• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.3.1. Pengaruh Variabel Jumlah Wajib Pajak Terhadap Penerimaan PPh OP Nilai koefisien jumlah wajib pajak dari hasil estimasi penelitian (2,94) dan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap penerimaan PPh OP di kota Medan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Saefullah (2002), Dewi (2007), dan Nasution (2008) yang menyatakan jumlah wajib pajak berpengaruh terhadap penerimaan PPh OP. Jumlah wajib pajak sangat ditentukan oleh sistem perpajakan

yang dapat merangsang wajib pajak untuk melakukan pembayaran pajak, sistem pajak yang dapat merangsang WP untuk melakukan pembayaran (Buchori, 2005):

1. Kemudahan (Simplicity), orang akan bergairah membayar pajak jika ada kemudahan dalam menunaikan tugas tersebut. Misalnya dalam memperoleh formulir SPT serta kemudahan di dalam pengisiannya yang merupakan kemudahan dalam memahami peraturan perpajakan. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan harus sederhana dan mudah dipahami, sehingga WP tidak perlu membutuhkan konsultan pajak untuk menentukan pajak yang harus dibayar.

2. Keadilan (equality), jumlah pajak yang akan dibayar oleh seseorang pada akhirnya akan ditentukan oleh petugas pajak, walaupun sebelumnya diisi sendiri yang menentukan kira-kira berapa besar pajak yang harus dibayar. Perasaan tidak adil dapat terjadi dalam hal pembayaran pajak ini. Keadaan demikian dapat membuat orang membenci pajak.

3. Perangsang (insentive), di dalam membayar pajak, uang yang diserahkan kepada negara akan digunakan dengan sebaik-baiknya oleh pemerintah untuk kepentingan negara. Orang ingin melihat dengan jelas apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dengan pajak yang telah mereka bayar, apakah telah digunakan sesuai dengan yang seharusnya.

Pada dasarnya, orang pribadi selaku Wajib Pajak memahami bahwa pajak yang mereka bayar adalah digunakan untuk menunjang pembiayaan pembangunan

berbangsa dan bernegara. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak WP orang pribadi yang enggan membayar pajak, bahkan kalau bisa hal itu akan dihindari, digelapkan atau paling tidak dilalaikan. Hal ini terjadi karena masih kurangnya kesadaran WP untuk membayar pajak, selain itu timbal balik yang diperoleh jika membayar pajak belum optimal dirasakan oleh WP.

4.3.2. Pengaruh Variabel Upah Minimum Terhadap Penerimaan PPh OP Koefisien variabel upah minimum kota Medan merupakan yang terbesar dari keseluruhan variabel (3,35) dan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap variabel penerimaan PPh OP di kota Medan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Saefullah (2002), yang menyatakan jumlah penghasilan berpengaruh terhadap penerimaan PPh.

Sebelum tahun 2000, Indonesia menganut sistem pengupahan berdasarkan kawasan (regional). Artinya, untuk kawasan yang berbeda, upah minimum yang harus diterima oleh pekerja juga berbeda. Ini berdasarkan pada perbedaan biaya hidup pekerja di setiap daerah. Akan tetapi, penentuan upah berdasarkan kawasan ini masih dirasakan belum cukup untuk mewakili angka biaya hidup di setiap daerah. Untuk itu pemerintah melakukan perubahan peraturan tentang upah minimum.

Dengan adanya Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonom, maka pemberlakuan Upah Minimum Regional (UMR) berubah menjadi Upah Minimum Provinsi (UMP) atau Upah Minimum Kabupaten/Kota. Dengan adanya peraturan

baru ini, provinsi-provinsi di Indonesia mulai menyesuaikan upah minimum regional di daerah mereka.

Pajak penghasilan yang berhubungan dengan upah minimum provinsi atau upah minimum kabupaten/kota diatur oleh pemerintah melalui PP No. 5 Tahun 2003 mengenai Pajak Penghasilan Atas Penghasilan yang Diterima oleh Pekerja Sampai Dengan Sebesar Upah Minimum Provinsi atau Upah Minimum Kabupaten/Kota. Peraturan ini dibuat berdasarkan kenyataan bahwa masih banyak pekerja yang memperoleh penghasilan dalam sebulan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak, namun masih di bawah atau sebesar UMP.

Peningkatan UMK akan meningkatkan penghasilan para pekerja/ karyawan, sehingga akan meningkatkan pula potensi pajak penghasilan perorangannya. Seberapa besar potensi penerimaan PPh Orang Pribadi dapat ditingkatkan, tergantung seberapa besar UMK ditingkatkan.

4.3.3. Pengaruh Variabel Pendapatan Per Kapita Terhadap Penerimaan PPh OP

Nilai koefisien Pendapatan Per Kapita dari hasil estimasi penelitian (2,07) dan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap penerimaan PPh OP di kota Medan, hasil ini sesuai dengan penelitian Nasution (2008) yang menyatakan pendapatan per kapita berpengaruh terhadap penerimaan PPh OP. Hasil ini sangat logis sekali karena semakin tinggi pendapatan masyarakat akan semakin besar pula nilai pajak yang harus dibayar. Bagi aparat pajak dengan mengetahui jumlah

penduduk yang bersangkutan memiliki pendapatan yang layak untuk ditetapkan sebagai wajib pajak dan melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan baik, yakni dengan cara membayar dan melaporkan pajaknya kepada negara.

Untuk meningkatkan peranan PPh dari wajib pajak orang pribadi, pemerintah harus meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat. Seberapa cepat porsi penerimaan PPh orang pribadi bisa ditingkatkan tergantung seberapa cepat pendapatan per kapita bisa naik.

4.3.4. Pengaruh Variabel Penanaman Modal Terhadap Penerimaan PPh OP Nilai koefisien Penanaman Modal dari hasil estimasi penelitian (2,16) dan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap penerimaan PPh OP di kota Medan. Dalam upaya meningkatkan penerimaan pajak perorangan, pemerintah harus melakukan upaya agar penanaman modal meningkat. Dengan adanya peningkatan penanaman modal maka akan membuka lapangan kerja baru dan mengakselerasi laju pertumbuhan ekonomi, yang selanjutnya akan meningkatkan potensi PPh Orang Pribadi. Seberapa besar porsi penerimaan PPh Orang Pribadi dapat ditingkatkan, tergantung seberapa banyak penanaman modal ditingkatkan.

4.3.5. Pengaruh Variabel Sunset Policy Terhadap Penerimaan PPh OP

Nilai koefisien Sunset Policy dari hasil estimasi penelitian (0,24) dan memiliki pengaruh yang positif dan tidak signifikan terhadap penerimaan PPh OP di kota Medan. Kebijakan ini berpengaruh dengan meningkatnya jumlah pembayaran pajak oleh para wajib pajak yang memanfaatkan Sunset Policy, yang diberlakukan pada 1 Januari 2008 sampai dengan 28 Pebruari 2009.

BAB V

Dokumen terkait