• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

4.1 Hasil Penelitian

Dilakukan skrining untuk mencari penderita migren pada 6 sekolah, yaitu 3

SLTA serta 3 SLTP sederajat di Medan, Sumatera Utara. Dari 2050 remaja

yang diskrining, terdapat 1654 remaja dengan nyeri kepala berulang; 208

remaja yang menderita migren sesuai kriteria IHS, namun hanya 98 orang

yang bersedia mengikuti penelitian. Sebanyak 110 orang remaja tidak

dimasukkan ke dalam penelitan. Sampel setelah dirandomisasi sederhana

dibagi menjadi dua kelompok. Sebanyak 50 orang dalam kelompok

amitriptilin dan 48 orang kelompok plasebo. Seluruh sampel penelitian,

mengikuti penelitian hingga akhir.

 90 orang menolak

ikut penelitian

 13 orang obesitas

 7 orang nyeri kepala

setiap hari 2050 pelajar SLTP/SLTA

1654 orang nyeri kepala 208 orang sesuai kriteria IHS

98 orang 50 orang dianalisis 50 orang Grup amitriptilin 48 orang dianalisis 48orang Grup plasebo

Tabel 4.1. Karakteristik sampel penelitian

Karakteristik Amitriptilin (n=50) Plasebo (n=48) Usia, mean (SD), tahun

Jenis kelamin, n (%) Laki-laki Perempuan

Berat badan, mean (SD), kg

Faktor makanan sebagai pencetus, n (%) Tidak ada pencetus

Pencetus (kopi, coklat, daging, mie kering berpengawet, MSG) Migren, n (%) Tanpa aura Dengan aura Frekuensi Durasi <1 jam 1-2 jam > 2 jam PedMIDAS, mean (SD) Tingkatan PedMIDAS (%) ≤30 31 - 50 14.96(1.53) 23 (23.5) 27 (27.6) 43.94 (7.92) 11 (11.2) 39 (39.8) 44 (44.9) 6 (6.1) 5.8 (3.01) 8 (16.0) 22 (44.0) 20 (40.0) 34.82 (4.13) 8 (16.0) 42 (84.0) 15.46 (1.48) 7 (7.1) 41 (41.8) 48.27 (7.39) 17 (17.4) 31 (31.6) 31 (31.6) 17 (17.4) 4.9 (2,96) 15 (31.2) 21 (43.8) 12 (25,0) 34.44 (3.33) 3 (6.3) 45 (93.8)

Dari karakteristik sampel pada masing-masing kelompok sebelum

intervensi (tabel 4.1), tampak bahwa terdapat 69.4% remaja perempuan

mengalami migren, dibanding remaja laki-laki (30.6%). Sebanyak 76.5%

remaja migren tanpa aura dan 23.5% migren dengan aura. Faktor makanan

juga berpengaruh terhadap timbulnya migren, faktor pencetus makanan

monosodium glutamat sebanyak 70 remaja (71.4%) pada kedua kelompok.

Nilai rata-rata pedMIDAS antara 2 kelompok hampir sama yaitu 34.82 pada

kelompok amitriptilin dan 34.44 pada kelompok plasebo, dan dengan

tingkatan PedMIDAS yang berkisar antara 31 sampai 50, termasuk disabilitas

sedang.

Tabel 4.2. Frekuensi dan beratnya serangan migren sebelum dan setelah pengobatan 3 bulan Amitriptilin Plasebo Parameter Mean (SD) IK 95% P Mean (SD) IK 95% P Frekuensi Sebelum Setelah 5.80 (3.01) 4.32 (2.07) 4.9 (2.96) 4.85 (2.94) PedMIDAS Sebelum Setelah 34.82(4.13) 26.12 (3.81) 34.44(3.33) 34.35 (3.38) 2.023;2.937 0.001 7.644;9.756 0.001 -0.017;0.10 0.159 -0.017;0.184 0.103

Pada tabel 4.2 tampak penurunan frekuensi migren yang signifikan

setelah pengobatan selama 3 bulan dari kelompok amitriptilin yaitu dari 5.8

(SD 3.01) menjadi 4.32 (SD 2.07) sedangkan pada kelompok plasebo tidak

terdapat perbedaan bermakna yaitu dari 4.9 (SD 2.96) menjadi 4.85 (SD

2.94). Dari skor PedMIDAS, juga tampak perbedaan yang signifikan sebelum

dan sesudah terapi amitriptilin yaitu dari 34.82 (SD 4.13) menjadi 26.12(SD

3.81) dibandingkan dengan kelompok plasebo dari 34.44 (SD 3.33) menjadi

Tabel 4.3. Perbandingan hasil penggunaan amitriptilin dan plasebo setelah 3 bulan Parameter Amitriptilin Plasebo IK 95% P Frekuensi, Mean (SD) Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 4.32 (2.57) 3.9 (1.17) 3.76 (1.26) 4.88 (2.89) 4.94 (2.93) 4.85 (2.94) (-2.539;-0.351) (0.151;1.924) (0.194;1.994) 0.010 0.022 0.018 PedMIDAS, Mean (SD) 26.12 (3.81) 34.35(3.38) (6.792;9.676) 0.001 Durasi, n (%) Bulan 1: < 1 jam 1 – 2 jam > 2 jam Bulan 2: < 1 jam 1 – 2 jam > 2 jam Bulan 3: < 1 jam 1 – 2 jam > 2 jam 10 (20.0) 23 (46.0) 17 (34.0) 25 (50.0) 23 (46.0) 2 (4.0) 34 (68.0) 16 (32.0) 0 (0) 15 (31.3) 20 (41.7) 13 (27.1) 17 (35.4) 19 (39.6) 12 (25.0) 18 (37.5) 22 (45.8) 8 (16.7) Tingkatan PedMIDAS, n(%) ≤ 30 31-50 47 (94.0) 3 (6.0) 7 (14.6) 41 (85.4) Efek samping, n (%) Tidak ada Mengantuk Berat badan naik Lain-lain 20 (40.0) 14 (28.0) 8 (16.0) 8 (16.0) 34 (70.8) 5 (10.4) 3 (6.3) 6 (12.5) (0.017;0.184) 0.163 (0.001;0.03) 0.01 (0.001;0.03) 0.001 (0.001;0.03) 0.001 (0.001;0.03) 0.001

Pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang

signifikan pada frekuensi nyeri kepala pada bulan 1, 2 dan 3 pengobatan

dengan amitriptilin dibanding plasebo dengan P=0.018 (IK 95%: 0.194;1.994).

Skor rerata PedMIDAS setelah 3 bulan pengobatan amitriptilin juga

95%: 6.792;9.676). Rerata durasi nyeri kepala pada bulan 1 tidak

menunjukkan perbedaan bermakna antara kedua kelompok (P=0.163; IK

95%: 0.017;0.184), sedangkan pada bulan kedua dan ketiga pengobatan,

rerata durasi nyeri kepala menunjukkan perbedaan yang bermakna antara

kedua kelompok (P<0.05). Ketika dibandingkan derajat PedMIDAS antara

kedua kelompok setelah terapi menunjukkan adanya perbedaan yang

signifikan antara kedua kelompok (P=0.001; IK 95%: 0.001;0.03), dimana

setelah pemberian terapi amitriptilin, terjadi penurunan derajat disabilitas.

Efek samping amitriptilin terutama mengantuk sebanyak 14 orang (28%),

diikuti dengan berat badan meningkat sebanyak 8 orang (16%), sedangkan

pada plasebo ditemukan mengantuk sebanyak 5 orang (10.4%) dan berat

BAB. 5. PEMBAHASAN

Migren pada anak merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian

besar. Hanya sedikit informasi mengenai pemberian terapi abortif dan

profilaktik serangan migren pada anak dan remaja. Pengobatan yang

diberikan pada dewasa belum tentu sesuai untuk anak dan remaja.10 Langkah

pertama untuk mencari penderita migren adalah dengan melakukan skrining,

sebab hanya sekitar 50% penderita migren yang datang ke dokter untuk

berobat.48 Suatu skrining dari 2165 anak sekolah usia 5 sampai 15 tahun

terdapat prevalensi penderita migren 11% dengan 53% perempuan.5 Dalam

sebuah penelitian lain di Bangkok, Thailand menemukan prevalensi migren

sebanyak 13.8% pada remaja setingkat SMP.50 Pada penelitian ini

menunjukkan bahwa prevalensi migren pada remaja usia 12 sampai 19 tahun

masih cukup tinggi, yaitu sebesar 10.2%

Insidens migren pada anak usia sekolah usia 7 hingga 15 tahun

adalah sekitar 4%, dimana perempuan lebih sering mengalaminya menjelang

remaja, sedangkan pada laki-laki kebanyakan terjadi pada usia kurang dari

10 tahun.18 Prevalensi migren pada anak perempuan (55%) dibandingkan

anak laki-laki (45%).10 Pada penelitian ini didapati sebanyak 69.4% remaja

wanita mengalami migren dibandingkan dengan remaja laki-laki, yaitu

Penyebab migren secara umum tidak diketahui, dan hanya sedikit

diketahui faktor-faktor resiko timbulnya migren pada anak, namun faktor

genetik diduga cukup berperan. Beberapa faktor yang dapat melewati

ambang migren pada anak dan remaja penderita migren termasuk stres, saat

menstruasi pada wanita, dan faktor makanan seperti coklat, kopi dan

lain-lain.7,18 Pada penelitian lain ditemukan sebanyak 75.6% anak menderita

migren dengan faktor pencetus.51 Pada penelitian ini faktor pencetus

termasuk makanan seperti kopi, coklat, daging, mie instan dan makanan

yang mengandung monosodium glutamat sangat berpengaruh terhadap

timbulnya migren pada anak, pada penelitian ini ditemukan 71.4%.

Jenis migren yang paling sering dijumpai pada anak dan remaja

adalah migren tanpa aura (70%).2 Pada sebuah penelitian di Finlandia,

didapati bahwa terjadi peningkatan insiden migren dengan aura dari 5.2 per

1000 orang pada tahun 1974 menjadi 41.3 per 1000 orang pada tahun 2002.

Peningkatan insiden migren tanpa aura juga terjadi yaitu dari 14.5 menjadi

91.9 per 1000 orang dalam kurun waktu tersebut.52 Suatu penelitian tentang

nyeri kepala di Cincinatti mendapati bahwa sebanyak 60.6% merupakan

migren tanpa aura, sedangkan 7.9% adalah migren dengan aura dan sisanya

jenis nyeri kepala yang lain.53 Pada penelitian ini didapati sebanyak 76.5%

penderita migren tanpa aura, dan 23.5% migren dengan aura.

Durasi nyeri kepala migren pada anak adalah berkisar 2 hingga 4 jam

profilaktik ditujukan pada mereka yang mengalami serangan nyeri kepala

yang sering, dan menyebabkan disabilitas.1,7 Jika migren timbul satu sampai

dua kali perbulan, biasanya tidak membutuhkan terapi profilaktik, tiga sampai

empat kali harus dipertimbangkan, serta jika timbul migren lima kali atau lebih

terapi harus diberikan.54 Pada penelitian ini didapati bahwa rata-rata durasi

nyeri kepala migren pada remaja adalah 1 hingga 2 jam dan lebih dari 2 jam,

dengan frekuensi nyeri kepala lebih dari 4 kali dalam 1 bulan.

Pemakaian beberapa obat sebagai terapi profilaktik migren pada anak

telah luas digunakan, akan tetapi masih sedikit data yang mendukung

efikasinya. Obat-obat yang telah digunakan luas sebagai profilaktik migren

pada anak dan remaja antara lain topiramat, asam valproat dan amitriptilin,

tetapi hingga saat ini belum ada obat yang disetujui oleh Food and Drugs

Administration (FDA) sebagai terapi profilaktik migren, oleh karena kurangnya

data, meskipun kebanyakan penelitian dengan obat tersebut menunjukkan

adanya penurunan frekuensi dan durasi nyeri kepala migren.13,55 Beberapa

konsorsium neurologi hanya merekomendasi beberapa obat sebagai

profilaktik pada anak yang menderita migren yaitu topiramat, asam valproat,

amitriptilin, dan siproheptadin.6 Pada penelitian ini kami menggunakan

amitriptilin sebab obat ini terjangkau dan penelitian dengan obat ini masih

sedikit diteliti.

Amitriptilin adalah obat golongan antidepresan trisiklik, yang memiliki

anak dimulai dengan 5 hingga 10 mg oral saat mau tidur.Untuk remaja dosis

awalnya adalah 10 mg oral. Rentang dosis 10 hingga 75 mg per hari cukup

efektif dalam mengurangi frekuensi migren.55 Lamanya pengobatan profilaktik

migren bervariasi antara 1 hingga 6 bulan, dan secara umum tampak

perbaikan sedikitnya dalam 1 hingga 2 bulan.6,14,39 Pada penelitian ini

digunakan amitriptilin dengan dosis rendah yaitu 10 mg per hari oral yang

diminum saat mau tidur malam. Dosis rendah dipertimbangkan untuk

mengurangi risiko efek samping yang lebih besar, dan mengurangi risiko drop

out anak yang mendapat terapi. Lama pengobatan pada penelitian ini adalah

3 bulan untuk memantau efek pengobatan.

Suatu penelitian di Virginia, yang bertujuan untuk melihat bentuk

pengobatan preventif pada anak, menunjukkan bahwa sebanyak 55% anak

yang menderita migren mendapat terapi preventif harian, dan obat yang

paling banyak digunakan adalah amitriptilin dan siproheptadin. Secara

keseluruhan respon positif untuk amitriptilin adalah 89%, sedang

siproheptadin 83% selama 6 bulan pemantauan. Frekuensi nyeri kepala

berkurang dari 10.9 kali per bulan (rentang 4 sampai 15 kali per bulan)

sebelum terapi, menjadi 4.1 kali per bulan (rentang 1 sampai 12 kali per

bulan) sesudah terapi, dimana terjadi penurunan sebanyak 62.4% pada

amitriptilin. Sedangkan pada pemakaian siproheptadin terjadi penurunan

sebesar 55%.9 Pada penelitian ini didapati penurunan frekuensi migren

terapi frekuensi nyeri kepala sebesar 5.80 per bulan (SD 3.01), sedangkan

sesudah terapi terjadi penurunan menjadi 4.32 per bulan (SD 2.07)

Suatu penelitian menggunakan amitriptilin pada anak yang nyeri

kepala berulang dengan dosis 1 mg/kgBB/hari, menunjukkkan bahwa

terdapat penurunan frekuensi, durasi dan keparahan nyeri kepala pada

84.2% anak yang mengalami nyeri kepala yang sering.53 Penelitian lain yang

membandingkan amitriptilin dengan propranolol selama 3 bulan menunjukkan

bahwa amitriptilin secara signifikan menurunkan keparahan, frekuensi dan

nyeri kepala migren, sedangkan pada pemberian propranolol hanya terjadi

penurunan keparahan nyeri kepala.56 Pada penelitian ini terjadi penurunan

yang signifikan dari frekuensi, durasi dan disabilitas akibat migren setelah

pemberian amitriptilin selama 3 bulan, baik dibandingkan sebelum

pengobatan maupun dibandingkan dengan pemberian plasebo.

Dalam 3 penelitian amitriptilin pada dewasa yang dibandingkan

dengan plasebo, menunjukkan bahwa amitriptilin efektif sebagai preventif

serangan migren dan berkaitan dengan efek anti depresi amitriptilin.57-59 Dari

penelitian ini didapati bahwa efek samping amitriptilin adalah mengantuk dan

peningkatan berat badan. Selama pengobatan tidak dijumpai drop out.

Kuesioner PedMIDAS merupakan pemeriksaan yang sensitif, reliabel,

dan valid untuk menilai disabilitas akibat nyeri kepala pada anak dan remaja.

Penilaian dengan PedMIDAS berhubungan dengan fungsi di sekolah dan

melaporkan terjadinya terdapat penurunan rerata 22.3 point dari skor

PedMIDAS setelah terapi profilaktik dan hal ini menunjukkan bahwa telah

terjadi penurunan disabilitas dengan pemberian terapi tersebut.46,47 Pada

penelitian ini terjadi penurunan rerata nilai PedMIDAS sebesar 7.30 point

menjadi 26.12 setelah pemberian amitriptilin, dan termasuk ke dalam

disabilitas ringan, bila dibandingkan dengan plasebo.

Farmakoterapi migren pada anak harus tetap memperhatikan manfaat dan keamanan obat, sehingga diperlukan penelitian dengan populasi yang

lebih besar.38 Amitriptilin terbukti bermanfaat dan aman sebagai pencegahan

serangan migren pada remaja, namun tetap mempertimbangkan efek

Dokumen terkait