70 BAB IV
HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Data Pratindakan
Pada pelaksanaan penelitian, sebelum dilaksanakan tindakan, terlebih dahulu peneliti melaksanakan kegiatan wawancara awal dengan tujuan mengetahui kondisi awal pembelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya. Kondisi awal ini dijadikan peneliti sebagai acuan untuk menentukan tindakan apa saja yang akan dilakukan pada pembelajaran dalam siklus I.
Kegiatan wawancara awal ditujukan pada guru dan siswa kelas V SD Negeri Bangsalan 1 Boyolali, tahun ajaran 2015/2016 (lampiran 3 halaman 154). Berdasarkan hasil wawancara yang dilaksanakan pada tanggal 24 November 2015 diperoleh informasi mengenai proses pembelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya pada kelas V SD Negeri Bangsalan 1 tergolong masih rendah.
Rendahnya pemahaman konsep sifat-sifat cahaya disebabkan karena metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran masih konvensional dan terlalu banyak ceramah, selain itu penggunaan media juga belum dimaksimalkan.
Uji coba pratindakan dilaksanakan pada hari Rabu, 2 Desember 2015.
Dalam uji pratindakan ini, siswa diminta untuk mengerjakan tes berupa soal mengenai sifat-sifat cahaya. Hasil tes materi sifat-sifat cahaya yang peneliti dapat tunjukkan bahwa pemahaman konsep sifat-sifat cahaya pada kelas V masih rendah dan masih banyak siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM yaitu ≥65. Berdasarkan hasil uji pratindakan ini, hanya sejumlah 26,32% dari 19 siswa yaitu 5 siswa yang memperoleh nilai di atas 65, sedangkan 14 siswa lainnya (73,68%) memperoleh nilai di bawah 65. Hasil penilaian pratindakan secara detail dapat dilihat pada lampiran 9 halaman 166. Selanjutnya data penilaian pratindakan dapat disajikan ke dalam Tabel 4.1 di bawah ini:
Tabel 4.1.Distribusi Frekuensi Nilai Pemahaman Konsep Sifat-sifat Cahaya Pratindakan
No Interval Frekuensi (𝑓𝑖)
Nilai Tengah (𝑥𝑖)
𝑓𝑖. 𝑥𝑖 Persentase Relatif Kumulatif
1. 40 – 46 3 44 129 15,79% 15,79%
2. 47 – 53 4 50 200 21,05% 36,84%
3. 54 – 60 6 57 342 31,58% 68,42%
4. 61 – 67 2 64 128 10,53% 78,95%
5. 68 – 74 4 71 284 21,05% 100%
Jumlah 19 285 1083 100%
Rata-rata 56,95
Ketuntasan Klasikal (5 : 19) x 100% = 26,32%
Nilai Terendah 40
Nilai Tertinggi 74
Berdasarkan Tabel 4.1 nilai pemahaman konsep sifat-sifat cahaya sebelum menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video pada siswa kelasV SD Negeri Bangsalan 1, Teras, Boyolali tahun ajaran 2015/2016 dapat disajikan dalam bentuk Gambar 4.1 sebagai berikut:
Gambar 4.1.Grafik Histogram Nilai Pemahaman Konsep Sifat-sifat Cahaya pada Uji Pratindakan
3
4
6
2
4
0 1 2 3 4 5 6 7
40-46 47-53 54-60 61-67 68-74
FREKUENSI
INTERVAL NILAI
Berdasarkan Tabel 4.1 dan Gambar 4.1, nilai pemahaman konsep sifat- sifat cahaya pada pembelajaran IPA siswa kelas V SD N Bangsalan 1, Teras, Boyolali tahun ajaran 2015/2016 sebelum menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 57,26. Siswa dengan frekuensi tertinggi memperoleh nilai dalam interval antara 54-60 sejumlah 6 siswa atau 31,58%. Siswa yang memperoleh nilai dalam interval antara 47-53 sejumlah 4 siswa atau 21,05%.
Siswa yang memperoleh nilai dalam interval antara 68-74 sejumlah 4 siswa atau 21,05%. Siswa yang memperoleh nilai dalam interval antara 40-46 sejumlah 3 siswa atau 15,79%. Selanjutnya siswa dengan frekuensi terendah memperoleh nilai dalam interval 61-67 sejumlah 2 siswa atau 10,53%. Nilai terendah pada pratindakan adalah 40 dan nilai tertinggi adalah 74.
Berdasarkan Tabel 4.1 siswa yang memperoleh nilai di bawah 65 atau di bawah KKM sebanyak 14 siswa atau 73,68%, sedangkan siswa yang memperoleh nilai sama atau di atas KKM sebanyak 5 siswa atau 26,32%. Hal ini dapat diartikan bahwa ketuntasan klasikal sebesar 26,32% masih jauh di bawah ketuntasan belajar yang ditetapkan yaitu sebesar 85% siswa memperoleh nilai ≥65 (KKM), sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai pemahaman konsep sifat-sifat cahaya pada siswa kelas V SD Negeri Bangsalan 1, Teras, Boyolali tahun ajaran 2015/2016 masih rendah dengan rata-rata kelas sebesar 56,26.
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui nilai terendah, nilai tertinggi, nilai rata-rata kelas, dan ketuntasan klasikal kelas V SD Negeri Bangsalan 1 Boyolali pada saat pratindakan. Data tersebut disajikan dalam Tabel 4.2.
sebagai berikut.
Tabel 4.2.Nilai Terendah, Nilai Tertinggi, Nilai Rata-rata, dan Ketuntasan Klasikal Pratindakan
No Keterangan Pratindakan
1. Nilai Terendah 40
2. Nilai Tertinggi 74
3. Nilai Rata-rata 56,26
4. Ketuntasan Klasikal (%) 26,32%
Untuk memperjelas dari nilai terendah, nilai tertinggi, nilai rata-rata, dan ketuntasan klasikal pada saat pratindakan, disajikan grafik pada Gambar 4.2 berikut ini.
Gambar 4.2.Grafik Histogram Nilai Terendah, Nilai Tertinggi, Nilai Rata- rata, Ketuntasan Klasikal Pratindakan
Berdasarkan rincian data tersebut menunjukkan bahwa hasil nilai pemahaman konsep sifat-sifat cahaya masih rendah sehingga diperlukan suatu inovasi pembelajaran berupa penggunaan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dan mampu mengatasi penyebab rendahnya pemahaman konsep sifat-sifat cahaya siswa tersebut. Adapun penyebab rendahnya pemahaman konsep sifat-sifat cahaya apabila dilihat dari proses pembelajaran yang berlangsung selama ini adalah sebagai berikut:
a. Metode yang digunakan dalam pembelajaran masih konvensional dan terlalu banyak ceramah
b. Penggunaan media yang belum dimaksimalkan, guru hanya menjelaskan materi dengan media gambar seperti yang ada di buku pegangan siswa saja tanpa melibatkan siswa dalam sebuah praktik langsung
c. Siswa terlihat kurang aktif dan cenderung bersikap pasif.
40
74
52,26
26,32
0 10 20 30 40 50 60 70 80
Nilai Terendah Nilai Tertinggi Nilai Rata-rata Ketuntasan Klasikal (%)
Hal tersebut menjadi refleksi bagi peneliti yang ingin mengoptimalkan pembelajaran IPA pada siswa terutama mengenai pemahaman konsep sifat-sifat cahaya. Berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan, peneliti mengadakan koordinasi dengan kepala sekolah dan guru kelas V SD Negeri Bangsalan 1, Teras, Boyolali untuk menemukan alternatif pemecahan masalah guna meningkatkan pemahaman konsep sifat-sifat cahaya pada siswa kelas V SD Negeri Bangsalan 1, Teras, Boyolali tahun ajaran 2015/2016. Alternatif pemecahan masalah tersebut adalah adanya suatu inovasi pembelajaran yaitu dengan memberikan pengalaman langsung pada siswa dalam pembelajaran IPA.
Pada saat kegiatan diskusi ketika wawancara antara peneliti dan guru, peneliti menawarkan penggunaan media video dan dilanjutkan dengan adanya kegiatan praktikum/eksperimen. Penggunaan media video akan membuat pembelajaran lebih menarik sehingga siswa akan lebih memperhatikan karena adanya kombinasi antara efek visual dan audio yang ditampilkan dalam video tersebut. Dalam hal pemberian pengalaman langsung kepada siswa, setelah kegiatan pengamatan video akan dilanjutkan kegiatan praktikum siswa.
Kegiatan praktikum dilaksanakan untuk membuktikan sifat-sifat cahaya yang telah dibahas dalam video yang telah ditampilkan. Guru juga masih bisa memilih metode yang akan digunakan untuk menunjang pembelajaran agar lebih efektif. Sesuai dengan langkah pembelajaran tersebut, maka guru dapat menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video.
