• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Untuk mengetahui kinerja PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. yang ditunjukkan dengan tingkat kesehatannya melalui indikator-indikator pada aspek keuangannya dilakukan dengan langkah-langkah yang telah diuraikan pada analisis data diatas berdasarkan SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.

1. PT Tambang Batubara Bukit asam (Persero) Tbk.

a. Imbalan Kepada Pemegang Saham/Return On Equity (ROE)

Berdasarkan perhitungan sebelumnya, pada tahun 2002 tingkat ROE yang dimiliki oleh perusahaan sebesar 13,11%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham adalah sebesar 13,11%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah modal sendiri dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,1311 yang tersedia bagi pemegang saham. Menurut SK Menteri BUMN No.

KEP-100/MBU/2002, skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini adalah 18.

Pada tahun 2003 tingkat ROE perusahaan sebesar 15,09%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham adalah 15,09%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah modal sendiri dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,1509 yang tersedia bagi pemegang saham. Jika dibandingkan dengan tahun 2002 terjadi peningkatan tingkat ROE sebesar 1,98% yaitu dari 13,11% pada tahun 2002 menjadi sebesar 15,09% pada tahun 2003. Skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah 20.

Pada tahun 2004 tingkat ROE yang dimiliki perusahaan sebesar 24,85%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham adalah 24,85%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah modal sendiri dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,2485 yang tersedia bagi pemegang saham. Tahun 2004 ini juga mengalami peningkatan ROE sebesar 9,76% yaitu dari 15,09% pada tahun 2003 menjadi sebesar 24,85% pada tahun 2004. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini sebesar 20. Jadi pada tahun 2003 dan 2004 perusahaan memperoleh skor maksimal untuk tingkat ROE.

b. Imbalan Investasi/Return On Investment (ROI)

Pada tahun 2002 tingkat ROI yang dimiliki perusahaan sebesar 13,68%. Hal ini berarti bahwa kemampuan dari setiap satu rupiah modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan adalah sebesar Rp 0,1368. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini adalah 12 dari skor maksimal daftar penilaian ROI yang telah ditetapkan yaitu sebesar 15.

Pada tahun 2003 tingkat ROI yang diperoleh perusahaan sebesar 14,01%. Hal ini berarti bahwa kemampuan dari setiap satu rupiah modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan adalah sebesar Rp 0,1401. Skor yang diperoleh perusahaan berdasarkan SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah 12. Peningkatan ROI ini disebabkan karena penjualan pada tahun ini meningkat dibandingkan tahun 2002. Peningkatan penjualan ini juga diikuti oleh peningkatan harga pokok penjualan yang menyebabkan EBIT tahun ini menjadi naik.

Tahun 2004 ROI yang diperoleh perusahaan sebesar 25,39%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari setiap satu rupiah modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan adalah sebesar Rp 0,2539. Pada tahun ini perusahaan mengalami peningkatan ROI dan skor yang diperoleh

perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah 15.

c. Rasio Kas/Cash ratio

Tahun 2002 cash ratio yang diperoleh perusahaan sebesar

124,63%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk membayar utang yang harus segera dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan sebesar 124,63%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh kas dan efek sebesar Rp 1,2463. Skor yang diperoleh perusahaan tahun ini adalah 5.

Tahun 2003 cash ratio yang diperoleh perusahaan sebesar

165,15%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk membayar utang yang harus segera dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan sebesar 165,15%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh kas dan efek sebesar Rp 1,6515. Skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah 5.

Tahun 2004 Cash ratio perusahaan sebesar 229,41%, hal ini

berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh kas dan efek sebesar Rp 2,2941. Skor yang diperoleh perusahaan pada tahun

ini juga adalah 5. Selama tiga tahun berturut-turut cash ratio yang

skor maksimal dalam penilaian indikator cash ratio menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 yaitu sebesar 5.

d. Rasio Lancar/Current Ratio

Tahun 2002 perusahaan memperoleh current ratio sebesar

267,99%. Hal ini menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar sebesar 267,99%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 2,6799. Berdasarkan SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan sebesar 5.

Tahun 2003 perusahaan memiliki current ratio sebesar

359,71%. Hal ini menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar sebesar 359,71%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 3,5971. Skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 5.

Tahun 2004 perusahaan memperoleh current ratio sebesar

378,29%. Hal ini menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar sebesar 378,29%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 3,7829. Skor yang diperoleh perusahaan

ratio perusahaan mengalami peningkatan yang cukup baik dan memperoleh skor maksimal yang telah ditetapkan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 yaitu sebesar 5.

e. Collection Periods (CP)

Tahun 2002 collection periods yang dimiliki perusahaan

sebesar 71 hari, hal ini menunjukkan piutang dapat dikumpulkan setiap 71 hari sekali. Skor yang diperoleh perusahaan sebesar 4,5 menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.

