BAB II PEMBAGIAN WARISAN DALAM HUKUM ADAT TIONGHOA
D. Pembagian Warisan Dalam Masyarakat Tionghoa
Pembagian warisan oleh pewaris adalah cara bagaimana berpindahnya harta kekayaan yang ditinggalkan oleh pewaris kepada keturunannya baik ketika masih hidup (sebelum terjadinya kematian) ataupun setelah pewaris meninggal dunia (setelah terjadinya kematian).
Tabel I : Waktu Pembagian Warisan Pada Masyarakat Tionghoa di Kecamatan Tanjung Morawa
No. Waktu Pembagian
Jumlah Responden
Persentase
1. Sebelum kematian 8 80%
2. Setelah kematian 2 20%
Jumlah : 10 100%
Sumber : Data Primer
Berdasarkan Tabel I di atas, waktu pembagian warisan pada masyarakat Tionghoa dapat dilakukan setelah terjadinya kematian atau sebelum terjadinya
kematian. Terdapat 8 (delapan) atau 80% responden dari 10 (sepuluh) orang yang memilih melakukan proses pembagian warisan dilakukan sebelum terjadinya kematian dan 2 (dua) atau 20% responden dari 10 (sepuluh) orang lebih memilih melakukan proses pembagian warisan setelah terjadinya kematian.
Proses pembagian warisan yang dilakukan sebelum terjadinya kematian bertujuan agar kelak saat pewaris setelah meninggal dunia, tidak akan terjadi sengketa waris antar sesama ahli waris dan proses pembagian warisan dilakukan oleh pewaris. Dalam melakukan proses pembagian warisan para pewaris dapat membuat surat wasiat dengan cara ditulis tangan sendiri kemudian surat tersebut diberikan kepada istrinya untuk disimpan tanpa sepengetahuan anak-anaknya atau seiring dengan perkembangan zaman surat wasiat dapat dibuat di kantor notaris dengan menghadirkan beberapa saksi tanpa sepengetahuan ahli waris. Surat wasiat ini akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia.††††††††††††††††††
Selain membuat surat wasiat, pewaris juga dapat membagikan warisan dengan cara hibah wasiat atau tunjuk wasiat.
Proses pembagian warisan yang dilakukan setelah terjadinya kematian dilakukan oleh para ahli waris yang ditinggalkan. Artinya, para pewaris menyerahkan kepercayaan kepada ahli waris untuk menguasai dan membagi-bagikan harta warisan yang ditinggalkan. Biasanya hal ini disebabkan berbagai faktor, seperti ahli waris yang hanya ada anak laki-laki saja, atau lebih banyak anak laki-laki dibanding anak perempuan dan pewaris beranggapan bahwa anak perempuan akan dibawa pergi dan ditanggung sepenuhnya oleh suaminya kelak, atau karena memang tidak memiliki anak dan istri sehingga harta warisan yang
††††††††††††††††††
Wawancara dengan Djono Ngatimin, S.H., CPS., sebagai Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Kota Medan, 20 Februari 2019
ditinggalkan memang jelas akan dikuasai oleh siapa nantinya setelah pewaris meninggal dunia misalnya akan dikuasai oleh saudara kandung laki-laki atau saudara kandung perempuan atau ibu dan ayah pewaris.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Sementara itu, menurut KUHPerdata, proses pembagian harta warisan dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu :
1. Proses pembagian harta sebelum meninggal dunia a. Dengan hibah
Dalam Bahasa Belanda hibah disebut “Schenking”, sedangkan dalam Pasal 1666 KUHPerdata menyatakan sebagai berikut :
“Pengibahan adalah suatu persetujuan dengan mana si penghibah menyerahkan suatu barang secara cuma-cuma, tanpa dapat menariknya kembali, untuk kepentingan seseorang yang menerima penyerahan barang itu. Undang-undang hanya mengakui penghibahan-penghibahan antara orang-orang yang masih hidup.”
