• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS HASIL PENELITIAN

D. Pembahasan Hasil Analisis

Dari hasil pengujian hipotesis sebelumnya, terlihat bahwa hanya ada 1 (satu) variabel yang berpengaruh signifikan terhadap opini audit, yaitu quick ratio, banking ratio dan capital adequency ratio. Sedangkan 2 variabel lainnya yaitu variabel dari rasio profitabilitas yang menggunakan alat ukur return on assets, interest margin of loans, tidak berpengaruh signifikan terhadap opini audit. Dari penjelasan diatas, maka terlihat bahwa opini audit yang menyangkut kelangsungan hidup suatu entitas bisnis perbankan, khususnya bank pada penelitian ini, dipengaruhi oleh rasio likuiditas yaitu quick ratio dan banking ratio

dan rasio solvabilitas yaitu capital adequacy ratio. Sedangkan rasio profitabilitas yaitu return on assets dan interest margin of loans tidak berpengaruh signifikan terhadap pertimbangan auditor dalam memberikan opini audit menyangkut kelangsungan hidup sebuah bank.

Untuk Quick Ratio (QR), hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hani, Cleary dan Mukhlasin (2003), yang artinya kemampuan bank dalam menyelesaikan seluruh kewajiban jangka pendeknya merupakan salah satu pertimbangan auditor untuk memberikan opini audit yang berkaitan dengan going concern bank tersebut. Sementara untuk Banking Ratio

yang juga merupakan bagian dari rasio likuiditas, merupakan pertimbangan auditor untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Namun penelitian pada variabel ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Hani, Cleary dan Mukhlasin (2003), namun konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Almilia dan Herdiningtyas (2005). Sedangkan untuk Capital Adequacy Ratio, variabel ini juga merupakan pertimbangan utama auditor dalam menilai kemampuan bank dalam membayar kewajiban jangka panjangnya, untuk kelangsungan hidup bank tersebut. Penelitian dengan variabel CAR juga konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Hani,Cleary dan Mukhlasin (2003), namun tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Almilia dan Herdiningtyas (2005).

Untuk Return on Assets (ROA), sedikitnya jumlah sampel dan periode yang diamati, serta tidak adanya perbedaan antara bank-bank yang kondisi keuangannya buruk dengan bank yang kondisi keuangan nya baik, juga berakibat

pada tidak signifikannya rasio ini. Sedangkan untuk variabel Interest Margin of Loans (IML), memiliki nilai jarak yang terlalu jauh antara batas maksimum dan minimum.

Hal ini dapat kita lihat pada statistik deskriptif, nilai rata-rata IML, jauh lebih rendah daripada nilai range (jangkauan) antara batas maksimal dan minimal untuk rasio ini. Hal ini menjadi penyebab utama sehingga nilai rasio ini tidak signifikan, demikian juga untuk nilai koefisien regresinya yang bertanda positif.

Dari hasil pengujian ini juga terlihat bahwa hanya rasio-rasio profitabilitas yang tidak signifikan terhadap opini audit. Hal ini disebabkan oleh telah bergesernya paradigma auditor, tentang penilaian terhadap kemampuan entitas usaha dalam mempertahankan hidupnya. Penelitian yang dilakukan oleh Hani,Cleary dan Mukhlasin (2003) menggunakan bank yang terdaftar di BEJ pada periode 1995-1997, memberikan hasil yang sangat kontras dengan penelitian ini. Mereka justru menemukan rasio profitabilitas adalah pertimbangan utama auditor dalam memberikan opini auditnya menyangkut kemampuan bank dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya pada periode tersebut.

Ternyata krisis moneter yang melanda Indonesia pada periode tahun 1998, memiliki dampak yang paling besar terhadap perusahaan perbankan, dimana sejak tahun 1998 banyak bank yang setahun sebelum krisis moneter mendapat opini audit non going concern, ternyata justru dilikuidasi pada saat krisis moneter melanda Indonesia.

Akibatnya, paradigma auditor setelah periode krisis moneter pun mengalami perubahan. Penelitian-penelitian menyangkut opini audit dengan going

concern setelah tahun 2000, banyak yang menemukan bahwa rasio profitabilitas tidak berpengaruh signifikan dalam penilaian auditor menyangkut kelangsungan hidup sebuah bank. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Almilia dan Herdiningtyas (2005) serta Setyarno (2005) seperti yang dikutip dari Eko, Indira dan Faisal (2006).