2. Hasil Tindakan Siklus 1
Siklus I dalam penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dua kali pertemuan dengan masing-masing pertemuan melalui empat tahapan, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pengamatan, dan tahap refleksi.
Setiap pertemuan terdiri dari 2 jam pelajaran (2 x 35 menit). Siklus I dilaksanakan pada hari Selasa, 12 April 2016 (Pertemuan 1) dan Rabu, 13 April 2016 (Pertemuan 2). Berikut tahap-tahapan pada siklus I yang telah peneliti laksanakan:
a. Tahap Perencanaan
Berdasarkan hasil pratindakan ditemukan adanya permasalahan dalam pemahaman konsep sifat-sifat cahaya, khususnya dalam penerapan model pembelajaran yang kurang efektif. Peneliti merencanakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video. Penerapan model pembelajaran tersebut direncanakan dalam kegiatan siklus dengan rincian sebagai berikut:
1) Menyusun silabus (dapat dilihat pada lampiran 10 halaman 167) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) IPA berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) 6.1. Mendeskripsikan sifat-sifat cahaya dengan pokok bahasan sifat-sifat cahaya menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video dengan alokasi waktu 2x35 menit setiap pertemuan. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusun meliputi: standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, dampak pengiring, model dan metode pembelajaran, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, sumber dan media pembelajaran, serta penilaian.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran siklus I terdiri dari pertemuan I (lampiran 11 halaman 166) dan pertemuan II (lampiran 12 halaman 195).
2) Mempersiapkan media, fasilitas, dan sarana pendukung
a) Ruang kelas didesain secara klasikal, tetapi saat diskusi kelompok, meja dan kursi disusun untuk berkelompok untuk mempermudah siswa berdiskusi dengan anggota kelompoknya.
b) Mempersiapkan meja, media LCD proyektor, laptop, dan speaker aktif.
c) Mempersiapkan video pembelajaran tentang sifat-sifat cahaya.
d) Mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pertemuan pertama pembuktian sifat cahaya merambat lurus, cahaya dapat dipantulkan, dan dalam praktikum pertemuan kedua
pembuktian sifat cahaya menembus benda bening, cahaya dapat dibiaskan, dan cahaya dapat diuraikan.
3) Menyusun bahan ajar mengenai materi sifat-sifat cahaya (dapat dilihat pada lampiran 49 halaman 348).
4) Menyusun lembar kerja siswa (LKS), lembar evaluasi, lembar observasi.
a) Lembar kerja siswa digunakan untuk berdiskusi dalam kelompok.
b) Lembar evaluasi digunakan sebagai instrumen penilaian untuk mengukur tingkat pemahaman siswa selama pembelajaran.
c) Lembar pengamatan digunakan untuk mendokumentasikan proses pembelajaran pemahaman konsep sifat-sifat cahaya melalui lembar observasi aktivitas siswa dan lembar observasi kinerja guru.
b. Tahap Pelaksanaan Siklus I 1) Siklus I Pertemuan Pertama
Siklus I pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 12 April 2016 pukul 07.30-08.40 WIB. Pembelajaran dilaksanakan di ruang kelas V SD Negeri Bangsalan 1. Pada pertemuan ini, guru menyampaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video yang ditekankan pada konsep sifat cahaya merambat lurus dan cahaya dapat dipantulkan. Adapun langkah-langkah pembelajarannya mencakup kegiatan berikut:
a) Kegiatan Awal
Pada kegiatan awal, guru membuka pembelajaran dengan menyampaikan salam. Guru menyiapkan siswa secara fisik dan psikis untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dengan berdoa bersama, Kemudian guru memeriksa presensi/kehadiran siswa dan mengondisikan siswa. Guru juga memberikan motivasi dan apersepsi untuk membangun konsentrasi dan membuka pengetahuan awal siswa. Setelah itu, guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
b) Kegiatan Inti
Kegiatan inti terbagi dalam 3 tahapan yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Kegiatan ini dilakukan menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video dan dengan menggunakan metode pengamatan, ceramah bervariasi, tanya jawab, praktikum, diskusi, dan penugasan.
(1) Eksplorasi
Kegiatan pembelajaran dimulai dengan guru menyajikan video pembelajaran tentang sifat-sifat cahaya melalui LCD proyektor yang kemudian ditekankan pada sifat cahaya merambat lurus dan cahaya dapat dipantulkan. Setelah siswa melakukan pengamatan video, guru bersama siswa melakukan tanya jawab tentang materi yang telah diuraikan dalam video pembelajaran. Guru membimbing siswa memasuki kegiatan praktikum dengan membentuk kelompok diskusi sebanyak empat kelompok. Siswa melakukan eksperimen/praktikum dengan menggunakan LKS yang berisi prosedur pelaksanaan praktikum dan soal mengenai sifat cahaya merambat lurus dan cahaya dapat dipantulkan menggunakan alat dan bahan yang sudah dipersiapkan kemudian hasilnya didiskusikan dengan anggota kelompoknya. Pada pertemuan pertama ini siswa melaksanakan praktikum pertama untuk membuktikan sifat cahaya merambat lurus dengan menggunakan tiga kertas yang dilubangi tengahnya dan disusun sejajar, kemudian disinari cahaya senter pada lubang tersebut pada garis lurus. Praktikum kedua untuk membuktikan sifat cahaya dapat dipantulkan dengan menggunakan permukaan dalam dan luar sendok sebagai cermin cembung dan cermin cekung, sedangkan untuk cermin datar menggunakan cermin rias yang ada di kelas.
(2) Elaborasi
Pada kegiatan ini, siswa berdiskusi untuk mengerjakan soal di LKS yang telah dilakukan percobaannya pada tahap eksplorasi. Setelah selesai diskusi dan melakukan percobaan, perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi.
Kelompok dengan hasil terbaik mendapat penghargaan dari guru, dan yang kurang baik disempurnakan hasil diskusinya dengan adanya pemantapan hasil diskusi.
(3) Konfirmasi
Tahap ini merupakan tahap pemantapan konsep. Dari berbagai hasil yang diperoleh masing-masing kelompok, kemudian guru bersama siswa memberikan simpulan keseluruhan hasil diskusi. Selanjutnya siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang belum dipahami. Guru memantapkan hasil pembelajaran dengan pemberian penguatan dan motivasi untuk belajar lebih giat.
c) Kegiatan Akhir
Pada tahap akhir siswa dibimbing guru bersama-sama menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajari. Guru memantapkan pemahaman siswa dengan pemberian penguatan dan motivasi untuk belajar lebih giat. Selanjutnya siswa mengerjakan tes tertulis berupa soal evaluasi untuk mengukur pemahaman konsep sifat cahaya merambat lurus dan cahaya dapat dipantulkan.
Pembelajaran diakhiri dengan salam penutup.
2) Siklus I Pertemuan Kedua
Siklus I pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Rabu, 13 April 2016. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada pukul 07.30-08.40 WIB. Pembelajaran pertemuan kedua dilaksanakan sesuai dengan RPP siklus I pertemuan kedua dengan menyampaikan materi pembelajaran sifat cahaya menembus benda bening, cahaya dapat dibiaskan, dan cahaya dapat diuraikan. Pembelajaran dilaksanakan di dalam dan di luar
ruang kelas V SD Negeri Bangsalan 1. Adapun langkah-langkah pembelajarannya mencakup kegiatan sebagai berikut:
a) Kegiatan Awal
Pada kegiatan awal, guru membuka pembelajaran dengan menyampaikan salam. Guru menyiapkan siswa secara fisik dan psikis untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dengan berdoa bersama, Kemudian guru mengecek presensi/kehadiran siswa dan mengondisikan siswa. Guru juga memberikan motivasi dan apersepsi kepada siswa, apersepsi bertujuan untuk memusatkan perhatian dan rasa ingin tahu siswa tentang sifat-sifat cahaya.
Apersepsi yang dilakukan yaitu dengan bertanya “Apakah kalian bisa melihat pohon yang berada di luar rungan melalui kaca jendela?”. Setelah itu, guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
b) Kegiatan Inti
Kegiatan inti terbagi dalam 3 tahapan yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Kegiatan ini dilakukan menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video dan dengan menggunakan metode pengamatan, ceramah bervariasi, tanya jawab, praktikum, diskusi, dan penugasan.
