Dalam bab ini akan diuraikan tentang berbagai kesenjangan yang timbul antara tinjauan teoritis, dan tinjauan kasus. Dalam pembahasan bab ini juga akan diidentifikasikan berbagai faktor penunjang, dan penghambat dari asuhan keperawatan serta
pemecahan masalah dalam memberikan asuhan keperawatan ditiap-tiap tahapannya, yaitu : pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan keperawatan, dan evaluasi keperawatan.
Bab V : KESIMPULAN dan SARAN
Bab ini merupakan kesimpulan tentang asuhan keperawatan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar pada pasien dengan
Congestive Heart Failure (CHF) serta permasalahan yang timbul.
Selain itu, diuraikan saran yaitu tentang harapan dan masukan dari penulis yang berhubungan dengan asuhan keperawatan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar pada pasien dengan
Congestive Heart Failure (CHF) yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan, dan perawatan yang diberikan oleh perawat untuk pasien.
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
8 BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Congestive Heart Failure (CHF) 1. Pengertian
Berikut ini adalah pengertian tentang CHF menurut beberapa ahli dan sumber diantaranya adalah :
a. Congestive Heart Failure (CHF) adalah keadaan ketika jantung tidak mampu lagi memompakan darah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi tubuh untuk keperluan metabolisme jaringan tubuh pada kondisi tertentu, sedangkan tekanan pengisian ke dalam jantung masih cukup tinggi (Aspiani, 2015).
b. Gagal jantung adalah suatu kondisi patofisiologi ketika jantung tidak dapat memompa darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh (Black, 2009).
c. Congestive Heart Failure (CHF) adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan (Smeltzer, 2017).
d. Gagal jantung adalah kondisi dimana jantung tidak mampu memompa darah dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi tubuh untuk keperluan metabolisme dan oksigen (Nugroho, 2011).
e. Gagal jantung adalah suatu sindrom klinis kompleks, yang didasari oleh ketidakmampuan jantung untuk memompakan darah keseluruh jaringan tubuh secara adekuat, akibatnya adanya gangguan struktural dan fungsional dari jantung (Sudoyo, 2011).
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa CHF adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh, sehingga tidak memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh atau terjadinya defisit penyaluran oksigen ke organ tubuh.
2. Klasifikasi
Pada CHF terjadi manifestasi gabungan gagal jantung kiri dan kanan. New York Heart Association (NYHA) membuat klasifikasi fungsional dalam 4 kelas :
Tabel 2.1 Klasifikasi penyakit gagal jantung kongestif sesuai dengan kelasnya
Klasifikasi Karakteristik
Kelas I Tidak ada batasan aktivitas fisik
Aktivitas fisik yang biasa tidak menyebabkan dispnea napas, palpitasi, atau keletihan berlebihan
Kelas II Gangguan aktivitas fisik ringan Merasa nyaman ketika beristirahat
Aktivitas fisik biasa menimbulkan keletihan, dan palpitasi Kela III Keterbatasan aktivitas fisik yang nyata
Merasa nyaman ketika beristirahat
Aktivitas fisik yang tidak biasanya menyebabkan dispnea napas, palpitasi, atau keletihan berlebihan
Kelas IV Tidak dapat melakukan aktivitas fisik apapun tanpa merasa tidak nyaman
Gejala gagal jantung kongestif ditemukan bahkan pada saat istirahat
Ketidaknyaman semakin bertambah ketika melakukan aktivitas fisik apapun
Sumber: Aspiani, 2015
3. Etiologi
Menurut Asikin (2016). Mekanisme fisiologis yang dapat menyebabkan timbulnya gagal jatung yaitu kondisi yang meningkatkan preload, afterload, atau yang menurunkan kontraktilitas miokardium. Kondisi yang meningkatkan preload, misalnya regurgitasi aorta dan cacat septum ventrikel. Afterload meningkat pada kondisi dimana terjadi stenosis aorta atau dilatasi ventrikel. Pada infrak miokard dan kardiomiopati, kontraktilitas miokardium dapat menurun. Terdapat faktor fisiologis lain yang dapat menyebabkan jantung gagal sebagai pompa, anatara lain adanya gangguan pengisian ventrikel (stenosis katup atrioventrikularis), serta adanya gangguan pada pengisian dan ejeksi ventrikel (perikarditis konstriktif dan tamponade jantung). Berdasarkan seluruh penyebab
tersebut, diduga yang paling mungkin terjadi yaitu pada setiap kondisi tersebut menyebabkan gangguan penghantaran kalsium didalam sarkomer, atau didalam sintesis, atau fungsi protein kontraktil.
