• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Analisis

Dalam dokumen Oleh: MONICA YULIA PURY ARTHA NIM : (Halaman 115-0)

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan Hasil Analisis

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pangkat golongan, status kepegawaian dan jenis kelamin terhadap kompetensi pedagogi guru pada guru-guru SMA dan SMK Negeri se-Kabupaten Sleman tahun 2018. Berdasarkan hasil analisis diatas maka dilakukan pembahasan sebagai berikut:

1. Pengaruh pangkat golongan guru terhadap kompetensi pedagogik pada guru-guru SMA dan SMK Negeri se-Kabupaten Sleman Tahun 2018.

Berdasarkan hasil deskrispsi variabel pangkat golongan guru menunjukkan dari 300 responden berdasarkan pangkat golongan, terdapat sebanyak 38 guru (12,7%) belum memilki pangkat golongan, terdapat sebanyak 19 guru (6,3%) memiliki pangkat golongan III/a, sebanyak 10 guru (3,3%) memiliki pangkat golongan III/b, selanjutnya sebanyak 44 guru (14,7%) memiliki pangkat golongan III/c, sebanyak 31 guru (10,3%) memiliki pangkat golongan III/d, sebanyak 152 guru (50,7%) memiliki pangkat golongan IV/a, dan sebanyak 6 guru (2%) memiliki pangkat golongan IV/b.

Sedangkan deskripsi kompetensi pedagogi guru bedasarkan kurikulum 2013 edisi revisi menunjukkan bahwa sebanyak 193 guru atau sebesar 64,33% guru tergolong dalam kategori sangat baik, sebanyak 102 guru atau sebesar 34,0% guru tergolong dalam kategori baik, sebanyak 4 guru atau sebesar 1,33% guru tergolong dalam kategori cukup, dan 1 guru atau sebesai 0,33% guru tergolong dalam kategori sangat tidak baik.

Kemudian dari hasil penelitian, diketahui bahwa tidak ada pengaruh pangkat golongan terhadap kompetensi pedagogi guru SMA dan SMK Negeri se-Kabupaten Sleman Tahun 2018. Hal ini didukung dengan hasil uji Chi-Square (X2) hitung memiliki nilai sebesar 4,395 dan nilai Asymp. Sig sebesar 0,222 lebih besar dari α = 0,05.

Karena tidak terdapat pengaruh pangkat golongan guru terhadap kompetensi pedagogi guru, maka dalam hal ini pangkat golongan guru tidak dapat dijadikan sebagai patokan prediksi kompetensi pedagogi guru. Sehingga dapat diartikan bahwa kecenderungan guru yang memiliki pangkat golongan yang lebih tinggi tidak selalu memiliki kompetensi pedagogi yang sangat baik, begitu pun sebaliknya kecenderungan guru yang belum memiliki pangkat golongan tidak dapat diartikan bahwa memiliki kompetensi pedagogi yang rendah pula.

Implikasi yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah guna meningkatkan kompetensi pedagogi guru, perlu adanya peningkatan dalam hal pengetahuan, informasi, serta ketrampilan. Dimana agar terjadi peningkatan dalam hal tersebut, sebaiknya pihak sekolah dapat memberikan dorongan kepada guru yang belum memiliki pangkat golongan dan masih memiliki pangkat yang rendah untuk mendapatkan palatihan guna meningkatkakn kompetensi pedagoginya.

Walaupun dari hasil penelitian menjelaskan bahwa tidak ada pengaruh antara pangkat golongan dan kompetensi pedagogi guru, namun peneliti menyakini bahwa guru yang memiliki pangkat golongan yang lebih tinggai maka akan memiliki kompetensi pedagogi yang baik berhubungan dengan kemampuan guru tersebut dalam memperoleh informasi dan memahami suatu konsep. Oleh sebab itu, akan lebih baik jika guru yang masih memiliki pangkat golongan yang rendah dan

yang belum memiliki pangkat golongan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan yang lebih banyak guna meningkatkan kompetensi pedagogi dan keterampilannya.

