BAB II PEMBAGIAN WARISAN DALAM HUKUM ADAT TIONGHOA
B. Sistem Kekerabatan dan Sistem Pewarisan Pada Masyarakat
2. Sistem Pewarisan Dalam Masyarakat Tionghoa
Dalam pelaksanaan pewarisan di Indonesia hingga saat ini masih bersifat pluralistik di mana terdapat beberapa sistem hukum waris, yaitu:
1) Hukum waris adat yang berlaku bagi orang Indonesia asli,
2) Hukum waris Islam, berlaku bagi orang Indonesia yang terdapat pengaruh hukum Islam,
3) Hukum waris barat, berlaku bagi golongan Eropa dan Cina yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
††††††††††††††
Wawancara dengan Djono Ngatimin, S.H., CPS., sebagai Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Kota Medan, 20 Februari 2019
Dalam hukum kewarisan adat dikenal 3 (tiga) sistem kewarisan jika dilihat dari segi pembagian harta waris di antaranya adalah sistem keturunan, sistem kewarisan individual, sistem kewarisan kolektif dan sistem kewarisan mayorat.
Sistem kewarisan memiliki hubungan yang sangat erat dengan sistem kekerabatan sehingga dalam sistem kewarisannya sangat dipengaruhi oleh sistem kekerabatannya pula terutama dalam penetapan ahli waris dan bagian harta peninggalan yang diwariskan. Ada beberapa jenis sistem kewarisan yang dikenal dalam masyarakat Indonesia, yaitu‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
: 1. Sistem Individual
Sistem individual ini juga dikenal sebagai sistem perseorangan, yaitu suatu sistem pewarisan yang dalam pembagian harta warisannya masing-masing ahli waris dapat menguasai atau memiliki warisan sesuai menurut bagiannya masing-masing. Para ahli waris dalam hal ini telah menguasai dan memiliki bagian harta warisannya untuk diusahakan, dinikmati ataupun dialihkan kepada orang lain.
Sistem pewarisan individual ini biasanya lebih banyak berlaku di dalam masyarakat yang memiliki sistem kekerabatan parental. Akibat perbedaan lapangan kehidupan masing-masing anggota keluarga serta tidak adanya keinginan untuk mengurus harta warisan secara bersama menyebabkan timbulnya sistem individual ini. Bagi keluarga yang telah maju di mana rasa kekerabatan sudah mengecil dan anggota keluarga juga telah terpencar-pencar jauh sehingga tidak begitu terikat lagi, sistem individual ini tampak besar pengaruhnya apalagi jika telah melakukan
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Hilman Hadikusuma Buku 3, Op Cit, hal. 33
perkawinan campuran. Kelebihan dari sistem pewarisan individual ini antara lain adalah bahwa dengan pemilikan secara pribadi maka ahli waris dapat bebas dalam menguasai harta warisan bagiannya untuk dipergunakannya sebagai modal kehidupannya tanpa dipengaruhi anggota keluarga yang lain. Di sisi lain, sistem pewarisan individual ini memiliki kelemahan yaitu pecahnya harta warisan dan meregangnya tali kekerabatan yang berakibat timbulnya keinginan untuk memiliki harta demi mementingkan diri sendiri. Sehingga dalam sistem pewarisan individual ini akan menimbulkan perselisihan-perselisihan antara anggota keluarga pewaris.§§§§§§§§§§§§§§
2. Sistem Kolektif
Sistem pewarisan kolektif merupakan suatu sistem di mana harta peninggalan diteruskan dan dialihkan pemilikannya dari pewaris kepada ahli waris sebagai suatu kesatuan yang tidak terbagi-bagi penguasaan dan pemilikannya sehingga setiap ahli waris berhak menggunakan harta peninggalan itu secara bersama-sama yang diatur secara musyawarah dan mufakat oleh kepala kerabat. Kelebihan dari sistem pewarisan kolektif ini adalah, tetap terjaganya rasa persatuan dan tolong-menolong antar sesama anggota keluarga yang apabila fungsi harta kekayaan itu digunakan untuk kelangsungan hidup bersama dan masih tetap dipelihara dan dikembangkan.
Sistem ini juga memiliki kelemahan yaitu akan menumbuhkan pemikiran yang terlalu sempit dan tidak mau terbuka terhadap orang luar.
§§§§§§§§§§§§§§
Ibid, hal. 36
Sistem kolektif ini dapat menimbulkan kemungkinan berubah ke arah sistem pewarisan individual. Misalnya, apabila para anggota ahli waris menanam tanaman tumbuhan keras yang seterusnya dari hasil tersebut masing-masing dari mereka menikmati hasil tersebut untuk diri sendiri.
