Pendapatan Per Kapita adalah pendapatan rata-rata penduduk suatu negara. Variabel yang digunakan untuk menghitung pendapatan per kapita adalah pendapatan nasional dan jumlah penduduk.
Kegunaan umum dari perhitungan pendapatan per kapita adalah sebagai indikator ekonomi yang mengukur tingkat kemakmuran penduduk suatu negara, pendapatan per kapita dihitung secara berkala, biasanya 1 tahun.
Manfaat dari perhitungan pendapatan per kapita secara rinci dapat dijelaskan antara lain sebagai berikut :
a. Untuk melihat tingkat perbandingan kesehjateraan masyarakat suatu negara dari tahun ke tahun. Dari tabel yang dikeluarkan oleh BPS dapat dilihat bahwa pendapatan per kapita Indonesia naik secara perlahan dari tahun ke tahun. Pendapatan per kapita Indonesia di tahun 1996 adalah sebesar Rp. 2.102.000 namun pada tahun 1999, pendapatan per kapita Indonesia menurun menjadi Rp. 1.761.108,5.
b. Sebagai data perbandingan tingkat kesejahteraan suatu negara dengan negara lain. Dari pendapatan per kapita masing-masing negara dapat dilihat tingkat kesehjateraan tiap negara. Pada daftar pendapatan per kapita masing-masing negara dilihat tingkat kesejahteraan tiap negara. Pada daftar pendapatan per kapita terlihat bahwa pendapatan Singapura mencapai US$ 21.429 dan Indonesia hanya mencapai US$839. Dari daftar itu pendapatan per kapita Singapura mencapai 26 kali pendapatan per kapita Indonesia.
c. Sebagai perbandingan tingkat standar hidup suatu negara dengan negara lainnya. Dengan mengambil dasar pendapatan per kapita dari tahun ke tahun, dapat disimpulkan apakah pendapatan per kapita suatu negara rendah, sedang ataupun tinggi. Menurut data Bank Dunia, Indonesia berpendapatan menengah ke bawah. d. Sebagai data untuk mengambil kebijakan di bidang ekonomi. Pendapatan per
kapita dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil lahan pertimbangan untuk mengambil langkah di bidang ekonomi.
Pendapatan per kapita kota Medan Rp.2,3 juta pada tahun 1998 menjadi Rp.13,2 juta pada tahun 2006. Bertambah 5,7 kali atau tumbuh 474 persen, alias meningkat tajam. Itu kalau berdasarkan harga konstan. Jika diukur berdasarkan harga berlaku angkanya adalah Rp.4,2 juta pada tahun 1998 menjadi Rp.23,7 juta pada tahun 2006 atau naik 5,6 kali.
Kedua metode tersebut menempatkan kota Medan sebagai daerah yang paling menjanjikan kehidupan yang lebih menyenangkan. Dalam pengertian lain, pertumbuhan ekonomi kota ini sangat mengagumkan selama tahun 2000-an ini. Oleh
karena itu pada tataran provinsi Sumatera Utara, berdasarkan harga konstan posisi ekonomi kota ini meroket dari urutan kedelapan pada tahun 1998 menjadi nomor satu pada tahun 2006. Kinerja yang patut diberi apresiasi.
Dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi nasional yang sudah digenjot habis-habisan hanya mampu mencapai 6,3 persen. Sementara ekonomi kota Medan, bisa mencapai rata-rata 7 persen. Hal itulah yang membuat peran ekonomi kota Medan menjadi makin lebih berpengaruh di Sumut. Pada tahun 1998 produk domestik regional bruto atau pendapatan total kota ini baru mencatat sekitar 16,5 persen dari total PDRB Sumut. Naik menjadi hampir 30 persen pada tahun 2006.
Secara fisik kenomorsatuan Medan itu dapat disaksikan dengan kasat mata. Sejumlah gedung bertingkat kini menjulang tinggi. Pusat perbelanjaan moderen tumbuh di sana sini hingga merisaukan pemerhati kota. Hotel-hotel berbintang bertambah di beberapa penjuru kota. Komplek-komplek perumahan mewah baru juga banyak muncul di daerah stategis kota. Demikian juga dengan bertambahnya tempat-tempat rekreasi dan hiburan. Taman kota menambah indah pemandangan. Beberapa tanda-tanda kemajuan begitu terlihat di mana-mana hingga kota Medan menjadi lebih pantas menyandang predikat kota metropolitan.
