Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Setiap pertemuan mencakup empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Berdasarkan dari hasil pengamatan dan data hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video dapat meningkatkan pemahaman konsep sifat-sifat cahaya pada siswa kelas V SD Negeri Bangsalan 1, Boyolali tahun ajaran
2015/2016. Peningkatan tersebut terlihat dari nilai rata-rata dan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan (KKM) sebelum dilakukannya tindakan atau pratindakan dengan setelah dilakukannya tindakan atau dengan digunakannya model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video.
Pada kondisi awal atau pratindakan, sebelum guru menerapkan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video ketuntasan klasikal pemahaman konsep sifat-sifat cahaya siwa masih rendah, yaitu 26,32% atau hanya 5 siswa dari jumlah keseluruhan 19 siswa. Siswa yang belum tuntas adalah 14 siswa atau 73,68% dari 19 siswa. Nilai rata-rata dikatakan masih rendah karena masih di bawah KKM ≥65 yaitu dengan nilai 56,95.
Rendahnya pemahaman konsep sifat-sifat cahaya dikarenakan oleh beberapa faktor, dari sisi kinerja guru metode yang digunakan dalam pembelajaran masih konvensional dan terlalu banyak ceramah, penggunaan media yang belum dimaksimalkan, guru hanya menjelaskan materi dengan media gambar seperti yang ada di buku pegangan siswa saja tanpa melibatkan siswa dalam sebuah praktik langsung. Selain itu, pada aktivitas siswa terlihat kurangnya keaktifan dan keantusiaan siswa serta siswa cenderung bersikap pasif. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas V SD Negeri Bangsalan 1, diketahui bahwa sebagian besar siswa kesulitan memahami materi yang diajarkan dan merasa bosan ketika mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan untuk meningkatkan pemahaman konsep sifat-sifat cahaya.
Dari hasil pelaksanaan tindakan, nilai rata-rata dan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan terus mengalami peningkatan di setiap siklus. Pada saat uji pratindakan diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 26,32% dengan nilai rata-rata kelas 56,95, kemudian pada tindakan siklus I ketuntasan klasikal meningkat menjadi 57,89% dengan nilai rata-rata kelas 66,47. Setelah dilakukan refleksi terhadap pelaksanaan tindakan pada siklus I, capaian ketuntasan klasikal siklus II meningkat lagi menjadi 89,47% dengan nilai rata-rata kelas sebesar 78,82.
Penelitian ini berakhir pada siklus II karena indikator kinerja (85%) yang telah ditetapkan telah tercapai dan bahkan perolehannya lebih besar dari indikator kinerja yaitu sebesar 89,47%. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ketuntasan belajar
yang dicapai oleh siswa kelas V SD Negeri Bangsalan 1, Boyolali tahun ajaran 2015/2016 sudah mencapai indikator kinerja yang ditetapkan.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan, terjadi peningkatan dalam pemahaman konsep sifat-sifat cahaya dengan penggunaan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video selama tindakan berlangsung. Dengan penerapan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video tersebut dapat meningkatkan antusiasme dan keaktifan siswa dalam belajar karena model ini memperhatikan ketiga gaya belajar siswa yaitu visual, auditory, dan kinesthetic yang diintegrasikan dengan media video sebagai penunjang pembelajarannya. Siswa dapat memperoleh pengetahuan dengan gaya belajar visual dan auditory dengan cara pengataman media video. Dalam pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini, siswa merasa sangat antusias dan tertarik dengan adanya media video tentang sifat-sifat cahaya.
Siswa dengan gaya belajar kinesthetic dapat ditingkatkan keaktifan dan kerjasama melalui kegiatan praktikum. Melalui kegiatan tersebut siswa mendapatkan pengalaman langsung dalam memperoleh suatu pengetahuan dalam pembelajaran sehingga hasil yang didapat pun bisa semakin meningkat. Hal ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya pemahaman konsep sifat-sifat cahaya dari kegiatan pengamatan video dan pelaksanaan praktikum secara berkelompok terlihat meningkat hasilnya pada hasil tes evaluasi yang dilaksanakan setiap akhir pertemuan. Kegiatan refleksi dan penilaian pemahaman konsep sifat-sifat cahaya juga sudah terlaksana dengan baik dan mendapat hasil yang memuaskan. Pada intinya, keseluruhan langkah-langkah dalam penerapan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video sudah dilaksanakan dengan baik sehingga kegiatan pembelajaran juga meningkat semakin baik dan pemahaman konsep sifat-sifat cahaya pada siswa kelas V SD Negeri Bangsalan 1, Boyolali tahun ajaran 2015/2016 menjadi meningkat.
