Co-Assisten dan Dosen Kesuburan Tanah pada, Hari :
Tanggal :
DISUSUN OLEH
NAMA : KHALYFAH HASANAH
NIM : H0713099
KELOMPOK: 5C
Mengetahui,
Dosen Koordinator Praktikum Co-Assisten
Kesuburan Tanah
Prof. Dr. Ir. Slamet Minardi, M.P. Anik Erni
yang telah ditentukan.
Laporan ini disusun guna memenuhi tugas praktikum mata kuliah Kesuburan Tanah.Penulis tidak akan dapat menyelesaikan laporan ini tanpa bantuan dan dukungan dari pihak-pihak yang telah membantu. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Segenap civitas akademis Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Teman-teman Agroteknologi C yang telah membantu.
3. Dosen mata kuliah Kesuburan Tanah yang telah memberikan pemahaman mengenai permasalahan Kesuburan Tanah.
4. Co-Assisten yang telah membimbing dengan sebaik-baiknya. 5. Orang tua yang selalu mendukung dengan semua doa-doanya.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak terdapat kekurangan.Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Surakarta, Juni 2014
KATA PENGANTAR...iii
DAFTAR ISI...iv
DAFTAR TABEL...viii
DAFTAR GRAFIK...ix
I. PENDAHULUAN A.Latar Belakang ...1
B. Tujuan Praktikum ... 2
C. Waktu dan Tempat Praltikum... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanah Alfisol... 3
B. Pupuk KCl, Urea, ZA dan SP36... 4
C. Tanaman Jagung Manis... 6
D. N, P, K Jaringan Tanah... 8
E. Kadar Lengas, KPK, BO... 9
III. METODOLOGI PRAKTIKUM A. Praktikum Lapangan...11
1. Alat...11
2. Bahan...11
3. Cara Kerja...11
B. Praktikum Laboratorium...13
1. Kadar Lengas...13
a. Alat...13
b. Bahan...13
c. Cara Kerja...13
2. Kapasitas Tukar Kation...13
b. Bahan...15
c. Cara Kerja...15
4. N Total Tanah...16
a. Alat...16
b. Bahan...16
c. Cara Kerja...17
5. P Tersedia Tanah...18
a. Alat...18
b. Bahan...18
c. Cara Kerja...18
6. K Tersedia Tanah...19
a. Alat...19
b. Bahan...19
c. Cara Kerja...19
7. N Jaringan Tanaman...19
a. Alat...19
b. Bahan...20
c. Cara Kerja...20
8. P Jaringan Tanaman...21
a. Alat...21
b. Bahan...21
c. Cara Kerja...21
9. K Jaringan Tanaman...22
a. Alat...22
b. Bahan...22
2. Pembahsan...23
B. Analisis Tanah Awal...25
1. Hasil Pengamatan...25
2. Pembahsan...25
C. Analisis Tanah Setelah Perlakuan...27
1. Hasil Pengamatan...27
2. Analisis Hasil Pengamatan...28
a. Bahan Organik...28
b. Kadar Lengas...28
c. KPK...28
d. N Total Tanah...29
e. P Tersedia Tanah...29
f. K Tersedia Tanah...31
3. Pembahasan...32
a. Bahan Organik...32
b. Kadar Lengas...33
c. KPK...34
d. N Total Tanah...35
e. P Tersedia Tanah...36
f. K Tersedia Tanah...37
D. Analisis Tanaman...38
1. Hasil Pengamatan...38
2. Analisis Hasil Pengamatan...38
a. N Jaringan Tanaman...38
b. P Jaringan Tanaman...39
c. K Jaringan Tanaman...40
3. Pembahasan...41
a. N Jaringan Tanaman...41
b. P Jaringan Tanaman...41
c. K Jaringan Tanaman...42
V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan...44
Tabel 4.3 BO, Lengas Tanah, KPK, N, P, K Tanah Alfisols Jumantono Blok
Kelas AT-2C...27
Tabel 4.4 Larutan P Standart...30
Tabel 4.5 Larutan K Standart...31
Tabel 4.6 N, P, K Jaringan Tanaman Jagung Manis...38
Tabel 4.7 Larutan Standart P Jaringan Tanaman...39
Grafik2.2 PPM P Kurva Tersedia...29
Grafik4.3 PPM K Kurva Tersedia...31
Grafik4.4 PPM P Kurva Jaringan...39
maupun sisa-sisa jasad renik yang dipengaruhi oleh faktor iklim dalam jangka waktu tertentu. Tanah merupakan lapisan permukaan bumi tempat terjadinya berbagai proses maupun reaksi yang melibatkan interaksi antara makhluk hidup yang satu dengan yang lainnya. Tanah sangat penting karena tanah merupakan tempat tanaman hidup, sebagai sumber hara tanaman dan penyedia air dan udara serta tempat tegaknya tanaman. Tanah yang umum digunakan sebagai lahan usaha pertanian sebagian besar merupakan tanah mineral. Tanah mineral yang optimum digunakan sebagai lahan usaha pertanian adalah tanah yang mempunyai susunan sebagai berikut: kandungan bahan mineral 45%, kandungan bahan organik 5%, kandungan air 25%, kandungan udara 25%.
Kesuburan tanah merupakan mutu tanah untuk bercocok tanam yang ditentukan oleh interaksi sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi tanah yang menjadi habitat akar-akar aktif tanaman. Kesuburan tanah merupakan mutu suatu tanah yang dapat berasal dari bagian tanah itu sendiri atau imbas dari pengauh keadaan lain baik lahan, iklim atau musim. Adapun faktor-faktor yang menentukan kesuburan tanah meliputi kondisi tanah, unsur hara dalam tanah, organisme dalam tanah, dll.
dan pelaksanaan dari tanah tersebut dalam hal penggarapannya dapat disesuaikan mengingat masing–masing sifat yang berbeda–beda antara tanah satu dengan tanah yang lainnya juga mempengaruhi pengolahannya. Praktikum ini diharapkan kita dapat mengerti jenis tanah beserta sifatnya sehingga dalam hal penggarapannya diharapkan dapat mencapai hasil yang maksimal.
B. Tujuan Praktikum
Praktikum Kesuburan Tanah ini bertujuan:
1. Mahasiswa bisa melakukan analisis beberapa sifat kimia tanah
2. Mahasiswa mampu melihat pengaruh dari tindakan pemupukan atau pengelolaan terhadap pertumbuhan atau hasil tanaman.
C. Waktu dan Tempat Praktikum
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanah Alfisol
Alfisol merupakan tanah yang relatif masih muda dengan kandungan bahan mineral dalam jumlah yang banyak dan mudah lapuk, mineral liat kristalin dan kaya unsur hara. Tanah ini mempunyai kejenuhan basa tinggi, KTK dan cadangan unsur hara tinggi. Alfisol merupakan tanah-tanah di mana terdapat penimbunan liat di bawah horison bawah yang berasal dari horison diatasnya dan tercuci ke bawah bersama gerakan air perkolasi. Tanah-tanah Alfisol banyak ditemukan didaerah beriklim sedang, tetapi terdapat pula didaerah tropika dan subtropika. Tanah Alfisol merupakan tempat penimbunan liat horizon bawah dan memiliki kejenuhan basa tinggi berdasarkan jumlah kation yang berlebih dari 35% pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah. Liat yang tertimbun dihorison diatasnya dan tercuci kebawah bersama dengan gerakan air (Hardjowigeno 2003).
