertumbuhan pada wanita dengan ras kulit hitam. Mioma uteri dipengaruhi oleh hormon estrogen. Mioma tidak terjadi sebelum menars dan tidak berkembang atau bertambah besar melewati menopause kecuali kalau dirangsang oleh estrogen eksogen. Mioma uteri dapat membesar dengan cepat dan dapat mencapai ukuran yang sangat besar selama kehamilan atau bila terpapar kontraseptif oral yang mengandung estrogen dosis tinggi (Wiknjosastro, 2008).
Mioma uteri tidak berkapsul. Sel otot polos yang tertekan pada tepi tumor mengakibatkan meningkatnya kepadatan retikulum pada daerah yang tertekan, dan yang berlapis di sekeliling miometrium memberi kesan yang palsu adanya kapsul sel. Hanya sedikit pembuluh darah dan limfatik melintas pseudokapsul, menyebabkan perubahan degeneratif sementara tumor membesar(Moore, 2001).
2.3.1 Klasifikasi Mioma Uteri
Menurut letak pertumbuhannya, Mioma uteri diklasifikasi menjadi tiga yaitu :
a. Mioma Submukosa
Mioma berada di lapisan endometrium dan menonjol ke dalam cavum uteri, mioma ini dapat tumbuh bertangkai dan lokasinya biasa di serviks (myomgeburt). Mioma semacam ini yang menyebabkan menstruasi yang berat dan lama yang menyebabkan anemia yang berlangsung terus.
b. Mioma Intramural
Mioma sebagian besar berkembang dalam dinding uterus diantara serabut miometrium. Mioma jenis ini lebih sering asimtomatik kecuali rasa tidak nyaman karena adanya massa didaerah perut sebelah bawah. Di dalam otot rahim, mioma ini dapat membesar dan memadat jika jaringan ikat yang dominan.
c. Mioma Subserosa
Mioma tumbuh keluar dinding uterus hingga menonjol pada permukaan uterus, diliputi oleh lapisan serosa. Dapat tumbuh diantara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter dan juga dapat tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus sehingga disebut wandering atau parasitic fibroid (Wiknjosastro, 2008).
Sumber : Wiknjosastro, H., 2008. Ilmu Kandungan. Edisi Kedua.Cetakan VI.
Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Gambar 2.1. Anatomi Uterus Normal
Sumber : Novak, E.R., Jones, G.S., Jones, H.W., 1975. Novak’s Textbook Of Gynecology. Edisi kesembilan. Igaku Shoin LTD : USA.
Gambar 2.2. Letak mioma uteri pada uterus
2.4 Gambaran Klinis dan Keluhan
Hampir setengah dari jumlah kasus mioma uteri ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan ginekologi karena tidak semua mioma uteri mengganggu dan menimbulkan keluhan (asimtomatik). Gejala yang timbul bergantung pada ukuran mioma, letak mioma dan komplikasinya. Berikut gejala yang paling sering terjadi :
1. Perdarahan abnormal
Gejala klinis mioma uteri yang sering terjadi perdarahan uterus abnormal berupa hipermenorea yaitu perdarahan banyak saat menstruasi karena meluasnya permukaan endometrium dalam proses menstruasi, mengakibatkan gangguan kontraksi otot rahim, dan perdarahan yang berkepanjangan. Perdarahan yang disebabkan mioma uteri menyatakan terjadinya perubahan struktur vena pada endometrium dan miometrium yang menyebabkan terjadinya venule ectasia.
Akibat perdarahan penderita mengalami anemia, pusing, mudah lelah, dan mudah terjadi infeksi(Manuaba dkk, 2010).
Gejala ini terjadi pada 20-30% penderita. Beberapa faktor yang menjadi penyebab perdarahan ini adalah :
a. Permukaan endometrium yang meluas.
b. Atrofi endometrium karena adanya mioma submukosa.
c. Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik karena adanya sarang mioma diantara serabut miometrium (Rasjidi dkk, 2010).
2. Rasa Nyeri
Rasa nyeri bukan gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan sirkulasi darah pada mioma yang disertai dengan nekrosis setempat dan peradangan. Nyeri hebat yang disertai dengan degenerasi merah di dalam suatu mioma uteri (infark akut) sering terjdi selama kehamilan. Nyeri tekan mungkin juga terjadi pada perut bawah dan pelvis kalau rahim miomatosa terkurung dalam pelvis(Decherney et.al. 2007).
