ANALISIS DAN PEMBAHASAN
7. Tokoh Panutan
5.2.3. Pembahasan Faktor Eksternal
Berikut ini adalah pembahasan dari setiap variabel pada faktor eksternal berdasarkan analisis karakteristik responden dan analisis variabel faktor eksternal.
1. Dukungan Akademik
Lamanya bisnis seorang pengusaha telah berdiri dapat mempengaruhi motivasinya dalam mengembangkan bisnis ke depan. Sebagian besar pengusaha yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah mereka yang telah menjalankan bisnisnya selama 5-10 tahun. Hal ini sejalan dengan tren kewirausahaan yang baru berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir. Para pengusaha yang baru menjalankan bisnisnya selama 5-10 tahun ini tidak hanya mereka yang berusia muda, namun juga mereka yang telah berusia tua. Banyak dari pengusaha ini yang memutuskan berbisnis ketika berbagai program kewirausahaan mulai gencar dicanangkan oleh berbagai pihak di sekitar mereka. Program-program ini tentunya memberikan mereka berbagai dukungan yang dibutuhkan yang akan memotivasi mereka dalam memutuskan berbisnis.
Dukungan akademik adalah salah satu pemicu seseorang memutuskan untuk bisnis, terutama bagi mereka yang berusia masih muda. Pendidikan formal dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang proses kewirausahaan dan tantangan yang akan dihadapi pengusaha agar bisnisnya berhasil. Selain itu, pendidikan juga mempunyai peranan besar dalam membantu pengusaha mengatasi masalah-masalah dalam bisnis seperti keputusan investasi dan lain sebagainya.
Dalam penelitian ini, sebagian responden memberikan jawaban setuju dan sebagian responden lainnya memberikan jawaban kurang setuju pada variabel dukungan akademik. Para pengusaha yang kurang setuju ini pada umumnya telah lama menyelesaikan pendidikan formal terakhirnya dan pada saat mereka masih dalam masa studinya program pendidikan kewirausahaan belum berkembang pesat seperti saat ini, sehingga dukungan akademik kurang mendukung motivasi mereka dalam memutuskan berbisnis.
2. Dukungan Sosial
Selain dukungan akademik, dukungan sosial dari lingkungan seseorang seperti keluarga, teman-teman, masyarakat, hingga pemerintah juga penting dalam mendorong timbulnya motivasi seseorang dalam memutuskan berbisnis. Dukungan dari pemerintah untuk para pengusaha yang merintis suatu bisnis dapat dilihat dengan adanya program-program peminjaman dana untuk modal usaha, pembinaan dan pelatihan, lomba atau kompetisi kewirausahan, hingga pemberian penghargaan kepada usaha yang dipandang berprestasi.
Dalam penelitian ini, sebagian besar responden memberikan jawaban setuju pada variabel dukungan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa variabel dukungan sosial adalah salah satu motivasi ketika seorang pengusaha memutuskan untuk berbisnis.
3. Lingkungan Keluarga
Para pengusaha terutama pengusaha muda yang sengaja dipersiapkan oleh orang tuanya atau anggota keluarganya yang lain untuk memasuki dunia bisnis dapat dikategorikan sebagai pengusaha yang terbentuk dari lingkungan keluarga. Seseorang yang terlahir dan dibesarkan dari suatu keluarga yang memiliki tradisi kuat dalam bidang wirausaha secara sengaja atau tidak sengaja akan menjiwai pekerjaan semacam itu. Pengusaha yang terbentuk dari lingkungan keluarga biasanya lebih dapat mengelola suatu bisnis dikarenakan telah terbiasa sedari kecil sehingga akan menimbulkan rasa percaya diri yang kuat dalam mengembangkan bisnisnya.
Dalam penelitian ini, sebagian besar responden memberikan jawaban setuju pada variabel lingkungan keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa variabel lingkungan keluarga adalah salah satu motivasi ketika seorang pengusaha memutuskan untuk berbisnis.
4. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja yang nyaman dan sesuai dengan keinginan seseorang akan sulit menstimulus orang tersebut untuk berkeinginan menjadi pengusaha, namun bila lingkungan kerjanya tidak nyaman maka hal itu akan mempercepat seseorang memilih karir sebagai seorang pengusaha. Responden dalam penelitian
ini sebagian besar baru menjalankan bisnisnya selama selama 5-10 tahun. Pengusaha yang termasuk pemula ini sebagian besar adalah angkatan kerja berusia produktif, mereka telah sempat bekerja full-time pada suatu perusahaan namun kemudian memutuskan berhenti dengan berbagai alasan. Beberapa pengusaha mengundurkan diri karena gaji yang mereka dapatkan tidak sepadan, ada juga yang keluar dari tempat kerjanya karena konflik dengan rekan kerja.
