• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembaharuan Hukum Keluarga di Turki 1 Pendahuluan

HUKUM KELUARGA DI DUNI MUSLIM

D. Pembaharuan Hukum Keluarga di Turki 1 Pendahuluan

Secara geografis, Republik Turki (Turkiye Cumhuriyeti) yang didirikan pada 29 Oktober 1923 ini terletak di kawasan Asia Kecil (97%) dan Eropa Tenggara. Di bagian barat ber- batasan dengan Laut Aegean dan Yunani, dan di bagian Barat Laut berbatasan dengan wilayah Bulgaria. Di utara berbatasan dengan Laut Hitam. Di bagian Timur Laut berbatasan dengan Georgia, di bagian timur berbatasan dengan Armenia, dan di bagian tenggara berbatasan dengan Iran dan Irak. Sedangkan di selatan berbatasan dengan Syria dan Laut Tengah. Luas wilayah Turki meliputi 755.693 km2 di Asia Kecil (semenanjung Anatolia) dan 23.763 km2 di Eropa Tenggara, sehingga luas keseluruhan Turki adalah 779.456 km2.

Berdasarkan sensus 21 Oktober 1990, populasi pen- duduknya mencapai 56.473,035 jiwa yang menempati wilayah seluas 779, 456 km2. Mayoritas penduduk Turki adalah Muslim, sebagian besar beraliran Sunni, namun diperkirakan di sana juga terdapat sekitar 10 hingga 20 juta Muslim Syi’ah. Sedangkan sisanya adalah Yahudi, Ortodok Yunani, Ortodok Armenia, dan Kristen Assyria.83

83 David Waldner, “Turkey”, dalam Reeva S. Simon, Philip Mattar, Richard W. Bul- liet (Ed.s), Encyclopedia of the Modern Middle East, vol.4, (New York: Simon & Schuster Macmillan, 1996).

3) Suami dipenjara selama tiga tahun atau lebih. 4) Suami tidak memberikan nafkah batin selama satu

tahun.

5) Isteri dinikahkan bapak sebelum berumur enam belas tahun menolak perkawinan tersebut dan belum disetubuhi suami.

6) Suami menganiaya isteri.

Dari beberapa alasan tersebut diatas ada tiga hal yang perlu dperhatikan. Pertama, meskipun semua undang-undang menjadikan unsur gila sebagai alasan per ceraian, namun Undang-undang Negeri sembilan, Pulau Pinang, Selangor dan Serawak mensyaratkan sakitnya minimal 2 tahun. Sementara UU Kelantan, Pahang, Perak tidak mensyaratkan batas minimal. Kedua, semua undang-undang mencantumkan alasan-alasan lain untuk fasakh. Ketiga, Undang-undang kelantan, Negeri sembilan, persekutuan Pulau Pinang, Selangor dan Serawak mencantumkan perkawinan paksa sebagai salah satu alasan perceraian.

d. Poligami

Undang-undang Perkawinan di Malaysia juga meng atur tentang boleh atau tidaknya seorang laki-laki melakukan poligami. Syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi seseorang yang hendak melakukan poligami adalah adanya izin tertulis dari Hakim, ketentuan ini hampir tercantum di semua undang-undang perkawinan Negara bagian. Namun demikian ada beberapa berbedaan yang secara garis besar dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu: Pertama, yang merupakan kelompok mayoritas (UU Negeri Sembilan Pasal 23 ayat 1, UU Pulau Pinang

Pasal 23 ayat 1, UU Selangor pasal 23 ayat 1, UU Pahang Pasal 23 ayat 1, UU Wilayah Persekutuan Pasal 21 ayat 1, UU Perak Pasal 21 ayat1 dalam pasal-pasal tersebut dinyatakanbahwa seorang laki-laki tidak boleh menikah dengan seorang lain dalam keadaan masih beristri kecuali dengan terlebih dahulu mendapatkan izin secara tertulis dari hakim syari’ah, dan jika dia perkawinan terjadi tanpa izin tersebut maka perkawinan itu tidak boleh didaftarkan ke Enakmen. Dalam UU Perak pasal 21 ayat 1 ada tambahan kalimat: “mendapat pengesahan lebih dahulu dari Hakim bahwa ia akan berlaku adil terhadap isteri-isterinya”.