Solum tanah alfisol memiliki ketebalan antara 90-200 cm dengan kenampakan batas antar horizon tidak begitu jelas. Warna tanah adalah coklat sampai merah. Tekstur agak bervariasi dari lempung sampai liat, dengan struktur gumpal bersusut. Kandungan unsur hara tanaman seperti N, P, K dan Ca umumnya rendah dan reaksi tanahnya (pH) sangat tinggi (Suci dan Bambang 2002).
Pada Alfisol kadar liat dan C-organik berkontribusi terhadap KTK tanah. Kadar C-organik dan KTK berperan dalam mengendalikan daya sangga tanah yang ditunjukkan oleh adanya korelasi positif sangat nyata antar dua peubah tersebut dengan daya sangga tanah. Selain itu, konstanta energi ikatan juga berkorelasi positif nyata dengan daya sangga tanah (Nursyamsi et al 2007).
Alfisol memiliki horison argilik yang berada di daerah dengan tanahnya yang lembab pada kurun waktu setengah tahun. Kebutuhan akan kejenuhan basa lebih dari 35% di dalam horison argilik alfisol, hal ini menandakan basa-basa dalam horizon tersebut terlepas karena terurai. Iklim yang menguntungkan dan tanah dengan kesuburan serta sifat fisika yang agak baik menjadikan alfisol salah satu ordo tanah yang paling produktif untuk pertanian (Foth 2008).
B. Pupuk KCl, Urea, Za, SP36
Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Pemupukan yang efektif dan efisien akan tercapai apabila diketahui dulu kondisi kesuburan lahan dan jenis tanaman, kemudian dibuatkan susunan hara (formula) berdasar kepentingan spesifik lokasi kebun tertentu. Penggunaan pupuk yang tepat baik jenisnya, waktu, cara pemberian, dan dosis yang diberikan akan sangat menguntungkan baik secara ekonomis, teknis, sosial, maupun kesehatan lingkungan (Allinson et al 2000).
Penyerapan hara oleh tanaman dilakukan melalui akar dan daun. Sehingga lebih bermanfaat jika pupuk yang digunakan dalam bentuk cair karena akan mudah diserap oleh akar maupun daun. Penggunaan pupuk cair lebih memudahkan pekerjaan, dan penggunaan pupuk cair berarti kita melakukan tiga macam proses dalam sekali pekerjaan, yaitu memupuk tanaman, menyiram tanaman, mengobati tanaman. Bahan Pupuk cair bisa dibuat dari bahan yang mempunyai unsur-unsur yang mudah atau bisa terurai di dalam air, misalnya pupuk hewan, daun-daunan (terutama dari kacang-kacangan) dan kompos (Sutejo 2002).
kemudian dilarutkan dalam air dengan perbandingan tertentu. Pupuk kandang cair memiliki kandungan hara yang lebih baik dibandingkan pupuk padat (Suwarno 2003).
Pembuatan pupuk KCl melalui proses ekstraksi bahan baku (deposit K) yang kemudian diteruskan dengan pemisahan bahan melalui penyulingan untuk menghasilkan pupuk KCl. Kalium klorida (KCl) merupakan salah satu jenis pupuk kalium yang juga termasuk pupuk tunggal. Kalium satu-satunya kation monovalen yang esensial bagi tanaman. Peran utama kalium ialah sebagai aktivator berbagai enzim (Kurnia 2004).
Kandungan utama dari endapan tambang kalsium adalah KCl dan sedikit K2SO4. Hal ini disebabkan karena umumnya tercampur dengan bahan lain seperti kotoran, pupuk ini harus dimurnikan terlebih dahulu. Hasil pemurniannya mengandung K2O sampai 60 %. Pupuk Kalium (KCl) berfungsi mengurangi efek negative dari pupuk N, memperkuat batang tanaman, serta meningkatkan pembentukan hijau dan dan dan karbohidrat pada buah dan ketahanan tanaman terhadap penyakit. Kekurangan hara kalium menyebabkan tanaman kerdil, lemah (tidak tegak, proses pengangkutan hara pernafasan dan fotosintesis terganggu yang pada akhirnya mengurangi produksi. Kelebihan kalium dapat menyebabkan daun cepat menua sebagai akibat kadar Magnesium daun menurun. Terkadang menjadi tingkat terendah sehingga aktivitas fotosintesa terganggu (Martodireso dan Suryanto 2001).
Urea merupakan pupuk buatan hasil persenyawaan NH4 (ammonia) dengan CO2. Bahan dasarnya biasanya berupa gas alam dan merupakan ikatan hasil tambang minyak bumi. Kandungan N total berkisar antara 45-46%. Dalam proses pembuatan Urea sering terbentuk senyawa biuret yang merupakan racun bagi tanaman kalau terdapat dalam jumlah yang banyak. Agar tidak mengganggu kadar biuret dalam Urea harus kurang 1,5-2,0%. Kandungan N yang tinggi pada Urea sangat dibutuhkan pada pertumbuhan awal tanaman (Austin 2007).
dari istilah bahasa Belanda, zwavelzure ammoniak, yang berarti amonium sulfat (NH4SO4) (Muliawati 2007).
Pupuk ZA mengandung belerang 24% dan nitrogen 21%. Kandungan nitrogennya hanya separuh dari urea, sehingga biasanya pemberiannya dimaksudkan sebagai sumber pemasok hara belerang pada tanah-tanah yang miskin unsur ini. Namun demikian, pupuk ini menjadi pengganti wajib urea sebagai pemasok nitrogen bagi pertanaman tebu karena tebu akan mengalami keracunan bila diberi pupuk urea (Djajadi, et al 2002).
SP 36 merupakan pupuk fosfat yang berasal dari batuan fosfat yang ditambang. Kandungan unsur haranya dalam bentuk P2O5 SP36 adalah 46%
yang lebih rendah dari TSP yaitu 36%. Dalam air jika ditambahkan dengan ammonium sulfat akan menaikkan serapan fosfat oleh tanaman. Namun kekurangannya dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, lamban pemasakan dan produksi tanaman rendah (Hakim, et al 2012).
C. Tanaman Jagung Manis
Jagung tergolong tanaman C4 dan mampu beradaptasi dengan baikpada faktor pembatas pertumbuhan dan produksi. Salah satu sifat tanaman jagung sebagai tanaman C4, antara lain daun mempunyai laju fotosintesis lebih tinggi dibandingkan tanaman C3, fotorespirasi dan transpirasi rendah, efisien dalam penggunaan airTanaman jagung dalam tata nama atau sistematika (Taksonomi) tumbuh-tumbuhan jagung diklasifikasi sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Graminae
Famili : Graminaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L. (Tjitrosoepomo 2001)
mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan (Alimardani dan Seifi 2010).
Penggunaan air yang dibutuhkan oleh jagung berkisar antara 400-500 mm. Namun demikian, budi daya jagung terkendala oleh tidak tersedianya air dalam jumlah dan waktu yang tepat. Khusus pada lahan sawah tadah hujan dataran rendah, masih tersisanya lengas tanah dalam jumlah yang berlebihan akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Sementara itu, penundaaan waktu tanam akan menyebabkan terjadinya cekaman kekurangan air pada fase pertumbuhan sampai pembentukan biji. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi pengelolaan air bagi tanaman jagung (Saenong 2008).