3. Gejala dan tanda penekanan
Gangguan terjadi tergantung dari ukuran dan jenis mioma uteri. Penekanan rahim yang diakibatkan pembesaran mioma uteri dapat meyebabkan terasa adanya massa diabdomen bagian bawah sehingga penderita mengeluh merasakan adanya benjolan di perut bagian bawah. Penekanan pada kandung kemih meyebabkan poliuri, pada uretra menyebabkan retensio urine, pada ureter menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rektum meyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe dipanggul meyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul(Norwitz et.al. 2008).
4. Infertilitas dan Abortus
Infertilitas dapat terjadi pada penderita mioma uteri yang terletak di lapisan endometrium dikarenakan mioma menutup atau menekan saluran indung telur yang mengakibatkan gangguan migrasi sel telur dan spermatozoa, sedangkan mioma submukosum juga memudahkan terjadinya abortus oleh karena distorsi rongga uterus(Purwoastuti dkk, 2015).
2.5 Diagnosa Mioma Uteri
Diagnosa adanya mioma uteri dapat diketahui dengan:
1. Anamnesis/Tanya Jawab
Dari proses tanya jawab yang dilakukan dokter dan pasien mengenai keluhan yang terjadi pada pasien yang memungkinkan pasien memiliki mioma uteri.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan bimanual tumor pada uterus, yang umumnya terletak di garis tengah atau pun agak ke samping, seringkali teraba terbenjol-benjol. Mioma subserosum dapat mempunyai tangkai yang berhubung dengan uterus(Pearson et.al. 2010).
3. Pemeriksaan Penunjang a. Ultra Sonografi (USG)
Mioma uteri yang besar dapat terlihat jelas didiagnosis dengan kombinasi transabdominal dan transvaginal sonografi. Gambaran sonografi mioma biasaanya adalah simetrikal, berbatas tegas, hypoechoic dan degenerasi kistik menunjukkan anechoic.
b. Magnetic Resonance Imagine (MRI)
Miom uteri lebih baik didiagnosa dengan MRI dibandingkan USG tetapi biayanya lebih mahal. MRI mampu menentukan ukuran, lokasi dan bilangan mioma uteri serta bisa mencegah jarak penembusan mioma submukosa di dalam dinding miometrium(Norwitz et.al. 2008)
2.6 Epidemiologi Mioma Uteri
2.6.1 Distribusi dan Frekuensi Penderita Mioma Uteri a. Berdasarkan Orang
Mioma uteri merupakan tumor jinak yang ditemukan 30-50% pada uterus wanita usia produktif. Tumor ini ditemukan pada wanita usia 35-45 tahun dan jarang terjadi pada wanita dibawah usia 20 tahun dan wanita post menopause.
Mioma uteri hanya terjadi pada wanita karena merupakan penyakit yang terdapat pada uterus wanita.
Menurut penelitian Shannon K. Laughlin, MD, MPH dan Elisabeth A Stewart, MD pada tahun 2012 wanita Afrika-Amerika banyak yang terdiagnosa pada usia dini menderita penyakit mioma uteri dengan memiliki prevalensi penyakit yang lebih tinggi dengan bentuk mioma uteri yang berbeda. Sampel acak diambil dari wanita berusia 35-49 tahun untuk wanita Afrika-Amerika yang menjalani pemeriksaan rutin, hasil rekam medis dan pemeriksaan sonografi didapatkan pada usia 35 tahun insidensi terjadinya mioma uteri adalah sebesar 60%, isidensi ini meningkat hingga 80% pada usia 50 tahun. Wanita kaukasia mempunyai insidensi sebesar 40% pada usia 35 tahun dan meningkat hingga 70%
pada usia 50 tahun.
b. Berdasarkan Tempat
Penelitian Sela-Ojeme di London Hospital pada tahun 2008 melaporkan proporsi penderita mioma uteri sebanyak 14,06% yaitu 286 orang dari 2.034 kasus ginekologi. Di Manado khususnya di RSU Prof. Dr. R. D. Kandou pada Periode 1 Januari – 31 Desember 2012 mioma uteri menjadi penyakit ginekologi umum
terbanyak dengan proporsi yaitu Mioma Uteri (43.1%), Kista Ovarium (41.4%), dan Disfunctional Uterine Bleeding (4.13%) (Pratiwi et.al. 2012).
