B. Analisis Waktu Kerja
2. Pembagian Operasi Menjadi Elemen-Elemen Kerja
2. Pembagian Operasi Menjadi Elemen-Elemen Kerja
Mengukur waktu kerja sekaligus dari saat awal persiapan sampai akhir pekerjaan tersebut selesai dilakukan adalah satu hal yang tidak bisa dibenarkan (Wignjosoebroto, 2003). Dalam pelaksanaan pengukuran kerja, umumnya yang dilakukan terlebih dahulu adalah membagi operasi menjadi elemen-elemen kerja.
Berdasarkan 17 gerakan dasar yang telah diuraikan oleh Gilbreth, maka satu operasi tebang dapat diuraikan menjadi 6 segmen gerakan yang diberi nama sesuai elemen gerak efektif yang terjadi. Segmen-segmen tersebut antara lain :
a. Gerakan Menjangkau
Gerakan kerja diawali dengan dengan gabungan antara elemen gerak menjangkau (RE) dan memegang (G). Elemen gerak menjangkau didefinisikan sebagai gerakan tangan berpindah tempat
tanpa beban, baik gerakan mendekati maupun menjauhi objek.
Sedangkan elemen gerak memegang sendiri didefinisikan sebagai elemen gerakan tangan yang dilakukan dengan menutup jari-jari tangan pada suatu objek yang dikehendaki dalam suatu operasi kerja.
Berdasarkan definisi tersebut gerakan ini dimulai pada saat operator mulai menggerakkan tangannya menuju batang tebu yang akan dipotong, sampai menutupnya jari-jari tangan pada batang tebu. Kedua elemen gerak ini dominan dilakukan oleh tangan kiri. Tangan kanan sendiri pada bagian ini hanya memegang golok tebang tanpa melakukan gerak apapun. Gerakan tangan kiri ini termasuk dalam gerakan efektif, sedangkan gerakan yang dilakukan oleh tangan kanan merupakan gerakan tidak efektif. Alur gerakan lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 37.
b. Gerakan Menebang
Elemen gerakan ketiga adalah gerakan mengayunkan golok tebang untuk memotong batang tebu. Dalam 17 gerakan Therbligs, gerakan ini dapat dikategorikan dalam elemen gerakan memakai (U).
Dalam Therbligs elemen gerakan memakai yang dimaksud adalah bila satu tangan atau keduanya dipakai untuk menggunakan alat. Gerakan ini dimulai dari diangkatnya tangan yang memegang golok tebang sampai terpotongnya batang tebu. Dari hasil pengamatan, gerakan ini biasanya tidak hanya dilakukan dalam sekali ayunan, tetapi berulang-ulang sampai batang tebu benar-benar terpotong.
Elemen gerakan ini dilakukan oleh tangan kanan, sedangkan tangan kiri memegang batang tebu yang dapat dikategorikan sebagai elemen gerak memegang untuk memakai (H). Elemen gerak memegang untuk memakai ini terjadi dimana tangan yang satu melakukan gerak kerja memegang dan mengontrol objek, sedangkan tangan yang lain melakukan kerja terhadap objek tersebut. Gerakan yang dilakukan oleh tangan kanan merupakan gerakan efektif, sedangkan tangan kiri melakukan gerakan yang termasuk dalam
gerakan tidak efektif. Alur gerakan lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 38.
c. Gerakan Menarik Batang Tebu
Gerakan selanjutnya adalah gerakan menarik batang tebu yang telah terpotong sampai pada posisi yang sesuai untuk mulai dibersihkan. Dalam Therbligs gerakan ini dapat dikategorikan dalam elemen gerakan mengarahkan (P). Elemen gerakan ini dapat merupakan gerakan mengarahkan suatu objek pada suatu lokasi tertentu. Gerakan ini dimulai semenjak tangan mulai menarik batang tebu ke posisi yang diinginkan dan berakhir saat gerakan membersihkan trash dimulai. Gerakan mengarahkan merupakan gerakan tidak efektif dan pada pekerjaan ini lebih dominan dilakukan oleh tangan kiri. Pada gerakan ini tangan kanan hanya memegang golok yang dapat dikategorikan gerakan menganggur dan merupakan gerakan yang tidak efektif. Alur gerakan lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 39.
