• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen Laporan Kesuburan Tanah dan pemupu (Halaman 40-46)

C. Analisis Tanah Setelah Perlakuan

3. Pembahasan

a. Bahan Organik

Bahan organik dalam tanah merupakan sisa-sisa tanaman dan hewan di dalam tanah pada berbagai pelapukan dan terdiri dari organisme yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Bahan organik bisa berfungsi dan memperbaiki sifat kimia, fisika, biologi tanah sehingga ada sebagian ahli menyatakan bahwa bahan organik di dalam tanah memiliki fungsi yang tak tergantikan. Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi mempunyai kapasitas penyangga yang rendah apabila basah. Ada beberapa sifat tanah yang dipengaruhi oleh keberadaan bahan organik, diantaranya granulasi tanah, kemampuan dalam menyimpan air, dan mengikat hara sekaligus sebagai sumber hara untuk tanaman.

Faktor-faktor yang mempengaruhi bahan organik adalah tipe vegetasi yang ada di daerah tersebut, populasi mikroba tanah, keadaan drainase tanah, curah hujan, suhu, dan pengelolaan tanah. Semakin banyak tipe vegetasinya, populasi mikrobia tanah, maka semakin banyak bahan organik yang ada pada tanah. Begitu pula dengan drainase yang baik, curah hujan dan suhu sesuai dan pengelolaan baik maka bahan organik juga akan tersedia semakin banyak (Soepardi 2003)

Analisis laboratorium bahan organik dilakukan menggunakan Asam Fosfat 85% yang berfungsi untuk menghilangkan sisa oksidasi. Selain itu, untuk mengetahui oksidator yang tersisa menggunakan FeSO4 0,5N. Selanjutnya untuk memacu reaksi eksotermis yang menyebabkan tekanan tinggi sehingga reaksi akan bergeser ke arah reaksi oksidasi menggunakan Asam Sulfat pekat. Analisis bahan organik dilakukan dengan prinsip oksidasi C dari bahan organik pada saat berada dalam suasana asam. Analisis yang dilakukan

menggunakan H2SO4 pekat dan K2Cr2O7 yang berfungsi untuk mengoksidasi C dari BO.

Berdasarkan analisis dan pengamatan yang dilakukan pada tanah dengan perlakuan tanpa pupuk SP36 diperoleh kadar bahan organik sebesar 12,01% yang tergolong harkat sangat tinggi. Tanah yang sehat memiliki kandungan bahan organik tinggi, sekitar 5%. Jadi tanah di lokasi tanaman memiliki kandungan BO tinggi. Kesehatan tanah juga penting untuk menyamin produktivitas pertanian. Jika dibandingkan dengan kadar bahan organik awal, maka kadar bahan organik ini berbeda jauh. Perubahan kadar bahan organik yang sangat tinggi dikarekan adanya curah hujan yang relatif tinggi disertai dengan adanya pengolahan lahan. Sesuai dengan yang telah disebutkan sebelumnya, curah hujan dan pengolahan/pengelolaan tanah menjadi faktor ketersediaan bahan organik. Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi. Perlakuan pupuk ZA memiliki nilai kadar bahan organik yang paling tinggi.

b. Kadar Lengas

Kadar lengas tanah sering disebut sebagai kandungan air (moisture) yang terdapat dalam pori tanah. Satuan untuk menyatakan kadar lengas tanah dapat berupa persen berat atau persen volume. Pada pertumbuhan tanaman juga perlu diketahui keadaan air tanah atau lengas tanah sehingga perlu ditetapkan kadar air tanah pada beberapa keadaan, antara lain kadar air total, kapasitas lapang (KL), dan titik layu permanen. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data diperoleh kadar lengas lahan penanaman jagung dengan perlakuan tanpa pupuk SP36 tanah di Jumantono sebesar 19,14%. Kadar lengas perlu ditetapkan untuk mengoreksi berat tanah sebenarnya yang digunakan untuk analisis.

Besar kecilnya kadar lengas dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sifat tanah, faktor tumbuh dan iklim. Besarnya kadar lengas pada suatu tanah juga dipengaruhi oleh banyak faktor seperti diatas, mengingat bahwa tanah lahan pecobaan di jumantono merupakan tanah alfisol dimana salah satu ciri-cirinya adalah drainase yang kurang baik sehingga menyebabkan kapasitas tanah untuk menjerap air juga sedikit sehingga tanah kurang subur. Ketersediaan air dalam tanah dipengarhi oleh banyaknya curah hujan atau irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya evapotranspirasi, tingginya muka air tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa kimiawi atau kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atu lapisan tanah. Penting bagi kita untuk mengetahui kadar lengas tanah karena lengas tanah sangat penting dalam proses genesis tanah.