(1) Eksplorasi
Kegiatan pembelajaran dimulai dengan guru menampilkan video pembelajaran tentang sifat-sifat cahaya melalui LCD proyektor yang kemudian ditekankan pada sifat cahaya menembus benda bening, cahaya dapat dibiaskan, dan cahaya dapat diuraikan. Setelah siswa melakukan pengamatan video, guru bersama siswa melakukan tanya jawab tentang materi yang telah dijelakskan dalam video pembelajaran. Guru membimbing siswa memasuki kegiatan praktikum dengan membentuk kelompok diskusi sebanyak empat kelompok. Siswa
melakukan eksperimen/praktikum dengan menggunakan LKS yang berisi prosedur pelaksanaan praktikum dan soal mengenai sifat cahaya menembus benda bening, cahaya dapat dibiaskan, dan cahaya dapat diuraikan.menggunakan alat dan bahan yang sudah dipersiapkan kemudian hasilnya didiskusikan dengan anggota kelompoknya. Pada pertemuan kedua ini siswa melaksanakan praktikum pertama untuk membuktikan sifat cahaya menembus benda bening dengan menggunakan beberapa benda yang telah disiapkan, kemudian disinari cahaya senter pada benda tersebut supaya bias mengetahui benda yang dapat ditembus cahaya dan yang tidak dapat ditembus cahaya.
Praktikum kedua untuk membuktikan sifat cahaya dapat dibiaskan dengan menggunakan pensil yang dimasukkan ke dalam gelas berisi air. Pada praktikum ketiga untuk membuktikan sifat cahaya dapat diuraikan dengan menggunakan cermin yang dimasukkan ke dalam air dan diletakkan di bawah sinar matahari.
(2) Elaborasi
Pada kegiatan ini, siswa berdiskusi untuk mengerjakan soal di LKS yang telah dilakukan percobaannya pada tahap eksplorasi. Setelah selesai diskusi, perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi. Kelompok dengan hasil terbaik mendapat penghargaan dari guru, dan yang kurang baik disempurnakan hasil diskusinya dengan adanya pemantapan hasil diskusi.
(3) Konfirmasi
Tahap ini merupakan tahap pemantapan konsep. Dari berbagai hasil yang diperoleh masing-masing kelompok, kemudian guru memberikan simpulan keseluruhan hasil diskusi.
Selanjutnya siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang belum diketahui. Guru memantapkan hasil pembelajaran
dengan pemberian penguatan dan motivasi untuk belajar lebih giat.
d) Kegiatan Akhir
Pada tahap akhir siswa dibimbing guru bersama-sama menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajari. Guru memantapkan pemahaman siswa dengan pemberian penguatan dan motivasi untuk belajar lebih giat. Selanjutnya siswa mengerjakan tes tertulis berupa soal evaluasi untuk mengukur pemahaman konsep sifat cahaya menembus benda bening, cahaya dapat dibiaskan, dan cahaya dapat diuraikan. Pembelajaran diakhiri dengan salam penutup.
c. Tahap Observasi
Pada tahap observasi peneliti mengadakan kolaborasi dengan guru kelas V dalam melaksanakan pemantauan terhadap pelaksanaan proses pembelajaran IPA konsep sifat-sifat cahaya dengan menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video pada siswa kelas V SD Negeri Bangsalan 1, Teras, Boyolali tahun ajaran 2015/2016. Pelaksanaan observasi menggunakan lembar observasi dan dokumentasi dengan kamera digital. Lembar observasi berupa lembar observasi kinerja guru dalam proses pembelajaran dan aktivitas siswa selama pembelajaran. Observasi dilakukan untuk memperoleh data mengenai kesesuaian pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun serta untuk mengetahui seberapa besar pembelajaran IPA yang dilaksanakan dapat meningkatkan pemahaman konsep sifat-sifat cahaya.
Berdasarkan hasil pengamatan selama proses siklus I pada pertemuan 1 dan 2, diperoleh hasil dan gambaran tentang aktivitas siswa dan kinerja guru dalam pembelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya dengan menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video adalah sebagai berikut:
1) Hasil Observasi Kinerja Guru pada Siklus I
Kinerja guru diamati dengan menggunakan lembar observasi kinerja guru (lampiran 15 halaman 265). Hasil pengamatan terhadap kegitan pelaksanaan pembelajaran oleh guru pada siklus I pertemuan 1 dapat dilihat pada lampiran 19 halaman 289 dan pada pertemuan 2 dapat dilihat pada lampiran 20 halaman 292. Pada awal pembelajaran guru telah mempersiapkan kelas, mengondisikan siswa, dan membuka pembelajaran dengan baik. Namun, ketika penyampaian apersepsi dan pengaitan apersepsi dengan materi pembelajaran terlihat masih kaku.
Dalam hal penguasaan materi, guru sudah menguasai materi dengan baik dan sudah mengaitkan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Keluasan cakupan materi dan cara penyampaiannya cukup jelas. Namun, terjadi sedikit kendala teknis yaitu saat penayangan video pembelajaran. LCD Proyektor, sound system, dan laptop diletakkan di depan kelas dekat dengan meja guru. Sumber arus listrik yang cukup jauh dengan meja guru menjadikan posisi layar yang akan digunakan tidak dimungkinkan untuk dipasang di posisi tengah karena posisi layar menyesuaikan LCD Proyektor. Pemutaran isi video tidak begitu bermasalah karena adanya kolaborasi antara guru dengan peneliti, hanya saja guru masih agak canggung ketika mengoperasikan laptop dalam penayangan video.
Pada penerapan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video sudah cukup baik karena telah memperhatikan ketiga gaya belajar siswa, yaitu visual, auditory, dan kinesthetic. Hal itu terlihat ketika penayangan media video sebagai penunjang dalam proses pembelajaran yang mencerminkan gaya belajar visual dan auditory, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan praktikum sebagai wujud dari gaya belajar kinesthetic. Selama kegiatan praktikum guru sudah membimbing siswa dangan baik. Kelompok yang dibentuk terdiri dari 4 kelompok dengan masing-masing anggota 4-5 siswa. Pada siklus satu pertemuan pertama pembentukan kelompok masih sedikit
terdapat kendala dengan ramainya siswa, namun pada pertemuan kedua sudah mulai bisa dikendalikan oleh guru meskipun pelaksanaanya masih sedikit terjadi kegaduhan. Setelah kegiatan diskusi siswa dibimbing untuk mempresentasikan hasil diskusi Pada saat presentasi semua perwakilan kelompok diberi kesempatan mempresentasikan hasil diskusi Hal ini menjadikan manajemen waktu pada pertemuan pertama siklus I termasuk kurang baik. Proses penarikan kesimpulan juga sudah melibatkan siswa.
Berdasarkan hasil observasi di atas, skor akhir proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan menerapkan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video mencapai angka 2,69. Untuk lebih jelasnya berikut rekapitulasi hasil pengamatan kinerja guru dalam pembelajaran IPA siklus I (lampiran 23 halaman 301) dapat dilihat pada Tabel 4.3. sebagai berikut:
Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Observasi Kinerja Guru pada Siklus I
No Indikator Pertemuan Rata-
Rata Ket.
I II
1 Pra pembelajaran 2,7 2,7 2,7 Baik
2 Membuka Pembelajaran 2 3 2,5 Baik
3 Penguasaan Materi
Pembelajaran 2,5 3 2,75 Baik
4 Pendekatan/strategi
pembelajaran 2,7 3,8 2,75 Baik
5 Pemanfaatan media
pembelajaran 2,7 3,1 2,9 Baik
6
Pengaruh model
pembelajaran VAK berbasis media video
2,7 3 2,85 Baik
7 Penilaian proses dan hasil
belajar 2,5 3 2,75 Baik
8 Penggunaan bahasa 2,5 2,5 2,5 Baik
9 Penutup 2,5 3 2,75 Baik
Rata-rata 2,53 2,9 2,71 Baik
Berdasarkan hasil observasi kinerja guru mengajar pada siklus I yang terlihat pada Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa pada pertemuan I rata- rata hasil observasi kinerja guru mencapai 2,53 dengan interpretasi B (baik) dan pada pertemuan II rata-rata hasil kinerja guru mencapai 2,9 dengan interpretasi B (baik). Hasil rata-rata pada pertemuan I dan II adalah 2,71 dengan interpretasi B (baik) namun tetap diperlukan adanya perbaikan kinerja pada siklus II.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dalam Gambar 4.3 sebagai berikut:
Gambar 4.3.Grafik Histogram Observasi Kinerja Guru pada Siklus I
Berdasarkan pada Tabel 4.3 dan Gambar 4.3 dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil observasi kinerja guru mengajar pada siklus I termasuk dalam kategori baik. Pada pertemuan satu ke pertemuan dua terjadi peningkatan rata-rata sebesar 0,37. Pencapaian ini sudah cukup baik karena guru tentu belum terbiasa dengan media yang baru digunakan yaitu media video. Mengingat sebelumnya belum menggunakan media yang mendukung. Selain itu, sebelum adanya tindakan guru jarang mengajak siswa dalam kegiatan praktikum sehingga pada pelaksanaan tindakan siklus I ini sudah cukup baik.