Gagal jantung dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
a. Gagal jantung kiri (gagal jantung kongestif) , dibagi menjadi 2 jenis yang dapat terjadi sendiri atau bersamaan, diantaranya:
1) Gagal jantung sistolik yaitu ketidakmampuan jantung untuk menghasilkan output jantung yang cukup untuk perfusi organ vital.
2) Gagal jantung diastolik yaitu kongesti paru meskipun curah jantung dan output jantung normal.
b. Gagal jantung kanan, merupakan ketidakmampuan ventrikel kanan untuk memberikan aliran darah yang cukup sirkulasi paru pada tekanan vena sentral normal.
Tabel 2.2 Penyebab gagal jantung berdasarkan jenisnya Jenis gagal jantung Penyebab Gagal jantung kiri Gagal jantung sistolik Diabetes melitus
Hipertensi Penyakit katup jantung Aritmia Infeksi dan inflamasi (miokarditis) Kardiomiopati peripartum/ idiopatik Penyakit jantung koroner Penyakit jantung kongenital Penyakit endokrin, kondisi neuromuskular, dan penyakit reumatologi
Jenis gagal jantung Penyebab Gagal jantung kiri Gagal jantung diastolik Penyakit jantung
koroner Diabetes melitus Hipertensi Penyakit katup jantung (stenosis aorta) Kardiomiopati restriktif/ hipertrofi Perikarditis kontstriktif
Gagal jantung kanan Gagal ventrikel kiri Penyakit jantung koroner Hipertensi pulmonal Stenosis katup pulmonalis Emboli paru Penyakit paru kronis Penyakit neuromuskular Sumber: Asikin, 2016
Tabel 2.3 Penyebab gagal jantung berdasarkan kalainannya Penyebab gagal jantung Deskripsi Kelainan mekanik Peningkatan beban tekanan
Sentral (stenosis aorta, dan lain-lain)
Perifer (hipertensi sistemik, dan lain-lain)
Peningkatan beban volume (regurgitasi katup, pirau, peningkatan beban awal, dan lain-lain)
Obstruksi terhadap pengisian ventrikel (stenosis mitral atau trikuspid)
Tamponade perikardium
Pembatasan miokardium atau endokardium
Aneurisme ventrikel Disinergi ventrikel Kelainan miokardium Primer
Kardiomiopati Miokarditis
Kelainan metabolik
Toksisitas (alkohol dan kobalt) Presbikardia
Penyebab gagal jantung Deskripsi
Kelainan disdinamik sekunder (akibat kelainan mekanik)
Deprivasi oksigen (penyakit jantung koroner)
Kelainan metabolik Peradangan Penyakit sistemik
Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
Perubahan irama jantung atau urutan hantaran
Terjadi fibrilasi
Takikardia atau bradikardia ekstrem
Arus listrik yang tidak sinkron (gangguan konduksi)
Sumber: Asikin, 2016
4. Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Dasar a. Kebutuhan dasar manusia
Menurut Potter dan Perry (2012). Handerson melihat manusia sebagai individu yang membutuhkan bantuan untuk meraih kesehatan, kebebasan atau kematian yang damai, serta bantuan untuk meraih kemandirian. Menurut Handerson, kebutuhan dasar manusia terdiri atas 14 komponen yang merupakan komponen penanganan perawatan. Ke-14 kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :
1) Bernafas secara normal (kebutuhan oksigenasi).
2) Makan dan minum dengan cukup (kebutuhan nutrisi dan cairan). 3) Membuang kotoran tubuh (kebutuhan eliminasi).
4) Bergerak dan menjaga posisi yang diinginkan (kebutuhan aktivitas).