Tahun 2003 collection periods yang diperoleh perusahaan

sebesar 80 hari, hal ini menunjukkan piutang dapat dikumpulkan setiap 80 hari sekali dan skor yang diperoleh perusahaan sebesar 4,5 menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.

Pada tahun 2004 collection periods yang diperoleh perusahaan

sebesar 60 hari, hal ini menunjukkan piutang dapat dikumpulkan setiap 60 hari sekali dan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 perusahaan memperoleh skor sebesar 5 yaitu skor maksimal.

f. Perputaran Persediaan (PP)

Tahun 2002 perputaran persediaan yang diperoleh perusahaan sebesar 32 hari, hal ini menunjukkan bahwa dalam 32 hari persediaan perusahaan telah dijual selama satu tahun dan menurut

SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 perusahaan memperoleh skor maksimal sebesar 5.

Tahun 2003 perputaran persediaan yang diperoleh perusahaan sebesar 24 hari, hal ini menunjukkan bahwa dalam 24 hari persediaan perusahaan telah dijual selama satu tahun dan skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 5.

Pada tahun 2004 perusahaan memperoleh perputaran persediaan sebesar 22 hari, hal ini berarti bahwa dalam 22 hari persediaan perusahaan telah dijual selama satu tahun dan perusahaan memperoleh skor sebesar 5. Dalam tiga tahun berturut-turut perusahaan memperoleh skor maksimal menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 yaitu skor maksimal sebesar 5.

g. Perputaran Total Asset/Total Asset Turn Over (TATO)

Tahun 2002 perputaran total asset yang diperoleh perusahaan sebesar 103,43%. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan sebesar Rp 1,0343 melalui penggunaan aktiva atau dengan kata lain setiap satu rupiah total aktiva mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 1,0343. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan sebesar 4.

Pada tahun 2003 perputaran total asset perusahaan sebesar 111,95%. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan sebesar Rp 1,1195 melalui penggunaan aktiva atau dengan kata lain setiap satu rupiah total aktiva mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 1,1195 dan skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 4,5.

Pada tahun 2004 perputaran total asset perusahaan meningkat menjadi sebesar 112,70%. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan sebesar Rp 1,1270 melalui penggunaan aktiva atau dengan kata lain setiap satu rupiah total aktiva mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 1,1270. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan pada tahun 2004 adalah sebesar 4,5.

h. Rasio Total Modal Sendiri Terhadap Total asset (TMS Terhadap TA)

Tahun 2002 rasio total modal sendiri terhadap total asset perusahaan sebesar 68,32%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah jumlah modal sendiri dapat digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan sebesar Rp 0,6832. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan sebesar 8.

Tahun 2003 rasio total modal sendiri terhadap total asset mengalami penurunan menjadi sebesar 66,98%, hal ini berarti bahwa

setiap satu rupiah jumlah modal sendiri dapat digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan sebesar Rp 0,6698 dan skor yang diperoleh perusahaan pada tahun 2003 menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 8.

Pada tahun 2004 rasio total modal sendiri terhadap total asset adalah sebesar 70,82%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah jumlah modal sendiri dapat digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan sebesar Rp 0,7082. Skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 7,5.

Setelah melakukan perhitungan pada analisis data diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa tahun 2002 perusahaan dapat dikatakan dalam kondisi sehat dari total skor kinerja sebesar 61,5 dengan kriteria penilaian AA. Tahun 2003 perusahaan dalam kondisi sehat dengan total skor kinerja sebesar 64 dan kriteria penilaian AA. Sedangkan pada tahun 2004 perusahaan berada dalam kondisi sehat sekali dengan total skor kinerja sebesar 67 dan kriteria penilaian AAA.

Dilihat dari total skor PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk dari tahun ke tahun semakin naik. Hal ini disebabkan karena hampir pada semua indikator yang diteliti dari tahun 2002 sampai tahun 2004 mengalami kenaikan kecuali pada rasio total modal sendiri terhadap total asset, dimana nilai yang paling optimal untuk perbandingan jumlah modal sendiri terhadap total asset adalah 30%-40% sedangkan persentase total modal sendiri terhadap

total asset yang diperoleh perusahaan adalah sebesar 66,98%-70,82%. Jika dilihat dari skor menurut standar SK Menteri BUMN No.