2,53
2,9
2,71
2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 2.9 3.0
Pertemuan 1 Pertemuan 2 Rata-Rata
3,0 2,9 2,8 2,7 2,6
2,4 2,5
2,3
2) Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada Siklus I
Observasi aktivitas siswa pada siklus I dilakukan sebanyak dua kali. Aktivitas siswa diamati dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa (lampiran 17 halaman 279). Pengamatan dilakukan selama kegiatan pembelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya dengan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video.
Hasil observasi aktivitas siswa pada pertemuan I (lampiran 25 halaman 303) dan pertemuan II (lampiran 26 halaman 306) diolah dan disajikan ke dalam tabel rata-rata nilai aktivitas siswa siklus I seperti pada Tabel 4.4. Untuk lebih jelasnya berikut rekapitulasi hasil pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA siklus I (lampiran 29 halaman 315) dapat dilihat pada Tabel 4.4. sebagai berikut:
Tabel 4.4. Rekapitulasi Nilai Aktivitas Siswa pada Siklus I
No Indikator Pertemuan Rata-
Rata Ket.
I II
1 Keterlibatan dan
kedisiplinan 2,5 3 2,75 B
2 Kesiapan mengikuti
pembelajaran 3 3 3 B
3
Kemampuan mengikuti model pembelajaran VAK berbasis media video
2,4 3 2,7 B
4 Keaktifan dan
Keantusiasan 2,3 2,3 2,3 B
5 Kemampuan mengerjakan
soal evaluasi 2,7 2,7 2,7 B
Rata-rata 2,58 2,8 2,69 B
Keterangan: SB = Sangat Baik, B= Baik, C= Cukup, K= Kurang
Berdasarkan hasil rekapitulasi nilai aktivitas siswa siklus I pada Tabel 4.4 dapat disimpulkan bahwa pada pertemuan I siklus I rata-rata aktivitas siswa sebesar 2,58 dan pada pertemuan II siklus I meningkat
menjadi 2,8 dengan rata-rata aktivitas siswa secara klasikal sebesar 2,69 dan termasuk kategori B (Baik). Peningkatan yang terjadi pada pertemuan satu ke pertemuan dua sebesar 0,22, meskipun peningkatannya belum terlalu signifikan namun aktivitas siswa sudah meningkat menjadi lebih baik. Pada Tabel 4.4 dapat disajikan dalam bentuk Gambar 4.4 sebagai berikut.
Gambar 4.4.Grafik Histogram Nilai Aktivitas Siswa pada Siklus I
Berdasarkan hasil pengamatan keterlibatan dan kedisiplinan siswa dalam mengikuti pembelajaran sudah baik, terlihat ketika siswa menjawab salam, berdoa bersama, serta bersikap sopan terhadap gurunya. Kesiapan siswa dalam pembelajaran juga sudah baik karena mereka sudah menyiapkan perlengkapan belajar, memperhatikan, serta antusias mengikuti pembelajaran dengan kondusif. Keaktifan dan keantusiasan siswa terlihat jelas pada kegiatan eksplorasi ketika mereka memperhatikan tayangan video dan kemudian melakukan kegiatan praktikum secara berkelompok.
Kemampuan siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video tergolong baik. Ketika ditayangkan video, siswa
2,58
2,8
2,69
2.45 2.5 2.55 2.6 2.65 2.7 2.75 2.8 2.85
Pertemuan 1 Pertemuan 2 Rata-Rata 2,85
2,8 2,75 2,7 2,65 2,6 2,55 2,5 2,45
merasa tertarik dan antusias memperhatikan. Namun, ketika pembagian kelompok pada kegiatan praktikum suasana menjadi sedikit gaduh karena mereka belum terbiasa dengan kelompok praktikum. Meskipun demikian, pelaksanaan kegiatan praktikum sudah berjalan dengan baik walaupun ada beberapa kelompok yang melakukan percobaan kurang sesuai dengan prosedur. Dalam kegiatan praktikum siswa bekerjasama dengan baik dalam kelompoknya. Kendala yang terjadi adalah waktu yang digunakan sedikit melebihi batas karena siswa belum terbiasa dengan kegiatan praktikum.
Pada kegiatan diskusi beberapa kelompok sudah mendapat hasil data dengan benar meskipun banyak juga siswa yang belum bisa menyusun simpulan hasil percobaan dengan benar. Setelah diskusi beberapa perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi di muka kelas. Sedangkan dalam hal kemampuan siswa dalam mengerjakan soal evaluasi juga sudah baik terlihat dari kesungguhan siswa ketika mengerjakan. Selanjutnya kekurangan pada siklus I berupa kurangnya kesadaran siswa dalam mencatat materi dan kesimpulan dalam pembelajaran akan diperbaiki pada siklus II.
3) Hasil Observasi Ranah Afektif
Dalam ranah afektif, aspek yang diamati difokuskan pada rasa ingin tahu siswa. Pada aspek rasa ingin tahu siswa terdiri dari 4 indikator, yaitu antusias mencari jawaban, perhatian pada objek yang diamati, antusias pada proses sains, dan menanyakan setiap langkah kegiatan. Berdasarkan data hasil observasi ranah afektif pada siklus I (lampiran 31 halaman 319) pertemuan 1 dan pertemuan 2, nilai afektif siswa berada pada kategori baik dengan rata-rata nilai 2,78. Perhatian siswa dalam mengikuti pembelajaran sudah baik yang dibuktikan melalui pengamatan video pembelajaran dan pengamatan dalam kegiatan praktikum, meskipun ada beberapa siswa yang masih sibuk bermain sendiri. Siswa kurang aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran, hanya beberapa dari siswa yang mengajukan pertanyan mengenai
langkah-langkah kegiatan sehingga beberapa siswa ada yang mengabaikan prosedur dalam praktikum. Antusias siswa dalam proses sains terlihat sudah terlihat baik ketika siswa melaksanakan kegiatan praktikum. Sedangkan pada indikator antusias mencari jawaban, terlihat sudah baik ketika siswa sedang melakukan diskusi hasil percobaan.
Hasil nilai afektif siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut ini.
Tabel 4.5. Nilai Afektif Siswa Siklus I
No Aspek yang Diamati Pertemuan Rata-
Rata Ket.
I II
1 Antusias mencari
jawaban 2,74 2,95 2,84 B
2 Perhatian pada objek
yang diamati 2,79 2,84 2,81 B
3 Antusias pada proses
sains 2,68 2,79 2,73 B
4 Menanyakan langkah
kegiatan 2,58 2,84 2,71 B
Rata-Rata 2,70 2,86 2,78 B
Berdasarkan Tabel 4.5. nilai afektif siswa pada siklus I di atas, maka dapat disajikan dalam bentuk grafik nilai afektif siklus I pada Gambar 4.5 berikut:
Gambar 4.5.Grafik Histogram Nilai Afektif Siswa Siklus I 2,7
2,86
2,78
2.6 2.65 2.7 2.75 2.8 2.85 2.9
Pertemuan 1 Pertemuan 2 Rata-Rata 2,9
2,85 2,8 2,75 2,7 2,65 2,6
Berdasarkan Tabel 4.5 dan grafik yang dipaparkan pada Gambar 4.5, terlihat bahwa terjadi peningkatan pada pertemuan 2 siklus I. Pada pertemuan satu diperoleh skor rata-rata sebesar 2,7 dan pada pertemuan dua diperoleh skor 2.86. Peningkatan yang terjadi pada siklus I adalah sebesar 0,16. Dari data nilai yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa nilai afektif siswa siklus I berada pada kategori baik
4) Hasil Observasi Ranah Psikomotor
Dalam ranah psikomotor, kegiatan yang diamati adaah ketika melaksanakan praktikum pembuktian sifat-sifat cahaya. Aspek yang diamati adalah proses dan hasil kegiatan praktikum, yang terdiri dari aspek pelaksanaan praktikum yang sesuai prosedur, aspek penggunaan alat dan bahan dengan tepat, dan aspek penyusunan hasil data yang diperoleh. Berdasarkan hasil observasi siswa pada siklus I (dapat dilihat dalam lampiran 35 halaman 323) dari pertemuan I dan pertemuan II, nilai psikomotor siswa termasuk dalam kategori baik. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme siswa ketika melaksanakan percobaan, meskipun beberapa siswa masih ada yang suka bermain-main sendiri dan tidak memperhatian arahan guru. Akibatnya, terdapat kelompok yang melaksanakan praktikum tanpa mengikuti prosedur yang telah ditentukan. Beberapa siswa belum menuliskan simpulan hasil praktikum dengan benar. Hasil nilai psikomotor siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.6 di bawah ini:
Tabel 4.6. Nilai Psikomotor Siswa Siklus I
No Aspek yang Diamati Pertemuan Rata-
Rata Ket.