d. Gerakan Membersihkan Trash
Gerakan ini lebih dominan dilakukan oleh tangan kanan. Dalam Therbligs gerakan ini dikategorikan sebagai elemen gerakan memakai (U). Gerakan ini dimulai ketika tangan kanan mulai mengangkat golok tebang dan diakhiri dengan mulainya gerakan membawa oleh tangan kiri. Selama gerakan ini, tangan kiri hanya bertugas untuk memegang batang tebu, yang dapat dikategorikan sebagai gerakan memegang untuk memakai. Berdasarkan hasil pengamatan, gerakan ini dilakukan berulang-ulang sampai batang tebu bersih sesuai dengan batas maksimal trash yang diizinkan. Alur gerakan lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 40.
e. Gerakan Meletakkan Hasil Tebang
Dalam Therbligs, gerakan ini termasuk dalam gerakan membawa (M). Elemen ini juga merupakan gerak perpindahan tangan, tetapi di sini tangan bergerak dalam kondisi membawa beban (objek). Gerakan ini diawali ketika tangan kiri mulai menggerakkan objek pada tumpukan tebu hasil tebangan dan diakhiri dengan elemen gerakan melepas (RL). Elemen gerakan ini merupakan elemen gerakan yang efektif. Tangan kanan pada gerakan ini hanya memegang golok tebang yang merupakan gerakan tidak efektif. Alur gerakan lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 41.
f. Gerakan Menganggur
Gerakan menganggur yang dimaksud di sini adalah gerakan menganggur yang dilakukan setelah meletakkan hasil tebang. Gerakan ini termasuk ke dalam elemen-elemen kelambatan yang tidak dapat dihindarkan (UD), kelambatan yang dapat dihindarkan (AD) dan istirahat untuk menghilangkan lelah (R). Ada beberapa kegiatan yang sering dilakukan oleh para tenaga tebang pada gerakan ini, yaitu berdiri diam, membersihkan kotoran sisa pembersihan trash yang ada di tanah, membersihkan serasah pada tebu yang masih berdiri, memotong sogolan, bercanda dengan teman dan merokok.
3. Waktu Siklus
Waktu siklus di sini adalah waktu rata-rata yang dibutuhkan oleh tenaga tebang untuk melakukan setiap elemen gerakan. Pengukuran waktu siklus dilakukan pada tenaga tebang pria dan wanita secara terpisah. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kapasitas kerja dari tenaga tebang berdasarkan gender.
Untuk membandingkan lama waktu kerja dari tenaga tebang pria dan wanita pada masing-masing elemen kerja, maka dilakukan uji-t.
Perhitungan uji-t ini secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 42.
a. Gerakan Menjangkau
Elemen menjangkau merupakan elemen gerak yang seharusnya dapat dilakukan dengan waktu yang cepat. Hal ini terbukti dari hasil pengolahan data, didapatkan bahwa elemen ini dilakukan dalam waktu 1,02 detik untuk tenaga tebang wanita dan 0,94 detik untuk tenaga tebang pria.
Ada beberapa gerakan dalam menjangkau yang membuat elemen gerak ini menjadi lebih lama. Pada lahan tebu yang sebagian besar batang tebunya rebah, maka gerakan menjangkau akan menjadi lebih lama karena jarak yang ditempuh oleh tangan menjadi lebih jauh.
Selain itu ada beberapa tenaga tebang yang mempunyai kebiasaan menjangkau beberapa tebu secara bertahap. Karena bukan dipegang dalam sekali jangkauan maka hal ini akan membuat elemen gerak menjangkau menjadi lebih lama, yaitu sekitar 2,7 detik. Gerakan menjangkau yang lama tersebut juga diperparah jika pegangan dari tenaga tebang tidak stabil sehingga batang tebu sering lepas.