2.6.2 Determinan
Penyebab pasti mioma uteri belum diketahui. Para ahli berpendapat bahwa mioma uteri terjadi akibat ketidakseimbangan hormon-hormon dalam tubuh, terutama hormon estrogen. Kondisi ketidak- seimbangan sistem hormon yang memicu pertumbuhan sel-sel abnormal dalam tubuh(Manuaba dkk, 2009).
Berikut beberapa faktor risiko terjadinya mioma uteri, yaitu:
a. Hormon 1. Estrogen
Mioma uteri sebagian besar ditemukan pada masa reproduksi, karena adanya rangsangan hormon estrogen. Karena itu mioma uteri tidak dijumpai sebelum datang haid (menarke) dan akan mengalami pengecilan setelah mati haid(menopause). Belum dapat dibuktikan bahwa hormon estrogen berperan sebagai penyebab mioma, tetapi estrogen memengaruh pertumbuhan mioma.
Estrogen berperan dalam pembesaran tumor dengan cara meningkatkan produksi matrik ekstraseluler. Meyer dan De Snoo menemukan teori cell nest atau teori genitoblast yang menyatakan bahwa untuk terjadinya mioma uteri harus terdapat dua komponen penting yaitu : sel nest (sel muda yang terangsang) dan estrogen (perangsang sel nest secara terus-menerus) (Manuaba dkk, 2009).
2. Progesteron
Progesteron merupakan kebalikan fungsi dari estrogen. Progesteron menghambat pertumbuhan mioma dengan dua cara, yaitu mengaktifkan hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.
3. Hormon Pertumbuhan
Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, pertumbuhan yang cepat dari mioma uteri selama kehamilan mungkin merupakan hasil dari aksi sinergik antara HPL dan Estrogen(Manuaba dkk, 2007).
b. Umur
Mioma uteri merupakan tumor jinak yang ditemukan 30-50% pada uterus wanita usia produktif. Tumor ini sering ditemukan pada wanita usi 35-45 tahun dan jarang terjadi pada wanita dibawah usi 20 tahun dan wanita post menopause.
Berdasarkan penelitian Novak, ditemukan 27% wanita berumur 25 tahun memiliki sarang mioma, pada wanita berkulit hitam ditemukan lebih banyak. Mioma uteri tidak terjadi sebelum menars. Setelah menopause hanya 10% mioma yang masih tumbuh(Wiknjosastro, 2008).
c. Paritas
Mioma uteri dominan terjadi pada nulipara atau wanita yang kurang subur, tetapi sampai saat ini belum diketehui apakah infertilitas menyebabkan mioma uteri. Peningkatan paritas menurunkan insidensi terjadinya mioma uteri. Wanita multipara lebih sedikit kemungkinannya untuk terjadinya perkembangan mioma ini dibandingkan wanita Nullipara atau Primipara. Statistik menunjukkan 60%
mioma uteri berkembang pada wanita Nullipara atau Primipara. Resiko terjadinya
mioma uteri akan menurun 20%-50% dengan melahirkan minimal 1 orang anak.
Sekresi estrogen wanita hamil memiliki sifat yang berbeda dengaan sekresi oleh ovarium pada wanita yang tidak hamil yaitu hampir separuh estriol, suatu estrogen yang relatif lemah daripada estradiol yang disekresikan ovarium. Hal ini berbeda dengan wanita yang tidak pernah hamil atau melahirkan, estrogen yang ada ditubuhnya adalah murni estrogen yang dihasilkan ovarium yang semuanya digunakan untuk proliferasi jaringan uterus(Wiknjosastro, 2008).
