• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.3 Analisa Statistik

4.3.3 Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Umur

Proporsi Penatalaksanaan medis berdasarkan Umur penderita mioma uteri di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.9 Distribusi Proporsi Penatalaksanaan Medis Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Umur di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 Keluhan

Penatalaksanaan Medis

Total Konservatif Operatif

f % f % f %

17-25 Tahun 5 62,5 3 37,5 8 100,0

26-35 Tahun 17 77,3 5 22,7 22 100,0

36-45 Tahun 21 35,0 39 65,0 60 100,0

46-55 Tahun 18 34,0 35 66,0 53 100,0

56-65 Tahun 1 50,0 1 50,0 2 100,0

Berdasarkan tabel 4.9 dapat dilihat bahwa proporsi penderita mioma uteri dengan kelompok umur 17-25 tahun mendapatkan penanganan konservatif ialah 62,5%, penderita mioma uteri dengan kelompok umur 26-35 tahun mendapatkan penanganan konservatif ialah 77,3%, penderita mioma uteri dengan kelompok umur 36-45 tahun mendapatkan penanganan operatif ialah 65,0%, penderita mioma uteri dengan kelompok umur 46-55 tahun mendapatkan penanganan operatif ialah 66,0%, penderita mioma uteri dengan kelompok umur 56-65 tahun mendapatkan penanganan konservatif 50,0% dan operatif ialah 50,0%,

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Sosiodemografi 5.1.1 Umur

Proporsi penderita mioma uteri berdasarkan umur di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 5.1 Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Umur di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017

Berdasarkan gambar 5.1 menunjukkan bahwa proporsi umur tertinggi pada penderita mioma uteri pada kelompok umur 36-45 tahun yaitu 60 orang (41,4%), diikuti kelompok umur 46-55 tahun yaitu 53 orang (36,6%), selanjutnya pada kelompok umur 26-35 tahun yaitu 22 orang (15,2%), kelompok umur 17-25 tahun yaitu 8 orang (5,5%) dan yang terendah pada kelompok umur 56-65 tahun yaitu 2 orang (1,4%).

41,4%

36,6%

15,2%

5,5%

1,4% Umur

36-45 Tahun 46-55 Tahun 26-35 Tahun 17-25 Tahun 56-65 Tahun

Terlihat bahwa kelompuk umur tertinggi pada penderita yaitu pada usia 36-45 tahun, dimana pada rentang usia tersebut seorang wanita memasuki masa dewasa akhir, dimana hormon esreogen meningkat dan matang pada rentang usia tersebut, sehingga risiko terkena mioma uteri sangat kuat karena pertumbuhan mioma uteri dipengaruhi oleh hormon estrogen didukung juga dengan usia menarche yang cepat akan memperlama seorang wanita terpapar hormon estrogen. Myoma uteri paling banyak ditemukan pada umur 36-45 tahun, tidak pernah ditemukan sebelum menars, dan setelah menopause hanya 10% myoma uteri yang masih dapat bertumbuh lebih lanjut. Myoma uteri biasanya akan menunjukkan gejala klinis pada usia 40 tahun keatas.

Terlihat bahwa tertinggi kedua yaitu pada usia 46-55 tahun. Ini dikarenakan faktor risiko yang dimiliki penderita tidak langsung memberikan dampak saat terkena, sifatnya kumulatif yang semakin lama semakin memberi dampak seperti pola makan makanan hormonal seperti makanan berMSG dan konsumsi daging berlebihan, dengan memburuknya faktor risiko setiap orang akan memeriksakan diri untuk deteksi dini. Untuk faktor risiko setiap wanita pasti berisiko terkena mioma uteri (Parker,2007).

5.1.2 Suku

Proporsi penderita mioma uteri berdasarkan suku di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 5.2 Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Suku di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017

Berdasarkan gambar 5.2 menunjukkan bahwa proporsi suku penderita mioma uteri tertinggi pada suku jawa yaitu 81 orang (55,9%) kemudian suku batak yaitu 50 orang (34,5%) dan yang terendah suku melayu yaitu 14 orang (9,7%).

Pada penelitian ini ditemukan proporsi suku Jawa lebih tinggi dibandingkan suku lain, tetapi bukan berarti suku jawa paling berisiko menderita mioma uteri. Hal ini dikarenakan pada wilayah kerja PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras penduduk yang paling banyak tinggal ialah suku Jawa.