Nilai KL pada analisis tanah awal lebih rendah dibandingkan KL setelah dilakukan pengolahan. Hal ini dikarekan telah dilakukan pengolahan terhadap tanah dan dipengaruhi pula oleh faktor-faktor cuaca dan iklim. Fungsi mengetahui kadar lengas tanah dalam pertanian yaitu untuk mengetahui serapan hara serta pernafasan akar tanaman yang selanjutnya akan berpengaruh pada pertumbuhan dan produksi tanaman. Sehingga jika kadar lengas rendah maka serapan hara tanah juga rendah. Tentunya akan berpengaruh pula pada pertumbuhan dan produksi tanaman yang akan terganggu. Brdasarkan data hasil rekapan menunjukkan bahwa perlakuan pupuk ZA kelompok 7C memiliki nilai KL yang paling tinggi.

c. KPK

KPK (kapasitas tukar kation) adalah kemampuan tanah dalam mengikat dan menukarkan kation pada permukaan koloid yang bermuatan negatif. Satuan hasil pengukuran KPK adalah milliequivalen kation dalam 100 gram tanah atau me kation per 100g tanah. Berdasarkan hasil analisis dan pengamatan diketahui bahwa KPK tanah dengan perlakuan tanpa pupuk SP36 adalah 15,36 cmol(+)/kg menunjukkan bahwa pengharkatan mempunyai KPK yang

rendah. Dapat disimpulkan, pH pada tanah alfisol merupakan tanah masam sehingga kapasitas tukar kation rendah. Rendahnya nilai KPK pada tanah masam dikarenakan tanah masam ber-pH rendah sehingga tidak banyak ion yang dapat terjerap dan dipertukarkan dalam tanah. Jika dibandingkan dengan KPK sebelum analisis awal maka besar perbedaan tidak terlampau jauh. Nilai KPK mempengaruhi kesuburan tanah karena kapasitas pertukaran kation yang tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsur hara lebih baik dari pada tanah dengan KPK rendah. Beberapa faktor yang mempengaruhi KPK tanah diantaranya tekstur tanah (semakin halus tekstur tanah, makin tinggi nilai KPK), macam koloid (ketidakseragaman klei dan humus merupakan faktor penting dalam kesuburan), persentase kejenuhan basa, reaksi tanah (semakin tinggi pH tanah, KPK semakin tinggi), Kadar bahan organik (makin tinggi kadar bahan organik tanah, maka makin tinggi KPK) (Syukur dan Harsono 2008).

KPK adalah salah satu sifat kimia tanah yang erat kaitannya dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan merupakan indikator kesuburan suatu tanah, yang nilainya sangat beragam antara satu tanah dengan tanah yang lainnya. Nilai kapasitas tukar kation tanah pada ummumnya berkisar antara 24-25 cmol(+)/kg smpai dengan kedalaman 1 meter. Karenanya, analisis yang dilakukan menunjukan bahwa kapasitas tukar kation tanah pada lokasi penanaman sampel tergolong rendah.

d. N Total Tanah

Nitrogen merupakan unsur hara makro esensial, menyusun sekitar 1,5% bobot tanaman dan berfungsi terutama dalam pembentukan protein. Menurut Hardjowigeno (2003) Nitrogen dalam tanah berasal dari bahan organik tanah, pengikatan oleh mikroorganisme dari N udara, pupuk, air hujan, sumber N berasal dari atmosfer sebagai sumber primer, dan lainnya berasal dari aktifitas didalam tanah sebagai sumber sekunder. Nitrogen total adalah jumlah total kjeldahl nitrogen (nitrogen organic) dalam tanah. Kandungan N

total umumnya berkisar antara 2000-4000 kg/ha pada lapisan 0-20 cm tetapi tersedia bagi tanaman hanya kurang 3% dari jumlah tersebut. Manfaat dari Nitrogen adalah untuk memacu pertumbuhan tanaman pada fase vegetatif, serta berperan dalam pembentukan klorofil, asam amino, lemak, enzim, dan persenyawaan lain.