Kedua, Poligami tanpa adanya izin dari pengadilan boleh didaftarkan dengan syarat lebih dahulu membayar denda atau menjalani hukuman yang telah ditentukan. Ketentuan ini berlaku di Negara-negara seperti Serawak dan Kelantan. Pertimbangan pengadilan memberi izin atau tidak dilihat dari pihak isteri dan suami. Adapun beberapa alasan yang dapat dikemukakan suami di antara- nya karena kemandulan, udzur jasmani, tidak layak dari segi jasmani untuk bersetubuh, isteri gila. Sedangkan beberapa alasan yang dapat dikemukakan suami diantara- nya, kemampuan secara ekonomi, berusaha untuk bisa berbuat adil, perkawinan yang dilakukan tidak mem- bahayakan agama, nyawa, badan, akal, atau harta benda isteri yang lebih dahulu dinikahi.

e. Ketentuan Pidana dalam UU Perkawinan

Ketentuan piadana UU Perkawinan di Malaysia secara tegas diatur dalam perundang-undangannya, seperti dalam beberapa masalah seperti berikut:

1) Poligami

Suami yang melakukan poligami tidak sesuai dengan aturan perundang-undangan yang ditetapkan, secara umum dapat dikenakan hukuman berupa hukuman denda maksimal seribu ringgit atau kurungan mak- simal 6 bulan atau kedua-duanya sekaligus. Demikian juga bagi suami yang tidak mampu berlaku adil terhadap isteri-isterinya dapat digolongkan sebagai orang yang melanggar hukum dapat dikenakan sangsi hukuman denda maksimal seribu ringgit atau kurungan maksimal 6 bulan atau kedua-duanya. 2) Pencatatan Perkawinan

Bagi orang yang melakukan perkawinan di luar Malaysia dan tidak sesuai dengan aturan yang ada adalah perbuatan melanggar hukum maka dapat dihukum dengan membayar denda sebesar seribu ringgit atau penjara maksimal 6 bulan atau kedua- duanya.

3) Perceraian

Bagi orang yang malanggar peraturan tentang per- ceraian, baik suami atau isteri, misalnya melakukan perceraian di luar pengadilan dan tidak mendapatkan pengesahan atau pengakuan dari pengadilan, atau membuat surat pengakuan palsu bias dihukum dengan hukuman denda sebesar seribu ringgit atau penjara maksimal enam bulan atau kedua-duanya.

4) Perkawinan Beda Agama

Larangan perkawinan beda Agama di Malaysia di- dasarkan pada ketentuan yang termuat dalam seksyen 51 Akta pembaharuan UU (Perkawinan dan Perceraian)

Adalah Richard C. Martin seorang ahli studi keislaman dari Arizona University dalam bukunya Approaches to Islam in Religious Studies116 dan Muhammad Arkoun dari Sorbonne Paris

dalam bukunya Tarikhiyyat al-Fikr al-‘Araby al-Islamy serta Nasr Hamid Abu Zayd dari Mesir dalam bukunya Naqd al-Khitab al-Diny dengan tegas ingin membuka kemungkinan interaksi antara tradisi berpikir keilmuan dalam Islam dengan tradisi ber- pikir keilmuan dalam religious studies kontemporer yang telah memanfaatkan teori dan metodologi yang digunakan oleh ilmu- ilmu sosial dan humanities yang berkembang sekitar abad ke-18 dan 19.