5.1.3 Pendidikan

Proporsi penderita mioma uteri berdasarkan pendidikan di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

55,9%

34,5%

9,7%

Suku

Jawa Batak Melayu

Gambar 5.3 Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Pendidikan di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 Berdasarkan gambar 5.3 menunjukkan bahwa proporsi Tingkat Pendidikan penderita mioma uteri tertinggi pada Tingkat pendidikan menengah yaitu 111 orang (76,6%) kemudian Pendidikan tingkat rendah yaitu 18 orang (12,4%) dan yang terendah Pendidikan tingkat tinggi yaitu 16 orang (11,0%).

Pada penelitian ini ditemukan proporsi Tingkat pendidikan menengah lebih tinggi dibandingkan tingkat pendidikan lain, tetapi bukan berarti tingkat pendidikan menengah paling berisiko menderita mioma uteri. Hal ini dikarenakan pada wilayah kerja PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras penduduk yang paling banyak tinggal dan berdasarkan data karyawan di PTPN IV ialah tingkat penidikan menengah.

5.1.4 Pekerjaan

Proporsi penderita mioma uteri berdasarkan pekerjaan di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

76,6%

Gambar 5.4 Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Pekerjaan di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 Berdasarkan gambar 5.4 menunjukkan bahwa proporsi pekerjaan penderita mioma uteri tertinggi pada Ibu rumah tangga yaitu 105 orang (72,4%) kemudian Pegawai swasta yaitu 34 orang (23,4%) dan yang terendah Pelajar/Mahasiswa yaitu 1 orang (0,7%).

Pada penelitian ini ditemukan proporsi pekerjaan Ibu rumah tangga lebih tinggi dibandingkan pekerjaan lain, tetapi bukan berarti ibu rumah tangga paling berisiko menderita mioma uteri. Hal ini dikarenakan yang berobat di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras penduduk yang paling banyak pekerjaan ialah ibu rumah tangga.

Hal ini sesuai dengan penelitian Sipayung Y (2016) di RSUD Deli Serdang Lubuk Pakam dari tahun 2013-2015 memuat proporsi tertinggi yang mengalami mioma uteri berdasarkan pekerjaan adalah ibu rumah tangga (75,6%).

0,7%

72,4%

23,4%

3,4%

Pekerjaan

Pelajar/Mahasiswa Ibu Rumah Tangga Pegawai Swasta PNS/Pensiunan

5.1.5 Status Perkawinan

Proporsi penderita mioma uteri berdasarkan status perkawinan di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 5.5 Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Status perkwinan yang di Rawat di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017

Berdasarkan gambar 5.5 menunjukkan bahwa proporsi Status perkawinan penderita mioma uteri tertinggi pada Penderita yang sudah kawin yaitu 144 orang (99,3%) dan yang terendah belum kawin yaitu 1 orang (0,7%).

Pada penelitian ini ditemukan proporsi status perkawinan yang sudah kawin lebih tinggi dibandingkan jenis status perkawinan, tetapi bukan berarti yang sudah kawin paling berisiko menderita mioma uteri. Hal ini dikarenakan pada wanita yang sudah kawin/menikah pasti akan terjadi kehamilan, mioma uteri yang tidak memiliki gejala khusus akan didapatkan pada pemeriksaan USG pada wanita hamil secara tidak sengaja. Ditemukan 1 (0,7%) orang penderita mioma uteri yang belum kawin dengan usia 20 tahun hal ini terjadi karena gejala yang ditimbul

0,7%

99,3%

Status Perkawinan

Belum Kawin Kawin

sudah memburuk yang diakibatkan faktor-faktor risiko sehingga dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Seperti pada penelitian Lubis S (2014) di Rumah Sakit Tentara Pematangsiantar yang memuat bahwa proporsi penderita mioma uteri tertinggi berstatus kawin (97,6%).

5.2 Paritas

Proporsi penderita mioma uteri berdasarkan Paritas di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 5.6 Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Paritas yang di Rawat di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017

Berdasarkan gambar 5.6 menunjukkan bahwa penderita mioma uteri berdasarkan paritas tertinggi yaitu multipara dengan proporsi 116 orang (80,0%) dan yang terendah pada jenis paritas nullipara yaitu 7 orang (4,8%).

