Diagnosis dini diikuti oleh terapi yang adekuat adalah sangat penting untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat TB. Meskipun teknik konvensional dengan pengecatan ZN(Ziehl Neelsen) relatif mudah dilakukan dan murah, salah satu kerugian yang mencolok dari teknik ini adalah sensitivitasnya yang rendah. Hal ini dibuktikan dari laporan Perkins dkk. yang menemukan bahwa pengecatan ZN hanya mendeteksi 30-60% dari suspek TB dengan kultur positif sebagai diagnosis baku emas. Hal yang lebih menyulitkan adalah bahwa sampel sputum perlu diambil 3 hari berturut-turut, yang berdampak pada komplians pasiens.
Metode diagnostik TB dengan PCR terbukti lebih efisien di mana hanya dibutuhkan satu sampel sputum untuk mencapai sensitivitas sebesar 86%, dan sensitivitas sebesar 93% untuk mendeteksi kasus TB kultur positif dengan 3 sampel sputum. Hal ini sebanding dengan tingkat sensitivitas 92% yang diperoleh dengan pemeriksaan mikroskopis dengan pengecatan ZN. Namun PCR memiliki spesifisitas lebih baik (84%) dibandingkan ZN(66%). Saat pemeriksaan sputum pertama saja yang diperhitungkan, sensitivitas pemeriksaan PCR turun hanya menjadi 86%, namun spesifisitasnya meningkat menjadi 90%.
Sensitivitas PCR yang tinggi pada 3 sampel (93%) dan bahkan pada sampel pertama (86%), membuka peluang ke arah suatu metode diagnostik untuk skrining yang lebih sederhana di mana kedua pemeriksaan ZN dan rontgen toraks dapat dihindari. Terlebih lagi, terdapat beberapa kelebihan metode PCR dibandingkan kedua metode konvensional yaitu:
1. Sensitivitas metode PCR tidak dipengaruhi oleh status HIV pasien. Sementara itu, sensitivitas metode konvensional (ZN dan rontgen toraks) sangat dipengaruhi oleh status HIV Pasien. Hal ini dibuktikan pada studi ini di mana sensistivitas PCR untuk pasien TB HIV positif (n=36) adalah 89%, dibandingkan dengan 95% pada pasien TB HIV negatif (n=79). Sementara itu sensitivitas untuk pemeriksaan ZN lebih rendah secara signifikan untuk pasien TB HIV positif (44%) daripada untuk pasien TB HIV negatif (63%).
2. Sensitivitas ZN sangat bergantung pada tipe dan kualitas sampel sputum, dengan sensitivitas yang tertinggi pada sputum pagi hari. Sementara itu sensitivitas PCR tidak bergantung pada waktu pengambilan sputum.
Penegakan diagnosis TB khususnya TB milier (blood stream TB) maupun EPTB(Ekstra Pulmonal TB) yang cukup sering dijumpai pada populasi pasien HIV dipandang perlu ditemukan metode diagnosis yang cepat dan akurat. Sampel untuk kasus TB, terlebih pada pasien HIV yang menurut berbagai kepustakaan cenderung menunjukkan yield yang rendah
untuk positivitas pemeriksaan mikrobiologis sputum menjadi problem tersendiri. Metode diagnostik PCR, salah satunya otnPCR(one tube nested PCR) dengan menggunakan sampel urin penderita dapat menjadi alternatif sarana diagnosis penunjang yang nyaman karena tidak invasif dengan sensitivitas dan spesifisitas yang cukup baik, namun tidak serta-merta dapat menjadi baku emas pemeriksaan untuk konfirmasi kasus TB baru.
Kasus TB anak merupakan marker dari kualitas sistem pelayanan kesehatan suatu Negara, yang merupakan indikasi bahwa kasus-kasus TB infeksius dewasa tidak berhasil dideteksi dini, sehingga menimbulkan penyebaran penyakit TB pada anak.
Sekitar sepertiga kasus TB aktif dewasa terdiagnosis setelah konfirmasi penyakit TB anak dengan riwayat kontak. Hal ini menandakan bahwa terdapat cukup besar jumlah kasus TB aktif dewasa yang dapat nampak asimtompmatis untuk periode waktu yang lama dan menjadi sumber penularan termasuk pada anak.