Dalam penelitian ini, sebagian responden memberikan jawaban setuju dan sebagian responden lainnya memberikan jawaban kurang setuju pada variabel lingkungan kerja. Para pengusaha yang kurang setuju ini pada umumnya tidak memiliki pekerjaan tetap sebelumnya dan kemudian merintis karir sebagai seorang pengusaha, sehingga lingkungan kerja kurang mendukung motivasi mereka dalam memutuskan berbisnis.
5. Kesiapan Instrumen
Tiga komponen kesiapan instrumen yang dipercaya mempengaruhi seseorang dalam memutuskan berbisnis adalah akses modal, ketersediaan informasi dan jaringan sosial. Selain itu, berbagai alat dan perlengkapan yang telah tersedia juga merupakan faktor penting yang mendorong keinginan seseorang untuk membuka usaha baru.
Dalam penelitian ini, sebagian responden memberikan jawaban setuju dan sebagian responden lainnya memberikan jawaban kurang setuju pada variabel kesiapan instrumen. Sebagian pengusaha memang mendapatkan bantuan modal ekonomi ketika merintis bisnisnya, ada juga yang telah memiliki jaringan bisnis dari bisnis terdahulu milik orang tua atau keluarganya, namun sebagian pengusaha
tidak terlalu mempermasalahkan adanya modal, jaringan bisnis, informasi, dan berbagai perlengkapan ketika memutuskan untuk berbisnis. Para pengusaha ini akan terlebih dahulu memperhatikan produk atau jasa serta kondisi pasar dari bisnis mereka sebelum kemudian menyiapkan berbagai instrumen yang sesuai dan mendukung produk bisnis tersebut, sehingga kesiapan instrumen kurang mendukung motivasi mereka dalam memutuskan berbisnis.
6. Kesempatan dan Peluang
Beragam bidang usaha atau bisnis berkembang pesat saat ini. Dalam penelitian ini sebagian besar pengusaha yang menjadi responden menggeluti bisnis dalam bidang kuliner, mulai dari menjual makanan ringan, membuka kafe, hingga memiliki jasa katering. Hal ini tidak terlepas dari besarnya kesempatan dan peluang yang ditawarkan industri kuliner. Kesempatan dan peluang tersebut muncul ketika pengusaha mengetahui kebutuhan lingkungan sekitarnya sehingga menimbulkan keinginan berbuat sesuatu untuk memenuhi kebutuhan lingkungannya tersebut.
Bidang usaha kuliner adalah salah satu bidang usaha yang sangat dinamis, hampir setiap saat muncul tren baru di suatu daerah. Karena itu pengusaha yang bergerak di bidang ini harus selalu jeli melihat berbagai kesempatan dan peluang yang ada di sekitarnya. Kota Medan sebagai salah satu kota tujuan wisata kuliner di Indonesia juga dapat menjadi salah satu faktor mengapa banyak pengusaha dalam penelitian ini yang memutuskan berbisnis dalam bidang kuliner. Dalam penelitian ini, hampir seluruh responden memberikan jawaban setuju pada variabel kesempatan dan peluang. Hal ini menunjukkan bahwa variabel
kesempatan dan peluang adalah salah satu motivasi ketika seorang pengusaha memutuskan untuk berbisnis.
7. Tokoh Panutan
Para pengusaha yang telah menjalankan bisnisnya selama lebih dari 20 tahun tidak banyak ditemukan dalam penelitian ini. Pengusaha yang telah cukup lama berbisnis ini umumnya menjalankan bisnis keluarganya secara turun- temurun. Anak-anak dari para pengusaha ini juga telah dipersiapkan untuk dapat melanjutkan bisnis mereka. Selain itu, berbagai pengalaman berbisnis yang diperoleh selama puluhan tahun menjadikan mereka sebagai tokoh panutan bagi beberapa kerabat atau pengusaha baru lainnya. Tokoh panutan berperan penting bagi seorang pengusaha karena dengan mengetahui serta memahami kisah-kisah tokoh panutan yang telah meraih kesuksesan dapat memotivasinya untuk membuka bisnisnya sendiri.
Dalam penelitian ini, sebagian responden memberikan jawaban setuju dan sebagian responden lainnya memberikan jawaban kurang setuju pada variabel tokoh panutan. Para pengusaha yang kurang setuju ini pada umumnya tidak memiliki sosok tokoh panutan tertentu dalam membangun bisnisnya, mereka hanya mengandalkan kemampuan pribadi mereka atau memang tidak ada yang dapat dijadikan panutan dalam hal berbisnis di lingkungan sekitar mereka, sehingga tokoh panutan kurang mendukung motivasi mereka dalam memutuskan berbisnis.