Pada penelitian ini ditemukan proporsi paritas multipara lebih tinggi dibandingkan paritas lain didukung oleh penelitian Lestati M (2009) memuat

80,0%

15,2%

4,8%

Paritas

Multipara Primipara Nullipara

46,1% wanita dengan mioma uteri adalah multipara atau memiliki 2-4 anak, sedangkan menurut teori, mioma uteri lebih sering terjadi pada pasien nullipara.

Hal ini tidak menjadikan adanya kesenjangan antara fakta di lapangan dengan teori karena wanita dengan mioma uteri tidak terjadi pada wanita yang nullipara saja tetapi semua wanita berisiko menderita mioma uteri. Hal ini dapat didukung oleh pola makan yang tidak sehat oleh wanita usia reproduksi, dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung hormonal sehingga memicu pertumbuhan tumor.

Menurut Rahmi (2012) semakin banyak peritas multipara yang melahirkan anak dengan jarak kehamilan <2 tahun semakin memicu pesatnya pertumbuhan mioma uteri karena terjadi peningkatan hormon estrogen yang tidak stabil karena adanya proses penyembuhan/involusi uterus yang belum sempurna.

5.3 Keluhan

Proporsi penderita mioma uteri berdasarkan keluhan di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 5.7 Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Keluhan yang di Rawat di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017

Berdasarkan gambar 5.7 menunjukkan bahwa proporsi Keluhan penderita mioma uteri tertinggi pada Perdarahan uterus abnormal yaitu 67 orang (46,2%) kemudian Nyeri perut bagian bawah yaitu 43 orang (29,7%) dan yang terendah Ada massa di perut bagian bawah yaitu 10 orang (6,9%).

Pada penelitian ini ditemukan proporsi keluhan perdarahan uterus abnormal lebih tinggi dibandingkan keluhan lain karena meluasnya permukaan endometrium mengakibatkan terjadi perdarahan.

Perdarahan merupakan gejala klinis yang paling sering dialami penderita mioma uteri. Keluhan perdarahan abnormal yang umumnya terjadi ialah menoragia yaitu perdarahan haid yang lebih banyak dari normal ( >80 ml/hari) juga jangka waktu lebih lama dari biasanyadan metroragia yaitu perdarahan yang tidak teratur. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Ginting L (2012) di RSUD dr. Pirngadi Medan Tahun 2009-2011 memuat proporsi keluhan tertinggi

29,7%

5.4 Kadar Hemoglobin

Proporsi penderita mioma uteri berdasarkan Kadar hemoglobin di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 5.8 Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Kadar Hemoglobin yang di Rawat di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017

Berdasarkan gambar 5.8 menunjukkan bahwa penderita mioma uteri yang Anemia (<12 gr/dl) yaitu 101 orang (69,7%) dan Tidak anemia (≥12 gr/dl) yaitu 44 orang (30,3%).

Pada penelitian ini ditemukan proporsi Anemia lebih tinggi dikarenakan perdarahan uterus abnormal yang menjadi keluhan pada penderita mimoma uteri.

Permukaan endometrium yang menjadi lebih luas akibat pertumbuhan mioma, maka lebih banyak dinding endometrium yang terkikis ketika menstruasi sehingga menyebabkan perdarahan yang banyak yang dapat menyebabkan anemia (Decherney et.al.2007) .

69,7%

30,3%

Kadar Hemoglobin

Anemia Tidak Anemia

Hasil penelitian ini didikung oleh hasil penelitian Sukhri B (2010) di RSUP Haji Adam Malik yang memuat proporsi penderita mioma uteri yang mengalami anemia 61,6%.

5.5 Penatalaksanaan Medis

Proporsi penderita mioma uteri berdasarkan Penatalaksanaan medis di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 5.9 Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Penatalaksanaan yang di Rawat di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017

Berdasarkan gambar 5.9 menunjukkan bahwa proporsi penderita mioma uteri yang mendapatkan penanganan operatif yaitu 83 orang (57,2%) dan yang mendapatkan penanganan konservatif yaitu 62 orang (42,8%). Pada penelitian ini ditemukan proporsi penderita mioma uteri yang mendapatkan penanganan operatif lebih tinggi.

Penatalaksanaan medis terhadap mioma tergantung pada jenis mioma dan

42,8%

57,2%

Penatalaksanaan Medis

Penanganan Operatif Penanganan Konservatif

Pengobatan operatif juga cocok dilakukan pada wanita berumur 40 tahun keatas yang tidak menghendaki memiliki anak.