2. Tidak ada perbedaan kompetensi pedagogi guru ditinjau dari status kepegawai berdasarkan survei pada guru-guru SMA dan SMK Negeri Se-Kabupaten Sleman Yogyakarta.

Berdasarkan hasil deskripsi data status kepegawaian menunjukan bahwa dari 300 guru yang dijadikan responden, 37 orang (12.3%) yang memiliki status kepegawaian GTT, dan 263 orang (87.7%) yang memilikii status kepegawaian PNS. Sedangkan kompetensi pedagogi guru menunjukan sebanyak 193 (64,33%) yang termasuk dalam kategori sangat baik, selanjutnya secara berturut-turut diikuti kategori baik sebanyak 102 orang (34,00%), kategori cukup 4 orang (1,33%), kategori tidak baik 1 orang (0,33%), dan untuk kategori sangat tidak baik tidak ada guru yang masuk dalam kategori tersebut.

Kemudian dari hasil pengujian statistika, diperoleh Pearson Chi-Square sebesar 1,944 dan nilai Asymp. Sig (α) sebesar 0,163 lebih besar dari 0,05 sehingga Ho3 diterima dan Ha3 ditolak, yang artinya tidak ada perbedaan kompetensi pedagogi guru jika ditinjau dari status kepegawaian. Berdasarkan hasil pengujian menunjukan bahwa hipotesis yang telah disusun tidak didukung oleh data penelitian. Hal ini disebabkan pada saat pengisian kuesioner guru

tidak sepenuhnya mengisi dengan jujur sesuai dengan keadaan, ada pun penyebab lain yaitu dengan banyaknya kesibukan guru membuat guru tergesah-gesah dalam mengisi kuesioner, sehingga data yang diperoleh tidak sesuai dengan hipotesis yang telah disusun.

Kompetensi adalah kemampuan melaksanakan suatu yang diperolah melalui pendidikan dan latihan. Kemampuan dasar meliputi daya pikir, daya kalbu, dan daya raga yang diperlukan oleh peserta didik untuk terjun di masyarakat dan untuk mengembangkan dirinya.

Sejalan dengan hal itu, profesi guru yang melayani peserta didik berkaitan dengan ilmu pengetahuan, tentu harus mempunyai daya pikir yang cukup dan mampu berpikir sistematik (Sagala, 2013:29).

Kemampuan dasar ini tentu tidak hanya dimiliki oleh guru yang berstatus PNS atau GTY tetapi juga oleh guru yang berstatus GTT.

Guru yang baik adalah guru yang memiliki profil guru yang ideal.

Profil guru yang ideal adalah sosok yang mengabdikan diri berdsarkan panggilan jiwa, panggilan hati nurani, bukan karena tuntutan uang belaka, yang membatasi tugas dan tanggung jawabnya sebatas dinding sekolah (Djamarah, 2005:42).

Hal ini menjelaskan bahwa setiap guru mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan memiliki kompetensi seorang guru karena ia melaksanakan tugasnya berdasarkan panggilan jiwanya bukan karena status kepegawaian yang ia miliki.

3. Pengaruh jenis kelamin terhadap kemampuan kompetnsi pedadogik guru di SMA dan SMK Negri se-Kabupaten Sleman

Variabel kemampuan kompetensi pedagogi guru menunjukkan bahwa dari 300 responden guru SMA dan SMK Negeri Se-Kabupaten Sleman, terdapat 193 (64,4%) guru memiliki kemampuan kompetensi pedadogik dengan kategori sangat baik, 102 (34%) guru memiliki kemampuan kompetensi pedadogik dengan kategori baik, 4 (1,3%) guru memiliki kemampuan kompetensi pedadogik dengan kategori cukup, dan 1 (0,3%) guru memiliki kemampuan kompetensi pedadogik dengan kategori tidak baik.

