• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembagian Distribusi Pendapatan

TINJAUAN PUSTAKA

2.2.1 Pembagian Distribusi Pendapatan

Distribusi pendapatan mencerminkan merata atau timpangnya pembagian

hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya. Distribusi pendapatan

sebagai suatu ukuran dibedakan menjadi dua ukuran pokok, baik untuk tujuan

analisis maupun untuk tujuan kuantitatif (Todaro, 2000) yaitu:

1. Distribusi pendapatan ”personal” atau distribusi pendapatan berdasarkan

ukuran atau besarnya pendapatan. Distribusi pendapatan pribadi atau distribusi

pendapatan berdasarkan besarnya pendapatan paling banyak digunakan ahli

ekonomi. Distribusi ini hanya menyangkut orang per orang atau rumah tangga

dan total pendapatan yang mereka terima, dari mana pendapatan yang mereka

peroleh tidak dipersoalkan. Tidak dipersoalkan pula berapa banyak yang

diperoleh masing-masing individu, apakah merupakan hasil dari pekerjaan

mereka atau berasal dari sumber-sumber lain. Selain itu juga diabaikan

sumber-sumber pendapatan yang menyangkut lokasi (apakah di wilayah desa

atau kota) dan jenis pekerjaan.

2. Distribusi pendapatan “fungsional” atau distribusi pendapatan menurut bagian

faktor distribusi. Sistem distribusi ini mempertimbangkan individu-individu

sebagai totalitas yang terpisah-pisah. Distribusi pendapatan mutlak adalah

persentase jumlah penduduk yang pendapatannya mencapai suatu tingkat

pendapatan tertentu atau kurang dari padanya. Ukuran umum yang dipakai

biasanya adalah kriteria Bank Dunia yaitu ketidakmerataan tertinggi bila 40

persen penduduk dengan distribusi pendapatan terendah menerima kurang dari

penduduk dengan pendapatan terendah menerima 12-17 persen pendapatan

nasional. Ketidakmerataan rendah bila 40 persen penduduk dengan

pendapatan terendah menerima lebih dari 17 persen dari seluruh pendapatan

nasional.

Distribusi pendapatan yang didasarkan pada pemilik faktor produksi ini

akan berkaitan dengan proses pertumbuhan pendapatan, adapun pertumbuhan

pendapatan dalam masyarakat yang didasarkan pada kepemilikan faktor produksi

dapat dikelompokkan menjadi dua macam:

1. Pendapatan karena hasil kerja yang berupa upah atau gaji dan besarnya

tergantung tingkat produktifitas.

2. Pendapatan dari sumber lain seperti sewa, laba, bunga, hadiah atau warisan.

Sayangnya relevansi teori fungsional tidak mempengaruhi pentingnya peranan

dan pengaruh kekuatan-kekuatan di luar pasar (faktor-faktor

non-ekonomis)misalnya kekuatan dalam menentukan faktor-faktor harga (Todaro,

2003).

2.2.2 Cara Menghitung Distribusi Pendapatan

Ada beberapa cara yang dijadikan sebagai indikator untuk mengukur

kemerataan distribusi pendapatan, diantaranya yaitu :

1. Kurva Lorenz

Kurva Lorenz menggambarkan distribusi kumulatif pendapatan nasional di

kalangan lapisan-lapisan penduduk. Kurva ini terletak di dalam sebuah bujur

sangkar yang sisi tegaknya melambangkan persentase kumulatif pendapatan

Kurvanya sendiri ditempatkan pada diagonal utama bujur sangkar tersebut.

Kurva Lorenz yang semakin dekat ke diagonal (semakin lurus) menyiratkan

distribusi pendapatan nasional yang semakin merata. Sebaliknya, jika kurva

Lorenz semakin jauh dari diagonal (semakin lengkung), maka ia

mencerminkan keadaan yang semakin buruk, distribusi pendapatan nasional

semakin timpang dan tidak merata.