I II
1 Kesesuaian prosedur 2,53 3 2,76 B
2 Penggunaan alat dan
bahan 2,79 3,05 2,92 B
3 Ketepatan hasil data 2,79 2,95 2,87 B
Rata-rata 2,71 3 2,85 B
Berdasarkan Tabel 4.6 nilai psikomotor siswa siklus I di atas, maka dapat disajikan dalam bentuk grafik nilai psikomotor siswa pada Gambar 4.5 sebagai berikut:
Gambar 4.6.Grafik Histogram Nilai Psikomotor Siswa Siklus I
Berdasarkan Tabel 4.6 dan grafik yang dipaparkan pada Gambar 4.6, terlihat bahwa diperoleh nilai rata-rata pada siklus I sebesar 2,85 dan terjadi peningkatan pada pertemuan 2 siklus I. Pada pertemuan pertama diperoleh nilai sebesar 2,7 dan pada pertemuan kedua diperoleh nilai sebesar 3. Peningkatan yang terjadi dari nilai pertemuan satu ke nilai pertemuan dua adalah sebesar 0,3. Dari data nilai yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa nilai pada ranah psikomotor siswa siklus I berada pada kategori baik.
5) Pencapaian Kompetensi Siswa dalam Ranah Kognitif
Nilai pemahaman konsep sifat-sifat cahaya diperoleh setelah pemberian tes evaluasi kepada siswa kelas V setiap pertemuan. Pada siklus I pertemuan 1 tes evaluasi mengenai materi sifat cahaya merambat lurus dan cahaya dapat dipantulkan diperoleh rata-rata nilai pemahaman konsep sifat-sifat cahaya yaitu 66,37. Perolehan nilai keseluruhan siswa pada siklus I pertemuan satu ini dapat dilihat selengkapnya pada
2,71
3
2,85
2.55 2.6 2.65 2.7 2.75 2.8 2.85 2.9 2.95 3 3.05
Pertemuan 1 Pertemuan 2 Rata-Rata 3,05
3 2,95 2,9 2,85 2,8 2,75 2,7 2,65 2,6 2,55
lampiran 38 halaman 326. Adapun nilai pemahaman konsep sifat-sifat cahaya siklus I pertemuan 1 dapat dilihat pada Tabel 4.7 sebagai berikut:
Tabel 4.7. Distribusi Frekuensi Data Nilai Pemahaman Konsep Sifat- sifat Cahaya Siklus I Pertemuan 1
No Interval Frekuensi (𝑓𝑖)
Nilai Tengah (𝑥𝑖)
𝑓𝑖. 𝑥𝑖 Persentase Relatif Kumulatif
1. 40 – 49 1 44,5 44,5 5,26% 5,26%
2. 50 – 59 4 54,5 218 21,06% 26,32%
3. 60 – 69 7 64,5 451,5 36,84% 63,16%
4. 70 – 79 4 74,5 298 21,05% 84,21%
5. 80 – 89 3 84,5 253,5 15,79% 100%
Jumlah 19 1265,5 100%
Rata-rata 66,37
Ketuntasan Klasikal (13 : 19) x 100% = 68,42%
Nilai Terendah 40
Nilai Tertinggi 87
Berdasarkan data pada Tabel 4.7. nilai pemahaman konsep sifat- sifat cahaya siklus I pertemuan 1 dapat disajikan dalam bentuk grafik histogram pada Gambar 4.7. sebagai berikut:
Gambar 4.7.Grafik Histogram Data Nilai Pemahaman Konsep Sifat-Sifat Cahaya Siklus I Pertemuan 1
1
4
7
4
3
0 1 2 3 4 5 6 7 8
40-49 50-59 60-69 70-79 80-89
FREKUENSI
INTERVAL NILAI
Berdasarkan Tabel 4.7 dan Gambar 4.7 nilai tes pemahaman konsep sifat-sifat cahaya pada siswa kelas V SD Negeri Bangsalan 1, Teras, Boyolali tahun ajaran 2015/2016 diperoleh nilai rata-rata sebesar 66,37. Siswa dengan frekuensi tertinggi memperoleh nilai dalam interval antara 60-69 sejumlah 7 siswa atau 36,84%. Siswa yang memperoleh nilai dalam interval antara 50-59 sejumlah 4 siswa atau 21,05%. Siswa yang memperoleh nilai dalam interval antara 70-79 sejumlah 4 siswa atau 21,05%. Siswa yang memperoleh nilai dalam interval antara 80-89 sejumlah 3 siswa atau 15,79%. Selanjutnya siswa dengan frekuensi terendah memperoleh nilai dalam interval 40-49 sejumlah 1 siswa atau 5,26%. Nilai terendah pada siklus I pertemuan 1 adalah 40 dan nilai tertinggi adalah 87. Hasil siklus I pertemuan pertama ini terdapat 13 siswa yang nilainya ≥65 (KKM) atau 68,42%, sedangkan 6 siswa lainnya masih di bawah KKM.
Pada siklus I pertemuan 2, tes evaluasi mengenai materi sifat cahaya menembus benda bening, dapat dibiaskan, dan dapat diuraikan, diperoleh rata-rata nilai yaitu 66,58. Adapun nilai pemahaman konsep sifat-sifat cahaya siklus I pertemuan 2 (lampiran 39 halaman 327) dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut:
Tabel 4.8. Distribusi Frekuensi Data Nilai Pemahaman Konsep Sifat- sifat Cahaya Siklus I Pertemuan 2
No Interval Frekuensi (𝑓𝑖)
Nilai Tengah (𝑥𝑖)
𝑓𝑖. 𝑥𝑖 Persentase Relatif Kumulatif
1. 40 – 49 1 44,5 44,5 5,26% 5,26%
2. 50 – 59 3 54,5 163,5 15,79% 21,05%
3. 60 – 69 6 64,5 387 31,58% 52,63%
4. 70 – 79 6 74,5 447 31,58% 84,21%
5. 80 – 89 3 84,5 253,5 15,79% 100%
Jumlah 19 1295,5 100%
Rata-rata 66,58
Ketuntasan Klasikal (12 : 19) x 100% = 63,16%
Nilai Terendah 40
Nilai Tertinggi 87
Berdasarkan data pada Tabel 4.8 nilai pemahaman konsep sifat- sifat cahaya siklus I pertemuan 2 dapat disajikan dalam bentuk grafik histogram pada Gambar 4.8 sebagai berikut:
Gambar 4.8.Grafik Histogram Nilai Pemahaman Konsep Sifat-Sifat Cahaya Siklus I Pertemuan 2
Berdasarkan Tabel 4.8 dan Gambar 4.8 nilai tes pemahaman konsep sifat-sifat cahaya pada siswa kelas V SD Negeri Bangsalan 1, Teras, Boyolali tahun ajaran 2015/2016 siklus I pertemuan 2 diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 66,58. Siswa dengan frekuensi tertinggi memperoleh nilai dalam interval antara 60-69 sejumlah 6 siswa atau 31,58%. Siswa yang memperoleh nilai dalam interval antara 70-79 sejumlah 6 siswa atau 31,58%. Siswa yang memperoleh nilai dalam interval antara 50-59 sejumlah 3 siswa atau 15,79%. Siswa yang memperoleh nilai dalam interval antara 80-89 sejumlah 3 siswa atau 15,79%. Selanjutnya siswa dengan frekuensi terendah memperoleh nilai dalam interval 40-49 sejumlah 1 siswa atau 5,26%. Nilai terendah pada siklus I pertemuan 1 adalah 40 dan nilai tertinggi adalah 87. Pada hasil siklus I pertemuan pertama ini terdapat 12 siswa yang nilainya ≥65 (KKM) atau 63,16%, sedangkan 7 siswa lainnya masih di bawah KKM.
Pada hasil siklus I pertemuan 1 ini sudah bisa dilihat terjadi peningkatan
1
3
6 6
3
0 1 2 3 4 5 6 7
40 – 49 50 – 59 60 – 69 70 – 79 80 – 89
FREKUENSI
INTERVAL NILAI
hasil pemahaman konsep sifat-sifat cahaya, meskipun kenaikannya 36,84% dan belum terlalu signifikan.