Variabel jenis kelamin menunjukkan bahwa dari 300 guru, dimana jumlah responden berjenis kelamin perempuan lebih banyak sebesar 197 atau 65,7%. Sedangkan guru yang berjenis kelamin laki-laki lebih sedikit dari pada perempuan yaitu sebanyak 103 guru atau 34,3%.

Pada hasil pengujian hipotesis kedua, diketahui hasil Chi-Square (x2) hitung sebesar 3,399 (df) = 1 dan nilai Asymp. Sig sebesar 0,065 lebih besar dari α 0,05 sehingga H01 diterima yang artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan jenis kelamin terhadap kompetensi pedagogi guru di SMA dan SMK Negeri se-Kabupaten Sleman berdasarkan jumlah mata pelajaran diterima. Karena tidak ada pengaruh positif jenis kelamin terhadap kompetensi pedadogik, maka

dalam hal ini jenis kelamin dapat digunakan untuk memprediksi tingkat kompetensi pedagogiknya.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tidak adanya perbedaan kompetensi guru berdasarkan jenis kelamin atau dengan kata lain kompetensi guru antara guru laki-laki dan perempuan sama karena mereka memiliki tanggung jawab yang sama sebagai tenaga pendidik yang berkompeten.

101 BAB V

KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang telah dibahas pada Bab IV dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Tidak ada perbedaan kompetensi pedagogik guru di SMA dan SMK Negeri se-Kabupaten Sleman berdasarkan pangkat golongan. Hasil ini didukung oleh hasil nilai asymptotic significance Pearson Chi-Square 0,903 lebih besar dari 0,05.

2. Tidak ada perbedaan kompetensi pedagogik guru di SMA dan SMK Negeri se-Kabupaten Sleman berdasarkan status kepegawaian. Hasil ini didukung oleh hasil nilai asymptotic significance Pearson Chi-Square 0,366 lebih besar dari 0,05.

3. Tidak ada perbedaan kompetensi pedagogik guru di SMA dan SMK negeri se-Kabupaten Sleman berdasarkan jenis kelamin. Hasil ini didukung oleh hasil nilai asymptotic significance Pearson Chi-Square 0,199 lebih besar dari 0,05.

B. Keterbatasan Penelitian

Penelitian telah diupayakan semaksimal mungkin untuk memperoleh hasil yang memuaskan dan apa adanya. Namun masih terdapat beberapa keterbatasan yang harus diakui sebagai dasar untuk mencapai penelitian

yang maksimal. Kemungkinan penelitian harus ditingkatkan lagi perlu memperbaiki beberapa hal antara lain:

1. Penelitian ini hanya menggunakan data yang telah diperoleh dari penyebaran kuesioner kepada 300 guru tanpa melekukan pengambilan data dengan cara wawancara dan observasi secara langsung kepada responden tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya, maka hasil penelitian ini belum memberikan gambaran yang objektif, walaupun pada awalnya peneliti sudah meminta responden untuk menjawab dengan jujur sesuai dengan keadaan sesungguhnya.

2. Ukuran sampel yang direncanakan dalam penelitian ini proportional sebesar 29,02%. Sedangkan dari hasil penelitian, ukuran sampel yang diperoleh sebesar 29,04%, jumlah ini lebih besar dari yang direncanakan. Akan tetapi, besarnya ukuran sampel untuk setiap sekolah tidak proportioanal. Hal ini disebabkan ada guru di beberapa sekolah yang sulit untuk ditemui, sementara di sekolah lain terdapat guru yang menawarkan diri sebagai responden dengan sukarela.

3. Dalam penelitian ini tidak dilakukan uji validitas pada kuesioner sebelum dibagikan kepada responden dikarenakan keterbatasan waktu dan tempat yang berkenan untuk menjadi tempat uji validitas kuesioner penelitian.