Sedangkan untuk pemupukan tanaman jagung (Zea mays L) diberikan
pupuk SP-36, KCl dan 1/3 bagian Urea dipakai sebagai pupuk dasar, diberikan dengan cara ditugal pada jarak 7 cm dari lubang benih dengan kedalamanan 10 cm. Pupuk Urea dan SP-36 diberikan dalam satu lubang dan KCl pada lubang yang lain. Setelah pupuk dimasukkan segera ditutup dengan tanah untuk mencegah penguapan pupuk. Pupuk susulan pertama 1/3 bagian Urea diberikan pada waktu tanaman berumur 3 minggu. Pupuk susulan kedua diberikan pada waktu tanaman berumur 5 minggu atau segera setelah keluar malai dan keluar rambut tongkol jangung (Gressel 2000).
Kebutuhan jagung saat ini mengalami peningkatan dapat dilihat dari segi produksi yang dimana permintaan pasar domestic ataupun internasional yang sangat besar untuk kebutuhan pangan dan pakan. Peningkatan ini dikarekan jagung yang sangat bermanfaat bagi segala segi kehidupan makhluk hidup. Jagung menjadi komoditi terpenting setelah padi. Tanaman jagung banyak sekali gunanya, sebab hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan (Warisno 2005).
D. N, P, K Tanah
Pemberian pupuk NPK diharapkan mampu memberikan tambahan unsur hara seperti nitrogen (NH4+, NO3-), fosfor (HPO
42-) dan kalium (K+) pada tanah
karena pupuk NPK dapat larut maka akan lebih banyak berperan menjaga kepekatan P larutan jika ada anion P dalam larutan yang diserap akar tanaman (Rosmarkam dan Yuwono 2002).
Pemberian pupuk NPK diharapkan dapat memeperbaiki sifat kimia tanah secara cepat dan meningkatkan unsur P dalam bentuk yang mudah diserap oleh tanaman seperti H2PO4 disamping dapat menambah ketersediaan unsur
hara makro utama, pemberian pupuk NPK dapat meningkatkan penyerapan unsure P oleh akar tanaman, karena bertambahnya fosfor dalam tanah menyebabkan perbedaan konsentrasi fosfor di sekitar perakaran (rhizosfer) dan akar tanaman, sehingga dapat meningkatkan hasil tanaman. Muatan positif merangsang akar tanaman untuk menyerap anion seperti H2PO4-dan HPO4
2-serta meningkatkan reaksi kimia di dalam tanah, terutama meningkatkan kandungan N dalam tanah, ketersediaan P dan kapasitas pertukaran kation (Novizan 2003).
Fosfor (P) dalam tanah terdiri dari fosfor organic (fitin, asam nukleat dan fosfolipida) dan fosfor anorganik (dalam bentuk senyawa C aatau Fe dan Al), kedua-duanya merupakan sumber fosfor penting bagi tanaman. Fosfor organic di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 15-80% pada kebanyakan tanah. Kebanyakan senyawa P organic adalah ester dari asam fosfat yaitu inositol fosfat 10-30%, fosfolipid 1-5% dan asam nukleat 0,2-2,5%. Bentuk P ini berasal dari sisa tanaman, hewan dan mikroba. Fosfor (P) yang terdapat dalam larutan tanah, terutama dalam bentuk orthofosfat primer (HPO42-) dan skunder (HPO42-), merupakan bentuk-bentuk
yang tersedia bagi tanaman (Elfiati 2005).
Nitrogen dalam tanah berasal dari bahan organik, hasil pengikatan N dari udara oleh mikroba, pupuk, dan air hujan. Nitrogen yang dikandung tanah pada umumnya rendah, sehingga harus selalu ditambahkan dalam bentuk pupuk atau sumber lainnya pada setiap awal pertanaman. Selain rendah, nitrogen di dalam tanah mempunyai sifat dinamis (mudah berubah ke bentuk lain seperti NH4 menjadi NO3, NO, N2O, dan N2) dan mudah hilang tercuci
Rekomendasi dosis pemupukan pada tanah-tanah yang lebih subur adalah makin sedikit bahkan tidak sama sekali. Hal ini disebabkan oleh tanah yang makin subur respon pemupukan makin rendah sehingga peningkatan hasil atau keuntungan yang didapatkan karena pemupukan semakin kecil. Demikian juga apabila suatu tanah yang dosis pemupukan makin ditingkatkan,maka peningkatan hasil oleh setiap satuan dosis pemupukan juga semakin rendah (Sutejo 2002).
E. Kadar Lengas, KPK, BO
Kadar lengas tanah sering disebut sebagai uap air yang terdapat dalam pori-pori tanah. Satuan untuk menyatakan kadar lengas dapat berupa persen berat atau persen volume. Lengas higroskopis merupakan lengas yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman, atau bisa juga disebut air kristal. Volume air higroskopis sangat tergantung pada sifat koloida tanah, jenis ion terjerap koloida tanah, dan kelembaban udara relatif (Hardjowigeno 2003).
Tanah dengan kandungan bahan organik dan liat tinggi mempunyai kapasitas penyangga yang rendah apabila basah. Tanah berpengaruh penting pada tanaman melalui hubungannya dengan udara dan air. Kemampuan tanah untuk menyimpan air diantaranya hujan yang terjadi menentukan spesies apa yang tumbuh dalam sebuah hutan dan kecepatan pertumbuhan. Kadar lengas merupakan salah satu sifat fisik tanah untuk mengetahui kemampuan menyerap air dan ketersediaan hara pada setiap jenis tanah (Agehara dan Warncke 2005).
Kapasitas tukar kation (KTK) suatu tanah dapat didefenisikan sebagai suatu kemampuan koloidal tanah menjerap dan mempertukarkan kation. Kemampuan atau daya jerap unsur hara dari suatu koloid tanah dapat ditentukan dengan mudah. Jumlah unsur hara yang terjerap dapat ditukar dengan barium (Ba+) atau ammonium (NH4+), kemudian jumlah Ba dan NH
4
yang terjerap ini ditentukan kembali melalui penyulingan, jumlah Ba dan NH4
yang disuling akan sama banyak dengan jumlahnya dengan unsur hara yang ditukar oleh koloid tanah tadi (Hakim, et al 2012).
perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia . Bahan organik tanah adalah semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus (Stevenson 2004).