Data nilai hasil tes pada pertemuan I dan pertemuan II selanjutnya digabungkan menjadi satu dan diperoleh hasil rata-rata nilai pemahaman konsep sifat-sifat cahaya dengan menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video pada siklus I dengan rata-rata 66,47. Pada siklus I rata-rata nilai pada pertemuan I adalah 66,37 yang kemudian meningkat menjadi 66,58 pada pertemuan II. Peningkatan rata-rata nilai pemahaman konsep sifat-sifat cahaya yang terjadi dari pertemuan satu ke pertemuan dua adalah 0,21.
Hasil rekapitulasi penilaian kognitif pemahaman konsep sifat-sifat cahaya selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 40 halaman 328.
Adapun data nilai pemahaman konsep sifat-sifat cahaya dengan menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video kelas V SD Negeri Bangsalan 1, Teras, Boyolali tahun ajaran 2015/2016 pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut.
Tabel 4.9. Distribusi Frekuensi Rata-Rata Nilai Pemahaman Konsep Sifat-sifat Cahaya Siklus I
No Interval Frekuensi (𝑓𝑖)
Nilai Tengah (𝑥𝑖)
𝑓𝑖. 𝑥𝑖 Persentase Relatif Kumulatif
1. 46 – 44 3 50 150 15,79% 15,79%
2. 55 – 63 5 59 295 26,32% 42,11%
3. 64 – 72 6 68 408 31,58% 73,69%
4. 73 – 81 4 677 2708 21,05% 94,74%
5. 82– 90 1 86 86 5,26% 100%
Jumlah 19 940 3647
Rata-rata 66,47
Ketuntasan Klasikal (11 : 19) x 100% = 57,89%
Nilai Terendah 46,5
Nilai Tertinggi 87
Berdasarkan data pada Tabel 4.9 nilai rata-rata pemahaman konsep sifat-sifat cahaya siklus I dapat disajikan dalam bentuk grafik histogram pada Gambar 4.9 sebagai berikut:
Gambar 4.9.Grafik Histogram Rata-Rata Nilai Pemahaman Konsep Sifat-Sifat Cahaya Siklus I
Berdasarkan Tabel 4.9 dan Gambar 4.9 nilai tes pemahaman konsep sifat-sifat cahaya pada siswa kelas V SD Negeri Bangsalan 1, Teras, Boyolali tahun ajaran 2015/2016 siklus I diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 66,47. Siswa dengan frekuensi tertinggi memperoleh nilai dalam interval antara 64,72 sejumlah 6 siswa atau 31,58%. Siswa yang memperoleh nilai dalam interval antara 55,63 sejumlah 5 siswa atau 26,32%. Siswa yang memperoleh nilai dalam interval antara 73,81 sejumlah 4 siswa atau 21,05%. Siswa yang memperoleh nilai dalam interval antara 46,53 sejumlah 3 siswa atau 15,79%. Selanjutnya siswa dengan frekuensi terendah memperoleh nilai dalam interval 82-90 sejumlah 1 siswa atau 5,26%. Nilai terendah pada siklus I adalah 46,5 dan nilai tertinggi adalah 87 (lampiran 40 halaman 328). Berdasarkan nilai pemahaman konsep sifat-sifat cahaya pada siklus I, diketahui bahwa dari 19 siswa, 11 siswa (57,89%) memperoleh nilai ≥65 (KKM),
3
5
6
4
1
0 1 2 3 4 5 6 7
46-54 55-63 64-72 73-81 82-90
FREKUENSI
INTERVAL NILAI
sedangkan 8 siswa (42,11%) memperoleh nilai dibawah KKM.
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui nilai terendah, nilai tertinggi, nilai rata-rata kelas, dan ketuntasan klasikal kelas V SD Negeri Bangsalan 1 Boyolali pada siklus I. Data tersebut disajikan dalam Tabel 4.10. sebagai berikut.
Tabel 4.10. Nilai Terendah, Nilai Tertinggi, Nilai Rata-rata, dan Ketuntasan Klasikal pada Siklus I
No Keterangan Siklus I
1. Nilai Terendah 46,5
2. Nilai Tertinggi 87
3. Nilai Rata-rata 66,47
4. Ketuntasan Klasikal (%) 57,89%
Untuk memperjelas dari nilai terendah, nilai tertinggi, nilai rata- rata, dan ketuntasan klasikal pada siklus I, disajikan grafik pada Gambar 4.10 berikut ini.
Gambar 4.10.Grafik Histogram Nilai Terendah, Nilai Tertinggi, Nilai Rata-rata, dan Ketuntasan Klasikal pada Siklus I
Berdasarkan Tabel 4.10 dan Gambar 4.10 dapat disimpulkan nilai terendah yang diperoleh pada siklus I pertemuan satu yaitu 46,5 ,
46,5
87
66,47
57,89
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Nilai Terendah Nilai Tertinggi Nilai Rata-rata Ketuntasan Klasikal (%)
sedangkan untuk nilai tertinggi 87 dengan nilai rata-rata kelas 66,47.
Pada siklus I pertemuan 1, siswa yang nilainya ≥65 atau mencapai ketuntasan sebanyak 11 siswa atau 57,89%, sedangkan 8 siswa lainnya masih di bawah KKM.
d. Tahap Refleksi
Berdasarkan hasil observasi pada siklus I, maka dilakukan refleksi pada pertemuan 1 dan pada pertemuan 2 dengan berkonsultasi bersama guru kelas V yang bertindak sebagai pelaksana dan dosen pembimbing dengan menganalisis mengenai hal berikut:
1) Kinerja Guru
Berdasarkan dari hasil pengamatan pada pertemuan 1 (lampiran 19 halaman 289), kinerja guru pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung memperoleh skor 2,53 yang sudah termasuk dalam kategori baik. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya diperlukan perbaikan diantaranya pada kegiatan apersepsi, pemberian materi, pengelolaan waktu, pemanfaatan media pembelajaran, penerapan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video, dan membimbing siswa dalam kegiatan praktikum. Oleh sebab itu, masih perlu dilakukan perbaikan dan peningkatan pada pertemuan 2 agar hasil yang dicapai dapat dimaksimalkan. Solusi perbaikan yang akan dilakukan pada pertemuan 2 yaitu pada saat tahap apersepsi guru hendaknya lebih santai dan mengembangkan pengetahuan siswa. Ketika pemberian materi guru mengurangi metode ceramah dan lebih ditekankan pada kegiatan praktikum sehingga pengelolaan waktunya pun dapat berjalan dengan lebih baik karena guru berperan sebagai fasilitator yang akan membimbing siswa selama praktikum. Penggunaan media video perlu dilakukan latihan lagi serta pembatasan waktu pada setiap kegiatan lebih diperhatikan lagi agar alokasi waktu sesuai dengan RPP.
Berdasarkan hasil refleksi dari siklus I pertemuan 1, solusi yang diajukan sudah dilaksanakan oleh guru dengan baik sehingga hasil
observasi kinerja guru pun meningkat menjadi 2,9, data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 20 halaman 292. Pada siklus I pertemuan 2 perlu diperbaiki dalam hal pemilihan video pembelajaran dan dalam pengembangan materi pembelajaran. Solusi yang dapat dilakukan pada siklus II yaitu guru harus lebih banyak memberikan contoh penerapan sifat-sifat cahaya dalam kehidupan sehari-hari siswa dan contoh kegiatan percobaan lainya sehingga pengetahuan siswa dapat meningkat. Bahan ajar yang akan digunakan pada siklus II dikembangkan sesuai dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Dalam penggunaan media video guru harus mencoba lagi supaya bisa baik dan lancar dalam pelaksanaan pembelajaran. Selain itu, media video yang ditampilkan juga harus dicari yang lebih menarik lagi supaya siswa lebih antusias bisa dengan kombinasi menggunakan slide power point. Meningkatkan penerapan model model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video dan memperhatikan tahapannya.
2) Aktivitas Siswa
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilaksanakan pada siklus I pertemuan 1 (lampiran 25 halaman 303). aktivitas siswa pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung memperoleh skor 2,58 yang sudah termasuk dalam kategori baik. Namun, masih banyak siswa yang memerlukan perbaikan seperti sikap siswa dalam keterlibatan penerapan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video. Pada saat kegiatan pengamatan video siswa sudah cukup baik.
Sebelum kegiatan praktikum, kondisi siswa yang belum dibentuk dalam meja kelompok menjadikan suasana menjadi sedikit gaduh ketika pembagian kelompok. Dalam kegiatan praktikum, beberapa kelompok kurang kerjasama dengan kelompoknya sehingga hasil data yang diperoleh juga kurang tepat. Oleh sebab itu, masih perlu dilakukan perbaikan dan peningkatan pada siklus I pertemuan 2 agar hasil yang dicapai dapat maksimal. Solusi perbaikan yang akan dilakukan pada
siklus I pertemuan 2 yaitu dengan pengkondisian meja yang sudah dibagi dalam 4 kelompok. Dalam hal prosedur penelitian, guru akan lebih membimbing siswa dalam kegiatan praktikum.