C. Saran

Berdasarkan hasil penelitian tentang kompetensi guru berdasarkan pangkat golongan, status kepegawaian, dam jenis kelamin menunjukan bahwa kompetensi guru sudah tergolong baik. Namun untuk lebih meningkatkan kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru maka guru harus benar-benar memperhatikan dan menerapkan ketiga kompetensi guru, yaitu:

1. Dari hasil penelitian pertama, tidak menunjukkan adanya perbedaan pangkat golongan terhadap kompetensi pedagogik, oleh karena itu peneliti menyarankan bahwa sekolah menganjurkan kepada guru-guru untuk saling berbagi ilmu, guru junior belajar dengan guru yang lebih senior tentang proses pembelajaran. Walaupun dalam penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan antara pangkat golongan terhadap kompetensi pedagogik guru, namun peneliti menyakini bahwa pengalaman yang banyak serta tingkat pendidikan yang tinggi akan membuat guru dapat memahami suatu konsep dengan lebih baik.

2. Meskipun dalam penelitian yang kedua, tidak menunjukkan adanya perbedaan status kepegawaian terhadap kompetensi pedagogik, namun saran yang dapat diberikan oleh peneliti yaitu sekolah agar menganjurkan kepada guru-guru untuk saling berbagi ilmu, Guru Tidak Tetap (GTT) belajar dengan guru PNS tentang proses pembelajaran.

Agar dapat meningkatkan kemampuan diri untuk mengembangkan potensinya yang berhubungan dengan profesinya.

3. Dari hasil penelitian ketiga, menunjukkan tidak ada perbedaan jenis kelamin guru terhadap kompetensi pedagogik, saran yang dapat diberikan peneliti adalah guru laki-laki dan perempuan harus tetap mempertahankan untuk tetap meningkatkan wawasan dan pengetahuannya. meningkatkan keterampilan, pengetahuan serta mempersiapkan perangkat pembelajaran, media, model dan metode pembelajaran yang tepat sehingga dapat mengaplikasikannya dalam pembelajaran.

4. Untuk pihak-pihak yang tertarik terhadap penelitian ini diharapkan untuk melakukan penelitian replikasi dengan memperbaiki metode penelitian yang digunakan.

105

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu (2009). Psikologi Sosial. Jakarta : Rineka Cipta

Arifin, Zainal. (2011). Konsep dan Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Arum, Lestariningsih D. 2015. Analisis Kompetensi Guru Ditinjau Dari Golongan, Jabatan, Masa kerja dan Usia guru, Survei: Guru-guru Sekolah Menengah Atas Negeri dan Swasta di Wilayah Kabupaten Sleman. Skripsi.

FKIP, Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi.

Universitas Sanata Dharma

Buchiro, Mochtar. (1994). Pendidikan Dalam Pembangunan. Yogyakrta: Tiara Wacana

Damayanti, Fanny. (2017). “Pengaruh Pengalaman Mengajar, Ketersediaan Sumber belajar, Dan Pangkat Golongan Terhadap Kemampuan Mengimplementasikan Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses Pada SMA Negeri Se-Kota Yogyakarta Tahun 2016”.

Skripsi. FKIP, Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi. Universitas Sanata Dharma

Hidayat, Sholeh. (2013). Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Marsono. (1981). Pokok-Pokok Kepegawaian. Jakarta : PT. Ichtiar Baru Hoeve Muhadi. 2011. “Metode Penelitian” . Modul. Program Studi Pendidikan

Akuntansi FKIP Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.

Nur, Irwantoro, dkk. (2016). Kompetensi Pedagogik Untuk Peningkatan dan Penilaian Kinerja Guru Dalam Rangka Implementasi Kurikulum Nasional.

Jakarta : Magenta Media

Pakkan Teodorus. (2017). Pengaruh Pengalaman Mengajar, Tingkat Pendidikan Guru, Dan Kesibukan Guru Di Dalam Kegiatan Sekolah Terhadap Kemampuan Mengimplementasi Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian Pada Guru-Guru PNS Di (SMK) Negeri Se-Kota Yogyakarta Tahun 2017. Skripsi. Fkip. Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Sistem

Pendidikan Nasional. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional

Republik Indonesia. (2005). Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional

Republik Indonesia. (2008). Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional

Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Tunjangan Profesi dan Tambahan Penghasilan Bagi Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah.

Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional

Rohman, Syaiful. (2016). Beban Kerja, Jam Kerja dan Kinerja Guru. Tersedia : https://www.kompasiana.com/hsrohman/beban-kerja-jam-kerja-dan-kinerja-guru_581093680ab0bdb4168b4567

Rusman, dkk. 2015. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi:Mengembangan Profesionalitas Guru. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Cet. Ke-5

Widdy, Natalia (2016). Kompetensi Guru Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia, Pengalaman Mengajar Dan Tingkat Pendidikan. Skripsi. FKIP, Pendidikan Ekonomi Bidang Keahian Khusus Pendidikan Akuntansi. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Widyatmo, Loyola A. (2008). “Persepsi Guru Terhadap Program Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan Ditinjau Dari Tingkat Pendidikan, Masa Kerja, Beban Mengajar dan Status Guru Studi Kasus Guru-guru SD, SMP dan SMA di Kabupaten Sleman”. Skripsi. FKIP, Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi. Universitas Sanata Dharma

Yusuf, Muri. (2014). Metode Penelitian Tentang Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan. Jakarta : Kencana Penadamedia Group

LAMPIRAN

LAMPIRAN I

KUESIONER

a. Rumusan Pertanyaan Survei

Rumusan pertanyaan kompetensi pedagogik guru berdasarkan kurikulum 2013 revisi.

1. Menguasai karekteristik peserta didik

a. Apakah guru memahami peserta didik dilihat dari perkembangan kognitif dan kepribadian?

Sebagian besar guru memahami perkembangan kognitif dan kepribadian peserta didik.

b. Apakah guru menerapkan pendidikan karakter ditinjau dari 4C (Communication, collaboration, critical thinking and problem solving, dan creativity and innovation) yang termuat dalam kurikulum 2013 revisi?

Sebagian kecil ada guru yang menerapkan pendidikan karakter.

2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.

a. Apakah guru mengembangkan teori belajar dengan mengaitkan dengan kondisi lingkungan sekitar siswa?

Sebagian besar guru mengembangkan teori belajar dengan mengaitkan dengan kondisi lingkungan sekitar siswa.

b. Apakah guru mengembangakan metode pembelajaran yang bervariasi?

Sebagian besar guru tidak mengembangkan metode pembelajaran yang bervariasi.

c. Apakah setiap pembelajaran guru memantau kemajuan proses belajar peserta didik didalam kelas?

Sebagian besar guru selalu memantau kemajuan proses belajar peserta didik.

a. Bagaimana sikap guru terhadap perubahan kurikulum 2013 revisi?

Sebagian besar guru mengalami kesulitan, terutama pada perubahan perangkat pembelajaran yang ada pada kurikulum 2013 revisi.

b. Apakah guru ikut dalam mengembangkan silabus?

Sebagian besar guru ikut dalam mengembangkan silabus.

4. Kegiatan pembelajaran yang mendidik

a. Apakah guru telah menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik?

Sebagian besar guru tidak menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

b. Apakah guru telah mengembangkan media pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan?

Sebagian besar guru tidak mengembangkan media pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan.

c. Apakah guru telah menumbuhkan rasa semangat belajar dalam pembelajaran dikelas dengan melaksanakan ice breaking?

Sebagian besar guru tidak melaksanakan ice breaking didalam kelas sebagai upaya untuk menumbuhkan rasa semangat belajar pada siswa.

d. Bagaimana cara guru merancang pembelajaran agar dapat merangsang peserta didik untuk dapat berfikir tingkat tinggi?

5. Pengembangan potensi peserta didik

a. Apakah guru telah melakukan penilaian di akhir pembelajaran?

Sebagian besar guru tidak melakukan penilaian di akhir pembelajaran.

Sebagian besar guru membantu dalam kesulitan yang dirasakan peserta didik.

