BAB III METODE PENELITIAN
C. Pembahasan dan Analisis
1. Fenomena pernikahan usia remaja di Desa Planjan Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul
Perkawinan menurut Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 Pasal 1, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai seorang suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Berdasarkan Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 pasal 7 (1), perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun. Namun, bila belum mencapai umur 21 tahun calon pengantin laki-laki maupun perempuan diharuskan memperoleh izin dari orang tua atau wali yang diwujudkan dalam bentuk surat izin sebagai salah satu syarat untuk melangsungkan suatu perkawinan. Bahkan bagi calon yang usianya masih dibawah atau kurang dari 16 tahun harus memperoleh dispensasi dari Pengadilan Agama setempat.
Menurut Elizabet B. Hurlock (1999: 264), seseorang mengalami fase dewasa awal (dewasa muda) ketika menginjak usia 18 tahun sampai kira-kira usia 40 tahun. Pada fase tersebut seseorang akan berusaha mencari pasangan hidup yang selanjutnya akan diteruskan pada proses pembentukan dan pembinaan keluarga. Namun, secara hukum Indonesia seseorang dikatakan dewasa bila telah menginjak usia 21 tahun (meski belum menikah) atau sudah menikah (meskipun belum berusia 21 tahun).
Pada usia tersebut seseorang telah melewati fase remaja akhir dan dikatakan telah mampu berpikir secara rasional dan dianggap telah mampu bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan yang dilakukannya. Bagi masyarakat umum, perempuan dikatakan dewasa bila telah berusia 21 tahun dan laki-laki dewasa adalah laki-laki yang telah berusia 25 tahun. Pada usia tersebut seseorang dianggap telah mampu membangun rumah tangga dengan pasangan, karena pada usia tersebut kesiapan secara fisik, mental dan finansial telah dapat terpenuhi dengan baik. Pada usia 21-25 tahun manusia telah matang secara jiwa dan raga sehingga dapat melangsungkan perkawinan dan mewujudkan tujuan perkawinan yang sesuai dengan harapan dan kesepakatan masing-masing pasangan. Tujuan perkawinan yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Untuk itu suami istri perlu saling membantu dan saling melengkapi, agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya untuk membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan material.
Berdasarkan perkembangan yang dialami oleh manusia, pada fase dewasa awal seseorang sedang berusaha menyelesaikan pendidikan tinggi (universitas), sedang meniti karir menuju puncak, mencari pasangan yang sesuai, menikah dan membangun rumah tangga baru, serta berpartisipasi menjadi warga negara yang aktif dan produktif. Pada fase tersebut seseorang sedang menentukan kriteria-kriteria pasangan yang akan diajak membangun rumah tangga serta sedang berusaha meyempurnakan karir
dan kemampuannya. Ketika menginjak fase tersebut seringkali orang tua juga turut menentukan kriteria-kriteria atau standar yang harus dimiliki oleh calon pendamping putra putrinya. Biasanya secara umum kriteria-kriteria yang ditentukan adalah usia yang telah matang, karir yang bagus, berasal dari keluarga yang baik, berpendidikan dan lain sebagainya. Kondisi masyarakat yang berbeda turut membedakan standar dan kriteria-kriteria calon pendamping hidup. Ada masyarakat yang sangat ketat dalam menyeleksi calon pasangan untuk putra putrinya dan ada juga masyarakat yang tidak menerapkan kriteria khusus untuk calon pendamping putra putrinya.