d. Ras
Wanita berkulit hitam memiliki angka kejadian mioma uteri tinggi.Dari studi yang dijalankan melalui laporan oleh pasien mengenai mioma uteri, rekam medis, dan pemeriksaan sonografi menunjukkan golongan etnik Afrika-Amerika mempunyai risiko menderita mioma uteri setinggi 2,9 kali berbanding wanita etnik caucasia, dan risiko ini tidak mempunyai kaitan dengan faktor risiko yang lain. Didapati juga wanita golongan Afrika-Amerika menderita mioma uteri dalam usia yang lebih muda dan mempunyai mioma yang banyak dan lebih besar serta menunjukkan gejala klinis. Namun belum diketahui apakah perbedaan ini dikarenakan masalah genetik atau perbedaan pada kadar sirkulasi estrogen, metabolisme estrogen, diet, atau peran faktor lingkungan. Pada penelitian terbaru menunjukkan Val genotype untuk enzim essensial kepada metabolisme estrogen, catechol-O-methyltransferase (COMT) ditemui sebanyak 47% pada wanita Afrika-Amerika dan 19% pada wanita kulit putih. Wanita dengan genotype ini lebih rentan menderita mioma uteri (Parker, 2007).
e. Usia Menarche
Wanita mengalami menarche rata-rata umur 13 tahun, sedangkan perimernarche 11-15, umur saat menarche mengalami percepatan rata-rata 3-4 bulan tiap 10 tahun. Umur menarche dipengaruhi oleh faktor genetik juga faktor eksternal seperti cuaca, penyakit kronis, sinar matahari, dan faktor diet yang tidak sehat, stres atau faktor psikologis turut peran. Secara khusus umur menarche didapat lebih cepat pada wanita dengan IMT normal dari pada wanita obesitas (lebih dari 30% di atas berat normal untuk umur)(Anwar, 2014).
Paparan estrogen yang lama akan meningkatkan faktor risiko terkena mioma uteri. Menarche dini (˂ 12 tahun) ditemukan meningkatkan risiko relatif mioma uteri dan menarche yang lambat (˃ 16 tahun) menurunkan risiko relatif mioma uteri. Penelitian Anbualagan (2014) di RSUP Haji Adam Malik Medan yang menemukan dari 140 kasus, jumlah penderita dengan usia menarche 11-16 tahun merupakan kelompok tertinggi yaitu sebanyak 139 orang (99.3%) sedangkan penderita yang mempunyai riwayat menarche lambat usia ≥16 tahun adalah kelompok paling rendah yaitu 1 orang (0.7%).
f. Berat Badan
Mioma Menurut Salinas (2014) yang mengutip pendapat Dorgan, peningkatan IMT dihubungkan dengan penurunan sex hormone-binding globulin yang akan meningkatkan jumlah estrogen bebas pada jaringan perifer (kulit dan jaringan lemak) dan ovarium. Satu studi prospektif dijalankan dan dijumpai kemungkinan risiko menderita mioma uteri adalah 21% untuk setiap kenaikan 10 kg berat badan dan dengan peningkatan indeks massa tubuh. Pada penelitian
Salinas di Rumah Sakit Umum Pusat H.Adam Malik Medan Pada Tahun 2014 didapati pasien Mioma Uteri dengan IMT normal (<23) sebesar 39 orang (41,1%) dan jumlah pasien dengan IMT di atas normal (>23) sebesar 56 orang (58,9%) (Salinas, 2014).
2.7 Pengaruh Mioma Uteri Terhadap Kehamilan
Meskipun banyak penderita mioma uteri menjadi hamil dan membawa kehamilannya sampai cukup bulan, lesi ini dihubungkan dengan meningkatnya insidensi infertilitas. Terkhusus mioma uteri jenis submukosa dapat mengganggu implantasi blastosis atau menimbulkan abortus dini. Mioma uteri yang besar dapat mengganggu pertumbuhan janin, mengakibatkan keterbelakangan pertumbuhan dalam rahim. Kehamilan dengan mioma uteri yang terletak pada segmen bawah uterus dapat menyebabkan distosia dan mengharuskan kelahiran dengan seksio sesarea(Moore, 2001).
Berikut pengaruh mioma pada kehamilan dan persalinan:
a. Kelainan letak janin dalam rahim, terutama pada mioma yang ukurannya besar dan subserosa.
b. Menghalangi lahirnya bayi, terutama mioma pada serviks.
c. Inersia uteri dan atonia uteri, terutama pada mioma yang letaknya di dalam dinding rahim atau apabila terdapat banyak mioma.
menghambat lepasnya plasenta, terutama pada mioma submukosa dan intramural (Manuaba dkk, 2007).