Namun, ada juga gerakan yang membuat elemen ini menjadi lebih cepat, yaitu ketika tenaga tebang menggunakan goloknya untuk menjangkau. Gerakan ini dapat mempercepat waktu elemen gerak menjangkau sampai 0,57 detik.
Berdasarkan uji-t yang dilakukan, didapatkan bahwa waktu menjangkau antara pria dan wanita tidak berbeda nyata, sehingga dapat disimpulkan bahwa lama waktu menjangkau tidak dipengaruhi oleh faktor gender. Hal ini terjadi karena kemungkinan besar gerakan ini tidak membutuhkan banyak tenaga.
b. Gerakan Menebang
Gerakan menebang rata-rata membutuhkan waktu 1,18 detik untuk tenaga tebang wanita dan 1,15 detik untuk tenaga tebang pria.
Gerakan ini merupakan gerakan yang juga hanya membutuhkan sedikit tenaga. Selain karena golok yang digunakan tidak terlalu berat (400-550 gram) jenis tebu yang ditanam di areal PG. Bungamayang rata-rata
merupakan jenis PS 851 dan PS 864 yang memiliki karakteristik batang cukup lunak, sehingga mudah untuk dipotong.
Ada beberapa gerakan yang menyebabkan elemen gerak ini menjadi lebih lama. Gerakan pertama adalah jika tenaga tebang memotong tebu dalam beberapa kali ayunan golok. Hal tersebut dilakukan biasanya karena tenaga tebang tersebut menebang beberapa batang tebu sekaligus. Gerakan kedua adalah jika tenaga tebang tersebut menjangkau tebu lain sambil menebang. Tindakan ini tentu saja memperlama elemen gerak menebang, karena akan memecah konsentrasi dari operator. Selain itu dalam proses menebang, ada tenaga tebang yang memiliki kebiasaan membersihkan serasah terlebih dahulu sambil membetulkan peganggan pada batang tebu sehingga membuat elemen gerak menebang juga menjadi lebih lama.
Selain gerakan yang membuat elemen gerak menebang menjadi lebih lama, ada juga gerakan yang membuat elemen gerak ini menjadi lebih cepat. Gerakan tersebut adalah ketika tenaga tebang langsung melakukan dua gerakan sekaligus, yaitu tenaga tebang menjangkau tebu dengan tangan kiri sambil memotong batang tebu tersebut dengan tangan kanan. Dari hasil pengukuran, gerakan ini dapat dilakukan hanya dalam 0,67 detik.
Berdasarkan uji-t yang dilakukan, didapatkan bahwa waktu menebang antara pria dan wanita tidak berbeda nyata, sehingga dapat disimpulkan bahwa lama waktu menebang tidak dipengaruhi oleh faktor gender. Hal ini terjadi karena kemungkinan besar gerakan ini tidak membutuhkan banyak tenaga.
c. Gerakan Menarik Batang Tebu
Tenaga tebang pria dapat melakukan gerakan ini dalam waktu 2,02 detik. Sedangkan tenaga tebang wanita melakukan gerakan ini dalam waktu 2,30 detik atau 0,28 detik lebih lama dari pria.
Gerakan-gerakan yang menyebabkan elemen ini menjadi lebih lama adalah ketika tenaga tebang menarik batang tebu lebih dari 1
batang tebu. Selain itu gerakan menarik ini juga akan menjadi lebih lama jika batang tebu yang ditebang bengkok, sehingga cukup menyusahkan ketika ditarik karena banyak yang tersangkut dengan batang tebu lain.
