Penulis menyusun kitab fiqih berjudul Seri Fiqih Kehidupan dengan tebal 18 jilid dalam bahasa Indonesia.
Dalam membuat anatomi pemetaannya, Penulis membaginya menjadi tiga bagian utama, yaitu pondasi, bangunan dan atap.
Pembagian ini terispirasi dari hadits Rasulullah SAW, bahwa Islam itu didirikan di atas lima perkara, yaitu semua yang termasuk rukun Islam. Dan di atasnya kemudian ditegakkan bangunan syariat Islam itu sendiri, yang terdiri dari berbagai bentuk ketentuan syariat dalam berbagai pembagiannya lagi.
ع ُملاسيلإا ينُِب
ىل
خ ـ
ش : ٍسم
ه
دا
أ ية
ل ن
هليإ
و ُالله ّليإ
أ ن
ُم
م
اًد
ر
و يالله ُلوُس
قيإ
صلا يما
لا
و ية
اتييإ
اكّزلا يء
و ية
ص
ر يمو
م
ض
نا
و
ح
يّج
بلا
ميل يتي
تسا ين
اط
ع
ليإ
س يهي
لأييب
Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat bahwa tidak ada Tuhan yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan haji ke Baitullah bagi siapa yang mendapatkan jalan ke sana.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Islam ditegakkan di atas lima perkara, tergambar di benak kita bahwa agama Islam itu diibaratkan sebuah bangunan gedung, yang berdiri kokoh dan tegak di atas pondasi-pondasinya.
Rasulullah SAW kemudian menegaskan bahwa kelima pondasi itu adalah syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Dan tentunya Islam bukan terbatas hanya pada kelima pondasinya saja, sebab kelimanya baru sekedar pondasinya, selebihnya justru ada bangunan Islam itu sendiri.
Sehingga untuk menjelaskan bahwa Islam itu mencakup seluruh aspek kehidupan, kita bisa
menggunakan pola pembagian dengan
mengibaratkan sebuah gedung yang terdiri tiga komponen besar.
▪ Pertama : bagian dasar atau pondasi, yang berfungsi sebagai tempat tegaknya bangunan. Rukun Islam yang lima bisa digambarkan sebagai pondasi dari bangunan.
▪ Kedua : bangunannya itu sendiri yang dengan segala macam jenis materialnya. Bangunan itu ditegakkan di atas pondasinya.
▪ Ketiga : bagian pelindung atau atap yang melindungi bagian-bagian di bawahnya dari terik matahari atau hujan. Bagian ini tidak mungkin dihilangkan karena fungsinya untuk melindungi.
1. Bagian Pondasi
Sebagian kalangan yang membuat ilustrasi tentang syumuliyah Islam dengan bentuk gambar yang sama. Namun yang dijadikan sebagai bagian pondasi bukan rukun Islam, melainkan aqidah. Barangkali alasannya karena aqidah itu adalah landasan keislaman. Tentu cara ini sah-sah saja, karena tidak ada nash yang mengatur secara ketat.
Tetapi dalam konteks Ilmu Fiqih, yang dijadikAn sebagai bagian pondasi bukan masalah aqidah. Barangkali karena urusan aqidah dianggap sudah tidak perlu dibahas terlalu jauh. Atau barangkali juga detail permasalahan aqidah ini tidak terlalu rumit.
Apalagi di masa Rasulullah SAW, kita tidak menemukan perdebatan masalah aqidah yang terlalu jauh. Batas antara seorang Arab Jahiliyah dan muslim sebatas ketika dia mengucapkan dua kalimat syahadat.
Apalagi dalam kenyataannya bersyahadat itu sendiri sesungguhnya tidak membutuhkan banyak detail ketentuan, karena cukup hanya melafazkannya saja, dan itu pun terbatas hanya kepada mereka yang sejak awal lahir bukan sebagai muslim, lalu berkeinginan untuk masuk Islam dan memeluknya sebagai agama.
adalah ketika dahulu Rasulullah SAW di masa awal memperkenalkan agama Islam kepada orang-orang yang justru bukan beragama Islam. Sehingga ketika bicara tentang pondasi, syahadat sebagai syarat masuk Islam diletakkan pada nomor urut pertama. Adapun kita yang memang sejak lahir sudah menjadi muslim, tentu tidak perlu lagi bicara tentang syahadat.