Penghibahan ini digunakan untuk membedakan dengan pemberian-pemberian lain yang menggunakan surat wasiat, yang baru akan mempunyai kekuatan dan berlaku sesudah Pemberi itu meninggal, dapat atau ditarik kembali olehnya. Hibah menurut KUHPerdata ini ada 2 (dua) jenis, yaitu : hibah dan hibah wasiat yang ketentuan hibah wasiat sering berlaku dalam ketentuan penghibah. Hibah ini tidak termasuk dalam warisan tetapi hanya sebagai pemberian cuma-cuma sebagaimana menurut Pasal 922 KUHPerdata, yaitu :
“Memindahtangankan sesuatu kebendaan kepada salah seorang waris keluarga sedarah dalam garis lurus, baik dengan pembebanan bunga cagak hidup, maupun dengan
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Wawancara dengan Djono Ngatimin, S.H., CPS sebagai Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Kota Medan, 20 Februari 2019
menjanjikan hak pakai hasil, harus dianggap sebagai pemberian atau penghibahan”.
Jika seseorang telah menghibahkan sesuatu kepada anaknya, maka barang-barang yang sudah diberikan itu dapat dikuasai sepenuhnya menjadi hak milik barang tersebut.
b. Dengan wasiat
Pesan atau wasiat dari orang tua kepada para waris ketika hidupnya itu biasanya harus diucapkan dengan terang dan disaksikan oleh para waris, anggota keluarga, dan lain sebagainya. Menurut Pasal 875 KUHPerdata, surat wasiat adalah sebuah akta yang berisi pesan seseorang kepada ahli warisnya tentang apa yang dikehendaki atas harta yang ditinggalkan setelah meninggal dunia. Untuk memberikan wasiat dapat dilakukan dengan 2 (dua) alas hak.
Pertama, dengan alas hak umum yaitu memberikan wasiat dengan tidak ditentukan bendanya secara tertentu. Kedua, dengan alas hak khusus, yaitu memberikan wasiat yang bendanya dapat ditentukan.
Wasiat ini terdiri dari 3 (tiga) jenis, yaitu :
1) Surat wasiat umum, merupakan terstamen yang dibuat oleh seorang notaris. Orang yang akan meninggalkan warisan datang menghadap kepada notaris dan menyatakan hendaknya kepada notaris dengan dihadiri dua orang saksi:
2) Olographis testament, yaitu suatu testament yang ditulis tangan sendiri oleh orang yang akan meninggalkan warisan dan diserahkan kepada notaris untuk disimpan dan dihadiri oleh dua orang saksi;
3) Testament tertutup, merupakan suatu testament yang dibuat sendiri oleh orang yang akan meninggalkan warisan tetapi tidak harus menulis dengan tangannya sendiri, namun harus selalu tertutup dan disegel. Dalam penyerahannya kepada notaris harus dihadiri oleh empat orang saksi.