Berdasarkan uji-t yang dilakukan, didapatkan bahwa waktu menarik antara pria dan wanita tidak berbeda nyata, sehingga dapat disimpulkan bahwa lama waktu menarik tidak dipengaruhi oleh faktor gender. Hal ini terjadi karena kemungkinan besar gerakan ini tidak membutuhkan banyak tenaga.
d. Gerakan Membersihkan Trash
Gerakan ini juga merupakan gerakan yang membutuhkan cukup banyak tenaga untuk melakukannya. Hal ini dikarenakan selain untuk mengayunkan golok pada posisi lebih tinggi, juga karena tangan kiri harus menahan batang tebu pada posisi yang tetap (kerja statis). Untuk melakukan gerakan ini, tenaga tebang pria memerlukan waktu 1,80 detik, sedangkan tenaga tebang wanita memerlukan waktu 2,17 detik.
Kesimpulan tersebut didukung dengan hasil uji-t yang dilakukan.
Berdasarkan uji-t yang dilakukan, didapatkan bahwa waktu membersihkan antara pria dan wanita berbeda nyata, sehingga dapat disimpulkan bahwa lama waktu membersihkan dipengaruhi oleh faktor gender.
Gerakan-gerakan yang memperlama gerakan ini adalah ketika bertemu dengan batang tebu yang sangat kotor, sehingga waktu membersihkannya menjadi lebih lama. Lalu ketika batang tebu yang sedang dibersihkan sering jatuh, karena pegangan operator yang tidak stabil karena terlalu berat atau karena jumlah tebu yang dipegang terlalu banyak.
Gerakan yang mempercepat elemen gerak ini adalah ketika tenaga tebang melakukan dua gerakan sekaligus yaitu membersihkan trash sambil menarik batang tebu. Lalu ketika tenaga tersebut sudah membersihkan serasah dan pucuk daun ketika akan menebang.
e. Gerakan Meletakkan Hasil Tebang
Gerakan meletakkan tidak terlalu membutuhkan tenaga yang banyak, karena tenaga tebang hanya mengarahkan tebu yang telah bersih ke arah tumpukan tebu lalu melemparkannya. Tenaga tebang pria membutuhkan waktu 0,90 detik,sedangkan tenaga tebang wanita hanya membutuhkan waktu 0,93 detik. Tenaga tebang pria dapat melakukan gerakan ini lebih cepat 0,03 detik karena pada gerakan ini ada gerakan melempar yang cukup membutuhkan tenaga walaupun hanya untuk sesaat.
Hal yang memperlama gerakan ini adalah ketika operator berjalan ke arah tumpukan tebu untuk meletakkan hasil tebangan.
Selain itu jika operator sambil membersihkan sudah memutar tubuhnya ke arah tumpukan tebu, maka elemen gerakan meletakkan akan menjadi lebih cepat.
Berdasarkan uji-t yang dilakukan, didapatkan bahwa waktu meletakkan antara pria dan wanita tidak berbeda nyata, sehingga dapat disimpulkan bahwa lama waktu meletakkan ini tidak dipengaruhi oleh faktor gender. Hal ini terjadi karena kemungkinan besar gerakan ini tidak membutuhkan banyak tenaga.
f. Gerakan Menganggur
Gerakan menganggur ini merupakan gerakan yang dipengaruhi oleh motivasi dari tenaga tebang dalam bekerja. Tenaga tebang pria rata-rata menghabiskan waktu untuk menganggur selama 3,28 detik, sedangkan tenaga tebang wanita lebih sedikit menganggur yaitu selama 2,41 detik. Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa motivasi tenaga tebang wanita untuk bekerja dapat dikatakan lebih besar daripada pria. Hal tersebut terjadi karena hampir sebagian besar tenaga tebang pria hanya menganggap bahwa pekerjaan ini hanyalah pekerjaan sambilan.
Hal ini didukung dengan hasil perhitungan uji-t yang dilakukan.
Berdasarkan uji-t yang dilakukan, didapatkan bahwa waktu
menganggur antara pria dan wanita tidak berbeda nyata, sehingga dapat disimpulkan bahwa lama waktu menganggur tidak dipengaruhi oleh faktor gender.