Perkembangan pendapatan per kapita kota Medan dapat dilihat pada tabel 4.4. berikut:
Tabel 4.4. Data Pendapatan Per Kapita Kota Medan Periode 2001 – 2010 (Dalam Juta Rupiah)
PERIODE PENDAPATAN PER KAPITA PERKEMBANGAN (%) PERIODE PENDAPATAN PER KAPITA PERKEMBANGAN (%) 2001Q1 7,48 -- 2006Q1 20,99 -1,21 2001Q2 7,71 3,11 2006Q2 21,62 3,04 2001Q3 7,95 3,14 2006Q3 22,29 3,06 2001Q4 8,21 3,16 2006Q4 22,97 3,07 2002Q1 8,47 3,19 2007Q1 23,38 1,77 2002Q2 8,74 3,20 2007Q2 24,23 3,63 2002Q3 9,02 3,21 2007Q3 25,22 4,09 2002Q4 9,31 3,22 2007Q4 26,35 4,49 2003Q1 9,55 2,61 2008Q1 27,98 6,19 2003Q2 9,89 3,48 2008Q2 29,26 4,56 2003Q3 10,25 3,69 2008Q3 30,53 4,36 2003Q4 10,65 3,88 2008Q4 31,81 4,18 2004Q1 10,22 -3,97 2009Q1 33,79 6,24 2004Q2 11,03 7,86 2009Q2 34,79 2,94 2004Q3 12,21 10,67 2009Q3 35,50 2,04 2004Q4 13,76 12,71 2009Q4 35,92 1,20 2005Q1 17,43 26,72 2010Q1 36,07 0,40 2005Q2 19,03 9,16 2010Q2 35,92 -0,39 2005Q3 20,30 6,68 2010Q3 35,50 -1,18 2005Q4 21,24 4,65 2010Q4 34,79 -1,99
Sumber: BPS Kota Medan 2011
Berdasarkan data di atas dapat dilihat secara umum pendapatan per kapita kota Medan selama periode 2001 – 2010 terus mengalami peningkatan, dimana pendapatan per kapita minimum sebesar Rp. 7,479,541.00 per tahun dan maksimum sebesar Rp. 36,065,204 per tahun dengan rata rata pertumbuhan per triwulan sebesar 4,02 persen per triwulan selama periode 2001 – 2010. Pergerakan trend dari pendapatan per kapita kota Medan dapat dilihat pada Gambar 4.4 berikut:
Pergerakan trend pendapatan per kapita kota Medan cenderung naik, dimana sejak awal periode 2001 hingga 2007 terus mengalami kenaikan, kenaikan pendapatan per kapita ini akibat berkembangnya usaha-usaha produktif disetiap sektor ekonomi yang didukung oleh keberadaan sarana dan parasarana penunjang juga salah satu faktor yang mampu meningkatkan pendapatan per kapita kota Medan. 4.1.6. Perkembangan Investasi Kota Medan
Investasi merupakan suatu pengeluaran sejumlah dana dari investor atau pengusaha guna membiayai kegiatan produksi untuk mendapatkan profit di masa yang akan datang. Investasi tercipta dari pendapatan yang ditabung atau dari penanaman modal baik secara langsung maupun tidak langsung oleh berbagai pihak Sumber: BPS Kota Medan 2011
Investasi lazim disebut dengan istilah penanaman modal, akan memberikan banyak pengaruh kepada perekonomian suatu negara atau daerah . Tingkat investasi pada suatu daerah ditentukan oleh berbagai faktor antara lain; 1) tingkat keuntungan investasi yang diramalkan 2) tingkat bunga 3) situasi politik 4) kemajuan teknologi 5) kemudahan kemudahan yang diberikan kepada investor.