Interaksi kedua tradisi pola pikir keilmuan tersebut kemudian menghasilkan sebuah kerangka teori, metode dan epistemologi yang baru yang berbeda dengan sebelumnya. Kerangka teori yang digunakan Fazlur Rahman misalnya, menganggap bahwa tidak lagi cukup memadai untuk menggunakan teori fikih, usul fikih yang ada yaitu “qath’iyyat” dan “zanniyat”. Rahman kemudian memodifikasikannya dalam formula “ideal moral” al-Qur’an dan “legal spesifik” fikih dan syari’at.117 Selanjutnya

Rahman menawarkan teori double movement (gerak ganda) dalam menafsirkan ayat al-Qur’an sebagai basis dalam membangun ushul fikih. Teori ini mengajarkan akan perlunya pembacaan serius tentang hubungan timbal balik antara wahyu ketuhanan (divine revelation) yang suci dan sejarah kemanusiaan (human history) yang profane. Pendekatan hermeneutika al-Qur’an yang dibangun Rahman merupakan respon terhadap model penafsiran

dilihat pada oleh Charles Kurzman (ed.), Liberal Islam: A Sourcebook (New York: Oxford

University Press, 1988).

116 Richard C. Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies (Tucson: The

University of Arizona Press, 1985), hlm. 1-18.

117 Fazlur Rahman, Islam dan Modernity: Transformation of an Intellectual Tradi- tion (Chicago: The University of Chicago Press, 1982), hlm. 13-42.

1950 sampai dengan sekarang.94 Periode Kemalis bermula

dari tahun 1921 dengan The Law Fundamental Organization

yang menegaskan pemerintahan bangsa Turki. Perang ke- merdeka an pada tahun 1919 di bawah pimpinan Mustafa Kemal bertujuan menciptakan sebuah negara nasional di Turki. Sekalipun Mustafa Kemal pada mulanya mendasarkan perjuangannya pada Islam, tetapi tujuannya di samping mengusir imperialisme Barat juga membangun negara sekuler yang modern, bukan untuk membangun kembali imperium Islam. Agama dan kultur Islam tidak ditolak, tetapi dasar negara baru dari “people of Turki” adalah kesadaran nasional dan kedaulatan nasional.95

Kebijakan rezim Kemalis yang paling penting adalah revolusi kultural. Semenjak diangkat sebagai presiden seumur hidup pada tahun 1923 hingga meninggalnya pada tahun 1938, Mustafa Kemal melakukan serangkaian pembaharuan yang bersifat sekuler yang secara tuntas menciptakan negara bercirikan pemisahan agama dan negara. Mustafa Kemal berusaha memasukkan massa ke dalam framework ideologis dan kultural rezim republik, merenggangkan keterikatan mereka dengan Islam dan mengarahkan mereka kepada pola hidup Barat yang sekular. Kesultanan dihapuskan pada tahun 1922. Dua tahun kemudian (1924) khilafah juga dihapuskan oleh Majlis Nasional Turki. Pada tahun yang sama Syaikh al-Islam beserta Departemen Urusan Agama dan Waqaf dihilangkan. Pada bulan April tahun yang sama sistem Mahkamah Syari’ah dihapuskan dan digantikan oleh sistem hukum Swiss dan Italia. Tujuan akhir orientasi program 94 Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, (Cambridge: Cambridge Uni-

versity Press, 1988), hlm. 88.

95 John L. Esposito, Islam and Politics (Syracuse: Syracuse University Press, 1987),

Kemal dirumuskan dalam amandemen konstitusional pada tahun 1928 dengan menghapuskan kalimat “Agama resmi dalam negara Turki adalah Islam”. Selanjutnya konstitusi me nyebutkan bahwa Republik Turki adalah negara sekuler.96