Maka ruang lingkup Ilmu Fiqih pada bagian dasar-dasar Islam ini terbatas pada masalah shalat, zakat, puasa dan haji. Namun karena shalat itu mensyaratkan kesucian yang ketentuannya sangat detail, maka biasanya para ulama memasukkan pada bab Thaharah sebelum masuk ke dalam bab Shalat. Maka jadilah pembahasan Ilmu Fiqih pada bagian dasar itu terdiri dari lima kajian besar, yaitu Fiqih Thaharah, Fiqih Shalat, Fiqih Zakat, Fiqih Puasa dan Fiqih Zakat.
1. Fiqih Thaharah
Tema tentang thaharah selalu menjadi bagian pembuka dari umumnya kitab fiqih yang lengkap. Sebab thaharah menjadi syarat dari semua ibadah utama yang bersifat ritual.
Fiqih Thaharah dengan seluruh rincain detail pembahasan yang terkait di dalamnya telah Penulis susun menjadi sebuah buku tersendiri. Penulis membagi pembahasan-pembahasan dalam Fiqih Thaharah menjadi 4 bagian utama, yaitu :
Bagian Pertama Thaharah Bab 1 Islam dan Kebersihan
Bagian Kedua Najis
Bab 1 Pengertian Najis & Pembagiannya Bab 2 Hukum-hukum Terkait Najis Bab 3 Tubuh Manusia & Najis Bab 4 Hewan Yang Najis Bab 5 Bangkai
Bab 6 Najis Yang Diperselisihkan Bab 7 Najis Yang Dimaafkan Bab 8 As-Su’ru
Bab 9 Pensucian Najis
Bab 10 Menyamak Kulit Bangkai Bab 11 Istihalah
Bab 12 Istinja’ Bagian Ketiga Hadats
Bab 1 Hadats
Bab 2 Mengangkat Hadats Bab 3 Jenis Air dan Hukumnya
Bab 4 Wudhu' 1 : Pengertian Hukum & Syarat Bab 5 Wudhu’ 2 : Rukun
Bab 6 Wudhu' 3 : Yang Disunnahkan Bab 7 Wudhu' 4 : Yang Dimakruhkan Bab 8 Yang Membatalkan Wudhu Bab 9 Mengusap Dua Khuff
Bab 10 Mandi Janabah Bab 11 Tayammum
Bagian Keempat Darah Wanita Bab 1 Haidh
Bab 2 Yang Haram Dilakukan Saat Haid Bab 3 Nifas
Bab 4 Istihadhah
Bagian Kelima Fitrah Islam Bab 1 Fitrah
Bab 2 Khitan Bab 3 Parfum
Bab 4 : Kumis dan Jenggot Penutup
Pustaka 2. Fiqih Shalat
Shalat adalah intisari dari semua rangkaian jenis ibadah formal. Dan menjadi salah satu tolok ukur keselamatan kita nanti sewaktu dihisab di hari kiamat, karena merupakan materi yang pertama kali dipertanyakan.
Karena itu sudah menjadi fardhu ‘ain bagi setiap muslim untuk belajar dan mengerti dengan benar bagaimana tata cara shalat, mulai dari pengertian, syarat, rukun, yang membatalkan, apa yang diwajibkan dan apa yang sekedar disunnahkan.
