PEMBAHARUAN
Sanksi pelanggaran Pasal 72: Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 Pasal 44 Tentang Hak Cipta
1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). 2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau
menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait, sebagaimana dimaksud ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
Keinginan kuat umat Islam untuk menerapkan syariat adalah lumrah karena Islam adalah agama yang mereka yakini kebenarannya. Dalam perspektif global, kecenderungan untuk menjalankan ajaran agama menjadi mainstream setelah berakhirnya perang dingin pada akhir 1980 yang mengakibatkan memudarnya ikatan-ikatan ideologis dan kembali pada simpul-simpul primordial seperti agama. Dunia Islam mempunyai pengalaman beragam mengenai berbagai upaya guna mempertahankan eksistensi hukum-hukum agamanya, mulai dari ‘ekstrim kiri’ yang meleburkan hukum agama dalam hukum sekular bahkan pada tingkat tertentu menggantikannya dengan hukum sekular hingga ‘ekstrim kanan’ yang menerapkan hukum Islam secara rigid sebagaimana tertulis dalam teks keagamaan disertai pressure struktur keagamaan. Tantangan modernitas telah mengarahkan negara-negara Muslim untuk melakukan pembaharuan berupa upaya positifisasi hukum keluarga dengan metode dan pendekatan yang disesuaikan dengan pengalaman keberagamaan dan kultur masing-masing. Namun demikian secara garis besar dapat ditarik benang merah bahwa metode eklektik telah menjadi pilihan terlaris dalam kerangka mempertemukan antara divine law dan man-made law secara harmonis.
BAB IV METODE PEMBAHARUAN HUKUM KELUARGA; SEBUAH ANALISIS KOMPARATIF ~ 89
A. Dinamika Hukum Islam dalam Tantangan Modernitas ~ 89
B. Metode Pembaharuan Hukum Keluarga ~ 99
DAFTAR PUSTAKA ~ 109 TENTANG PENULIS ~ 115
Moh Khusen, M.A.
PEMBAHARUAN
HUKUM KELUARGA
Moh Khusen, M.A.
PEMBAHARUAN HUKUM KELUARGA DI NEGARA MUSLIM —Salatiga: 2012
xii + 118 hal.; 14,5 x 20,5
Hak Cipta dilindungi undang-undang © 2013
Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektris maupun mekanis, termasuk memfotocopy, merekam atau dengan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari Penulis dan Penerbit.
Penulis : Moh Khusen, M.A.
Editor : Mochlasin
Desain Cover : Alazuka
Desain Isi : djanoerkoening
Cetakan I ISBN
: September 2013 : 978-979-3549-18-7
Penerbit : STAIN Salatiga Press
Jl. Tentara Pelajar No. 2 Salatiga Jawa Tengah. Telp. (0298) 323706
Percetakan : CV. Orbittrust Corp.
Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 0,5 Gg. Jengger 01 Jongkang,Ngaglik, Sleman, Yogyakarta 55581 Telp. +62 328 230 858, +62 274 4463799 e-mail: [email protected]
KATA PENGANTAR ~ v DAFTAR ISI ~ ix
BAB I HUKUM KELUARGA; URGENSI DAN PERKEM BANGANNYA ~ 1
A. Urgensi Hukum Keluarga di Negara Muslim ~ 1 B. Metodologi Penulisan ~ 5
A. Hukum Perkawinan ~ 9
BAB II REFORMASI HUKUM KELUARGA DI INDONESIA ~ 9
B. Hukum Kewarisan ~ 15 C. Hukum Perwakafan ~ 26
A. Pembaharuan Hukum Keluarga di India ~ 35
BAB III KASUS PEMBAHARUAN HUKUM KELUARGA DI DUNIA MUSLIM ~ 35
B. Pembaharuan Hukum Keluarga di Pakistan ~ 49 C. Pembaharuan Hukum Keluarga di Malaysia ~ 60 D. Pembaharuan Hukum Keluarga di Turki ~ 74 A. Dinamika Hukum Islam dalam Tantangan
Modernitas ~ 89
Hampir seluruh Program Studi Ahwal al-Syakhshiyah PTAIN/S memasukkan mata kuliah Perbandingan Hukum Keluarga Islam di kurikulumnya. Hal ini dapat dipahami karena mata kuliah ini mem-berikan pengayaan pengetahuan mahasiswa tentang variasi penerapan hukum keluarga di berbagai belahan dunia sekaligus mengenalkan kepada mereka ‘versi modern’ dari Fiqh Munakahat, Mawaris, dan Wakaf yang secara riil diberlakukan di negara-negara tersebut. Karena muatan kajiannya yang melampaui wilayah Indonesia, maka bahan referensi yang digunakan berbahasa asing, Arab dan Inggris. Di STAIN Salatiga misalnya, mata kuliah ini diajarkan dengan referensi utama dua buah buku karya Tahir Mahmood yaitu Personal Law in Islamic Countries (1987) dan Family Law Reform in The Muslim World (1972). Oleh karena itu rintisan buku Bunga Rampai Pembaharuan Hukum Keluarga Islam ini akan menjembatani penguasaan mahasiswa dalam mata kuliah ini di samping juga sangat bermanfaat untuk memberikan data-data baru tentang hukum keluarga yang berlaku di masing-masing negara mengingat dua referensi karya Tahir Mahmood di atas sudah
out of date.
Buku ini akan mengkaji tentang pemberlakuan hukum keluarga Islam di negara-negara modern mulai dari Asia hingga Timur Tengah. Sasaran utama buku ini adalah pembahasan tentang produk undang-undangan yang mengatur tentang keluarga meliputi per-kawinan, perceraian, pemeliharaan anak, kewarisan, dan lain-lain yang telah diundangkan di negara tersebut. Pembahasan ini juga akan menyentuh aspek sejarah pemberlakuannya mulai dari awal pem bentukan hingga perkembangan terakhir yang terjadi.
Di tengah-tengah penyusunan buku ini penulis berkesempatan meng ikuti Refresher Program yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. Program ini telah memfasilitasi penulis untuk melakukan kunjungan ke India, salah satu Negara yang kebijakan pembaharuan hukum keluarganya penulis bahas dalam buku ini. Meskipun program ini lebih difokuskan untuk mendalami tentang manajemen pengelolaan perguruan tinggi, namun pengalaman satu bulan berada di beberapa wilayah India cukup memberikan tambahan pemahaman kondisi Negara tersebut, khusus nya dalam konteks kehidupan social keagamaan dan system hukumnya.
Oleh karena itu, terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada Prof. Dr. Muhammad Ali sebagai Dirjen Pendidikan Islam waktu itu, Prof. Dr. Dede Rosyada selaku Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Dr. M. Ishom Yuski selaku Kasubdit Ketenagaan, dan Ketua STAIN Salatiga atas rekomendasinya. Tidak ketinggalan penulis menyampaikan terima kasih juga kepada Pusat Ilmiah dan Penerbitan (PIP) STAIN Salatiga dan STAIN Salatiga Press, tanpa dukungan dan bantuannya buku ini tidak akan dapat diterbitkan.
Seiring dengan rasa syukur atas selesainya penulisan buku ini, penulis berharap buku ini bermanfaat bagi para pembaca, khususnya dari kalangan akademisi pemerhati hukum Islam. Buku ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu penulis membuka pintu seluas-luasnya untuk menerima kritik, saran, dan masukan konstruktif lainnya.
Salatiga, 27 Maret 2012
29 Desember 1989 disahkan dan di undangkan Undang-undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.7
Kedua produk perundang-undangan itu merupakan satu paket legislasi yang saling berhubungan secara timbal balik dan saling melengkapi. Kompilasi Hukum Islam disusun dan dirumuskan untuk mengisi kekosongan hukum yang bersifat substansial (mencakup hukum perkawinan, kewarisan, dan perwakafan), sedangkan Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 meng atur tentang prosedur beracara di Pengadilan Agama yang meliputi: kekuasaan Pengadilan Agama di bidang perkawinan, kewarisan, perwakafan, dan Shadaqah, khususnya untuk orang yang beragama Islam.
Penerapan hukum Islam dalam proses pengambilan keputusan di Pengadilan itu selalu menjadi masalah, karena rujukan yang digunakan oleh Pengadilan senantiasa berkeanekaragaman yang terdiri atas beragam kitab fikih dari bebagai aliran pemikiran, yang berakibat munculnya keragaman keputusan Pengadilan terhadap perkara yang serupa. Hal ini sangat merisaukan para petinggi hukum, terutama dari kalangan Mahkamah Agung dan Departemen Agama. Dengan diberlakukannya Kompilasi Hukum Islam kekosongan hukum itu telah terisi, dan kerisauan para petinggi hukum teratasi.
Penyusunan Kompilasi Hukum Islam dapat dipandang sebagai suatu proses transformasi hukum Islam dalam bentuk tidak tetulis ke dalam peraturan perundang-undangan. Dalam penyusunan itu dapat dirinci pada dua tahapan, yaitu sebagai berikut:
1. Pengumpulan bahan baku, yang digali dari berbagai sumber baik tertulis maupun tidak tertulis. Pengumpulan bahan baku
7 Cik Hasan Bisri, et. al, Kompilasi Hukum Islam dan Peradilan Agama di Indo-nesia: Dalam Sistem Hukum Nasional, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 1.
A. Urgensi Hukum Keluarga di Negara Muslim
Upaya untuk melaksanakan hukum Islam di berbagai kawasan yang paling menonjol adalah dalam bidang hukum keluarga. Meskipun dalam bidang-bidang lain seperti hukum muamalah atau tata perekonomian yang berdasakan syari’ah juga sedang diperjuangkan, hukum pidana Islam (jinayah) serta politik hukum Islam (siyasah syar’iyah). Hukum ekonomi Islam mengembangkan sistem ekonomi yang berdasar syari’ah; sistem bagi hasil. Hukum pidana Islam (jinayah) merupakan hukum publik yang berdasarkan syari’ah Islam.