6. Komunikasi dengan peserta didik

a. Bagaimana cara guru melaksanakan kegiatan pembelajaran yang dapat menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa untuk lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran?

Sebagian besar guru masih menerapkan kegiatan pembelajaran secara konvensional yaitu kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru atau teacher center.

7. Penilaian dan evaluasi

a. Apakah guru selalu memberikan pree test dan post test dalam kegiatan pembelajaran?

Sebagian besar guru tidak memberikan pree test dan post test dalam kegiatan pembelajaran.

b. Apakah guru menganalisis hasil penilaian untuk mengidentifikasi kompetensi dasar yang sulit sehingga diketahui kekuatan dan kelemahan masing-masing peserta didik untuk keperluan pengayaan dan remidial?

Sebagian besar guru melakukan analisis hasil penilian untuk kepentingan pengayaan dan remidial.

c. Apakah guru memanfaatkan masukan dari peserta didik dan mengadakan refleksi untuk meningkatkan pembelajaran berikutnya agar menjadi lebih baik?

Sebagian besar guru tidak mengadakan refleksi.

kesulitan yang dialami guru?

Guru tidak mengalami kesulitan dalam menyusun soal supata HOTS.

Revisi

Petunjuk: Bapak/ibu dimohon melengkapi setiap pertanyaan ini dengan memberi tanda silang (X) pada kolom SS, S, K, HTP, atau TP yang sesuai dengan keadaan di sekolah Bapak/Ibu.

1 Guru memahami peserta didik dilihat dari perkembangan kognitif dan kepribadian 2 Guru menerapkan pendidikan karakter

ditinjau dari 4C (Communication, collaboration, critical thinking and problem sloving, dan creativity and innovation) yang termuat dalam kurikulum 2013

3 Guru mengembangkan teori belajar dengan mengaitkan kondisi lingkungan di sekitar peserta didik

4 Guru mengembangkan metode pembelajaran yang bervariasi

5 Guru memantau kemajuan proses belajar peserta didik di dalam kelas

6 Guru mendukung terhadap kurikulum 2013 revisi

7 Guru selalu mengembangkan silabus 8 Guru menggunakan model pembelajaran

yang sesuai dengan karakteristik peserta didik

9 Guru mengembangkan media pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran yang disampaikan

10 Guru menumbuhkan rasa semangat belajar dalam pembelajaran dikelas dengan menggunakan ice breaking

11 Guru merancang pembelajaran agar merangsang peserta didik untuk berfikir tingkat tinggi

No Pernyataan SS S K HTP TP

12 Guru melakukan penilaian akhir setiap pertemuan pembelajaran

14 Guru melalksanakan kegiatan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan

15 Guru memberikan motivasi kepada peserta didik untuk bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran

16 Guru memberikan pree test dan post test di setiap pertemuan kegiatan pembelajaran

17 Guru menganalisis hasil penilaian untuk mengidentifikasi kompetensi dasar yang sulit dipahami peserta didik

18 Guru menganalisis hasil penilaian untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing peserta didik untuk keperluan remidial dan pengayaan

19 Guru mengadakan refleksi untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya

20 Guru mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan pembelajaran untuk mencapai tingkat HOTS (Higher Order Thinking Skill)

KUESIONER PENELITIAN

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 REVISI DALAM PEMBELAJARAN PADA GURU-GURU SMA DAN SMK NEGERI SE-KABUPATEN SLEMAN

YOGYAKARTA

Disusun Dalam Rangka Penelitian Bersama Dosen & Mahasiswa Penanggung Jawab: Drs. F.X. Muhadi, M.Pd.