2. Proses pewarisan setelah pewaris meninggal dunia
Apabila seseorang wafat dengan meninggalkan harta kekayaan maka timbul persoalan apakah harta kekayaan itu akan dibagikan kepada pada ahli waris atau tidak akan dibagi-bagi serta kapan harta kekayaan tersebut dibicarakan.§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Dalam hal jika pewaris meninggalkan wasiat maka para ahli waris yang ditinggalkan dapat menjalankan pernyataan pewaris tentang apa yang dikehendaki setelah meninggal dunia.*******************
E. Kelebihan dan Kekurangan Sistem Pewarisan Masyarakat Tionghoa Berdasarkan norma-norma hukum adat yang berlaku di masyarakat Tionghoa, maka dapat diketahui hal-hal yang menjadi kelebihan dan kekurangan dari sistem pewarisan masyarakat Tionghoa. Dalam hal pembagian harta warisan, biasanya para pewaris membagikan harta warisannya dengan cara membuat surat wasiat, dengan cara hibah, atau dengan cara lisan.†††††††††††††††††††
Dalam hal melalui surat wasiat, wasiat akan dituangkan dalam tulisan biasanya surat/akta wasiat ini ditulis tangan dan kemudian diberikan kepada istrinya atau seseorang
§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Hilman Hadikusuma Buku 2, Op Cit, hal 100
*******************
H.M Idris Ramulyo, “Perbandingan Hukum Kewarisan Islam Dengan Kewarisan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata”, Jakarta, Sinar Grafika, 2004, hal 111
†††††††††††††††††††
Wawancara dengan Djono Ngatimin, S.H., CPS sebagai Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Kota Medan, 20 Februari 2019
yang dianggap dapat dipercaya dalam keluarga, namun seiring perkembangan zaman, wasiat yang dituangkan dalam akta juga dibuat melalui notaris. Hal ini bertujuan agar kelak ketika pewaris meninggal maka para ahli waris tidak akan memperebutkan harta warisan yang ditinggalkan yang pada akhirnya akan menimbulkan sengketa atau konflik antar sesama ahli waris.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Dengan cara hibah, biasanya pewaris akan memberikan harta warisannya ketika masih hidup dan pada saat itu juga harta warisan akan dialihkan ke ahli warisnya, contohnya pewaris yang memberikan sebuah perusahaan kepada ahli warisnya yang pada saat itu juga dan sampai seterusnya harus tetap dikelola. Dengan cara lisan biasanya pewaris akan menghadirkan beberapa keluarga dan kerabat dekat sebagai saksi yang saat proses peralihan harta warisan berlangsung. Selain itu pewaris juga mempertimbangkan keadaan ekonomi ahli warisnya. Artinya apabila pewaris memiliki ahli waris yang keadaan ekonominya kurang mampu maka harta warisan akan diberikan kepadanya dengan anggapan bahwa keadaan ekonomi ahli warisnya itu akan lebih sejahtera atau meningkat dari sebelumnya.
Adapun kekurangan dalam sistem pewarisan masyarakat Tionghoa adalah kalahnya kedudukan ahli waris perempuan yang dipengaruhi sistem kekerabatan masyarakat Tionghoa yaitu patrilineal. Ahli waris perempuan dalam masyarakat Tionghoa memiliki kedudukan yang lemah artinya terdapat kemungkinan bahwa ahli waris perempuan tidak akan mendapat harta warisan. Masyarakat Tionghoa menganggap bahwa anak perempuan akan dibawa pergi keluar rumah oleh suaminya dan mengikuti keluarga suaminya sehingga tidak perlu lagi diberi harta warisan karena pasti sudah mendapat harta warisan dari keluarga suaminya serta
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Wawancara dengan Djono Ngatimin, S.H., CPS sebagai Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Kota Medan, 20 Februari 2019
dirawat dan ditanggung sepenuhnya oleh suaminya, tetapi nilai adat yang demikian seiring berjalannya waktu bergeser dan tidak lagi banyak yang beranggapan demikian.
BAB III
KEDUDUKAN PEWARIS DALAM HUKUM WARIS ADAT TIONGHOA DI KECAMATAN TANJUNG MORAWA
A. Gambaran Tentang Masyarakat Adat Tionghoa di Kecamatan Tanjung Morawa
Kecamatan Tanjung Morawa merupakan salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Deli Serdang. Di mana berdasarkan ketetapan Panitia Penyelenggara Pembentukan Provinsi Sumatera Utara (P4SU) Nomor 50 tanggal 19 Agustus 1950, Kabupaten Deli Serdang terbagi dalam 6 Kewedaan dan 32 Kecamatan. Salah satu Kecamatan yang ditetapkan oleh Panitia tersebut adalah Kecamatan Tanjung Morawa, yang berada di Kewedaan Serdang Hilir yang berkedudukan di Lubuk Pakam. Adapun nama Tanjung Morawa sesungguhnya telah ada sejak tahun 1630 yang diberikan oleh Marah Jana.