Dari segi orisinalitasnya, hukum keluarga Islam memiliki kelebihan dibandingkan dengan produk hukum lain. Kelebihan itu terletak pada kemampuan hukum keluarga untuk bertahan dari pengaruh ideologi luar, baik dari agama lain maupun dari faham sekularisme maupun komunisme. Fenomena ini senada dengan tesis Herbert Lieberny sebagaimana dikutip oleh An-Na’im yang dikenal dengan nama “paradigma lima teori konsentris”. Paradigma itu mengatakan bahwa bagian hukum yang paling awal dan paling total digantikan oleh hukum Eropa
BAB I
HUKUM KELUARGA;
adalah dalam bidang perdagangan, kemudian diikuti hukum pidana, pertanahan, hukum kontrak dan gangguan. Sedangkan hukum keluarga dan waris yang berada dalam lingkaran paling dekat, paling sedikit terkena pengaruh hukum Eropa.1 Dengan
sedikit berbeda Norman D. Anderson mengemukakan bahwa ada dua pola reformasi hukum di dunia Islam. Pertama, syari’ah lambat laun semakin terabaikan dari kehidupan sehari-hari seperti dalam hukum dagang, pidana dan sebagainya untuk kemudian mengikuti hukum “asing”. Kedua, bahkan hukum keluarga yang dianggap sakral mengalami sejumlah perubahan signifikan dengan jalan menginterpretasikan ulang.2
Kemampuan resistensi yang besar dari hukum keluarga ini semakin kentara dengan adanya fenomena penerapan hukum keluarga dan waris di sebagian besar negara Islam maupun di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam yang tidak menampakkan keberanjakan yang cukup jauh dari ketentuan dalam Fikih klasik kecuali pada beberapa negara seperti Turki, Tunisia dan Somalia. ‘Keberanian’ hukum keluarga Turki dan Somalia, misalnya, tampak dalam ketentuannya yang memberikan bagian yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam menerima warisan, sedangkan dalam hukum keluarga Tunisia hal itu terlihat dalam aturan tentang perkawinan dan perceraian.
Dunia Islam mempunyai pengalaman yang sangat beragam mengenai berbagai upaya yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensi “hukum-hukum” agamanya, mulai dari yang paling “ekstrim kiri” sampai yang “ekstrim kanan”. Ekstrim kiri yang
1 Abdullahi Ahmad An-Na’im,
Toward an Islamic Reformation: Civil Liberties, Human Right and International Law, (New York: Syracuse University Press, 1990), hlm.
14. Lihat juga Noel J. Coulson, A History of Islamic Law (Edinburgh: Edinburgh University
Press, 1964), hlm. 161.
2 Norman D. Anderson, Law Reform in The Modern World (London: Athlone
Press, 1967), hlm. 1-2.
untuk mengangkat status wanita dan memberikan perlindungan kepada mereka, suatu hal yang sejalan dengan semangat Alquran dan Sunnah Rasul.
Meskipun kini perkawinan poligami telah dan agaknya akan menjadi hal yang jarang terjadi di Indonesia, namun efektifas hukum yang mengatur poligami kelihatannya masih diragukan. Di antara faktor penyebabnya adalah sanksi hukum atas pelanggaran UU ini, denda Rp. 7.500,- atau penjara 3 bulan, sudah dianggap tidak sesuai kondisi saat ini. Hukuman tersebut tidak cukup keras mencegah pelanggaran hukum tersebut. Selain itu masih terjadinya dualisme hukum di Indonesia: Hukum Islam tradisional versus hukum negara, mengakibatkan para pelaku poligami lebih memilih berlindung pada hukum Islam tradisional yang mengabsahkan poligami tanpa khawatir akan dijatuhi hukuman seperti yang diberlakukan oleh Hukum Islam “produk negara”. Sedangkan pemberlakuan sanksi bagi PNS meskipun cukup berat namun disayangkan hanya untuk kalangan terbatas.
B. Hukum Kewarisan
atasan/pejabat, kecuali Pegawai Bulanan di samping pensiunan, dijatuhi salah satu hukuman disiplin berat berdasarkan PP No.30/1980 tentang Peraturan Disiplin PNS, apabila melakukan salah satu/lebih perbuatan berikut:
a. Tidak melaporkan perkawinannya yang kedua/ketiga/keempat kepada Pejabat dalam jangka waktu selambat-lambatnya 1 tahun setelah perkawinan dilangsungkan.
b. Setiap atasan yang tidak memberi pertimbangan dan tidak meneruskan permintaan izin/pemberitahuan adanya gugatan perceraian untuk melakukan perceraian, dan atau untuk beristri lebih dari seorang dalam jangka waktu selambat-lambatnya 3 bulan setelah ia menerima permintaan izin/ pemberhentian adanya gugatan perceraian.
c. Pejabat yang tidak memberikan putusan terhadap permintaan izin perceraian/tidak memberikan surat keterangan atas pemberitahuan adanya gugatan perceraian dan atau tidak memberikan keputusan terhadap permintaan izin untuk beristri lebih dari seorang dalam jangka waktu selambat-lam batnya 3 bulan setelah ia menerima permintaan izin/ pemberitahuan adanya gugatan perceraian.
Berbagai ketentuan dalam UU Perkawinan No. 1/1974 maupun dalam KHI mengenai poligami di atas pada dasarnya tidak bertentangan dengan konsep mazhab-mazhab konvensional, termasuk mazhab Syafi‘i. Hampir sama dengan Hukum Keluarga Malaysia, persyaratan bagi seorang suami yang ingin berpoligami juga dihubungkan dengan kewajiban suami yang diatur dalam konsepsi fikih tradisional, yakni kemampuan memberi nafkah dan dapat berlaku adil kepada para istri. Begitu pula dengan kondisi darurat istri yang dimadu tampaknya dikaitkan dengan alasan fasakh. Lebih jauh produk hukum ini juga diorientasikan
dimaksud adalah negara-negara muslim yang sangat kental dengan faham sosialismenya dalam menerapkan hukum Islam dalam ranah kehidupan negara. Sedangkan ekstrim kanan me-rupakan kekuatan Islam yang tumbuh dan berkembang dengan visi dan misi menerapkan syariat Islam sebagai paradigma hukum yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga sistem sosial yang dibangun berlandaskan kepada hukum Islam.
Menurut J. N. D. Anderson tipologi pembaharuan Hukum Islam di kawasan dunia muslim ada tiga corak, yaitu (1) negera-negara yang masih menganggap Syari’ah sebagai hukum dasar dan masih dapat diterapkan seluruhnya, (2) Negara yang membatalkan hukum Syari’ah dan telah menggantinya dengan hukum yang seluruhnya sekuler (Hukum Barat) dan (3). Negara yang menempuh jalan kompromi antara Syari’ah dan Hukum sekuler . Adapun negara yang termasuk kategori pertama adalah Saudi Arabia, kategori kedua adalah Turki dan kategori yang ketiga negara seperti Mesir, Tunisia, Pakistan dan Indonesia.
Politik hukum Islam merupakan strategi dalam memper-juangkan hukum Islam dan pelaksanaannya melalui sistem hukum dan sistem peradilan di kawasan tertentu. Di beberapa kawasan yang paling menonjol adalah dalam bidang hukum keluarga. Sebab hukum keluarga dirasakan sebagai garda terdepan dalam pembinaan masyarakat muslim yang diawali dari pembentukan keluarga sakinah. Pembinaan masyarakat muslim yang paling awal berasal dari keluarga, dengan asumsi bahwa keluarga yang sejahtera dan berhasil membina seluruh anggotanya akan mem-berikan kontibusi kepada kemajuan di tengah masyarakat serta dalam komunitas yang lebih besar.
rujuk, warisan, wakaf, hibah dan shadaqah) dapat disebutkan sebagai format baru yang mengakomodasikan gagasan-gagasan pembaharuan pemikiran Hukum Islam yang relatif fenomenal. Yordania, misalnya merumuskan Jordanian Law of Family Right
tahun 1951, Syiria dengan Syirian Law of Personal Status tahun 1953, Maroko mengundangkan Family Law of Marocco tahun 1957, Pakistan dengan Family Law of Pakistan pada tahun 1955, Irak mengundangkan Law of Personal Status for Iraq tahun 1955, Tunisia dengan Code of Personal Status tahun 1957 dan Sudan dengan Sudan Family Law tahun 1960 .
Beberapa hal yang baru dalam produk perundang-undang-an tersebut adalah dalam Hukum perkawinperundang-undang-an yperundang-undang-ang me-liputi pencatatan perkawinan, pembatasan usia perkawinan, persetujuan kedua calon mempelai, izin poligami, perceraian harus dilakukan di depan sidang pengadilan, dan tindakan hukum yang merupakan upaya untuk mewujudkan perkawinan dengan segala akibatnya. Hal baru dalam hukum keluarga tersebut bisa dapat dilihat dari keberanjakannya dari hukum fikih menuju hukum positif yang berupa perundang-undangan di negara muslim tersebut.
Untuk melaksanakan hukum keluarga atau perundang-undangan hukum perseorangan (personal status), maka ke-beradaan suatu sistem peradilan juga merupakan dua sisi dari mata uang, keberadaannya tidak bisa dipisahkan dari legislasi Islam melalui perundang-undangan dan pendirian pengadilan. Di beberapa kawasan untuk menyebutkan sistem peradilan Islam yang melaksanakan hukum keluarga dengan beraneka nama; di Indonesia dengan nama Peradilan Agama, Mahkamah Syari’ah, Kerapatan Qadhi, Peradilan Ugama, Raad Agama, Family Court, Peradilan Surambi, Pristeraad, Majelis Syara’ dan lain-lain.