5.6 Sumber Biaya

Proporsi penderita mioma uteri berdasarkan Sumber biaya di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 5.10 Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Sumber Biaya yang di Rawat di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017

Berdasarkan gambar 5.10 menunjukkan bahwa proporsi penderita mioma uteri berdasarkan sumber biaya tertinggi pada JKM/ASKES/BPJS dan Asuransi Swasta yaitu 141 orang (97,2%) dan yang terendah Biaya sendiri yaitu 4 orang (2,8%).

Pada penelitian ini ditemukan proporsi penderita mioma uteri yang bersumber biaya JKM/ASKES/BPJS dan Asuransi Swasta lebih tinggi karena penderita sudah menggunakan JKM/ASKES/BPJS dari pemerintah dan sebagian

2,8%

97,2%

Sumber Biaya

Biaya sendiri

JKM/ASKES/BPJS dan Asuransi swasta

besar penderita yang bekerja atau yang suaminya bekerja di PTPN IV ditanggung biayanya oleh pihak PTPN IV.

5.7 Analisa Statistik

5.7.1 Penatalaksanaan Medis berdasarkan Keluhan

Proporsi penatalaksanaan medis berdasarkan keluhan penderita mioma uteri di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Gambar 5.11 Diagram Bar Distribusi Proporsi Penatalaksanaan medis Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Keluhan di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017

Berdasarkan Gambar 5.11 dapat dilihat bahwa proporsi penderita mioma uteri dengan keluhan nyeri perut bagian bawah penatalaksanaan medis tertinggi ialah dengan penanganan operatif sebesar 55,8% yaitu 24 penderita, keluhan Perdarahan uterus abnormal dengan penatalaksanaan medis tertinggi dengan penanganan operatif sebesar 58,2% yaitu 39 penderita, keluhan ada massa di perut bagian bawah dengan penatalaksanaan medis tertinggi dengan penanganan

44,2 41,8

konservatif sebesar 60,0% yaitu 6 penderita dan >1 keluhan dengan penatalaksanaan medis tertinggi dengan penanganan operatif yaitu 64,0% yaitu 16 penderita. Beberapa laporan menunjukkan kegunaan agonis GnRH pada pasien yang mengeluh ada massa diperut bagian bawah dengan myoma yang mengecil setelah perjalanan terapi. Dengan demikian wanita yang mengeluh ada massa diperut bagian bawah agonis GnRH dapat menjadi alternatif pilihan dibanding operasi (Moore,2001).

5.7.2 Kadar Hemoglobin berdasarkan Keluhan

Proporsi Kadar hemoglobin berdasarkan keluhan penderita mioma uteri di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Gambar 5.12 Diagram Bar Distribusi Proporsi Kadar Hemoglobin Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Keluhan di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017

Berdasarkan Gambar 5.12 dapat dilihat bahwa proporsi penderita mioma uteri dengan keluhan nyeri perut bagian bawah mengalami anemia ialah 65,1%

yaitu 28 penderita, keluhan Perdarahan uterus abnormal yang mengalami anemia

65,1 68,7

yaitu 68,7% yaitu 46 penderita, keluhan ada massa di perut bagian bawah yang mengalami anemia yaitu 80,0% yaitu 8 penderita dan >1 keluhan mengalami anemia yaitu 76,0% yaitu 19 penderita.

Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa penderita dengan semua jenis keluhan mengalami anemia karena mioma uteri ialah tumor yang berada di lapisan dinding uterus yang memiliki banyak pembuluh darah sehingga dengan adanya mioma memperluas permukaan endometrium dalam proses menstruasi, mengakibatkan gangguan kontraksi otot rahim, dan perdarahan yang berkepanjangan. Perdarahan yang disebabkan mioma uteri menyatakan terjadinya perubahan struktur vena pada endometrium dan miometrium yang menyebabkan terjadinya venule ectasia. Akibat perdarahan penderita mengalami anemia, pusing, mudah lelah, dan mudah terjadi infeksi(Manuaba dkk, 2010).