Meskipun banyak masyarakat yang menikah sesuai dengan kriteria yang telah mereka tentukan serta sesuai dengan ketentuan negara, akan tetapi masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang memiliki masalah sosial berupa pernikahan usia muda. Begitu juga yang terjadi di desa Planjan kecamatan Saptosari kabupaten Gunungkidul, pernikahan usia remaja telah menjadi fenomena dan masalah sosial yang sulit untuk dihentikan. Kehidupan sosial budaya masyarakat yang secara turun temurun melakukan pernikahan usia remaja membuat tingginya angka pernikahan usia remaja di Desa Planjan. Pernikahan usia remaja yang terus terjadi dan dilakukan oleh hampir sebagian masyarakat, membuat pernikahan usia remaja menjadi hal yang biasa. Sejak dahulu orang tua di Desa Planjan sudah terbiasa menjodohkan anaknya dengan orang yang berasal dari kelas sosial yang sama. Anak laki-laki yang berasal dari
keluarga kaya akan dijodohkan dengan anak perempuan yang berasal dari keluarga dengan kekayaan yang hampir sejajar. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar kekayaan kedua keluarga tidak berkurang dan agar tidak ada kesenjangan sosial didalamnya. Oleh karena itu, pernikahan akan sesegera mungkin dilaksanakan agar tujuan antar orang tua segera terlaksana meskipun anak masih berusia muda. Sedangkan pada masyarakat kelas bawah (petani) perjodohan dan pernikahan usia remaja dilakukan dengan tujuan agar anak laki-laki yang bekerja di ladang atau hutan ada yang membantu dan menemani. Dahulu, orang tua masih beranggapan bahwa pendidikan tidaklah penting, sehingga seorang anak lebih dituntut untuk bekerja keras dengan cara bertani dan pergi ke hutan. Letak ladang dan hutan yang cukup jauh dari permukiman penduduk membuat orang tua banyak yang menjodohkan dan menikahkan anaknya agar ada yang membantu dan menemani di ladang.
Masyarakat Desa Planjan yang masih tradisional dan berpikir sederhana menyebabkan banyak anak yang harus menikah muda. Bahkan banyak anak-anak yang harus putus sekolah karena alasan menikah. Masih adanya anggapan bahwa perempuan yang usianya 20 tahun keatas belum menikah dikatakan sebagai “perawan tua”. Hal tersebut membuat banyak orang tua mendorong anaknya untuk menikah diusia remaja. Kedewasaan, perkembangan fisik dan mental, serta kemampuan finansial anak tidak menjadi patokan yang mutlak untuk terjadinya pernikahan. Ketika sepasang remaja telah merasa cocok satu sama lain, maka orang tua
akan segera menikahkan mereka meskipun usia mereka masih sangat muda. Remaja yang telah dianggap mampu berumah tangga didorong orang tua untuk menikah. Orang tua di desa Planjan beranggapan lebih baik menikahkan dini putra-putrinya dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada putra-putri mereka. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu orang tua yang putranya menikah diusia remaja.
”Nggak mbak, kalau sudah saling cocok ya sudah. Sudah sering
bawa perempuan jadi ya sudah suruh nikah aja, dari pada nanti terjadi yang nggak baik. Di KUA juga sudah boleh. Ngga usah sidang umur”.
(Hasil wawancara dengan Ibu AR pada 23 April 2015 pukul 10.45 WIB).
Kebudayaan dan tradisi yang masih dipegang erat oleh masyarakat Desa Planjan menyebabkan pernikahan usia remaja terus terjadi. Tradisi yang masih dipegang erat masyarakat Desa Planjan yang berkaitan dengan pernikahan usia remaja yaitu, mereka masih meyakini bahwa tidak boleh menolak lamaran atau pinangan pertama. Ketika seorang anak gadis untuk pertama kalinya menerima lamaran/pinangan dari seorang lelaki, maka lamaran/pinangan tersebut harus diterima oleh sang gadis dan keluarganya. Apabila lamaran tersebut ditolak, maka akan berdampak tidak baik bagi sang gadis dan keluarganya. Masyarakat di Desa Planjan selama ini masih mempercayai dan memegang tradisi tersebut, sehingga banyak anak perempuan yang telah dilamar akan dengan segera menerima lamaran tersebut meskipun secara usia masih terbilang sangat muda. Anak-anak perempuan Desa Planjan seringkali menerima lamaran karena terpaksa ataupun atas dorongan orang tua bukan atas dasar saling suka satu
sama lain. Mereka menyadari bahwa ketika mereka menolak lamaran laki-laki yang telah meminangnya maka akan ada konsekuensi yang akan didapat oleh mereka dan keluarganya. Konsekuensi tersebut berupa gunjingan dari masyarakat sekitar dan akan menjadi aib keluarga. Orang tua akan membiarkan anaknya menikah diusia muda untuk menghindari bala/sial jika menolak pinangan pertama untuk putrinya. Dalam tradisi masyarakat setempat pinangan pertama yang diterima seorang gadis harus diterima dengan tujuan “ngguang sebel” (buang sial), dan ketika lamaran tersebut ditolak maka dalam istilah jawa “ora ilok” atau tidak baik untuk dilakukan. Masih eratnya tradisi dan kebudayaan masyarakat untuk melakukan pernikahan usia remaja hingga saat ini, membuat tingginya angka pernikahan usia remaja di desa Planjan. Tingginya angka pernikahan usia remaja di desa Planjan juga disebabkan karena lingkungan masyarakat yang sebagian besar melakukan pernikahan dibawah usia 20 tahun.