5) Tidur dan istirahat (kebutuhan aktivitas).
6) Memilih pakaian yang sesuai (kebutuhan personal hygiene). 7) Menjaga suhu tubuh tetap dalam batas normal dengan
menyesuaikan pakaian dan mengubah lingkungan (kebutuhan cairan).
8) Menjaga tubuh tetap bersih dan terawat serta melindungi integumen (kebutuhan personal hygiene).
9) Menghindari bahaya lingkungan yang bisa melukai (kebutuhan aman nyaman).
10) Berkomunikasi dengan orang lain dalam mengungkapkan emosi, kebutuhan, rasa takut atau pendapat (kebutuhan psikososial). 11) Beribadah sesuai dengan keyakinan (kebutuhan spiritual).
12) Bekerja dengan tata cara yang mengandug unsur prestasi (kebutuhan belajar).
13) Bermain atau terlibat dalam berbagai kegiatan rekreasi (kebutuhan bermain).
14) Belajar mengetahui atau memuaskan rasa penasaran yang menuntun pada perkembangan normal dan kesehatan serta menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia (kebutuhan belajar).
Keempat belas kebutuhan dasar manusia di atas dapat diklasifikasikan menjadi empat kategori, yaitu komponen kebutuhan biologis, psikologis, sosiologis, dan spiritual. Kebutuhan dasar poin 1-9 termasuk komponen kebutuhan biologis. Poin 10 dan 14 termasuk komponen kebutuhan psikologis. Poin 11 termasuk kebutuhan spiritual. Sedangkan poin 12 dan 13 termasuk komponen kebutuhan sosiologis. Handerson juga menyatakan bahwa pikiran dan tubuh manusia tidak dapat dipisahkan satu sama lain (inseparable). Sama hal dengan pasien dan keluarga, mereka merupakan satu kesatuan (unit).
b. Berikut ini akan diuraikan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar yang terjadi pada CHF menurut Kasron (2012), yaitu :
1) Kebutuhan oksigen
Kebutuhan oksigen merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, mempertahankan hidup dan aktivitas berbagai organ atau sel. Pada pasien CHF gangguan kebutuhan oksigenasi terjadi karena adanya kegagalan pada fungsi ventrikel yang menyebabkan hambatan pengosongan ventrikel, dan pompa jantung meningkat,
hal ini akan menurunkan kemampuan jantung memompa atau disebut dengan penurunan curah jantung. Kemampuan jantung memompa mengakibatkan adanya bendungan pada paru-paru dan ini mengakibatkan gangguan pertukaran gas.
Apabila suplai darah tidak lancar di paru-paru (darah tidak masuk ke jantung), menyebabkan penimbunan cairan di paru-paru yang dapat menurunkan pertukaran O2 dan CO2 antara udara dan darah di paru-paru. Sehingga oksigenasi arteri berkurang dan terjadi peningkatan CO2, yang akan membentuk asam didalam tubuh. Situasi ini akan memberikan suatu gejala sesak napas (dyspnea),
ortopnea (dyspnea saat berbaring) terjadi apabila aliran darah dari
ekstrimitas meningkatkan aliran balik vena ke jantung dan paru-paru.
2) Kebutuhan cairan dan elektrolit
Kebutuhan cairan dan elektrolit merupakan suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespon terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Pada pasien CHF menurunnya kemampuan kontraktilitas jantung, sehingga darah yang dipompa pada setiap kontriksi menurun dan menyebabkan penurunan darah keseluruh tubuh. Apabila suplai darah kurang ke ginjal akan mempengaruhi mekanisme pelepasan
renin-angiotensin dan akhirnya terbentuk angiotensi II
mengakibatkan terangsangnya sekresi aldosteron dan menyebabkan retensi natrium dan air, perubahan tersebut meningkatkan cairan ektraintravaskuler sehingga terjadi kelebihan volume cairan dan tekanan selanjutnya terjadi edema. Edema perifer terjadi akibat penimbunan cairan dalam ruang interstial. 3) Kebutuhan aktivitas
Kebutuhan aktivitas merupakan suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan kegiatan dengan bebas. Pada pasien CHF gagal pompa ventrikel mengakibatkan forward failure sehingga curah jantung menurun maka suplai darah kejaringan menurun, nutrisi dan
oksigen sel menurun, metabolisme sel menurun maka terjadi lemah dan letih sehingga terjadi intoleransi aktifitas.