Gambar 2.1 Kurva Lorenz

2. Indeks Gini atau Rasio Gini

Gini ratio merupakan suatu ukuran kemerataan yang dihitung dengan

membandingkan luas antara diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas

Gambar 2.2 Indeks Gini Ratio

Data yang diperlukan dalam penghitungan gini ratio:

• Jumlah rumah tangga atau penduduk

• Rata-rata pendapatan atau pengeluaran rumah tangga yang sudah dikelompokkan menurut kelasnya.

Rumus untuk menghitung gini ratio:

� = 1− �( − ��−1)(� +��−1) 10.000 �=1 dengan: G = Gini Ratio

Pi = Persentase rumah tangga pada kelas pendapatan ke-i Qi = Persentase kumulatif pendapatan sampai dengan kelas ke-i Qi-1= Persentase kumulatif pendapatan sampai dengan kelas ke-i-1 K = Banyaknya kelas pendapatan

Nilai gini ratio berkisar antara 0 dan 1, jika:

G < 0,3 → ketimpangan rendah

0,3 ≤ G ≤ 0,4 → ketimpangan sedang → ketimpangan tinggi

Semakin tinggi nilai Indeks Gini menunjukkan ketidakmerataan pendapatan yang semakin tinggi. Jika nilai Indeks Gini adalah nol maka artinya terdapat kemerataan sempurna pada distribusi pendapatan, sedangkan

jika bernilai satu berarti terjadi ketidakmerataan pendapatan yang sempurna.

Untuk publikasi resmi Indonesia oleh BPS, baik ukuran ketidakmerataan

pendapatan versi Bank Dunia maupun Indeks Gini, penghitungannya menggunakan data pengeluaran.

3. Kriteria Bank Dunia

Kriteria ketidakmerataan versi bank dunia didasarkan atas porsi pendapatan

nasional yang dinikmati oleh tiga lapisan penduduk, yakni 40% penduduk

berpendapatan rendah, 40% penduduk berpendapatan menengah, serta 20%

penduduk berpendapatan tinggi. Ketimpangan atau ketidakmerataan distribusi

pendapatan dinyatakan parah apabila 40% penduduk berpendapatan rendah

menikmati kurang dari 12% pendapatan nasional. Ketidakmerataan dianggap

sedang atau moderat apabila 40% penduduk miskin menikmati antara 12-17%

pendapatan nasional. Sedangkan jika 40% penduduk yang berpendapatan

rendah menikmati lebih dari 17% pendapatan nasional, maka ketimpangan

atau kesenjangan dikatakan lunak dan distribusi pendapatan nasional dianggap

cukup merata.

2.3 Bentuk-bentuk Ketimpangan Distribusi Pendapatan

Tingkat distibusi pendapatan dapat didefinisikan sebagai gambaran akan

kondisi ekonomi masyarakat di suatu daerah walaupun tidak dapat

Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan

1. Bentuk-bentuk Ketimpangan

Pembangunan dilaksanakan secara umum menyangkut beberapa

aspek utama, mulai dari pembangunan di bidang ekonomi, sosial,

kelembagaan, dan aspek lingkungan. Akan tetapi di dalam proses

pencapaiannya akan selalu mengakibatkan terjadinya ketimpangan. Hal ini

sekaligus menolak pendapat kaum neoklasik yang terlalu optimis menyatakan

bahwa pada awal pembangunan memang akan dijumpai ketidakseimbangan

atau ketimpangan, akan tetapi pada akhirnya akan dicapai suatu keseimbangan

atau kemerataan. Pada prinsipnya ada beberapa bentuk ketimpangan yang

terjadi anatara lain, yaitu :

a. Distribution Income disparities b. Urban Rural Income disparities c. Regional Income disparities

Pada mulanya, pendapatan per kapita digunakan untuk mengukur tingkat

kesejahteraan masyarakat suatu negara atau daerah, sebab dapat

menggambarkan laju perkembangan tingkat kesejahteraan berbagai negara.