Banyak gerakan-gerakan kurang perlu yang dilakukan oleh para tenaga kerja selama bekerja, seperti mengobrol dengan teman, merokok, berjalan-jalan karena letak tumpukan terlalu jauh. Selain itu ada beberapa kegiatan yang memang terjadi karena tuntutan tugas, seperti membersihkan serasah yang ada di tanah atau ketika membersihkan serasah pada tebu yang masih berdiri, yang membutuhkan waktu selama 7,23 detik. Memotong sogolan juga merupakan keterlambatan yang tidak dapat dihindarkan. Kegiatan ini rata-rata memerlukan waktu selama 6 detik.
Berdasarkan waktu siklus dari masing-masing segmen gerakan di atas, dapat diambil waktu siklus rata-rata. Tenaga tebang pria membutuhkan waktu 10,10 detik untuk menyelesaikan satu siklus pekerjaannya, sedangkan tenaga tebang wanita hanya membutuhkan waktu 10,01 detik untuk menyelesaikan satu siklus pekerjaannya.
4. Waktu Baku
Seorang operator dianggap bekerja secara wajar jika seorang operator yang dianggap berpengalaman bekerja tanpa usaha-usaha yang berlebihan sepanjang hari kerja, menguasai cara kerja yang ditetapkan dan menunjukkan dalam menjalankan pekerjaannya. Teknik yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan cara westinghouse. Waktu siklus rata-rata yang telah didapatkan harus melewati 2 faktor pertimbangan terlebih dahulu, yaitu faktor penyesuaian dan faktor kelonggaran.
a. Faktor Penyesuaian
Faktor penyesuaian ini terdiri dari 4 faktor yang menyebabkan kewajaran atau ketidakwajaran dalam bekerja, yaitu keterampilan,
usaha, kondisi kerja dan konsistensi. Definisi dari masing-masing faktor ini dapat dilihat pada Lampiran 15.
Keterampilan atau skill didefinisikan sebagai kemampuan mengikuti cara kerja yang ditetapkan. Berdasarkan ciri-ciri dari setiap kelas ketrampilan maka tenaga tebang pria memiliki ketrampilan mulai dari poor F2 (+0,11) sampai dengan excellent B1 (-0,22), sedangkan untuk tenaga tebang wanita bervariasi mulai dari fair E1 (-0,05) sampai excellent B1(+0,11). Tenaga tebang yang masuk dalam kategori poor memiliki karakter ragu-ragu dalam melakukan pekerjaanya, gerakannya kaku dan seperti yang tidak terlatih untuk pkerjaan tebang tebu. Sedangkan excellent dipilih karena tenaga tersebut memiliki karakter bekerja cepat tetapi halus, berirama dan terkoordinasi.
Usaha yang dimaksud adalah kesungguhan yang ditunjukkan oleh operator ketika bekerja. Berdasarkan ciri-ciri dari setiap kelas, maka usaha tenaga tebang pria bervariasi dari poor F2 (-0,17) sampai Excellent B2 (+0,08), sedangkan tenaga tebang wanita bervariasi mulai dari fair E1 (-0,04) sampai Excellent B1 (+0,10). Tenaga tebang pria yang masuk dalam kategori poor karena banyak membuang waktu dan terlihat tidak adanya minat pada pekerjaannya. Sedangkan tenaga tebang yang masuk kategori Excellent karena bekerjanya sistematis dan gerakan-gerakannya lebih ekonomis daripada operator-operator yang lain.
Kondisi kerja diberi nilai yang sama untuk semua tenaga tebang, karena memiliki karakteristik tempat kerja yang sama, yaitu fair (-0,03). Hal tersebut dipilih karena tenaga tebang bekerja pada tempat yang panas, berdebu dan silau. Untuk faktor konsistensi tersebar mulai dari poor (-0,04) sampai excellent (+0,03).
b. Faktor Kelonggaran
Kelonggaran diberikan untuk tiga hal, yaitu kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatigue, dan hambatan-hambatan yang tidak dapat
dihindarkan. Definisi dari masing-masing faktor ini dapat dilihat pada Lampiran 16.