Anggota Kelompok Peneliti :

1. Yulia Megasari 141334003 7. Trisnawati 141334070 2. Windy Adriana 141334004 8. Maria Visitasi 141334073 3. Benedicta Astrid 141334035 9. Faustina Maria 141334074 4. Monica Yulia Pury 141334037 10. Astria Yuni Y 141334082 5. Veronika 141334040 11. Dyah Ayu W 141334084 6. Marselinus 141334055

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN AKUNTANSI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2018

FKIP UNIVERSITAS SANATA DHARMA

KepadaYth:

Bapak/Ibu Guru SMA/SMK Negeri Di Kabupaten Sleman

DenganHormat,

Dalam rangka penyusunan tugas akhir kami tim peneliti mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi menyelenggarakan penelitian tentang“Implementasi Kurikulum 2013 Revisi Dalam Pembelajaran Pada Guru-Guru SMA Dan SMK Negeri Se-Kabupaten Sleman Yogyakarta”

Sehubungan dengan hal tersebut, kami mohon kesediaan Bapak/Ibu guru untuk menjadi responden penelitian ini. Kami mohon Bapak/Ibu guru berkenan menjawab pernyataan-pernyataan dalam kuesioner ini sesuai dengan keadaan yang Bapak/Ibu alami.

Jawaban Bapak/Ibu guru hanya akan dipakai untuk kepentingan penelitian dan akan dijamin kerahasiaannya.

Kami menyadari bahwa pengisian kuesioner ini sedikit banyak menyita waktu Bapak/Ibu guru. Oleh karena itu, kami mohon maaf sebelumnya. Demikian permohonan kami. Atas bantuan dan kerjasama yang Bapak/Ibu guru berikan kami ucapkan terimakasih.

Yogyakarta, 19 Januari 2018 Hormat kami,

Tim Peneliti

I. IDENTITAS

Nama (Jika Tidak Keberatan) :

NIP/NIK :

Usia : ... Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki/Perempuan *)

Pangkat/Golongan : III/a / III/b / III/c / IV/a/ ... *)

Pendidikan Tertinggi : D3/ S1/ S2/ S3 *)

Unit Kerja :

Jam Mengajar : …….Jam/ Minggu

Beban Kerja Selain Mengajar : Ekuivalen... Jam Mengajar/ Minggu Jumlah Mata Pelajaran yang Diampu : 1/ 2/ 3/... Mata Pelajaran*)

Rata-rata Mengakses Internet

dalam Melaksanakan Pembelajaran : …….Jam/Minggu

Masa Kerja : ……… Tahun

Status Kepegawaian : PNS/ Guru Tetap Yayasan/ GTT/

...*) Pengalaman Mengikuti Diklat : …….Hari

Keterangan:

*) Coret Yang Tidak Perlu

tanda silang (X) pada kolom S, K, HTP atau TP yang sesuai dengan keadaan di sekolah

1 Saya berusaha mengenali karakteristik semua peserta didik

2 Saya berusaha melibatkan secara aktif semua peserta didik dalam setiap kegiatan

pembelajaran

3 Saya mengabaikan peserta didik yang

memiliki kemampuan berpikir rendah, karena dapat menghambat kemajuan proses

pembelajaran.

4 Ketika pembelajaran berlangsung peserta didik membicarakan hal yang tidak ada relevansinya dengan materi pembelajaran.

5 Saya memberikan jam tambahan untuk mengembangkan potensi dan mengatasi kesulitan belajar peserta didik

6 Saya menumbuhkan kepercayaan diri pada semua peserta didik yang memiliki kelemahan fisik

7 Saya memberikan tugas remedial untuk materi yang belum dikuasai oleh peserta didik

8 Saya mengadakan post-test di akhir pembelajaran

9 Bagi saya menyampaikan tujuan pembelajaran kepada peserta didik bukan suatu keharusan 10 Saya menerapkan model pembelajaran yang

menarik bagi peserta didik dalam proses pembelajaran

11 Saya menyusun rencana pelaksanaan

pembelajaran untuk setiap kompetensi dasar 12 Saya melakukan evaluasi terhadap ketepatan

pembelajaran untuk setiap kompetensi dasar 12 Saya melakukan evaluasi terhadap ketepatan

Dalam dokumen Oleh: MONICA YULIA PURY ARTHA NIM : (Halaman 115-0)

Dokumen terkait