5.7.3 Penatalaksanaan Medis berdasarkan Umur

Proporsi Penatalaksanaan medis berdasarkan Umur penderita mioma uteri di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Gambar 5.13 Diagram Bar Distribusi Proporsi Penatalaksanaan medis Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Umur di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten

62,5

17-25 Tahun 26-35 Tahun 36-45 Tahun 46-55 Tahun 56-65 Tahun

Proporsi % Konservatif

Operatif

Berdasarkan Gambar 5.13 dapat dilihat bahwa proporsi penderita mioma uteri dengan kelompok umur 17-25 tahun mendapatkan penanganan konservatif ialah 62,5% yaitu 5 penderita, penderita mioma uteri dengan kelompok umur 26-35 tahun mendapatkan penanganan konservatif ialah 77,3% yaitu 17 penderita, penderita mioma uteri dengan kelompok umur 36-45 tahun mendapatkan penanganan operatif ialah 65,0% yaitu 39 penderita, penderita mioma uteri dengan kelompok umur 46-55 tahun mendapatkan penanganan operatif ialah 66,0% yaitu 35 penderita, penderita mioma uteri dengan kelompok umur 56-65 tahun mendapatkan penanganan konservatif 50,0% yaitu 1 penderitadan operatif ialah 50,0% yaitu 1 penderita.

Penatalaksanaan medis yang dilakukan tergantung pada usia, tingkat keparahan dan keinginan untuk memiliki anak. Pengobatan konservatif dapat digunakan pada pasien yang mendekati menopause untuk menghindari penanganan pembedahan hingga menopause dan memungkinkan reduksi ukuran tumor secara menetap dan juga sering dilakukan pada wanita muda dan masih menginginkan keturunan, sedangkan operasi dilakukan bila penderita telah berusia tua, tidak ingin mempertahankan fungsi uterus atau mengalami keluhan yang cukup berat (Derek,2001).

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

6.1.1 Distribusi proporsi penderita mioma uteri di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 berdasarkan sosiodemografi tertinggi pada umur 36-45 tahun, suku Jawa , pendidikan tingkat menengah, pekerjaan Ibu Rumah Tangga, dan status perkawinan kawin.

6.1.2 Distribusi proporsi penderita mioma uteri di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 berdasarkan paritas tertinggi adalah multipara.

6.1.3 Distribusi proporsi penderita mioma uteri di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 berdasarkan keluhan tertinggi pada Perdarahan uterus abnormal.

6.1.4 Distribusi proporsi penderita mioma uteri di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 berdasarkan kadar hemoglobin < 12 gr/dl.

6.1.5 Distribusi proporsi penderita mioma uteri di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 berdasarkan penatalaksanaan medis tertinggi pada Penanganan operatif.

6.1.6 Distribusi proporsi penderita mioma uteri di PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras Kabupaten Simalungun Tahun 2015-2017 berdasarkan

sumber biaya tertinggi berasal dari JKM/ASKES/BPJS dan Asuransi swasta.

6.1.7 Proporsi penderita mioma uteri dengan keluhan nyeri perut bagian bawah penatalaksanaan medis tertinggi ialah dengan penanganan operatif, keluhan Perdarahan uterus abnormal dengan penatalaksanaan medis tertinggi dengan penanganan operatif, keluhan ada massa di perut bagian bawah dengan penatalaksanaan medis tertinggi dengan penanganan konservatif dan >1 keluhan dengan penatalaksanaan medis tertinggi dengan penanganan operatif.

6.1.8 Proporsi penderita mioma uteri dengan keluhan nyeri perut bagian bawah mengalami anemia, keluhan Perdarahan uterus abnormal yang mengalami anemia, keluhan ada massa di perut bagian bawah yang mengalami anemia dan >1 keluhan mengalami anemia.

6.1.9 Proporsi penderita mioma uteri dengan kelompok umur 17-25 tahun mendapatkan penanganan konservatif, penderita mioma uteri dengan kelompok umur 26-35 tahun mendapatkan penanganan konservatif, penderita mioma uteri dengan kelompok umur 36-45 tahun mendapatkan penanganan operatif, penderita mioma uteri dengan kelompok umur 46-55 tahun mendapatkan penanganan operatif, penderita mioma uteri dengan kelompok umur 56-65 tahun mendapatkan penanganan konservatif dan operatif.

6.2 Saran

6.2.1 Kepada wanita yang mempunyai faktor resiko untuk terjadinya mioma uteri terutama wanita usia reproduktif agar lebih menjaga kesehatan salah satunya dengan pola makan yang sehat dan rutin memeriksakan diri untuk deteksi dini kemungkinan ditemukannya mioma uteri.