dengan judul : Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat. Dalam detail rinciannya, Penulis membaginya ke dalam 4 bagian besar, yaitu
Bagian Pertama Dasar Shalat
Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat Bab 4 : Waktu-Waktu Shalat
Bab 5 : Tempat Shalat Bab 6 : Syarat-Syarat Shalat Bab 7 : Rukun-Rukun Shalat Bab 8 : Sunnah-Sunnah Shalat Bab 9 : Batalnya Shalat
Bagian Kedua Shalat Berjamaah Bab 1 : Shalat Berjamaah Bab 2 : Imam Shalat Bab 3 : Makmum Bab 4 : Masbuk
Bab 5 : Barisan Makmum
Bab 6 : Mengulang Shalat Jamaah Bab 7 : Adzan
Bab 8 : Iqamah Bab 9 : Shalat Jumat
Bagian Ketiga Shalat Dalam Berbagai Keadaan Bab 1 : Dispensasi Meninggalkan Shalat Bab 2 : Shalat Musafir
Bab 3 : Shalat Di Kendaraan Bab 4 : Mengqashar Shalat Bab 5 : Menjama' Shalat Bab 6 : Mengqadha Shalat Bab 7 : Shalat Orang Sakit Bab 8 : Shalat Memakai Sepatu Bab 9 : Shalat Khauf
Bagian Keempat Shalat Sunnah Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid Bab 3 : Shalat Tarawih
Bab 4 : Shalat Tahajjud Bab 5 : Shalat Witir Bab 6 : Shalat 'Ied Bab 7 : Shalat Dhuha Bab 8 : Shalat Istikharah Bab 9 : Shalat Gerhana Bab 10 : Shalat Jenazah Bab 11 : Shalat Istisqa' Bab 12 : Shalat Tasbih Bab 13 : Shalat Hajat
Bagian Kelima Pelengkap
Bab 1 : Khusyu' Dalam Shalat Bab 2 : Sujud Sahwi
Bab 3 : Sujud Tilawah Bab 4 : Sujud Syukur Bab 5 : Qunut
Bab 6 : Dzikir & Doa Sesudah Shalat Bab 7 : Bersalaman Setelah Shalat Bab 8 : Sifat Shalat Nabi
Bab 9 : Sutrah Dalam Salat Bagian Keenam Fiqih Shalat Wanita
Bab 1 : Wanita Haidh
Bab 2 : Pakaian Shalat Bagi Wanita Bab 3 : Shalat Berjamaah Wanita Bab 4 : Posisi Barisan Wanita
Bab 5 : Wanita Mengimami Laki-Laki 3. Fiqih Zakat
Fiqih Islam dalam tema zakat berbicara tentang pengertian dan dasar kewajiban zakat, juga tentang resiko bagi mereka yang mengingkari kewajiban berzakat.
Namun fiqih zakat juga membahas bahwa tidak semua orang wajib berzakat, karena ada syarat dan ketentuan zakat secara khusus, bahkan ada
semacam kriteria tertentu bagi harta yang wajib dikeluarkan zakatnya.
Intinya, fiqih zakat itu membahas dua tema utama, yaitu tema tentang harta dan jenis kekayaan apa saja yang wajib dikeluarkan zakatnya, dan siapa saja orang yang berhak mendapatkan harta zakat itu. Bagian Pertama Pengertian Dasar Zakat
Bab 1 : Pengertian Bab 2 : Kewajiban Zakat
Bab 3 : Hikmah Zakat & Sedekah Bab 4 : Syarat Pemberi Zakat Bab 5 : Kriteria Harta Zakat
Bab 6 : Kekeliruan Memahami Zakat Bab 7 : Zakat Dan Pajak
Bab 8 : Zakat & Kemiskinan Bab 9 : Mengapa Hanya Zakat? Bagian Kedua Jenis-Jenis Zakat
Bab 1 : Sumber Zakat & Perbedaan Pendapat Bab 2 : Zakat Pertanian
Bab 3 : Zakat Hewan Ternak Bab 4 : Zakat Emas & Perak Bab 5 : Zakat Barang Dagangan Bab 6 : Zakat Rikaz
Bab 7 : Zakat Ma'din Bab 8 : Zakat Al-Fithr
Bab 1 : Zakat Modern Bab 2 : Zakat Uang Kertas Bab 3 : Zakat Profesi
Bab 4 : Zakat Hasil Produksi Bab 5 : Zakat Surat Berharga Bagian Keempat Mustahik Zakat
Bab 1 : Masharif Zakat Bab 2 : Fakir
Bab 3 : Miskin Bab 4 : Amil Zakat Bab 5 : Muallaf Bab 6 : Budak
Bab 7 : Yang Berhutang Bab 8 : Fi Sabilillah Bab 9 : Ibnu Sabil 4. Fiqih Puasa
Secara hukum, syariat puasa yang Allah SWT tetapkan tidak hanya terdiri dari wajib hukumnya, tetapi ada juga puasa yang hukumnya sunnah, bahkan ada puasa yang hukumnya makruh hingga haram.
Ada berbagai ketentuan puasa yang telah digariskan syariah Islam, mulai dari syarat sah, syarat wajib, rukun puasa, apa saja yang membatalkan
puasa, siapa saja yang wajib berpuasa dan siapa saja yang boleh tidak berpuasa, termasuk juga siapa yang justru diharamkan berpuasa.