Ketentuan yang sama tetap dipertahankan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang ditetapkan pada tahun 1991.4
Pengadilan dalam hal ini memainkan peran penting dalam pemberian izin kepada suami untuk berpoligami. Meskipun demikian baik UU No. 1 /1974 maupun KHI tidak mencantumkan sanksi hukum terhadap pihak yang melakukan pelanggaran. Sanksi poligami diatur dalam Peraturan Pemerintah No.9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No.1/1974, disebutlkan bahwa pelaku poligami tanpa izin Pengadilan dapat dijatuhi hukuman denda Rp. 7.500,-.5 Sanksi hukum juga dikenakan kepada
petugas pencatat yang melakukan pencatatan perkawinan seorang suami yang berpoligami tanpa izin Pengadilan dengan hukuman kurungan maksimal 3 bulan atau denda maksimal Rp. 7.500,-.6
Di samping itu, hukuman yang relatif berat dijatuhkan bagi Pegawai Negeri Sipil yang berpoligami di luar ketentuan yang ditetapkan. Disebutkan dalam Surat Edaran No.48/SE/1990 tentang Petunjuk Pelaksanaan PP No. 45/1990 tentang perubahan atas PP No. 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil, bahwa PNS dan atau atasan/pejabat, kecuali Pegawai Bulanan di samping pensiunan, dijatuhi salah satu hukuman disiplin berat berdasarkan PP No.30/1980 tentang Peraturan Disiplin PNS. Dalam Surat Edaran No.48/SE/1990 tentang Petunjuk Pelaksanaan PP No. 45/1990 tentang perubahan atas PP No. 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil, bagian VII perihal Sanksi, disebutkan bahwa PNS dan atau
4 Dalam KHI persoalan poligami diatur dalam pasal 55-59, dari segi substansi
pasal-pasal tersebut mengacu dan selaras dengan ketentuan yang diatur oleh UU No. 1/1974 Pasal 3, 4, dan 5.
5 Peraturan Pemerintah (PP) No. 9 1975 Pasal 45 ayat (1)
ketentuan hukum tersebut (Pasal 3); dan memang salah satu tujuan utama dari UU Perkawinan adalah untuk menekan tingkat perkawinan poligami. Di sisi lain, UU tersebut memperkenankan laki-laki untuk mempunyai lebih dari seorang istri jika ia mampu memenuhi persyaratan dari sejumlah ketentuan UU tersebut, diperbolehkan oleh agamanya, dan memperoleh izin dari Pengadilan Agama.
Disebutkan dalam Pasal 4 : (1) Dalam hal seorang suami akan beristri lebih dari seorang, sebagaimana tersebut dalam Pasal 3 ayat 2 Undang-undang ini, maka ia wajib mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggalnya. (2) Pengadilan yang dimaksud dalam ayat 1 pasal ini hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristri lebih dari seorang apabila istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri, istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan, atau istri tidak dapat melahirkan keturunan. Sedangkan pada Pasal 5 ayat 1 menyebutkan bahwa untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat 1 Undang-Undang ini, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (1) adanya persetujuan dari istri/istri-istri; (1) adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup istti-istri dan anak-anak mereka; (3) adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka. Meskipun hak tersebut tetap dipertahankan, namun secara prosedur administratifnya tidaklah mudah. Jadi, secara umum ketentuan ini membatasi kemungkinan terjadinya penggunaan hak tersebut secara sewenang-wenang.3
3 Simon Butt, “Polygamy and Mixed Marriage in Indonesia: The Application of
The Marriage Law in Courts,” dalam Timothy Lindsey (Ed.), Indonesia: Law and Society,
The Federation Press, Leichhardt, 1999, hlm. 132.
B. Metodologi Penulisan
Buku ini membahas tentang kasus pembaharuan hukum keluarga di Negara-negara Muslim. Sebagai sebuah studi kasus buku ini lebih ditekankan untuk mengungkap faktor-faktor yang menjadi pertimbangan diundangkannya aturan-aturan hukum keluarga yang ternyata tidak sama dan sebangun dengan aturan dalam Fikih klasik. Adapun pemilihan kepada Negara-negara yang dibahas untuk edisi ini dikhususnkan kepada wilayah Asia. Malaysia merupakan representasi dari Asia Tenggara, India dan Pakistan mewakili Asia Selatan, dan Turki mewakili Negara yang secara geografis berada di Asia namun kebudayaan dan per gaulan lebih dekat kepada Eropa sehingga bergabung dengan Uni Eropa. Di samping itu juga mempertimbangkan keterwakilan dari aspek afiliasi madzhab hukumnya, seperti sunni dan syi’ah; misalnya Turki dihuni oleh penduduk bermadzhab Hanafi, India dan Pakistan mayoritas Hanafi namun minoritas Syi’ah Ja’fariyah, dan Malaysia bermadzhab Syafi’i.
Pertanyaan di atas dibahas dengan cara mendeskripsikan sistem peradilan hukum keluarga di negara-negara muslim modern. Untuk menjawab permasalahan di atas disusun siste matika pembahasan sebagai berikut: Pendahuluan akan mem bahas tentang sejarah berdirinya negara-negara tersebut; hal ini dimaksudkan melihat gambaran secara global tentang negara-negara tersebut. Kemudian akan dikemukakan masalah sketsa politik di negara-negara tersebut; hal ini dimaksudkan sebagai bahan analisis tentang pengaruh politik terhadap hukum keluarga di sana. Selanjutnya dikemukakan tentang potret hukum keluarga di setiap negara serta sistem peradilan dan hukum keluarganya. Hal ini dimaksudkan sebagai bahan analisis apakah hukum keluarga itu sesuai dengan madzhab fikih, terutama mazhab yang dominan di ketiga negara tersebut. Studi ini akan ditutup dengan analisis komparatif.
Bagian analisis buku ini mengetengahkan tiga tingkat analisis perbandingan; pertama, analisis perbandingan antara perundang-perundangan di sebuah negara dengan aturan baku dalam kitab Fikih. Analisis ini menghasilkan gambaran tentang perbedaan ketentuan yang ada dalam keduanya, sejauhmana produk per-undang-undangan tersebut bergeser dari ketentuan-ketentuan Fikih, dan argumentasi yang mendasari pergeseran tersebut.
Kedua, analisis perbandingan antara produk perundang-undangan satu negara dengan produk perundang-perundang-undangan di Indonesia yang meliputi UU Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam, dan UU Wakaf. Latar belakang madzhab yang berlaku di sebuah negara tentu menjadi diskusi awal dalam analisis ini. Tahapan selanjutnya memperlihatkan corak pembaharuan yang terjadi dalam bingkai madzhab masing-masing negara dan sejauhmana madzhab tersebut ikut mewarnai reformasi hukum keluarga di sana.
warga Indnesia yang beragama kristen di Jawa, Minahasa dan Ambon; Kitab Undag-undang Hukum Perdata bagi warga negara Indonesia keturunan Eropa dan Cina; dan peraturan Perkawinan Campuran bagi perkawinan campuran.
Setelah UU Perkawinan, upaya pembaharuan berikutnya terjadi pada masa Menteri Agama Munawir Syadzali yang di-tandai dengan lahirnya Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada 10 Juni 1991 yang materinya mencakup aturan perkawinan, kewarisan dan perwakafan. Jadi, dalam konteks pembaharuan hukum keluarga Islam pada khususnya dan hukum Islam pada umumnya, maka Indonesia termasuk yang telah melakukan pembaharuan relative lebih luas, yakni meliputi urusan per-kawinan, perceraian, hadhanah, nafkah, waris dan wakaf, poligami. Di bidang perwakafan, usaha positifisasi telah di lakukan melalui UU No 41 tahun 2004 tentang Wakaf yang merupakan tindak lanjut dari PP No 28/ 1977 tentang perwakafan tanah milik. Ini menunjukkan bahwa di Indonesia selain mengatur wakaf dalam Kompilasi Hukum Islam, juga mengaturnya secara tersendiri dalam UU No. 41/2004 yang sifatnya lebih mengikat.
ketentuan-warisan Belanda, dan hukum-hukum lain, berdasarkan asas konkordansi, adanya pengaruh hukum Barat yang tidak bisa dinafikan begitu saja. Seperti halnya bidang pencatatan dalam perkawinan, kewarisan, perwakafan, wasiat dan sebagainya.
Persoalan pencatatan perkawinan dalam fikih klasik dinilai sebagai sesuatu yang tidak signifikan untuk dilakukan karena pola pikir dan kehidupan yang masih tradisional. Padahal apabila ideal moral yang dikandung dalam al Qur’an sangat jelas me merintahkan perlunya sistem administrasi yang rapi dalam urusan hutang piutang maupun transaksi perjanjian, sehingga masalah yang berhubungan dengan perbuatan hukum seseorang seperti perkawinan, kewarisan, perwakafan yang mempunyai akibat hukum lebih kompleks, pencatatan mempunyai peran yang lebih penting.
Upaya konkret pembaruan hukum keluarga di Indonesia di mulai sekitar tahun 1960-an yang berujung dengan lahirnya Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Namun demikian, jauh sebelum itu sesungguhnya telah ada upaya-upaya pembaruan hukum keluarga yang berlaku. Misalnya pada tanggal 1 oktober 1950, Menteri Agama membentuk suatu panitia penyelidik yang bertugas meneliiti kembali semua peraturan mengenai perkawinan serta menyusun RUU perkawinan yang sesuai dengan perkembangan zaman. RUU itu selanjutnya diajukan ke DPR oleh pemerintah pada tahun 1958. Sayangnya DPR ketika itu lalu dibekukan melalui dekrit presiden 5 Juli 1959. Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 merupakan Undang-undang pertama di Indonesia yang mengatur soal perkawinan secara nasional. Sebelum itu urusan perkawinan diatur melalui beragam hukum, yaitu: hukum adat bagi warga negara Indonesia asli; hukum Islam bagi warga negara yang beragama Islam; Ordinansi Perkawinan Indonesia Kristen bagi
A. Hukum Perkawinan
Indonesia merupakan negara yang jumlah mayoritas pen-duduknya beragama Islam, namun konstitusi negaranya tidak menyatakan diri sebagai negara Islam tetapi sebagai negara yang mengakui otoritas agama dalam membangun karakter bangsa. Sehingga Indonesia mengakomodir hukum-hukum agama sebagai sumber legislasi nasional, selain Hukum Adat, dan Hukum Barat. Apabila menggunakan tipologi pembaharuan hukum Islam merupakan tipologi yang ketiga, sebab menempuh jalan kompromi antara syariah dan hukum sekuler.