Sedangkan kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri menjadi:
a. Pertumbuhan mioma uteri lebih cepat sampai usia kehamilan berkisar 4 bulan.
b. Tumor menjadi lebih lunak dalam kehamilan, bisa berubah bentuk, dan mudah mengakibatkan gangguan sirkulasi di dalamnya, sehingga terjadi perdarahan dan nekrosis. Tumor tampak merah (degenerasi merah) atau seperti daging (degenerasi karnosa). Perubahan ini menyebabkan rasa nyeri di perut yang disertai gejala-gejala rangsangan peritoneum dan gejala-gejala peradangan.
c. Mioma uteri subserosa yang bertangkai mengalami putaran tangkai akibat desakan uterus yang makin lama makin besar. Torsi menyebabkan gangguan sirkulasi dan nekrosis yang menimbulkan gambaran klinik nyeri perut mendadak (Prawirohardjo, 2007).
2.8 Perubahan Sekunder Mioma Uteri
Perubahan sekunder pada mioma uteri yang terjadi dominan bersifat degenerasi. Hal ini dikarenakan berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma.
Berikut perubahan sekunder pada mioma uteri :
a. Atrofi : terjadi pada saat sesudah menopause maupun sesudah kehamilan, mioma uteri mengecil.
b. Degenerasi hialin : perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita berusia lanjut. Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen
c. Degenerasi kistik : meliputi daerah kecil maupun luas pada mioma, dimana sebagian dari mioma menjadi cair sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur dan berisi seperti agar-agar. Dengan konsistensi yang lunak ini menyebabkan tumor sukar dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan.
d. Degenerasi membatu (calcireous degeneration) : terutama terjadi pada wanita berusia lanjut karena adanya gangguan dalam sirkulasi darah.
Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen.
e. Degenerasi merah (corneus degeneration) : perubahan ini biasanya terjadi pada saat kehamilan dan nifas. Diperkirakan terjadi karena suatu nekrosis sub akut sebagai gangguan vaskular. Pada pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah yang disebabkan oleh pigmen himosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai amesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan.
Penampilan klinik ini seperti pada putaran tangkai tumor ovarium atau mioma bertangkai.
f. Degenerasi Lemak : jarang terjadi dan kelanjutan dari degenerasi hialin.
g. Degenerasi Ganas : sangat jarang terjadi (0,32-0,6% dari seluruh mioma), baru diketahui dari hasil pemeriksaan histologi dari jaringan mioma yang sudah diangkat. Kecurigaan akan keganasan dapat dipikirkan bila mioma
cepat membesar dan bila terjadi pembesaran dalam masa menopause(Rasjidi dkk, 2010).
2.8.1 Komplikasi Mioma Uteri 1. Degenerasi ganas
Mioma uteri yang berisiko leimiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6%
dari seluruh mioma. Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi pembesaran sarang mioma saat menopause (Wiknjosastro, 2008).
2. Torsi (Putaran Tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi yaitu timbul gangguan sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah sindrom abdomen akut. Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak terjadi. Hal ini dibedakan dengan suatu keadaan yaitu terdapat banyak sarang mioma dalam rongga peritoneum. Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang karena gangguan sirkulasi darah pada mioma. Misalnya terjadi pada mioma yang dilahirkan hingga perdarahan berupa metroragia atau menoragia disertai leukore dan gangguan yang disebabkan oleh infeksi dari uterus sendiri (Prawirohardjo dkk, 2009).
2.9 Upaya Pencegahan 1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer dilakukan untuk mengurangi insidensi mioma uteri dengan cara mengendalikan faktor risiko sebelum seseorang terkena penyakit.
Berikut beberapa upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan :
a. Pencegahan primer dapat dilakukan dengan penyuluhan pengenalan mioma uteri dan faktor-faktor risiko terjadinya mioma uteri khususnya pada kelompok berisiko yaitu wanita pada usia produktif.
b. Adanya pengawasan pemberian hormon estrogen dan progesteon dengan memilih pil KB kombinasi. Pil kombinasi mengandung estrogen lebih rendah dibandingkan dengan pil sekuensil, oleh karena pertumbuhan mioma uteri berhubungan dengan kadar estrogen.