Penulis telah menyusun masalah-masalah yang terkait dengan berbagai hukum tentang fiqih puasa dalam satu buku tersendiri. Di dalamnya Penulis membagi pembahasan menjadi tiga bagian, yaitu : Bagian Pertama Puasa & Jenis-Jenisnya
Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan Bab 2 : Keutamaan & Hikmah Bab 3 : Puasa Wajib
Bab 4 : Puasa Sunnah Bab 5 : Puasa Makruh Bab 6 : Puasa Haram
Bagian Kedua Hukum-Hukum Puasa Bab 1 : Syarat Puasa
Bab 2 : Rukun Puasa
Bab 3 : Batas Waktu Puasa
Bab 4 : Yang Membatalkan Puasa Bab 5 : Yang Tidak Membatalkan Puasa Bab 6 : Disunnahkan Dalam Puasa Bab 7 : Masa Terlarang Puasa
Bagian Ketiga Keringanan Puasa & Konsekuensinya Bab 1 : Udzur Syar'i Tidak Berpuasa
Bab 4 : Kaffarah
Bagian Keempat Puasa & Ramadhan Bab 1 : Hadits-Hadits Bermasalah Bab 2 : Penentuan Awal Ramadhan Bab 3 : Keistimewaan Ramadhan
Bab 4 : Ramadhan Antara Syariat & Tradisi Bab 5 : I'tikaf
Bab 6 : Lailatul Qadar
Bab 7 : Idul Fithri Antara Syariat & Tradisi 5. Fiqih Haji
Ibadah haji adalah ibadah tertua yang dilakukan oleh makhluk Allah di muka bumi. Ibadah ini bukan hanya disyariatkan sejak masa Nabi Ibrahim alaihissalam yang konon diperkirakan hidup sekitar tahun 1997 – 1822 sebelum masehi. Itu berarti sejak hampir 40 abad yang lalu.
Tetapi di dalam satu riwayat disebutkan bahwa Allah SWT telah membangun Ka’bah sebagai tempat untuk ibadah sejak belum diturunkannya Nabi Adam alaihissalam dan istrinya ke muka bumi.
لّوأ ّنيإ
ىًدُهو اًكرابُم ةّكبيب ييذّلل يساّنليل عيضُو ٍتيب
ينيلماعليّل
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. Ali Imran : 96)
Dalam kitab tafsir Al-Jami’ li-Ahkamil Quran, AL-Imam Al-Qurthubi menukil pendapat Mujahid yang menyebutkan bahwa Allah SWT telah menciptakan tempat untuk ka’bah ini 2000 tahun sebelum
menciptakan segala sesuatu di bumi. 1
Sedangkan Al-Imam Ath-Thabari dalam kitab tafsir Ath-Thabari, menukil pendapat Qatadah yang mengatakan bahwa Ka’bah adalah rumah pertama yang didirikan Allah, kemudian Nabi Adam alaihissalam bertawaf di sekelilingnya, hingga seluruh manusia berikutnya melakukan tawaf seperti
beliau.2
Penulis secara rinci telah menyusun satu kitab yang membahas berbagai detail fiqih haji dan umrah. Di dalamnya Penulis pisahkan antara pembahasan haji dan umrah dalam bagian tersendiri.