Hingga saat ini masih banyak masyarakat Desa Planjan yang percaya pada tradisi setempat, meskipun saat ini sebagian anak-anak yang menikah diusia remaja telah mengenal pasangannya sebelum mereka menikah. Pemikiran masyarakat yang masih tradisional dan sederhana membuat masyarakat masih tetap menikahkan putra-putri mereka diusia remaja. Ketika putra-putri mereka memulai tahap perkenalan dengan lawan jenis (berpacaran), orang tua seringkali membiarkan meskipun mereka masih berusia muda atau masih duduk di bangku sekolah. Ketika
anak mulai berani berpergian dengan lawan jenis (pacarnya) seringkali orang tua tidak mengetahui karena kesibukannya di ladang. Masyarakat desa Planjan yang mayoritas bekerja sebagai petani membuat waktu mereka lebih banyak dihabiskan di kebun atau ladang. Mereka harus pergi bekerja pada pagi hari karena sebagian besar lahan mereka berada cukup jauh dari rumah. Mereka baru kembali pada sore hari karena selain bertani mereka juga harus mencari pakan untuk ternak mereka. Kesibukan seperti itulah yang menyebabkan anak kurang mendapat perhatian dan kontrol dari orang tua. Banyak anak perempuan yang masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah terbiasa diantar jemput sekolah dan bepergian dengan pacarnya. Bahkan pacarnya sering berkunjung kerumah anak perempuan tersebut tanpa sepengetahuan orang tuanya. Hal tersebut sering menimbulkan gunjingan dari tetangga, dan untuk menghindari gunjingan tersebut orang tua biasanya sesegera mungkin menikahkan putrinya. Norma sosial yang masih dipegang kuat masyarakat Planjan menyebabkan mereka dengan mudah menikahkan menikahkan putra putrinya. Usia anak tidak menjadi halangan untuk menikah. Meskipun secara hukum belum cukup umur tapi orang tua memilih dengan cara sidang atau memohon dispensasi menikah ke pengadilan agama. Dan ketika permohonan dispensasi menikah tersebut tidak dikabulkan maka orang tua akan menikahkan secara adat terlebih dahulu dengan bantuan para tokoh atau sesepuh desa setempat. Setelah usia anak telah mencapai batas yang telah ditentukan dalam undang-undang, maka akan segera
dilaksanakan pernikahan secara resmi yang terdaftar di Kantor Urusan Agama (KUA) setempat.