Masyarakat di Kecamatan Tanjung Morawa pada umumnya adalah yang bersuku Batak Toba, Jawa, dan minoritas bersuku Tionghoa yang beragama Islam, Kristen Protestan, dan Buddha. Mereka selalu hidup rukun dan saling menghormati antar suku dan agama yang disatukan dalam tali persaudaraan dan kekeluargaan sehingga tidak ada perselisihan antar kelompok atau etnis. Jumlah penduduk di Kecamatan Tanjung Morawa terdiri dari 327.546.000 jiwa (58.100.00 Kepala Keluarga) dengan 1200 jiwa (580 Kepala Keluarga) yang beretnis Tionghoa.§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Data Monografi Kecamatan Tanjung Morawa Tahun 2018
Adapun sistem pemerintahan desa Kecamatan Tanjung Morawa pada saat ini adalah sebagai berikut :
Camat : Edy Yusuf S.IP, M,Si Sekretaris : Nelson Pakpahan Bendahara : Asin Elisabeth Barus
Kecamatan Tanjung Morawa terbagi kedalam 184 dusun yang setiap dusunnya dipegang oleh seorang keplor (kepala lorong/dusun). Tugas kepala lorong yaitu pemberi informasi kepada masyarakat mengenai informasi dan kebijakan yang didapat dari kantor kepala desa serta pembuatan KTP, KK (Kartu Keluarga) dan surat-surat lainnya yang berhubungan dengan masyarakat sekitar.
B. Pewaris Menurut Hukum Adat Tionghoa
Dalam hukum waris adat Tionghoa, pewaris yaitu orang yang telah meninggal dunia atau yang akan meninggal dunia dan meninggalkan sejumlah harta warisan. Pewaris dalam hal ini selain meninggalkan harta warisan, biasanya juga meninggalkan anak, istri, suami, orang tua atau sanak saudara lainnya yang dapat disebut sebagai ahli waris. Dengan demikian harta warisan yang ditinggalkan biasanya akan jatuh ke tangan ahli waris yang masih hidup, namun dalam berbagai keadaan dan berbagai faktor, tidak menutup kemungkinan bahwa ahli waris yang seharusnya memiliki kedudukan yang kuat dalam mewaris menjadi tidak mendapatkan harta apapun dari pewaris. Hal ini menunjukkan bahwa pewaris memiliki kedudukan yang kuat dalam hukum waris adat Tionghoa.********************
********************
Wawancara dengan Djono Ngatimin, S.H., CPS., sebagai Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Kota Medan, 20 Februari 2019
Sementara apabila merujuk pada Pasal 830 KUHPerdata banyak kalangan menyebutkan bahwa pewaris yaitu setiap orang yang sudah meninggal dunia atau karena adanya kematian. Karena hukum waris tidak akan dipersoalkan kalau orang yang telah meninggal dunia tidak meninggalkan harta benda maka unsur-unsur yang mutlak harus dipenuhi untuk layak disebut pewaris adalah orang yang telah meninggal dunia dan meninggalkan harta kekayaan.††††††††††††††††††††
Dengan kata lain, pewaris adalah orang yang meninggal dunia dengan meninggalkan kekayaan.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Dalam hal mengenai kematian, terkadang perlu menetapkan dengan cermat. Saat kematian yang biasa dipakai sebagai patokan yaitu berhentinya detak jantung atau ungkapan tradisionalnya disebut menghembuskan napas terakhir, baik berhentinya detak jantung maupun tidak berfungsinya alat-alat pernapasan merupakan tanda-tanda iminensi, namun dalam beberapa kasus kepastian tersebut tampaknya belum memadai, sehingga perlu ditetapkan adanya kematian otak, misalnya, pada saat menghadapi pasien yang dalam keadaan koma dan sedang dibantu dengan alat pernapasan.§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Tentang kematian, ada beberapa pengecualian dalam Pasal 830 KUHPerdata, antara lain orang yang dinyatakan meninggal dunia berdasarkan persangkaan (de vermoedelijk overleden verklaarde) dianggap masih hidup, namun bagi hukum ia merupakan orang yang sudah tiada sampai ada bukti yang dapat ditunjukkan bahwa ia masih hidup. Dalam hal ini, pembuat undang-undang menetapkan tenggang waktu 20 tahun, artinya orang yang dianggap meninggal tersebut diberi waktu tenggang 20 tahun, apabila tidak muncul atau tidak dapat dibuktikan bahwa