Bagian Pertama Ibadah Haji
Bab 1 : Pengertian & Masyru’iyah Bab 2 : Haji Nabi Dalam Hadits Bab 3 : Hukum-hukum Haji Bab 4 : Qiran Ifrad & Tamattu’ Bab 5 : Syarat-syarat Haji Bab 6 : Rukun Haji
Bab 7 : Miqat Haji Bab 8 : Berihram
1 Tafsir Al-Qurthubi jilid 3 hal. 58
Bab 10 : Tawaf Bab 11 : Sa’i
Bab 12 : Al-Halq & At-Taqshir Bab 13 : Wajib Haji
Bab 14 : Sunnah & Mustahab Haji Bab 15 : Jadwal Perjalanan Haji Bab 16 : Haji Untuk Orang Lain Bab 17 : Fawat & Ihshar
Bab 18 : Haji Empat Mazhab Bagian Kedua Ibadah Umrah
Bab 1 : Umrah Rasulullah SAW Bab 2 : Pengertian & Pensyariatan Bab 3 : Syarat & Rukun Umrah Bab 4 : Miqat Umrah
Bab 5 : Tempat-tempat Penting Bagian Ketiga Masalah Fiqih Terkait Haji
Bab 1 : Wudhu atau Tayammum di Pesawat Bab 2 : Shalat di Pesawat
Bab 3 : Batal Wudhu Saat Tawaf Bab 4 : Obat Penunda Haidh Bab 5 : Mahram Jamaah Wanita Bab 6 : Pembiayaan Haji
Bab 8 : Haji di Masa Lalu & Kini Bab 9 : Unsur Budaya dalam Haji Bab 10 : Badal Haji
2. Bagian Bangunan
Bagian yang kedua dari Islam adalah bagian bangunan itu sendiri, yang berdiri tegak di atas pondasi-pondasinya. Inilah yang merupakan batang tubuh dan esensi agama Islam, yaitu segala ketentuan Allah SWT di dalam seluruh aspek kehidupan mencakup tema :
▪ Fiqih Muamalat ▪ Fiqih Pernikahan
▪ Fiqih Makanan (kuliner)
▪ Fiqih Pakaian, Perhiasan dan Rumah ▪ Fiqih Sembelihan
▪ Fiqih Masjid ▪ Fiqih Kedokteran ▪ Fiqih Seni dan Hiburan ▪ Fiqih Mawaris.
1. Fiqih Muamalat
Fiqih muamalat mencakup harta kekayaan dan akad-akad pertukaran antara sesama pemilik harta. Ada banyak bentuk-bentuk transaksi muamalat.
Yang paling utama adalah semua hal yang terkait dengan proses jual-beli dan semua bentuknya, seperti ketentuan tentang jual-beli, riba, kredit,
gadai, akad salam, akad istishna', akad penyewaan, bai` bits-tsaman ajil, hawalah, uang muka, future komoditi, multi level marketing, dan termasuk juga hukum tentang bursa saham.
Selain itu fiqih muamalat juga mencakup hal-hal yang terkait dengan kerjasama dalam usaha, seperti syarikah, mudharabah, muzara'ah, mukhabarah, musaqat. Termasuk juga mengatur segala hal yang terkait dengan harta milik bersama yang disebut syuf'ah, dan juga tentang ketentuan tentang mewakilkan kepada pihak lain yang disebut dengan akad wakalah.
Fiqih muamalat juga berbicara tentang
pemberian hak kepada pihak lain tanpa pengganti atau pembayaran, seperti pinjaman, titipan, kafalah, waqaf, hingga bagaimana ketentuan bila seserang menemukan barang milik orang lain yang tercecer, yaitu luqathah, atau bila seorang anak yang hilang dari orang tuanya lantas ditemukan (laqith).
Dan terakhir, fiqih muamalat terkait dengan
praktek-praktek permainan keuangan yang
bermasalah, seperti judi, kuis & undian berhadiah, merampas, suap atau sogok, reksadana, asuransi, dan juga tentang hak cipta.
Penulis sudah menuliskan fiqih Muamalat ini dalam satu buku tersendiri, dan pembasan di dalamnya terdiri dari :
Bagian Pertama Jual-beli Bab 1 : Jual-beli
Bab 3 : Perdagangan Bab 4 : Akad Kredit Bab 5 : Akad Salam Bab 6 : Akad Istishna' Bab 7 : Perantara Bab 8 : Uang Muka Bab 9 : Penyewaan Bab 10 : Lelang
Bagian Kedua Praktek Haram Bab 1 : Jual-beli Terlarang Bab 2 : Riba
Bab 3 : Judi Bab 4 : Ghashb Bab 5 : Korupsi Bab 6 : Suap
Bagian Ketiga Kerjasama Bab 1 : Syarikah Bab 2 : Mudharabah Bab 3 : Gadai
Bab 4 : Wakalah Bab 5 : Hawalah Bagian Keempat Sosial
Bab 2 : Titipan Bab 3 : Luqathah
Bab 4 : Anak Ditemukan Bab 5 : Waqaf
Bagian Kelima Muamalat Kontemporer Bab 1 : Bunga Bank
Bab 2 : Kartu Kredit Bab 3 : Asuransi Bab 4 : Pajak
Bab 5 : Multi Level Marketing Bab 6 : Dropshipping & Reselling Bab 7 : Kuis & Undian Berhadiah Bab 8 : Hak Cipta
Bab 9 : Bursa Saham Bab 10 : Future Komoditi 2. Fiqih Pernikahan
Di dalam Ilmu Fiqih klasik, wilayah ini sering disebut juga dengan masalah al-ahwal asy-syakhshiyah. Namun disini kita membatasinya dengan istilah fiqih nikah yang terdiri dari masalah pernikahan dengan segala ketentuannya, seperti hukum, syarat, rukun, khitbah, wanita yang haram dinikahi, kewajiban dan hak yang terdapat baik pada suami atau pun pada istri.