Metode konvensional untuk penegakan diagnosis TB pada anak memiliki kesulitan tersendiri, khususnya pada pemeriksaan mikroskopis ZN yang menjadi standar diagnosis. Penggunaan metode PCR, khususnya pada kasus sulit maupun paucibasiller, memungkinkan sebagai suatu metode diagnosis yang kurang traumatis, dapat dilakukan dalam setting rawat jalan, di mana alternatif lainnya seperti lavase gastrik (untuk memperoleh sampel pemeriksaan mikroskopis) memerlukan rawat inap dan sedasi.
Walaupun sensitivitas nPCR untuk mendiagnosis TB pada individu di bawah 15 tahun menggunakan spesimen darah perifer bernilai rendah (26.15%), namun spesifisitasnya sangat memuaskan (92.73%). Hal ini menjadi penting untuk menegakkan diagnosis bagi kelompok pasien dengan kecurigaan TB yang belum terdiagnosis, maupun pasien suspek TB yang telah menjalani terapi tanpa konfirmasi diagnosis penyakit TBnya.
Dalam kasus sulit untuk mendiagnosis TB anak di mana diagnosis sangat diperlukan karena keparahan pasien, serta dalam kasus TB ekstrapulmoner terutama pada pasien terinfeksi HIV, PCR bisa berperan penting sebagai penunjang dalam praktek klinis. Berdasar temuan ini, nPCR dapat direkomendasikan sebagai metode pembantu menegakkan diagnosis. Namun, karena sensitivitasnya yang rendah, nPCR tak boleh dipisahkan dari kriteria klinis, epidemiologis, dan laboratorium TB. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Kaswandani et. al.(2007) yang menemukan bahwa PCR tidak menunjukkan keunggulan dalam nilai-nilai diagnostik (sensitivitas, spesifisitas, dan lainnya) dibandingkan dengan uji tuberkulin. Bahwa direkomendasikan untuk melakukan anamnesis yang cermat,
pemeriksaan fisik yang seksama, dan pemeriksaan penunjang yang penting seperti uji tuberkulin dan foto radiologik untuk menegakkan diagnosis TB pada anak. Sehingga walaupun spesifisitas nPCR baik, nPCR saja tak dapat digunakan menjadi metode eksklusi pada grup pasien anak dengan TB paucibasiller.
3.2 KESIMPULAN
Metode PCR dapat dipertimbangkan sebagai alternatif metode penegakan diagnostik TB, dilihat dari beberapa keunggulannya yaitu sensitivitas dan spesivisitas yang relatif lebih baik dibandingkan metode diagnostik TB konvensional. Namun, studi-studi tentang efektivitas biaya dan operasional masih sangat diperlukan untuk memperkuat data-data yang dapat mendukung aplikasi metode PCR khususnya di Negara-Negara dengan beban penyakit TB yang tinggi disebabkan biaya dan keterampilan petugas serta standardisasi metode.
Sebagai catatan, sensitivitas dan spesifisitas penggunaan metode PCR untuk diagnosis TB pada anak umumnya tidak sebaik pada penggunaannya pada pasien TB dewasa. Hal ini disebabkan oleh,
1. Kesulitan pengambilan sampel yang ideal pada anak, yaitu pengambilan spesimen sputum, yang lebih sulit daripada pada pasien TB dewasa. 2. Berbeda pada tampilan klinis TB pada pasien dewasa yang umumnya
pulmoner, tampilan klinis TB pada anak didominasi TB ekstrapulmoner. Hal ini berdampak pada keputusan pemilihan spesimen yang ideal untuk pemeriksaan mikrobiologis, maupun dengan metode PCR.
Sementara pada penderita TB-HIV, beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa yield untuk pemeriksaan mikrobiologis pengecatan sputum BTA memang rendah. Selain itu gambaran radiologis maupun gejala klinis untuk populasi penderita ini sering tidak khas, di samping diagnosis baku emas TB yaitu kultur yang membutuhkan waktu lama, 3-6 minggu sedangkan penurunan kondisi penderita TB-HIV khususnya TB milier(blood stream) berlangsung cepat dan angka mortalitasnya tinggi. Pemeriksaan PCR dapat menjadi sarana diagnosis penunjang yang baik dalam membantu menegakkan diagnosis TB pada penderita TB-HIV.