Hukum keluarga di Indonesia dalam upaya perumusannya selain mengacu pada kitab-kitab fikih klasik, fikih modern, him punan fatwa, keputusan pengadilan (yurisprudensi), juga ditempuh wawancara kepada seluruh ulama Indonesia. Pengambilan terhadap Hukum Barat sekuler memang tidak secara langsung dapat dibuktikan, tetapi karena di Indonesia berjalan cukup lama Hukum Perdata (Burgelijk Wetbook) yang diterjemahkan menjadi Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Hukum Acara Perdata (Reglemen Indonesia yang diperpaharui)
BAB II
maksimal dapat dilakukan. Harta wakaf yang dinilai kurang menguntungkan secara ekonomis maupun secar strategis, seperti lahan pertanahan yang sangat jauh dari lokasi di mana Nadir berada justru hanya akan menyulitkan dan besar kemungkinan akan terbengkalai. Sebagai solusinya, adalah si wakif dapat menjual harta yang akan diwakafkan tersbut lebih dahulu, kemudian uang hasil penjualan itulah yang diwakafkan kepada Nadzir.
Kelima, sertifikasi tanah wakaf menjadi harga mati demi legalitas hukum dalam pengelolaanya. Lagi-lagi ini merupakan pembaharuan dari pradigma lama bahwa wakaf hanya cukup dan sudah sah dilakukan secara lisan tanpa adanya pencatatan resmi oleh pemerintah. Fakta sejarah mencatat bahwa praktik perwakafan secara tradisional telah berujung pada masalah-masalah baru, seperti hilangnya benda wakaf, perebutan harta wakaf oleh ahli waris, ketidakjelasan status harta wakaf, dan lain-lain yang berujuang pada tidak terurusnya harta wakaf secara baik. Oleh karena itu, pola sertifikasi tanah wakaf dan hart wakaf secara umum merupakan upaya pembaharuan bagi manajemen perwakafan di Indonesia.
Keenam, perlunya persyaratan ketat bagi seorang Nazdir. UU Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf telah memberikan ketentuan tentang Nadzir sebagai berikut: (1) Selain mengatur Nadzir perseorangan, UU juga mengatur Nadzir yang berupa organisasi dan Badan Hukum. Inovasi tentang Nadzir organisasi dan Badan Hukum merupakan langkah tepat berpijak pada pengalaman sebelum adanya UU bahwa Nadzir perseorangan telah banyak membuka peluang terjadinya penyelewengan dan atau pengabaian tugas-tugas Nadzir. (2) Penetapan persyaratan seorang Nadzir diarahkan kepada kinerja professional. Hal ini
dalam penyusunan Kompilasi Hukum Islam dilakukan melalui beberapa jalur. Diantaranya sebagai berikut:
a. Penelaahan 38 kitab fikih dari berbagai madzhab, men-cakup 160 masalah hukum keluarga. Penelaahan kitab fikih itu dilakukan para pakar di tujuh IAIN
b. Wawancara dengan 181 ulama yang tersebar di sepuluh daerah hukum Pengadilan Tinggi Agama waktu itu (Aceh Medan, Padang, dan Mataram)
c. Penelaahan produk Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama yang terhimpun dalam 16 buah buku. Ia terdiri atas empat jenis, yakni himpunan putusan Pengadilan Tinggi Agama, himpunan fatwa Pengadilan, himpunan yurisprudensi Pengadilan Agama, dan law report tahun 1977 sampai tahun 1984
d. Kajian perbandingan hukum keluarga yang berlaku di Maroko, Mesir dan Turki. Di samping itu, memperhatikan aspek-aspek historis dan kemajemukan masyarakat bangsa Indonesia, baik secara vertikal maupun horizontal.8
2. Perumusan yang didasarkan kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku dan sumber hukum Islam yakni al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Selain itu, para perumus mem-perhatikan perkembangan yang berlaku secara global serta memperhatikan tatanan hukum Barat tertulis dan tatanan hukum Adat yang memiliki titik temu dengan tatanan hukum Islam. Berkenaan dengan hal itu, dalam beberapa hal, maka terjadi adaptasi dan modifikasi tatanan hukum lainnya itu ke dalam Kompilasi Hukum Islam. Dengan demikian, Kompilasi Hukum Islam merupakan suatu perwujudan hukum Islam yang khas di Indonesia atau dengan kata lain, Kompilasi
8
Hukum Islam merupakan wujud hukum Islam yang bercorak keindonesiaan.9
Nampak jelas dalam paparan di atas bahwa sampai saat ini belum terdapat undang-undang tersendiri yang mengatur tentang hukum kewarisan di Indonesia sebagaimana Undang-undang Perkawinan. Aturan kewarisan baru diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), khususnya buku II dan sekaligus menjadi salah satu rujukan bagi penyelesaian permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam dalam bidang perkawinan, kewarisan, dan perwakafan.
Dalam Bab I, pasal 171 Kompilasi Hukum Islam tentang Ketentuan Umum, dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan: a. Hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang
pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pe-waris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.10
Pada dasarnya pengertian hukum kewarisan menurut Kompilasi hukum Islam sama dengan pengertian warisan menurut fikih.
b. Pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan Pengadilan ber-agama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan. Pengertian ini juga tidak jauh bebeda dengan pengertian pewaris menurut fikih. Hanya saja di dalam Kompilasi Hukum Islam orang yang meninggal dunia tersebut bedasarkan putusan Pengadilan. Hal ini untuk mempermudah pembuktian. Karena pada dasarnya hukum di Pengadilan berdasarkan pembuktian. Bukti yang dimaksud adalah surat kematian.
9 Ibid, hlm. 9.
10 Departemen Agama, Undang-Undang Perkawinan di Indonesia; Dilengkapi Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Surabaya: Arkola, t.t.), hlm. 239.
Kedua, system ikrar wakaf yang dilakukan oleh para calon wakif diarahkan kepada bentuk ikrar wakaf untuk umum, bukan untuk kepentingan khusus seperti yang selama ini terjadi. Kebijakan ini harus dimaknai dalam rangka mempermudah dalam pengelolaannya oleh Nadzhir. Tanah wakaf yang berada di kaki gunung, misalnya, tidak perlu dibatasi dalam ikrarnya hanya untuk membangun pesantren karena boleh jadi menurut analisis riilnya tanah tersebut hanya cocok untuk perkebunan atau pertanian. Dengan penyebutan ikrar secara lebih umum maka pengelolaan harta wakaf oleh Nadzir dapat dilakukan secara lebih maksimal sesuai dengan kondisi harta wakaf dan kebutuhan umat secara umum.
Ketiga, UU No. 41 Tahun 2004 Bab IV Pasal 41 memberikan legalitas terhadap penukaran benda wakaf selama mendapatkan izin dari Menteri Agama RI dengan dua alasan yakni karena sudah tidak sesuai lagi dengan tujuan utama wakaf dan sepenuhnya demi kepentingan umum. Pemberdayaan harta wakaf menjadi tujuan paling utama dari manajemen pengelolaan wakaf, oleh karena itu secara substansial kalau pemberdayaan itu baru dapat dilaksanakan dengan syarat adanya penukaran harta wakaf, maka dibolehkan dan mendapatkan legalitas hukum. Aturan pembolehan ini dengan demikian merupakan pembaharuan dari paradigma Fikih madzhab Syafi’iyah yang telah mengakar kuat dalam praktik umat Islam Indonesia bahwa harta wakaf adalah untuk Allah yang karenanya tidak boleh diutak-atik lagi dengan alasan apapun.
tentang Wakaf dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang pelaksanaannya. Keduanya memiliki arti penting dalam pengembangan pengellaan harta wakaf, yakni tidak hanya untuk kepentingan ibadah mahdah, melainkan untuk kepentingan produktif guna menunjang kepentingan social.
Regulasi peraturan perundangan perwakafan tersebut se sungguhnya telah lama didambakan dan dinantikan oleh masyarakat Muslim Indonesia. Pengelolaan wakaf secara pro-duktif untuk kesejahteraan umat menjadi tuntutan yang tidak bisa dihindari lagi. Ditambah lagi dengan kondisi Negara Indonesia yang mengalami krisis ekonomi yang membutuhkan partisipasi dari berbagai pihak.
Kedua peraturan peprundangan perwakafan tersebut memiliki nilai lebih dalam hal: pertama, benda yang diwakafkan (mauquf bih). Dalam peraturan wakaf sebelumnya, benda wakaf hanya dibatasi benda yang tidak bergerak dan lebih banyak digunakan untuk kepentingan yang tidak produktif seperti masjid, madrasah, makam, yayasan yatim piatu, pesantren, sekolah, dan lain-lain sedangkan dalam UU dan PP Wakaf diatur juga tentang benda wakaf yang bergerak seperti uang, (cash waqf), saham, surat-surat berharga lainnya dan hak intelektual. Ini adalah terobosan yang luar biasa karena wakaf seperti uang, saham atau surat berharga lainnya merupakan variable penting dalam pengembangan ekonomi. Namun demikian, pembaharuan paradigma wakaf dengan harta bergerak tersebut perlu diberikan penegasan bahwa kebolehannya bukan dalam arti untuk dibelanjakan secara konsumtif, melainkan untuk kepentingan produktif guna menunjang kesejahteraan umat. Aspek kemanfaatana yang diharapkan dari barang-barang bergerak ini bukan terletak pada dzat dari barang tersebut, melainkan pada manfaatnya itu sendiri.
c. Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.