Almilia dan Herdiningtyas (2005) menemukan bahwa hanya rasio solvabilitas bank yang berpengaruh terhadap tingkat kesehatan bank dalam menghadapi kebangkrutan. Sementara itu, Setyarno (2005) seperti yang dikutip dari Eko, Indira dan Faisal (2006), menemukan bahwa hanya rasio likuiditas dan opini audit tahun sebelumnya yang mempengaruhi pertimbangan auditor dalam pemberian opini audit periode berjalan.

Dari hasil penelitian-penelitian terdahulu tersebut, maka peneliti berkesimpulan bahwa pada periode setelah krisis moneter, auditor cenderung lebih memperhatikan kemampuan bank dalam membayar semua kewajiban jangka pendeknya yang dalam hal ini digambarkan oleh rasio likuiditas, serta kemampuan bank dalam membayar seluruh kewajiban jangka panjangnya yang dalam hal ini digambarkan oleh rasio solvabilitasnya, dengan pertimbangan manajemen jika bank tersebut dilikudasi. Auditor berpendapat bahwa jika sebuah bank mampu terus menghasilkan profitabilitas dalam jumlah besar, namun tidak memperhatikan kemampuannya dalam menyelesaikan semua kewajibannya, maka ketika kondisi perekonomian mengalami perubahan seperti terjadinya inflasi,kenaikan harga minyak dunia, perubahan tingkat suku bunga dan resiko- resiko perbankan lainnya maka kemungkinan bank itu untuk kolaps jauh lebih

besar daripada bank yang mempunyai rasio profitabilitas yang rendah, namun mempunyai struktur modal yang lebih baik.

Selain itu, tujuan paling pokok untuk pendirian bank, adalah kemampuan bank tersebut dalam menyalurkan dana yang dihimpun dari masyarakat, serta memberikan rasa aman kepada masyarakat yang menanamkan uangnya pada bank tersebut. Hal itu juga yang melatarbelakangi perubahan paradigma auditor, untuk lebih memperhatikan rasio likuiditas dan solvabilitas bank daripada rasio profitabilitas bank, untuk menilai kemampuan bank tersebut dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya sehingga auditor menggunakan rasio- rasio tersebut sebagai salah satu pertimbangan dalam menerbitkan laporan opini audit yang berkaitan dengan going concern sebuah bank.

Hasil penelitian ini juga memberikan pertimbangan kepada pihak manajemen bank untuk lebih memperhatikan kemampuan bank tersebut untuk menyelesaikan seluruh kewajiban kepada nasabahnya, dengan cara mengelola aset-aset dan struktur modalnya dengan lebih efisien untuk agar menambah kemampuan bank tersebut untuk menyelesaikan seluruh kewajiban nasabahnya.

Sedangkan bagi auditor, khususnya dalam mengaudit perusahaan perbankan, hasil penelitian ini memberikan gambaran mengenai tanggung jawab auditor untuk memberikan keterangan tertentu menyangkut kemampuan bank dalam mempertahankan hidupnya didalam laporan audit yang diterbitkan, yang dapat diamati dengan melakukan analisis rasio likuiditas dan solvabilitas bank tersebut.

BAB V KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Penelitian ini menguji apakah rasio-rasio likuiditas (QR,BR), profitabilitas (ROA,IML) serta solvabilitas (CAR) bank memiliki pengaruh terhadap pemberian opini audit. Pengujian hipotesis dalam penelitian inimenggunakan uji regresi logistik.

Berdasarkan hasil pengujian terhadap bank-bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2007-2009 ditarik kesimpulan sebagai berikut : Berdasarkan hasil analisis penelitian ini bahwa, rasio- rasio likuiditas dan solvabilitas yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu

quick ratio, banking ratio serta capital adequacy ratio mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap opini audit. Sementara itu, rasio-rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu return on assets

dan interest margin of loans tidak berpengaruh signifikan terhadap opini audit.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Almilia dan Herdiningtyas (2005) menemukan bahwa hanya rasio solvabilitas bank yang berpengaruh terhadap tingkat kesehatan bank dalam menghadapi kebangkrutan, serta penelitian yang dilakukan oleh Setyarno (2005) seperti yang dikutip dari Eko, Indira dan Faisal (2006), menemukan bahwa hanya rasio likuiditas dan opini audit tahun sebelumnya yang mempengaruhi pertimbangan auditor dalam pemberian opini audit periode berjalan.

Dokumen terkait