III. METODOLOGI PRAKTIKUM
1) Mencangkul tanah pada kedalaman olah 2) Menggemburkan dan meratakan tanah
3) Membersihkan dari sisa-sisa tanaman penggangu 4) Menyiram tanah secukupnya
b. Pembuatan Petak
1) Mengukur tepi lahan dengan ukuran 2x2 meter
2) Membuat petak menggunakan rafia dengan ukuran 2x2 meter c. Penanaman
1) Membuat jarak tanam 50x50 cm
2) Membuat lubang tanam dengan menggunakan tugal 3) Menanam biji jagung manis sebanyak 2 biji perlubang d. Pemupukan
1) Menyiapkan pupuk ZA
2) Menyebarkan pupuk disekitas lubang tanam 3) Menutup pupuk dengan tanah agar tidak menguap e. Pengamatan
1) Mengukur tinggi tanaman dengan meteran dari pangkal batang hingga ujung daun tertinggi seminggu sekali
2) Menimbang berat brangkasan segar meliputi seluruh daun yang di panen
3) Mengoven brangkasan basah selama 48 jam dengan suhu 70oc
4) Menimbang berat brangkasan kering yang sudah dioven f. Pemanenan Saat Vegetatif Maksimum
1) Mengambil sampel daun ke 4/5 pada tanaman yang sudah berumur 45 hari dengan jumlah 4 sampel per petak
3) Menganalisis sampel tanaman dan tanah di laboratorium g. Penanganan Sampel Tanaman dan Tanah
1) Membersihkan tanah pada tanaman jagung dan mengangin-anginkan hingga layu
2) Memotong-motong daun kemudian mengovennya dengan suhu 60oc
sampai kering
3) Menimbang sampel yang kering kemudian menggrinding dan menyimpannya dalam kantong plastic kemudian member lebel sesuai kode perlakuan
4) Menganalisis jaringan tanaman meliputi N, P, K jaringan tanaman dengan metode Kjeldahl untuk N, sedangkan P dan K dengan metode ekstrasi HNO3 pekat dan HClO4 pekat
5) Membersihkan tanah dari perakaran dan mengeringkan tanah dari lapang
6) Menumbuk dan menyaring dengan diameter 0,5 mm
h. Pemanenan Hasil
1) Memastikan jagung siap dipanen
2) Memanen dengan memetik tongkol jagung B. Praktikum Laboratorium
1) Menimbang botol timbangan kosong (a)
2) Menimbang contoh tanah 5 gram dan memasukkannya ke dalam botol timbangan
3) Menimbang botol timbangan dan contoh tanah (b) 4) Mengoven selama 4 jam pada suhu 105oc
5) Mendinginkan dalam eksikator lalu menimbang botol timbang (c) 6) Menghitung kadar lengas tanah
Kadar Lengas(KL)=b−c
5) Pipet ukur labu destilasi 6) Destilator
7) Buret dan statif 8) Timbangan b. Bahan
1) Ctka Ø 0,5 mm
2) Ammonium acetate 1 N 3) Alkohol 95%
6) HCl 0,1 N 7) Asam Borat 2%
8) Indikator campuran (BCG dan MR) 9) Aqudest
10) Butir Zn c. Cara kerja
1) Menimbang Ctka Ø 0,5 mm 10 g, lalu memasukkan ke dalam elenmeyer
2) Menambahkan ammonium acetat dan menggojog selama 10 menit 3) Mencuci dengan ammonium acetat 8 kali dan mencucui ctka lagi dengan alcohol 10 cc sebanyak 5 kali kemudian membuang filtrate
4) Mencuci dengan HCl 10% 10 cc sebanyak 8 kali dan memindahkan filtrate kedalam labu destilasi
5) Mengencerkan dengan aquades sampai volume 150 cc
6) Melakukan destilasi dengan penampang 10 cc Asam Borat 2% dan menambahkan indicator campuran sebanyak 2 tetes
7) Menunggu hasil destilasi sampai volume 40 cc
8) Mentitrasi hasil destilasi dengan HCl 0,1 N sampai warna kehijauan
9) Mencatat jumlah HCl (ml/cc) yang digunakan untuk titrasi Perhitungan:
+¿/kg KPK=cc HCl x N HCl
berat tanah x100 cmol¿
Keterangan: hasil destilasi bisa hanya diambil 10 cc tetapi hasil titrasi dikalikan 4
3. Bahan Organik a. Alat
1) Labu takar 50 ml 2) Gelas piala 50 ml 3) Gelas ukur 25 ml
3) Asam sulfat pekat 4) Asam fosfat 85% 5) FeSO4 0,5 N
c. Cara kerja
1) Menimbang ctka Ø 0,5 mm seberat 0,5 g dan memasukkan ke dalam labu takar 50 ml
2) Menambahkan K2Cr2O7 1N sebanyak 10 ml
3) Menambahkan dengan hati-hati lewat dinding 10 cc Asam Sulfat pekat setetes demi setetes hingga menjadi warna jingga. Apabila muncul warna kehijauan, tambahkan lagi K2Cr2O7 dan H2SO4 pekat
dengan volume yang diketahui. Melakukan hal yang sama untuk blanko (tanpa tanah)
4) Menggojog dengan memutar dan mendatar selama 1 menit, lalu mendiamkannya selama 30 menit
7) Mentitrati dengan FeSO4 0,5 N hingga warna hijau cerah
1) Ctka Ø 0,5 mm kering angin diameter 0,5 mm 1 gram
b) Memasukkan ke tabung Kjeldahl dan menambahkan 6 ml H2SO4
pekat
c) Menambahkan campuran serbuk K2SO4 dan CuSO4 1 sendok
kecil
d) Melakukan destruksi hingga campuran homogen yaitu asap hilang dan larutan menjadi putih kehijauan atau tidak berwarna 2) Destilasi
a) Setelah larutan dalam tabung Kjeldahl dingin, menambahkan aquades 30 ml dan menuangkan dalam tabung destilasi (tanah tidak ikut), menambahkan 2 butir Zn dan 20 ml NaOH pekat b) Mengambil larutan penampung 10 ml (merupakan campuran
H2SO4 0,1 N dan 2 tetes metyl red) pada beker glass atau
Erlenmeyer (larutan penampung sudah dibuatkan)
c) Melakukan destilasi hingga volume larutan penampung 40 ml 3) Titrasi
a) Mengambil larutan penampung 10 ml dan melakukan titrasi pada larutan dalam bekerglass hasil destilasi, dengan NaOH 0,1 N sampai warna hamper hilang/kuning bening
b) Melakukan prosedur diatas untuk blanko c) Menghitung nilai N total tanah
4) Corong 2) Larutan HCl 0,025 N 3) Larutan NH4F 0,03 N
4) Ammonium Molibdat 5) Larutan SnCL2
6) Larutan standart P c. Cara kerja
1) Mengencerkan larutan standar P (dilakukan co-ass)
2) Menimbang 0,5 gram tanah kering angin kemudian memasukkannya ke dalam flakon
3) Menambahkan 7 ml larutan Bray (0,025 N HCl+0,03 N NH4F),
lalu menggojognya selama 1 menit
4) Menyaring dengan kertas whatman sampai jernih
5) Mengambil 2 ml filtrate dan menambahkan 5 ml aquades 6) Menambah 2 ml ammonium molybdat hingga homogen
7) Menambahkan 1 ml SnCL2 dan menggojognya (sebelum ditembak)
8) Mengukur dengan Spektrofotometer pada panjang gelombang 660nm
ppmP= ppmP larutan tanah x35 100
3) Ammonium acetate 1 N pH 7 c. Cara kerja
1) Menimbang contoh tanah 2,5 gram
2) Menambah ammonium acetate 25 ml dan menggojog selama 30 menit
4) Menambah 5 ml LiCl2 dan menjadikan volume 50 ml dengan
aquades
5) Menembak dengan flamephotometer
K TersediaTanah=
ppm K LarutanTanah x 50 5x 50
1) Neraca analitik tiga digital 2) Tabung digestion
1) Asam sulfat pekat 2) Natrium Hidroksida
a) Menimbang sampel tanaman dengan kertas bersih dan kering sebanyak 0,1 gram
b) Memasukkan ke dalam tabung Kjeldahl dan menambahkan 3 ml H2SO4 pekat
c) Menambahkan campuran serbuk K2SO4 dan CuSO4 1 sendok
kecil
d) Melakukan destruksi hingga campuran homogen yaitu asap hilang dan larutan menjadi putih kehijauan atau tidak berwarna 2) Destilasi