Selain itu juga terkait dengan berbagai macam bentuk pernikahan yang bermasalah, seperti nikah
muhallil, nikah jahiliyah, menikahi mantan pezina, hukum berpoligami serta masalah pembatasan kelahiran.
Dan tentu dalam fiqih nikah harus dibahas hal-hal yang terkait dengan terurainya ikatan pernikahan, seperti talak dengan segala ketentuan dan jenisnya yaitu khulu’, ilaa’, li’an, dan dzhihar. Serta hal-hal yang terkait dengan talak seperti iddah dan rujuk. Bagian Pertama Pernikahan
Bab 1 : Pengertian & Anjuran Menikah Bab 2 : Hukum Pernikahan
Bab 3 : Wanita Yang Haram Dinikahi Bab 4 : Memilih Calon Pasangan Bab 5 : Khitbah
Bab 6 : Rukun Syarat & Sunnah Bab 7 : Wali Nikah
Bab 8 : Saksi Nikah Bab 9 : Ijab Qabul
Bab 10 : Walimatul `Urs
Bab 11 : Kewajiban Suami Istri Bab 12 : Mahar
Bab 13 : Nafkah Bab 14 : Jima’
Bab 16 : Perkawinan Para Nabi Bagian Kedua Pernikahan Bermasalah
Bab 1 : Pernikahan Lain Agama Bab 2 : Nikah Mut’ah
Bab 3 : Nikah Dengan Niat Talak Bab 4 : Nikah Siri
Bab 5 : Nikah Muhallil
Bab 6 : Menikahi Wanita Berzina & Hamil Bab 7 : Poligami
Bagian Ketiga Terurainya Ikatan Pernikahan Bab 1 : Terurainya Ikatan Pernikahan Bab 2 : Pengertian Talak, Hukum & Rukun Bab 3 : Pembagian Talak
Bab 4 : Talak Islam dan Luar Islam Bab 5 : Nusyuz Bab 6 : 'Iddah Bab 7 : Rujuk Bab 8 : Fasakh Bab 9 : Khulu’ Bab 10 : Ilaa' Bab 11 : Dzhihar Bab 12 : Li’an 3. Fiqih Kuliner
makanan ini penting lantaran terkait dengan ancaman Allah SWT tentang orang yang tumbuh dagingnya dengan makanan haram, doanya tidak diterima dan tubuhnya hanya akan menjadi santapan api neraka.
Berdasarkan sumbernya, apa yang masuk ke dalam mulut kita terbagi menjadi dua macam, yaitu makanan yang terbuat dari hewan dan yang bukan. Sedangkan berdasarkan illatnya, ada makanan yang haram secara dzatnya, dan ada yang haram karena cara mendapatkannya.