Kebutuhan aktivitas ini berdampak pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari, yaitu: pemenuhan kebutuhan personal hygiene karena kelelahan, kelemahan dalam melakukan aktivitas, pemenuhan kebutuhan eliminasi karena penurunan frekuensi berkemih di siang hari dan peningkatan frekuensi berkemih pada malam hari (nokturia), pemenuhan kebutuhan psikososial karena tidak mampu berinteraksi.
4) Kebutuhan istirahat dan tidur
Istirahat adalah suatu keadaan tenang, rileks, tanpa tekanan emosional, dan bebas dari perasaan gelisah. Tidur adalah status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun. Pada pasien CHF terjadi gagal pompa ventrikel kiri sehingga suplai O2 dalam tubuh akan berkurang maka peningkatan RR (Respiratory Rate) mengakibatkan sesak terjadi peningkatan pada malam hari, ortopnea (sesak saat berbaring) sehingga pasien sering terbangun maka terjadi gangguan istirahat tidur. Kebutuhan istirahat dan tidur ini berdampak pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari, yaitu: bekerja, belajar, dan bermain karena menurunnya sumber energi.
5. Manifestasi Klinik
Menurut Kasron (2012) manifestasi klinik dari CHF tergantung ventrikel mana yang terjadi.
a. Gagal jantung kiri
Manifestasi kliniknya antara lain: 1) Dispneu
Terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli dan menganggu pertukaran gas dan dapat mengakibatkan ortopnea (kesulitan
bernafas saat berbaring) yang dinamakan paroksimal nokturnal
dispnea (PND).
2) Mudah lelah
Terjadi karena curah jantung kurang yang menghambat jaringan dari sirkulasi normal dan oksigen serta menurunnya pembuangan sisa hasil katabolisme.
3) Sianosis
Terjadi karena kegagalan arus darah ke depan (forwad failure) pada ventrikel kiri menimbulkan tanda-tanda berkurangnya perfusi ke organ-organ seperti : kulit, dan otot-otot rangka
4) Batuk
Batuk bisa kering dan tidak produktif, tetapi yang tersering adalah batuk basah yaitu batuk yang menghasilkan sputum berbusa dalam jumlah banyak yang kadang disertai bercak darah. Batuk ini disebabkan oleh kongesti cairan yang mengadakan rangsangan pada bronki.
5) Denyut jantung cepat (Takikardi)
Terjadi karena jantung memompa lebih cepat untuk menutupi fungsi pompa yang hilang, irama gallop umum dihasilkan sebagai aliran darah ke dalam serambi yang distensi.
b. Gagal jantung kanan
Manifestasi kliniknya antara lain :
1) Edema ekstremitas bawah atau edema dependen
2) Hepatomegali, dan nyeri tekan pada kuadran kanan batas abdomen
3) Anoreksia, dan mual yang terjadi akibat pembesaran vena dan status vena di dalam rongga abdomen
4) Rasa ingin kencing pada malam hari yang terjadi karena perfusi renal
5) Badan lemah yang diakibatkan oleh menurunnya curah jantung, gangguan sirkulasi, dan pembuangan produk sampah katabolisme yang tidak adekuat dari jaringan.