†††††††††††††††††††† Anasitus Amanat, “Membagi Warisan Berdasarkan Pasal - Pasal Hukum Perdata BW”, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2001, hal 6
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
A. Pitlo, Loc Cit
§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Maman Suparman, Op Cit, hal. 16
ia masih hidup maka dianggap benar-benar telah meninggal. Selama 20 tahun tersebut, ahli waris atau penerima hibah wasian belum dapat menikmati hak-hak lengkap yang dipunya pemilik, dan mereka diharuskan membuat pencatatan (boedelbeschrijving) dan memberikan jaminan.*********************
Pewaris dapat menentukan, apa yang akan terjadi dengan kekayaannya sesudah ia mati. Penentuan kehendak ini dinamakan wasiat. Akta yang memuat amanat ini juga dinamakan wasiat. Dengan wasiat pewaris dapat menentukan siapa yang akan menjadi ahli waris. Apabila pewaris tidak menggunakan wasiat, maka undang-undanglah yang menentukan siapa yang berhak menjadi ahli waris.
Dengan wasiat, dapat juga warisan itu diperuntukkan kepada seseorang tertentu, baik ia berupa beberapa benda tertentu atau sejumlah benda yang dapat diganti.
Orang yang memperoleh hak ini dinamakan penerima hibah wasiat (legataris), dan apa yang diperolehnya itu dinamakan hibah wasiat (legaat). Berbeda dengan ahli waris, penerima hibah wasiat ini hanya menggantikan kedudukan pewaris terhadap satu atau beberapa benda khusus, dan karena itu ia menjadi orang yang menerima hak dengan titel khusus.†††††††††††††††††††††
C. Penentuan Pembagian Warisan Oleh Pewaris Menurut Hukum Adat Tionghoa
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ketua Paguyuban Marga Tionghoa Indonesia Kota Medan, penentuan pembagian waris dalam hukum waris adat Tionghoa dilakukan dengan 3 cara, yaitu‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
:
*********************
Ibid, hal 16
†††††††††††††††††††††
A. Pitlo, Loc Cit
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Wawancara dengan Djono Ngatimin, S.H., CPS., sebagai Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Kota Medan, 20 Februari 2019
1. Tunjuk waris, yaitu penentuan pembagian warisan yang tidak menyebutkan berapa besar bagian harta yang akan dibagikan tetapi hanya menunjuk siapa-siapa saja nanti yang akan mewarisi harta pewaris. Biasanya tunjuk waris dilakukan secara lisan oleh pewaris sebelum meninggal dunia namun penentuan berapa besar bagian harta warisan ditentukan sendiri oleh para ahli waris dan biasanya hal ini diserahkan pengurusannya kepada anak yang tertua.
2. Hibah wasiat, yaitu penentuan pembagian warisan yang sudah jelas disebutkan berapa besar bagian harta yang akan diwarisi sesuai dengan haknya masing-masing ahli waris. Dalam hal ini hak milik harta warisan akan beralih apabila si pewaris telah meninggal dunia, artinya pewaris membagikan warisannya saat sebelum meninggal dunia dan dapat dilakukan secara lisan.
3. Testament (wasiat), yaitu penentuan pembagian warisan yang dituangkan ke dalam bentuk tulisan yang bentuknya dapat berupa akta wasiat. Dengan wasiat si pewaris dapat mengangkat siapa-siapa saja yang akan menjadi ahli waris dan dapat menentukan berapa besar bagian harta yang akan mewarisi ahli waris. Penentuan pembagian warisan dengan wasiat biasanya mampu meminimalisir pertengkaran antar ahli waris karena sudah jelas dijabarkan seluruhnya mengenai warisan.