Menurut data Kantor Urusan Agama (KUA) Saptosari, terdapat banyak pasangan dibawah umur yang mendaftarkan pernikahan mereka. Akan tetapi, untuk periode tahun 2015 telah mengalami penurunan angka yang cukup drastis. Hal ini terkait dengan adanya Deklarasi Pencegahan Pernikahan Usia Dini, Perceraian dan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di wilayah Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul. Deklarasi ini dilakukan karena wilayah kecamatan Saptosari memiliki angka pernikahan usia dini, perceraian dan kematian ibu dan bayi yang cukup tinggi. Deklarasi ini dilakukan pada tanggal 4 Februari 2015 di kantor Kecamatan Saptosari dan dihadiri oleh Bupati Gunungkidul, sekertariat LSM Rifka Annisa, Camat Saptosari, kepala KUA Saptosari, kepala Puskesmas Saptosari, serta kepala desa yang ada di Kecamatan Saptosari. Deklarasi ini ditandai dengan penandatanganan MoU oleh pihak-pihak terkait.
Deklarasi ini juga dilaksanakan pada setiap desa termasuk desa Planjan. Deklarasi di desa Planjan dilaksanakan pada tanggal 19 Mei 2015 bertempat di Aula Desa Planjan. Deklarasi ini juga ditandai dengan penandatanganan MoU oleh Kepala Desa Planjan beserta 14 dukuh di wilayah Desa Planjan, dan sebagai saksi yang ikut menandatangani adalah kepala UPT Puskesmas Saptosari, Camat Saptosari, kepala KUA Saptosari
dan perwakilan LSM Rifka Annisa. Penandatanganan ini dilakukan setelah pembacaan deklarasi yang berisi:
Kami segenap Dukuh dan RT se-Desa Planjan Kecamatan Saptosari dengan sesungguhnya bertekad untuk:
1) Berusaha mencegah pernikahan pada usia dini 2) Berusaha mencegah perceraian
3) Berusaha menurunkan angka kematian ibu dan bayi
Demi meningkatnya derajat kesehatan serta kesejahteraan masyarakat Desa Planjan.
2. Faktor-faktor Penyebab Pernikahan Usia Remaja di Desa Planjan Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul
a. Keinginan Sendiri
Berdasarkan penelitian, sebagian besar narasumber mengatakan bahwa keinginan menikah diusia remaja berasal dari keinginan diri sendiri. Faktor saling mencintai dan saling merasa cocok satu sama lain menjadi dasar mereka memutuskan menikah diusia remaja. Remaja-remaja di Desa Planjan sudah terbiasa berpacaran pada usia yang masih muda. Tahapan pacaran yang mereka lakukan seringkali berlangsung bertahun-tahun membuat mereka merasa saling cocok satu sama lain. Pada tahap pacaran, remaja sudah terbiasa berpergian berdua bersama pasangannya. Mereka juga sering mengunjungi rumah pasangan masing-masing. Hal-hal tersebut sering menjadi pergunjingan para tetangga, sehingga mereka memutuskan menikah
diusia remaja untuk menghindari fitnah. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu narasumber:
“Ya biasa sih gak ada yang aneh bahkan kebanyakan tuh orang tua dan tetangga yang suka ngomongin. Jadikan misalnya
masnya ini kan maen terus di rumah mbaknya ya gak malem ga
siang pokoknya rutin ya nanti pasti tetangga bilang itu gimana
itu gimana itu gimana itu nikahin aja. Ya pokoknya nanti
langsung kalo masnya juga udah denger omongan tetangga terus langsung bilang orang tuanya yaudah nikah. Jadi gak perlu waktu lama” (hasil wawancara dengan NV pada 14 Mei 2015 pukul 14.38 WIB).
Masyarakat Desa Planjan yang mayoritas bekerja sebagai petani seringkali harus meninggalkan anak-anak mereka di rumah dalam waktu yang cukup lama. Keadaan tersebut membuat anak-anak di Desa Planjan terbiasa hidup mandiri. Mereka terbiasa untuk memasak, mencuci pakaian, dan melakukan pekerjaan rumah lainnya secara mandiri. Kebiasaan ini juga yang mendorong anak memiliki rasa percaya diri bahwa ia mampu membangun rumah tangga karena telah memiliki kemampuan mengurus dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Rasa percaya diri atas kemampuan tersebut yang membuat remaja terdorong untuk menikah diusia remaja.