a) Setelah larutan dalam tabung Kjeldahl dingin, menambahkan aquades 30 ml dan menuangkan dalam tabung destilasi (tanah tidak ikut), menambahkan 2 butir Zn dan 20 ml NaOH pekat b) Membuat larutan penampung 10 ml campuran H2BO4 4% +
a) Mengambil larutan hasil destilasi 10 ml dan melakukan titrasi dengan HCl 0,1 (sampai warrna menjadi kuning)
b) Melakukan prosedur di atas untuk blangko c) Menghitung nilai N jaringan
N pupuk=(B−A)xN HClx14x4 Berat sampel(mg) x100 8. P Jaringan Tanaman
a. Alat
1) Tabung reaksi 2) Penggojog tabung 3) Spektrofotometer 4) Timbangan analitik b. Bahan
1) Asam Nitrat Pekat 2) HClO4 pekat (60%)
3) Pereaksi P c. Cara kerja
1) Membuat larutan standar P
2) Menimbang 0,2 gram sampel jaringan dan memasukkannya ke dalam tabung reaksi
3) Menambahkan 2 ml HNO3 pekat dan HClO4 0,6 ml
4) Memanaskan di atas pemanas sampai larutan jernih dan jangan sampai kering lalu mendinginkannya
5) Menambahkan aquades sampai volume menjadi 10 ml 6) Menyaring larutan dengan kertas Whatman
7) Mengambil 1 ml filtrate dan mengencerkan larutan sampai 10 ml
8) Menambahkan 2 ml HNO3 2 N
9) Menambahkan 1 ml vanadium mollybdat, gojog, dan mendiamkan selama 30 menit
10) Menembak dengan spektrofotometer dan menghitung kadar P Ppm P = y x pengenceran
9. K Jaringan Tanaman a. Alat
1) Tabung reaksi 2) Timbangan 3) Pemanas 4) flamefotometer b. Bahan
1) Sample jaringan
2) HNO3 pekat dan HClO4 0,6
3) Kertas whatman c. Cara kerja
1) Membuat larutan standar K
2) Menimbang 0,2 gram sampel jaringan dan memasukkannya ke dalam tabung reaksi
3) Menambahkan 2 ml HNO3 pekat dan HClO4 0,6 ml
4) Memanaskan di atas pemanas sampai larutan jernih dan jangan sampai kering lalu mendinginkannya
5) Menambahkan aquades sampai volume menjadi 10 ml 6) Menyaring larutan dengan kertas Whatman
7) Mengambil 2 ml filtrate dan mengencerkan larutan sampai 10 ml 8) Mengamati dengan flamefotometer dan menghitung K jaringan
tanaman
Catatan: analisis K dengan mengambil 1 nl filtrate dari ekstrak P, diencerkan hingga 10 ml (bebas/volume yanbg diketahui), dibaca dengan Flamefotometer dan dibandingkan dengan standar.
Tabel 4.1 Tinggi Tanaman Jagung pada Perlakuan tanpa SP 36
3,2 8 20,6 52,3 84 145,5 berbunga berbuah
Samp e l 2
7,2 15 19,1 22 38 62,1 104 berbunga
Samp e l 3
8,1 28 42,8 73 105 139,5 berbunga berbuah
Samp e l 4
8,7 24 39 70 102 133.5 berbunga berbuah
Sumber: Logbook
Grafik 4.1 Tinggi Tanaman Jagung Perlakuan tanpa SP 36
Sumber: Logbook 2. Pembahasan
Pertumbuhan tanaman dibedakan menjadi pertumbuhan vegetatif dan generatif. Pertumbuhan vegetatif merupakan pertumbuhan organ-organ tubuh tumbuhan. Fase vegetatif berhubungan dengan proses pembelahan sel, pemanjangan sel, dan tahap awal dari diferensiasi sel yang terajdi pada akar, daun dan batang baru. Fase vegetatif terjadi setelah adanya pertambahan jumlah dan volume sel tanaman hingga mencapai jumlah yang memungkinkan tanaman untuk mulai berbunga. Keadaan ini ditandai dengan stabilnya pembelahan sel, pola pembelahan berubah untuk mulai membentuk meristem lateral. Tanaman memasuki fase reproduktif setelah tercapainya suatu karakter genetik yang disebut size effect dan endogenous timing. Size effect adalah ukuran tertentu yang berhubungan dengan kemampuan tanaman mengatur penyerapan, suplai dan alokasi makanan. Endogenous timing adalah umur tertentu yang secara genetis berhubungan dengan kesiapannya untuk berbunga.
Pengukuran tinggi jagung dilakukan pada setiap satu minggu sekali. Setiap satu minggu sekali dilakukan pengamatan atau praktikum di Jumantono. Perlakuan jagung memiliki 4 sampel untuk diamati yang dipilih secara acak dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan tertentu. Pengambilan sampel jagung yang akan dianalisis di laboratorium harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya pengambilan sampel dihindari untuk tanaman yang berada dipinggir, hal tersebut bertujuan agar pengambilan sampel murni tidak terkontaminasi dengan perlakuan petak didekatnya. Pengambilan sampel diharuskan pada tanaman yang telah sempurna, lama perlakuan pemeliharaan dilakukan sekitar 8 minggu hingga panen. Menurut Mukhlis (2007) Pengumpulan contoh tanah untuk digunakan sebagai sampel yang representatif dari suatu bagian tanaman, yang diambil pada waktu atau fase pertumbuhan yang dapat mencerminkan status hara yang sebenarnya. Penanganan contoh sehingga analisis akan memberikan suatu pengukuran yang tepat dari status hara tanaman tersebut.
tanaman tidak terihat signifikan jika dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Hal ini dikarenakan Pemupukan fosfor dapat merangsang pertumbuhan awal bibit tanaman. Bahkan mampu mempercepat pemasakan buah dan membuat biji menjadi lebih bernas. Adapun fungsi pupuk SP36 bagi tanaman: (a) mempercepat pertumbuhan akar di persemaian (b) memicu dan memperkuat pertumbuhan tanaman dewasa pada umumnya (c) meningkatkan produksi buah hal ini sesuai dengan pendapat Sutedjo (2002) unsur P merupakan bahan pembentuk inti sel. Sehingga dengan perlakuan tanpa pupuk SP36 menyebabkan pertumbuhan tanaman lambat, perkembangan tanaman terhambat dan pada beberapa tanaman menunjukkan warna hijau tua mengkilap yang tidak normal. Meskipun begitu, tumbuhan tetap menghasilkan daun yang lebat dengan buah yang cukup besar. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran sampel 1 tinggi tanaman secara berturut-turut per minggu dari minggu pertama hingga minggu ke delapan adalah 3,2 cm; 8 cm; 20,6 cm; 52,3 cm; 84cm; 145,5cm; 182cm dan 201cm. Sampel 2 adalah 7,2 cm; 15 cm; 19,1 cm dan 22 cm; 38 cm; 62,1cm; 104cm dan 127 cm. Sampel 3 adalah 8,1 cm; 28 cm; 42,8 cm; 73cm; 105cm; 139,5cm; 119cm; dan 140 cm; dan pada sampel ke-empat tinggi tanaman adalah 8,7cm; 24cm; 39cm; 70cm; 102cm; 133,5cm; 110cm; dan 129cm.
Pupuk Kalium (KCl) berfungsi mengurangi efek negative dari pupuk N, memperkuat batang tanaman, serta meningkatkan pembentukan hijau dan dan dan karbohidrat pada buah dan ketahanan tanaman terhadap penyakit. Kekurangan hara kalium menyebabkan tanaman kerdil, lemah (tidak tegak, proses pengangkutan hara pernafasan dan fotosintesis terganggu yang pada akhirnya mengurangi produksi. Sehingga dengan dilakukan pemupukan KCl pada tanaman sampel dapat menguatkan tanaman untuk tumbuh tegak seperti yang terlihat dilapangan.