Berdasarkan hasil refleksi dari siklus I pertemuan 1, solusi yang diajukan sudah dilaksanakan dengan baik sehingga hasil observasi aktivitas siswa pun meningkat menjadi 2,8, data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 26 halaman 306. Pada siklus I pertemuan 2 perlu diperbaiki dalam hal manajemen waktu karena siswa kurang memperhatikan keterbatasan waktu dan prosedur dalam kegiatan praktikum. Selama pembelajaran berlangsung siswa masih kurang berani dalam menyampaikan pendapat ataupun pertanyaan.Solusi yang dilaksanakan pada siklus II pertemuan I yaitu dalam kegiatan praktikum dilaksanakan secara urut dan diberi batas waktu dari tiap percobaannya.
Siswa diberi pancingan berupa pertanyaan supaya mau mengeluarkan pendapat atau meningkatkan kemauan bertanya. Selain itu, keterlibatan siswa selama pembelajaran harus ditingkatkan sehingga pelaksanaan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video dapat berjalan dengan lebih baik lagi.
3) Ranah Afektif
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilaksanakan pada siklus I pertemuan 1, ranah afekif siswa dikategorikan baik dengan perolehan nilai 2,74, data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 31 halaman 319. Namun pada salah satu aspek siswa mendapatkan rata-rata nilai yang cukup rendah yaitu pada aspek mengajukan pertanyaan mengenai langkah-langkah kegiatan. Dalam pelaksanaan suatu proses percobaan langkah-langkah kegiatan merupakan hal yang sangat penting supaya bisa sesuai prosedur. Namun, pada siklus I siswa kurang aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran, hanya beberapa dari siswa yang mengajukan pertanyan mengenai langkah-langkah kegiatan sehingga beberapa siswa ada yang mengabaikan prosedur dalam praktikum. Oleh sebab itu, masih perlu perbaikan dan peningkatan pada
siklus I pertemuan 2 agar hasil yang tercapai dapat maksimal. Solusi perbaikan yang akan dilakukan pada siklus I pertemuan 2 yaitu guru memberikan arahan untuk melaksanakan prosedur dengan baik dan memberi pancingan berupa pertanyaan mengenai langkah kegiatan yang telah dijelaskan sebelumnya kemudian memberi siswa kesempatan bertanya.
Berdasarkan hasil refleksi dari siklus I pertemuan 1, solusi yang diajukan sudah dilaksanakan dengan baik sehingga hasil penilaian afektif siswa pun meningkat menjadi 2,95, data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 31 halaman 319. Pada siklus I pertemuan 2 perlu diperbaiki dalam hal keseriusan siswa dalam mengikuti pembelajaran.
Siswa sudah menunjukkan antusias dalam proses sains namun dalam pelaksanaannya kurang serius. Solusi yang dilaksanakan pada siklus II pertemuan 1 yaitu dengan meningkatkan rasa antusias dan keseriusan siswa dengan cara memberikan reward bagi kelompok dengan hasil terbaik sehingga mereka akan termotivasi dan mengikuti pembelajaran dengan serius.
4) Ranah Psikomotor
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilaksanakan pada siklus I pertemuan 1, ranah psikomotor siswa dikategorikan cukup baik dengan perolehan nilai 2,53, data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 35 halaman 323. Hampir semua siswa melaksanakan praktikum dengan antusias. Namun, masih terdapat kelompok yang melaksanakan praktikum tanpa mengikuti prosedur yang telah ditentukan. Oleh sebab itu, perlu perbaikan dan peningkatan pada siklus I pertemuan 2 agar hasil yang tercapai dapat maksimal. Solusi perbaikan yang dilakukan pada siklus I pertemuan 2 yaitu guru mengingatkan siswa untuk membaca petunjuk langkah kegiatan dan memberi kesempatan bertanya sebelum melaksanakan praktikum.
Berdasarkan hasil refleksi dari siklus I pertemuan 1, solusi yang diajukan sudah dilaksanakan dengan baik sehingga hasil penilaian
psikomotor siswa pun meningkat menjadi 3, data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 35 halaman 323. Pada siklus I pertemuan 2 perlu diperbaiki dalam hal penulisan hasil simpulan praktikum karena beberapa siswa belum menuliskan simpulan hasil praktikum dengan benar. Solusi yang dilaksanakan pada siklus II pertemuan 1 yaitu dalam hal penulisan simpulan hasil praktikum, guru membimbing siswa sesuai hasil data yang diperoleh siswa, jadi siswa tidak dilepaskan sendiri dalam penyusunan hasil simpulan
5) Ketuntasan Klasikal Pemahaman Konsep Sifat-Sifat Cahaya Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilaksanakan pada siklus I pertemuan 1, pemahaman konsep sifat-sifat cahaya dengan menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video sudah meningkat dibandingkan pada saat pratindakan. Namun, masih banyak siswa yang belum terlalu paham dengan konsep sifat-sifat cahaya terbukti pada siklus I pertemuan 1 masih terdapat 6 siswa yang belum mencapai KKM.. Oleh sebab itu, masih perlu dilakukan perbaikan dan peningkatan pada siklus I pertemuan 2 agar hasil yang tercapai dapat maksimal. Solusi perbaikan yang akan dilakukan pada siklus I pertemuan 2 yaitu guru memberi ulasan singkat tentang isi video yang ditayangkan, kemudian guru melakukan tanya jawab bersama siswa mengenai materi yang sudah ditayangkan dalam video.
Berdasarkan hasil refleksi dari siklus I pertemuan 1, solusi yang diajukan sudah dilaksanakan dengan baik sehingga hasil penilaian pemahaman konsep sifat-sifat cahaya siswa pun meningkat, data siklus I pertemuan 2 selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 39 halaman 327. Pada pertemuan 2 nilai tes pemahaman konsep sifat-sifat cahaya sudah meningkat namun belum mencapai indikator kinerja penelitian.
Berdasarkan hasil analisis dan refleksi dari siklus I pertemuan 2, maka dilanjutkan pembelajaran pada siklus II pertemuan 1 dengan mengambil solusi perbaikan sebagai berikut: (a) mengefektifkan model
pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video, (b) perbaikan guru dalam hal cara mengajar dengan pemahaman dalam menerapkan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video, (c) memantau jalannya pembelajaran serta memberi penguatan kepada siswa yang belum aktif agar lebih percaya diri dan berani dalam mengungkapkan pendapatnya, (d) mempelajari dan lebih mengembangkan media pembelajaran yang digunakan sehingga lebih efektif penggunaannya, (e) meningkatkan validitas soal yang digunakan.
Data perkembangan peningkatan pemahaman konsep sifat-sifat cahaya dengan menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic berbasis media video pada siswa kelas V SD Negeri Bangsalan 1, Teras, Boyolali tahun 2015/2016 pada kondisi awal dan siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut:
Tabel 4.11. Perbandingan Pemahaman Konsep Sifat-Sifat Cahaya pada Pratindakan dan Siklus I
No Keterangan Pratindakan Pertemuan 1 Pertemuan 2
1 Nilai Terendah 40 40 53,5
2 Nilai Tertinggi 74 87 87
3 Nilai Rata-Rata 56,95 66,37 66,58
4 Ketuntasan Klasikal (%) 26,32% 68,42% 68,16%
Untuk memperjelas perbandingan dari nilai terendah, nilai tertinggi, nilai rata-rata, dan ketuntasan klasikal pada pratindakan dan siklus I pertemuan 1 dan pertemuan 2, disajikan grafik pada Gambar 4.11 berikut ini.
Gambar 4.11.Grafik Histogram Perbandingan Pemahaman Konsep Sifat-Sifat Cahaya pada Pratindakan dan Siklus I
Berdasarkan data perkembangan pemahaman konsep sifat-sifat cahaya yang dicapai serta kekurangan pelaksanaan tindakan pada siklus I pada Tabel 4.11, tindakan yang dilakukan pada siklus I pertemuan 2 belum mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila siswa yang nilainya di atas KKM mencapai 85% atau 17 siswa dengan rata-rata kelas minimal 65. Oleh karena itu, perlu adanya tindak lanjut ke siklus II untuk memperbaiki kekurangan pada siklus I.
3. Hasil Tindakan Siklus II
Siklus II dalam penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dua kali pertemuan dengan masing-masing pertemuan melalui empat tahapan, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pengamatan, dan tahap refleksi.