Berdasarkan analisis dan pengamatan N total tanah dengan perlakuan tanpa pupuk SP36 diperoleh data sebesar 0,4%. Hasil analisis kadar N total tanah pada tanah alfisols pengharkatannya sedang. Nilai N yang terkandung dalam tanah diperoleh karena N pada pupuk yang diberikan lebih lambat terkena fakto-faktor yang menyebabkan kehilangan N dari tanah yaitu seperti karena tercuci dan pemindahan oleh tanaman. Hasil N total tanah pada perlakuan tanpa pupuk SP36 relatif tinggi dibandingkan perlakuan lain. Hal ini dapat terjadi karena masukan pupuk yang berbeda tiap perlakuan.

e. P Tersedia Tanah

Fosfor (P) termasuk unsur hara makro, yakni unsur yang diperlukan dalam jumlah yang besar oleh tanaman. P tersedia tanah dalam bentuk H2PO4- dan HPO42-. P tanah dapat dibedakan menjadi tak tersedia , potensial tersedia dan segera tesedia. P segera tersedia adalah bentuk P organik dan beberapa bentuk P anorganik yang relatif tidak tersedia seperti bentuk P terendapkan (Al-P, Ca-P, dan Mn-P). Bentuk P organik umumnya ditemukan dalam bentuk inositol fosfat terutama hexafosfat (60% dari total P organik). Bentuk-bentuk lain seperti fosfolipid, asam nukleat dan protein fosfat dalam tanah hanya berkisar 2% dari total P organic (Sutejo 2002). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kandungan fosfor di lokasi penanaman dengan perklakuan tanpa pupuk SP36 sebesar 0,0417 ppm yang tergolong harkat sangat rendah. Hasil tersebut jika dibandingkan dengan nila P tersedia saat pengolahan awal tanah tentunya lebih sedikit. Hal ini dimungkinkan karena kurangnya tambahan unsur P dari pupuk saat pengolahan. Kurangnya tambahan P dapat terjadi karena perlakuan pupuk yang tidak menggunakan SP36 yang sebenarnya dapat bertindak sebagai

pemasok P. Selain itu pupuk yang digunakan juga tidak mampu memenuhi kebutuhan P yang ada di dalam tanah. Sehingga pada percobaan, perlakuan pupuk ZA memiliki nilai P yang baik karena mereka masih menggunakan pupuk SP36 sebagai masukan P. Fosfor (P) dalam tanah terdiri dari P-anorganik dan P-organik yang berasal dari bahan organik mineral yang mengandung P (apatit). Unsur P dalam tanah tidak bergerak (immobile), P terikat oleh klei, bahan organik, serta oksida Fe dan Al pada tanah yang pH-nya rendah (tanah masam dengan pH 4-5,5).

f. K Tersedia Tanah

Kalium (K) dalam tanah bersumber dari mineral primer tanah (feldspar, mika, vermikulit, biotit) dan bahan organik sisa tanaman. Unsur K dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang besar, yakni terbesar kedua setelah hara N. Kalium (K) dalam tanah bersumber pada pupuk buatan, pupuk kandang, sisa tanaman dan mineral K dalam tanah. K diserap tanaman lebih besar daripada P, Ca dan Mg, tetapi lebih rendah jika dibandingkan dengan N. K di dalam tanah bersifat mobile sehingga mudah hilang melalui proses pencucian tau terbawa arus pergerakan air. Pada pengamatan ini diperoleh hasil bahwa kandungan K dalam tanah alfisol sebesar 0,695% dalam hal ini kandungan K dalam tanah tinggi. Sesuai dengan kebutuhan tanah akan unsur K dalam jumlah yang besar. Jika dibandingkan dengan K tersedia pada analisis tanah awal, K tersedia tanah setelah perlakuan memiliki nilai yang lebih besar. Hal ini dapat terjadi karena adanya penambahan pupuk KCl pada setiap perlakuan sehingga menambah kadar K tersedia dalam tanah. Nilai K di dalam tanah dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain suhu, kelembaban tanah, kandungan bahan organik, mikrobia pengikat unsur tersebut dari udara, pupuk kandang maupun pupuk buatan, hasil fiksasi dan limbah industry (Syukur dan Harsono 2008). Namun, keberadaan unsur tersebut juga dipengaruhi oleh banyak hal yang membuat unsur tersebut sedikit atau bahkan menjadi tidak tersedia untuk tanaman,

misalnya karna pencucian atau pelindian dan terikat oleh unsur lain yang menyebabkan tanah masam tau tidak dapat diserap oleh akar tanaman.

Fungsi utama K adalah mengaktifkan enzim-enzim dan menjaga air sel. K tersedia di dalam tanah dapat dilakukan dengan menggunakan larutan amonium dan menambah larutan LiCl2 sesuai dengan petunjuk yang telah dijelaskan. Setelah dengan menambah larutan tersebut ditembak dengan menggunakan flamefotometer. K yang tersedia di dalam tanah sedikit. Ketersediaan K di dalam tanah tersedia dengan beberapa faktor yaitu suhu, kelembaban tanah, kanddungan bahan organik, mikrobia pengikat unsur dari udara, pupuk kandang dan pupuk buatan.

D. Analisis Tanaman

Dalam dokumen Laporan Kesuburan Tanah dan pemupu (Halaman 40-46)

Dokumen terkait