Usaha sekulerisasi itu bertujuan menggantikan Islam Arab yang dianggap konservatif dan merosot dan lebih berorientasi masa lalu daripada masa kini dengan Islam Turki yang modern. Pembaharuan dimulai dengan mewajibkan penggunaan bahasa Turki sebagai bahasa agama menggantikan bahasa Arab. Penyalinan al-Qur’an ke dalam bahasa Turki dilakukan secara besar-besaran dan digunakan dalam setiap kegiatan keagamaan. Bahasa Turki menggantikan bahasa Arab bagi

muazzin dan dalam khutbah jum’at.97

Watak yang radikal dari perombakan itu tercermin dalam hukum baru tentang wanita dan keluarga. Praktek poligami yang berlaku sepanjang tradisi dan diizinkan dihapuskan. Hak unilateral pihak suami untuk menceraikan isterinya dibatasi secara radikal dengan ketentuan bahwa seluruh perceraian harus melalui lembaga peradilan. Wanita memperoleh hak suara dalam pemilihan umum beserta hak penuh untuk menduduki jabatan-jabatan pemerintahan. Selanjutnya kaum wanita diberikan kesempatan yang luas untuk memperoleh pendidikan dan menjalankan berbagai profesi.98

Selama beberapa hari setelah kemerdekaan, penguasa kesultanan Turki tetap mempertahankan hukum dan per- undang-undangannya yang berdasarkan syari’ah Islam madzhab Hanafi. Kemudian pada abad ke-19 pemerintah 96 Ibid., hlm. 134.

97 Pembahasan panjang lebar tentang sekularisme di Turki lengkap dengan

penilaian dan komentar lihat A. Mukti Ali, Islam dan Sekularisme di Turki Modern (Ja-

karta: Djambatan, 1994).

98 Ibid. Bandingkan dengan Ira M. Lapidus, op.cit., hlm. 91.

yang disampaikan oleh kedua tokoh tersebut tergambar adanya keinginan memberi warna atau nilai agamis pada pengetahuan. Gagasan Islamisasi pengetahuan sampai sekarang masih me- rupakan gagasan dasar dan cenderung kontroversial yang me- merlukan waktu yang panjang untuk mencapai kesepakatan tentang apa yang dikehendaki dengan “sains yang Islami”.

Ketiga solusi alternatif di atas masing-masing mengandung karakter yang berbeda. Rekayasa peradaban Islam cenderung eksklusif, sedangkan spiritualisme Nasr dan Islamisasi ilmu pe- ngetahuan cenderung moderat dengan memadukan antara ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai Islam. Adapun persamaan ketiga gagasan tersebut adalah posisinya yang sama-sama menjadikan krisis peradaban modern sebagai orientasi nilai-nilai Islam.

Berbeda dengan kelompok modernis di atas, para pemikir kontemporer lebih menyoroti secara tajam kepada paradigma keilmuan Islam, khususnya paradigma keilmuan Fikih. Fikih dan implikasinya pada pranata sosial dalam Islam dianggapnya terlalu kaku sehingga kurang responsif terhadap tantangan dan tuntutan perkembangan zaman, khususnya dalam hal-hal yang terkait dengan persoalan hak asasi manusia, hukum publik, wanita dan pandangan tentang non-Muslim. Meskipun pintu ijtihad telah dibuka, tetapi tetap saja bidang ilmu-ilmu keislaman, khususnya ilmu Syari’ah atau Fikih tidak dan belum berani mendekati apalagi memasukinya. Tegasnya, ilmu-ilmu Fikih yang berimplikasi pada tatanan pranata sosial dalam masyarakat Muslim belum berani dan selalu menahan diri untuk berinteraksi dan berdialog langsung dengan ilmu-ilmu lain, seperti sosiologi, antropologi, psikologi, filsafat, fisika dan sebagainya.115

Lihat juga Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme (Bandung: Pustaka, 1986).