Setiap pertemuan terdiri dari 2 jam pelajaran (2 x 35 menit). Siklus II dilaksanakan pada hari Selasa, 19 April 2016 (Pertemuan 1) dan Rabu, 20 April 2016 (Pertemuan 2). Berikut tahap-tahapan pada siklus I yang telah peneliti laksanakan:
40
74
56,95
26,32 46,5
87
66,47
57,89
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Nilai Terendah Nilai Tertinggi Nilai Rata-Rata Ketuntasan Klasikal (%) Siklus I Siklus II
a. Tahap Perencanaan
Berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi pelaksanaan tindakan siklus I dapat diketahui bahwa penggunaan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video dapat meningkatkan pemahaman konsep sifat-sifat cahaya. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa kekurangan sehingga perlu adanya perbaikan pada pelaksanaan pembelajaran siklus II untuk selanjutnya dijadikan pertimbangan agar pada siklus II dapat berjalan dengan lebih baik dan mampu mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan. Penerapan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video tersebut direncanakan dalam kegiatan siklus dengan rincian sebagai berikut:
1) Menyusun silabus (lampiran 10 halaman 167) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) IPA berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) 6.1.
Mendeskripsikan sifat-sifat cahaya dengan pokok bahasan sifat-sifat cahaya menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video dengan alokasi waktu 2 x 35 menit setiap pertemuan. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusun meliputi: standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, dampak pengiring, model dan metode pembelajaran, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, sumber dan media pembelajaran, serta penilaian. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran siklus II terdiri dari dua pertemuan, pertemuan I (lampiran 13 halaman 219) dan pertemuan II (lampiran 14 halaman 242).
2) Mempersiapkan media, fasilitas, dan sarana pendukung
a) Ruang kelas didesain untuk kerja berkelompok untuk mempermudah siswa berdiskusi dengan anggota kelompoknya.
b) Mempersiapkan meja, media LCD proyektor, laptop, dan speaker aktif.
c) Mempersiapkan media KIT IPA, alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pertemuan pertama pembuktian sifat cahaya
merambat lurus, cahaya dapat dipantulkan, dan dalam praktikum pertemuan kedua pembuktian sifat cahaya menembus benda bening, cahaya dapat dibiaskan, dan cahaya dapat diuraikan.
3) Mempersiapkan Power Point dan video pembelajaran tentang sifat-sifat cahaya.
4) Menyusun bahan ajar mengenai materi sifat-sifat cahaya (lampiran 50 halaman 358).
5) Menyusun lembar kerja siswa (LKS), lembar evaluasi, lembar observasi.
a) Lembar kerja siswa digunakan untuk berdiskusi dalam kelompok . b) Lembar evaluasi digunakan sebagai instrumen penilaian untuk
mengukur tingkat pemahaman siswa selama pembelajaran.
c) Lembar pengamatan digunakan untuk mendokumentasikan proses pembelajaran pemahaman konsep sifat-sifat cahaya melalui lembar observasi aktivitas siswa dan lembar observasi kinerja guru.
b. Tahap Pelaksanaan Siklus II 1) Siklus II Pertemuan Pertama
Siklus II pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 19 April 2016 pukul 07.30-08.40 WIB. Pembelajaran dilaksanakan di ruang kelas V SD Negeri Bangsalan 1. Pada pertemuan ini, guru menyampaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video yang ditekankan pada konsep sifat cahaya merambat lurus dan cahaya dapat dipantulkan. Adapun langkah-langkah pembelajarannya mencakup kegiatan berikut:
a) Kegiatan Awal
Pada kegiatan awal, guru membuka pembelajaran dengan menyampaikan salam. Guru menyiapkan siswa secara fisik dan psikis untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dengan berdoa bersama, Kemudian guru mengecek presensi/kehadiran siswa dan mengondisikan siswa. Guru juga memberikan motivasi dan
apersepsi untuk membangun konsentrasi dan membuka pengetahuan awal siswa. Setelah itu, guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
b) Kegiatan Inti
Kegiatan inti terbagi dalam 3 tahapan yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Kegiatan ini dilakukan menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video dan dengan menggunakan metode pengamatan, ceramah bervariasi, tanya jawab, praktikum, diskusi, dan penugasan.
(1) Eksplorasi
Kegiatan pembelajaran dimulai dengan guru menyajikan materi pembelajaran dengan menggunakan slide power point.
Guru sedikit memberi penjelasan, kemudian guru menayangkan video pembelajaran tentang sifat-sifat cahaya melalui LCD proyektor yang kemudian ditekankan pada penerapan sifat cahaya merambat lurus dan cahaya dapat dipantulkan. Setelah siswa melakukan pengamatan video, guru bersama siswa melakukan tanya jawab tentang materi yang telah diuraikan dalam video pembelajaran. Guru membimbing siswa memasuki kegiatan praktikum dengan membentuk kelompok diskusi sebanyak empat kelompok. Siswa melakukan eksperimen/
praktikum dengan menggunakan LKS yang berisi prosedur pelaksanaan praktikum dan soal mengenai sifat cahaya merambat lurus dan cahaya dapat dipantulkan menggunakan alat dan bahan yang sudah dipersiapkan kemudian hasilnya didiskusikan dengan anggota kelompoknya. Pada pertemuan pertama ini siswa melaksanakan praktikum pertama untuk membuktikan sifat cahaya merambat lurus dengan menggunakan sinar laser yang disorotkan lurus mengikuti garis lurus yang ada pada ubin ruang kelas V. Praktikum kedua untuk
membuktikan sifat cahaya dapat dipantulkan dengan menggunakan cermin cembung dan cermin cekung, sedangkan untuk cermin datar menggunakan cermin yang ada pada media KIT IPA.
(2) Elaborasi
Pada kegiatan ini, siswa berdiskusi untuk mengerjakan soal di LKS yang telah dilakukan percobaannya pada tahap eksplorasi. Setelah selesai diskusi dan melakukan percobaan, perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi.
Kelompok dengan hasil terbaik mendapat penghargaan dari guru, dan yang kurang baik disempurnakan hasil diskusinya dengan adanya pemantapan hasil diskusi.
(3) Konfirmasi
Tahap ini merupakan tahap pemantapan konsep. Dari berbagai hasil yang diperoleh masing-masing kelompok, kemudian guru memberikan simpulan keseluruhan hasil diskusi.
Selanjutnya siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang belum diketahui. Guru memantapkan hasil pembelajaran dengan pemberian penguatan dan motivasi untuk belajar lebih giat.
c) Kegiatan Akhir
Pada tahap akhir siswa dibimbing guru bersama-sama menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajari. Guru memantapkan pemahaman siswa dengan pemberian penguatan dan motivasi untuk belajar lebih giat. Selanjutnya siswa mengerjakan tes tertulis berupa soal evaluasi untuk mengukur pemahaman konsep sifat cahaya merambat lurus dan cahaya dapat dipantulkan.
Pembelajaran diakhiri dengan salam penutup.
2) Siklus II Pertemuan Kedua
Siklus II pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Rabu, 20 April 2016. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada pukul 07.30- 08.40 WIB. Pembelajaran pertemuan kedua dilaksanakan sesuai dengan RPP siklus II pertemuan kedua dengan menyampaikan materi pembelajaran sifat cahaya menembus benda bening, cahaya dapat dibiaskan, dan cahaya dapat diuraikan. Pembelajaran dilaksanakan di dalam dan di luar ruang kelas V SD Negeri Bangsalan 1. Adapun langkah-langkah pembelajarannya mencakup kegiatan sebagai berikut:
a) Kegiatan Awal
Pada kegiatan awal, guru membuka pembelajaran dengan menyampaikan salam. Guru menyiapkan siswa secara fisik dan psikis untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dengan berdoa bersama, Kemudian guru mengecek presensi/kehadiran siswa dan mengondisikan siswa. Guru juga memberikan motivasi dan apersepsi kepada siswa. Apersepsi yang dilakukan yaitu dengan menyanyikan lagu “Pelangi-Pelangi”. Setelah itu, guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
b) Kegiatan Inti
Kegiatan inti terbagi dalam 3 tahapan yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Kegiatan ini dilakukan menggunakan model pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK) berbasis media video dan dengan menggunakan metode pengamatan, ceramah bervariasi, tanya jawab, praktikum, diskusi, dan penugasan.
(1) Eksplorasi
Kegiatan pembelajaran dimulai dengan guru menyajikan materi pembelajaran dengan menggunakan slide power point.
Guru sedikit memberi penjelasan, kemudian guru menayangkan video pembelajaran tentang sifat-sifat cahaya melalui LCD proyektor yang kemudian ditekankan pada sifat cahaya