Namun, dalam perkembangannya, pendapatan per kapita yang

digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat banyak memiliki

kelemahan-kelemahan yang dibagi ke dalam dua jenis, yaitu :

1. Kelemahan yang bersumber dari kenyataan bahwa tingkat kesejahteraan

masyarakat bukan ditentukan oleh hanya pendapatan per kapita, melainkan

a. Faktor alam, adat istiadat, kebebasan politik

b. Kesejahteraan dapat dicapai bila menikmati waktu luang (leisure) yang

semakin banyak

c. Bahwa kesejahteraan sangat bersifat subjektif bagi setiap orang

d. Pendapatan perkapita yang dianggap sebagai pengukur tingkat

kesejahteraan tidak menggambarkan komposisi umur, distribusi

pendapatan masyarakat, komposisi pendapatan nasional, corak

pengeluaran, perubahan-perubahan dalam keadaan pengangguran.

2. Kelemahan yang bersifat metodologi dan statistik dalam perhitungan

pendapatan nasional :

a. Terjadi kesalahan penafsiran karena ketidaksempurnaan dalam

perhitungan pendapatan nasional dan pendapatan per kapita itu sendiri.

b. Kesalahan menafsir data pendapatan pekerjaan tertentu di negara

berkembang dimana pada umummya disebabkan data atau catatannya

tidak lengkap dan akurat.

c. Kesalahan membandingkan pendapatan negara dengan mata uang

tertentu.

Masalah jumlah penduduk yang begitu banyak baik di negara-negara yang

terbelakang maupun negara-negara berkembang sebenarnya sudah sejak lama

dikhawatirkan oleh hipotesis Malthus yang mengatakan bahwa konsumsi

keseimbangan jangka panjang tidak terletak lebih tinggi daripada tingkat

subsistence. Bahkan, secara umum para mahasiswa lebih mengenal dengan teori Malthus yang menekankan bahwa jumlah produksi makanan menurut deret

hitung, sedangkan jumlah pertumbuhan penduduk menurut deret ukur. Walau

teori Malthus akhirnya juga ditolak oleh para ahli yang menyatakan bahwa :

1. Teori Malthus tidak memperhitungkan peranan serta pengaruh adanya

kemajuan teknologi, terutama dalam teknologi pertanian.

2. Teorinya itu hanya didasarkan pada suatu hipotesis, yang berkaitan dengan

hubungan makro antara jumlah pertumbuhan penduduk dan pendapatan

per kapita, yang ternyata tidak tahan uji empiris.

3. Teori Malthus hanya menitikberatkan pada variable yang ternyata

dianggap keliru, dimana pendapatan per kapita sebagai determinan utama

dalam pertumbuhan penduduk.

Dalam abad ke-19 tingkat kematian di Eropa dan di Amerika Serikatyang

menurun dikaitkan dengan pendapatan yang naik. Hal ini disebabkan oleh

perbaikan dalam pelayanan kesehatan yang baik yang dibayar oleh individu

maupun negara dari pendapatan yang dinaikkan karena perubahan produktivitas

ekonomi yang luas. Akibatnya, banyak model ekonomi dan perubahan demografi

yang membuat tingkat kematian tergantung kepada pendapatan (Harvey

Leibenstein dan Richard R. Nelson).

2.4 Pengaruh Ketimpangan Distribusi

PendapatanTerhadapPertumbuhan Ekonomi

Kuznets (1955) mengatakan bahwa pada tahap awal pertumbuhan

ekonomi, distribusi pendapatan cenderung memburuk, namun pada tahap

selanjutnya, distribusi pendapatannya akan membaik. Observasi inilah yang

longitudinal (time-series) dalam distribusi pendapatan. Kurva Kuznets dapat dihasilkan oleh proses pertumbuhan berkesinambungan yang berasal dari

perluasan sektor modern.

Menurut Todaro (2003), pemerataan yang lebih adil di negara berkembang

merupakan suatu kondisi atau syarat yang menunjang pertumbuhan ekonomi.