Bersama-sama dengan Hossen Nasr, Sardar menilai bahwa peradaban Barat telah menghancurkan dan melepaskan nilai- nilai sakral dan spiritual Islam. Kemajuan teknologi yang tidak terkendali telah menimbulkan kekhawatiran terhadap masa depan peradaban manusia, karena kehidupan modern Barat telah kehilangan visi transendental (ilahiyah). Dalam hal ini Nasr memilih spiritualisme sebagai solusi alternatif upaya pembebasan manusia modern. Nasr sangat optimis dengan solusi sufistik ini. Menurutnya sufisme akan memuaskan manusia modern dalam pencarian Tuhan.112 Ketika masyarakat modern Barat hampir

bosan dengan tradisi teknologi yang kering dan mereka tidak me nemukan pemuasnya dalam ajaran Kristen dan Budha, maka upaya memperkenalkan sufisme Islam kian mendesak.113

Dalam konteks Islam, menurutnya, spiritualitas mengandung beberapa dimensi seperti tercermin dalam istilah ruh dan sikap batin. Inilah yang membedakannya dengan spiritual dalam konteks Barat yang dipahami sekedar sebagai fenomena psikologis. Menurutnya, krisis peradaban Barat modern ber- sumber dari penolakan ruh dan pengingkaran maknawiyah dalam kehidupan. Manusia Barat membebaskan diri dari Tuhan dan mereka menjadi tuan bagi mereka sendiri sehingga terputus dari spiritualitasnya (desakralisasi). Alam hanya difungsikan sebagai obyek dan sumber daya untuk dieksploitasi semaksimal mungkin. Fenomena inilah yang dianggap paling penting oleh Nasr untuk dicarikan solusinya melalui spiritualisme Islam. Solusi lainnya yang dikembangkan oleh sejumlah pemikir modernis adalah Islamisasi ilmu pengetahuan yang pertama kali disuarakan oleh Ismail Raji al-Faruqi dan Naquib al-Attas.114 Dari dua konsep

112 Syed Hossein Nasr, Man and Nature (London: 1976), hlm. xi. 113 Ibid., hlm. 47.

114 Ismail Raji al-Faruqi,

Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Bandung: Pustaka, 1984);

merasakan perlunya sistematisasi dan kodifikasi hukum akibat kondisi sosial masyarakat yang berubah. Pada tahun 1839 sebuah keputusan pemerintah “Hatt-i-Sharif” memberikan landasan untuk sebuah rezim pemerintahan modern. Undang- Undang Pidana dan Perdagangan yang baru diundangkan oleh dewan legislatif secara berturut-turut pada tahun 1850 dan tahun 1858. Sistem peradilan disekularkan dan peradilan non agamis dibentuk guna mengurusi bermacam-macam persoalan hukum.

Pada tahun 1876 diundangkan sebuah undang-undang pidana baru dengan nama Majallah al-Ahkam al-Adliyah. Undang-udang yang berdasarkan sebagian pada ketentuan- ketentuan berbagai madzhab hukum Islam dan sebagian pada materi-materi hukum Barat ini adalah undang-undang pidana modern pertama di dunia Islam. Undang-undang ini tidak mengatur tentang hukum keluarga dan waris yang seluruhnya belum terkodifikasikan dan belum diperbaharui.99

Pada tahun 1915 hukum perkawinan yang bermadzhab Hanafi yang masih berlaku diperbaharui oleh dua keputusan pemerintah tentang hak-hak perempuan untuk mengajukan fasakh. Ketentuan di dalamnya diambil dari madzhab Hanbali dan dari pendapat-pendapat yang kurang terkenal dari madzhab Hanafi. Prinsip takhayyur diperkenalkan dalam hukum keluarga. Di bawah dua keputusan tahun 1915 itu perempuan dapat mengajukan fasakh dengan dua alasan, yaitu pertama suami tidak bertanggung jawab dan kedua suami menderita penyakit yang berbahaya.100

99 Tahir Mahmood, Personal Law in Islamic Countries: History, Text and Com- parative Analysis, (New Delhi: Academy of Law and Religion, 1987), hlm. 263-264.

