BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
D. Pembagian Tugas Perusahaan
Struktur oganisasi diatas memiliki uraian tugas masing-masing sebagai berikut :
a. Direksi
Direksi merupakan kesatuan yang terdiri : a. Direktur Utama
b. Direktur Usaha c. Direktur Teknik d. Direktur Keuangan
e. Direktur Personalia dan Adminitrasi Umum
Direksi mempunyai tugas,wewengan, serta hak dan kewajiban sebagaimana tertuang dalam anggaran dasar perseroan.
b. Direktorat Usaha
Direktorat usaha dipimpin oleh direktur usaha. Direktorat usaha mempunyai tugas menyelenggarakan pembinaan, merumuskan dan melaksanakan kebijakan dibidang pengusahaan pelayanan jasa kapal, pelayanan jasa barang dan penumpang, pengembangan usaha serta pemasaran jasa kepelabuhan.
Direktorat Usaha terdiri dari :
a. Sub direktorat pelayanan jasa kapal
b. Sub direktorat pelayanan jasa barang dan penumpang c. Sub direktorat pengembangan usaha
c. Direktorat Teknik
Direktorat Teknik dipimpin oleh direktur teknik. Direktorat usaha mempunyai tugas membina dan menyusun program perencanaan dan pengembangan pelabuhan, perencanaan konstruksi bagunan pelabuhan, pengadaan peralatan pelabuhan, pemeliharaan bangunan pelabuhan, alat bongkar muat, alat apung dan instalansi teknik, melaksanakan pembinaan terhadap penanganan limbah pelabuhn serta perumusan kebijakan dalam bidang teknik.
Direktorat bidang teknik terdiri dari :
a. Sub Direktorat pengembangan pelabuhan b. Sub Direktorat bangunan pelabuhan c. Sub Direktorat peralatan pelabuhan
d. Direktorat Keuangan
Direktorat keuangan dipimpin oleh direktur keuangan. Direktorat keuangan mempunyai tugas membina, menyelenggarakan, mengendalikan pengelolaan keuangan perseroan, perbendaharaan dan pembinaan usaha kecil dan koperasi sesuai dengan kebijakan perseroan yang telah ditetapkan.
Direktorat Keuangan terdiri dari : a. Sub direktorat akuntansi manajemen b. Sub direktorat akuntansi keuangan c. Sub direktorat perbendaharaan
e. Direktorat Personalia dan Adminitrasi Umum
Direktorat personalia dan adminitrasi umum dipimpin dengan direktur personalia dan adminitrasi umum. Direktorat peronalia dan adminitrasi umum mempunyai tugas membina dan melaksanakan pengembangan sumber daya manusia, pengelolahan adminitrasi sumber daya manusia, kesejahteraan, olaraga dan kesenian, keselamatan kerja, hukum, organisasi dan tata laksana, hubungan masyarakat, hubungan internasional dan antar lembaga, kerumah tanggaan, perlengkapan kantor sesuai kebijaksanaan yang telah ditetapkan.
Direktorat personalia dan Adminitrasi Umum terdiri dari : a. Sub direktorat sumber daya manusia
b. Sub direktorat hukum dan hubungan masyarakat c. Sub direktorat umum
f. Biro perencanaan, Informasi dan Pengembangan Mutu
Biro perencanaan, informasi dan pengembangan mutu dipimpin oleh kepala biro dan bertanggung jawab kepada direktur Utama. Biro perencanaan, informasi dan pengembangan mutu mempunyai tugas mengkoordinasikan dan memadukan perencanaan yang disusun oleh masing-masing direktorat.