Dari hal-hal yang diperoleh selama pembelajaran tersebut terdapat kecocokan dengan teori yang diungkapkan oleh para ahli tentang model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video. Salah satunya seperti yang diungkapkan Herdian dalam Shoimin (2014: 226), model
pembelajaran VAK merupakan suatu model pembelajaran yang menganggap pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut (Visual, Auditory, Kinesthetic), dan dapat diartikan bahwa pembelajaran dilaksanakan dengan memanfaatkan potensi siswa yang telah dimilikinya dengan melatih dan mengembangkannya. Berdasarkan teori tersebut, dalam penelitian ini terbukti pembelajaran berlangsung lebih efektif dengan memperhatikan ketiga gaya belajar siswa sehingga pemahaman konsep sifat-sifat cahaya bisa meningkat. Didukung dengan teori yang diuraikan Hosnan (2014:111), video termasuk dalam media audio visual yang dapat memberikan dimensi lain pada pembelajaran dan selain itu materinya akan lebih efektif menjangkau pebelajar dengan gaya belajar yang berbeda-beda. Sejalan dengan pendapat tersebut, Daryanto (2013: 87) menjelaskan bahwa video menambah suatu dimensi baru terhadap pembelajaran. Hal ini karena karakteristik teknologi video yang dapat menyajikan gambar bergerak pada siswa, disamping suara yang menyertainya sehingga siswa merasa seperti berada di suatu tempat yang sama dengan program yang ditayangkan video. Seperti yang diketahui bahwa tingkat retensi (daya serap dan daya ingat) siswa terhadap materi pelajaran dapat meningkat secara signifikan jika proses pemerolehan informasi awalnya lebih besar melalui indera pendengaran dan penglihatan. Peningkatan pemahaman konsep sifat-sifat cahaya siswa kelas V SD Negeri Bangsalan 1 dapat dilihat dari nilai hasil evaluasi dan ketuntasan klasikal siswa yang telah meningkat dan melebihi indikator kinerja penelitian yang telah ditentukan.
Hasil penelitian ini didukung pula oleh penelitian relevan yang dilaksanakan oleh Muhammad Faisal Arba’in, Wahyu Kurniawati, dan Saddam Styawan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Faisal Arba’in, menggunakan model pembelajaran Two-Stay Two-Stray Berbasis Eksperimen untuk meningkatkan pemahaman konsep sifat-sifat cahaya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Kurniawati, menggunakan penelitian eksperimen dengan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) untuk menguji perbedaan hasil belajar IPA. Dalam penelitian Saddam Styawan menggunakan media video untuk meningkatkan pemahaman konsep peristiwa alam.
Berdasarkan hasil pada penelitian yang dilakukan Muhammad Faisal
Arba’in dilaksanakan tiga siklus dengan ketuntasan pratindakan sebesar 41,94%.
Setelah adanya tindakan pada siklus I terjadi peningkatan menjadi 61,29%, siklus II mencapai 83,87%, dan siklus III mencapai 93,55%. Pada penelitian Saddam Styawan, ketuntasan klasikal pratindakan sebesar 44,83%, kemudian meningkat menjadi 75,86% pada siklus I dan 86,21% pada siklus kedua. Dari kedua penelitian relevan yang disebutkan di atas merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sedangkan pada penelitian Wahyu Kurniawati merupakan penelitian eksperimen.
Hasil penelitian Wahyu Kurniawati menunjukkan bahwa pada uji beda rata-rata nilai post-test, rata-rata kelas eksperimen adalah 88,28 dan kelas kontrol adalah 75,89. Selisih rata-rata kedua kelas > 5. Pada pengujian dilakukan dengan Independent Samples T-test yang menunjukkan nilai sig adalah 0,000 yang artinya perbedaan rata-rata nilai kedua kelompok signifikan, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran VAK berpengaruh terhadap hasil belajar IPA kelas IV SD Kristen Satya Wacana semester II tahun ajaran 2012/2013.
Pelaksanaan tindakan tidak luput dari suatu hambatan atau kendala. Selama pelaksanaan penelitian ditemukan beberapa kendala yang terjadi, yaitu ketika di awal pelaksanaan siklus I kinerja guru dalam penggunaan media video masih agak kurang. Meskipun guru sudah mengenal adanya media video, namun beliau masih kesulitan dalam penggunaannya karena sebelum adanya tindakan ini belum pernah menggunakan media tersebut. Selain itu, dari segi siswa dalam kegiatan praktikum masih kurang baik dalam pengelolaan waktu. Hal ini terjadi karena siswa belum pernah melaksanakan praktikum sebelumnya jadi masih merasa kesulitan dan butuh bimbingan yang lebih. Perumusan simpulan hasil kerja praktikum siswa hanya mengambil dari tujuan praktikum yang telah tertera dalam lembar kerja siswa saja tanpa mengembangkan sesuai dengan hasil praktikum. Hal ini menyebabkan dalam penarikan kesimpulan masih kurang tepat. Kendala yang terjadi pada siklus I ini dianalisis dan kemudian dilakukan refleksi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran pada siklus II sehingga hasilnya dapat meningkat menjadi lebih baik.
Meskipun indikator kinerja telah tercapai, akan tetapi masih terdapat 2 siswa yang berjenis kelamin perempuan atau 10,57% yang belum mencapai ketuntasan (KKM). Hal tersebut dikarenakan sebagai berikut: siswa dengan nomor