• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN

D. Pembahasan Hasil Analisis Data

Pada penelitian ini dilakukan komparasi dua media pembelajaran yaitu LKS dan Lingkaran Hidrokarbon melalui metode pembelajaran STAD. Kedua media mencakup kedalaman materi hidrokarbon yang sama. Akan tetapi kedua media memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dalam LKS terdapat

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

73

banyak latihan soal yang bersifat terstruktur sehingga siswa memiliki kesempatan untuk banyak mengerjakan latihan soal untuk meningkatkan pemahaman siswa, kelemahannya adalah dengan ringkasan materi yang singkat terkadang menimbulkan miskonsepasi pada siswa. Media Lingkaran Hidrokarbon dikemas dalam bentuk mainan sederhana yang praktis dan diharapkan dapat lebih menarik perhatian siswa untuk mempelajari materi di dalamnya tetapi media yang dikemas dalam bentuk mainan seperti ini dapat memancing kegaduhan dalam kelas yang dikhawatirkan mengganggu proses pembelajaran.

Sebelum dilakukan pembelajaran materi pokok hidrokarbon terlebih dahulu dilakukan pretest. Pretest digunakan untuk mengetahui kemampuan awal siswa, seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan mengenai pelajaran yang akan mereka ikuti. Kemudian pada akhir pembelajaran materi pokok hidrokarbon dilakukan posttest untuk mengetahui prestasi belajar siswa.

Hasil analisis menggunakan uji t-matching terhadap nilai mid semester genap siswa kelas X.7 dan X.8 SMA Batik 2 Surakarta tahun ajaran 2010/2011 menunjukkan bahwa kedua kelas sampel setara. Dari data induk penelitian pada Lampiran 16 dapat dilihat bahwa rata- rata nilai pretest siswa kelas eksperimen I pada aspek kognitif adalah 37,053 dan kelas eksperimen II adalah 38,132. Selanjutnya kedua kelas sampel masing-masing dikenai perlakuan. Pada kelas eksperimen I, yaitu pembelajaran menggunakan metode STAD dilengkapi media LKS, langkah pertama yang dilakukan adalah membagi kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa. Setelah pembagian kelompok, guru memberikan materi secara garis besar dalam presentasi kelas dan selanjutnya siswa berdiskusi secara kelompok untuk mendiskusikan materi dan soal-soal yang ada dalam LKS. Tiap kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama untuk memastikan teman satu tim mereka telah menguasai materi dan meminta bantuan dari teman satu tim apabila ada kesulitan sebelum bertanya kepada guru. Hal ini dimaksudkan agar ketika kuis semua anggota kelompok dapat menjawab dengan benar sehingga akan menambah nilai bagi kelompok mereka. Setelah itu diberikan kuis untuk dikerjakan secara individu dan yang terakhir pemberian penghargaan pada tim berprestasi. Untuk kelas eksperimen II, sintaks pembelajaran yang diberikan

commit to user

sama, hanya saja pada kelas ini media pembelajaran yang digunakan adalah Lingkaran Hidrokarbon. Setelah kedua kelas sampel tersebut diberi perlakuan selama 8 x 45 menit dalam 5 kali tatap muka, selanjutnya diberikan posttest untuk mengetahui seberapa besar siswa mampu menguasai materi hidrokarbon yang telah dipelajarinya. Berdasarkan hasil posttest kognitif seperti yang ditunjukkan pada Lampiran 16 dapat dilihat bahwa rata-rata nilai posttest kelas eksperimen I adalah 68,000 dan kelas eksperimen II adalah 73,632. Berdasarkan rata- rata nilai pretest-posttest tersebut maka dapat dilihat rata- rata selisih nilainya, yaitu pada kelas eksperimen I mengalami peningkatan sebesar 30,947 sedangkan pada kelas eksperimen II adalah 35,500.