Biro perencanaan, informasi dan pengembangan mutu terdiri dari : a. Bagian perencanaan dan pengembangan
b. Bagian sistem dan teknologi informasi c. Bagian pengembangan mutu
g. Satuan Pengawasan Intern
Satuan pengawasan intern dipimpin oleh kepala satuan pengawasan intern dan bertanggung jawab kepada direktur utama. Satuan pengawasan intern mempunyai tugas membatu direktur utama dalam mengadakan penilaian atas sistem pengendalian, pengelolaan manajemen dan pelaksanaan tugas oleh seluruh unit organisasi dilingkungan perseroan sesuai dengan rencana dan program kerja serta kebujaksanaan yang telah ditetapkan oleh direksi berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Pengawasan Intern Perseroan dilaksanakan oleh : a. Pengawasan bidang usaha
b. Pengawasan bidang teknik c. Pengawasan bidang keuangan
d. Pengawasan bidang personalia dan adminitrasi umum
h. Staf Khusus Direksi
Berbagai perubahan lingkungan strategi perseroan yang berlangsung cepat dan sangat dinamis, serta berbagai regulasi khususnya mengenai otonomi daerah dan regulasi dibidang kepelabuhan yang dapat menimbulkan ancaman dan tantangan terhadap eksestensi perseroan, maka diperlukan
perhatian, pemantauan dan evaluasi secara khusus serta pengambilan keputasan secara cepat dan tepat.
Dinamika yang cepat dan dampak implikasinya aspek yang luas mengakibatkan pelaksanaan fungsi dan tugas tersebut tidak dapat ditampung dalam jalur ini, organisasi struktual yang fungsinya bersifat baku. Berdasarkan tugas, wewengan serta hak dan kewajiban direksi, direksi berwewengan mengangkat staf khusus direksi yang bertugas untuk membantu direksi secara langsung dalam rangka mengevaluasi secara mendalam terhadap berbagai dampak implikasi yang berpengaruh terhadap eksistensi perseroan.
BAB V
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Kebijakan Perpajakan pada PT Pelindo IV (Persero) Makassar Berdasarkan catatan yang diperoleh dilokasi penelitian yaitu kebijakan akuntansi pada PT Pelindo IV (Persero) Makassar mengenai perlakuan perpajakan :
a. PT Pelindo IV (Persero) Makassar menghitung pajak penghasilan berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi (PSAK) No.46 tentang (Revisi 2010) “Pajak Penghasilan”. Penerapannya tidak menimbulkan perubahan besar terhadap pelaporan keuangan dan pengungkapannya dalam laporan keuangan.
b. Beban pajak kini ditentukan berdasarkan laba kena pajak dalam periode yang bersangkutan yang dihitung berdasarkan tarif pajak yang berlaku.
c. Aset dan liabilits pajak tangguhan diakui atas konsekuensi pajak periode mendatang yang timbul dari perbedaan jumlah tercatat aset dan liabilitas menurut laporan keuangan dengan dasar pengenaan pajak aset dan liabilitas. Liabilitas pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer (beda waktu) kena pajak dan aset pajak tangguhan diakui untuk perbedaan temporer yang boleh dikurangkan, sepanjang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi laba kena pajak pada masa datang
d. Pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku atau secara subtansial telah berlaku pada tanggal neraca.
62
Dari kebijakan akuntansi pada PT Pelindo IV (Persero) Makassar mengenai perlakuan perpajakan diatas, maka peneliti berpendapat bahwa :
a. Pada Perusahaan PT Pelindo IV (Persero) Makassar dalam penyajian laporannya harus sesuai dengan Standar Akuntansi yang berlaku umum sehingga dalam perhitungan pajak penghasilannya diatur berdasarkan Penerapan PSAK No. 46, dimana PSAK 46 mengatur perlakuan akuntansi untuk pajak penghasilan yang merupakan standar yang mengatur perlakuan akuntansi pajak penghasilan dengan menerapkan pendekatan neraca. Pendekatan neraca mengakui adanya kewajiban dan aktiva pajak tangguhan terhadap konsekuensi fiskal masa depan sebagai akibat adanya perbedaan waktu dan sisa kerugian yang belum dikompensasikan.
b. Perhitungan beban pajak harus berdasarkan laba pajak yang telah di peroleh dan diperhitungkan sesuai dengan tarif pajak yang telah ditentukan dalam undang-undang perpajakan.
c. Penerapan PSAK No.46 mengakibatkan munculnya akun baru yaitu aktiva pajak tangguhan yang menambah jumlah aktiva perusahaan sebagai akibat dari adanya manfaat pajak tangguhan yang mengurangi beban pajak perusahaan dan ada pula manfaat pajak tangguhan juga mengakibatkan bertambahnya laba perusahaan sehingga meningkatkan ekuitas perusahaan.