Pengaruh investasi terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara atau daerah dapat dilihat melalui multiplier effect yang ditimbulkannya. Multiplier Effect atau efek pengganda dari investasi dapat dituliskan sebagai berikut:
MPC KI − = 1 1
, dimana MPC merupakan besarnya hasrat untuk mengkonsumsi. Sehingga suatu investasi didalam suatu perekonomian memberikan dampak pertambahan pendapatan nasional atau daerah, tidak hanya sebesar nilai investasi yang ditanamkan, tetapi sebesar nilai investasi yang ditanamkan dikali dengan nilai angka penggandanya, misalnya investasi ditanamkan pada suatu daerah sebesar Rp. 10 juta, dengan nilai MPC suatu masyarakat 2/3, maka pertambahan pendapatan yang ditimbulkan dari investasi tersebut sebesar
3 / 2 1 1 − = KI = 3, sehingga pertambahan pendapatan daerah tersebut menjadi:
∆Y = KI x ∆I = 3 x 10 juta = 30 juta
Tugas menumbuhkan iklim investasi tak lagi menjadi domain pemerintah pusat, tapi juga daerah. Peraturan Pemerlntah Rl Nomor 45 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pemberian Insentif dan Pemberian Kemudahan Penanaman Modal di
Daerah, pemerintah pusat memberikan kebebasan buat pemerintah daerah menentukan sendiri bonus yang mau mereka berikan kepada penanam modal.
Pemberian insentif tersebut tidak hanya berbentuk keringanan biaya, pajak dan retribusi daerah. Bahkan, dapat berupa dana stimulan atau pemberian modal. Sedangkan kemudahan investasi bisa berbentuk penyediaan sarana dan prasarana, data, informasi, lahan, bantuan teknis dan percepatan pemberian izin. Tentunya, segala macam bonus menarik itu mesti memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan masyarakat, produk domestik regional bruto serta peningkatan pelayanan publik. Kemudian, menyerap tenaga kerja lokal, mendorong pengembangan usaha kecil menengah dan koperasi.
Pemerintah pusat telah menerbitkan berbagai aturan untuk meningkatkan investasi di daerah antara lain:
1. Undang-Undang Rl Nomor 39 Tahun 2009 Tentang Kawasan Ekonomi Khusus.
2. Peraturan Pemerlntah Rl Nomor 45 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pemberian Insentif dan Pemberian Kemudahan Penanaman Modal di Daerah
3. Peraturan Presiden Rl Nomor 36 Tahun 2010 Tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha Yang Tertutup dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal
4. Peraturan Menteri Perdagangan Rl Nomor : 36/M-DAG/PER/9/2007 Tentang Penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan
5. Peraturan Menteri Perdagangan Rl Nomor : 37/M-DAG/PER/9/2007 Tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Perusahaan
6. Peraturan Pemerintah Rl Nomor 62 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Fasilitas Pajak Penghasiian Untuk Penanaman Modal Di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu
7. Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 35/PMK.011/2011 Tentang Bea Masuk Ditanggung Pemerintah Atas Impor Barang dan Bahan Oleh Industri Telematika Untuk Tahun Anggaran 2009
8. Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor : 89/SK/2007 Tentang Pedoman dan Tata Cara Permohonan Fasilitas Pajak Penghasilan Bagi Perusahaan Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-DaerahTertentu
9. Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor : 2/P/2008 Tentang Pedoman dan Tata Cara Permohonan Fasilitas Pajak Penghasilan Bagi Perusahaan Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu
Kenyataan yang terjadi, pihak pemerintah daerah merasa pemerintah pusat terlalu jauh ikut campur, pihak pemerintah daerah merasa merekalah yang paling tahu peluang investasi di wilayahnya, dan meminta pemerintah pusat hanya menyiapkan standar investasi saja, dan menurut pandangan pihak pemerintah daerah, pemerintah pusat tidak bisa lagi mengendalikan investasi yang ada di kabupaten dan kota.