Kelonggaran waktu untuk kebutuhan pribadi yang diberikan adalah sebesar 5% untuk wanita dan 2% untuk pria. Besarnya kelonggaran ini diberikan karena operator bekerja secara terus-menerus selama ± 8 jam tanpa istirahat resmi.
Faktor kelonggaran untuk menghilangkan rasa fatigue dilihat dari beberapa faktor yang berpengaruh. Faktor yang pertama adalah tenaga yang dikeluarkan. Dari hasil perhitungan beban kerja dengan metode denyut jantung, didapatkan hasil bahwa pekerjaan tebang tebu ini termasuk ke dalam aktivitas kerja berat. Oleh karena itu nilai kelonggaran untuk faktor tenaga ini adalah sebesar 20% untuk pria dan 30% untuk wanita. Faktor kedua adalah sikap kerja. Nilai yang diberikan adalah sebesar 4% baik untuk pria maupun wanita. Angka diberikan karena sebagian besar sikap kerja dari pekerjaan ini adalah membungkuk dan bertumpu pada kedua kaki. Faktor ketiga adalah gerakan kerja. Pada faktor ini diberikan nilai 0% baik pada pria maupun wanita karena dianggap pekerjaan ini masih melakukan gerakan-gerakan kerja yang normal. Faktor keempat adalah kelelahan mata. Nilai yang diberikan sebesar 0% karena tenaga tebang tidak terus-terusan memadang objek. Faktor kelima adalah temperatur. Nilai yang diberikan adalah 8% karena rata-rata suhu pada tempat kerja adalah 31oC. Faktor keenam adalah keadaan atmosfer. Nilai yang diberikan adalah 5%, karena pada tempat kerja terdapat debu-debu, tetapi tidak beracun. Faktor yang ketujuh adalah keadaan lingkungan.
Nilai yang diberikan adalah sebesar 1 %, karena pekerjaan ini memiliki siklus kerja yang berulang-ulang lebih dari 5 detik.
Faktor kelonggaran waktu untuk hambatan-hambatan yang tak terhindarkan diberikan nilai sebesar 5 %.
Dari perhitungan faktor penyesuaian dan faktor kelonggaran di atas, didapatkan bahwa waktu baku untuk menyelesaikan pekerjaan tebang
tebu bagi tenaga tebang pria adalah 14,49 detik, sedangkan untuk tenaga tebang wanita selama 14,88 detik. Perhitungan lengkap mengenai waktu baku ini dapat dilihat pada Lampiran 17 dan 18.
C. Analisis Biomekanika
Biomekanika didefinisikan sebagai bidang ilmu aplikasi mekanika pada sistem biologi (Arifin, 2008). Nilai dari analisa biomekanika adalah rentang postur atau posisi aktivitas kerja, ukuran beban dan ukuran manusia yang dievaluasi. Analisis biomekanika ini dilakukan untuk membuktikan bahwa gerakan membersihkan trash merupakan gerakan kerja yang banyak membutuhkan tenaga. Sebagai pembanding, perhitungan beban biomekanik juga dilakukan pada gerakan menebang sebagai gerakan yang dianggap tidak membutuhkan banyak tenaga. Selain itu analisis biomekanik ini juga dilakukan untuk mencari postur kerja terbaik, sehingga dapat mengurangi beban kerja yang ditanggung oleh penebang.
Analisis ini hanya dilakukan pada otot bahu karena segmen bahu merupakan segmen yang paling aktif selama melakukan pekerjaan.
Berdasarkan hal ini diperkirakan gaya yang terjadi pada otot tersebut dapat merepresentasikan beban kerja secara keseluruhan dari proses pemanenan.