Seseorang yang beragama Islam bisa dilihat dari kartu iden-titas, pengakuan, perbuatan, maupun pelaksanaan ibadah. Sedangkan bagi bayi yang baru lahir beragama me nurut ayah-nya atau lingkunganayah-nya.
d. Harta peninggalan adalah harta yang ditinggalkan oleh pewaris baik yang berupa harta benda yang menjadi miliknya maupun hak-haknya.
e. Harta warisan adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah
(tajhiz), pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat.11
Di sini terjadi perbedaan konsep; dalam fikih tidak ada perbedaan antara pengertian harta peninggalan dan harta warisan. Sedangkan di dalam Kompilasi Hukum Islam harta peninggalan dan harta warisan dibedakan, karena yang dimaksud dengan harta peninggalan belum tentu harta warisan. Harta peninggalan sifatnya menyeluruh karena belum dikurangi tanggungan-tanggungan yang harus diselesaikan dari sebelum dan sesudah si pewaris meninggal dunia. f. Wasiat adalah pemberian suatu benda dari pewaris kepada
orang lain atau lembaga yang akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia.
Selanjutnya, di dalam Kompilasi Hukum Islam juga dijelas-kan sebab-sebab menerima warisan yang sedikit berbeda dengan sebab-sebab menerima warisan dalam perspektif fikih. Di dalam
11
fikih sebab-sebab menerima warisan ada tiga, diantaranya sebab nasab, pernikahan, dan wala’. Wala’ yaitu seseorang yang memerdekakan budak laki-laki atau perempuan, dengan dia memerdekakannya, maka kekerabatan tersebut menjadi miliknya. Sedangkan di dalam pasal 175 Kompilasi Hukum Islam sebab-sebab menerima warisan hanya ada dua, yaitu karena sebab-sebab nasab dan sebab pernikahan. Dan istilah wala’ tidak dikenal dalam Kompilasi Hukum Islam Mengingat bahwa Kompilasi Hukum Islam merupakan hukum Islam yang bercorak keindonesiaan. Dan di Indonesia tidak mengenal perbudakan atau wala’ sebagaimana di negara Arab zaman dahulu di mana hukum kewarisan Islam pertama kali dibangun.12
Halangan-halangan menerima warisan juga dijelaskan dengan sedikit perbedaan dalam dalam perspektif fikih. Halang-an-halangan menerima warisan dalam fikih ada lima, yaitu karena kekafiran, pembunuhan, perbudakan, zina dan li’an. Sedangkan dalam pasal 173 Kompilasi Hukum Islam halangan-halangan menerima warisan ada dua, yaitu yang dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewaris, dan yang dipersalahkan karena memfitnah dengan mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.13
Kompilasi Hukum Islam sebagai hukum materiil di Pengadilan Agama telah mengintrodusir beberapa model pembagian waris yang belum pernah dijelaskan dalam Fikih, khususnya Madzhab Syafi’i, yang dianut oleh sebagian besar umat Muslim Indonesia. Di antaranya adalah sistem kewarisan kolektif. Dalam pasal 189
12 Fathur Rahman, Ilmu Waris, (Bandung: PT. Al-Ma’arif), hlm. 390. 13 Departemen Agama,
op.cit, hlm. 240.
kepada seseorang yang dianggap tokoh masyarakat seperti kyai, ulama, ustadz, ajengan, dan lain-lain. Mereka inilah yang kemudian bertindak sebagai nadzir wakaf, meskipun si wakif belum mengetahui secara persis kemampuan para tokoh tersebut dalam mengelola harta wakaf. Dalam kenyataannya, banyak para tokoh tersebut yang tidak memiliki kemampuan memadai dalam hal pengelolaan harta wakaf, sehingga harta wakaf tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal bagi masyarakat sekitar.
Praktik perwakafan semacam ini pada nantinya terbukti lebih banyak memunculkan persoalan khususnya mengenai validitas dan legalitas harta wakaf yang tidak sedikit berujung pada persengketaan. Persengketaan ini terjadi lebih banyak di-sebab kan oleh ketiadaan bukti autentik bahwa benda tertentu telah diwakafkan. Minimnya kemampuan pengelolaan juga mengakibatkan banyaknya bharta wakaf yang terbengkalai tidak terurus.
Tidak terbantahkan lagi, bahwa dalam sejarah Islam wakaf merupakan sarana dan modal yang sangat penting dalam memajukan perkembangan agama. Sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, perwakafan di Indonesia diatur dalam PP. Nomor 28 Tahun 1977 tentang perwakafan tanah milik dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria. Namun, peraturan perundangan tersebut hanya mengatur benda-benda wakaf yang tidak bergerak dan peruntukannya lebih banyak untuk kepentingan ibadah mahdlah, seperti pembangunan masjid, musholla, pesantren, makam dan lain-lain.
Problem akan mulai muncul ketika, misalnya, si anak yang di-tunjuk sebagai pemegang amanat wakaf sudah meninggal dunia; siapa yang akan memanfaatkan harta wakaf tersebut.
Paradigma perwakafan tradisional lainnya adalah terkait ketidakbolehan menukar harta wakaf. Madzhab Syafi’yah me-nyatakan bahwa harta wakaf tidak boleh ditukarkan denga alasan apapun.26 Sebuah masjid, misalnya, meskipun kondisinya
yang sudah akan roboh tidak boleh dijual secara mutlak. Sebagai perbandingan, Imam Ahmad bin Hanbal justru membolehkan menjual harta wakaf untuk ditukar denngan harta lainnya. Artinya, dalam kasus masjid tersebut, bagi Imam Ahmad boleh dijual apabila masijd itu sudah tidak lagi sesuai dengan tujuan wakaf sebagaimana diniatkan oleh orang yang berwakaf (wakif). Namun demikian hasil penjualannya harus digunakan untuk membanun masjid lain yang lebih representative dan dapat dimanfaatkan secara maksimal.27 Ulama Hanafiyah
membolehkan menukar benda wakaf dengan syarat: 1) apabila wakif member isyarat akan kebolehan menukar harta tersebut ketika mewakafkannya; 2) apabila benda wakaaf tidak dapat dipergunakan lagi; 3) apabila manfaat benda pengganti wakaf itu lebih besar daripada harta wakaf.28 Jadi, perubahan peruntukan
harta wakaf pada prinsipnya tidak dibolehkan kecuali apabila harta wakaf tersebut sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi sesuai dengan tujuan wakaf semula.
Kebiasaan terakhir sebagai manifestasi dari paradigma wakaf tradisional adalah tradisi masyarakat Muslim Indonesia yang lebih suka mewakafkan hartanya dengan mempercayakan
26 Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
1998). Hlm. 519.
27 Abu Zahrah, Muhadharah fi al-Waqf, t.tp., 1971.
28 Ahmad Rofiq,
op.cit., hlm. 519.
KHI disebutkan bahwa jika harta warisan yang akan dibagi berupa lahan pertanian seluas kurang dari dua hektar dapat diwarisi secara bersama-sama dengan cara dipertahankan sebagaimana semula dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama para ahli waris. Namun jika hal ini tidak mungkin maka lahan tersebut dapat dimiliki seorang atau lebih ahli waris yang berhak sesuai dengan bagiannya masing-masing, dengan cara yang memiliki lahan manggantikan atau memberikan kompensasi sebesar atau senilai bagian ahli waris yang membutuhkannya.14
Selain itu KHI juga memperkenalkan konsep gono-gini atau harta bersama dalam pembagian waris. Pembagian gono-gini dilaksanakan dengan cara membagi harta lebih dahulu menjadi dua atau lebih sesuai jumlah istri sebanding dengan durasi waktu masing-masing isteri menjalani perkawinan dengan pewaris (suaminya). Ketentuan ini disebutkan dalam pasal 190 KHI.15
Nampak bahwa konsep pembagian ini dipengaruhi oleh hukum waris Adat yang telah dipraktekkan dalam masyarakat. Istilah
gono-gini itu sendiri sesungguhnya telah dikenal di Jawa Timur, sedangkan di Jawa Barat dikenal guna kaya, di Mingangkabau dikenal harta suarang dan di Aceh dikenal hareuta seuhareukat.16
KHI juga memperkenalkan sistem pembagian waris dengan cara damai. Pasal 183 KHI menyatakan bahwa para ahli waris dapat bersepakat melakukan perdamaian dalam pembagian harta warisan setelah asing-masing menetahui bagiannya.17
Sebagaimana dalam sistem gono-gini, pembagian secara damai ini juga merupakan bentuk akomodasi terhadap adat yang berlaku.
14 Departemen Agama,
Undang-Undang Perkawinan di Indonesia; dilengkapi Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Arkola, Surabaya, t.t., hlm. 241.
15 Ibid.
16 Ahmad Rofiq, Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Gama
Media, 2001), hlm. 123.
Masyarakat Muslim Indonesia telah terbiasa membagi harta waris berdasarkan perdamaian antar keluarga, bahkan sering juga dilakukan secara hibah ketika pewaris masih hidup.
Satu lagi yang diperkenalkan oleh KHI adalah tentang sistem penggantian kedudukan ahli waris (mawali/plaatsvervullings). Sistem ini diatur dalam pasal 185 KHI bahwa ahli waris yang meninggal dunia lebih dahulu daripada pewaris kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya dengan syarat bagian ahli waris pengganti tersebut tidak boleh melebihi bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti.18 Penerapan sistem ini dapat
dikatakan sebagai pengaruh dari KUH Perdata yang mengenal
plaatsvervullings. Apapun pengaruh yang muncul, sistem yang merupakan pembaharuan dari Fikih Sunni ini diterapkan dalam rangka menegakkan keadilan bagi ahli waris dzawil arham yang senantiasa terhalang oleh keberadaan ahli waris ashab al-furud.