Atas kesepakatan bersama, maka akan dilaksanakan pembagian sesuai dengan usaha masing-masing. Akan tetapi, oleh karena tidak selamanya seorang kerabat mempunyai kepemimpinan yang dapat diandalkan dan aktivitas hidup yang kian meluas bagi para anggota kearabat, maka rasa setia kawan, rasa setia kerabat bertambah luntur dapat menyebabkan berubahnya sistem kolektif menjadi sistem pewarisan individual.***************
3. Sistem Mayorat
Dalam sistem pewarisan mayorat ini tidak jauh berbeda dengan sistem kolektif, yang mana harta warisan itu tetap utuh tidak terbagi-bagi dan digunakan untuk kepentingan bersama. Hanya saja dalam sistem mayorat ini, yang memiliki hak dalam penguasaan harta bersama ini adalah anak tertua, yang dianggap lebih bertanggung jawab sebagai kepala keluarga menggantikan kedudukan ayah dan ibu yang telah meninggal dunia. Harta bersama itu digunakan secara bersama-sama guna keberlangsungan hidup bersama tanpa adanya penguasaan secara perserorangan.
Anak tertua dianggap mampu dan lebih bijaksana untuk menggantikan kedudukan orang tua sebagai kepala keluarga guna
***************
Ibid, hal. 38
mengurus adik-adiknya yang masih kecil sampai mereka berumah tangga dan dapat hidup mandiri. Sistem pewarisan mayorat ini terdapat 2 (dua) jenis dikarenakan perbedaan sistem kekerabatan yang dianut, yaitu : 1) Mayorat laki-laki, yang dikuasai oleh anak tertua laki-laki di lingkungan masyarakat patrilineal, 2) Mayorat perempuan, yang dikuasai oleh anak tertua perempuan di lingkungan masyarakat matrilineal. Kelebihan dan kelemahan dalam sistem ini dapat dilihat dari bagaimana kepemimpinan anak tertua dalam mengurus harta bersama tersebut. Apabila anak tertua tersebut dapat bertanggung jawab dengan baik dalam mengurus harta kekayaan dan memanfaatkannya untuk anggota keluarga yang telah ditinggalkan hingga saudaranya dapat hidup mandiri setelah dewasa, maka sistem ini dinilai cukup baik dalam pelaksanaannya.
Sistem pewarisan ini akan menimbulkan perasaan saling sayang-menyayangi dalam keluarga serta saling tolong-menolong antara satu sama lain namun, sifat setiap manusia di dunia ini tidaklah semuanya sama.
Walaupun sebagai anak tertua, belum tentu ia akan bertanggung jawab terhadap adik-adiknya setelah orang tua mereka meninggal dunia. Anak tertua yang tidak bertanggung jawab akan menguasai dan menggunakan harta tersebut untuk diri sendiri tanpa memperdulikan adik-adiknya yang lain. Terkadang terdapat kesalahpahaman dalam sistem ini, anak tertua sebagai pengganti kedudukan orang tua menganggap bahwa harta tersebut adalah milik perseorangan. Padalah, ia hanyalah sebagai pemegang mandat
orang tua yang dibatasi oleh musyawarah keluarga dan dibatasi untuk mengurus anggota keluarga lain yang ditinggalkan.†††††††††††††††
Dalam struktural masyarakat Tionghoa di Indonesia yang terdiri dari beberapa suku, terdapat 2 (dua) golongan besar masyarakat, yaitu‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
: 1) Masyarakat Tionghoa Totok (Khek)
2) Masyarakat Tionghoa Peranakan (keturunan)
Masyarakat Tionghoa Totok biasanya masih menganut sistem individual patrilineal atau sistem mayorat patrilineal. Bagi mereka yang menganut sistem kewarisan individual patrilineal dalam hal pembagian warisan biasanya dibagikan pada ahli waris laki-laki saja dalam menerima waris. Sedangkan mereka yang menganut sistem mayorat patrilineal, harta warisan itu tidak dibagi-bagikan dan dilimpahkan pada anak tertua. Anak tertua dalam hal ini adalah anak laki-laki saja, jika anak perempuan adalah anak tertua maka dilimpahkan tanggung jawab tersebut kepada anak laki-laki walaupun ia bukanlah anak tertua dalam keluarga tersebut. Sebab, yang terpenting adalah harta warisan tersebut jangan sampai jatuh ke tangan anak perempuan.