Dengan demikian, semakin timpang distribusi pendapatan di suatu negara akan

berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketimpangan pendapatan

antar daerah, tergantung dari besarnya jumlah pendapatan yang diterima oleh

setiap penerima pendapatan dalam daerah tersebut, baik itu golongan masyarakat

maupun wilayah tertentu dalam daerah tersebut. Perbedaan jumlah pendapatan

yang diterima itu menimbulkan suatu distribusi pendapatan yang berbeda,

sedangkan besar kecilnya perbadaan tersebut akan menentukan tingkat

pemerataan pendapatan (ketimpangan pendapatan) daerah tersebut. Oleh karena

itu, ketimpangan pendapatan ini akan tergantung dari besar kecilnya perbedaan

jumlah pendapatan yang diterima oleh penerima pendapatan. Sehingga timpang

atau tidaknya pendapatan daerah dapat diukur melalui distribusi penerimaan

pendapatan antar golongan masyarakat ataupun antar wilayah. Produk nasional

bruto per kapita tertentu, dimana pendapatan yang diterima wilayah tersebut

terlihat pada nilai PDRB-nya, sedangkan untuk golongan masyarakat tentunya

adalah jumlah yang diterimanya pula.

Ketimpangan pendapatan sebenarnya telah terjadi di seluruh negara di

dunia ini, baik negara yang sudah maju maupun negara-negara yang sedang

terjadi di negara-negara yang baru memulai pembagunannya, sedangkan bagi

negara maju atau lebih tinggi tingkat pendapatannya cenderung lebih merata atau

tingkat ketimpangannya rendah. Keadaan ini antara lain dijelaskan oleh Todaro

(1981), bahwa negara-negara maju secara keseluruhan memperlihatkan

pembagian pendapatan yang lebih merata dibandingkan dengan negara-negara

dunia ketiga yakni negara-negara yang tergolong sedang berkembang. Nicholas

Kaldor (1960), menyatakan bahwa semakin tidak merata pola distribusi

pendapatan, semakin tinggi pula laju pertumbuhan ekonomi karena orang-orang

kaya memiliki rasio tabungan yang lebih tinggi dari pada orang-orang miskin

sehingga akan meningkatkan aggregate saving rate yang diikuti oleh peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi. Jika laju pertumbuhan PDRB merupakan

satu-satunya tujuan masyarakat, maka strategi terbaik adalah membuat pola

distribusi pendapatan setimpang mungkin. Dengan demikian, model Kuznets dan

Kaldor menunjukkan adanya trade off atau pilihan antara pertumbuhan PDRB yang lambat tetapi dengan distribusi pendapatan yang lebih merata.

Dua model ketimpangan yaitu teori Harrod-Domar dan Neo-Klasik

memberikan perhatian khusus pada peranan kapital yang dapat direpresentasikan

dengan kegiatan investasi yang ditanamkan pada suatu daerah untuk menarik

kapital ke dalam daerahnya, hal ini jelas akan berpengaruh pada kemampuan

daerah untuk tumbuh sekaligus menciptakan perbedaan dalam kemampuan

menghasilkan pendapatan. Investasi akan lebih menguntungkan bila dialokasikan

pada daerah-daerah yang dinilai mampu menghasilkan pengembalian (return) yang besar dalam jangka waktu yang relatif cepat. Mekanisme pasar justru akan

menyebabkan ketidakmerataan, dimana daerah-daerah yang relatif maju akan

bertumbuh semakin cepat sementara daerah yang kurang maju tingkat

pertumbuhannya justru relatif lambat. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya

ketimpangan pendapatan antar daerah, sehingga diperlukan suatu perencanaan dan

kebijakan dalam mengarahkan alokasi investasi menuju suatu kemajuan ekonomi

yang lebih berimbang diseluruh wilayah dalam negara. Terjadinya ketimpangan

antar daerah juga diterangkan oleh Myrdal (1957) membangun teori

keterbelakangan dan pembangunan ekonominya di sekitar ide ketimpangan

regional pada taraf nasional dan internasional. Untuk menjelaskan hal tersebut,

beliau memakai ide “spread effect” dan “backwash effect” sebagai bentuk pengaruh penjalaran dari pusat pertumbuhan ke daerah sekitar. Spread effect (dampak sebar) didefinisikan sebagai suatu pengaruh yang menguntungkan