6.2.2 Kepada para wanita yang telah mulai haid (menarke) untuk memeriksakan alat reproduksinya apabila ada keluhan-keluhan haid/menstruasi untuk dapat menegakkan diagnosis dini adanya mioma uteri.

6.2.3 Kepada wanita yang mengalami gejala mioma uteri seperti nyeri perut di bagian bawah, perdarahan uterus abnormal, adanya massa di bagian bawah perut secepatnya memeriksakan diri ke dokter atau bidan terdekat.

6.2.4 Pada wanita dengan multipara agar lebih waspada dan memeriksakan diri lebih tertarur kepada tenaga ahli kebidanan dan penyakit kandungan, untuk tindakan preventif dan diagnosis dini terjadinya mioma uteri.

6.2.5 Deteksi adanya mioma uteri hendaknya dilakukan sedini mungkin untuk menghindari morbiditas dan komplikasi lebih lanjut seperti perdarahan dan anemia/penurunan kadar hemoglobin.

6.2.6 Bagi penderita mioma uteri yang telah terdiagnosis, harus segera mendapatkanterapi yang sesuai dengan keadaan klinisnya.

6.2.7 Pemeriksaan histopatologi harus dilakukan setelah pengangkatan tumor, untuk diagnosis pasti dan menentukan jenis mioma.

6.2.8 Kepada pihak PT Prima Medica Nusantara Rumah Sakit Laras sebaiknya melengkapi pencatatan pada kartu status pasien seperti usia menarche, dan jenis mioma uteri.

DAFTAR PUSTAKA

Anbualagan, D., 2014. Gambaran Karakteristik Penderita Mioma Uteri di RSUP HAJI ADAM MALIK Medan Tahun 2014. Skripsi Mahasiswa Kedokteran USU.

Anggraini, R., 2013. Analisa Faktor Resiko Mioma Uteri di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan dan Rumah Sakit Jejaring.

Karya Tulis Ilmiah Kedokteran USU Departemen Obstetri dan Ginekologi.

Anwar, M. 2014. Ilmu Kandungan. Edisi ketiga. Cetakan kedua. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.

Clarke-Pearson, D.L., Soper,J.T., 2010. Gynecological Cancer Management.

Wiley-Blackwell : NC-USA.

Copaescu, C., 2007. Laparoscopic Hysterectomy. Chirurgia (Bucur), Volume102,No.2, March-April 2007, Romanian.

Decherney,I.H., Nathan,L., Goodwin,T.M., Laufer,N., 2007. Current Diagnosis

& Treatment Obstetrics & Gynecology. Tenth editon, US : McGraw-Hill Companies.

Derek, L. 2001. Dasar-Dasar Obstetrik & Ginekologi Edisi 6. Jakarta:

Hipokrates.

Edmons, D.K., 2007. Dewhurts’s Textbook of Obstetrics & Gynaecology.

Seventh edition. Blackwell Publishing.

Edwards, D.R.V., Baird,D.D., Hartmann,K.E., 2012. Association of Age at Menarche with Increasing Number of Fibroids in a Cohort of WomenWho Underwent Standardized Ultrasound Assessment.

American Journal of Epidemiology. Vol 178, No.3. Pages 426-433.

Elugwaraonu, O., Okojie A.I.O., Okhia O., Oyadoghan G.P., 2013. The Incidence of Uterine Fibroid Among Reproductive Age Women : A Five Year Review of Cases at Isth,Irrua,Edo,Nigeria. International Journal of Basic, Applied and Innovative Research. Pages 55-60.

Frank, H. 2001. Kasus Prevalence dan Insidens Mioma Uteri dari Atlanta Amerika Serikat, AIHA. Partnership Conference, Washington DC, http://www.USAID.com diakses tanggal 20 Februari 2018.

Ginting,L.Y., 2012. Karakteristik Penderita Mioma Uteri yang Dirawat Inap di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2009-2011.Skripsi Mahasiswa

Kurniasari, T., 2010. Karekteristik Mioma Uteri Di RSUD Dr. Moewardi Surakarta Periode januari 2009-Januari 2010. Laporan Penelitian Mahasiswa FK UNS.

Lefebvre, et al., 2003. The Management of Uterine Leiomyomas. Journal

Lefebvre, et al., 2003. The Management of Uterine Leiomyomas. Journal

Dokumen terkait