Eksistensi Kompilasi Hukum Islam sebagai hukum materiil di Pengadilan Agama ini sesungguhnya hingga tahun 2006 belum sepenuhnya diakui oleh komunitas penegak hukum di Indonesia. Hal ini disebabkan adanya pembatasan kekuasaan Pengadilan Agama dalam menangani kasus kewarisan. Sebagaimana telah dijelaskan dalam penjelasan umum huruf b Undang-undang No. 7 Tahun 1989, bahwa “para pihak sebelum berperkara dapat mempertimbangkan untuk memilih hukum apa yang akan dipergunakan dalam pembagian warisan”.19 Penjelasan ini
me-nunjukkan adanya hak opsi. Adanya hak opsi ini karena kondisi masyarakat Indonesia yang sifatnya plural dan berbagai sistem hukum di Indonesia juga bermacam-macam, sehingga hak opsi
18 Ibid.
19 Departemen Agama, Undang-Undang No. 7 Tahun 1989, Tentang Peradilan Agama, hlm. 21
senantiasa memiliki nilai mulia di mata Tuhan tanpa harus melalui prosedur administratif, dan harta wakaf dianggap milik Allah sehingga siapa saja tidak akan berani menggugatnya.
Secara garis besar, praktik perwakafan tradisional umat Islam Indonesia yang merujuk kepada madzhab Syafi’iyah ini jelas terlihat dari isu sentral, yakni ikrar wakaf, harta yang boleh diwakafkan, kedudukan harta setelah diwakafkan, peruntukan dan penukaran harta wakaf. Dalam hal ikrar wakaf, pendapat madzhab Syafi’iyah menyatakan bahwa pernyataan lisan yang jelas (sharih) merupakan syarat sebuah ikrar wakaf yang sah. Pernyataan itu harus menggunakan kata yang jelas seperti waqaftu, habastu, atau
sabbaltu atau kata-kata kiasan yang dibarengi dengan niat wakaf secara tegas. Dari pandangan Imam Syafi’I tersebut selanjutnya dipahami bahwa pernyataan wakaf cukup dengan lisan saja, tanpa harus disertai dengan bukti tertulis.
Dalam hal harta yang boleh diwakafkan (mauquf bih), pen-dapat madzhab hanya membolehkan wakaf terhadap harta yang tidak bergerak dan peruntukannya pun untuk kepentingan yang tidak produktif, misalnya untuk pembangunan masjid, madrasah, makam, yayasan yatim piatu, pesantren, sekolah dan lain-lain. Paradigma seperti ini menyebabka wakaf belum dapat dikembangkan secara maksimal.
ayahnya atau lingkungannya. Adapun identitas pewaris dijelaskan pada pasal 171 huruf b yaitu orang yang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan pengadilan, beragama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan. Posisi ‘mengambang’ KHI dalam hal ini jelas terlihat dalam penjelasannya tentang halangan-halangan menerima warisan yang sedikit berbeda dengan perspektif fikih. Halangan-halangan menerima warisan dalam fikih ada lima, yaitu karena kekafiran, pembunuhan, perbudakan, zina dan li’an. Sedangkan dalam pasal 173 Kompilasi Hukum Islam halangan-halangan menerima warisan ada dua, yaitu yang dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewaris, dan yang dipersalahkan karena memfitnah dengan mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.25
C. Hukum Perwakafan
Sejak awal perkembangan Islam di Indonesia, perwakafan dijalankan oleh umat Islam berdasarkan faham keagamaan yang popular, yakni madzhab Syafi’iyah yang dipadukan dengan adat kebiasaan setempat. Sebelum adanya UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria dan PP No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik, masyarakat Islam Indonesia masih menjalankan kebiasaan perwakafan secara tradisional seperti melaksanakan perjanjian ikrar wakaf hanya secara lisan dan sepenuhnya berdasarkan rasa saling percaya, kebiasaan memandang wakaf sebagai lading amal shalih yang
25 Departemen Agama,
op.cit, hlm. 240.
merupakan jalan tengah untuk memberikan kebebasan kepada umat Islam untuk memilih sistem hukum yang dikehendaki.
Baru setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 wewenang PA dalam kasus kewarisan bagi orang Islam menjadi sempurna. Dalam Pasal 2 Undang-undang No.3 Tahun 2006 disebutkan bahwa Pengadilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu yang meliputi perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah dan ekonomi Syari’ah.20
Undang-undang No. 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama menegaskan kembali pemberlakuan hukum Islam sebagai hukum yang harus di tegakkan oleh masyarakat Muslim. Sehingga hak opsi yang ada dalam Penjelasan Umum Undang-undang No. 7 Tahun 1989 di hapus.21 Ini berarti masyarakat muslim memang
benar-benar telah diberikan tempat untuk menyelesaikan perkara perdata hanya ke Pengadilan Agama.
Adapun kekuasaan Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama di bidang kewarisan mencakup 4 hal, yaitu :
a. Penentuan siapa-siapa yang menjadi ahli waris b. Penentuan mengenai harta peninggalan (tirkah)
c. Penentuan bagian masing-masing ahli waris dari harta peninggalan itu
d. Melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut.22
Pemberian kewenangan Pengadilan Agama di bidang kewarisan, wasiat, dan hibah merupakan pemulihan kembali
ke-20 Lembaran Negara, Undang-Undang, No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama, Pasal 43.
21 Lembaran Negara, Op. Cit, Penjelasan Umum hlm. 1. 22 Cik Hasan Bisri,
kuasaan Pengadilan Agama di Jawa dan Madura. Sebagaimana diatur dalam staatsblad 1882 No. 152, yang kemudian diubah dengan Staatsblad 1937 No. 116 dan 610, atau ia merupakan usaha mempositifkan hukum kewarisan Islam tanpa harus diresepsi oleh hukum yang hidup sebagaimana tercermin dalam Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1957. Hal itu berarti terjadi penambahan kekuasaan Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama, atau sebaliknya merupakan pengurangan kekuasaan Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum dalam perkara perdata tertentu.23
Peran Peradilan Agama di Indonesia, sebagai salah satu mata rantai peradilan yang tumbuh dan berkembang sejak masa Rasulullah SAW, dapat dilihat sebagai wujud Peradilan Islam dalam struktur dan kultur masyarakat bangsa Indonesia. Identifikasi Peradilan Agama sebagai Peradilan Islam dapat dilihat dari sudut pandang:
a. Filosofis, yaitu Peradilan dibentuk dan dikembangkan untuk menegakkan hukum dan keadilan. Hukum yang dimaksud adalah hukum Allah yang telah disistematisasi oleh manusia. Sedangkan keadilan yang ditegakkan adalah keadilan Allah. b. Yuridis, yaitu hukum Islam di bidang perkawinan, kewarisan,
wasiat, hibah, dan shadaqah berlaku di Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama.
c. Historis, yaitu Peradilan Agama merupakan salah satu mata rantai Peradilan Islam yang berkesinambungan sejak masa Rasulullah SAW
d. Sosiologis, yaitu Peradilan Agama didukung dan dikembangkan oleh dan di dalam masyarakat Islam.24
23 Ibid, hlm. 210. 24 Cik Hasan Bisri,
Op. Cit, hlm. 26.
Di sinilah peran Kompilasi Hukum Islam sebagai hukum materiil di Pengadilan Agama, meskipun merupakan langkah pembaharuan, ternyata masih memiliki beberapa kelemahan. Salah satu celah kelemahan tersebut misalnya ketika berbicara tentang hak waris antara orang berlainan agama, KHI masih ter lihat mengambang. Sebelum lahirnya Kompilasi Hukum Islam (KHI), Biro Peradilan Agama melalui surat edarannya No. B./1/735 tanggal 18 Pebruari 1958 menganjurkan kepada para Hakim Pengadilan Agama atau Mahkamah Syariyah untuk mem pergunakan 13 kitab sebagai pedoman bagi para hakim Pengadilan Agama dalam memeriksa dan memutuskan perkara. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh kepastian hukum Islam. Ketiga belas kitab tersebut adalah adalah al-Bajuri, Fath al-Muin, Syarqawi ala at-Tahrir, Qolyubi/Mahalli, Fath al-Wahhab dengan
Syarahnya, Tuhfah, Targib al-Musytaq, Qawanin Syariyyah li as-Sayyid ibn Yahya, Qawanin Syariyyah li as-as-Sayyid Sadaqah Dahlan, Syamsuri fi Faraid, Bugyah Musytarsyidin, Fiqh ala al-Mazahib al-Arbaah, Mugni al-Muhtaj. Namun pada kenyataannya, keputusan yang dihasilkan tetap saja beragam, karena tidak adanya rujukan yang pasti untuk dijadikan pedoman.
muka pengadilan, bentuk-bentuk perceraian lainnya tidak diberlakukan.33 Sebagai implikasinya, dalam
hal kewarisan, pasangan yang melakukan pernikahan beda agama juga tidak diberlakukan kepadanya hukum kewarisan Islam, melainkan hukum kewarisan yang juga diatur tersendiri dalam the Succession Act 1925.