B. Analisis Tanah Awal 1. Hasil Pengamatan
Tabel 4.2 Analisis Tanah Awal
(cmo
13,3 9,83 1,87 0,115 2,088 0,011
Sumber: Analisis Laboratorium 2. Pembahasan
Kapasitas tukar kation tanah tergantung pada tipe dan jumlah kandungan liat, kandungan bahan organik dan pH tanah. Pengaruh bahan organik terhadap KTK tanah sangat nyata, karena daya jerap bahan organik sangat besar. Karena itu semakin tinggi kandungan bahan organik tanah semakin tinggi pula nilai KTK-nya. Kadar lengas merupakan kandungan air yang terdapat dalam pori tanah. Air berada di dalam ruang pori di antara padatan tanah. Jika tanah dalam keadaan jenuh maka semua pori akan terisi oleh air.
Nitrogen dalam tanah berasal dari bahan organik, hasil pengikatan N dari udara oleh mikroba, pupuk, dan air hujan. Nitrogen yang dikandung tanah pada umumnya rendah, sehingga harus selalu ditambahkan dalam bentuk pupuk atau sumber lainnya pada setiap awal pertanaman. Fosfor (P) dalam tanah terdiri dari fosfor organic (fitin, asam nukleat dan fosfolipida) dan fosfor anorganik (dalam bentuk senyawa C atau Fe dan Al), kedua-duanya merupakan sumber fosfor penting bagi tanaman. Fosfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 15-80% pada kebanyakan tanah. Unsur K dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang besar, yakni terbesar kedua setelah hara N. Pada tanah yang subur kadar K dalam jaringan hampir sama dengan N.
rendah. Menurut Sutejo (2002) kapasitas tukar kation tanah tergantung pada tipe dan jumlah kandungan liat, kandungan bahan organik, dan pH tanah. Pada tanah Alfisol kandungan bahan organik relatif rendah dan pH tanah tergolong masam sehingga KTK pada tanah alfisol rendah.
Kadar lengas yang terukur sebelum tanah diolah sebesar 9,83%. Kadar lengas tersebut menunjukkan kandungan uap air pada tanah tidak terlalu besar. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar lengas yaitu, anasir iklim, kandungan bahan organik dan fraksi lempung tanah, topografi dan adanya bahan penutup tanah. Anasir iklim seperti curah hujan berpengaruh pada perombakan bahan organik. Bahan organik serta lempung berfungsi sebagai penyimpan/penyekap air, sehingga dengan rendahnya kadar bahan organic pada tanah alfisol menyebabkan kadar lengas dalam tanah juga rendah.
Kandungan bahan organik yang terukur sebesar 1,87% yang tergolong kriteria rendah. Kandungan bahan organik mempengaruhi tingkat KTK pada tanah karena bahan organik memiliki daya jerap yang tinggi terhadap ion. Sehingga kandungan bahan organik maka nilai KTK juga rendah, yang berarti tingkat kesuburan rendah. N total tanah berdasarka analisis laboratorium sebesar 0,115% yang tergolong harkat rendah. Sedangkan nilai P dan K tersedia tanah sebesar 2,088% dan 0,011%. Keduanya tergolong dalam harkat yang sangat rendah. Menurut Syukur dan Hartono (2008) kandungan N, P, dan K tinggi terdapat pada tanah yang kering dan ber-pH basa. Sedangkan tanah alfisol merupakan tanah basah dengan pH masam sehingga kandungan N, P, dan K dalam tanah alfisol relatif rendah.
C. Analisis Tanah Setelah Perlakuan 1. Hasil Pengamatan
(pp
m) m)
1C 24,8 14,324 6,13 0,128 2C 24 10,737 148,5 0,24
3C 27,4 14,3 12,2 0,15
4C 0,036 11,78 11,2 0,125
5C 15,36 19,14 12,01 0,400 0,0417 0,695
6C 22 22,703 17,33 2,1
2. Analisis Hasil Pengamatan
Kadar BahanOrganik=12,06(sangat tinggi)
b. Kadar Lengas
Kadar Lengas(KL)=b−c c−a x100 Kadar Lengas(KL)=59,372−58,570
58,570−54,381x100
Kadar Lengas(KL)=0,802 4,189x100 Kadar Lengas(KL)=0,1914x100 Kadar Lengas(KL)=19,14
c. KPK
+¿/kg KPK=cc HCl x N HCl x4
d. N Total Tanah
N Total Tanah= (B−A)xN NaOHx14x4 100
100+KLxBerat Tanah(mg) x100
N Total Tanah=(0,3−0)x0,1x14x4 100
100+19,14 x500
x100
N Total Tanah= 1,68
0,839x500 x100 N Total Tanah=0,00400x100 N Total Tanah=0,400(Sedang)
e. P Tersedia Tanah
0 0.5 1 1.5 2 2.5
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
f(x) = 0.47x + 0.05 R² = 0.99
PPM P Kurva tersedia
PPM P Kurva tersedia
Linear (PPM P Kurva tersedia)
Tabel 4.4 Larutan P Standart PPM Larutan
Standart
Hasil
Penembaka n
0 0
0.1 0.091
0.2 0.155
0.4 0.275
0.6 0.313
0.8 0.426
1 0.553
1.2 0.642
1.4 0.694
1.6 0.798
1.8 0.899
2 0.976
Sumber: Analisis Laboratorium
Ppm P larutan tanah = 0,4736x + 0,0471 X=hasil penembakan P = 0,963
Ppm P larutan tanah = 0,4736 (0,963) + 0,0471 = 0,4560768 + 0,0471 = 0,5
ppm P=ppm Plarutan Tanamanx35 100
100+KLxberat tanah(g) ppm P= 0,5x35
100
f. K Tersedia Tanah
Grafik 4.3 PPM K Kurva Tersedia
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Tabel 4.5 Larutan K Standart
PPM larutan
Ppm K larutan tanah = 1,1525x + 0,4512 X=hasil penembakan K= 2,141
Ppm K larutan Tanah = 1,1525(2,141)+0,4512 Ppm K larutan Tanah = 2,9187025
ppm K=14,5935125 2098,37168x100 ppm K=0,695
3. Pembahasan
a. Bahan Organik
Bahan organik dalam tanah merupakan sisa-sisa tanaman dan hewan di dalam tanah pada berbagai pelapukan dan terdiri dari organisme yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Bahan organik bisa berfungsi dan memperbaiki sifat kimia, fisika, biologi tanah sehingga ada sebagian ahli menyatakan bahwa bahan organik di dalam tanah memiliki fungsi yang tak tergantikan. Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi mempunyai kapasitas penyangga yang rendah apabila basah. Ada beberapa sifat tanah yang dipengaruhi oleh keberadaan bahan organik, diantaranya granulasi tanah, kemampuan dalam menyimpan air, dan mengikat hara sekaligus sebagai sumber hara untuk tanaman.