(favorable effect), yang mencakup aliran kegiatan-kegiatan investasi di pusat pertumbuhan ke daerah sekitar. Backwash effect (dampak balik) didefinisikan sebagai pengaruh yang merugikan (infavorable effect) yang mencakup aliran manusia dari wilayah sekitar atau pinggiran termasuk aliran modal ke wilayah

inti, sehingga mengakibatkan berkurangnya modal pembangunan bagi wilayah

pinggiran yang sebenarnya diperlukan untuk dapat mengimbangi perkembangan

wilayah inti.

Terjadinya ketimpangan regional menurut Myrdal disebabkan oleh

besarnya pengaruh dari backwash effect dibandingkan dengan spread effect di negara-negara terbelakang. Perpindahan modal cenderung meningkatkan

merangsang investasi yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan yang

menyebabkan putaran kedua investasi dan seterusnya, lingkup investasi yang

lebih baik pada sentra-sentra pengembangan dapat menciptakan kelangkaan

modal di wilayah terbelakang.

2.5 Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian tentang Distribusi Pendapatan dengan tingkat

kesejahteraan masyarakat dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Ekonomi dan Bisnis

yang menjadi referensi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang menjadi

referensi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Penelitian pertama adalah

jurnal karya T.Makmur et al (2011) mengenai Ketimpangan Distribusi Pendapatan

Rumah Tangga Masyarakat Desa di Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh

Besar. Berdasarkan hasil penelitian diperlihatkan bahwa indeks gini yang

diperoleh sebesar 0,386, ini artinya pada Kabupaten Peukan Bada mempunyai

nilai ketimpangan distribusi pendapatannya sedang. Tingkat pendapatan tentu

berpengaruh terhadap tingkat pengeluaran. Masing-masing profesi memliki

perbedaan tingkat pengeluaran dari segi biaya konsumsi pangan, perlengkapan

rumah tangga, pendidikan dan kesehatan yang mempengaruhi kesejahteraan

masyarakat tersebut.

Penelitian kedua adalah Halim et al (2010) juga melakukan penelitian

dengan judul Distribusi Pendapatan dan Tingkat Kemiskinan Petani Kopi Arabika

di Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa sumber pendapatan petani kopi arabika cukup beragam

65,68% terhadap total pendapatan petani. Tingkat ketimpangan pendapatan petani

kopi arabika berdasarkan nilai gini ratio sebesar 0,36 berada dalam kategori menengah, sedangkan menurut kriteria World Bank berada dalam kategori rendah. Selain itu, jumlah petani kopi arabika miskin menurut Sajogyo (1988) sebanyak

21,43%, sedangkan menurut BPS (2010) sebanyak 16,67%.

Penelitian ketiga adalah Achmad Firman dan Linda Herlina mengenai

Analisis Kemiskinan dan Ketimpangan Distribusi Pendapatan pada Peternak Sapi

Perah (survey di Wilayah Kerja Koperasi Unit Desa Sinar Jaya Kabupaten

Bandung). Berdasarkan data yang didapat tingkat pendidikan dari responden

relatif rendah, yaitu 84,06% hanya tamatan sekolah dasar. Kondisi ini bisa

mempengaruhi sikap para peternak terhadap adopsi teknologi dan informasi yang

diberikan, baik oleh petugas KUD, penyuluh dan sebagainya yang sebenarnya

bisa meningkatkan tingkat produksi dari para peternak.

Penelitian keempat adalah Fahmi Husaini mengenai Analisis Ketimpangan

Distribusi Pendapatan dan Tingkat Kesejahtraan di Kecamatan Medan Deli

berdasarkan hasil perhitungan di atas angka Gini di Kecamatan Medan Deli

adalah 0,32253. Ini berarti bahwa ketimpangan distribusi pendapatan di

Dokumen terkait