• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : PEMBAGIAN HARTA BERSAMA MENURUT HUKUM

B. Pembagian Harta Bersama Menurut Hukum Islam

Perkara Nomor 278/Pdt. G/2012/PA Rks. merupakan perkara cerai gugat yang diajukan kepada Pengadilan Rangkasbitung oleh seorang wanita terhadap suaminya sesuai surat gugatan tertanggal 13 Juli 2012 yang telah terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Rangkasbitung pada tanggal 16 Juli 2012 dengan register Nomor : 278/Pdt.G/2012/PA.Rks.

Pada isi gugatan, Tergugat menjelaskan bahwa selama hidup berumah tangga dengan Tergugat selama 26 tahun antara Penggugat dengan Tergugat telah hidup layaknya suami istri dan telah dikaruniai 2 (dua) orang anak dan harta bersama yang diperoleh selama dalam ikatan perkawinan, disamping harta bawaan Penggugat yang diperoleh dari warisan orang tuanya.

Selama proses persidangan, antara Penggugat dengan Tergugat masing-masing telah menghadirkan para saksi di persidangan, dan saksi-saksi dari masing-masing pihak tersebut telah memberikan kesaksi-saksiannya. Selain itu, dalam proses persidangan Hakim juga telah menunjuk hakam dari pihak Penggugat dan hakam dari Pihak Tergugat untuk mendamaikan

konflik rumah tangga yang terjadi antara Penggugat dengan Tergugat, tetapi upaya tersebut juga mengalami kegagalan, karena Penggugat bersikeras atas gugatannya.

Setelah berbagai upaya mediasi tidak mencapai hasil, kemudian Hakim berdasarkan alat bukti yang ada, keterangan para saksi, dan

dalil-dalil syar’i mengadili pihak-pihak yang berperkara sebagai berikut : Dalam Konvensi

1. Mengabulkan gugatan Penggugat;

2. Menjatuhkan talak satu bain sughro Tergugat terhadap Penggugat;

3. Memerintahkan kepada Panitera Pengadilan Agama Rangkasbitung untuk mengirimkan salinan putusan ini ke Kantor Urusan Agama di tempat tinggal Penggugat dan Tergugat serta ke Kantor Urusan Agama di tempat dilangsungkan pernikahan Penggugat dan Tergugat untuk dicatat dan didaftar dalam buku yang disediakan untuk itu;

Dalam Rekonvensi:

1. Mengabulkan gugatan Rekonvensi Penggugat Rekonvensi/Tergugat Konvensi sebagian;

2. Menetapkan bahwa harta bersama antara Penggugat

Rekonvensi/Tergugat Konvensi dan Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi berupa gaji Penggugat Rekonvensi/Tergugat Konvensi selama di Saudi Arabia Rp 4.000.000,- (empat juta rupiah);

3. Menetapkan bagian masing-masing dari harta bersama tersebut pada angka 2 tersebut ½ bagian untuk Penggugat Rekonvensi/Tergugat

Konvensi dan ½ bagian untuk Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi;

4. Menghukum Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi untuk menyerahkan harta bersama tersebut kepada Penggugat Rekonvensi/Tergugat Konvensi sesuai bagiannya;

5. Menolak selain dan selebihnya;

Berdasarkan hasil analisis yang telah penulis lakukan atas perkara Nomor 278/Pdt. G/2012/PA Rks., baik melalui telaah putusan maupun hasil wawancara yang telah penulis laksanakan, dapat disimpulkan bahwa Majelis Hakim telah memberikan putusan yang adil sesuai fakta-fakta yang ada di persidangan dan keterangan para saksi yang diberikan.