100 Ibid. Lihat juga Tahir Mahmood, Family Law Reform in The Muslim World

Dua tahun kemudian sebuah undang-undang perkawinan yang telah dikodifikasikan dengan nama “Qanun-i Qarar Huquq al-A’ilah al-Uthmaniyah” (Undang-Undang Hak- Hak Keluarga Turki 1917) diundangkan oleh pemerintah. Undang-undang yang berisi 156 pasal ini juga hanya mengatur tentang hukum perkawinan dan perceraian tanpa mengatur tentang waris. Ketentuan-ketentuannya diambil dari ber- bagai madzhab hukum Islam (takhayyur). Pengundangan undang-undang ini merupakan sebuah prestasi besar dalam hal kodifikasi dan pembaharuan hukum keluarga di dunia Islam. Meskipun demikian, undang-undang ini dicabut ber lakunya di Turki pada tahun 1919. Pada tahun 1923 sebuah komisi pembaharuan hukum dibentuk di Turki guna menyusun sebuah draft hukum perdata dan pidana baru yang komprehensif dan berdasarkan pada sumber-sumber hukum Islam. Namun sebelum komisi ini berhasil menyusun draft, khalifah Islam dihapuskan dan Turki memproklamirkan diri sebagai negara republik. Di bawah pemerintahan Mustafa Kamal Pasha, Turki mengalami perubahan total. Pada tahun 1924 sebuah konstitusi nasional yang baru diberlakukan disertai dengan adopsi sistem hukum dan peradilan Barat.101

Pada tahun 1926 undang-undang pidana dan perdata yang baru diundangkan di Turki.Undang-undang pidana itu diambil dari Undang-Undang Kriminal Italia 1889, sedangkan undang-undang perdata diambil dari undang-undang Swiss 1912. Adopsi terhadap undang-undang perdata asing itu menandakan keputusasaan Mustafa Kamal Pasha terhadap

101 Tahir Mahmood, Personal Law in Islamic Countries: History, Text and Com- parative Analysis, (New Delhi: Academy of Law and Religion, 1987), hlm. 265. Tahir

Mahmood, Family Law Reform in The Muslim World (Bombay: N.M. Tripathi PVT. LTD.,

1972), hlm. 17.

emansipasi wanita merupakan fenomena lain sebagai akibat dari meningkatnya kesadaran akan hak asasi manusia yang telah dimulai sejak periode sebelumnya. Globalisasi zaman modern dalam wujud interaksi sosial antar kebudayaan bangsa-bangsa semakin mempercepat laju perubahan sosial. Perubahan sosial ini selain menciptakan kesenjangan antara nilai-nilai lama dengan nilai-nilai baru, juga menciptakan kesenjangan antara hukum Islam yang telah dianggap mapan (Fikih) dengan kenyataan sosial yang terus mengalami perubahan. Semua ini merupakan permasalahan baru ditambah dengan masalah lama yang belum terselesaikan oleh modernisme klasik yang menuntut kerja pikir modernis-modernis kontemporer.

Ide-ide kreatif yang dimunculkan oleh kebanyakan modernis kontemporer pada umumnya tidak jauh berbeda dengan pe- mikiran modernis klasik. Mereka mencarikan konsep-konsep baru dalam bidang-bidang tertentu secara lebih sistematis. Adalah Ziauddin Sardar, pakar fisika Pakistan, bersama dengan Ali Syari’ati (1933-1977), seorang intelektual sosial Iran, mencoba menampilkan ide pembaharuan peradaban yang Islami atau dikenal dengan Islamisasi peradaban. Keduanya menolak alih teknologi Barat karena teknologi yang dipinjam dari Barat selalu tidak cocok dengan masyarakat Muslim. Alih teknologi tidak hanya menyebabkan ketergantungan dunia Islam kepada Barat, melainkan juga merusak kebudayaan dan lingkungan Muslim.111

Solusi yang disampaikan Sardar adalah membangun kerangka pengetahuan kini dan membangun teknologi yang mencerminkan norma-norma budaya Islam dalam aspek sejarah, ekonomi, pendidikan dan pemerintahan.