Dalam pelaksanaannya, undang-undang hukum keluarga di India masih banyak mengalami kendala; masih banyak aturan yang belum dapat dilaksanakan sesuai harapan. Misalnya, aturan baru menyebutkan tentang hak istri untuk mencantumkan dalam ta’lik talaq bahwa apabila suami melakukan poligami maka istri dapat mengajukan perceraian. Sebuah penelitian oleh Pearl, sebagaimana dikutip oleh Khoiruddin Nasution, menyebutkan bahwa hanya terdapat 1 kasus yang menjadikan poligami sebagai alasan perceraian dan hanya 6 kasus, sejak pemberlakuan The Muslim Family Law Ordinance, yang secara riil menggunakan hak taklik talaq dengan alasan poligami tersebut.34
Sejalan dengan temuan ini, Anderson menyatakan bahwa Peraturan tentang Perceraian Tahun 1939 yang telah mengamanatkan perceraian yang sah hanya yang diucapkan di muka siding pengadilan ternyata juga tidak berjalan efektif sehingga kasus talak semena-mena oleh suami di luar siding pengadilan masih merajalela.35
33
Ibid., hlm. 178.
34 Khoiruddin Nasution, Status Wanita di Asia Tenggara: Studi terhadap
Perundang-undangan Perkawinana Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia
(INIS, 2002), hlm. 271.
35 J. N. D. Anderson, Hukum Islam di Dunia Modern, terjemahan oleh Machnun
Husein, (Surabaya: Amarpress, 1990), hlm. 70.
juga dalam rangka perbaikan persyaratan yang telah dimuat dalam aturan sebelumnya yakni PP No. 28 Tahun 1977 yang hanya bersifat normative. (3) UU Wakaf yang kemudian di-tegas kan dalam PP-nya mengatur tnetang pembatasan masa jabatan Nadzir. Pembatasan ini menjadi poin penting dalam rangka untuk memantau kinerja Nadzir melalui tahapan-tahapan periode tuganya. Adapun masa bakti Nadzir ditetapkan lima tahun dan dapat diangkat lagi sesudahnya. (4) UU Wakaf memberikan perhatian lebih terhadap hak-hak Nadzir. Hak Nadzir sesungguhnya telah diatur dalam aturan perwakafan sebelumnya di samping pencantuman kewajiban-kewajibannya secara rigid. Hadirnya ketentuan tentang hak-hak Nadzir dalam UU tidak lain untuk memberikan penegasan bahwa pekerjaan pengelolaan harta wakaf bukanlah pekerjaan yang remeh sehingga hanya dijadikan sebagai sambilan, melainkan adalah pekerjaan yang mulia karena terkait langsung dengan umat Islam khususnya sehingga harus dijalankan secara professional. Distribusi hak-hak kepada Nadzir juga harus dilakukan secar professional. UU menetapkan reward yang diberikan kepada Nadzir adalah 10% dari pendapatan hasil bersih dari pengelolaan harta wakaf.
menyelenggarakan administrasi pengelolaan secara nasional untuk membina para Nadzir yang ada agar lebih professional.
Dalam beberapa aspek dari hukum keluarga, seluruh penduduk India apapun agamany harus tunduk kepada peraturan tertentu yang berlaku secara nasional. Seluruh peraturan lain yang bertentangan dengannya dianggap tidak berlaku. Salah satu aturan tertentu tersebut adalah peraturan pelarangan pernikahan di bawah umur (the Child Marriage Restraint Act) tahun 1929. Peraturan ini secara tegas melarang akad nikah yang dilakukan oleh mempelai di mana pihak laki-laki bberusia kurang dari 18 tahun dan pihak perempuan berusia kurang dari 15 tahun.32 Pernikahan yang terjadi dengan tidak sesuai
dengan ketentuan batas usia ini dihukumi tidak sah dan sangsi hanya akan diberikan kepada orang-orang yang bertanggung jawab atas terjadinya pernikahan tersebut. e. Pernikahan Beda Agama
Di samping aturan yang bersifat umum dan berlaku bagi seluruh pemeluk agama, beberapa aturan khusus juga diberlakukan di India. Aturan ini bukan dimaksudkan untuk menghapus aturan umum yang ada, melainkan sebagai tawaran yang dapat dipilih oleh penduduk India yang secara sukarela menundukkan dirinya terhadap aturan tersebut. Salah satu aturan tersebut adalah the Special Act 1954 yang mengatur tentang pernikahan beda agama. Secara tegas peraturan ini membuka kesempatan bagi dua orang yang berbeda agama untuk melangsungkan pernikahan dengan syarat mereka sanggup memenuhi seluruh ketentuan yang berlaku, di antaranya tidak boleh berpoligami. Aturan ini juga hanya membolehkan satu bentuk perceraian yakni yang dilangsungkan di
32
tradidi pencatatan yang telah ada tersebut, melainkan menegaskan sekaligus memberikan tambahan fasilitas bagi orang Islam lokal. Sepenuhnya ditujukan untuk kepentingan mereka. Selain itu, aturan pencatatan dalam UU tidak hanya untuk pernikahan, melainkan juga untuk perceraian.
Beberapa peraturan tentang pencatatan yang berlaku adalah The Bengal Muhammadan Marriages and Divorces Registration Act 1876 di Negara bagian Bihar dan Bengal Barat; di wilayah Negara bagian Assam juga diberlakukan peraturan yang sama dengan sedikit perubahan dan diberi nama the Assam Moslem Marriages and Divorces Registration Act 1935; Di Negara bagian Orissa, diberlaku-kan peraturan yang sama dengan di Bengal dan diberi nama the Orissa Muhammadan Marriages and Divorces Registration Act 1949.
Secara umum keempat peraturan pencatatan nikah di atas memiliki kesamaan klausul dalam hal:
1) Tidak dicatatkannya sebuah perkawinan atau per-ceraian tidak otomatis berarti tidak sah selama telah dibuktikan sah secar hukum Islam
2) Sebaliknya, pencatatan juga tidak berimplikasi kepada pengesahan pernikahan dan perceraian yang telah dibuktikan tidak sah menurut hukum Islam
3) Adanya pencatatan tidak akan mempengaruhi pelak-sanaan ritual keagamaan apapun.31
d. Pembatasan Usia dalam Pernikahan
31 Tahir Mahmood, Family Law Reform in the Muslim World, (Bombay: N.M.
Tripathi PVT. LTD., 1972), hlm. 177.
A. Pembaharuan Hukum Keluarga di India 1. Pendahuluan
India adalah sebuah negara di Asia yang mempunyai jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia, dengan populasi lebih dari satu milyar jiwa, dan adalah negara terbesar ketujuh berdasarkan ukuran wilayah geografis dengan luas wilayah 3.287.590 km². Jumlah penduduk India tumbuh pesat sejak pertengahan 1980-an. Ekonomi India adalah terbesar keempat di dunia dalam PDB, diukur dari segi paritas daya beli, dan salah satu pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. India, negara dengan sistem demokrasi liberal terbesar di dunia, juga telah muncul sebagai kekuatan regional yang penting, memiliki kekuatan militer terbesar dan mempunyai kemampuan senjata nuklir.
India terletak di Asia Selatan dengan garis pantai se-panjang 7.000 km, dan bagian dari anak benua India, India merupakan bagian dari rute perdagangan penting dan bersejarah. Dia membagi perbatasan dengan Pakistan, Republik Rakyat Cina, Myanmar. Banglades, Nepal, Bhutan,
BAB III
KASUS PEMBAHARUAN
dan Afganistan. Sri Lanka, Maladewa, dan Indonesia adalah negara kepulauan yang bersebelahan.
Di sebelah timur India berbatasan dengan Myanmar yang dibatasi oleh kaki Pegunungan Himalaya. Pada bagian ini India mengelilingi hamper seluruh bagian negara Bangladesh. Di sebelah barat India berbatasan dengan Pakistan dan laut barat. Di bagian utara, India berbatasan dengan Nepal, Rusia, dan China. Di sebelah selatan, negara ini berbatasan dengan Samudra Hindia.
Sungai-sungai penting di India antara lain sungai Gangga yang bersumber dari pegunungan Himalaya dan merupakan sungai terpenting di India, sungai Brahmaputra yang mengalir dari timur laut India serta sungai Indus yang berasal dari Ladakh India. Himlaya merupakan himpunan dari beberapa pegunungan yang terdiri dari sejumlah lembah yang besar antara lain Lembah Hullu dan Lembah Kathmandu. Gunung tertinggi di India adalah gunung Kanchenjunga (8598 m) yang termasuk dalam gugusan pegunungan Himalaya.
Sungai Gangga merupakan sungai utama di India dan merupakan salah satu sungai terpanjang di dunia. Berjuta-juta ummat Hindu, Gangga Mai atau sungai induk merupakan sungai suci. Airnya dianggap dapat membersihkan jiwa dari segala dosa dan menyembuhkan badan dari segala macam penyakit. Setiap tahun beribu-ribu ummat Hindu datang berziarah ke Sungai Gangga untuk mandi. Banyak Kuil Hindu berdiri di sepanjang pinggir Sungai Gangga, karena Gangga merupakan sungai penting di dalam upacara keagamaan Hindu. Disamping agama Hindu, dua agama besar India lainnya yaitu Budha dan Jainisme lahir dan dibesarkan di Gangga.
India kecuali untuk wilayah Jammu dan Kasymir yang memberikan ketentuan lebih ringan.
Apabila jumlah mahar yang dipersyaratkan dalam sebuah akad pernikahan melebihi kemampuan si suami, maka pengadilan berhak menentukan jumlah mahar tersebut sesuai dengan kemampuan si suami dan status si isteri. Aturan ini berlaku baik pembayaran mahar tersebut dilakukan ketika masih hidup maupaun ketika setelah meninggal dunia.