Majelis Hakim telah memutuskan pembagian harta bersama pada perkara Nomor 278/Pdt. G/2012/PA Rks., adalah dibagi sama rata 50:50, berdasarkan pertimbangan bahwa perkara tersebut tidak ada perjanjian pra nikah, sehingga berdasarkan pertimbangan hakim bahwa segala sesuatu (baik itu asset maupun kewajiban/hutang) yang dihasilkan oleh suami istri selama dalam ikatan perkawinan itu dinamakan harta bersama, selama tidak ada perjanjian pra nikah. Yaitu, jika sebelum dilangsungkannya pernikahan antara suami dan istri membuat perjanjian pra nikah terlebih dahulu khususnya yang berkaitan dengan harta dalam rumah tangga, maka yang demikian tidak disebut sebagai harta bersama.1

1

Wawancara dengan Bapak Agus Faisal Yusuf, S.Ag., Hakim Pengadilan Agama Rangkasbitung, pada tanggal 10 Desember 2014 di ruang Hakim PA Rangkasbitung Pukul 14.30 WIB.

Pertimbangan hakim dalam memutuskan Perkara Nomor 278/Pdt. G/2012/PA Rks. Sebagaimana tercantum dalam salinan putusannya didasarkan atas ketentuan hukum Islam yang tersirat dalam surat Ar-Rum ayat 21 yang berbunyi:

ع ج و ا ھْي لإ اون ْس تل اًجا وْ أ ْ سفْن أ ْنم ْ ل ق ل خ ْ أ هتا يا ء ْنم و

د و م ْ نْي ب

ور ف ت ي ْو قل ا ي َ كل ذ يف إ ً مْح ر و ً

Artinya:“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesunggunya, pada yang demikian itu benar-benara terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”.

Selain ayat di atas, yang menjadi petimbangan hakim dalam perkara ini adalah ketentuan Pasal 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dinyatakan bahwa tujuan perkawinan adalah untuk membentuk rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah dan jika Penggugat dan Tergugat selaku pasangan suami istri telah ternyata sudah tidak lagi timbul sikap saling mencintai, saling pengertian dan saling melindungi dan bahkan Penggugat tetap sudah tidak lagi berkeinginan untuk meneruskan rumah tangganya dengan Tergugat, maka agar kedua belah pihak berperkara tidak lagi lebih jauh melanggar norma agama dan norma hukum maka perceraian dapat dijadikan salah satu alternatif untuk menyelesaikan sengketa rumah tangga antara Penggugat dengan Tergugat dan telah sesuai pula dengan Doktrin Ulama dalam Kitab Al-Muhadzdzab juz II halaman 81 yang intinya menjelaskan bahwa “Diwaktu istri telah memuncak kebenciannya terhadap

suaminya disitulah Hakim diperkenankan menjatuhkan thalaknya suami“. Sedangkan terkait dengan pembagian harta bersama, Hakim memutuskan membaginya secara proporsional, yaitu setengah bagian untuk Penggugat dan setengah bagiannya lagi untuk Tergugat.

Dalam Islam, harta bersama merupakan masalah ijtihadiyyah dan di dalam kitab-kitab fiqih belum ada pembahasannya, begitu pula nash-nya tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan sunnah. Padahal apa yang terjadi di

lingkungan masyarakat Indonesia tentang harta bersama telah lama berkembang dan berlaku dalam kehidupan kehidupan mereka sehari-hari. Oleh karena itu adanya ketentuan hukum tentang harta bersama dalam KHI banyak dipengaruhi berbagai faktor yang berkembang dan berlaku dalam masyarakat.

Harta bersama diangkat menjadi Hukum Islam dalam KHI berdasarkan dalil „urf serta sejalan dengan kaidah al-„adatu al

-muhakkamah, yaitu bahwa ketentuan adat bisa dijadikan sebagai hukum

yang berlaku dalam hal ini adalah harta bersama, maka haruslah dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Harta bersama tidak bertentangan dengan nash yang ada.

Dalam Al-Qur’an maupun sunnah tidak ada satupun nash yang melarang atau memperbolehkan harta bersama. Padahal kenyataan yang berlaku dalam masyarakat Indonesia adalah bahwa harta bersama telah lama dipraktekkan. Bahkan manfaatnya dapat dirasakan begitu besar dalam kehidupan mereka. Sehingga ketentuan-ketentuan hukum yang

berlaku di Indonesia dalam hal ini KHI menjadikan harta bersama sebagai hukum yang berlaku di Indonesia melalui proses ijtihadiyyah. 2. Harta bersama harus senantiasa berlaku.