Bagian Pertama Pengantar
Bab 1 : Karakteristik Kehalalan Makanan Bab 2 : Khilafiyah Kehalalan Makanan Bab 3 : Label Halal
Bab 4 : Hikmah Menghindari Makanan Haram Bab 5 : Kriteria Umum Haramnya Makanan Bagian Kedua Najis
Bab 1 : Pengertian Najis
Bab 2 : Makanan Terbuat Dari Benda Najis Bagian Ketiga Khamar
Bab 1 : Pengertian Khamar
Bab 2 : Hukum-hukum Yang Terkait Dengan Khamar
Bab 3 : Khamar Atau Bukan? Bab 4 : Khamar & Alkohol
Bagian Keempat Makanan Madharat Bab 1. Pengertian Madharat Bab 2 : Rokok
Bagian Kelima Hewan Yang Diharamkan Bab 1 : Diharamkan Secara Eksplisit Bab 2 : Hewan Najis
Bab 3 : Bangkai
Bab 4 : Penyembelihan Syar’i Bab 5 : Sembelihan Ahli Kitab Bab 6 : Hewan Dua Alam Bab 7. Hewan Buas
Bab 8 : Diperintah & Dilarang Untuk Membunuhnya
Bab 9 : Al-Khabaits
Bab 10 : Hewan Yang Dihalalkan Bab 11 : Hewan Yang Diperselisihkan Bab 12 : Kehalalan Hewan Buruan Bagian Keenam Tambahan
Bab 1 : Makanan Haram Untuk Penyembuhan Bab 2 : Adab Makan Minum
Bab 3 : Menu Makanan Rasulullah SAW Bab 4 : Alat Perlengkapan Makan
4. Fiqih Pakaian, Perhiasan & Rumah
Fiqih pakaian mencakup tentang segala ketentuan Allah SWT dalam hal berpakaian, mulai
berpakaian. Dan jenis-jenis pakaian apa saja yang termasuk dilarang dalam agama.
Selain itu fiqih pakaian juga juga mencakup tentang hukum-hukum yang terkait dengan perhiasan yang dikenakan dengan segala macam jenis dan coraknya, seperti hukum yang terkait dengan rambut, misalnya tentang masalah mewarnai, mengecat, memotong, mengeriting, merebonding, dan seterusnya.
Urusan hiasan juga terkait dengan hukum membuat tato, tahi lalat palsu, kerok wajah, memangkur gigi, tindik dan lainnya.
Sedangkan masalah yang terkait dengan fiqih rumah adalah segala hal yang terkait dengan hukum-hukum dalam penataan rumah dan perabotannya sesuai dengan hukum fiqih. Di antaranya masalah konsep rumah islami dan pernik-perniknya, seperti hukum kredit pembelian rumah yang terkadang mudah terjebak riba.
Kemudian juga terkait dengan masalah hiasan interior dan eksterior rumah, dimana ada berbagai ketentuan fiqih yang boleh dan tidak boleh, seperti adab masuk dan keluar rumah hingga masalah hiasan patung dan gambar makhluk bernyawa. Ada juga masalah hukum memelihara anjing di dalam dan di luar rumah.
Bagian Pertama Pakaian
Bab 2 : Pakaian Penutup Aurat Bab 3 : Cadar
Bab 4 : Pakaian Menyerupai Non Muslim Bab 5 : Pakaian Menyerupai Lawan Jenis Bab 6 : Kesucian Bahan Pakaian
Bab 7 : Pakaian Berbahan Sutera Bab 8 : Sombong Dalam Berpakaian Bab 9 : Warna Pakaian & Adabnya Bagian Kedua Perhiasan
Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan Bab 2 : Emas
Bab 3 : Tato Bab 4 : Rambut Bab 5 : Jenggot Bab 6 : Parfum
Bab 7 : Operasi Kecantikan Bab 8 : Merenggangkan Gigi Bab 9 : Mencukur Bulu dan Alis Bagian Ketiga Rumah
Bab 1 : Konsep Rumah Dalam Islam Bab 2 : Bangunan Rumah & Bagiannya Bab 3 : Perabot Rumah
Bab 4 : Lukisan Makhluk Bernyawa Bab 5 : Pajangan Patung Dalam Rumah
Bab 7 : Hubungan Dengan Tetangga Bab 8 : Memelihara Anjing Dalam Rumah 5. Fiqih Sembelihan
Disebut dengan istilah Fiqih Sembelihan karena pada dasarnya terkait dengan semua hal tentang penyembelihan hewan. Di dalam tema ini, syariat Islam telah menetapkan bagaimana ketentuan dan tata cara penyembelihan hewan, agar menjadi sah dan halal dagingnya. Dan berburu juga termasuk salah satu teknik penyembelihan yang dibenarkan dalam syariat Islam.
Selain untuk kebutuhan memakan daging, menyembelih hewan memang juga menjadi salah satu bagian dari ibadah ritual yang disunnahkan, misalnya penyembelihan hewan 'aqiqah, udhiyah, hadyu dan juga untuk membayar dam.
Bagian Pertama Islam Menyayangi Hewan Bab 1 : Kewajiban Menyayangi Hewan Bab 2 : Antara Penentang & Pendukung Bab 3 : Penyembelihan Sebagai Ritual Agama