6) Tekanan perfusi ginjal menurun mengakibatkan terjadinya pelepasan renin dari ginjal yang menyebabkan sekresi aldosteron, retensi natrium, dan cairan, serta peningkatan volume intravaskuler
7) Edema paru akibat peningkatan tekanan vena pulmonalis, sehingga cairan mengalir dari kapiler paru ke alveoli
6. Komplikasi
Menurut LeMone (2016). Mekanisme kompensasi yang dimulai pada gagal jantung dapat menyebabkan komplikasi pada sistem tubuh lain. Hepatomegali kongestif dan splenomegali kongestif yang disebabkan oleh pembengkakkan sistem vena porta menimbulkan peningkatan tekanan abdomen, asites, dan masalah pencernaan. Pada gagal jantung sebelah kanan yang lama, fungsi hati dapat terganggu. Distensi miokardium dapat memicu disritmia, mengganggu curah jantung lebih lanjut. Efusi pleura dan masalah paru lain dapat terjadi. Komplikasi mayor gagal jantung berat adalah syok kardiogenik dan edema paru. Gagal jantung kongestif dapat menyebabkan komplikasi pada sistem tubuh lain, yaitu:
a. Sistem kardiovaskuler:
Angina, disritmia, kematian jantung mendadak, dan syok kardiogenik. b. Sistem pernapasan:
Edema paru, pneumonia, asma kardiak, efusi pleura, pernapasan
Cheyne-Stokes, dan asidosis respiratorik.
c. Sistem pencernaan:
Malnutrisi, asites, disfungsi hati.
7. Penatalaksanaan dan Terapi
Penatalaksanaan CHF bertujuan untuk menurunkan kerja jantung, meningkatkan curah jantung dan kontraktilitas miokard, dan menurunkan
retensi garam dan air (Aspiani, 2015). Penatalaksanaan CHF dibagi 2, yaitu:
a. Penatalaksanaan keperawatan
1) Memperbaiki kontraksi miokard/ perfusi sistemik: a) Istirahat total/ tirah baring dalam posisi semi fowler. b) Memberikan terapi oksigen sesuai dengan kebutuhan.
c) Memberikan terapi medis: digitalis untuk memperkuat kontraksi otot jantung.
2) Menurunkan volume cairan yang berlebihan:
a) Memberikan terapi medik: diuretik untuk mengurangi cairan di jaringan.
b) Mencatat asupan dan haluaran. c) Menimbang berat badan.
d) Restriksi garam/ diet rendah garam. 3) Mencegah terjadinya komplikasi pascaoperasi:
a) Mengatur jadwal mobilisasi secara bertahap sesuai keadaan pasien.
b) Mencegah terjadinya imobilisasi akibat tirah baring. c) Mengubah posisi tidur.
d) Memperbaiki efek samping pemberian medika mentosa; keracunan digitalis.
e) Memeriksa atau mengobservasi EKG.
4) Pendidikan kesehatan yang menyangkut penyakit, prognosis, obat-obatan serta pencegahan kekambuhan:
a) Menjelaskan tentang perjalanan penyakit dan prognosis, kegunaan obat-obatan yang digunakan, serta memberikan jadwal pemberian obat.
b) Mengubah gaya hidup/ kebiasaan yang salah, seperti: merokok, stress, kerja berta, minuman alkohol, makanan tinggi lemak dan kolesterol.
c) Menjelaskan tentang tanda dan gejala yang menyokong terjadinya gagal jantung, terutama yang berhubungan dengan
kelelahan, berdebar-debar, sesak napas, anoreksia, dan keringat dingin.
d) Menganjurkan untuk kontrol semua secara teratur walaupun tanpa gejala.
e) Memberikan dukungan mental; klien dapat menerima keadaan dirinya secara nyata/ realitas akan dirinya baik. b. Penatalaksanaan kolaboratif
1) Pemberian diuretik akan menurunkan preload dan kerja jantung 2) Pemberian morfin untuk mengatasi edema pulmonal akut,
vasodilatasi perifer, menurunkan aliran balik vena dan kerja jantung, menghilangkan ansietas karena dispnea berat.
3) Reduksi volume darah sirkulasi
Dengan metode plebotomi, yaitu suatu prosedur yang bermanfaat pada pasien dengan edema pulmonal akut karena tindakan ini dengan segera memindahkan volume darah dari sirkulasi sentral, menurunkan aliran balik vena dan tekanan pengisian serta sebaliknya menciptakan masalah hemodinamik segera.
4) Terapi nitrit untuk vasodilatasi perifer guna menurunkan afterload.
5) Terapi digitalis obat utama untuk meningkatkan kontraktilitas (inotropik), memperlambat frekuensi ventrikel, peningkatan efisiensi jantung.