Harta bersama haruslah menjadi lembaga yang telah lama berkembang dan senantiasa berlaku dalam kehidupan masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang mempunyai semboyan Bhineka Tunggal Ika, harta bersama merupakan lembaga yang penerapannya hampir berlaku di seluruh Indonesia. Tidak hanya pada zaman yang lalu, akan tetapi harta bersama tetap ditaati dan terpelihara penerapannya hingga saat ini.

3. Harta bersama merupakan adat yang sifatnya berlaku umum.

Hal ini dapat dilihat dari penerapan harta bersama yang berlaku hampir menyeluruh dan menjadi suatu kebiasaan di Indonesia, sekalipun dalam penyebutannya di setiap adat mempunyai penyebutan yang berbeda-beda.2

Al-Qur’an dan Hadis| tidak memberikan ketentuan yang jelas bahwa

harta benda yang diperoleh suami selama berlangsungnya perkawinan sepenuhnya menjadi hak suami. Al-Qur’an juga tidak menerangkan secara

jelas bahwa harta yang diperoleh suami dalam perkawinan, maka secara tidak langsung istri juga berhak terhadap harta tersebut. Atas dasar itulah, maka bisa dikatakan bahwa masalah harta bersama ini tidak secara jelas disinggung dalam rujukan Hukum Islam, baik itu berdasarkan Al-Qur’an

2

M Abu Zahrah, Ushul Fiqh, alih bahasa, Syaifullah Ma’sum, (Jakarta, Rajawali, 2002), h. 417

maupun hadis. Atau dengan kata lain, masalah ini merupakan wilayah yang belum terpikirkan (ghairu mufakkar fiih) dalam Hukum Islam karena memang belum disinggung secara jelas dalam sumber-sumber atau teks-teks keislaman. Yang bisa kita lakukan adalah berijtihad. Dalam ajaran Islam, ijtihad itu diperbolehkan asalkan berkenaan dengan hukum-hukum yang belum ditemukan dasar hukumnya. Masalah harta bersama merupakan wilayah keduniawian yang belum tersentuh Hukum Islam klasik. Hukum Islam Kontemporer tentang masalah ini diteropong melalui pendekatan ijtihad, yaitu bahwa harta benda yang diperoleh oleh suami istri secara bersama-sama selama masa perkawinan merupakan harta bersama.3

Jika kita pelajari pandangan-pandangan Hukum Islam di atas, kita bisa melihat kecenderungan dengan tidak dibedakannya antara harta bersama dengan harta bawaan dan harta perolehan. Harta bawaan dan harta perolehan tetap menjadi hak milik masing-masing suami istri. Hukum Islam cenderung mengeneralisasikan masalah ini. Artinya, Hukum Islam pada umumnya tidak menjelaskan perbedaan antara harta bersama itu sendiri dengan yang bukan harta bersama. Adapula kecenderungan lain, yaitu bahwa harta milik suami dan harta milik istri yang tidak bercampur (tidak disebut harta bersama) dalam pandangan Hukum Islam lebih dimaksudkan sebagai harta bawaan dan harta perolehan.

Pertimbangan hakim terkait dengan putusan perkara Nomor : 278/Pdt.G/2012/PA.Rks., khususnya tentang pembagian harta bersama,

3

Happy Susanto, Pembagian Harta Gono-Gini Setelah Terjadinya Perceraian.

dikaitkan dengan ketentuan Hukum Islam sudahlah tepat. Hakim mengambil

dalil „urf dalam pembagian harta bersama akibat perceraian. Pembagian

harta bersama (50:50) untuk Penggugat dan Tergugat sudah sesuai dengan kaidah umum Hukum Islam.

Dokumen terkait