Secara umum pelaksanaan pembelajaran kooperatif (dalam penelitian ini yaitu metode STAD) berlangsung dengan baik. Masing- masing kelompok pada kedua kelas sampel mampu bekerja sama dengan baik bersama anggotanya untuk mempelajari materi dan mengerjakan soal diskusi menggunakan bantuan media yang ada. Prestasi belajar siswa pada aspek kognitif untuk kedua kelas sampel juga meningkat. Hal ini sesuai dengan penelitian Oludipe dan Awokoy (2010) dalam jurnal yang berjudul “Effect of Cooperative Learning Teaching Strategy on the Reduction of Students’ Anxiety for Learning Chemistry” yang diperoleh kesimpulan bahwa metode pembelajaran kooperatif memberikan pengaruh yang positif terhadap kegelisahan siswa dalam belajar kimia sebagai hasil dari sikap ketergantungan positif yang memungkinkan siswa melihat bahwa kontribusi, masukan, dan kesuksesan mereka berasal dari siswa lainnya dalam kelompok. Kemudian diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Adesoji dan Ibraheem (2009) dalam jurnal yang berjudul “Effects of Student Teams Achievement Divisions Strategy and Mathematics Knowledge on Learning Outcomes in Chemical kinetics” bahwa penggunaan metode pembelajaran STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan mampu membuat siswa mengembangkan sikap yang lebih positif terhadap diri sendiri, teman sebaya dan pembelajaran pada umumnya.

Dari perbedaan selisih nilai kognitif yang terdapat pada kedua kelas sampel menunjukkan bahwa dengan kemampuan yang setara ternyata setelah

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

75

diberikan perlakuan yang berbeda maka diperoleh hasil yang berbeda pula. Secara kasat mata selisih nilai kognitif kedua kelas sampel tersebut memang terdapat perbedaan, di mana kelas eksperimen II memiliki selisih nilai rata-rata kognitif lebih tinggi dari pada kelas eksperimen I. Akan tetapi untuk membuktikan secara statistik apakah perbedaan tersebut signifikan dilakukan uji t- dua arah. Dari hasil

uji t- dua arah terhadap prestasi belajar kognitif diperoleh thitung (-2,083) < -ttabel (-1,67) yang berarti bahwa hipotesis nol (H0) ditolak dan H1 diterima

(Lampiran 23). Hal ini menunjukkan bahwa kedua kelas eksperimen memang memiliki perbedaan prestasi belajar aspek kognitif yang signifikan.

Perbedaan pemberian perlakuan pada kedua kelas eksperimen membuat prestasi belajar mereka berbeda. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa jika ditinjau dari isi materinya, LKS dan Lingkaran Hidrokarbon memang bisa dikatakan sama. Melalui LKS diharapkan guru akan memperoleh kesempatan untuk memancing siswa agar secara aktif terlibat dengan materi yang dibahas. LKS sendiri memiliki banyak latihan soal yang dapat meningkatkan pemahaman siswa sehingga melalui kerjasama dalam kelompok dengan bantuan LKS seharusnya siswa akan lebih aktif dan mendapatkan prestasi yang maksimal. Kenyataan yang terjadi tidak demikian, keaktifan siswa dalam kelas ini masih belum optimal. Mereka terlihat tidak ada ketertarikan saat LKS dibagikan dalam kerja kelompok. Hal yang sama juga terjadi ketika kerja kelompok berlangsung, seharusnya setiap siswa dalam kelompok bekerja sama untuk mempelajari materi dan mengerjakan soal- soal di dalamnya tetapi di lapangan tidak semua siswa bekerja, terlihat masih ada beberapa siswa yang sibuk mengobrol sendiri dan memilih meminjam LKS temannya yang sudah lengkap untuk disalin di rumah.