Dualisme mengenai peraturan investasi ini sering menjadi penghambat masuknya investor di daerah-daerah, demikian juga permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah kota Medan, tetapi secara umum pertumbuhan investasi di kota Medan terus mengalami peningkatan seperti terlihat pada Tabel 4.5 berikut ini:
Tabel 4.5. Data Penanaman Modal di Kota Medan Periode 2001–2010(Dalam Milyar Rupiah) PERIODE PENANAMAN MODAL PERKEMBANGAN (%) PERIODE PENANAMAN MODAL PERKEMBANGAN (%) 2001Q1 2.781,98 -- 2006Q1 7.457,72 21,87 2001Q2 2.718,91 -2,27 2006Q2 8.313,72 11,48 2001Q3 2.700,37 -0,68 2006Q3 9.153,50 10,10 2001Q4 2.726,34 0,96 2006Q4 9.977,06 9,00 2002Q1 2.796,83 2,59 2007Q1 10.964,45 9,90 2002Q2 2.911,84 4,11 2007Q2 11.683,57 6,56 2002Q3 3.071,36 5,48 2007Q3 12.314,46 5,40 2002Q4 3.275,41 6,64 2007Q4 12.857,12 4,41 2003Q1 3.718,00 13,51 2008Q1 13.341,88 3,77 2003Q2 3.933,47 5,80 2008Q2 13.695,95 2,65 2003Q3 4.115,83 4,64 2008Q3 13.949,67 1,85 2003Q4 4.265,10 3,63 2008Q4 14.103,03 1,10 2004Q1 4.251,78 -0,31 2009Q1 13.867,81 -1,67 2004Q2 4.386,66 3,17 2009Q2 13.935,74 0,49 2004Q3 4.540,23 3,50 2009Q3 14.018,59 0,59 2004Q4 4.712,49 3,79 2009Q4 14.116,38 0,70 2005Q1 4.524,43 -3,99 2010Q1 14.229,09 0,80 2005Q2 4.885,71 7,99 2010Q2 14.356,73 0,90 2005Q3 5.417,30 10,88 2010Q3 14.499,30 0,99 2005Q4 6.119,20 12,96 2010Q4 14.656,80 1,09
Sumber: BPS Kota Medan 2011
Berdasarkan data di atas dapat dilihat secara umum penanaman modal di kota Medan selama periode 2001 – 2010 terus mengalami peningkatan, dimana penanaman modal minimum sebesar Rp. 2,7 trilyun dan maksimum sebesar Rp. 14,656 trilyun dengan rata rata pertumbuhan per triwulan sebesar 4,36 persen per
triwulan selama periode 2001 – 2010. Pergerakan trend dari pendapatan per kapita kota Medan dapat dilihat pada Gambar 4.5 berikut:
Sumber: BPS Kota Medan 2011
Gambar 4.5 Perkembangan Penanaman Modal di Kota Medan
Pergerakan trend penanaman modal di kota Medan cenderung naik, dimana sejak awal periode 2001 hingga 2005 kenaikan masih terasa wajar, tetapi periode 2005 – 2008 kenaikan investasi begitu signifikan, penyebab kenaikan yang signifikan pada periode tersebut adalah kebijakan-kebijakan Walikota Medan pada masa itu yang sangat memperhatikan investasi, dimana beliau menjabat Walikota Medan selama dua periode (2000 – 2005 dan 2005 – 2010), pada awal era kepemimpinan kedua sebagai Walikota Medan, beliau sangat banyak memberi kemudahan kepada para investor untuk menanamkan modalnya di kota Medan, dan ini terbukti pada masa tersebut berbagai macam proyek penataan dan pembangunan kota, terutama proyek papan iklan dan proyek lampu hias kota yang dinilai kontroversial. Selain itu,
ia juga menyetujui pembangunan berbagai pusat perbelanjaan modern dan pusat jajan Kesawan Square, sebuah pusat jajan di tengah kota yang dinilai cukup berhasil. Di samping itu, kebijakannya mengkomersilkan sebagian dari lapangan Merdeka Medan untuk dibangun tempat 'nongkrong' Merdeka Walk yang menuai banyak kritikan dari berbagai pihak. Tetapi, kebijakannya tersebut di kemudian hari mendapat pujian, karena hal itu ternyata menghidupkan geliat kota di malam hari. Pada tahun 2008 beliau diberhentikan dari jabatannya sebagai Walikota Medan. Setelah beliau diberhentikan geliat investasi di kota Medan mulai menjadi tidak begitu signifikan kembali, seperti terlihat pada Gambar 4.5.