Klausul yang identik dengan klausul di atas juga ditemukan di bab 2 Peraturan tentang Mahar bagi Muslim di Negara bagian Jammu dan Kasymir tahun 1920. Berdasarkan peraturan di atas, keinginan atau kesanggupan suami untuk menentukan mahar harus diperhitungkan dan suami juga tidak dwajiban untuk merealisasikannya ketika masih dalam masa pernikahan. Apabila mahar belum juga dibayarkan shingga si suami meninggal, maka hak istri tetap harus diambilkan lebih dahulu dari harta warisan tinggalan suaminya.
c. Pencatatan Pernikahan dan Perceraian
India mengesahkan peraturan resmi tentang perceraian perempuan Muslim (the Dissolution of Muslim Marriages Act). Argumentasi hukum yang ditonjolkan dalam per aturan ini adalah bahwa tidak ada aturan dalam madzhab Hanafi yang membolehkan seorang Muslim perempuan untuk mengajukan perkara perceraiannya ke pengadilan dengan alasan mengabaikan tanggung jawabnya, melakukan penganiayaan terhadapnya, atau alasan lain yang dibenarkan. Ketiadaan aturan tersebut menyebabkan para perempuan India terbelenggu dalam ketidakberdayaan. Namun demikian, di sisi lain, sesungguhnya para mujtahid madzhab Hanafi telah secara jelas menerangkan bahwa dalam hal ijtihad mereka tidak dapat diterapkan secara mudah di tengah-tengah masyarakat, sangat dibolehkan untuk menerapkan atur-an dari madzhab yatur-ang lain seperti Maliki, Syafi’I atau Hanbali.
Aturan tentang perceraian perempuan Muslim 1939 ini diterapkan kepada seluruh Muslim di India yang mengikuti madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’I, Itsna Asyari atau Ismaili. Dengan demikian aturan ini diberlakukan di seluruh wilayah India kecuali Jammu dan Kasymir. b. Hukum Mahar
Menurut hukum Islam, meskipun seorang suami tetap berkewajiban membayarkannya, mahar dalam pernikahan tidak harus dissebutkan dalam akad nikah. Menurut hukum Adat, apabila mahar telah ditentukan dalam sebuah akad pernikahan maka suami harus membayarnya, meskipun baginya jumlah itu terlalu berlebihan. Ketetnuan ini berlaku secara umum di
Sungai Indus merupakan salah satu sungai besar di Asia. Di sekitar dataran rendah yang dialiri oleh Sungai Indus ini teradpat Kitab Suci Weda yaitu kitab suci ummat Hindu. Sungai Indus dalam sejarahnya berarti penting bagi India, baik untuk alasan ekonomi maupun militer. Sungai Indus berguna sebagai penghalang terhadap penyerbuan asing, sedangkan airnya menyuburkan lahan di India barat laut dan yang sekarang adalah Pakistan. Lembah Indus merupakan daerah yang amat subur dengan menghasilkan gandum, jagung, padi dan aneka buah-buahan dan sayuran.
India adalah letak dari peradaban kuno seperti Budaya Lembah Indus dan merupakan tempat kelahiran dari empat agama utama dunia: Hindu, Buddha, Jainisme, dan Sikhisme. Negara ini merupakan bagian dari Britania Raya sebelum meraih kemerdekaan pada 1947.29
India dibagi kepada 28 negara bagian (yang kemudian dibagi kepada distrik), enam Wilayah Persatuan (Union Territory) dan Wilayah Ibu Kota Nasional (National Capital Territory) Delhi. Negara-negara bagian mempunyai pemerintah yang dilantik sendiri, sementara Wilayah-wilayah Persatuan diperintah seorang pengurus yang dilantik pemerintah per-satuan (union government), meski beberapa di antaranya mempunyai pemerintah yang dilantik.
Populasi India diperkirakan sekitar 1.13 milyar jiwa, yang merupakan 1/6 dari penduduk dunia. Populasi India diperkirakan melebihi Tiongkok tahun 2030 dan akan menjadi negara terpadat di dunia. India memiliki lebih dari dua ribu etnis, dan agama-agama utama ada di India. Penduduk India menunjukkan perbedaan yang besar di segi keturunan dan
kehidupan kebuayaan mereka. Dipercaya bahwa penduduk asli India berwarna kulit hitam, berpostur pendek dan berhidung lebar. Bahasa di India juga sangat beragam.
Di India terdapat 18 bahasa resmi yang diakui oleh kons-titusi dan terbagi atas dua kelompok besar. Pertama adalah,
Indo-Arya yang merupakan cabang dari kelompok bahasa Indo-Eropa dan merupakan bahasa yang digunakan oleh masyarakat Asia Tengah yang sekarang dikenal dengan India. Kedua, Dravida yang merupakan bahasa asli India Selatan dan dipengaruhi oleh Sanskrit dan Hindi. Di India terdapat 1600 bahasa dan dialek berdasarkan sensus tahun 1991. Bagi kalangan terpelajar di India, bahasa Inggris merupakan bahasa utama, sedangkan bagi sebagian besar masyarakat India lainnya Bahasa Inggris merupakan bahasa kedua setelah bahasa daerah.
India pada awalnya (dan masih terdapat di pedesaan pada masa sekarang) mempunyai sitem kasta (Caste). Masya-rakat Hindu dibagi-bagi ke dalam kelompok kasta yang keanggotaannya ditentukan berdasarkan kelahiran. Orang akan menjadi kelompok kasta tertentu sepanjang hayatnya, kecuali kalau dia diusir karena melanggar aturan-aturan kasta. Keanggotaan kasta dalam anggota kasta biasanya berarti menunjuk pada profesi atau pekerjaan tertentu.
Posisi kasta pertama dan tertinggi ditempati oleh Kasta Brahmana yang terdiri dari para pendeta sebagai penentu terhadap apa yang benar dan apa yang salah dalam hal ke-agamaan dan kasta. Yang kedua adalah kasta Ksatria yang terdiri dari prajurit pegawai negeri. Yang ketiga Waisha yang terdiri dari para seniman, pedagang, dan pemilik Bank. Yang keempat adalah kasta Sudra yang dianalogikan sebagai para
Adapun kodifikasi yang terkait hukum pernikhan dan perceraian dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Perceraian oleh Lembaga Peradilan
Prinsip penyelesaian perceraian di muka sidang peng-adilan telah disahkan sebagai aturan yang mengikat pada tahun 1939. Teknik penyelesaian perceraian di muka siding pengadilan ini sesungguhnya sama dengan aturan yang diadopsi di Mesir dan beberapa Negara lainnya dengan cara memberlakukan aturan dalam madzhab hukum Islam tertentu untuk diberlakukan secara me-nyeluruh bagi umat Islam. Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Hanafi memiliki konsep paling kaku dalam hal penerapan hak perempuan untuk mengusulkan per ceraian di muka pengadilan. Sebagai madzhab yang paling banyak diikuti oleh Muslim India, maka menjadi kesulitan tersendiri bagi banyak kaum perempuan yang telah menikah untuk dapat mengusulkan perceraian atas berbagai alasan yang memungkinkan kecuali murtad. Akhirnya, dengan terpaksa karena kondisi rumah tangga yang tidak bisa lagi diselamatkan banyak perempuan yang murtad supaya terbebas dari ikatan pernikahan.
akan memberikan status anak yang diadopsi sebagaimana status anak kandung. Ayat al-Qur’an telah sangat jelas dalam hal ini, bahwa seorang anak hasil adopsi tidak akan pernah mendapatkan status seperti anak kandung hanya dengan sebuah pengakuan. Namun demikian, di India kebiasaan mengadopsi anak telah berlangsung di beberapa komunitas umat Islam di Punjab dan sekitarnya. Berdasarkan the Muslim Personal Law (shari’at) Application Act 1937, selama seorang Muslim yang melaksanakan adopsi tersebut tidak me nyata-kan tunduk terhadap hukum Islam, sebagaimana diatur ddalam pasal 3 aturan ini, maka dia terikat dengan tradisi pengangkatan anak yang telah berlangsung turun temurun di wilayahnya. Adapun jika dia membuat pernyataan untuk tunduk terhadap aturan hukum Islam, maka hukum Islamlah yang berlaku baginya dalam hal adopsi anak.
Hingga saat ini, sangat sedikit porsi hukum Islam yang telah dikodifikasikan di India. Legislasi yang terkaiit dengan hukum Islam baru dilakukan dalam hal aturan administrasi perwakafan dan beberapa aspek dari hukum pernikahan dan perceraian. Ada beberapa pengaturan pokok tentang administrasi perwakafan harta milik secara umum yang tercantum dalam:
a. Central Wakf Act 1954
b. The Mussulman Wakf Validating Acts of 1013 and 1930
c. The Bengal Wakfs Act 1934
d. The Bihar Wakfs Act 1947
e. The Uttar Pradesh Muslim Wakfs Act 1960
f. The Madras Wakf (Supplementary Act 1961)
g. The Dargah Khwaja Saheb Act 1955.
petani dan buruh. Namun, pada saat sekarang ini, sistem kasta tidak lagi berpengaruh namun masih dianut oleh orang-orang yang berpendidikan rendah. Sistem Kasta telah banyak menimbulkan permasalahan bagi pembangunan India. Para pemimpin India dewasa ini telah menentukan bahwa India akan menjadi sebuah negara yang demokratis, sosialis dan sekuler. Menurut undang-undang, ada pemisahan antara agama dan negara. Tindakan penghinaan atau pen-diskriminasian terhadap seseorang berdasarkan kastanya sangat dilarang.
Kebudayaan India penuh dengan sinkretisme dan pluralism budaya. Kebudayaan ini terus menyerap adat istiadat, tradisi, dan pemikiran dari penjajah dan imigran sambil terus mempertahankan tradisi yang sudah mapan dan menyebarluaskan budaya India ke tempat-tempat lain di Asia.
Kebudayaan tradisional India memiliki hirarki sosial yang relatif ketat. Sejak usia dini, anak-anak diajari tentang peran dan kedudukan mereka dalam masyarakat. Tradisi ini diperkuat dengan kepercayaan kepada dewa-dewa dan roh yang dianggap berperan penting dan tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Dalam sistem kasta ditetapkan stratifikasi sosial dan pembatasan dalam kehidupan sosial di anak benua India. Kelas-kelas sosial dibentuk oleh ribuan kelompok masyarakat yang mempraktikkan, yang umum disebut jati atau kasta.