6) Inotropik positif a) Dopamin
Pada dosis kecil 2,5-5 mg/kg akan merangsang alfa-adrenergik beta-adrenergik. Reseptor dopamin ini mengakibatkan keluarnya katekolamin dari sisi penyimpanan saraf. Memperbaiki kontraktilitas curah jantung isi sekuncup. Dilatasi ginjal-serebral dan pembuluh koroner. Pada dosis maksimal 10-20 mg/kg BB akan menyebabkan vasokonstriksi dan meningkatkan beban kerja jantung. b) Dobutamin
Merangsang hanya beta-adrenergik. Dosis mirip dopamin memperbaiki isi sekuncup, curah jantung dengan sedikit vasokonstriksi dan takikardia.
B. Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Congestive Heart Failure (CHF)
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses pengumpulan data yang sistematis dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan pasien. Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu (pasien) (Nursalam, 2008).
Pengkajian keperawatan pada pasien dengan Congestive Heart Failure (CHF) menurut Aspiani, 2015; Asikin, 2016 sebagai berikut:
a. Identitas pasien
Nama, alamat, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, diagnosa medis, tanggal masuk rumah sakit, dan nomor medical record.
b. Pengkajian Bio-Psiko-Sosial-Spiritual 1) Aktivitas dan istirahat
a) Gejala:
Cepat lelah, kelelahan sepanjang hari, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari misalnya: membersikan tempat tidur dan menaiki tangga, intoleransi aktivitas, dispnea saat istirahat atau beraktivitas, insomnia, tidak mampu untuk tidur telentang.
b) Tanda:
Toleransi aktivitas terbatas, kelelahan, gelisah, perubahan status mental misalnya: ansietas dan latergi, perubahan tanda-tanda vital saat beraktivitas.
a) Gejala:
Riwayat hipertensi, infark miokard baru atau akut, episode gagal jantung sebelumnya, penyakit katup jantung, bedah jantung, endokarditis, lupus eritematosus sistemik, anemia, syok sepsis, pembengkakan pada tungkai, dan distensi abdomen.
b) Tanda:
Tekanan darah rendah akibat kegagalan pompa jantung, denyut nadi teraba lemah, denyut dan irama jantung takikardia; disritmia, nadi apikal titik PMI menyebar dan bergerak ke arah kiri, bunyi jantung S1 dan S2 terdengar lemah; S3 gallop terdiagnosis GJK; S4 dengan hipertensi dan murmur sistolik diastolik dapat menandakan adanya stenosis yang menyebabkan GJK, denyut nadi perifer berkurang; nadi sentral teraba kuat, kulit pucat; berwarna abu-abu; sianosis, kuku pucat dengan pengisian kapiler yang lambat, pembesaran hati teraba, edema dependen, dan terdapat distensi vena jugularis. 3) Integritas ego
a) Gejala:
Ansietas, stres yang berhubungan dengan penyakit atau kondisi finansial
b) Tanda:
Berbagai macam menifestasi misalnya: ansietas, marah, takut, dan iritabilitas (mudah tersinggung).
4) Eliminasi a) Gejala:
Penurunan frekuensi berkemih, urine berwarna gelap, berkemih di malam hari.
b) Tanda:
Penurunan frekuensi berkemih di siang hari dan peningkatan frekuensi berkemih pada malam hari (nokturia).
a) Gejala:
Riwayat diet tinggi garam; lemak; gula; serta kafein, penurunan nafsu makan, anoreksia, mual, muntah.
b) Tanda:
Edema di ekstremitas bawah, edema dependen, edema pitting, distensi abdomen menandakan adanya asites atau pembengkakan hati.
6) Hygiene a) Gejala:
Kelelahan, kelemahan selama melakukan aktivitas. b) Tanda:
Penampilan mengindikasikan adanya kelalaian dalam perawatan diri.
7) Neurosensori a) Gejala:
Kelelahan, pusing, pingsan. b) Tanda:
Latergi, kebingungan, disorientasi, perubahan perilaku, iritabilitas (mudah tersinggung).