Lingkaran Hidrokarbon memberikan suasana baru bagi siswa kelas eksperimen II. Melalui media tersebut siswa dituntut untuk mencari alasan diballik ringkasan materi maupun cara mengerjakan soal yang bersifat membimbing. Lingkaran Hidrokarbon dikemas dalam bentuk mainan yang dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi siswa. Selain itu mainan ini juga praktis dibawa ke suatu tempat dan dapat dipilih sub pokok bahasan yang dirasa masih sulit untuk lebih sering dipelajari sehingga selanjutnya siswa bisa mengatasi

commit to user

kesulitan pada materi tersebut. Hidrokarbon merupakan materi dasar dalam ilmu kimia organik karena pada materi ini siswa dikenalkan dengan senyawa karbon dan golongannya untuk selanjutnya sebagai dasar mempelajari senyawa organik di kelas XII. Selain itu di dalamnya terdapat sub-sub materi yang bersifat banyak hafalannya sehingga dengan sering dipelajari maka siswa akan lebih mudah menguasai materi tersebut. Pada kelas eksperimen II tersebut para siswa terlihat sangat tertarik terhadap penggunaan media Lingkaran Hidrokarbon. Siswa sangat antusias saat dijelaskan mengenai tata cara penggunaan media dan mereka aktif bertanya baik mengenai materi yang diajarkan maupun bagaimana cara mengoperasikan media. Kerja kelompok di antara mereka juga terjalin dengan baik, mereka bersemangat menyelesaikan soal diskusi bersama kelompoknya menggunakan bantuan Lingkaran Hidrokarbon.

Perbedaan prestasi belajar tidak hanya terjadi pada aspek kognitif saja. Pada aspek afektif rata- rata nilai pretest yang dipeoleh kelas eksperimen I adalah 69,000 dan untuk kelas eksperimen II sebesar 70,895. Kemudian setelah diberikan perlakuan dan dilakukan posttest pada akhir pembelajaran diperoleh rata- rata nilai sebesar 89,553 untuk kelas eksperimen I dan 95,816 untuk kelas eksperimen II. Dari data tersebut diperoleh selisih nilai rata-rata afektif sebesar 20,553 untuk kelas eksperimen I dan 24,921 untuk kelas eksperimen II. Untuk hasil uji t- dua arah terhadap prestasi belajar afektif ini diperoleh thitung (-4,172) < -ttabel (-1,67) yang berarti bahwa hipotesis nol (H0) ditolak dan H1 diterima (Lampiran 23). Hal ini menunjukkan kedua kelas eksperimen memiliki perbedaan prestasi belajar aspek afektif yang signifikan.

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan uji t- dua arah terhadap kedua aspek di atas diperoleh hasil sesuai dengan harapan peneliti bahwa terdapat perbedaan penggunaan metode pembelajaran STAD yang dilengkapi LKS dan STAD yang dilengkapi Lingkaran Hidrokarbon pada prestasi belajar aspek kognitif dan afektif siswa. Aspek afektif dalam penelitian ini mencakup sikap, minat, nilai, konsep diri, dan moral dari siswa. Seorang siswa akan sulit untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal apabila siswa tersebut tidak

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

77

memiliki minat pada pelajaran tertentu, dalam hal ini adalah pelajaran kimia. Berdasarkan rata-rata selisih nilai kognitif maupun afektif serta hasil uji t- dua arah tersebut menunjukkan hasil yang saling mendukung, di mana terlihat bahwa metode pembelajaran STAD yang dilengkapi Lingkaran Hidrokarbon memiliki rata- rata selisih nilai lebih tinggi daripada STAD yang dilengkapi LKS baik dari aspek kognitif maupun afektif. Siswa kelas eksperimen II yang memiliki prestasi belajar afektif lebih tinggi ternyata dilihat dari aspek kognitif juga memiliki prestasi yang lebih tinggi dibandingkan kelas eksperimen I. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa kompetensi siswa pada aspek afektif menjadi penunjang keberhasilan untuk mencapai hasil pembelajaran pada aspek lainnya yaitu aspek kognitif.

Dokumen terkait