Faktor-faktor yang mempengaruhi bahan organik adalah tipe vegetasi yang ada di daerah tersebut, populasi mikroba tanah, keadaan drainase tanah, curah hujan, suhu, dan pengelolaan tanah. Semakin banyak tipe vegetasinya, populasi mikrobia tanah, maka semakin banyak bahan organik yang ada pada tanah. Begitu pula dengan drainase yang baik, curah hujan dan suhu sesuai dan pengelolaan baik maka bahan organik juga akan tersedia semakin banyak (Soepardi 2003)
Analisis laboratorium bahan organik dilakukan menggunakan Asam Fosfat 85% yang berfungsi untuk menghilangkan sisa oksidasi. Selain itu, untuk mengetahui oksidator yang tersisa menggunakan FeSO4 0,5N. Selanjutnya untuk memacu reaksi eksotermis yang
menggunakan H2SO4 pekat dan K2Cr2O7 yang berfungsi untuk
mengoksidasi C dari BO.
Berdasarkan analisis dan pengamatan yang dilakukan pada tanah dengan perlakuan tanpa pupuk SP36 diperoleh kadar bahan organik sebesar 12,01% yang tergolong harkat sangat tinggi. Tanah yang sehat memiliki kandungan bahan organik tinggi, sekitar 5%. Jadi tanah di lokasi tanaman memiliki kandungan BO tinggi. Kesehatan tanah juga penting untuk menyamin produktivitas pertanian. Jika dibandingkan dengan kadar bahan organik awal, maka kadar bahan organik ini berbeda jauh. Perubahan kadar bahan organik yang sangat tinggi dikarekan adanya curah hujan yang relatif tinggi disertai dengan adanya pengolahan lahan. Sesuai dengan yang telah disebutkan sebelumnya, curah hujan dan pengolahan/pengelolaan tanah menjadi faktor ketersediaan bahan organik. Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi. Perlakuan pupuk ZA memiliki nilai kadar bahan organik yang paling tinggi.
b. Kadar Lengas
Besar kecilnya kadar lengas dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sifat tanah, faktor tumbuh dan iklim. Besarnya kadar lengas pada suatu tanah juga dipengaruhi oleh banyak faktor seperti diatas, mengingat bahwa tanah lahan pecobaan di jumantono merupakan tanah alfisol dimana salah satu ciri-cirinya adalah drainase yang kurang baik sehingga menyebabkan kapasitas tanah untuk menjerap air juga sedikit sehingga tanah kurang subur. Ketersediaan air dalam tanah dipengarhi oleh banyaknya curah hujan atau irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya evapotranspirasi, tingginya muka air tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa kimiawi atau kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atu lapisan tanah. Penting bagi kita untuk mengetahui kadar lengas tanah karena lengas tanah sangat penting dalam proses genesis tanah.
Nilai KL pada analisis tanah awal lebih rendah dibandingkan KL setelah dilakukan pengolahan. Hal ini dikarekan telah dilakukan pengolahan terhadap tanah dan dipengaruhi pula oleh faktor-faktor cuaca dan iklim. Fungsi mengetahui kadar lengas tanah dalam pertanian yaitu untuk mengetahui serapan hara serta pernafasan akar tanaman yang selanjutnya akan berpengaruh pada pertumbuhan dan produksi tanaman. Sehingga jika kadar lengas rendah maka serapan hara tanah juga rendah. Tentunya akan berpengaruh pula pada pertumbuhan dan produksi tanaman yang akan terganggu. Brdasarkan data hasil rekapan menunjukkan bahwa perlakuan pupuk ZA kelompok 7C memiliki nilai KL yang paling tinggi.
c. KPK
rendah. Dapat disimpulkan, pH pada tanah alfisol merupakan tanah masam sehingga kapasitas tukar kation rendah. Rendahnya nilai KPK pada tanah masam dikarenakan tanah masam ber-pH rendah sehingga tidak banyak ion yang dapat terjerap dan dipertukarkan dalam tanah. Jika dibandingkan dengan KPK sebelum analisis awal maka besar perbedaan tidak terlampau jauh. Nilai KPK mempengaruhi kesuburan tanah karena kapasitas pertukaran kation yang tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsur hara lebih baik dari pada tanah dengan KPK rendah. Beberapa faktor yang mempengaruhi KPK tanah diantaranya tekstur tanah (semakin halus tekstur tanah, makin tinggi nilai KPK), macam koloid (ketidakseragaman klei dan humus merupakan faktor penting dalam kesuburan), persentase kejenuhan basa, reaksi tanah (semakin tinggi pH tanah, KPK semakin tinggi), Kadar bahan organik (makin tinggi kadar bahan organik tanah, maka makin tinggi KPK) (Syukur dan Harsono 2008).
KPK adalah salah satu sifat kimia tanah yang erat kaitannya dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan merupakan indikator kesuburan suatu tanah, yang nilainya sangat beragam antara satu tanah dengan tanah yang lainnya. Nilai kapasitas tukar kation tanah pada ummumnya berkisar antara 24-25 cmol(+)/kg smpai dengan kedalaman 1 meter. Karenanya, analisis yang dilakukan menunjukan bahwa kapasitas tukar kation tanah pada lokasi penanaman sampel tergolong rendah.
d. N Total Tanah
total umumnya berkisar antara 2000-4000 kg/ha pada lapisan 0-20 cm tetapi tersedia bagi tanaman hanya kurang 3% dari jumlah tersebut. Manfaat dari Nitrogen adalah untuk memacu pertumbuhan tanaman pada fase vegetatif, serta berperan dalam pembentukan klorofil, asam amino, lemak, enzim, dan persenyawaan lain.
Berdasarkan analisis dan pengamatan N total tanah dengan perlakuan tanpa pupuk SP36 diperoleh data sebesar 0,4%. Hasil analisis kadar N total tanah pada tanah alfisols pengharkatannya sedang. Nilai N yang terkandung dalam tanah diperoleh karena N pada pupuk yang diberikan lebih lambat terkena fakto-faktor yang menyebabkan kehilangan N dari tanah yaitu seperti karena tercuci dan pemindahan oleh tanaman. Hasil N total tanah pada perlakuan tanpa pupuk SP36 relatif tinggi dibandingkan perlakuan lain. Hal ini dapat terjadi karena masukan pupuk yang berbeda tiap perlakuan.
e. P Tersedia Tanah
Fosfor (P) termasuk unsur hara makro, yakni unsur yang diperlukan dalam jumlah yang besar oleh tanaman. P tersedia tanah dalam bentuk H2PO4- dan HPO42-. P tanah dapat dibedakan menjadi tak
pemasok P. Selain itu pupuk yang digunakan juga tidak mampu memenuhi kebutuhan P yang ada di dalam tanah. Sehingga pada percobaan, perlakuan pupuk ZA memiliki nilai P yang baik karena mereka masih menggunakan pupuk SP36 sebagai masukan P. Fosfor (P) dalam tanah terdiri dari P-anorganik dan P-organik yang berasal dari bahan organik mineral yang mengandung P (apatit). Unsur P dalam tanah tidak bergerak (immobile), P terikat oleh klei, bahan organik, serta oksida Fe dan Al pada tanah yang pH-nya rendah (tanah masam dengan pH 4-5,5).
f. K Tersedia Tanah
misalnya karna pencucian atau pelindian dan terikat oleh unsur lain yang menyebabkan tanah masam tau tidak dapat diserap oleh akar tanaman.