Masa remaja merupakan masa dimana seseorang masih mudah terpengaruh dan belum memiliki pendirian (labil). Masa remaja membuat seorang anak menjadikan remaja lain sebagai referensi dalam beragam hal termasuk menikah diusia remaja. Maraknya remaja menikah diusia muda menyebabkan remaja lain mengikuti menikah
diusia muda. Mereka terpengaruh menikah diusia remaja karena minder melihat temannya yang sudah berumah tangga.
b. Adat Istiadat
Adat istiadat merupakan tata kelakuan yang kekal dan turun temurun dari generasi ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat (KBBI, 2008: 5). Kepercayaan dan adat istiadat disuatu daerah sangat mempengaruhi kehidupan masyarakatnya. Begitu pula yang terjadi pada masyarakat Desa Planjan yang masih memegang adat istiadat setempat. Adat istiadat yang melarang seorang gadis dan keluarganya menolak lamaran pertama membuat banyak anak gadis yang harus menikah diusia remaja. Faktor adat istiadat ini menjadi penyebab terjadinya pernikahan usia remaja di Desa Planjan hingga saat ini. Masyarakat setempat masih percaya bahwa akan mengalami hal buruk ketika menolak lamaran pertama kalinya. Hal buruk tersebut dapat berupa musibah atau kesialan yang akan terjadi pada gadis yang dilamar dan keluarga yang menolak lamaran. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan oleh bapak Sekretaris Desa Planjan:
“Itu memang dari dulunya dari orang tua, orang tua sendiri itu seperti yang diutarakan pak Camat tadi, dadi nek wong tuwo anak’e ki wis ditakoke mbuh dadi mbuh ora nek ditakoke sepisan kudu ditompo, nek wong tuwo nek ngarani ngguang sebel. Mbuh kepiye carane urung tekan umure rapopo nek masalah umur dikatrol. Sebab yang namanya orang tua ya seperti itu tadi nek wong wedok takoke wong lanang niku nek
ditolak ilo-ilo jadi mau gak mau pokoknya mau jadi apapun
tau yang penting yang tanya pertama kali harus diterima soale
nggo ngguang sebel” (hasil wawancara dengan Bapak
Subariman pada 19 Mei 2015 pukul 13.14 WIB).
Kebiasaan lain masyarakat desa Planjan yang menimbulkan pernikahan usia remaja adalah adanya pernikahan secara adat, yakni pernikahan yang dilakukan oleh sesepuh dan tokoh masyarakat setempat. Banyak remaja yang menikah pada usia dibawah ketentuan undang-undang sehingga mereka memutuskan menikah secara adat terlebih dahulu. Setelah usia mereka mencukupi ketentuan maka mereka mengajukan pernikahan ke KUA. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu narasumber:
“Biasanya orang tua, yo nek wong tuo nek anake wis
kecelakaan tengik seperti yang tadi saya katakan itu langsung
dinikahkan. Tapi karena batasan usia yang jelas dan pak Camat sudah mewanti-wanti tidak boleh maka ya tidak bisa. Wong tuone wis panik terus mbuh kepiye carane aneke kudu nikah akhirnya dinikahkan secara adat nek istilahe nikah bawah tangan. Secara agama memang sudah sah tapi secara catatan administratif menurut UU belum. Ketika anaknya wis cukup
umure nah baru dinikahkan lagi di KUA, dilegalkan” (hasil
wawancara dengan Bapak Subariman pada 19 Mei 2015 pukul 13.14 WIB).
c. Faktor Pendidikan
Berdasarkan data, masyarakat desa Planjan didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar. Jumlah yang besar juga terlihat pada masyarakat yang tidak bersekolah. Oleh karena itu, desa Planjan dapat dikategorikan sebagai salah satu desa dengan masyarakat berpendidikan rendah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Prosentase masyarakat Desa Planjan yang lulus Sekolah Dasar hanya sekitar 50%
dari jumlah masyarakat yang lulus SMP hanya sekitar 20% yang melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas. Bahkan hanya sekitar 10% lulusan Sekolah Menengah Atas yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Semakin tinggi jenjang pendidikan semakin sedikit prosentase masyarakat yang mengenyam jenjang tersebut.