KEP-100/MBU/2002 pada cash ratio, current ratio dan perputaran persediaan tidak

mengalami kenaikan karena rasio-rasio ini sudah memperoleh skor maksimal. Sedangkan untuk indikator imbalan kepada pemegang saham (ROE), imbalan

investasi (ROI), collection periods dan perputaran total asset dari tahun ke

tahun memperoleh nilai yang mengalami kenaikan kecuali pada collection

periods yang pada tahun 2003 mengalami kenaikan dan tahun 2004 menjadi turun nilainya. Jika dilihat dari skor yang didapatkan perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 untuk keempat indikator ini walaupun dari tahun 2002 sampai tahun 2004 ada yang tidak mencapai skor maksimal tetapi skor yang didapatkan mengalami kenaikan. Sehingga jika dilihat dari rasio-rasionya maka kondisi PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk dapat dikatakan dalam keadaan baik.

2. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

a. Imbalan Kepada Pemegang Saham/Return On Equity (ROE)

Berdasarkan perhitungan sebelumnya, pada tahun 2002 tingkat ROE yang dimiliki oleh perusahaan sebesar 49,62%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham adalah sebesar 49,62%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah modal sendiri dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,4962 yang tersedia

bagi pemegang saham. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002, skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini adalah 20.

Pada tahun 2003 tingkat ROE perusahaan sebesar 15,61%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham adalah 15,61%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah modal sendiri dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,1561 yang tersedia bagi pemegang saham. Jika dibandingkan dengan tahun 2002 terjadi penurunan tingkat ROE yang cukup signifikan sebesar 34,01% yaitu dari 49,62% pada tahun 2002 menjadi sebesar 15,61% pada tahun 2003. Skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah 20.

Pada tahun 2004 tingkat ROE yang dimiliki perusahaan sebesar 14,92%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham adalah 14,92%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah modal sendiri dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,1492 yang tersedia bagi pemegang saham. Tahun 2004 ini juga mengalami penurunan ROE sebesar 0,69% yaitu dari 15,61% pada tahun 2003 menjadi sebesar 14,92% pada tahun 2004. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini sebesar 18.

b. Imbalan Investasi/Return On Investment (ROI)

Pada tahun 2002 tingkat ROI yang dimiliki perusahaan sebesar 34,59%. Hal ini berarti bahwa kemampuan dari setiap satu rupiah modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan adalah sebesar Rp 0,3459. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini adalah 15 dari skor maksimal daftar penilaian ROI yang telah ditetapkan.

Pada tahun 2003 tingkat ROI yang diperoleh perusahaan mengalami penurunan yang cukup signifikan menjadi 12,33%. Hal ini berarti bahwa kemampuan dari setiap satu rupiah modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan adalah sebesar Rp 0,1233. Skor yang diperoleh perusahaan berdasarkan SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah 10,5.

Tahun 2004 ROI yang diperoleh perusahaan sebesar 11,18%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari setiap satu rupiah modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan adalah sebesar Rp 0,1118. Pada tahun ini perusahaan mengalami penurunan ROI dan skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah 9.

c. Rasio Kas/Cash ratio

Tahun 2002 cash ratio yang diperoleh perusahaan sebesar

76,27%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk membayar utang yang harus segera dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan sebesar 76,27%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh kas dan efek sebesar Rp 0,7627. Skor yang diperoleh perusahaan tahun ini adalah 5.

Tahun 2003 cash ratio yang diperoleh perusahaan mengalami

kenaikan yang cukup signifikan menjadi sebesar 295,94%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk membayar utang yang harus segera dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan sebesar 295,94%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh kas dan efek sebesar Rp 2,9594. Skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah 5.

Tahun 2004 Cash ratio perusahaan sebesar 292,84%, hal ini

berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh kas dan efek sebesar Rp 2,9284. Skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini juga adalah 5. Selama tiga tahun berturut-turut skor yang

diperoleh adalah skor maksimal dalam penilaian indikator cash ratio

5 walaupun cash ratio perusahaan mengalami perubahan yang cukup signifikan selama tiga tahun ini.

d. Rasio Lancar/Current Ratio

Tahun 2002 perusahaan memperoleh current ratio sebesar

150,61%. Hal ini menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar sebesar 150,61%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 1,5061. Berdasarkan SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan sebesar 5.

Tahun 2003 perusahaan memiliki current ratio yang

mengalami kenaikan cukup tinggi menjadi sebesar 400,60%. Hal ini menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar sebesar 400,60%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 4,0060. Skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 5.

Tahun 2004 perusahaan memperoleh current ratio sebesar

364,64%. Hal ini menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar sebesar 364,64%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 3,6464. Skor yang diperoleh perusahaan

ratio perusahaan mengalami perubahan yang cukup signifikan dan memperoleh skor maksimal yang telah ditetapkan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 yaitu sebesar 5.

e. Collection Periods (CP)

Tahun 2002 collection periods yang dimiliki perusahaan

sebesar 45 hari, hal ini menunjukkan piutang dapat dikumpulkan setiap 45 hari sekali. Skor yang diperoleh perusahaan sebesar 5 menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.