Dalam pembagian harta warisan oleh pewaris menurut hukum adat Tionghoa di Kecamatan Tanjung Morawa, para pewaris pada umumnya akan membagikan harta warisan berdasarkan bakti masing-masing ahli waris terhadap pewaris. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Tionghoa di Tanjung Morawa
lebih memilih menggunakan hukum waris adat Tionghoa dalam hal membagikan harta warisan daripada menggunakan hukum waris dalam KUHPerdata.
Tabel II : Cara Pembagian Warisan Oleh Pewaris Menurut Hukum Adat Tionghoa
Memberikan harta tersebut kepada anak laki-laki saja
1 10%
2.
Memberikan harta tersebut kepada anak laki-laki dan anak perempuan dengan bagian yang sama
2 20%
3.
Memberikan harta tersebut dengan bagian yang berbeda sesuai dengan mengurus harta warisan tersebut untuk dipakai sebagai kepentingan bersama
1 10%
Jumlah : 10 100%
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel II hasil penelitian di atas, dengan menggunakan 10 (sepuluh) responden masyarakat Tionghoa Kecamatan Tanjung Morawa yang dipilih secara acak terhadap pilihan cara pembagian warisan yaitu 1 (satu) orang atau 10% masyarakat Tionghoa sebagai pewaris memberikan harta tersebut kepada anak laki-laki saja sebab beranggapan bahwa anak perempuan telah ditanggung kehidupannya oleh suaminya. Hal ini merupakan kewajaran dalam hukum waris adat Tionghoa terutama apabila suami dari anak perempuannya berlatar belakang ekonomi yang baik dan mampu memenuhi seluruh kebutuhan istri.
Lalu 2 (dua) orang atau 20% masyarakat Tionghoa sebagai pewaris memberikan harta tersebut kepada anak laki-laki dan anak perempuan dengan bagian yang sama. Hal ini disebabkan karena masyarakat Tionghoa beranggapan bahwa anak perempuan memiliki rasa bakti, rasa pengertian dan kasih sayang yang lebih tinggi terhadap orang tua apabila dibandingkan dengan anak laki-laki, serta beranggapan bahwa akan lebih adil jika semua ahli waris mendapatkan harta warisan dengan bagian yang sama, baik anak laki-laki maupun anak perempuan.
Lalu 6 (enam) orang atau 60% masyarakat Tionghoa memberikan harta tersebut dengan bagian yang berbeda sesuai dengan bakti anak-anak terhadap pewaris. Hal ini biasanya disebabkan karena bakti ahli waris kepada orang tua tidaklah baik. Di antara beberapa ahli waris terutama anak kandung dari pewaris biasanya ada 1 (satu) yang karakter dan wataknya tidak baik dan tidak berbakti kepada orang tua. Di samping itu juga terdapat anggapan bahwa ahli waris yang berlatar belakang ekonomi yang baik biasanya tidak mendapat harta warisan apabila nasib saudara kandung lainnya kurang baik terutama dalam hal ekonomi.