Masyarakat Desa Planjan dahulu kesulitan untuk mengenyam pendidikan karena minimnya jumlah sekolah dan letaknya yang cukup jauh untuk di jangkau. Seiring perkembangan jaman, jumlah sekolah di Desa Planjan sudah cukup banyak namun minat masyarakat pada pendidikan masih sangat kurang. Pendidikan dianggap “mahal” bagi masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Sebagian masyarakat beralasan pendapatan mereka hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok saja dan tidak cukup untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu narasumber yang bekerja sebagai buruh tani: “Sulit mbak. Saya cuma buruh tani gak ada uangnya buat biaya sekolah anak” (hasil wawancara dengan ibu AR pada 23 April 2015 pukul 10.45 WIB).
Kesadaraan pentingnya pendidikan sebenarnya sudah disadari oleh orang tua di Desa Planjan. Sosialisasi tentang pentingnya pendidikan juga sering dilakukan oleh berapa lembaga pemerintahan dan LSM. Akan tetapi muncul fenomena baru dikalangan remaja Desa Planjan, yakni disaat orang tua sudah sadar akan pentingnya pendidikan justru anak menolak bersekolah. Banyak remaja yang
enggan melanjutkan sekolah dengan alasan “males mikir”. Hal ini diungkapkan oleh salah satu narasumber: “Nggak, itu udah keinginan saya. Cuma saya aja yang gak pengen sekolah lagi. Udah males mikir
ehh mbak” (hasil wawancara dengan LS pada 15 Mei 2015 pukul
15.31 WIB).
Pernyataan yang sama juga diungkapkan oleh Bapak Sekretaris Desa Planjan:
“Tapi sekarang buminya semakin sempit kesadaran orang tua bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai kemiskinan itu sudah sadar, tapi eloknya untungnya sekarang itu kalo dulu itu kalo anak pinter itu pinter tenan tapi tetep nggak boleh sekolah sekarang itu kebalikannya mbak orang tua sudah sadar tapi anak gak mau belajar. Cukup sekolah kalo waktunya sekolah ya sekolah tapi kalo disuruh belajar nggak mau. Putus SD atau SMP sudah, alasannya gak
mau mikir dan itu yang paling riskan sekarang itu” (hasil
wawancara dengan Bapak Subariman pada 19 Mei 2015 pukul 13.14 WIB).
d. Faktor Ekonomi
Pernikahan usia remaja disebabkan pula oleh keadaan ekonomi suatu masyarakat. Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah cenderung menikahkan anaknya pada usia remaja. Hal tersebut dilakukan sebagai jalan keluar untuk mengatasi kesulitan ekonomi. Masyarakat Desa Planjan yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, seringkali menikahkan anaknya diusia muda untuk mengurangi beban perekonomian keluarga. Keluarga yang memiliki lebih dari dua anak, sering tidak dapat memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga. Untuk mengatasi masalah ekonomi tersebut orang
tua menikahkan anak diusia muda agar beban ekonomi berpindah pada menantunya. Dengan begitu, beban ekonomi keluarga menjadi berkurang.
Selain untuk mengurangi beban ekonomi keluarga, menikahkan anak diusia remaja juga diharapkan dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarga. Seorang anak perempuan dinikahkan dengan seorang laki-laki yang berasal dari keluarga yang mampu. Biasanya laki-laki yang dipilih memiliki kemampuan ekonomi yang mapan dan memiliki pekerjaan yang cukup prestisius. Dengan demikian, diharapkan anak perempuan tersebut dapat hidup layak dan dapat membantu memenuhi kebutuhan orang tua dan saudara-saudaranya. Hal ini diungkapkan oleh salah satu informan:
”Dari orang tua laki-laki dari orang tua perempuan terus anak’e
do dijodoke. Itu motif-motif seperti itu terus dan