d. Hubungan Laporan Keuangan Fiskal Dengan Laporan Keuangan Komersial Terdapat pembukuan ganda terhadap pos-pos yang berbeda
(timing difference) antara ketentuan perpajakan dengan standar akuntansi komersial untuk kontinuitas rekonsiliasi. Perhitungan PPh berdasarkan laba akuntansi dan laba kena pajak (perpajakan) menimbulkan selisih, dicatat pada pos aktiva lain-lain di Neraca, yang secara teoritis dialokasikan dari waktu ke waktu.
Jadi kebijakan perpajakan yang ditetapkan oleh perusahan merupakan dasar perhitungan pajak penghasilan sebab perlakuan akuntansi terhadap koreksi fiskal atas berbagai perbedaan secara komersil dengan secara pajak, karena adanya beda tetap maupun beda waktu, atau berupa koreksi positif maupun koreksi negatif yang mempengaruhi laba pajak.
B. Perhitungan PPh Badan Pada PT. Pelindo IV (Persero) Makassar Laporan keuangan fiskal adalah laporan keuangan yang disusun sesuai dengan peraturan perpajakan dan digunakan untuk keperluan penghitungan pajak. Undang-undang pajak tidak mengatur secara khusus bentuk dari laporan. Salah satu upaya yang perlu dilakukan perusahaan adalah dengan melakukan koreksi fiskal yang bertujuan untuk menyajikan pelaporan keuangan komersil agar penyajiannya sesuai dengan Undang-Undang Perpajakan No. 36 tahun 2008 tentang pajak penghasilan badan.
Sebelum dilakukan perhitungan PPh pasal 25 khususnya pada perusahaan PT. Pelindo IV (Persero) Makassar, maka terlebih dahulu akan disajikan laporan koreksi fiskal. Analisis koreksi fiskal adalah untuk mengetahui perbedaan waktu dan perbedaan tetap atau menurut laba komersial
dengan laba menurut fiskal. Menurut Resmi, Siti (2013) yang menyatakan bahwa perbedaan yang bermanfaat tetap dapat meliputi: penghasilan bunga bank, penghasilan dividen, biaya sumbangan termasuk zakat oleh Badan Amil Zakat yang dibentuk atau disajikan oleh pemerintah, biaya dalam bentuk natura, denda dan bunga pajak. Sedangkan menurut peraturan perpajakan tidak sesuai biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dibebankan pada penjualan tertentu dalam periode tertentu, biaya-biaya tersebut dapat meliputi; biaya sumbangan, biaya dalam bentuk natura, denda dan bunga pajak. Sedangkan dalam perbedaan sifatnya sementara biaya penyusutan, biaya kerugian piutang (Resmi, Siti 2013).
Sebelum dilakukan penerapan koreksi fiskal, terlebih dahulu akan disajikan uraian item dari masing-masing pelaksanaan koreksi fiskal yaitu sebagai berikut :
1. Biaya penyusutan menurut akuntansi
Besarnya biaya penyusutan menurut akuntansi dapat dihitung dengan berbagai macam metode. Namun dalam penelitian ini, metode yang digunakan oleh perusahaan adalah metode garis lurus. Besarnya biaya penyusutan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Bangunan gedung
Besarnya biaya penyusutan untuk bangunan gedung adalah sebagai berikut :
Rp. 9.928.694.400 - Rp. 3.351.126.400 = Rp. 328.878.400 20 tahun
Rp. 11.190.195.660 - Rp. 2.601.311.200 = Rp. 429.444.223 20 tahun
Jadi besarnya biaya penyusutan untuk bangunan gedung per tahun pada tahun 2013 dan 2014 adalah Rp. 328.878.400 dan Rp. 429.444.223
b. Kendaraan
Besarnya biaya penyusutan kendaraan adalah sebagai berikut : Rp. 274.943.252 – Rp. 182.094.364 = Rp. 23.212.222
4 Tahun
Rp. 223.295.240 – Rp. 69.851.716 = Rp. 38.860.881 4 Tahun
Jadi besarnya biaya penyusutan untuk kendaraan per tahun pada tahun 2013 dan 2014 adalah Rp. 23.212.222 dan Rp. 38.860.881
c. Emplemes
Besarnya biaya penyusutan emplemes adalah sebagai berikut : Rp. 586.372.348 – Rp. 324.455.860 = Rp. 65.479.122
4 tahun
Rp. 89.719.960 – Rp. 8.424.880 = Rp. 20.323.770
Jadi besarnya biaya penyusutan untuk emplemes per tahun pada tahun 2013 dan 2014 adalah sebesar Rp. 65.479.122 dan Rp. 20.323.770.