Kemudian 1 (satu) orang atau 10% masyarakat Tionghoa memberikan tanggung jawab kepada anak laki-laki tertua untuk mengurus harta warisan tersebut untuk dipakai sebagai kepentingan bersama. Kepercayaan yang diberikan kepada anak laki-laki tertua biasanya karena memang anak laki-laki tertuanya dapat dipercaya untuk mengurus harta warisan dan memang sosok yang dapat dituakan di antara para ahli waris lainnya.§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Wawancara dengan Djono Ngatimin, S.H., CPS., sebagai Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Kota Medan, 20 Februari 2019
BAB IV
UPAYA YANG DILAKUKAN AHLI WARIS KETIKA TIDAK DIBERIKAN HARTA WARISAN OLEH PEWARIS DI KECAMATAN
TANJUNG MORAWA
A. Harta Warisan Menurut Hukum Waris Adat Tionghoa Di Kecamatan Tanjung Morawa
Warisan adalah semua harta benda yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal dunia, baik harta benda itu sudah dibagi atau belum terbaik ataupun memang tak dapat dibagi. Berbicara mengenai harta warisan maka yang akan dipersoalkan adalah harta kekayaan seseorang yang telah meninggal dunia dan apakah harta kekayaan orang tersebut akan dapat dibagi atau belum dapat dibagi atau memang tidak dapat dibagi.**********************
Penggolongan harta warisan ini dapat dibagi dalam beberapa bentuk, yaitu :
1. Harta warisan yang berwujud :
Misalnya tanah, rumah atau bangunan, perabotan rumah tangga, pakaian adat, hewan ternak, kendaraan bermotor, mobil, dan lain sebagainya.
2. Harta warisan yang tidak berwujud :
Misalnya kedudukan atau jabatan adat, pesan, perjanjian ataupun hutang-hutang.
3. Harta warisan yang tidak dibagi-bagi :
**********************
Hilman Hadikusuma Buku 2, Op Cit, hal. 35
Harta waris yang ditinggalkan ini dalam aturannya bahwa harta benda tersebut tidak dapat dibagi-bagi atau dimiliki perseorangan dalam pengurusannya. Harta yang ditinggalkan ini melainkan harus dimiliki secara bersama-sama yang merupakan sebagai suatu kebulatan yang tidak dapat terbagi-bagi.
4. Harta warisan yang dibagi-bagi :
Dalam keadaan tertentu misalnya, apabila para anggota ahli waris menanam tanaman tumbuhan keras yang seterusnya dari hasil tersebut masing-masing dari mereka menikmati hasil tersebut untuk diri sendiri. Maka, atas kesepakatan bersama akan dilaksanakan pembagian sesuai dengan usaha masing-masing. Biasanya pembagian itu dilakukan dengan musyawarah bersama dalam penyelengaraan harta warisan.
Masyarakat Tionghoa memberikan harta warisan dalam bentuk yang berwujud seperti bangunan rumah, toko usaha yang telah dijalankan selama bertahun-tahun oleh orang tua, kendaraan pribadi, sebidang tanah ataupun perhiasan baik itu diberikan kepada anak perempuan ataupun anak laki-laki.
Adapun harta warisan lainnya yang akan diturunkan namun dalam pembagiannya tak dibagi dan diurus secara bersama adalah abu leluhur, rumah peninggalan keluarga adat dan perhiasan. Masyarakat Tionghoa masih memegang teguh adat istiadat serta tradisi. Keharusan adanya memuji leluhur dan memelihara abunya biasanya diberikan tanggung jawab kepada anak laki-laki tertua. Apabila tidak ada anak laki-laki tertua, di masa sekarang ini tanggung jawab tersebut sudah dapat dialihkan kepada anak perempuan ataupun anak laki-laki lainnya, yang terpenting
adalah anak tersebut tidak melupakan yang telah lebih dahulu meninggal dunia sehingga diperlukan adanya upacara pemujaan leluhur. Abu leluhur ini akan disimpan di sebuah vihara dan setiap tahun akan diadakan sebuah peringatan kematian leluhur tersebut dengan melakukan pemujaan. Penghormatan leluhur tersebut dilakukan di sebuah meja panjang atau altar yang terdapat dupa atau hio dan sepasang lilin.
Selanjutnya, rumah peninggalan keluarga adat ini biasanya akan digunakan apabila ada sebuah acara keluarga atau melakukan sembahyang dupa terhadap pemujaan leluhur. Dengan berkumpulnya para sanak saudara dan
Selanjutnya, rumah peninggalan keluarga adat ini biasanya akan digunakan apabila ada sebuah acara keluarga atau melakukan sembahyang dupa terhadap pemujaan leluhur. Dengan berkumpulnya para sanak saudara dan