1. Gerakan Menebang a. Tangan Kanan
Berdasarkan Therbligs, gerakan menebang dimulai dari diangkatnya golok sampai kontak dengan batang tebu. Berdasarkan perhitungan, didapatkan bahwa pada tenaga tebang wanita, otot bahu kanan memiliki karakteristik miografi dengan rentang kerja otot 12,679 N – 69,343 N. Sedangkan untuk tenaga tebang pria didapatkan karakteristik miografi dengan rentang kerja otot sebesar 0,515 N – 42,761 N.
Dapat dilihat bahwa tenaga tebang pria mengeluarkan tenaga lebih kecil dari pada wanita. Hasil ini jika dijelaskan dari postur tubuh ketika bekerja maka akan terlihat bahwa tenaga tebang wanita memiliki sudut bahu dan siku lebih kecil dari pada pria. Selain itu
tenaga tebang wanita juga terlihat lebih membungkuk daripada pria.
Postur tersebut menyebabkan besarnya momen yang terjadi akibat dari semakin besarnya jarak pusat gaya terhadap pusat momen pada sendi bahu (lengan momen), sehingga gaya yang terjadi pada otot pun akan menjadi lebih besar.
Tabel 2. Perbandingan sudut tubuh antara pria dan wanita ketika menebang (kanan)
1 2 3
b s p b s p b s p
Pria 67,94 105,38 76,44 67,69 128,94 77,25 54,88 142,63 77,94
Wanita 65,13 99,13 74,63 69,81 131,06 85,38 41,00 121,06 80,88
Dari Gambar 41 dan Gambar 42 dapat dilihat bahwa antara tenaga tebang pria dan wanita memiliki karakteristik yang sama.
Mengalami penurunan gaya ketika mulai mengayun dan naik ketika mendekati objek. Karakteristik ini disebabkan karena pergerakan sendi dari posisi abduksi ke gerakan adduksi yang menyebabkan perubahan kontraksi otot bahu dari tension ke relaxation. Artinya terjadi pemanjangan otot bahu dari posisi abduksi sampai pada posisi akhir yang menyebabkan terjadinya perubahan arah gaya otot bahu. Hal ini dibuktikan dengan penurunan nilai pada gerakan kedua dan angka minus untuk gerakan ketiga.
Hal yang sama juga terjadi pada gaya reaksi horizontal yang terjadi pada sendi bahu (Rx). Pada awal tebang gaya reaksi ini masih menuju ke badan sebagai akibat momen yang terjadi. Tetapi ketika mengayun, maka gaya reaksi tersebut akan berubah arah untuk mengimbangi momen yang cenderung mengarah ke dalam. Sedangkan untuk gaya reaksi vertikal (Ry) tidak mengalami perubahan arah gaya.
Tetapi mengenai karakter gaya yang terjadi pada gerakan ketiga dapat dijelaskan dengan kebiasaan tenaga tebang wanita yang sedikit menarik golok tebang ke atas, sehingga sudut bahu yang terbentuk menjadi lebih kecil, tetapi hal ini tidak dilakukan oleh tenaga tebang
Ket : b = sudut bahu; s = sudut siku; p = sudut pinggang
pria. Penurunan sudut ini akan mempengaruhi gaya reaksi vertikal pada sendi bahu untuk mengecil, karena gerakan menebang ini lebih banyak terjadi pada kasus 4. Sedangkan pada kasus 4 nilai Ry
dipengaruhi oleh nilai cosinus dari sudut bahu.
0 20 40 60 80 100 120 140 160
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7
Waktu (detik)
Gaya (N) Fm
Rx Ry
Gambar 16. Grafik beban biomekanik pada bahu kanan ketika menebang (Pria)
0 20 40 60 80 100 120 140 160
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7
Waktu (detik)
Gaya (N) Fm
Rx Ry
Gambar 17. Grafik beban biomekanik pada bahu kanan ketika menebang (Wanita)
b. Tangan Kiri
Gerakan memegang ini dimulai dengan selesainya gerakan memegang yang dilakukan sebelumnya. Dari hasil perhitungan
Gerakan memegang ini dimulai dengan selesainya gerakan memegang yang dilakukan sebelumnya. Dari hasil perhitungan