2. Pencegahan Sekunder
Tidak semua mioma uteri memerlukan penatalaksanaan medis dengan pembedahan. Kurang lebih 55% dari semua kasus mioma uteri tidak membutuhkan suatu pengobatan apapun, apalagi jika ukuran mioma uteri masih kecil dan tidak menimbulkan keluhan. Tetapi walaupun demikian pada penderita-penderita ini tetap memerlukan pengawasan yang ketat sampai 3-6 bulan. Usia menopause memperlambat pertumbuhan mioma uteri dan membuat mioma menjadi kisut (Winkjosastro, 2008).
Pemilihan penatalaksanaan mioma uteri berdasarkan pada usia penderita, paritas, ukuran tumor, dan lokasi terbagi menjadi :
1. Terapi medisinal (hormonal)
Agonis hormon pelepasan gonadotropin (gonadotropin-releasing hormone, GnRH) dapat menyusutkan mioma uteri secara efektif dan meredakan gejala dengan menginduksi keadaan hipoestrogenik. Agonis GnRH dapat digunakan sampai dengan 6 bulan kecuali jika dikombinasikan dengan hormon-hormon lain. Terapi hormon-hormonal yang lainnya seperti kontrasepsi oral dan preparat progesteron yang akan mengurangi gejala perdarahan tetapi tidak mengurangi ukuran mioma uteri(Norwitz et.al. 2008).
2. Terapi Pembedahan
Tindakan operatif dilakukan apabila mioma uteri menimbulkan gejala yang fatal atau tidak dapat ditangani dengan penanganan konservatif atau medisinal. Indikasi terapi bedah mioma uteri menurut American College of obstetricians and Gynicologist (ACOG) dan American Society of Reproductive Medicine (ASRM) adalah :
a. Perdarahan uterus yang tidak membaik setelah terapi konservatif b. Sangkaan adanya keganasan/sarkoma
c. Pertumbuhan mioma pada usia menopause
d. Infertilitas karena gangguan pada cavum uteri maupun karena oklusi tuba e. Nyeri yang sangat hebat dan penekanan yang sangat menggangu
f. Gangguan berkemih maupun obstruksi traktus urinarius g. Anemia akibat perdarahan uterus
Tindakan pembedahan yang dilakukan antara lain : 1. Miomektomi
Merupakan tindakan pembedahan dimana hanya sarang mioma saya yang diangkat dan rahim tetap dibiarkan. Tindakan ini dapat dilakukan contohnya pada mioma submukosa dengan cara ekstirpasi lewat vagina.
Langkah ini merupakan pilihan yang paling sesuai untuk wanita yang masih ingin mempunyai keturunan. Kemungkinan terjadinya kehamilan setelah miomektomi adalah 30-50 %.
2. Histerektomi
Histerektomi atau pengangkatan rahim merupakan tindakan medis yang dilakukan jika ditemukan adanya indikasi kuat yang mengarah pada beberapa jenis gangguan pada reproduksi yang dapat mengganggu kesehatan. Adapun jenis-jenis histerektomi yang dilakukan yaitu :
a. Histerektomi parsial/subtotal.
Pada histerektomi ini, rahim diangkat tetapi mulut rahim (serviks) tetap ada.
b. Histerektomi total
yaitu pembedahan dimana uterus dan serviks diangkat secara keseluruhan
c. Histerektomi salfingo-ooforektomi bilateral
yaitu operasi pengangkatan uterus, serviks, kedua tuba Fallopii dan kedua ovarium.
d. Histerektomi radikal yaitu pembedahan pengangkatan uterus, ovarium, tuba Fallopii, jaringan yang berdekatan dengan panggul, saluran limfe dan sepertiga atas vagina (Rasjidi dkk, 2010).
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier merupakan cara untuk membatasi atau mencegah terjadinya komplikasi serta tindakan rehabilitasi agar penderita secepat mungkin dapat beraktivitas kembali. Pencegahan rehabilitasi dilakukan baik secara fisik maupun psikis seperti pemberian transfusi darah untuk penderita yang mengalami anemia, mendapat asupan gizi yang baik, serta dukungan dari keluarga terhadap pasien pasca histerektomi(Parker, 2007).
2.10 Kerangka Konsep
Sesuai dengan studi kepustakaan dan latar belakang di atas, maka dapat dibuat kerangka konsep penelitian mengenai karakteristik penderita
Sesuai dengan studi kepustakaan dan latar belakang di atas, maka dapat dibuat kerangka konsep penelitian mengenai karakteristik penderita