Fungsi utama K adalah mengaktifkan enzim-enzim dan menjaga air sel. K tersedia di dalam tanah dapat dilakukan dengan menggunakan larutan amonium dan menambah larutan LiCl2 sesuai
dengan petunjuk yang telah dijelaskan. Setelah dengan menambah larutan tersebut ditembak dengan menggunakan flamefotometer. K yang tersedia di dalam tanah sedikit. Ketersediaan K di dalam tanah tersedia dengan beberapa faktor yaitu suhu, kelembaban tanah, kanddungan bahan organik, mikrobia pengikat unsur dari udara, pupuk kandang dan pupuk buatan.
D. Analisis Tanaman 1. Hasil Pengamatan
Tabel 4.6 N, P, K Jaringan Tanaman Jagung Manis Ulan
N1 Jaringan Tanaman ¿ 2,996%
2) N2JaringanTanaman=(B−A)xN HCLx14x4 Berat Sampel(mg) x100 N2JaringanTanaman=(0,92−0)x0,1x14x4
200 x100
N2 Jaringan Tanaman ¿ 2,576%
0 1 2 3 4 5 6 7 8
PPM P Kurva jaringan
PPM P Kurva jaringan
Linear (PPM P Kurva jaringan )
Grafik 4.4 PPM P Kurva Jaringan
Tabel 4.7 PPM Larutan Standart P Jaringan Tanaman
Larutan Standart Hasil Penembakan
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Tabel 4.8 PPM Larutan Standart K Jaringan Tanaman
Larutan Standart Hasil Penembakan
K Jaringan Tanaman = y x pengenceran K Jaringan Tanaman = 1,515 x10 K Jaringan Tanaman = 15,15 3. Pembahasan
a. N Jaringan Tanaman
Nitrogen merupakan unsur hara esensial bagi tanaman yang diserap dalam bentuk ammonium dan nitrat, sebagian besar diserap dalam bentuk nitrat. Nitrat (N03) bermuatan negatif sehingga selalu
namun lebih mudah juga tercuci. Sebaliknya ammonium bermuatan positif sehingga terikat oleh kaloid tanah, dan tidak mudah tercuci.
Menurut Rosmarkan dan Yuwono (2002), bagian tanaman yang berwarna hijau mengandung N protein terbanyak dan meliputi 70%-80% dari N total tanaman. Nitrogen asam nukleat terdapat sekitar 10% dan asam amino terlarut hanya sebanyak 5% dari total dalam tanaman. Berdasarkan analisis laboratorium didapatkan N jaringan tanaman pada masing-masing sampel berbeda. N jaringan tanaman berdasarkan analisis laboratorium sebesar 2,786. Nilai tersebut sangat tinggi bila dibandingkan dengan kebutuhan N oleh tanaman. Oleh karenanya tanaman jagung tumbuh maksimal. Nitrogen dalam jaringana tanah berperan dalam pembentukan protein. Kandungan N yang tinggi dalam jaringan tanaman, berpengaruh pada pembentukan protein. Pembentukan protein yang baik mengakibatkan klorofil pada tanaman tinggi sehingga laju fotosintesis tanaman meningkat.
b. P Jaringan Tanaman
Fosfor mempunyai kegunaan yang penting bagi pertumbuhan tanaman karena berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar terutama pada awal-awal pertumbuhan, mempercepat pembungaan, pemasakan biji dan buah (Elfiati 2005). Fosfor merupakan unsur hara yang mobil pergerakannya di dalam jaringan tanaman. Konsentrasi P dalam tanaman umumnya antara 0,1% sampai 0,4%. Dari hasil pengamatan didapatkan kandungan P dalam jaringan tanaman sebesar 0,8ppm dalam hal ini kandungan P jaringan tanaman rendah sesuai dengan kandungan P pada tanaman umumnya. Unsur P terdapat di seluruh sel hidup tanaman yang menyusun jaringan tanaman seperti asam nukleat, fosfolipida dan fitin. Jaringan tanaman P berperan dalam hampir semua proses reaksi biokimia.
nukleat), P juga ambil bagian dalam sintesis protein, terutama yang terdapat pada jaringan hijau, sintesis karbohidrat, memacu pembentukan bunga dan biji serta menentukan kemampuan berkecambah biji yang dijadikan benih.
c. K Jaringan Tanaman
Tanaman menyerap kalium dalam bentuk ion K+. Kalium di
dalam tanah ada dalam berbagai bentuk, yang potensi penyerapannya untuk setiap tanaman berbeda-beda. Persediaan mineral dalam bentuk kalium ini terutama penting bagi tanah liat dari laut yang masih muda. Bertambah banyak persediaan ini di dalam tanah, maka akan lebih banyak pula kalium dibebaskan sebagai akibat dari pengaruh iklim yang diserap oleh tanaman (Elfiati 2005).
Dari hasil pengamatan didapatkan kandungan K jaringan dalam tanaman sebesar 15,15 ppm. Hal ini di pengaruhi beberapa faktor, faktor tersebut antara lain suhu, kelembaban tanah, kandungan bahan organik, mikrobia pengikat unsur tersebut dari udara, pupuk kandang maupun pupuk buatan, hasil fiksasi dan limbah industri. Namun, keberadaan unsur tersebut juga dipengaruhi oleh banyak hal yang membuat unsur tersebut sedikit atau bahkan menjadi tidak tersedia untuk tanaman, misalnya karna pencucian atau pelindian dan terikat oleh unsur lain yang menyebabkan tanah masam tau tidak dapat diserap oleh akar tanaman.
Kalium merupakan unsur hara ketiga setelah Nitrogen dan Fosfor yang diserap oleh tanaman dalam bentuk ion K+. Muatan positif dari
1. Dalam pengamatan kadar lengas tanah setelah perlakuan sebesar 19,14% lebih besar dari kadar lengas tanah sebelum perlakuan. Diketahui bahwa ketersediaan air dalam tanah sedikit yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman
2. Kapasitas tukar kation tanah sebelum perlakuan sebesar 13,3 cmol(+)/kg dan setelah perlakuan sebesar 15,36 cmol(+)/kg menunjukkan KTK yang rendah sehingga daya jerap (ikat) kation rendah dan tanah kurang subur 3. Kandungan N Total Tanah 0,400% termasuk dalam kriteria sedang. Salah
satu faktor yang mempengaruhinya adalah keadaan mikroorganisme penambat nitrogen.
4. Kandungan P tersedia tanah adalah 0,0417 ppm hal ini kurang baik karena P merupakan unsur hara makro sehingga dibutuhkan oleh tanman dalam jumlah besar.
5. K tersedia tanah rendah yaitu sebesar 0,695 tergolong dalam harkat yang tinggi. Hal ini buruk bagi tanaman karena kandungan unsur K dalam tanah mempunyai sifat berlawanan dengan unsur lain sehingga apabila kandungannya tinggi maka akan mendesak unsur lain.
6. Hasil analisis rata-rata Nitrogen jaringan tanaman sebesar 2,768%. N berpengaruh pada pembentukan klorofil dan protein.
7. Hasil analisis P jaringan tanaman sebesar 0,8 ppm. Hal ini menunjukkan kandungan P yang redah sehingga akan mepengaruhi pembentukkan energi
B. Saran
Saran pada praktikum Kesuburan Tanah ini adalah
1. Perlunya pendampingan praktikan secara intensif baik didalam praktikum lapangan, laboratorium dan penyusunan laporan sehingga para praktikan benar-benar mengetahui inti dari kegiatan praktikum sehingga para praktikan mendapatkan suatu pengetahuan baru.
2. Dalam hal pelaksanaan praktikum, diharapkan lebih terorganisir dan lebih teliti dalam persiapan dan penyediaan alat dan bahan.