111 Ziauddin Sardar, “Teknologi dan Kemandirian Domestik: Sebuah Alternatif

Islam”, dalam Ulumul Qur’an No. 8 1991; Ali Syari’ati, Membangun Masa Depan Islam

change” justru sering menjadi penghalang. Sekadar contoh adalah kasus Ali Abd al-Raziq yang mengalami serangan dari ulama-ulama al-Azhar. Baru pada perempat pertama abad ke-20 muncul pemikiran filsafat yang dipelopori oleh Muhammad Iqbal (1876-1938 M.) dengan karyanya The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Dengan demikian modernisme intelektual pada periode klasik banyak diwarnai oleh semangat rasional dan adopsi pengetahuhan Barat guna mencari solusi bagi kemacetan intelektual masyarakat Muslim.

Pada sekitar pertengahan abad ke-20 di mana negeri-negeri Muslim memperoleh kedaulatan politiknya (sekitar tahun 1945-1963) terjadi peralihan nuansa modernisme dari periode klasik kepada periode modern. Periode ini ditandai dengan beberapa situasi baru yang sebagian merupakan produk atau konsekuensi logis dari modernisasi klasik. Kemerdekaan dan kedaulatan politik sendiri mengandung makna perubahan yang sangat luas, mencakup seluruh aspek kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Rakyat dari negara-negara muslim yang merdeka atau melalui penguasanya berkesempatan menetapkan langkah- langkah kebijakan yang akan ditempuh, baik dalam hal kebijakan ideologis, politis, pendidikan, ekonomi, hukum, dan lain-lain. Sehingga dalam jangka waktu yang singkat telah menghasilkan perubahan yang besar. Program pembangunan pada umumnya lebih ditujukan secara eksklusif untuk kemajuan ekonomi atau materiil, yang pada akhirnya menjadikan nilai-nilai moral merosot tajam. Alih teknologi Barat juga turut menciptakan kesenjangan nilai-nilai lama dengan nilai-nilai baru yang menyertai alih teknologi tersebut.

Pembangunan sebagai ekspansi ekonomi dan alih teknologi menciptakan pola kehidupan yang materialistis. Tuntutan

kegagalan para praktisi hukum Islam untuk menyusun sebuah undang-undang yang berdasarkan hukum Syari’ah. Undang- undang perdata Turki itu mengatur tentang perkawinan, per ceraian dan hubungan keluarga di samping kontrak dan obligasi. Di dalamnya juga dimuat satu bab (bab III) yang secara komprehensif mengatur tentang waris.102 Dengan

berlakunya undang-undang ini, maka ketentuan hukum keluarga dan waris sebelumnya yang beradzhab Hanafi tidak berlaku lagi.

Bab III dari Undang-Undang Perdata Turki itu mem- perkenalkan sebuah pola pembagian waris yang seluruhnya baru yang diadopsi dari undang-Undang Perdata Swiss. Salah satu ketentuan pokok yang menyimpang dari ketentuan dalam hukum Islam adalah prinsip persamaan bagian waris antara laki-laki dan perempuan.103

Penerapan hukum keluarga Turki dapat dilihat misalnya dalam kasus poligami. Berdasarkan the Turkish Civil Code 1926, poligami sama sekali dilarang dan jika terjadi maka perkawinan tersebut dinyatakan tidak sah. UU Turki tersebut melarang perkawinan lebih dari satu selama perkawinan pertama masih berlangsung. Pasal 93 menegaskan bahwa seorang tidak dapat menikah, jika dia tidak dapat membuktikan bahwa perkawinan yang pertama bubar karena kematian, perceraian, atau pernyataan pembatalan. Kemudian dalam pasal 112 (1) dikemukakan bahwa perkawinan yang kedua dinyatakan tidak sah oleh pengadilan atas dasar bahwa orang tersebut telah berumah tangga saat menikah.104

102 Ibid.

103 Tahir Mahmood, Family Law Reform in The Muslim World (Bombay: N.M.

Tripathi PVT. LTD., 1972), hlm. 24.

Ketentuan di atas juga dipertegas dalam the Turkish

Dokumen terkait