8) Nyeri/ ketidaknyamanan a) Gejala:
Nyeri dada, angina akut atau angina kronis, nyeri abdomen bagian kanan atas (gagal jantung kanan), nyeri otot.
b) Tanda:
Gelisah, fokus berkurang dan menarik diri, menjaga perilaku.
9) Pernapasan a) Gejala:
Dispnea saat beraktivitas atau istirahat, dispnea pada malam hari sehingga mengganggu tidur, tidur dengan posisi duduk atau dengan sejumlah bantal, batuk dengan atau tanpa produksi
sputum terutama saat posisi rekumben, penggunaan alat bantu nafas misalnya oksigen atau obat-obatan.
b) Tanda:
Takipnea, nafas dangkal, penggunaan otot bantu nafas, pernafasan cuping hidung, batuk moist pada gagal jantung kiri, pada sputum terdapat darah berwatna merah muda dan berbuih (edema pulmonal), bunyi nafas terdengar lemah dengan adanya krakels dan mengi, penurunan proses berpikir; letargi; kegelisahan, pucat atau sianosis.
10) Keamanan a) Tanda:
Perubahan proses berpikir dan kebingungan, penurunan kekuatan dan tonus otot, peningkatan resiko jatuh, kulit lecet, ruam.
c. Pemeriksaan fisik 1) Inspeksi:
a) Respirasi meningkat, dispnea.
b) Batuk kering, sputum pekat, bercampur darah. c) Vena leher dengan JVP meningkat.
d) Kulit bersisik, pucat. e) Edema kaki, skrotum. f) Asites abdomen. 2) Palpasi:
a) Jantung, PMI bergeser ke kiri, inferior karena dilatasi atau hipertrofi ventrikel.
b) Pulsasi perifer menurun.
c) Hati teraba di bawah arkus kosta kanan.
d) Denyut jantung meningkat indikasi tekanan vena porta sistemik meningkat.
e) Edema menyebabkan piting. 3) Auskultasi:
a) Suara paru menurun, basilar rates mengakibatkan cairan pada jaringan paru.
b) Suara jantung dengan S1, S2 menurun. Kontraksi miokard menurun. S3 meningkat, volume sisa meningkat, murmur terkadang juga terjadi.
d. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan Congestive Heart Failure (CHF) adalah:
1) Pemeriksaan laboratorium :
a) Enzym hepar: meningkat dalam gagal jantung kongestif. b) Elektrolit: berubah karena perpindahan cairan, penurunan
fungsi ginjal.
c) AGD (Analisa Gas Darah): gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis respiratorik ringan atau hipoksemia dengan peningkatan p (partial pressure of carbon dioxide).
d) Albumin: menurun sebagai akibat penurunan masukan protein. 2) Radiologi, yaitu Rongent Thorax :
a) Bayangan hulu paru yang tebal dan melebar, kepadatan makin ke pinggir berkurang.
b) Lapang paru bercak-bercak karena edema paru. c) Distensi vena paru.
d) Hidrotoraks.
e) Pembesaran jantung, rasio kardio-toraks meningkat. 3) EKG
Dapat ditemukan kelainan primer jantung (iskemik, hipertrofi ventrikel, gangguan irama) dan tanda-tanda faktor pencetus akut (infark miokard, emboli paru).
4) Ekokardiografi
Untuk deteksi gangguan fungsional serta anatomis yang menjadi penyebab gagal jantung.
Pada gagal jantung kiri didapatkan (VEDP) 10 mmHg atau
pulmonary arterial wedge pressure > 12 mmHg dalam keadaan
istirahat. Curah jantung lebih rendah dari 2,71/menit/ luas permukaan tubuh.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah keputusan pasien mengenai respon individu (pasien dan masyarakat) tentang masalah kesehatan aktual atau potensial sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat (Nursalam, 2008).
Diagnosa keperawatan pada pasien CHF menurut Asikin (2016), yaitu: a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakmampuan
jantung memompakan sejumlah darah untuk mencukupi kebutuhan jaringan tubuh.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler alveolus.
c. Volume cairan berlebihan berhubungan dengan menurunnya curah jantung/ meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium dan air. d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai