Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisisr (PEMP) dimulai sejak tahun 2001, secara umum bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui penguatan permodalan, kelembagaan dan kegiatan usaha ekonomi produktif lainnya yang berbasis sumberdaya lokal dan berkelanjutan.
Pada awalnya program PEMP diinisiasi untuk mengatasi dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terhadap perekonomian masyarakat pesisir, yang difokuskan pada penguatan modal melalui perguliran Dana Ekonomi Produktif (DEP). Pengelolaan DEP dilakukan oleh Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) dibentuk sebagai perusahaan milik masyarakat pesisir. Sumber dana program ini berasal Program Konpensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM).
Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) diarahkan untuk berubah menjadi Koperasi LEPP-M3 yang berbadan hukum. Badan usaha Koperasi Mitra Mina Sejahtera di tetapkan di dalam Pedoman Umum Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) tahun 2004. Koperasi Mitra Mina sejahtera dengan Badan Hukum Nomor : 518/70/BH/PMK.PKM/VII/2004 tertanda tanggal 1 juli 2004.
Unit-unit usaha Koperasi Mitra Mina Sejahtera Kabupaten Deli Serdang yang telah berjalan sampai saat ini adalah :
1. unit usaha penangkapan ikan
Gambar 2. Unit Usaha Penangkapan Ikan
Gambar 3. Pengelola PEMP Melakukan Jual Beli Hasil Tangkapan Nelayan PEMP di Unit Usaha Penangkapan Ikan
Gambar 4. Pengelola PEMP Melakukan Pemilihan Terhadap Setiap Jenis Tangkapan Nelayan
Berdasarkan hasil penilaian terhadap kinerja dan aspek legalitas LEPP-M3 yang dinilai lemah, maka mulai tahun 2004 lembaga ini memiliki badan hukum koperasi. Peningkatan status kelembagaan ini diiringi oleh perubahan sistem penyaluran dan status DEP yang semula berstatus sebagai dana bergulir yang dikelola oleh lembaga LEPP-M3 menjadi dana hibah kepada koperasi yang dijaminkan kepada perbankan.
Selanjutnya dana yang dikeluarkan oleh perbankan berstatus kredit/pinjaman yang dikelola oleh Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Swamitra Mina yaitu salah satu unit usaha milik Koperasi LEPP-M3 dibidang keuangan yang pembentukan serta pengelolaannya bekerjasama dengan Bank BUKOPIN. Fungsi utama LKM adalah menjebatani keperluan permodalan masyarakat pesisir dengan lembaga pembiayaan/perbankan. Penyaluran DEP yang semula melalui perguliran berubah menjadi pengaksesan dengan mulai pengembangan bunga dan anggunan. Proses penyaluran DEP dapat dilihat pada skema sebagai berikut :
Gambar 7. Skema Proses Penyaluran DEP
1 4 3 2 5 6 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota Koperasi LEPP-M3
/koperasi perikanan DaerahKPPN
Dari gambar 7 dapat dilihat bahwa proses penyaluran DEP saling berhubungan disetiap lembaga yang terkait yaitu :
1. Koperasi mengajukan permohonan kepada Dinas selanjutnya Dinas memberikan rekomendasi.
2. Selain mengajukan permohonan kepada Dinas, Koperasi juga mengajukan permohonan pembukaan rekening kepada Bank pelaksana pusat dan menandatangani seluruh dokumen perjanjian yang diperlukan oleh Bank pelaksana pusat.
3. Bank pelaksana pusat bersama-sama dengan Dinas melengkapi kelengkapan permohonan dari Koperasi.
4. Permohonan disetujui oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan diketahui oleh Kepala Dinas untuk diajukan ke Bank pelaksana daerah dengan melampirkan :
a. surat perjanjian pemberian DEP antara KPA dengan ketua Koperasi yang diketahui oleh Kepala Dinas
b. surat keputusan dari Dinas tentang penetapan Koperasi c. surat pernyataan penjaminan Koperasi
d. kuitansi tanda terima (dari KPA kepada Koperasi)
5. KPPN (Kantor Pelayanana Pendapatan Negara) daerah mencairkan DEP dan mentranfer ke rekening Koperasi yang permohonannya sudah di sah-kan.
6. Setelah Koperasi melengkapi persyaratan dan telah menandatangani seluruh dokumen yang dipersyaratkan maka Bank pelaksana daerah dapat melakukan pengikatan kredit selama jangka waktu 3 tahun untuk program
penyaluran DEP yang dijaminkan. Selanjutnya bank Pelaksana daerah dapat mencairkan Koperasi untuk segera dibekukan sebagai pinjaman di unit usaha LKM. Lembaga Ekonomi pengembangan pesisir mikro mitra mina (LEPP-M3) diarahkan untuk berubah menjadi koperasi LEPP-M3 Sikap Nelayan Tehadap Program PEMP
Sikap nelayan terhadap pelaksanaan program PEMP dapat diperoleh dari jawaban responden terhadap setiap pernyataan yang diajukan melalui disrtibusi frekuensi responden terhadap setiap kategori. Pernyataan sikap nelayan terhadap Program PEMP dapat dilihat dari tabel 14 :
Tabel 14. Sikap Nelayan terhadap Program PEMP
No Kategori Nelayan PEMP Nelayan Bukan PEMP
Jumlah
(jiwa) Persentase(%) Jumlah(jiwa) Persentase(%) 1
2 PositifNegatif 132 86.8713.33 96 6040
Jumlah 15 100.00 15 100.00
Sumber : Data primer diolah dari lampiran 5
Berdasarkan table 14 sikap nelayan peserta program PEMP yang bersikap Positif sebesar 86.67 % dan sikap nelayan peserta program PEMP yang bersikap negatif sebesar 13.33 %. Dari tabel dapat dilihat bahwa nelayan peserta PEMP secara keseluruhan bersikap positif. Ada beberapa alasan nelayan bersikap positif terhadap pelaksanaan program yaitu :
1. Nelayan merasa terbantu kehidupan ekonominya dengan dana yang dialokasikan menjadi kapal motor, kegiatan usaha bakulan, BBM, usaha tambak dan pengolahan ikan asin.
2. Terjalinnya kerjasama yang baik antara lembaga pelaksana dan nelayan peserta hal ini dapat dilihat dengan pengguliran dana yang semula hanya memiliki 14 kapal motor menjadi 21 kapal motor.
3. Dalam lembaga Program PEMP yang kini telah menjadi koperasi mampu mempekerjakan pemuda asli daerah untuk bekerja dalam kelembagaan koperasi.
Berdasarkan table 14 diatas sikap nelayan bukan peserta program PEMP yang bersikap Positif sebesar 60 % dan sikap nelayan bukan peserta program PEMP yang bersikap negatif sebesar 40 %. Dari tabel dapat dilihat bahwa nelayan peserta PEMP bersikap positif. Ada beberapa alasan nelayan bersikap positif terhadap pelaksanaan program yaitu :
1. Bantuan yang diberikan pemerintah memberikan tujuan yang baik untuk membantu nelayan dalam melaut dengan pemberian kapal bout dan alat tangkap.
2. Harga jual hasil tangkapan nelayan didalam lembaga program PEMP cukup tinggi. Perbedaan harga jual hasil tangkapa nelayan di lembaga PEMP, tokei ikan dan Koperasi Bahari dapat dilihat pada tabel 15 :
Tabel 15. Perbedaan Harga Jual Tangkapan Nelayan di Lembaga PEMP, Tokei Ikan dan Koperasi Bahari
No Jenis Tangkapan Harga Jual Tangkapan Nelayan/Kg Lembaga
PEMP Tokei Ikan Koperasi Bahari 1
2 3 4
Udang Kelong Sedang Udang Kelong Kecil Ikan Lidah Tanggung Gurita 36,000.00 26,000.00 4,000.00 9,000.00 33,000.00 22,000.00 3,500.00 8,500.00 35,000.00 25,000.00 3,500.00 8,500.00 Sumber : Data sekunder diolah dari lampiran 6.
Berdasarkan tabel 15 diatas bahwa dari 21 jenis hasil tangkapan ada 4 jenis hasil tangkapan nelayan dengan harga tertinggi di lembaga PEMP yaitu udang kelong sedang, udang kelong kecil ikan lidah tanggung, dan gurita. Untuk 17 jenis lainnya harga jula tanggkapan nelayan bervariasi walaupun demikian harga yang ditawarkan lembaga PEMP lebih tinggi.
Dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan nelayan di Desa Percut sebesar 73.34 % bersikap positif terhadap Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir dan sebesar 26.66 % nelayan bersikap negatif. Sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa nelayan bersikap positif terhadap Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir diterima.
Hambatan-hambatan Sosial Ekonomi Nelayan Dalam Program PEMP 1. Awal pelaksanaan program
a. Masalah sosial
Masalah sosial yang dihadapi nelayan pada awal pelaksanaan program yaitu :
- Keharusan tersedianya Kartu Rumah Tangga dan Kartu Tanda Penduduk. Bagi nelayan yang belum berumah tangga tidak diperbolehkan menjadi peserta dalam program PEMP
- Surat persetujuan istri. Dalam keluarga nelayan istri juga harus ikut andil penting untuk membuat suatu keputusan. Surat persetujuan ini dibuat sebagai bukti bahwa istri tidak akan menuntut apapun kepada lembaga pelaksana program PEMP.
b. Masalah ekonomi
Masalah ekonomi yang dihadapi nelayan pada awal pelaksanaan program yaitu adanya jaminan surat tanah untuk menjadi peserta program PEMP.
Masalah lain yang dihadapi oleh nelayan adalah nelayan belum mengenal teknologi yaitu berupa kapal bout. Secara umum pada awal pelaksanaan program, nelayan masih menggunakan sampan dan alat tangkapan yang sederhana dan sering disebut sebagai nelayan tradisional.
2. Pelaksanaan program
Masalah yang dihadapi nelayan setelah berjalannya program yaitu pengembalian dana bantuan berupa anggsuran yang cukup besar. Anggsuran yang harus dibayar sebesar 2 pangguh dan ini sangat memberatkan nelayan.
3. Diakhir pelaksanaan program
Masalah yang dihadapi nelayan diakhir pelaksanaan program yaitu terbatas pada bagaimana mekanisme pelaksanaan program karenan program ini telah menjadi milik mereka yaitu masyarakat pesisir. Program PEMP yang telah berjalan telah menjadi suatu koperasi yang berbadan hukum. Masalah yang dihadapi antara lain :
- Ada nelayan peserta PEMP yang tidak menjual tangkapannya kepada lembaga di Program PEMP (terjadi perdagangan di laut) karena ABK yang berbuat curang.
- Kapal Bout nelayan PEMP di sewakan kepada nelayan bukan PEMP - Ada anggota PEMP yang menunggak pembayaran utang di koperasi
Usaha-usaha Yang Dilakukan Pengelola Program PEMP Dalam Mengatasi Hambatan-hambatan Sosial Ekonomi Nelayan
1. Awal pelaksanaan program a. Upaya-upaya sosial
Secara umum Program PEMP bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pengembangan kegiatan ekonomi, peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan penguatan kelembagaan sosial ekonomi dengan mendayagunakan sumberdaya perikanan dan kelautan secara optimal dan berkelanjutan. Di awal pelaksanaan program ada masalah-masalah yang harus dipecahkan seperti :
- Nelayan yang tidak mempunyai kartu rumah tangga dapat menggunakan kartu rumah tangga yang masih terikat sebagai anak di dalam keluarga dan tidak harus berstatus sebagai kepala rumah tangga.
- Surat persetujuan istri merupakan persyaratan yang harus disetujui apabila nelayan belum menikah, surat persetujuan istri dapat digantikan dengan surat pernyataan dari orang tua yang menyetujui anaknya menjadi anggota PEMP dan tidak menuntut apapun pada lembaga PEMP.
b. Upaya-upaya ekonomi
Menurut Dahuri (1999) bahwa tingkat kesejahteraan nelayan masih dibawah sektor pertanian lainnya, masyarakat pesisir tergolong miskin. Persyaratan menjadi peserta PEMP yaitu adanya jaminan surat tanah sangat memberatkan nelayan. Untuk itu lembaga PEMP memberikan keringanan dengan hanya melihat lokasi tempat tinggal bahwa nelayan merupakan penduduk asli desa tanpa harus melengkapi persyaratan yang telah ditentukan.
2. Pelaksanaan program
Monitoring program PEMP dilakukan untuk mengetahui kemajuan pelaksanaan, kendala dan rencana tindak lanjut yang melibatkan peran serta nelayan,nelayan dapat melakukan pengaduan mengenai pelaksaan program PEMP kepada penanggung jawab operasional ditingkat pusat maupun ditingkat daerah. Pengaduan nelayan mengenai program PEMP merupakan wadah yang berfungsi menampung dan menyelesaikan pengaduan/masukan/kritik mengenai berbagai aspek pelaksanaan program PEMP. Pengaduan nelayan terhadap pembayaran angsuran yang memberatkan yaitu 2 pangguh kemudian ditampung oleh lembaga PEMP. Setelah dilakukan mediasi antara nelayan dan lembaga PEMP maka anggsuran yang harus dibayar nelayan menjadi 1 pangguh. Lembaga PEMP melaukan kegiatan pelatihan kepada nelayan.
3. Akhir pelasanaan program
Akhir pelaksanaan program PEMP, lembaga-lembaga yang terkait dengan program PEMP melakukan evaluasi program melalui evaluasi kinerja. Program PEMP telah mandiri dan menjadi milik nelayan yaitu koperasi yang berbadan hukum. Pengevaluasian kinerja selalu dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang ada seperti :
- Ada nelayan peserta PEMP yang tidak menjual tangkapannya kepada lembaga PEMP. Upaya yang dilakukan oleh lembaga PEMP yaitu meningkatkan harga jual terhadap hasil tangkapan nelayan.
- Kapal Bout nelayan PEMP di sewakan kepada nelayan bukan PEMP Lembaga PEMP yang telah menjadi koperasi yang berbadan hukum masih melakukan mediasi dengan nelayan dan memberikan surat
peringatan untuk ditindak lanjuti. Apabila nelayan yang bersangkutan dalam kurun waktu tertentu tidak mentaati akan diberikan sanksi keras. - Ada anggota PEMP yang menunggak pembayaran utang di koperasi.
Lembaga PEMP berupa koperasi melakukan tindakan tegas dengan mendatangi rumah nelayan yang bersangkutan dan menanyakan perihal penunggakan pembayaran utang kemudian mencari pemecahan masalah agar hutang dapat dibayar dan dilunasi.
Manfaat Program PEMP Dalam Peningkatan Pendapatan Nelayan Manfaat program PEMP dalam peningkatan pendapatan nelayan di rasakan oleh peserta dikarenakan Program PEMP memberikan bantuan kapal bout kepada nelayan peserta. Sebelum berjalannya program PEMP, nelayan masih menggunakan sampan dan alat tangkap tradisional sehingga hasil tangkapan yang diperoleh sangat sedikit, dengan bantuan kapal bout pendapatan nelayan peserta PEMP menjadi meningkat. Peningkatan pendapatan nelayan peserta PEMP dapat diketahui dengan melihat pendapatan nelayan peserta dan nelayan bukan peserta PEMP, dilakukan secara tabulasi sederhanan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 16. Perbandingan Pendapatan Nelayan Peserta PEMP dan Nelayan Bukan Peserta PEMP
No Uraian Nelayan Peserta
PEMP Nelayan BukanPeserta PEMP 1 2 3 4 Frekuensi Melaut (kali/bulan) Hasil Tangkapan (penerimaan) Biaya Operasional Pendapatan (pertrip) 16.26 660,256.67 509,943.33 150,336.67 15.26 660,920.00 532,822.47 128,098.00 Total Pendapatan/bulan
(frekuensi melaut x pendapatan) 2,444,474.30 1,954,775.50 Sumber : Data primer diolah dari lampiran 1,7,8 dan 9
Dari tabel 16 dapat dilihat bahwa frekuensi melaut nelayan PEMP dengan rataa 16.26 kali/bulan lebih besar dibandingkan dengan nelayan bukan PEMP yaitu dengan rataan 15.26 hari/bulan. Pendapatan nelayan PEMP dengan rataan Rp 150,336.67 lebih besar dibandingkan dengan nelayan bukan peserta PEMP yaitu dengan rataan Rp 128,098.00. Sehingga total pendapatan/bulan nelayan PEMP lebih besar dibandingkan dengan nelayan bukan PEMP.
Dapat disimpulkan bahwa nelayan PEMP merasakan manfaat terhadap peningkatan pendapatan melalui program PEMP hal ini terlihat dari pemberian kapal bout dan harga jual hasil tangkapan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tokei ikan dan koperasi bahari. Hipotesis yang menyatakan bahwa program PEMP yang telah berjalan memberikan manfaat dalam peningkatan pendapatan nelayan diterima.
Pengembangan Program PEMP Melalui Koperasi
1. Pengembangan program PEMP diarahkan kepada kegiatan :
Usaha bakulan. Pemberian bantuan kepada usaha bakulan berjalan baik. Pada umumnya masyarakat pesisisr pengrajin bakulan sudah terampil dalam menjalankan usahanya, dengan pemberian dana dari program PEMP sangat membantu dan memajukan usaha bakulan.
Tambak. Pemberian bantuan kepada nelayan tambak sedikit memprihatinkan banyak nelayan tambak yang tidak dapat menggulirkan dana dari program PEMP karena banyak dari nelayan tambak yang gagal panen.
Usaha pengelolaan ikan asin. Pada umumnya usaha pengelolaan ikan asin merupakan usaha sampingan dari nelayan. Dana yang diberikan melalui program PEMP dapat membantu pengelolaan usaha ikan asin lebih besar tidak terbatas pada usaha sampingan.
b. Memperluas jaringan masyarakat pesisir untuk dapat mengakses permodalan pada unit usaha keuangan koperasi.
2. Membangun Solar Packed Dealer untuk Nelayan (SPDN). Pembangunan SPDN sudah sampai tahap akhir, walaupun demikian izin usaha yang masih belum resmi menjadi kendala berjalannya SPDN.
Gambar 8. Lokasi SPDN Yang Telah Selesai di Bangun