4 tahun
Kemudian untuk menghitung biaya penyusutan menurut Undang-Undang Perpajakan, dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Kelompok 1, untuk aktiva tetap yang masa manfaatnya 4 tahun dan tidak termasuk golongan bangunan, disusutkan dengan tarif 25 % untuk metode garis lurus dan tarif 50 % untuk saldo menurun.
b. Kelompok 2, untuk aktiva tetap tetap yang masa manfaatnya 8 tahun dan tidak termasuk golongan bangunan disusutkan dengan tarif 12,5 %, metode garis lurus dan metode saldo menurun sebesar 25 %.
c. Kelompok 3, untuk aktiva tetap yang masa manfaatnya 16 tahun dan tidak termasuk golongan bangunan disusutkan dengan tarif 6,25 % untuk metode garis lurus dan metode saldo menurun sebesar 12,5 %.
d. Kelompok bangunan yang permanen disusutkan dengan tarif 5 % dan tidak permanen 10 % berdasarkan metode garis lurus.
2. Biaya Penyusutan Menurut Undang-Undang Perpajakan No. 36 tahun 2008
Besarnya biaya penyusutan menurut Undang-Undang Perpajakan No.
36 tahun 2008 dapat diketahui melalui perhitungan di bawah ini : a. Bangunan gedung
Besarnya biaya penyusutan bangunan gedung menurut Undang-Undang Perpajakan No.36 tahun 2008 adalah :
Rp. 9.928.694.400 x 5 % = Rp. 496.434.720 Rp. 11.190.195.660 x 5 % = Rp. 559.509.783
Jadi besarnya biaya penyusutan bangunan gedung per tahun pada tahun 2013 dan 2014 adalah Rp. 496.434.720 dan Rp. 559.509.783
b. Kendaraan
Besarnya biaya penyusutan kendaraan menurut Undang-Undang Perpajakan No. 36 tahun 2008 adalah :
Rp 274.943.252 x 25 % = Rp. 25.118.334 Rp 223.295.240 x 25 % = Rp. 55.823.810
Jadi besarnya biaya penyusutan kendaraan per tahun pada tahun 2013 dan 2014 adalah Rp. 25.118.334 dan Rp. 55.823.810
c. Emplemes
Besarnya biaya penyusutan kendaraan menurut Undang-Undang Perpajakan No. 36 tahun 2008 adalah :
Rp 586.372.348 x 25 % = Rp. 65.479.122 Rp 89.719.960 x 25 % = Rp. 22.429.990
Jadi besarnya biaya penyusutan kendaraan per tahun pada tahun 2013 dan 2014 adalah Rp. 65.479.122 dan Rp. 22.429.990
Berikut ini akan disajikan perbandingan biaya penyusutan menurut perusahaan dan berdasarkan Undang-Undang Perpajakan No. 36 tahun 2008 yang dapat disajikan pada tabel 1.2 yaitu sebagai berikut :
Tabel 1.2
Perbandingan Biaya Penyusutan Menurut Peusahaan dengan Undang-Undang Perpajakan No. 36 Tahun 2008
Per 31 Desember Tahun 2013/2014
No Jenis Harta
Sumber : Data diolah dari PT. Pelindo IV (Persero) Makassar, 2014
C. Analisis Rekonsiliasi Akuntansi Komersial dan Peraturan Perpajakan