Tahun 2003 collection periods yang diperoleh perusahaan

sebesar 53 hari, hal ini menunjukkan piutang dapat dikumpulkan setiap 53 hari sekali dan skor yang diperoleh perusahaan sebesar 5 menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.

Pada tahun 2004 collection periods yang diperoleh perusahaan

sebesar 56 hari, hal ini menunjukkan piutang dapat dikumpulkan setiap 56 hari sekali dan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 perusahaan memperoleh skor sebesar 5 yaitu skor maksimal.

f. Perputaran Persediaan (PP)

Tahun 2002 perputaran persediaan yang diperoleh perusahaan sebesar 5 hari, hal ini menunjukkan bahwa dalam 5 hari persediaan perusahaan telah dijual selama satu tahun dan menurut SK Menteri

BUMN No. KEP-100/MBU/2002 perusahaan memperoleh skor maksimal sebesar 5.

Tahun 2003 perputaran persediaan yang diperoleh perusahaan sebesar 6 hari, hal ini menunjukkan bahwa dalam 6 hari persediaan perusahaan telah dijual selama satu tahun dan skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 5.

Pada tahun 2004 perusahaan memperoleh perputaran persediaan sebesar 3 hari, hal ini berarti bahwa dalam 3 hari persediaan perusahaan telah dijual selama satu tahun dan perusahaan memperoleh skor sebesar 5. Dalam tiga tahun berturut-turut perusahaan memperoleh skor maksimal menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 yaitu skor maksimal sebesar 5.

g. Perputaran Total Asset/Total Asset Turn Over (TATO)

Tahun 2002 perputaran total asset yang diperoleh perusahaan sebesar 69,81%. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,6981 melalui penggunaan aktiva atau dengan kata lain setiap satu rupiah total aktiva mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,6981. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan sebesar 3.

Pada tahun 2003 perputaran total asset perusahaan menurun menjadi sebesar 40,25%. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,4025 melalui penggunaan aktiva atau dengan kata lain setiap satu rupiah total aktiva mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,4025 dan skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 5.

Pada tahun 2004 perputaran total asset perusahaan meningkat menjadi sebesar 43,23%. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,4323 melalui penggunaan aktiva atau dengan kata lain setiap satu rupiah total aktiva mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,4323. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan pada tahun 2004 adalah sebesar 2,5.

h. Rasio Total Modal Sendiri Terhadap Total asset (TMS Terhadap TA)

Tahun 2002 rasio total modal sendiri terhadap total asset perusahaan sebesar 38,96%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah jumlah modal sendiri dapat digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan sebesar Rp 0,3896. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan sebesar 10.

Tahun 2003 rasio total modal sendiri terhadap total asset mengalami penurunan menjadi sebesar 35,73%, hal ini berarti bahwa

setiap satu rupiah jumlah modal sendiri dapat digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan sebesar Rp 0,3573 dan skor yang diperoleh perusahaan pada tahun 2003 menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 10.

Pada tahun 2004 rasio total modal sendiri terhadap total asset mengalami penurunan yang cukup signifikan menjadi sebesar 28,78%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah jumlah modal sendiri dapat digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan sebesar Rp 0,2878. Skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 juga mengalami penurunan menjadi sebesar 7,25.

Setelah melakukan perhitungan pada analisis data diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa tahun 2002 perusahaan dapat dikatakan dalam kondisi sehat sekali dari total skor kinerja sebesar 68 dengan kriteria penilaian AAA. Tahun 2003 perusahaan dalam kondisi sehat dengan total skor kinerja sebesar 65,5 dan kriteria penilaian AA. Sedangkan pada tahun 2004 perusahaan berada dalam kondisi sehat dengan total skor kinerja sebesar 56,75 dan kriteria penilaian AA.

Dilihat dari total skor PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dari tahun ke tahun semakin menurun. Penurunan ini disebabkan karena tidak semua indikator yang diteliti dari tahun 2002 sampai tahun 2004 mengalami perubahan yang sama bila dilihat pada nilai masing-masing indikator. Sedangkan jika dilihat dari skor menurut SK Menteri BUMN No.

KEP-100/MBU/2002 cash ratio, current ratio, collection periods dan perputaran persediaan mendapatkan skor maksimal yaitu sebesar 5. Tetapi pada nilai indikator imbalan kepada pemegang saham (ROE), imbalan investasi (ROI), perputaran total asset dan total modal sendiri terhadap total asset skor yang didapatkan perusahaan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Jika dilihat dari rasio-rasionya, kinerja PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dapat dikatakan dalam keadaan baik walaupun dari tahun 2002 sampai tahun 2004 total nilai skor kinerja keuangan semakin menurun sehingga perusahaan menjadi semakin tidak likuid.

Dokumen terkait